Wayang Kulit: Sejarah dan Pertunjukan
Dari layar putih dan lampu blencong sampai goro-goro tengah malam dan gunungan penutup: bagaimana dalang menghidupkan satu lakon selama semalam suntuk.

MAGELANG, KabarTidar. Wayang Kulit adalah teater bayangan Jawa yang paling dikenal di Indonesia, dan namanya sudah menjelaskan bentuknya, yaitu wayang yang terbuat dari kulit, yang bayangannya jatuh di layar putih ketika cahaya diletakkan di belakangnya. Seorang dalang memainkan puluhan, bahkan ratusan, tokoh kulit di balik layar itu, mengubah suaranya untuk tiap tokoh, menyanyi, memberi aba-aba kepada gamelan, dan menggerakkan cerita dari pembukaan sampai penutup, dalam pertunjukan yang secara tradisional berlangsung semalam suntuk, dari malam sampai menjelang subuh. Artikel ini membahas asal-usul wayang kulit, peran dalang, dan jalannya satu pertunjukan semalam suntuk, dengan satu penegasan yang perlu disampaikan sejak awal, yaitu bahwa kisah-kisah pewayangan ditulis di sini secara eksplisit sebagai khazanah, bukan sebagai fakta sejarah. Tokoh-tokoh dalam lakon adalah tokoh cerita yang hidup dalam naskah, dalam tafsiran budaya, dan dalam ingatan penonton, bukan tokoh yang keberadaannya dapat dibuktikan dengan dokumen sejarah, dan perbedaan itu dijaga di seluruh artikel ini.
Penegasan tentang khazanah itu penting karena wayang kulit sering kali dibaca dengan dua cara yang bertentangan, yaitu dibaca sebagai dongeng belaka yang tidak memiliki nilai, atau dibaca sebagai sejarah yang harus dipercaya secara harfiah. Kedua cara itu sama-sama keliru. Wayang kulit adalah warisan budaya yang memiliki nilai pendidikan, nilai filosofi, dan nilai hiburan, dan nilainya tidak bergantung pada apakah tokohnya pernah hidup secara historis atau tidak. Nilai itu terletak pada cerita yang diceritakan, pada cara dalang menceritakannya, pada musik yang mengiringinya, dan pada penonton yang merenungkan cerita itu setelah pertunjukan selesai. Dengan cara membaca itu, pembaca dapat menikmati wayang kulit dengan hormat, tanpa harus memaksakan cerita khazanah menjadi fakta sejarah, dan tanpa meremehkannya sebagai sekadar dongeng.
Artikel ini juga sengaja tidak mengulangi materi tentang Semar. Pembahasan penuh tentang Semar sebagai pamong para ksatria, tentang ketiga anaknya, dan tentang maknanya dalam budaya Jawa sudah ditulis dalam artikel KabarTidar tentang Kyai Semar dalam pewayangan, dan pembaca yang ingin mengenal Semar secara mendalam sebaiknya membaca artikel itu. Di sini, Semar hanya disebut seperlunya, yaitu sebagai bagian dari kelompok punakawan yang muncul dalam adegan goro-goro, tanpa mengulangi asal-usul, tafsiran wujud, dan peran penasihatnya yang sudah dibahas di sana. Pembatasan itu bukan pengabaian, melainkan pembagian kerja antardua artikel, agar tiap artikel dapat dibaca secara utuh tanpa mengulang artikel lain. Pembaca yang membaca keduanya akan memahami bahwa Semar adalah satu bagian dari dunia wayang yang lebih luas, dan dunia itu adalah dunia yang dibahas dalam artikel ini.
Wayang Kulit dari Kata Bayang sampai Layar Putih
Kata wayang sering dijelaskan dari dua arah, dan kedua penjelasan itu sama-sama berguna untuk memahami bentuknya. Penjelasan pertama mengaitkan wayang dengan kata bayang dalam bahasa Jawa, yaitu bayangan, karena yang dilihat penonton dari sisi depan layar memang bayangan tokoh kulit yang jatuh di layar, bukan tokoh kulitnya secara langsung. Penjelasan kedua mengaitkan wayang dengan ungkapan ma Hyang, yang ditafsirkan sebagai menuju spiritualitas Sang Kuasa, karena wayang pada masa lalu juga dipakai sebagai media untuk permenungan menuju hal-hal yang bersifat rohani. Kedua penjelasan itu perlu ditulis sebagai tafsiran, bukan sebagai kepastian bahasa yang sudah diuji secara akademik, karena pewayangan hidup dari banyak tafsiran yang saling melengkapi. Yang dapat dipastikan dari bentuknya adalah bahwa wayang kulit adalah teater bayangan, dan bahwa bayangan itu adalah ciri yang membedakannya dari wayang golek yang berbentuk tiga dimensi, dari wayang klitik yang terbuat dari kayu pipih, dan dari wayang wong yang dimainkan oleh manusia.
Asal-usul wayang kulit tidak bisa ditulis sebagai satu tanggal kelahiran yang sudah pasti, dan artikel ini menuliskan garis besarnya saja, dengan atribusi yang jelas. Wayang kulit diyakini sebagai bagian dari tradisi bercerita yang sudah sangat tua di Pulau Jawa, dan sumber-sumber yang membahasnya mencatat bahwa wayang telah berkembang selama sekitar sepuluh abad, baik di keraton Jawa dan Bali maupun di pedesaan. Cerita-cerita yang dimainkan dalam wayang kulit sebagian besar diambil dari wiracarita Mahabharata dan Ramayana dari India, yang kemudian diadaptasi secara kreatif oleh pujangga Jawa, sehingga cerita itu memperoleh warna lokal, tokoh tambahan, dan nilai yang sesuai dengan konteks sosial masyarakat Jawa. Adaptasi itu adalah kunci untuk memahami wayang kulit, karena wayang kulit Jawa bukan salinan dari wiracarita India, melainkan kreasi Jawa atas bahan cerita yang datang dari luar, yang kemudian tumbuh menjadi tradisi sendiri. Dalam proses itu, wayang kulit juga diadaptasi untuk menyebarkan ajaran Islam di Jawa, dengan cara yang menyesuaikan bentuk dan cerita tanpa menghilangkan ciri bayangannya, dan adaptasi itu menunjukkan kelenturan wayang kulit sebagai media komunikasi, bukan hanya sebagai hiburan.
Pengakuan internasional atas wayang kulit menegaskan nilai warisan itu. UNESCO menetapkan wayang, yaitu teater wayang kulit yang terbuat dari kulit pipih, wayang klitik yang terbuat dari kayu pipih, dan wayang golek yang berbentuk tiga dimensi, sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 7 November 2003, dan kemudian memasukkannya ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada tahun 2008. Pengakuan itu, sebagaimana ditulis UNESCO, mengharuskan masyarakat Indonesia untuk melestarikan tradisi tersebut, dan pelestarian itu bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tugas bersama antara dalang, pemusik, pembuat wayang, penyelenggara acara, dan penonton. Gambaran resmi UNESCO itu dapat dibaca pada laman Wayang puppet theatre di UNESCO, yang menjelaskan bahwa wayang berasal dari Pulau Jawa, berkembang selama sepuluh abad di keraton dan pedesaan, dan menyebar ke pulau lain seperti Lombok, Madura, Sumatra, dan Kalimantan, dengan gaya pementasan dan iringan musik setempat yang berbeda-beda.
Wayang kulit terbuat dari lembaran kulit kerbau yang telah dikeringkan, dipahat dengan alat yang sangat halus, dan dicat dengan warna yang rumit, sehingga tiap tokoh memiliki ciri wajah, pakaian, dan hiasan yang dapat dikenali penonton. Agar gerak wayang menjadi dinamis, bagian-bagian tubuhnya disambung dengan cara yang memungkinkan lengan dan bagian lain bergerak, dan wayang itu digerakkan dengan batang pengendali yang dipegang dalang. Tokoh-tokoh itu kemudian ditancapkan pada batang pisang, yang dalam bahasa Jawa disebut gedebog, ketika tidak sedang dimainkan, sehingga dalang dapat mengambil dan menancapkan tokoh dengan cepat selama pertunjukan. Pembuatan wayang yang baik membutuhkan ketelitian, karena pahatan harus cukup halus untuk dibaca sebagai bayangan di layar, cukup kuat untuk digerakkan berulang-ulang, dan cukup rapi untuk dilihat dari jarak penonton, baik dari sisi bayangan maupun dari sisi dalang. Pembuat wayang, dalang, dan pemusik adalah tiga pihak yang saling bergantung, karena wayang yang baik tidak akan hidup tanpa dalang yang baik, dan dalang yang baik tidak akan lengkap tanpa gamelan yang baik.
Dalang, Satu Orang untuk Banyak Peran dalam Wayang Kulit
Peran dalang adalah peran yang paling menentukan dalam pertunjukan wayang kulit, karena dalang sekaligus merangkap sebagai narator, sebagai penggerak wayang, sebagai penyanyi, sebagai sutradara, dan sebagai pemimpin musik. Dalang adalah orang yang mengatur jalannya pewayangan, dan mayoritas dalang memiliki kemampuan dalam mengubah karakter suara, mengubah intonasi, menyisipkan humor atau lelucon, serta menyanyi. Dalang tidak dapat diperankan oleh sembarang orang, karena selain harus lihai memainkan wayang, dalang juga harus mengetahui berbagai cerita epos pewayangan seperti Mahabharata dan Ramayana, dan harus menghafal banyak lakon, bait, dan sulukan yang dinyanyikan selama pertunjukan. Dalam pengertian itu, dalang pada masa lalu dipandang sebagai orang yang terpandang, berilmu, dan berbudi pekerti yang santun, karena ia bukan hanya penghibur, melainkan juga penjaga cerita dan penjaga nilai yang disampaikan lewat cerita itu.
Cara dalang bekerja dapat dipahami lewat lima tugas yang dilakukannya secara bersamaan. Pertama, dalang menggerakkan wayang di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, dengan menggunakan lampu minyak yang disebut blencong pada masa lalu, atau lampu listrik pada masa kini, sebagai pencahayaan yang menciptakan bayangan tokoh wayang, sehingga penonton dapat melihat bayangan tokoh wayang yang jatuh di kelir. Kedua, dalang mengucapkan dialog tiap tokoh dengan suara yang berbeda-beda, sehingga penonton dapat membedakan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain tanpa melihat dalangnya. Ketiga, dalang menyanyikan sulukan, yaitu nyanyian yang mengiringi pergantian adegan dan suasana, dan menyisipkan tembang yang dinyanyikan bersama pesinden. Keempat, dalang memberi aba-aba kepada gamelan, dengan ketukan dan isyarat yang dipahami pemusik, sehingga musik dan gerak wayang berjalan bersama. Kelima, dalang mengatur tempo cerita, yaitu kapan cerita harus berjalan cepat, kapan harus melambat, kapan harus diselingi humor, dan kapan harus ditutup. Kelima tugas itu dilakukan oleh satu orang, selama semalam suntuk, tanpa jeda yang panjang, dan karena itu pertunjukan wayang kulit sering disebut sebagai pertunjukan yang paling menuntut di antara kesenian tradisional Jawa.
Di samping dalang, ada dua kelompok lain yang tidak dapat dipisahkan dari pertunjukan. Kelompok pertama adalah nayaga atau wiyaga, yaitu para pemusik yang memainkan gamelan, dengan perangkat seperti gong, kendang, saron, dan demung, serta perangkat lain yang susunannya dapat berbeda dari satu rombongan ke rombongan lain. Kendang memegang peran penting sebagai pengatur tempo dan penanda perubahan gerak, gong memberi penanda yang menutup satu siklus irama dan memberi rasa selesai pada satu bagian lagu, dan saron serta demung mengisi melodi. Kelompok kedua adalah pesinden, yaitu penyanyi perempuan yang menyanyikan lagu-lagu Jawa untuk menghidupkan suasana, dan dalam sebagian pertunjukan, pesinden juga menari untuk menambah kesan mewah dalam pertunjukkannya. Dalam pertunjukan wayang kulit gaya Jawa Tengah, pesinden sering disebut sindhen atau waranggana, dan seorang sindhen yang baik harus memiliki kemampuan komunikasi yang luas, kemampuan vokal yang baik, serta kemampuan menyanyikan banyak lagu. Hubungan antara dalang, nayaga, dan pesinden adalah hubungan yang saling mendengarkan, sebab dalang harus peka terhadap irama gamelan, pemusik harus peka terhadap aba-aba dalang, dan pesinden harus peka terhadap suasana cerita yang sedang dibangun dalang.
Perangkat panggung wayang kulit juga perlu dipahami agar penonton baru tidak kebingungan ketika pertama kali menonton. Kelir adalah layar putih yang menjadi tempat jatuhnya bayangan, dan penonton dapat menonton dari dua sisi, yaitu dari sisi bayangan di depan kelir dan dari sisi dalang di belakang kelir. Dari sisi bayangan, penonton melihat bayangan hitam yang bergerak, dan dari sisi dalang, penonton melihat wayang kulit yang berwarna dan melihat dalang yang sedang bekerja. Kedua sisi itu sama-sama sah sebagai cara menonton, dan penonton yang menonton dari sisi dalang akan memahami cara kerja dalang dengan lebih jelas, sedangkan penonton yang menonton dari sisi bayangan akan merasakan keajaiban bayangan dengan lebih kuat. Blencong adalah lampu yang diletakkan di antara dalang dan kelir, dan pada masa lalu lampu itu memakai minyak, sedangkan pada masa kini banyak pertunjukan memakai lampu listrik. Gedebog adalah batang pisang tempat wayang ditancapkan, dan gunungan atau kayon adalah wayang berbentuk gunung atau pohon yang dipakai sebagai penanda pembukaan dan penutup pertunjukan, serta sebagai penanda pergantian adegan. Gunungan itu adalah bagian yang paling penting dalam pertunjukan, karena ia dipakai untuk memberi sinyal tentang awal, tentang perubahan, dan tentang akhir cerita.
Lakon Wayang Kulit, Mahabharata, Ramayana, dan Cerita Lokal
Lakon adalah cerita yang dimainkan dalam satu pertunjukan, dan lakon wayang kulit gaya Jawa Tengah yang paling dikenal berasal dari Mahabharata dan Ramayana. Dalam khazanah pewayangan, Mahabharata mengisahkan perselisihan antara Pandawa dan Kurawa, dua kelompok saudara sepupu yang memperebutkan kerajaan, dan Ramayana mengisahkan perjalanan Rama, Sinta, dan Laksmana, serta pertempuran melawan Rahwana. Kedua wiracarita itu adalah khazanah, bukan fakta sejarah, dan keduanya diceritakan dalam wayang kulit Jawa dengan tokoh tambahan, dengan adegan punakawan, dan dengan tafsiran yang sesuai dengan nilai masyarakat Jawa. Selain kedua wiracarita itu, ada pula lakon yang berasal dari cerita lokal, dari Serat Menak yang mengisahkan kepahlawanan Amir Hamzah, dan dari cerita karangan dalang yang dibuat untuk acara tertentu, dan keragaman lakon itu menunjukkan bahwa wayang kulit bukan hanya pementasan ulang dari dua buku, melainkan tradisi bercerita yang terus bertambah.
Tokoh-tokoh dalam lakon dapat dikenali dari penempatan dan dari bentuknya. Ketika tokoh-tokoh diperkenalkan, tokoh yang mewakili pihak yang baik umumnya diletakkan di sisi kanan dalang, dan tokoh yang mewakili pihak yang jahat diletakkan di sisi kiri dalang, dari sudut pandang dalang, sehingga penonton yang menonton dari sisi bayangan akan melihat susunan yang terbalik. Penempatan itu bukan sekadar kebiasaan teknis, melainkan cara visual untuk membantu penonton memahami siapa yang berada di pihak yang benar dan siapa yang berada di pihak yang salah dalam cerita yang sedang dimainkan. Bentuk wajah, warna, dan hiasan tokoh juga memberi petunjuk tentang wataknya, karena tokoh yang halus umumnya digambarkan dengan wajah yang halus dan gerak yang lembut, sedangkan tokoh yang kasar umumnya digambarkan dengan wajah yang kasar dan gerak yang kuat. Penonton yang sudah terbiasa menonton wayang dapat mengenali tokoh dari bentuknya saja, tanpa harus mendengar namanya disebut, dan kemampuan itu adalah bagian dari kenikmatan menonton wayang, yaitu kenikmatan mengenali.
Di antara tokoh-tokoh itu, ada kelompok yang paling dinanti penonton, yaitu punakawan. Punakawan adalah kelompok abdi dan penghibur yang mendampingi para ksatria, dan dalam gaya Jawa Tengah, kelompok itu terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Dalam pertunjukan wayang kulit, adegan punakawan adalah adegan ketika cerita yang tegang dicairkan dengan humor, ketika persoalan yang berat dibicarakan dengan bahasa ringan, dan ketika penonton merasa bahwa cerita besar tentang raja dan ksatria itu ternyata juga cerita tentang mereka. Artikel ini sengaja tidak menguraikan punakawan secara penuh di sini, karena uraian penuh tentang Semar dan ketiga anaknya sudah ada dalam artikel KabarTidar tentang Kyai Semar dalam pewayangan, dan pembaca yang ingin mengenal kelompok itu secara mendalam sebaiknya membaca artikel itu. Yang perlu dicatat di sini adalah fungsinya dalam pertunjukan semalam suntuk, yaitu sebagai penanda pergantian babak, sebagai ruang kritik sosial yang aman, dan sebagai jembatan antara dunia istana dan kehidupan penonton, dan fungsi itu akan dibahas lebih lanjut dalam bagian tentang goro-goro.
Lakon wayang kulit juga memiliki fungsi yang melampaui hiburan. Dalam pengertian tradisional, wayang kulit dipakai sebagai media komunikasi, sebagai sarana edukasi, dan sebagai sarana penyampaian nilai-nilai moral sebagai bentuk yang mendasari norma serta penggambaran tingkah laku manusia, dan sebagai bentuk pengenalan budaya daerah kepada generasi muda. Cerita tentang kesetiaan, tentang keberanian, tentang kesombongan yang merusak, dan tentang kerendahan hati yang menyembuhkan, disampaikan lewat tokoh-tokoh yang bergerak di layar, bukan lewat ceramah yang kaku. Karena itu, wayang kulit sering dipentaskan dalam acara yang memiliki makna bersama, seperti pernikahan, khitanan, bersih desa, sedekah bumi, dan peringatan hari besar, dan dalam acara semacam itu, wayang kulit berfungsi sekaligus sebagai hiburan, sebagai doa, dan sebagai pengingat nilai. Fungsi ganda itu, yaitu tontonan dan tuntunan, adalah fungsi yang juga dimiliki oleh kesenian rakyat lain di Magelang, seperti Kubro Siswo, dan kesamaan fungsi itu menunjukkan bahwa kesenian tradisional Jawa pada umumnya tidak memisahkan hiburan dari pendidikan, melainkan menyatukannya dalam satu pertunjukan.
Jalannya Satu Pertunjukan Wayang Kulit Semalam Suntuk
Pertunjukan wayang kulit secara tradisional dimainkan semalam suntuk, biasanya dimulai dari pukul 21.00 hingga pukul 05.00, dan dalam rentang waktu itu, dalang membagi cerita ke dalam tiga babak yang ditandai oleh pathet, yaitu pembagian nada dalam musik gamelan. Pembagian cerita lakon wayang tradisi pathet itu memiliki tujuh jejeran atau adegan, dan tiap babak memiliki suasana musik dan suasana cerita yang berbeda. Babak pertama disebut pathet nem, dan pada babak ini umumnya diceritakan adegan raja dalam sebuah istana atau adegan perang yang diiringi gending-gending pathet nem. Babak kedua disebut pathet sanga, dan adegan yang terdapat pada babak ini berupa adegan lawakan atau lelucon yang pelaksanaannya pada waktu tengah malam, dan bagian ini merupakan bagian yang paling dinanti penonton, yaitu goro-goro yang menyajikan guyonan khas Jawa sekaligus untuk menyampaikan pesan-pesan yang bermoral. Babak ketiga disebut pathet manyura, dan pada babak ini cerita diarahkan ke penyelesaian lakon, yaitu dalang menancapkan gunungan di tengah jajaran tokoh wayang sebagai tanda pagelaran lakon telah selesai. Pembagian tiga babak itu adalah kerangka umum, dan dalang yang berpengalaman dapat menyesuaikan panjang tiap babak dengan lakon, dengan acara, dan dengan penonton, tanpa menghilangkan kerangka itu.
Pertunjukan biasanya dibuka dengan bunyi gamelan yang dimainkan sebelum dalang mulai bercerita, dan bunyi itu memberi tanda kepada penonton bahwa pertunjukan akan segera dimulai, sekaligus memberi waktu bagi penonton untuk berkumpul, bagi pedagang untuk berjualan di sekitar arena, dan bagi rombongan untuk menyiapkan perangkatnya. Setelah itu, dalang menancapkan gunungan di tengah kelir, sebagai penanda pembukaan, dan gunungan itu kemudian digerakkan, digoyangkan, dan dipindahkan untuk memberi sinyal bahwa cerita akan dimulai. Adegan pertama, yang disebut jejer, biasanya memperkenalkan kerajaan, raja, dan persoalan yang akan menjadi pangkal cerita. Dalam jejer, dalang memperkenalkan tokoh-tokoh utama dengan suara dan gerak yang sesuai dengan wataknya, dan penonton yang sudah terbiasa akan mengenali persoalan cerita dari jejer itu, yaitu siapa yang sedang menghadapi masalah, apa masalahnya, dan siapa yang akan diutus untuk menyelesaikannya. Jejer adalah adegan yang paling formal dalam pertunjukan, karena di sanalah tatanan istana, tata krama, dan bahasa yang halus paling terasa, dan karena itu jejer sering dipakai untuk mengukur kemampuan dalang dalam mengucapkan bahasa Jawa yang halus dan dalam mengatur tokoh-tokoh istana.
Setelah jejer, cerita bergerak ke adegan-adegan berikutnya, yang memperkenalkan tokoh-tokoh lain, yang mempertemukan pihak yang bertentangan, dan yang membangun ketegangan menuju perang. Dalam adegan-adegan itu, dalang memainkan perang-perang kecil, yaitu pertempuran antara tokoh-tokoh yang mewakili pihak yang bertentangan, dengan gerak wayang yang cepat, dengan bunyi gamelan yang menghentak, dan dengan dialog yang pendek dan tegas. Perang kecil itu bukan hanya hiburan, melainkan juga cara untuk menunjukkan kekuatan, kelemahan, dan watak tiap tokoh, karena cara tokoh bertarung mencerminkan cara tokoh itu hidup. Penonton yang menyaksikan perang kecil akan belajar mengenali tokoh dari geraknya, dari suaranya, dan dari cara ia menghadapi lawan, dan pelajaran itu akan berguna ketika perang besar datang di akhir cerita. Di antara adegan-adegan itu, dalang juga menyisipkan adegan perjalanan, adegan pertemuan, dan adegan perundingan, yang memberi jeda bagi penonton dan memberi ruang bagi cerita untuk berkembang secara perlahan, bukan secara terburu-buru.
