Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Ekonomi » Mesin Penggiling Pakan Multifungsi Magelang: Karya Pemuda Mungkid…
Ekonomi

Mesin Penggiling Pakan Multifungsi Magelang: Karya Pemuda Mungkid dari Kebutuhan Sendiri

Muhammad Lukman Khakim dari Pabelan, Mungkid, merakit sendiri mesin penggiling pakan jangkrik dari kebutuhan usahanya. Kini alat seharga sekitar Rp1.250.000 itu dipasarkan lewat Facebook dan diminati peternak dari berbagai daerah.

Oleh Intan Larasati Minggu, 25 Oktober 2026 · 14.17 WIB
Ilustrasi mesin penggiling pakan rakitan dengan ember dan rangka besi
Ilustrasi mesin penggiling pakan rakitan. (Ilustrasi: KabarTidar)

Sebuah mesin penggiling pakan multifungsi Magelang kini menarik perhatian peternak dari berbagai daerah. Mesin itu dibuat oleh Muhammad Lukman Khakim, pemuda dari Pabelan, Mungkid, Kabupaten Magelang, yang merakitnya secara otodidak dari kebutuhan usahanya sendiri sebagai pembudidaya jangkrik.

Lukman hanya lulusan SMA. Ia belajar membuat mesin penggiling pakan lewat pengamatan dan beberapa kali percobaan, tanpa pendidikan teknik formal. Ia lahir pada 20 Juli 1997 dan pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo.

Awalnya, alat itu hanya dibuat untuk kebutuhan sendiri, yaitu menghaluskan pakan jangkrik yang ia budidayakan. Namun, orang lain yang memiliki kebutuhan serupa kemudian tertarik pada alat buatannya. Dari situlah alat yang semula hanya dipakai sendiri berkembang menjadi produk yang dijual.

Artikel TIMES Indonesia yang terbit pada 25 Oktober 2026 menyebut produk Lukman kini mendapat perhatian besar dari peternak di berbagai daerah Indonesia dan permintaannya meningkat signifikan. Lukman melihat peluang membantu peternak menyiapkan pakan dengan lebih mudah dan praktis. Pengolahan pakan yang sesuai disebut dapat membantu peternak menjalankan pemeliharaan ternak secara lebih efektif dan efisien.

Mesin Penggiling Pakan Multifungsi Magelang Rakitan Sendiri

Mesin buatan Lukman dirancang untuk menggiling dan menghaluskan pakan ternak jangkrik. Judul artikel menyebut mesin itu multifungsi, tetapi isi artikel secara spesifik menyebut fungsi tersebut untuk pakan jangkrik. Artikel tidak menyebut jenis pakan atau bahan lain yang bisa digiling mesin itu.

Komponen mesin dirakit sesuai kebutuhan pengguna. Bahan dan komponen yang disebut dalam artikel antara lain ember berkapasitas 25 kilogram, tripleks, galvalum, dinamo penggerak, pisau, pipa PVC, dan besi siku. Satu-satunya kapasitas yang disebut adalah ember 25 kilogram itu.

Lukman juga meningkatkan dinamo penggerak agar kinerja mesin lebih maksimal. Artikel menyebut dinamo itu sudah membaik dibanding sebelum peningkatan, dan pengembangan komponen penting untuk menjaga fungsi mesin tetap berjalan baik.

Artikel tidak menyebut daya motor, dimensi, berat, maupun kapasitas mesin per jam. Angka-angka tersebut tidak dapat disampaikan karena tidak tercantum dalam sumber.

Harga dan Pemasaran Lewat Facebook

Setelah jadi, satu unit penggiling dijual sekitar Rp1.250.000. Pemasaran dilakukan lewat media sosial. Lukman membuat konten Facebook untuk memperkenalkan produk ke khalayak luas dan menjangkau orang yang membutuhkan mesin penggiling pakan.

Usaha Lukman masih berskala kecil, tetapi sudah membuka lapangan kerja di sekitarnya. Ia melibatkan dua pekerja, dan keluarganya memberi dukungan penuh terhadap usaha tersebut.

Lukman berharap usahanya terus berkembang dan menghasilkan produk lain. Ia ingin menghadirkan peralatan yang meringankan pekerjaan peternak. Baginya, usaha bukan hanya soal menghasilkan barang, melainkan menawarkan solusi atas kebutuhan masyarakat.

Inspirasi dari Penggilingan Padi Keliling

Lukman menyampaikan bahwa ia terinspirasi penggilingan padi keliling yang melayani pelanggan dari desa ke desa. Model layanan keliling itu memberinya gambaran tentang cara menjangkau pengguna yang membutuhkan alat pengolahan.

Motivasinya adalah membantu melancarkan usaha peternakan, khususnya menggiling pakan jangkrik agar lebih mudah dicerna. Ia menyampaikan bahwa respons masyarakat bagus dan mereka merasa sangat terbantu dengan produk itu.

Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah mencari solusi dan memperbaiki alat saat muncul masalah dalam produksi. Setiap kendala produksi harus ia selesaikan sendiri, sejak tahap perancangan hingga penyempurnaan komponen.

Kepada anak muda yang ingin berwirausaha, Lukman berpesan agar jangan pernah menyerah dan terus semangat berinovasi. Pesan itu sejalan dengan perjalanannya sendiri, yang memulai usaha dari pengamatan, percobaan berulang, dan penyempurnaan alat secara bertahap.

Peluang dari Masalah Sehari-hari

Kisah Lukman menunjukkan bahwa peluang usaha bisa tumbuh dari masalah sehari-hari. Kebutuhan menghaluskan pakan jangkrik miliknya sendiri menjadi titik awal sebuah produk yang kini dicari peternak dari berbagai daerah.

Kepekaan terhadap kebutuhan pasar menjadi modal penting dalam usaha ini. Lukman menangkap kebutuhan peternak lain yang menghadapi persoalan serupa, lalu mengubahnya menjadi produk yang bisa dijual.

Inovasi, ketekunan, serta kemampuan menyempurnakan produk dapat membantu usaha bertahan. Perjalanan Lukman, dari lulusan SMA yang belajar otodidak hingga memiliki produk yang dipasarkan lewat media sosial dan mempekerjakan dua orang, menjadi gambaran bahwa usaha kecil di daerah pun bisa tumbuh bila dikerjakan dengan tekun dan terus diperbaiki.

Sumber: TIMES Indonesia

Baca juga: Pahat Batu Muntilan

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

1 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *