Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Umum » Gamelan Magelang: Karawitan, Pembuat Gamelan, dan Grup yang…
Umum

Gamelan Magelang: Karawitan, Pembuat Gamelan, dan Grup yang Masih Aktif

Dari latihan anak di Borobudur sampai tampil mendadak untuk hajatan di dusun, gamelan masih dimainkan warga Magelang. Artikel ini menjelaskan perangkatnya, kelompok yang kegiatannya terverifikasi, proses pembuatannya, dan jalur belajar yang masuk akal bagi pemula.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 31 Oktober 2026 · 20.28 WIB
Ilustrasi gamelan Magelang, tiga pemain memainkan gong besar dan saron di depan latar hijau
Ilustrasi tiga pemain gamelan memainkan gong besar dan saron di pendopo. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, KabarTidar. Gamelan Magelang hidup bukan hanya di panggung besar, melainkan juga di dusun, sanggar, sekolah, dan pendopo tempat warga berkumpul untuk wayang, merti dusun, atau hajatan. Bunyi gong yang dalam, saron yang jernih, dan kendang yang mengatur tempo menjadi penanda bahwa sebuah acara sedang berjalan dengan cara Jawa, dengan aturan main yang dipahami bersama oleh para pemainnya. Artikel ini menjelaskan apa itu karawitan, perangkat apa saja yang membentuk satu set gamelan, siapa saja kelompok yang kegiatannya terverifikasi dari pemberitaan dan situs resmi di wilayah Magelang, bagaimana sebuah gamelan dibuat oleh perajin, dan apa yang bisa dilakukan warga yang ingin belajar atau sekadar menonton dengan lebih paham.

Pengertian paling dasar perlu diletakkan di awal supaya pembaca tidak tertukar antara gamelan dan karawitan. Gamelan adalah nama ansambelnya, yaitu seperangkat alat musik yang dimainkan bersama. Karawitan adalah seni memainkannya, termasuk cara menabuh, cara mengikuti gendhing, dan cara memahami rasa tiap laras. Seorang pemain gamelan dalam bahasa Jawa disebut wiyaga, sedangkan penyanyi perempuan yang menyertai permainan disebut sinden. Dalam satu pertunjukan, wiyaga dan sinden tidak bermain sendiri-sendiri, melainkan saling mendengarkan, karena satu pukulan yang terlalu cepat atau terlalu lambat dapat mengubah suasana seluruh gendhing.

Gamelan Jawa memakai tangga nada pentatonis dalam dua sistem laras, yaitu slendro dan pelog. Penjelasan ini penting karena laras bukan sekadar tinggi rendah nada, melainkan juga suasana. Gendhing dalam laras slendro sering terdengar lapang dan mengalir, sedangkan gendhing dalam laras pelog dapat terdengar lebih berlapis dan, pada pathet tertentu, lebih sendu atau lebih agung. Karena itu, pemain yang sudah berpengalaman tidak hanya menghafal notasi, tetapi juga memahami pathet, yaitu suasana dan wilayah nada yang berlaku pada bagian tertentu dalam pertunjukan. Bagi pendengar baru, cara paling mudah merasakan perbedaan ini adalah mendengarkan satu gendhing slendro dan satu gendhing pelog secara berurutan, lalu memperhatikan perubahan rasa yang muncul meski temponya mirip.

Pengakuan dunia terhadap gamelan datang pada 15 Desember 2021, ketika sidang Komite Antar Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda UNESCO di Paris memasukkan gamelan ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada saat itu menyampaikan bahwa gamelan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang ke-12, setelah wayang, keris, batik, pendidikan dan pelatihan membatik, angklung, tari Saman, noken, tiga genre tari Bali, kapal pinisi, pencak silat, dan pantun. Pengakuan ini tidak mengubah cara gamelan dimainkan di Magelang, tetapi memberi alasan tambahan mengapa latihan di sanggar dusun dan di sekolah layak dipandang sebagai pekerjaan kebudayaan yang serius, bukan sekadar pengisi acara.

Kaitan Magelang dengan sejarah gamelan bahkan lebih tua daripada panggung modern. Menurut Wikipedia, gambar paling awal dari himpunan alat musik gamelan ditemukan pada relief dinding Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8. Relief itu tidak membuktikan bahwa gamelan hari ini sama persis dengan ansambel pada masa itu, tetapi menunjukkan bahwa tradisi musik ansambel sudah menjadi bagian dari kehidupan di kawasan ini sejak sangat lama. Bagi warga Magelang, kaitan ini memberi konteks yang kuat, yaitu bahwa ketika anak-anak berlatih gamelan di Dusun Jligudan, Desa Borobudur, mereka sedang meneruskan tradisi yang jejak visualnya terpahat tidak jauh dari tempat mereka berlatih. Pengunjung yang ingin memahami akar pertunjukan Jawa di Magelang juga dapat membaca penjelasan tentang wayang kulit dan sejarah pertunjukannya, karena gamelan dan wayang hampir tidak pernah berjalan sendiri-sendiri.

Perangkat Gamelan: dari Gong sampai Rebab

Satu set gamelan Jawa terdiri dari banyak instrumen, dan tiap instrumen memiliki tugas yang berbeda. Instrumen yang paling umum dipakai antara lain gangsa, gender, bonang, gong, saron, dan slenthem, yang dimainkan dengan pemukul, serta kendang yang dimainkan dengan tangan. Selain itu ada gambang yang berbentuk seperti xilofon, suling sebagai aerofon, rebab sebagai kordofon yang digesek, dan kelompok vokal sinden. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam artikelnya tentang produksi gamelan merinci instrumen gamelan Jawa sebagai kendang, bonang barung, bonang panerus, demung, saron, peking, kenong, kempul, kethuk, slenthem, gender, gong suwukan, gong besar, gambang, rebab, dan siter. Daftar itu berguna bagi pembaca Magelang karena nama-nama tersebutlah yang akan ditemui saat melihat satu set gamelan lengkap di pendopo atau sanggar.

Gong adalah instrumen yang paling mudah dikenali, karena ukurannya besar, bunyinya dalam, dan posisinya menggantung pada gayor kayu. Dalam permainan, gong menandai ujung kalimat musik yang panjang, sehingga pendengar yang awam pun dapat merasakan kapan satu bagian gendhing selesai dan bagian berikutnya dimulai. Kenong, kempul, dan kethuk bekerja pada tingkat yang lebih kecil, yaitu menandai potongan kalimat musik di dalam gendhing. Bonang, dengan deretan pencon atau tonjolan nada di atas wadah, sering menjadi pemandu melodi, sedangkan saron, demung, dan peking membawa melodi pokok dengan wilayah nada yang berbeda, dari rendah sampai tinggi. Gender, dengan bilah-bilah yang digantung di atas resonator bambu atau logam, menghasilkan bunyi yang bergetar lembut dan sering mengisi ruang di antara melodi pokok.

Kendang memegang peran yang sering disalahpahami oleh penonton baru. Kendang bukan sekadar pengiring ritme, melainkan pemimpin tempo dan penanda perubahan suasana. Ketika kendang mengubah pola pukulan, seluruh ansambel ikut berubah, dari tempo lambat menjadi lebih cepat, atau dari suasana tenang menjadi lebih bersemangat. Karena itu, pemain kendang harus menguasai repertoar gendhing dan memahami dalang atau pemimpin pertunjukan, terutama dalam wayang kulit. Dalam wayang, kendang menjadi jembatan antara dalang dan wiyaga, karena dalang memberi isyarat melalui keprak dan dhodogan, lalu kendang menerjemahkannya menjadi perubahan permainan. Inilah alasan mengapa seorang pengendang yang baik sangat dihargai dalam komunitas karawitan, meski posisinya tidak selalu berada di depan panggung.

Rebab dan suling menambah warna yang tidak dapat dihasilkan oleh instrumen pukul. Rebab digesek dan bunyinya menyerupai suara manusia, sehingga sering membawakan melodi yang lirih dan mengalun. Suling meniupkan melodi yang ringan dan sering terdengar pada bagian yang tenang. Gambang, dengan bilah-bilah kayunya, memberi bunyi yang terang dan gemerincing, sedangkan siter yang dipetik menambah lapisan bunyi yang halus. Sinden, dengan suaranya, membawakan tembang yang syairnya mengandung ajaran, sindiran halus, atau ungkapan perasaan. Gabungan inilah yang membuat gamelan terasa lengkap, yaitu ada yang memukul, ada yang menggesek, ada yang meniup, ada yang memetik, dan ada yang menyanyi, semuanya dalam satu kesatuan yang saling mengisi.

Perbedaan antara gamelan slendro dan gamelan pelog juga menentukan perangkat yang dipakai. Satu set gamelan biasanya dibuat dalam satu laras, sehingga sanggar yang ingin memainkan kedua laras membutuhkan dua set atau set yang dirancang untuk keperluan itu. Bagi warga yang baru mengenal gamelan, perbedaan ini menjelaskan mengapa satu sanggar kadang memiliki lebih dari satu set, dan mengapa sebuah pertunjukan kadang berpindah laras di tengah jalan. Perpindahan laras bukan kesalahan, melainkan bagian dari struktur pertunjukan yang sudah diatur dalam gendhing dan pathet. Pemahaman dasar ini membuat penonton tidak lagi bertanya mengapa bunyinya berubah, melainkan dapat menikmati perubahan itu sebagai bagian dari cerita musiknya.

Gamelan Magelang dan Karawitan: Bukti yang Terverifikasi

Karawitan di Magelang paling mudah dilacak melalui kelompok-kelompok yang kegiatannya diberitakan atau dicatat situs resmi. Salah satu catatan paling rinci datang dari Dusun Sobleman, Desa Banyuroto, Kabupaten Magelang. Situs resmi Desa Banyuroto menulis bahwa menurut Sunarbadi, ketua kelompok kesenian karawitan di Dusun Sobleman, karawitan adalah kesenian yang adiluhung, yang mengandung makna luhur dan bermoral sebagai hasil karya pujangga zaman dahulu. Catatan itu menyebut gendhing dari Mijil sampai Pocung sebagai contoh karya yang syairnya mengandung pelajaran bernilai, antara lain supaya manusia senantiasa mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Dalam karawitan, menurut catatan yang sama, alat musik harus dimainkan secara kompak, dan secara filosofis semua orang memiliki posisi yang sama dalam karawitan.

Kelompok Sobleman memberi gambaran yang jujur tentang karawitan dusun. Situs Desa Banyuroto mencatat ada 9 orang pemain karawitan di Dusun Sobleman, yang semuanya adalah kepala keluarga, dan seorang sinden. Karawitan dari Dusun Sobleman bisa tampil secara mendadak, bisa mengisi hajatan, dan bisa tampil dalam acara dusun seperti merti dusun. Durasi setiap tampil biasanya setelah salat Isya sampai pukul 23.00. Latihan karawitan di Dusun Sobleman menyesuaikan kebutuhan, tanpa latihan rutin yang terjadwal tetap. Karawitan di sana dibagi menjadi tiga, yaitu klasik murni yang memakai karya pujangga, campursari, dan campursari semi, dengan gamelan klasik yang lengkap. Gambaran ini penting karena menunjukkan bahwa karawitan dusun tidak selalu hidup dari jadwal latihan mingguan yang kaku, melainkan dari kesiapan warga untuk berkumpul ketika ada keperluan bersama.

Di kawasan Borobudur, karawitan justru terlihat dari jalur anak-anak. Berita Magelang menulis bahwa pada sore hari, puluhan anak berbondong-bondong datang ke Borobudur Art Centre, sanggar seni di Dusun Jligudan, Desa Borobudur, untuk latihan gamelan dan seni tari. Sore itu mereka berlatih gendhing lancaran Singanebah dan ladrang Bimakurdha untuk mengiringi tari Eka Prawira. Anak-anak yang masih belia itu, menurut laporan tersebut, mampu memainkan berbagai perangkat gamelan yang materinya biasa dimainkan orang dewasa, sementara teman-teman mereka menari sesuai materi gamelan tersebut. Laporan Berita Magelang itu juga mengutip pandangan UNESCO bahwa gamelan adalah sarana ekspresi budaya serta sarana membangun relasi antara manusia dan semesta, dan bahwa kebersamaan dalam bermain gamelan dapat menjadi pemantik untuk merajut kesatuan yang utuh. Bagi orang tua di Magelang, contoh Borobudur Art Centre ini menunjukkan bahwa anak tidak harus menunggu dewasa untuk mulai memegang pemukul, asalkan latihannya bertahap dan didampingi pelatih yang sabar.

Jalur sekolah juga terlihat dalam catatan pertunjukan wayang di Kabupaten Magelang. Pada pagelaran wayang rutin malam Minggu Kliwon sekaligus peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 Republik Indonesia tahun 2019 di Pendopo Radio Gemilang, Muntilan, karawitan dari SMA Negeri 1 Dukun tampil mengiringi pertunjukan. Pagelaran itu menghadirkan dalang Ki Parjaya dari Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, dan dalang cilik Damar dari Kecamatan Sawangan. Catatan ini penting karena menunjukkan dua hal sekaligus, yaitu bahwa sekolah di Magelang memiliki kelompok karawitan yang dipercaya tampil dalam acara kabupaten, dan bahwa regenerasi dalang pun berjalan berdampingan dengan regenerasi pengrawit. Seorang dalang cilik tidak dapat tampil tanpa karawitan yang mampu mengikutinya, dan karawitan sekolah tidak akan teruji tanpa panggung yang sesungguhnya.

Kelompok karawitan yang lahir dari institusi juga tercatat di Kota Magelang. Tim Karawitan Wirama TNI Polri Manunggal adalah gabungan personel Polisi Wanita Polres Magelang Kota dan Kodim 0705 Magelang. Tim ini tampil sebagai pembuka pagelaran wayang kulit di Alun-Alun Kota Magelang pada Sabtu, 12 November 2022, dalam acara yang diselenggarakan Bea Cukai Magelang bersama Pemerintah Kota Magelang untuk memperingati Hari Wayang Sedunia pada 7 November 2022. Pada kesempatan itu, Kapolres Magelang Kota menjadi dalang pembuka dengan lakon Ngundhuh Wohing Pakarti. BorobudurNews dalam laporan yang lebih awal, pada Oktober 2022, mencatat tim yang sama tampil di halaman Makodim 0705 Magelang dengan dalang Ki Mulyono Purwowijoyo dan lakon Ontoseno Krido. Tim ini dibentuk sebagai wujud sinergi TNI dan Polri, dan membawakan tembang Jawa termasuk tembang Gugur Gunung. Contoh ini menunjukkan bahwa karawitan di Magelang tidak hanya hidup di sanggar seni, tetapi juga di institusi yang menjadikannya sarana kebersamaan dan pelestarian.

Jalur pembinaan yang kurang terduga datang dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Magelang. Pada Rabu, 22 April 2026, warga binaan pemasyarakatan di lapas tersebut secara rutin mengikuti pelatihan karawitan sebagai program pembinaan kepribadian yang bertujuan menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya tradisional. Dalam pelatihan itu, warga binaan dibimbing untuk mengenal dan memainkan berbagai alat musik gamelan secara harmonis. Kepala Lapas Kelas IIA Magelang, Agung Supriyanto, menyampaikan bahwa pelatihan karawitan tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjadi sarana pembinaan kepribadian bagi warga binaan. Contoh ini layak dicatat karena menunjukkan fungsi karawitan yang sering dilupakan, yaitu sebagai latihan kesabaran, ketelitian, dan kerja sama, yang manfaatnya tidak berhenti pada bunyi yang dihasilkan.

