Silase Pakan Ternak: Cara Membuat, Fermentasi, dan Penyimpanan yang Benar
Silase mengawetkan hijauan segar di dalam wadah kedap udara agar tetap tersedia saat musim kemarau. Ini bahan, langkah, proses fermentasi, dan ciri silase yang baik menurut dua jurnal peternakan.

MAGELANG, KabarTidar. Silase Pakan Ternak adalah cara mengawetkan hijauan pakan segar di dalam wadah kedap udara agar tetap tersedia sebagai pakan ternak ketika hijauan segar sulit didapat, terutama pada musim kemarau. Bagi peternak sapi, kambing, dan domba, silase menjadi jalan keluar dari persoalan klasik peternakan rakyat, yaitu hijauan melimpah pada musim hujan tetapi langka pada musim kemarau. Ketika hijauan segar tidak tersedia, ternak sering hanya diberi pakan seadanya, dan kondisi itu dapat memengaruhi kondisi tubuh serta kinerja produksi ternak. Silase dibuat dengan memanfaatkan proses fermentasi alami, sehingga hijauan yang dipanen saat melimpah dapat disimpan lebih lama dan diberikan kepada ternak pada saat dibutuhkan.
Artikel ini menjelaskan pengertian silase, bahan yang dibutuhkan, langkah pembuatan, proses fermentasi yang terjadi di dalam silo, cara penyimpanan, serta ciri silase yang baik dan yang gagal. Setiap langkah dan klaim fermentasi yang ditulis di sini merujuk pada sumber yang disebutkan, yaitu jurnal pengabdian masyarakat dari Universitas Satya Wiyata Mandala di Nabire, Papua Tengah, yang ditulis Mery C. Simanjuntak, Trijaya Gane Putra, dan Wardhana Wahyu Dharsono, serta jurnal dari Universitas Tunas Pembangunan Surakarta yang ditulis Sapto Priyadi, Achmad Fatchul Aziez, dan Haryuni. Kedua sumber itu mempraktikkan pembuatan silase bersama peternak, sehingga langkah langkah yang mereka tulis dapat diikuti oleh peternak skala kecil dengan peralatan sederhana.
Apa Itu Silase Pakan Ternak dan Mengapa Peternak Membutuhkannya
Silase adalah hijauan pakan segar yang diawetkan dalam suatu tempat yang kedap udara, dan dapat diberikan pada ternak tanpa mengganggu proses pencernaan serta mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi. Pengertian itu dikemukakan Sosroamidjojo dan Soedarji pada tahun 1978 dan dikutip kembali dalam jurnal Simanjuntak dan kawan kawan. Wadah tempat pengawetan itu disebut silo, yaitu wadah yang dapat ditutup dan kedap udara, artinya tidak terjadi sirkulasi udara dari dan ke dalam wadah tersebut serta kedap terhadap rembesan cairan. Bentuk dan bahan silo bermacam macam, bisa berupa kantong plastik, drum atau gentong plastik, maupun bak dari beton semen. Bagi peternak kecil, drum plastik dan kantong plastik tebal menjadi pilihan yang paling mudah didapat dan paling mudah ditutup rapat.
Tujuan pembuatan silase, menurut sumber yang sama, adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian diberikan sebagai pakan bagi ternak. Dengan cara itu, kekurangan pakan saat musim kemarau dapat ditanggulangi dengan memanfaatkan kelimpahan pakan saat musim penghujan. Strategi ini penting karena fluktuasi pakan sebagai akibat pergantian musim hujan dan kemarau merupakan kondisi alami yang tidak terhindarkan bagi negara tropis seperti Indonesia. Jika tidak diantisipasi, ketersediaan pakan yang terbatas pada musim kemarau membuat ternak diberi pakan seadanya, dan dampaknya dapat terlihat pada pola perubahan bobot badan ternak.
Silase berbeda dengan hijauan kering atau hay. Hay mengandalkan pengeringan untuk mengawetkan hijauan, sedangkan silase mengandalkan suasana tanpa udara dan keasaman hasil fermentasi untuk mengawetkan hijauan yang masih basah. Karena itu, silase cocok untuk daerah yang hijauan segarnya melimpah pada musim hujan tetapi sulit dikeringkan karena cuaca lembap. Peternak tidak perlu menunggu hijauan benar benar kering, cukup mengatur kadar airnya sampai mendekati kadar yang dibutuhkan untuk fermentasi, lalu memadatkan dan menutupnya rapat rapat di dalam silo.
Di Magelang, ternak ruminansia seperti sapi dan kambing banyak dipelihara masyarakat, dan pakan hijauan menjadi kebutuhan harian yang tidak bisa ditunda. Pembaca yang ingin mengenal lebih jauh jenis kambing yang banyak dipelihara di Magelang dapat membaca artikel KabarTidar tentang kambing peranakan etawa Magelang, yang mengulas salah satu ternak penghasil susu yang pakan hijaunya juga perlu dijaga ketersediaannya. Prinsip yang sama berlaku untuk semua ternak ruminansia, yaitu pakan harus tersedia setiap hari, dalam jumlah cukup, dan dalam kondisi yang baik. Silase membantu memenuhi prinsip itu karena stok pakan dapat disiapkan jauh hari sebelum musim paceklik tiba.
Bahan untuk Membuat Silase Pakan Ternak
Bahan utama silase adalah hijauan pakan, yaitu tanaman pakan yang biasa diberikan kepada ternak dalam keadaan segar. Menurut Priyadi dan kawan kawan, contoh hijauan yang cocok untuk proses fermentasi antara lain rumput hijau seperti rumput gajah, rumput raja, dan rumput setaria, karena memiliki kandungan gizi yang baik dan mudah diakses oleh peternak. Selain rumput, jerami padi yang merupakan sisa tanaman padi setelah panen juga dapat dimanfaatkan, karena melalui proses fermentasi jerami dapat diubah menjadi pakan yang lebih bergizi dan lebih mudah dicerna oleh ternak ruminansia. Daun singkong yang memiliki kandungan protein tinggi, dedak padi hasil samping penggilingan padi yang kaya serat dan energi tetapi rendah protein, serta limbah pertanian seperti limbah sayuran dan buah buahan juga disebut sebagai bahan yang dapat difermentasi menjadi pakan.
Pemilihan bahan tidak boleh sembarangan. Menurut Priyadi dan kawan kawan, langkah pertama dalam menerapkan teknologi fermentasi hijauan adalah mengidentifikasi jenis hijauan yang cocok untuk proses fermentasi dan memilih hijauan yang memiliki kandungan gizi baik serta tersedia di tingkat desa. Hijauan yang sudah terlalu tua dan berkayu keras umumnya lebih sulit difermentasi dan lebih sulit dicerna, sedangkan hijauan yang masih segar dan cukup mengandung karbohidrat terlarut lebih mudah difermentasi. Karena itu, peternak sebaiknya memanen hijauan pada saat kondisinya masih baik, bukan menunggu sampai hijauan mengering di lapangan atau membusuk.
Selain hijauan, pembuatan silase sering membutuhkan bahan tambahan atau aditif sebagai sumber karbohidrat. Dalam praktik yang ditulis Simanjuntak dan kawan kawan, penambahan bahan aditif dilakukan berupa dedak halus dan tepung jagung masing masing sebanyak 5 persen dan 2,5 persen dari berat bahan silase. Penambahan itu bertujuan meningkatkan kadar karbohidrat dalam bahan, sehingga produksi asam laktat selama fermentasi dapat meningkat. Pendapat Susetyo dan kawan kawan pada tahun 1969 yang dikutip dalam jurnal itu menyatakan bahwa penambahan bahan aditif merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas silase, selain keadaan hijauan, perlakuan terhadap hijauan seperti pemotongan dan pelayuan, serta kondisi lingkungan dalam silo, terutama ada tidaknya oksigen di dalam silo.
Dalam resep yang ditulis Priyadi dan kawan kawan, bahan yang dibutuhkan untuk satu adonan silase adalah rumput gajah atau hijauan lain sebanyak 100 kilogram, molases sebanyak 3 liter, EM4 sebanyak 1,5 liter, dedak halus sebanyak 5 kilogram, menir atau gaplek atau ampas tahu sebanyak 3 kilogram, dan air sebanyak 25 liter. EM4 adalah singkatan dari Effective Microorganisms 4, yaitu campuran mikroorganisme yang terdiri atas bakteri asam laktat, khamir, dan mikroorganisme bermanfaat lainnya. Menurut sumber itu, EM4 dalam kemasan pabrik berada dalam keadaan dorman atau tidak aktif, sehingga perlu diaktifkan sebelum digunakan. Cara mengaktifkannya adalah mencampurkan 3 liter molases dengan 25 liter air dan 1,5 liter EM4, lalu menginkubasinya selama kurang lebih 24 jam, sehingga EM4 menjadi aktif dan siap digunakan dalam fermentasi sebagai mikroba pengurai.
Peralatan yang perlu disiapkan juga sederhana, yaitu drum plastik, kantong plastik kedap udara, atau silo, serta ember, terpal, sekop, jeriken, dan pengaduk. Peternak yang baru pertama kali membuat silase sebaiknya memulai dari jumlah kecil, misalnya satu drum, agar dapat mengamati hasilnya sebelum membuat dalam jumlah besar. Jika satu drum berhasil, barulah jumlahnya ditambah pada pembuatan berikutnya. Cara ini mengurangi risiko kerugian apabila terjadi kesalahan pada percobaan pertama.
Cara Membuat Silase Pakan Ternak Selangkah demi Selangkah
Langkah pertama adalah menyiapkan hijauan dengan kadar air yang tepat. Dalam teknik yang ditulis Priyadi dan kawan kawan, rumput gajah atau hijauan yang digunakan memiliki kadar air 65 persen, dan dipotong potong sepanjang 5 sampai 10 sentimeter secara manual atau menggunakan mesin pencacah atau chopper. Pemotongan ini penting karena potongan yang pendek lebih mudah dipadatkan, sehingga udara yang terperangkap di antara potongan hijauan menjadi lebih sedikit. Menurut Simanjuntak dan kawan kawan, untuk memperoleh kepadatan yang sempurna dan menghindari terperangkapnya udara atau oksigen dalam silo, perlu dilakukan pencacahan dan pelayuan bahan. Pelayuan adalah proses membiarkan hijauan layu sejenak setelah dipanen agar kadar airnya menurun mendekati kadar yang dipersyaratkan, yaitu sekitar 65 persen.
Kadar air memang menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan silase. Secara umum, kadar air optimum dalam pembuatan silase adalah sekitar 65 persen, menurut Coblentz pada tahun 2003 yang dikutip Simanjuntak dan kawan kawan. Tingkat kadar air ini dapat memudahkan proses fermentasi dan biasanya membantu menghilangkan oksigen selama proses pada awal ensilase di dalam silo. Sebaliknya, proses ensilase pada kadar air lebih dari 70 persen mengakibatkan silase menjadi kurang masam dan mempunyai konsentrasi asam butirat dan N amonia yang tinggi. Apabila kadar air bahan silase rendah di bawah 50 persen, fermentasi menjadi terbatas dan menghasilkan silase yang kurang stabil dengan konsentrasi asam laktat rendah dan pH yang lebih tinggi atau kurang masam. Hijauan dengan kadar air rendah juga lebih sulit untuk menghilangkan oksigen yang ada dalam silo, karena bahan silase yang cenderung kering sudah tidak mengalami aktivitas respirasi.
Langkah kedua adalah mencampurkan bahan secara merata. Dalam teknik Priyadi dan kawan kawan, rumput atau hijauan dicampur dengan dedak, menir atau gaplek atau ampas tahu secara merata, kemudian EM4 yang sudah diaktifkan dicampurkan secara merata pula. Pencampuran yang merata memastikan setiap bagian hijauan mendapatkan tambahan karbohidrat dan mikroba fermentasi, sehingga fermentasi berjalan seragam di seluruh isi silo. Jika pencampuran tidak merata, sebagian bahan bisa terfermentasi dengan baik sementara bagian lain kekurangan mikroba atau karbohidrat, dan bagian yang kurang terfermentasi itu berisiko membusuk.
Langkah ketiga adalah mengisi silo dan memadatkan bahan. Campuran bahan dimasukkan ke dalam drum plastik, kantong plastik kedap udara, atau silo, lalu dipadatkan tanpa ada rongga udara. Menurut teknik yang ditulis Priyadi dan kawan kawan, bahan pakan dimasukkan sampai melebihi permukaan wadah atau silo, dan dipadatkan sehingga tidak ada kemungkinan isi menyusut dan menyisakan ruang kosong. Selain itu, tidak boleh ada ruang antara tutup dan drum plastik atau kantong plastik atau silo dengan permukaan bahan pakan. Artinya, setelah dipadatkan, bahan harus benar benar menempel pada tutup, tanpa celah udara di antaranya.
Pemadatan adalah kunci yang sering diremehkan. Menurut Simanjuntak dan kawan kawan, tingkat kepadatan bahan dalam silo yang tidak sempurna dapat memerangkap udara atau oksigen dalam silo. Hal ini menyebabkan proses respirasi bahan menjadi lama, sehingga kondisi anaerobik dalam silo juga menjadi lama tercapai dan mengganggu proses fermentasi. Akibatnya, produksi asam laktat terganggu dan kondisi asam bahan dalam silo tidak tercapai. Selain itu, respirasi yang berlangsung lama menghasilkan panas, dan karena respirasi berlangsung relatif lama maka kondisi panas dalam silo juga relatif lama. Kondisi itu mengakibatkan temperatur bahan dalam silo meningkat, selanjutnya menurunkan kadar bahan kering, mengganggu proses ensilase, menurunkan nilai nutrisi dan kestabilan silase. Peningkatan temperatur juga dapat memengaruhi warna silase menjadi gelap.
Langkah keempat adalah menutup silo rapat rapat dan menempatkannya di tempat yang tepat. Menurut Priyadi dan kawan kawan, silase ditempatkan di tempat yang kering dan tidak terkena sinar matahari langsung. Tempat yang kering mencegah wadah lembap dan berjamur dari luar, sedangkan terhindar dari sinar matahari langsung menjaga suhu silo tidak naik berlebihan. Selama masa penyimpanan, tutup tidak boleh dibuka buka, karena setiap kali tutup dibuka, udara masuk dan mengganggu suasana anaerob yang sedang bekerja mengawetkan hijauan. Peternak yang membuat silase dalam beberapa drum sebaiknya memberi label tanggal pembuatan pada setiap drum, agar drum yang paling dulu dibuat dibuka paling dulu saat pemberian pakan.
Langkah kelima adalah menunggu sampai silase siap digunakan. Menurut Priyadi dan kawan kawan, silase siap digunakan sebagai pakan ternak setelah 15 sampai 20 hari. Rentang waktu ini adalah waktu yang dibutuhkan proses fermentasi untuk menghasilkan keasaman yang cukup untuk mengawetkan hijauan. Membuka silo terlalu cepat berisiko karena fermentasi belum selesai, sedangkan membuka sesuai waktunya memberi kesempatan kepada bakteri asam laktat untuk bekerja sampai kondisi silo cukup asam. Peternak sebaiknya mengikuti rentang waktu ini dan tidak tergesa gesa membuka silo hanya karena ingin segera mencoba hasilnya.
Proses Fermentasi di Dalam Silo
Setelah silo ditutup rapat, terjadi rangkaian proses yang disebut ensilase. Prinsip utama pembuatan silase, menurut McDonald pada tahun 1981 yang dikutip Simanjuntak dan kawan kawan, adalah memperpendek waktu respirasi bahan sehingga mempercepat tercapainya kondisi anaerob yang mendukung proses fermentasi karbohidrat menjadi asam laktat berlangsung lebih cepat. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kadar air dan kadar karbohidrat bahan, pemilihan jenis atau bahan silo, serta tingkat kepadatan bahan dalam silo. Dengan kata lain, semua langkah yang dilakukan sebelum penutupan, mulai dari pelayuan, pencacahan, pencampuran, sampai pemadatan, bertujuan sama, yaitu secepat mungkin menciptakan suasana tanpa udara di dalam silo.
Pada awal penutupan, sisa oksigen di dalam silo masih digunakan oleh sel hijauan dan mikroba untuk bernapas, dan proses ini disebut respirasi. Jika silo tertutup rapat, respirasi itu cepat berhenti karena oksigennya habis dan tercipta suasana anaerob. Menurut Simanjuntak dan kawan kawan, pada kondisi anaerob, jamur tidak dapat tumbuh, tetapi sebaliknya bakteri pembentuk asam atau Lactobacillus justru menjadi aktif mengubah karbohidrat atau glukosa menjadi asam laktat, yang mengakibatkan pH menjadi turun dan menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk. Dengan demikian, apabila kondisi anaerob dalam silo cepat tercipta serta dalam bahan silase cukup tersedia karbohidrat, proses fermentasi semakin cepat dan pembentukan asam laktat menjadi semakin cepat dan optimal.
Karbohidrat yang difermentasi itu terutama adalah karbohidrat terlarut, yang dalam literatur disebut WSL atau water soluble carbohydrate. Menurut Simanjuntak dan kawan kawan, kadar karbohidrat bahan yang baik dijadikan silase adalah harus mempunyai kadar karbohidrat atau substrat mudah fermentasi dalam bentuk karbohidrat terlarut yang cukup. Karbohidrat terlarut ini selanjutnya melalui proses fermentasi oleh bakteri asam laktat akan diubah menjadi asam laktat. Dengan asam laktat yang cukup, tingkat keasaman menjadi tinggi atau pH rendah, dan kondisi itu berfungsi mengawetkan bahan serta mencegah aktivitas enzim dan pertumbuhan bakteri pembusuk. Di sinilah peran bahan tambahan seperti dedak halus, tepung jagung, dan molases menjadi jelas, yaitu menambah pasokan karbohidrat yang dapat difermentasi menjadi asam laktat.
Penggunaan EM4 menambah dimensi lain pada proses ini. Menurut Priyadi dan kawan kawan, teknologi fermentasi menggunakan EM4 terbukti efektif meningkatkan kualitas pakan ternak dengan mengoptimalkan nutrisi dan mengurangi bahan antinutrisi dalam hijauan. EM4 memiliki beberapa manfaat, yaitu membantu proses fermentasi hijauan dengan mempercepat produksi asam asam organik, seperti asam laktat yang berguna dalam menurunkan pH pakan ternak, sehingga menciptakan lingkungan yang mendukung mikroorganisme penghasil enzim pencernaan. Selain itu, EM4 memiliki kemampuan merombak antinutrisi seperti senyawa tanin dan lignin dalam hijauan, yang dapat menghambat pencernaan dan penyerapan nutrisi oleh ternak. Tanin adalah senyawa polifenol yang banyak ditemukan pada tanaman pakan, dan pada konsentrasi tinggi tanin dapat menghambat penyerapan nutrisi seperti protein dan karbohidrat, sedangkan lignin merupakan komponen serat yang sulit dicerna.
Menurut sumber yang sama, fermentasi juga dapat membantu mengatasi senyawa antinutrisi lain. Beberapa hijauan mengandung penghambat protein dan penghambat enzim pemecah pati yang dapat menghambat pencernaan protein dan karbohidrat, tetapi dengan peningkatan suhu selama proses fermentasi, penghambat itu dapat dinonaktifkan, sehingga ketersediaan nutrisi bagi ternak meningkat. Fitat dalam biji bijian dan beberapa hijauan dapat mengikat mineral seperti kalsium, fosfor, dan besi, sehingga menghambat penyerapan mineral oleh ternak, tetapi dengan perlakuan fermentasi yang meningkatkan senyawa asam organik, fitat dihidrolisis menjadi bentuk yang lebih sederhana dan lebih mudah diserap oleh saluran pencernaan ternak. Semua penjelasan ini menunjukkan bahwa fermentasi bukan sekadar mengawetkan, tetapi juga mengubah sifat bahan pakan menjadi lebih mudah dimanfaatkan oleh ternak.
Priyadi dan kawan kawan juga menuliskan langkah langkah umum penerapan teknologi fermentasi hijauan, yaitu mengidentifikasi jenis hijauan yang cocok, menyiapkan bahan baku hijauan dengan memotongnya ke ukuran yang sesuai karena hal itu mempermudah proses fermentasi dan meningkatkan efisiensi, menambahkan inokulan mikroba yang kaya bakteri asam laktat atau khamir ke hijauan yang sudah disiapkan, mengemas dan menyimpan hijauan yang sudah dicampur inokulan dalam wadah yang sesuai seperti drum plastik, kantong plastik kedap udara, dan silo, memastikan kondisi fermentasi tetap optimal bagi pertumbuhan mikroba yang diinginkan dan mencegah pertumbuhan mikroba patogen dengan memantau suhu, kelembapan, dan pH secara teratur, serta melakukan uji kualitas dan analisis nutrisi pakan fermentasi untuk memastikan pakan memiliki kualitas gizi yang baik dan memenuhi kebutuhan ternak ruminansia. Bagi peternak kecil, pemantauan pH dapat dilakukan dengan kertas indikator pH sederhana, sedangkan uji nutrisi lengkap dapat dilakukan melalui laboratorium atau dinas peternakan setempat bila tersedia.
Cara Menyimpan dan Membuka Silase Pakan Ternak
Penyimpanan silase pada dasarnya adalah menjaga silo tetap tertutup rapat, kering, dan tidak terkena sinar matahari langsung sampai tiba waktunya dibuka. Selama masa fermentasi 15 sampai 20 hari, silo tidak boleh dipindah pindah secara kasar atau dibuka untuk sekadar memeriksa isinya, karena guncangan dan udara yang masuk dapat merusak suasana anaerob. Jika silo berupa kantong plastik, kantong sebaiknya diletakkan di tempat yang tidak mudah tertusuk benda tajam dan tidak diinjak, karena lubang sekecil apa pun pada kantong dapat menjadi jalan masuk udara dan merusak seluruh isi kantong. Jika silo berupa drum plastik, tutupnya harus terkunci kuat dan rapat, sesuai penjelasan Simanjuntak dan kawan kawan bahwa jenis silo drum plastik cocok digunakan karena praktis, murah, kuat, serta mempunyai penutup yang dapat dikunci dengan kuat dan rapat sehingga kondisi anaerob dalam gentong dapat dipertahankan karena tidak ada sirkulasi udara dari dan ke dalam gentong.
Saat tiba waktunya membuka silo, periksa dulu kondisi luarnya, apakah tutup masih rapat, apakah ada kebocoran cairan, dan apakah ada bau busuk yang tercium dari luar. Setelah dibuka, periksa bau, warna, tekstur, dan ada tidaknya jamur, sesuai kriteria kualitas yang dijelaskan pada bagian berikutnya. Silase yang sudah dibuka sebaiknya segera diberikan kepada ternak dan tidak dibiarkan terbuka berhari hari, karena begitu udara masuk, proses pengawetan oleh keasaman mulai melemah dan mikroba pembusuk dapat tumbuh kembali. Jika satu drum tidak habis dalam sekali pemberian, tutup kembali drum itu serapat mungkin dan usahakan habis dalam waktu singkat, agar bagian yang tersisa tidak rusak.
Pemberian silase kepada ternak sebaiknya dilakukan bertahap, terutama pada ternak yang belum pernah makan silase. Campurkan silase dengan hijauan segar atau pakan yang biasa diberikan, lalu tingkatkan porsinya secara perlahan sambil mengamati nafsu makan dan kondisi ternak. Cara bertahap ini memberi waktu bagi saluran pencernaan ternak untuk menyesuaikan diri dengan pakan fermentasi yang rasanya masam. Jika ternak menolak silase, periksa dulu kualitasnya, karena ternak yang menolak silase yang berbau busuk atau berjamur sebenarnya sedang menunjukkan bahwa silase itu tidak layak diberikan. Silase yang baik umumnya dimakan ternak dengan lahap, sedangkan silase yang rusak sering ditolak.
Peternak juga perlu memperhatikan kebersihan peralatan dan wadah setelah silase habis. Drum atau kantong yang akan dipakai ulang harus dibersihkan dari sisa silase lama, dicuci, dan dikeringkan sebelum diisi adonan baru. Sisa silase lama yang menempel pada dinding wadah dapat mengandung mikroba pembusuk yang mencemari adonan baru. Kebersihan sederhana ini sering diabaikan, padahal biayanya hampir nol dan pengaruhnya besar terhadap keberhasilan pembuatan berikutnya. Dengan wadah yang bersih, setiap pembuatan baru dimulai dari kondisi yang sama baiknya dengan pembuatan pertama yang berhasil.
Ciri Silase Pakan Ternak yang Baik dan yang Gagal
Kualitas silase dapat dinilai secara fisik melalui uji organoleptik, yaitu penilaian dengan indra bau, penglihatan, dan perabaan. Dalam praktik yang ditulis Simanjuntak dan kawan kawan, silase yang dihasilkan peserta dinilai mempunyai kualitas relatif baik karena memenuhi empat ciri berikut. Pertama, bau atau aromanya harum asam dan manis, bebas bau busuk, dan sering digambarkan sebagai wangi fermentasi. Kedua, teksturnya remah atau jelas, tidak lembek, tidak menggumpal, dan tidak berlendir. Ketiga, silase tidak berjamur. Keempat, warnanya kehijauan atau cerah dan kelihatan masak seperti direbus. Keempat ciri ini menjadi patokan praktis yang dapat dipakai peternak tanpa alat laboratorium.
Ciri bau itu ditegaskan pula oleh pendapat Utomo pada tahun 1999 yang dikutip dalam jurnal tersebut, bahwa silase yang baik memiliki aroma asam dan harum atau wangi fermentasi, dan bebas dari bau amonia dan bau busuk. Bau asam yang dihasilkan dari pembuatan silase disebabkan oleh hasil fermentasi karbohidrat menjadi asam laktat, sehingga bau asam dapat dijadikan sebagai indikator keberhasilan proses ensilase, menurut Susetyo dan kawan kawan pada tahun 1969. McDonald pada tahun 1981 menambahkan bahwa silase yang berkualitas baik mempunyai bau enak yang ditimbulkan oleh asam laktat, asam asetat, atau campuran dari asam laktat dengan asam asetat. Sebaliknya, silase yang berkualitas buruk pada umumnya berbau busuk yang disebabkan adanya asam butirat akibat proses degradasi asam amino oleh bakteri pengurai protein.
Selain penilaian organoleptik, Priyadi dan kawan kawan menuliskan kriteria penilaian silase berdasarkan pH, yang dikutip dari Yuliyati dan kawan kawan pada tahun 2018 serta Grant dan Ferraretto pada tahun 2018. Kriteria itu adalah pH 3,2 sampai 4,2 berarti sangat baik, pH lebih dari 4,2 sampai 4,5 berarti baik, pH lebih dari 4,5 sampai 4,8 berarti sedang, dan pH lebih dari 4,8 berarti buruk. Secara fisik, kriteria lainnya adalah warna silase tetap hijau, tekstur rumput masih jelas, dan silase tidak berjamur, tidak berlendir, atau tidak menggumpal. Kombinasi penilaian bau, warna, tekstur, jamur, dan pH ini memberi gambaran yang cukup lengkap tentang keberhasilan fermentasi, tanpa harus menunggu ternak menolak pakan itu.
Silase yang gagal memiliki ciri yang berlawanan, yaitu berbau busuk atau berbau amonia yang menyengat, berlendir, menggumpal, berjamur, warnanya gelap atau cokelat kehitaman, dan pH-nya tinggi. Silase seperti itu sebaiknya tidak diberikan kepada ternak, karena kandungan asam butirat dan amonia yang tinggi menandakan fermentasi yang salah arah dan pembusukan protein. Memberikan silase gagal kepada ternak bukan hanya membuat ternak menolak makan, tetapi juga berisiko mengganggu kesehatan ternak. Lebih baik membuang satu drum silase yang gagal daripada memaksakan pemberiannya dan menanggung kerugian yang lebih besar pada ternak.
Keberhasilan silase juga dapat dilihat dari sisi manfaatnya bagi ternak. Menurut Priyadi dan kawan kawan, manfaat pakan hijauan fermentasi antara lain meningkatkan kualitas nutrisi pakan, termasuk meningkatkan kandungan protein, mengurangi serat kasar, dan meningkatkan ketersediaan nutrisi, meningkatkan daya cerna pakan sehingga sapi dapat memanfaatkan nutrisi secara lebih efisien, serta meningkatkan kesehatan rumen yang membantu menjaga keseimbangan mikroba rumen dan penting untuk pencernaan yang baik dan kesehatan sapi secara keseluruhan. Manfaat itu dikutip dari Ogunade dan kawan kawan pada tahun 2018 serta Grant dan Ferraretto pada tahun 2018. Bagi peternak penghasil susu, pakan yang tercerna dengan baik menjadi modal penting, sebagaimana diulas dalam artikel KabarTidar tentang susu kambing etawa, bahwa kualitas pakan sehari hari berkaitan erat dengan hasil produksi ternak.
Kesalahan Umum dalam Membuat Silase Pakan Ternak
Kesalahan pertama yang paling sering terjadi adalah menutup silo secara tidak rapat. Tutup yang longgar, kantong plastik yang bocor, atau drum yang retak membuat udara terus masuk, sehingga kondisi anaerob tidak pernah tercapai dan fermentasi asam laktat kalah oleh pembusukan. Kesalahan kedua adalah pemadatan yang kurang kuat, sehingga banyak rongga udara tertinggal di antara potongan hijauan. Potongan hijauan yang terlalu panjang memperparah masalah ini, karena potongan panjang sulit dipadatkan dan mudah menyisakan rongga. Karena itu, pencacahan menjadi potongan 5 sampai 10 sentimeter dan pemadatan lapis demi lapis perlu dilakukan dengan sungguh sungguh, bukan sekadar mengisi wadah sampai penuh.
Kesalahan ketiga adalah kadar air yang tidak diatur. Hijauan yang terlalu basah, misalnya dipanen saat hujan deras tanpa pelayuan, cenderung menghasilkan silase yang kurang masam dengan asam butirat dan amonia tinggi. Hijauan yang terlalu kering, misalnya sudah lama terjemur, cenderung menghasilkan fermentasi terbatas dengan asam laktat rendah dan pH tinggi. Pelayuan secukupnya sampai kadar air mendekati 65 persen adalah jalan tengah yang dianjurkan sumber sumber di atas. Peternak dapat memperkirakan kadar air secara sederhana dengan meremas segenggam hijauan cacah, yaitu hijauan yang kadar airnya tepat akan terasa lembap dan menggumpal sebentar saat diremas, tetapi tidak meneteskan banyak air.
Kesalahan keempat adalah membuka silo sebelum waktunya atau terlalu sering membuka tutup untuk memeriksa. Setiap pembukaan memasukkan udara dan menghentikan suasana anaerob, sehingga fermentasi terganggu dan silase yang sedang terbentuk menjadi rusak. Kesalahan kelima adalah mencampur bahan secara tidak merata, sehingga sebagian bahan kekurangan molases, dedak, atau EM4, dan fermentasi berjalan tidak seragam. Kesalahan keenam adalah menyimpan silo di tempat yang terkena sinar matahari langsung atau lembap, sehingga suhu silo naik dan wadah cepat rusak. Semua kesalahan ini dapat dihindari dengan mengikuti urutan langkah yang sudah ditulis di atas dan dengan kesabaran menunggu 15 sampai 20 hari sebelum silo dibuka.
Sebagai penutup, silase pakan ternak adalah teknologi pengawetan hijauan yang sederhana, murah, dan dapat dipraktikkan peternak kecil dengan drum plastik atau kantong plastik tebal. Kuncinya ada empat, yaitu hijauan yang baik dengan kadar air sekitar 65 persen, pencacahan dan pencampuran yang merata, pemadatan dan penutupan yang rapat rapat tanpa rongga udara, serta kesabaran menunggu fermentasi selesai selama 15 sampai 20 hari. Jika keempat kunci itu dipenuhi, silase yang dihasilkan berbau harum asam manis, berwarna hijau cerah, bertekstur remah, tidak berjamur, dan memiliki pH 3,2 sampai 4,2. Silase seperti itu menjadi stok pakan yang berharga ketika musim kemarau tiba dan hijauan segar sulit didapat.
Pembaca yang ingin membaca sumber sumber yang dipakai dalam artikel ini dapat merujuk pada jurnal Simanjuntak dan kawan kawan tentang proses pembuatan silase di Nabire yang diterbitkan Indonesian Journal of Engagement, Community Services, Empowerment and Development pada April 2023, yang dapat diakses melalui tautan jurnal Simanjuntak tentang pembuatan silase, serta jurnal Priyadi tentang teknologi fermentasi hijauan yang diterbitkan Journal of Community Capacity Empowerment pada Februari 2024, yang memuat resep dan teknik pembuatan silase yang dikutip dalam artikel ini. Kedua sumber itu menjadi dasar setiap angka dan langkah yang ditulis di atas, dan peternak yang ingin mendalami dapat membaca keduanya secara penuh sebelum mempraktikkan dalam jumlah besar.