Menjelang tengah malam, pertunjukan memasuki babak yang paling dinanti, yaitu goro-goro. Goro-goro adalah adegan ketika punakawan muncul, ketika cerita yang tegang dicairkan dengan humor, dan ketika persoalan yang sedang dihadapi ksatria dibicarakan ulang dengan bahasa rakyat, dengan sindiran terhadap penguasa, dengan kritik terhadap kesombongan, dan dengan perumpamaan dari kehidupan sehari-hari. Dalam adegan itu, Semar dan anak-anaknya bukan hanya menghibur, melainkan juga mengkritik, dan kritik itu dapat diterima karena disampaikan oleh tokoh yang rendah hati, yang tidak memiliki kepentingan, dan yang berbicara dari posisi rakyat kecil, bukan dari posisi penguasa yang sedang dikritik. Inilah fungsi punakawan yang paling berharga dalam budaya Jawa, yaitu sebagai ruang kritik yang aman, tempat kebenaran dapat diucapkan tanpa harus menimbulkan permusuhan, karena kebenaran itu dibungkus dengan tawa, dan tawa itu membuat pendengarnya tidak merasa diserang, melainkan merasa diajak berpikir. Penonton yang sudah menunggu semalaman sering kali menganggap goro-goro sebagai puncak pertunjukan, bukan karena ia yang paling megah, melainkan karena ia yang paling dekat dengan kehidupan mereka, dan karena di sanalah dalang paling bebas menyisipkan komentar tentang keadaan masa kini, tentang harga, tentang pejabat, dan tentang kehidupan desa, dengan cara yang lucu dan mengena.
Setelah goro-goro, cerita bergerak ke babak penyelesaian, yaitu pathet manyura, dan di sanalah perang besar dimainkan. Perang besar adalah pertempuran penutup antara pihak yang benar dan pihak yang salah, dan perang itu dimainkan dengan gerak wayang yang paling cepat, dengan bunyi gamelan yang paling menghentak, dan dengan ketegangan yang paling tinggi. Dalang menggerakkan banyak tokoh secara bergantian, mengubah suara dengan cepat, dan memberi aba-aba kepada gamelan agar musik mengikuti gerak perang. Penonton yang sudah mengantuk sering kali terbangun kembali pada babak ini, karena bunyi gamelan yang menghentak dan gerak wayang yang cepat memberi tenaga baru bagi arena. Setelah perang besar selesai dan pihak yang benar menang, dalang menutup cerita dengan menancapkan gunungan di tengah jajaran tokoh wayang, sebagai tanda bahwa pagelaran lakon telah selesai, dan gunungan itu juga menjadi penanda bahwa malam telah berakhir dan pagi akan segera datang. Penonton yang bertahan sampai penutup akan pulang dengan rasa lega, karena cerita yang dimulai dengan persoalan telah berakhir dengan penyelesaian, dan karena malam yang panjang telah dilewati bersama, bukan sendirian.
Pertunjukan semalam suntuk itu, bila dilihat dari sisi penonton, bukan pertunjukan yang ditonton dengan cara duduk diam selama delapan jam tanpa bergerak. Penonton wayang kulit datang dan pergi, duduk dan berdiri, makan dan minum, mengobrol dan tertidur, lalu terbangun kembali pada babak yang dinanti. Anak-anak bermain di tepi arena, pedagang berjualan di sekitar lokasi, dan warga saling menyapa di sela-sela adegan. Suasana itu adalah bagian dari pertunjukan, bukan gangguan terhadap pertunjukan, karena wayang kulit adalah pertunjukan komunal, yang hidup dari kehadiran warga, bukan dari kesunyian gedung teater. Penonton yang baru pertama kali menonton wayang kulit sebaiknya memahami suasana itu sejak awal, agar tidak kecewa karena pertunjukan tidak berjalan seperti pertunjukan di gedung yang tertib, dan agar tidak merasa bersalah bila mengantuk di tengah malam, karena mengantuk di tengah pertunjukan wayang adalah pengalaman yang umum, dan dalang pun memahaminya. Yang penting adalah datang dengan rasa hormat, yaitu tidak membuat kegaduhan yang mengganggu dalang dan pemusik, tidak masuk ke arena tanpa izin, dan tidak memotret dalang dari jarak dekat dengan lampu kilat yang menyilaukan.
Wayang Kulit di Magelang dan Cara Menontonnya Masa Kini
Di Magelang, wayang kulit hidup dalam konteks yang sama dengan kesenian panggung lainnya, yaitu dalam hajatan, bersih desa, festival, dan acara masyarakat yang melibatkan banyak warga. KabarTidar telah membahas panggung wayang dan ketoprak Magelang dalam artikel tentang panggung wayang dan ketoprak Magelang, yang menunjukkan bahwa Magelang memiliki banyak kesenian panggung dengan fungsi yang berbeda-beda, dan tiap kesenian perlu dikenal lewat cirinya sendiri. Wayang mengutamakan cerita dan filosofi lewat dalang, ketoprak mengutamakan lakon lewat pemain, sedangkan tarian rakyat mengutamakan gerak dan syair lewat rombongan. Keragaman itu adalah kekayaan, bukan persaingan, karena tiap kesenian mengisi ruang yang berbeda dalam kehidupan budaya masyarakat. Pembaca yang ingin memahami kesenian panggung Magelang secara lebih luas dapat membaca artikel itu, dan pembaca yang ingin mengenal tokoh Semar secara mendalam dapat membaca artikel KabarTidar tentang Kyai Semar dalam pewayangan, yang sengaja tidak diulangi di sini.
Perlu dibedakan pula antara wayang kulit dan legenda setempat yang memakai nama yang sama, agar tidak terjadi kebingungan. Pembaca yang ingin membandingkan wayang dengan legenda tentang bukit di Magelang yang memakai nama Semar dapat membaca artikel KabarTidar tentang legenda Bukit Tidar dan Kyai Semar, yang memaparkan versi-versi yang beredar tentang penjaga bukit, perbedaan keyakinan tentang identitasnya, dan pembedaan antara legenda dan fakta, tanpa memaksakan satu versi menjadi satu-satunya kebenaran. Artikel itu adalah tempat yang tepat untuk pertanyaan tentang bukit, sementara artikel ini adalah tempat yang tepat untuk pertanyaan tentang wayang, dan keduanya saling melengkapi, karena keduanya menunjukkan betapa kuatnya nama Semar dalam budaya Jawa, sehingga satu nama dapat hidup dalam dua dunia yang berbeda, yaitu dunia legenda setempat dan dunia pewayangan yang lebih luas, tanpa harus saling meniadakan. Pembaca yang membaca keduanya akan memahami bahwa kebingungan tentang nama yang sama bukanlah kesalahan, melainkan ciri dari budaya lisan yang hidup, yang memakai nama yang sudah dikenal untuk sosok setempat, karena nama itu sudah membawa makna yang dipahami pendengar, yaitu penjaga, pengasuh, dan pelindung yang tampak sederhana tetapi dapat diandalkan.
Masa kini membawa perubahan pada pertunjukan wayang kulit, dan perubahan itu perlu ditulis dengan jujur, bukan dengan nostalgia yang menutup mata. Pertunjukan semalam suntuk yang dimulai pukul 21.00 dan berakhir pukul 05.00 masih ada, tetapi ada pula pertunjukan yang dipadatkan menjadi beberapa jam, untuk acara yang waktunya terbatas, untuk penonton yang tidak dapat bertahan semalaman, dan untuk panggung festival yang jadwalnya padat. Pemadatan itu bukan kemunduran secara otomatis, karena dalang yang baik dapat menceritakan lakon yang sama dengan tempo yang lebih cepat tanpa menghilangkan kerangka pathet, jejer, goro-goro, dan penutupnya. Yang menjadi persoalan adalah bila pemadatan menghilangkan goro-goro, menghilangkan sulukan, atau menghilangkan perang besar, karena ketiganya adalah bagian yang menentukan dari pertunjukan. Penonton yang menonton pertunjukan padat sebaiknya menanyakan lakon dan durasinya sejak awal, agar tidak kecewa bila pertunjukan berakhir lebih cepat dari yang dibayangkan, dan penyelenggara sebaiknya menyampaikan durasi itu dengan jujur, bukan dengan janji semalam suntuk yang tidak ditepati.
Perubahan lain adalah perubahan pada pencahayaan dan pada cara menonton. Pada masa lalu, blencong memakai minyak, dan bayangan yang jatuh di kelir memiliki warna dan goyangan yang khas karena nyala minyak yang bergoyang. Pada masa kini, banyak pertunjukan memakai lampu listrik, yang memberi cahaya yang lebih stabil dan lebih terang, tetapi juga mengubah suasana bayangan. Perubahan itu tidak menghilangkan wayang kulit, karena yang menentukan wayang kulit bukanlah jenis lampunya, melainkan cara dalang memainkan wayang di antara lampu dan layar. Perubahan pada cara menonton juga terjadi, karena pertunjukan wayang kini dapat ditonton melalui rekaman video dan siaran langsung, dan penonton dari luar Magelang dapat menyaksikan dalang dari daerah lain tanpa harus datang ke arena. Rekaman dan siaran itu membantu pelestarian, karena ia menjadi arsip yang dapat dibaca oleh generasi mendatang, tetapi ia tidak menggantikan pengalaman menonton langsung, karena pengalaman langsung melibatkan suasana arena, bunyi gamelan yang terasa di dada, dan kebersamaan warga yang menonton bersama. Cara yang paling baik adalah memakai keduanya, yaitu menonton rekaman untuk belajar, dan menonton langsung untuk merasakan.
Bagi penonton baru, ada beberapa hal sederhana yang dapat membuat pengalaman menonton wayang kulit menjadi lebih bermakna. Pertama, kenali lakonnya sejak awal, dengan menanyakan kepada penyelenggara atau kepada warga di sekitar arena, lakon apa yang dimainkan malam itu, dan siapa tokoh utamanya, agar penonton tidak kebingungan ketika tokoh-tokoh mulai bermunculan. Kedua, perhatikan penempatan tokoh, karena tokoh yang baik umumnya diletakkan di sisi kanan dalang dan tokoh yang jahat di sisi kiri dalang, dan penempatan itu membantu penonton memahami pihak mana yang sedang berbicara. Ketiga, perhatikan suara dalang, karena dalang mengubah suaranya untuk tiap tokoh, dan perubahan suara itu adalah tanda bahwa tokoh yang sedang berbicara telah berganti, meskipun wayang yang digerakkan tampak serupa. Keempat, tunggu goro-goro, karena di sanalah humor dan kritik sosial paling terasa, dan di sanalah penonton paling mudah memahami pesan cerita tanpa harus menghafal silsilah tokoh. Kelima, jangan malu untuk bertanya kepada warga di sekitar arena, karena penonton wayang yang sudah terbiasa umumnya senang menjelaskan cerita kepada penonton baru, dan penjelasan itu adalah bagian dari kebersamaan arena. Keenam, hargai dalang, nayaga, dan pesinden dengan tidak mengganggu mereka selama pertunjukan, dengan tidak memakai lampu kilat yang menyilaukan, dan dengan memberi apresiasi yang tulus setelah pertunjukan selesai.
Pelestarian wayang kulit menghadapi tantangan yang juga dihadapi banyak kesenian tradisional, yaitu perubahan selera hiburan, berkurangnya waktu luang warga untuk menonton semalaman, dan persaingan dengan hiburan digital yang dapat dinikmati sendirian. Tantangan itu bukan alasan untuk pesimis, melainkan penanda bahwa pelestarian memerlukan cara yang sadar dan terencana, bukan sekadar berharap kesenian bertahan dengan sendirinya. Dalang yang terus berlatih, pemusik yang terus bermain, pembuat wayang yang terus memahat, penyelenggara acara yang terus memberi panggung, dan penonton yang terus datang adalah lima penopang yang harus berjalan bersama. Salah satu jalan pelestarian yang sejalan dengan pengakuan UNESCO adalah menjadikan wayang kulit sebagai bahan pembelajaran budaya yang hidup, bukan sekadar tontonan tahunan, dengan cara memasukkannya ke dalam kegiatan sekolah, sanggar, dan festival, sehingga generasi muda mengenal wayang bukan hanya dari cerita, tetapi dari pengalaman langsung. Dokumentasi juga menjadi bagian penting dari pelestarian, karena kajian, rekaman pertunjukan, dan arsip lakon adalah bentuk dokumentasi yang berharga, dan dokumentasi itu dapat dibaca oleh generasi berikutnya, tetapi dokumentasi tertulis dan rekaman saja tidak cukup, karena kesenian hidup dalam tubuh dalang, suara pesinden, dan irama gamelan. Panggung yang teratur, latihan yang rutin, dan penonton yang datang adalah pelengkap yang tidak dapat digantikan oleh tulisan dan rekaman semata.
Pada akhirnya, wayang kulit adalah bukti bahwa satu orang, satu layar putih, satu lampu, dan sekelompok pemusik dapat menghidupkan dunia yang utuh selama semalam suntuk, dengan cerita yang berasal dari khazanah, dengan tokoh yang dikenali dari bayangannya, dan dengan pesan yang disampaikan lewat humor dan perang. Dalang yang menggerakkan wayang, yang mengubah suara, yang menyanyi, dan yang memberi aba-aba kepada gamelan, adalah pusat dari dunia itu, dan tanpa dalang, wayang kulit hanyalah kulit yang dipahat dan dicat. Penonton yang bertahan sampai gunungan ditancapkan kembali di tengah kelir, sebagai tanda bahwa lakon telah selesai dan pagi akan segera datang, akan pulang dengan cerita yang dapat diceritakan kembali, dengan pesan yang dapat direnungkan, dan dengan kenangan tentang malam yang dilewati bersama warga. Bila wayang kulit terus dirawat dengan cara yang menjaga kerangka pathet, jejer, goro-goro, dan penutupnya, bukan hanya namanya, maka wayang kulit akan tetap hidup bukan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai bagian dari kehidupan masa kini yang terus berbicara kepada siapa pun yang bersedia menontonnya sampai subuh. Sebagai rujukan bagi pembaca yang ingin mengenal wayang kulit lebih jauh, pustaka pewayangan dari Universitas Gadjah Mada menguraikan tokoh Semar dalam pewayangan, dan ensiklopedia daring tentang wayang menyediakan gambaran tentang dalang, sindhen, dan wiyaga, yang dapat dibaca pada laman Wayang tentang dalang, yang menjadi sumber pendukung artikel ini bersama dengan laman UNESCO tentang teater wayang yang sudah ditautkan di atas.