Wayang kulit tetap menjadi panggung utama bagi karawitan Magelang. Pada Sabtu malam, 2 Mei 2026, pagelaran wayang kulit dalam rangka pertukaran budaya antara Kabupaten Magelang dan Kabupaten Karanganyar berlangsung di Terminal Secang. Pagelaran itu dibawakan dalang KRA H. Gunarto Talijenoro dengan lakon Kisah Cinta Wilutomo, dan diiringi karawitan putri Wanito Mbok dari Kabupaten Karanganyar sebagai tamu. Peristiwa ini dicatat di sini dengan jujur, yaitu bahwa kelompok tamu tersebut berasal dari Karanganyar, bukan dari Magelang, tetapi panggungnya berada di Magelang dan penontonnya adalah warga Magelang. Artinya, ekosistem karawitan Magelang juga hidup dari pertukaran, yaitu dari kelompok luar yang datang, dari penonton lokal yang hadir, dan dari panitia lokal yang menyelenggarakan. Warga yang ingin menonton karawitan tidak harus menunggu sanggarnya sendiri tampil, karena panggung wayang di Magelang secara rutin mempertemukan dalang, pengrawit, dan penonton dari berbagai daerah.

Pembuat Gamelan: dari Perunggu sampai Laras

Pertanyaan yang sering diajukan warga adalah dari mana satu set gamelan berasal dan mengapa harganya tidak murah. Jawabannya terletak pada bahan dan prosesnya. Gamelan yang baik umumnya terbuat dari perunggu, yaitu campuran tembaga dan timah. Satu sumber tradisional tentang tata cara pembuatan gamelan merinci perbandingan dan tahapan yang harus dijaga oleh empu gamelan, yaitu orang yang memimpin pembuatan. Menurut sumber itu, seluruh proses dibagi menjadi lima tahap, yaitu membesot atau melebur campuran, menyingi atau mencetak, menempa atau membentuk dengan memukul memakai pemukul tertentu, membabar atau penyelesaian akhir, dan melaras atau menyesuaikan nada. Tahapan ini bukan sekadar urutan teknis, melainkan juga penanda bahwa gamelan dibuat dengan tangan, dengan pendengaran, dan dengan kesabaran, bukan dicetak sekali jadi seperti barang pabrik.

Proses pembuatan dimulai dari kowi, yaitu wadah berbentuk mangkuk dari tanah liat yang dicampur kulit padi, dan prapen, yaitu tempat perapian yang dilengkapi lamus atau alat penghembus angin supaya suhu cukup panas. Campuran logam dipanaskan di atas prapen sampai menjadi bahan perunggu yang disebut gasa. Setelah itu, gasa ditempa menjadi bentuk yang dimaksud, dengan tim pandai yang dipimpin empu dan memakai palu dengan ukuran berbeda. Penempaan dilakukan dengan ritme yang berkesinambungan sampai gasa menjadi tipis, lalu disempurnakan oleh empu dengan sesekali memasukkan bahan itu kembali ke prapen sampai merah, baru ditempa lagi. Pada tahap akhir, nada gamelan baru terbentuk setelah bilah dibersihkan dan, bila nadanya belum sesuai, dikerok supaya lapisan perunggunya menjadi lebih tipis. Penjelasan ini menunjukkan mengapa dua set gamelan tidak pernah benar-benar sama, karena tiap pukulan dan tiap kerokan mengubah nada secara halus.

Pusat pembuatan gamelan di Jawa Tengah juga perlu dipahami supaya warga Magelang tidak salah mencari. Jurnal Ghurnita dari Institut Seni Indonesia Denpasar mencatat bahwa perunggu kebanyakan dibuat di Solo dan Semarang, Jawa Tengah, dan para perajin gamelan Bali mendapatkan bahan dari kedua tempat tersebut. Jurnal itu juga mencatat bahwa di Jawa Tengah terdapat banyak perajin gamelan yang mempunyai prapen lebih besar daripada perajin di Bali, sehingga gong dari Jawa Tengah dianggap lebih baik mutunya. Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta menjelaskan bahwa industri gamelan di Yogyakarta umumnya merupakan industri turun temurun, dengan teknik cor dan teknik tempa, serta bahan kuningan, perunggu, atau besi, tergantung kemampuan perajin dan pesanan yang masuk. Gamelan cor membutuhkan waktu lebih lama karena cetakan pasir hanya berlaku untuk satu kali pengecoran, dan sejak 2016 sampai 2020 dinas tersebut telah meriset pembuatan cetakan tetap atau moulding untuk 12 jenis gamelan, dari saron sampai gong besar.

Kejujuran riset perlu disampaikan pada bagian ini. Sampai artikel ini ditulis, riset yang dilakukan tidak menemukan direktori resmi atau daftar terverifikasi tentang bengkel pembuat gamelan yang beroperasi di Kota Magelang atau Kabupaten Magelang, lengkap dengan nama, alamat, dan harga. Karena itu, artikel ini tidak menyebut satu bengkel Magelang tertentu, dan pembaca sebaiknya tidak mempercayai daftar bengkel yang beredar tanpa alamat dan kontak yang dapat diverifikasi. Yang terverifikasi adalah pusat pembuatannya di Solo, Semarang, dan Yogyakarta, serta jalur pembeliannya yang lazim, yaitu melalui perajin, sanggar, atau penyedia yang sudah dikenal komunitas karawitan. Bagi sanggar atau sekolah di Magelang yang ingin membeli satu set, cara paling aman adalah bertanya kepada pelatih karawitan, pengurus sanggar yang sudah berpengalaman, atau dinas kebudayaan setempat, lalu membandingkan bunyi dan laras secara langsung sebelum membayar.

Panduan membeli gamelan dapat diringkas dalam beberapa pertanyaan yang harus dijawab sebelum transaksi. Pertama, laras apa yang dibutuhkan, slendro atau pelog, dan apakah set tersebut lengkap untuk gendhing yang akan dimainkan. Kedua, bahan apa yang dipakai, perunggu, kuningan, atau besi, karena bahan menentukan bunyi dan daya tahan. Ketiga, apakah laras tiap bilah sudah diuji dengan cara dimainkan bersama, bukan hanya dipukul satu per satu. Keempat, bagaimana perawatan dan perbaikannya, termasuk siapa yang dapat melaras ulang bila suatu bilah berubah nada. Kelima, apakah gayor, wadah, dan pemukulnya termasuk dalam paket, karena satu set yang tidak lengkap akan sulit dipakai untuk pertunjukan. Pertanyaan-pertanyaan ini bukan teori, melainkan cara untuk menghindari kekecewaan yang paling sering terjadi, yaitu membeli gamelan yang terlihat mengilap tetapi bunyinya tidak menyatu ketika dimainkan bersama.

Perawatan gamelan juga menentukan umur pakainya. Gamelan perunggu sebaiknya disimpan di tempat yang kering dan tidak lembap, dibersihkan secara berkala, dan tidak dipukul dengan pemukul yang salah. Bilah yang retak atau gayor yang goyah sebaiknya segera diperbaiki oleh orang yang memahami gamelan, bukan ditambal sembarangan. Sanggar yang merawat gamelannya dengan baik akan memiliki bunyi yang tetap stabil selama bertahun-tahun, sedangkan sanggar yang membiarkan gamelannya kehujanan atau terjemur akan kehilangan larasnya secara perlahan. Perawatan ini adalah bagian dari karawitan itu sendiri, karena pemain yang menghormati instrumennya akan bermain dengan lebih hati-hati dan lebih mendengarkan.

Belajar Karawitan di Magelang: Jalur yang Masuk Akal

Bagi warga Magelang yang ingin belajar, jalur yang paling masuk akal adalah memulai dari yang paling dekat, yaitu sanggar, sekolah, atau kelompok dusun yang sudah aktif. Anak-anak dapat memulai dari sanggar seperti Borobudur Art Centre, yang terbukti menerima anak belia untuk latihan gamelan dan tari. Pelajar dapat bertanya kepada guru seni budaya di sekolahnya, karena catatan tentang SMA Negeri 1 Dukun menunjukkan bahwa sekolah di Magelang memang memiliki kelompok karawitan yang tampil di acara kabupaten. Warga dewasa dapat bergabung dengan kelompok dusun atau kelompok komunitas, dengan pola seperti di Sobleman, yaitu latihan menyesuaikan kebutuhan dan tampil pada hajatan atau merti dusun. Jalur-jalur ini tidak membutuhkan bakat khusus pada awalnya, melainkan kesediaan untuk datang, mendengarkan, dan mengulang.

Urutan belajar karawitan umumnya dimulai dari instrumen yang melodinya paling mudah diikuti, seperti saron atau demung, sebelum berpindah ke bonang, gender, atau kendang. Saron mengajarkan pemain untuk membaca pola nada dan mengikuti tempo, sedangkan bonang mengajarkan pemain untuk memandu melodi. Gender mengajarkan kelembutan dan ketepatan, sedangkan kendang mengajarkan kepemimpinan tempo. Sinden membutuhkan latihan vokal dan penguasaan tembang yang terpisah, sehingga jalurnya berbeda dari wiyaga. Pembagian ini bukan aturan yang kaku, karena tiap pelatih memiliki caranya sendiri, tetapi memberi gambaran mengapa pemain baru sebaiknya tidak langsung memegang kendang atau gong pada pertemuan pertama. Instrumen yang terlihat sederhana sering kali justru menuntut pendengaran yang paling tajam.

Menonton sebelum bermain adalah langkah yang sering dianjurkan pelatih, dan langkah ini mudah dilakukan di Magelang. Warga dapat datang ke pagelaran wayang kulit, ke acara merti dusun, atau ke pertunjukan tari yang diiringi gamelan, lalu memperhatikan posisi tiap pemain dan perubahan tempo yang dipimpin kendang. Tarian tradisional Magelang juga layak ditonton dengan cara ini, karena tari dan gamelan saling menjelaskan, yaitu gerakan tari mengikuti gendhing, dan gendhing mengikuti suasana tari. Pengunjung yang datang sebagai penonton sebaiknya datang lebih awal, duduk dengan tenang, dan tidak merekam dengan lampu yang mengganggu pemain, karena pertunjukan karawitan membutuhkan konsentrasi yang tinggi dari seluruh pemainnya. Pengunjung juga dapat bertanya setelah pertunjukan selesai, karena banyak pelatih yang senang menjelaskan nama instrumen kepada penonton yang bertanya dengan sopan.

Regenerasi karawitan di Magelang menghadapi tantangan yang nyata, tetapi tantangannya sebaiknya dirumuskan dengan jujur, bukan dengan angka yang tidak terverifikasi. Artikel ini tidak mengutip angka jumlah sanggar aktif di Magelang, karena angka seperti itu tidak ditemukan dalam sumber yang dicek. Yang dapat diamati dari bukti yang ada adalah bahwa regenerasi berjalan melalui tiga jalur yang berbeda, yaitu anak-anak di sanggar Borobudur, pelajar di sekolah seperti SMA Negeri 1 Dukun, dan warga dewasa di kelompok dusun seperti Sobleman, ditambah jalur pembinaan di lapas. Tiga jalur ini saling melengkapi, karena anak-anak membawa keberanian untuk mencoba, pelajar membawa kedisiplinan latihan, dan warga dewasa membawa pengalaman panggung. Bila satu jalur melemah, dua jalur lainnya masih dapat menjaga tradisi itu tetap hidup, asalkan ada pelatih yang bersedia mengajar dan ada panggung yang bersedia menampilkan.

Tantangan lain adalah anggapan bahwa karawitan hanya cocok untuk acara tertentu. Anggapan ini perlu diluruskan, karena karawitan dalam catatan Sobleman sendiri sudah dibagi menjadi klasik murni, campursari, dan campursari semi. Artinya, komunitas karawitan sudah lama membuka ruang untuk bentuk yang lebih ringan dan lebih dekat dengan selera penonton masa kini, tanpa meninggalkan gendhing klasik. Campursari, yang memadukan gamelan dengan unsur musik modern, menjadi jembatan bagi penonton yang belum terbiasa dengan gendhing klasik. Jembatan ini penting, karena penonton yang pertama kali datang karena campursari dapat perlahan-lahan mengenal gendhing klasik, dan pemain muda yang pertama kali belajar lewat lagu yang dikenalnya dapat perlahan-lahan mempelajari gendhing yang lebih berat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah gamelan hanya dimainkan untuk wayang? Jawabannya tidak. Gamelan memang menjadi pengiring utama wayang kulit, tetapi juga mengiringi tari, mengisi hajatan, meramaikan merti dusun, dan tampil sendiri dalam bentuk klenengan atau uyon-uyon, yaitu pertunjukan gamelan tanpa dalang. Di Magelang, bukti-bukti yang ada menunjukkan semua bentuk itu, dari wayang di Secang dan Muntilan, tari di Borobudur Art Centre, sampai hajatan dan merti dusun di Sobleman. Karena itu, warga yang ingin mendengarkan gamelan tidak harus menunggu ada wayang semalam suntuk, karena pertunjukan yang lebih pendek dan lebih ringan juga tersedia pada acara komunitas.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa bermain gamelan? Tidak ada jawaban tunggal, karena tiap instrumen memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dan tiap orang memiliki waktu latihan yang berbeda. Pemain saron dapat mengikuti gendhing sederhana setelah beberapa kali latihan, tetapi pemain kendang atau gender membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menguasai rasa dan tempo. Pelatih di sanggar biasanya menilai kemajuan dari kemampuan pemain untuk mendengarkan pemain lain, bukan hanya dari kecepatan tangannya. Pemain yang sudah dapat mengikuti tempo kelompok tanpa mendahului atau tertinggal dapat dikatakan sudah melewati tahap awal, meski masih jauh dari tahap mahir.

Apakah satu set gamelan harus dibeli untuk bisa belajar? Tidak. Sebagian besar pemula belajar dengan memakai gamelan milik sanggar, sekolah, atau kelompok dusun. Membeli satu set baru layak dipertimbangkan bila kelompok sudah memiliki anggota tetap, jadwal latihan yang jelas, dan panggung yang rutin. Bagi kelompok baru, menyewa atau meminjam gamelan dari sanggar yang sudah mapan sering kali lebih bijak, karena kelompok dapat menguji keseriusan anggotanya sebelum mengeluarkan biaya besar. Keputusan membeli sebaiknya diambil setelah kelompok berdiskusi dengan pelatih dan memeriksa kondisi gamelan secara langsung, bukan karena tergiur harga murah dari penjual yang tidak dikenal.

Di mana warga Magelang dapat mencari informasi tentang sanggar karawitan? Jalur yang paling dapat diandalkan adalah bertanya kepada dinas kebudayaan, pengurus sanggar seni, guru seni budaya di sekolah, atau panitia acara budaya setempat. Sanggar seni di Kota Magelang yang telah diberitakan KabarTidar dapat menjadi titik awal untuk bertanya, karena sanggar-sanggar tersebut terhubung dengan komunitas seni yang lebih luas. Warga juga dapat datang langsung ke acara budaya dan bertanya kepada pelatih setelah pertunjukan, karena informasi dari mulut ke mulut di komunitas seni sering kali lebih mutakhir daripada daftar daring yang jarang diperbarui. Yang perlu dihindari adalah mengandalkan satu unggahan media sosial tanpa nama sanggar, alamat, dan jadwal yang jelas.

Pada akhirnya, gamelan Magelang bukan sekadar warisan yang dipajang, melainkan kesenian yang masih dimainkan oleh anak-anak di Borobudur, pelajar di Dukun, warga dusun di Banyuroto, dan kelompok-kelompok yang tampil di pendopo dan alun-alun. Pengakuan UNESCO pada 2021 memberi payung besar bagi tradisi ini, tetapi yang menjaga tradisi itu tetap hidup adalah latihan sore di sanggar, tampil mendadak untuk hajatan, dan kesediaan satu generasi untuk mengajari generasi berikutnya cara memegang pemukul dengan benar. Selama masih ada anak yang datang ke sanggar pada sore hari dan masih ada warga dusun yang berkumpul setelah Isya untuk menabuh gamelan, gamelan Magelang belum menjadi barang museum, melainkan tetap menjadi bunyi yang mengiringi kehidupan warga.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *