Hijauan Pakan Ternak untuk Kambing di Magelang
Dari odot yang kaya daun hingga indigofera yang tinggi protein, artikel ini mengulas tanaman pakan yang cocok untuk kambing beserta umur panen dan campuran yang masuk akal menurut penelitian.

MAGELANG, KabarTidar. Hijauan pakan ternak adalah fondasi usaha kambing rakyat di Magelang, karena hampir semua biaya harian, kesehatan ternak, dan hasil susu maupun daging bermula dari apa yang dimakan kambing setiap hari. Peternak yang hanya mengandalkan rumput liar yang dipotong dari tepi jalan atau pematang sawah akan cepat merasakan masalah yang sama pada setiap musim kemarau, yaitu hijauan semakin sedikit, kualitasnya menurun, dan kambing menjadi kurus meski jumlah pakan yang diberikan terlihat banyak. Sebaliknya, peternak yang menanam sendiri hijauan pakan ternak di pekarangan, pematang, atau lahan sempit di sekitar kandang biasanya lebih tenang, karena ia tidak perlu berjalan jauh setiap pagi hanya untuk mencari rumput, dan ia dapat mengatur jenis, umur panen, dan campuran pakan sesuai kebutuhan ternaknya. Artikel ini mengulas tanaman pakan ternak yang sudah dikenal luas di Indonesia, yaitu odot, pakchong, rumput gajah, indigofera, lamtoro, gamal, kaliandra, dan turi, serta kecocokannya untuk kambing, dengan angka nutrisi yang hanya dikutip dari penelitian dan tinjauan pustaka yang tersedia, bukan dari perkiraan.
Sebelum membahas satu per satu tanaman, ada satu pembedaan dasar yang perlu dipahami oleh setiap peternak kambing, yaitu perbedaan antara rumput dan leguminosa. Rumput seperti odot, pakchong, dan rumput gajah adalah sumber energi dan serat, serta menjadi pakan pokok yang mengenyangkan. Leguminosa seperti indigofera, lamtoro, gamal, kaliandra, dan turi adalah tanaman berdaun yang umumnya lebih kaya protein, sehingga perannya lebih sebagai pelengkap dan penyeimbang rumput, bukan sebagai satu-satunya pakan. Kambing adalah ternak ruminansia yang secara alami menyukai daun dan semak, dan dalam literatur peternakan, leguminosa pohon memang disebut sebagai pakan yang umum diberikan kepada kambing. Karena itu, kombinasi rumput dan leguminosa hampir selalu lebih baik daripada hanya mengandalkan satu jenis tanaman saja, asalkan pemberiannya bertahap, beragam, dan tidak berlebihan pada satu jenis daun dalam satu waktu.
Prinsip lain yang sama pentingnya adalah umur panen. Penelitian tentang hijauan secara konsisten menunjukkan bahwa semakin tua tanaman, semakin tinggi kandungan seratnya dan semakin rendah kualitas proteinnya, karena proporsi dinding sel bertambah seiring bertambahnya umur tanaman. Artinya, rumput yang dibiarkan tumbuh terlalu tinggi memang menghasilkan biomassa yang lebih banyak, tetapi tidak otomatis menghasilkan pakan yang lebih baik. Peternak perlu memanen pada umur yang tepat, melayukan hijauan yang masih terlalu basah bila perlu, mencacah batang yang keras agar mudah dimakan, dan mengamati respons ternak, yaitu apakah kambing memakannya dengan lahap, apakah kotorannya normal, dan apakah bobot badannya bertahan atau bertambah. Pakan yang baik bukan hanya pakan yang kandungan proteinnya tinggi di atas kertas, tetapi pakan yang lahap dimakan, mudah dicerna, tersedia sepanjang tahun, dan dapat ditanam kembali dengan mudah di lahan yang dimiliki peternak.
Mengenal Hijauan Pakan Ternak untuk Kambing di Magelang
Hijauan pakan ternak untuk kambing di Magelang tidak dapat dilepaskan dari wajah peternakan rakyat di daerah ini, yaitu usaha keluarga dengan jumlah ternak yang umumnya kecil, kandang di pekarangan atau di belakang rumah, dan lahan yang terbatas. Dalam artikel KabarTidar tentang kambing Peranakan Etawa, digambarkan bahwa pola pemeliharaan kambing di pedesaan umumnya hanya dua sampai empat ekor per peternak, dan pola ini cocok dengan tenaga kerja keluarga. Skala kecil seperti itu justru menjadi alasan kuat untuk menanam hijauan sendiri, karena kebutuhan hariannya masih dapat dipenuhi dari kebun pakan yang sempit, asalkan kebun itu dirawat dan dipanen bergilir. Peternak tidak harus memiliki padang penggembalaan yang luas, tetapi ia harus memiliki tanaman pakan yang produktif, mudah diperbanyak, dan dapat dipanen berulang kali.
Kabupaten Magelang membentang dari dataran hingga lereng gunung, sehingga ketersediaan hijauan berbeda-beda antar kecamatan, antar musim, dan antar ketinggian tempat. Di dataran rendah, rumput tumbuh cepat pada musim hujan tetapi cepat mengering pada musim kemarau. Di lereng, tanahnya sering lebih miring, air mengalir lebih cepat, dan tanaman leguminosa pohon yang berakar dalam justru dapat menjadi penolong, karena ia tetap berdaun ketika rumput di permukaan tanah sudah menguning. Artikel KabarTidar tentang peternakan di lereng Magelang memberi gambaran tentang tantangan dan peluang usaha ternak di wilayah lereng, dan gambaran itu relevan di sini, karena kebun hijauan di lereng perlu ditanam dengan memperhatikan konservasi tanah, yaitu menanam mengikuti kontur, tidak mengosongkan lahan sepenuhnya saat panen, dan membiarkan sebagian tanaman tetap tumbuh sebagai penahan erosi. Hijauan pakan ternak, dengan demikian, bukan hanya urusan memberi makan kambing, tetapi juga urusan merawat lahan agar tetap produktif dari tahun ke tahun.
Bagi peternak kambing perah, urusan hijauan menjadi lebih penting lagi, karena produksi susu sangat dipengaruhi oleh pakan. Artikel KabarTidar tentang susu kambing Etawa mengulas nilai dan kandungan susu kambing, dan salah satu pelajaran yang dapat ditarik dari artikel itu adalah bahwa angka produksi susu yang tinggi hanya tercapai bila seluruh faktor pendukungnya terpenuhi, termasuk pakan, kesehatan, dan manajemen pemerahan. Hijauan yang berkualitas buruk, yang hanya mengenyangkan tetapi miskin protein, akan sulit menopang induk yang sedang menyusui, apalagi induk yang sedang menyusui anak kembar. Sebaliknya, hijauan yang beragam, yang menggabungkan rumput sebagai sumber energi dan leguminosa sebagai sumber protein, memberi peluang yang lebih baik bagi induk untuk mempertahankan bobot badan dan produksi susunya. Artikel ini tidak menjanjikan angka produksi susu tertentu dari satu jenis hijauan, karena angka semacam itu sangat dipengaruhi oleh ras, umur, masa laktasi, kesehatan, dan manajemen kandang secara keseluruhan.
Rumput Odot, Rumput Pendek yang Disukai Kambing
Rumput odot dikenal dalam literatur ilmiah dengan nama Pennisetum purpureum Cv. Mott, yaitu kultivar rumput gajah yang tumbuh lebih pendek dan memiliki rasio daun yang tinggi dibandingkan batang. Dalam sebuah penelitian tentang pertumbuhan rumput odot, tanaman ini digambarkan sebagai rumput unggul yang memiliki produktivitas yang tinggi dan kandungan nutrisi yang cukup baik, dengan karakteristik perbandingan rasio daun yang tinggi dibandingkan batang. Sifat ini penting bagi kambing, karena kambing lebih menyukai daun yang lunak daripada batang yang keras dan berserat. Rumput odot yang dipanen muda, dengan daun yang masih lemas dan hijau, umumnya dimakan dengan lahap, sedangkan odot yang dibiarkan terlalu tua akan memiliki batang yang lebih keras dan perlu dicacah lebih halus agar tidak banyak terbuang.
Dari sisi kandungan nutrisi, sebuah penelitian yang membandingkan produktivitas dan kualitas nutrisi rumput gajah, rumput pakchong, rumput napier merah, dan rumput odot mencatat bahwa rumput odot memiliki kandungan protein kasar tertinggi di antara keempat jenis rumput tersebut, yaitu 11,15 persen, sedangkan rumput napier merah, pakchong, dan rumput gajah masing-masing tercatat sekitar 8,65 persen, 8,65 persen, dan 8,76 persen. Penelitian yang sama juga mencatat bahwa kandungan serat kasar rumput odot adalah yang terendah dibandingkan rumput-rumput lain yang dibandingkan. Angka-angka ini perlu dibaca dengan hati-hati, karena kandungan protein dan serat hijauan sangat dipengaruhi oleh umur panen, pemupukan, jenis tanah, dan musim. Namun, sebagai gambaran umum, angka tersebut menjelaskan mengapa banyak peternak menyukai odot, yaitu karena ia menggabungkan protein yang relatif tinggi untuk ukuran rumput dengan serat yang relatif rendah, sehingga lebih mudah dicerna oleh kambing.
Dalam penelitian yang sama, produksi segar rumput odot tercatat 19,75 ton per hektare dengan produksi bahan kering 3,16 ton per hektare, lebih rendah daripada rumput pakchong dan rumput gajah yang dibandingkan dalam penelitian itu. Perbandingan ini penting, karena ia menunjukkan bahwa tidak ada satu rumput pun yang unggul dalam segala hal. Odot unggul dalam kualitas, tetapi produksinya per hektare lebih rendah daripada pakchong dan rumput gajah dalam penelitian tersebut. Bagi peternak dengan lahan sempit, kualitas yang tinggi bisa lebih penting daripada produksi yang tinggi, karena kambingnya sedikit dan ia membutuhkan pakan yang padat nutrisi. Bagi peternak dengan ternak yang lebih banyak, produksi per hektare menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting, karena kebun yang sempit harus dapat memberi makan banyak mulut setiap hari. Karena itu, pilihan rumput sebaiknya disesuaikan dengan jumlah ternak, luas lahan, dan kemampuan peternak dalam memupuk dan memanen secara teratur.
Perbanyakan odot dilakukan secara vegetatif, yaitu dengan stek batang atau pemisahan rumpun, karena kultivar Mott umumnya tidak mengandalkan biji. Peternak di Magelang yang ingin menanam odot dapat memulainya dari stek yang diperoleh dari peternak lain atau dari kebun percontohan, menanamnya di tanah yang sudah diolah dan cukup lembap, dan memberi pupuk kandang pada awal pertumbuhan. Setelah tumbuh dan berumpun, odot dapat dipanen dengan cara memotong pada ketinggian tertentu di atas permukaan tanah, lalu membiarkannya bertunas kembali. Panen yang teratur, dengan interval yang tidak terlalu panjang, menjaga agar tunas baru tetap muda dan lunak, dan menjaga agar rumpun tidak menjadi terlalu tua dan berkayu. Peternak juga perlu memperhatikan drainase, karena genangan air yang berkepanjangan dapat merusak perakaran dan menurunkan produksi, meskipun odot secara umum menyukai tanah yang lembap.
Untuk kambing, odot paling cocok diberikan sebagai pakan pokok harian yang dicacah atau dipotong pendek, terutama untuk kambing yang dipelihara di kandang dan tidak digembalakan. Daunnya yang lunak membuat kambing tidak perlu berjuang mengunyah batang yang keras, dan sisa pakan yang terbuang biasanya lebih sedikit daripada rumput yang batangnya besar. Namun, odot saja tidak cukup sebagai satu-satunya pakan, terutama bagi induk menyusui dan kambing yang sedang tumbuh, karena kebutuhan proteinnya masih lebih baik dipenuhi dengan menambahkan leguminosa seperti indigofera atau lamtoro dalam jumlah yang wajar. Campuran inilah yang dibahas lebih lanjut pada bagian akhir artikel ini, karena kombinasi rumput dan leguminosa adalah kunci praktis yang paling sering dianjurkan oleh penelitian peternakan.
Rumput Pakchong, Rumput Produktif Hasil Persilangan
Rumput pakchong, yang dalam penelitian di Indonesia sering ditulis sebagai Pakchong-1, adalah kultivar hibrida hasil persilangan antara rumput gajah dan rumput jawawut mutiara, yaitu Pennisetum purpureum x Pennisetum glaucum. Persilangan ini dilakukan untuk menggabungkan sifat produktif rumput gajah dengan sifat-sifat unggul lainnya, dan hasilnya adalah rumput yang dikenal sangat produktif di kalangan peternak. Dalam penelitian yang dilakukan di Jonggol Animal Science Teaching and Research Unit, Institut Pertanian Bogor, rumput Pakchong-1 menunjukkan respons pertumbuhan yang nyata terhadap umur potong, dengan tinggi tanaman 180,53 sampai 210,90 sentimeter, berat kering daun 3,90 sampai 5,63 ton per hektare, berat kering batang 2,32 sampai 4,38 ton per hektare, dan berat kering total 6,22 sampai 10,02 ton per hektare pada berbagai perlakuan yang diuji. Penelitian itu menyimpulkan bahwa titik optimal untuk memperoleh pertumbuhan dan produksi terbaik adalah umur potong 60 hari dengan tambahan pupuk nitrogen 100 kilogram per hektare, menurut perlakuan yang diuji dalam penelitian tersebut.
Angka produksi pakchong dalam penelitian perbandingan empat rumput yang dikutip sebelumnya bahkan lebih mencolok, karena rumput pakchong yang dipanen pada umur 60 hari tercatat memiliki tinggi tanaman tertinggi dan produksi bahan kering tertinggi di antara rumput yang dibandingkan. Penelitian perbandingan itu mencatat bahwa produksi bahan kering hijauan umumnya berkorelasi dengan tinggi tanaman, dan bahwa semakin lama durasi panen, semakin banyak akumulasi biomassa bahan keringnya. Namun, penelitian yang sama juga mengingatkan bahwa proporsi bahan kering hijauan bervariasi menurut umur tanaman, dan semakin tua tanaman, semakin sedikit air yang dikandungnya dan semakin besar proporsi dinding selnya. Artinya, produksi yang tinggi pada umur panen yang lebih tua harus dibaca bersamaan dengan kualitasnya, karena batang yang semakin tua juga semakin berserat. Peternak perlu menimbang antara produksi dan kualitas, dan umur 60 hari yang muncul dalam dua penelitian tersebut dapat menjadi patokan awal yang masuk akal, bukan angka mutlak yang berlaku di semua lahan dan musim.
Sebuah penelitian lain yang mengkaji saat panen rumput pakchong sebagai hijauan pakan ternak sapi perah menyimpulkan bahwa pakchong berkualitas tertinggi diperoleh pada umur panen 55 sampai 60 hari, berdasarkan hasil panen hijauan, preferensi ternak, kandungan proksimat, serta produksi dan kualitas susu organik dalam penelitian itu. Kesimpulan ini sejalan dengan patokan 60 hari dari penelitian Institut Pertanian Bogor, sehingga peternak dapat memakai kisaran 55 sampai 60 hari sebagai titik awal untuk mencoba di kebunnya sendiri, sambil mengamati apakah kambingnya memakan pakchong tersebut dengan lahap dan apakah sisa pakannya sedikit. Perlu dicatat bahwa penelitian tentang saat panen tersebut dilakukan pada sapi perah, bukan pada kambing, sehingga hasilnya dipakai di sini sebagai gambaran umum tentang umur panen pakchong, bukan sebagai rekomendasi yang sudah diuji khusus pada kambing. Prinsip umumnya tetap sama, yaitu panenlah sebelum batang menjadi terlalu tua dan keras.
Dari sisi kandungan protein, penelitian kombinasi pakchong dan indigofera yang dilakukan pada sapi Bali mencatat bahwa rumput pakchong memiliki kandungan protein kasar 16,45 persen, sedangkan indigofera memiliki kandungan protein kasar 24,17 persen dalam penelitian itu. Angka protein pakchong ini lebih tinggi daripada angka 8,65 persen yang tercatat dalam penelitian perbandingan empat rumput, dan perbedaan ini adalah contoh nyata bahwa kandungan nutrisi hijauan sangat bervariasi menurut umur panen, pemupukan, lokasi, dan metode analisis. Peternak tidak boleh terpaku pada satu angka, melainkan perlu memahami kisarannya, yaitu bahwa pakchong umumnya memiliki protein yang cukup untuk ukuran rumput, tetapi tetap kalah tinggi dibandingkan leguminosa. Informasi lengkap tentang penelitian kombinasi tersebut dapat dibaca pada publikasi kombinasi rumput pakchong dan indigofera di jurnal AGRITROPICA Universitas Bengkulu, dan publikasi tentang pertumbuhan pakchong dapat dibaca pada jurnal Institut Pertanian Bogor.
Untuk kambing, pakchong cocok sebagai rumput pokok yang produktif, terutama bagi peternak yang memiliki ternak cukup banyak dan membutuhkan hijauan dalam jumlah besar setiap hari. Batangnya yang besar membuat pakchong perlu dicacah, terutama bila dipanen pada umur 60 hari, agar kambing dapat memakannya dengan mudah dan tidak hanya memilih daunnya saja. Peternak yang memiliki mesin pencacah sederhana akan sangat terbantu, sedangkan peternak yang mencacah manual perlu meluangkan waktu lebih banyak, tetapi hasilnya sepadan karena sisa pakan yang terbuang menjadi lebih sedikit. Pakchong juga membutuhkan air dan unsur hara yang cukup, karena tanaman yang dipanen berulang kali akan menguras unsur hara tanah dalam jumlah besar. Pemberian pupuk kandang secara teratur setelah panen adalah cara paling sederhana dan paling murah untuk menjaga agar kebun pakchong tetap produktif dari musim ke musim.
Rumput Gajah, Rumput Klasik yang Tetap Relevan
Rumput gajah, dengan nama ilmiah Pennisetum purpureum, adalah rumput pakan yang paling lama dikenal di Indonesia dan masih banyak ditanam hingga kini. Tanaman ini tumbuh tinggi, berumpun, dan dapat dipanen sepanjang tahun, sehingga ia menjadi andalan banyak peternak yang belum mengenal odot atau pakchong. Dalam penelitian tentang produksi dan mutu hijauan rumput gajah pada kondisi naungan dan pemupukan nitrogen yang berbeda, kandungan protein kasar rumput gajah tercatat pada kisaran 7,8 persen pada panen pertama dan mencapai 10,8 persen pada panen kedua, sedangkan kandungan serat kasar tercatat sekitar 29,13 persen pada panen pertama dan sekitar 30 persen pada panen kedua. Penelitian itu juga mencatat pendapat Sutardi pada tahun 1980 yang menyebut kadar protein kasar rumput gajah adalah 9,5 persen dan serat kasar yang baik pada rumput gajah adalah 30,25 persen, sehingga angka-angka yang diperoleh dalam penelitian itu masih berada dalam kisaran mutu hijauan yang baik.
Penelitian perbandingan empat rumput mencatat produksi segar rumput gajah sebesar 52,25 ton per hektare dengan produksi bahan kering 8,26 ton per hektare, yang menempatkannya di urutan kedua setelah pakchong dalam penelitian itu. Angka ini menunjukkan bahwa rumput gajah tetap kompetitif dari sisi produksi, meskipun kualitas proteinnya tidak setinggi odot dalam penelitian yang sama. Bagi peternak, rumput gajah memiliki kelebihan lain, yaitu bibitnya mudah diperoleh, cara menanamnya sudah dikenal luas, dan tanamannya cukup tahan terhadap pemanenan berulang asalkan dipupuk dengan baik. Dalam tinjauan PROSEA tentang Pennisetum purpureum, disebutkan bahwa rumput gajah dapat diperbanyak dengan membagi rumpun akar atau dengan stek batang yang terdiri atas sedikitnya tiga buku, dua di antaranya dikubur di dalam tanah, dengan jarak tanam antar baris 50 sampai 200 sentimeter dan jarak dalam baris 50 sampai 100 sentimeter. Tinjauan yang sama juga mengingatkan bahwa rumput gajah yang ditanam sebagai tanaman budidaya membutuhkan pasokan air yang teratur dan pasokan unsur hara yang kaya, terutama bila dipotong secara sering, karena setiap ton bahan kering yang dipanen menguras nitrogen 10 sampai 30 kilogram, fosfor 2 sampai 3 kilogram, kalium 30 sampai 50 kilogram, kalsium 3 sampai 6 kilogram, serta magnesium dan belerang masing-masing 2 sampai 3 kilogram.
Kebutuhan unsur hara yang besar ini menjelaskan mengapa kebun rumput gajah yang tidak pernah dipupuk akan cepat menurun produksinya dan mudah diserbu gulma. Peternak yang memanen rumput gajah setiap bulan tetapi tidak pernah mengembalikan unsur hara ke tanah, baik melalui pupuk kandang maupun pupuk lainnya, pada dasarnya sedang menguras tabungan tanahnya sendiri. Cara paling praktis adalah mengembalikan kotoran dan urine ternak ke kebun hijauan, setelah dikomposkan atau difermentasi secukupnya, sehingga siklus hara menjadi tertutup, yaitu hijauan dimakan kambing, kotoran kambing kembali ke kebun, dan kebun kembali menghasilkan hijauan. Pola ini sudah lama dipraktikkan oleh peternak rakyat, dan ia menjadi semakin penting ketika harga pupuk kimia naik, karena pupuk kandang adalah sumber hara yang tersedia di kandang sendiri tanpa harus dibeli.
Rumput gajah juga dapat diawetkan sebagai silase, meskipun tinjauan PROSEA mengingatkan bahwa pengawetan rumput gajah sering kali kurang baik dan dapat menyebabkan kehilangan bahan kering dan protein kasar yang sangat besar. Hasil terbaik, menurut tinjauan itu, diperoleh dengan mencacah bahan, mencampurnya dengan molases, serta memadatkan dan menutupnya untuk mengecualikan udara. Bagi peternak kambing di Magelang, silase rumput gajah dapat menjadi cadangan pakan musim kemarau, tetapi ia membutuhkan keterampilan, wadah yang kedap udara, dan bahan tambahan seperti molases, sehingga tidak semua peternak perlu langsung mencoba silase pada tahun pertama. Langkah yang lebih sederhana adalah menanam rumput gajah di beberapa petak dengan umur panen yang berbeda, sehingga selalu ada petak yang siap panen setiap minggu, dan menanam leguminosa pohon sebagai cadangan daun pada musim kemarau.
Satu catatan kehati-hatian yang perlu disampaikan tentang rumput gajah adalah catatan toksisitas dalam tinjauan tanaman obat dan pakan dari Universitas Purdue, yang melaporkan kasus keracunan nitrat yang fatal pada sapi yang pakannya semata-mata terdiri atas rumput gajah, dengan kadar nitrat rata-rata 28,3 miligram per gram dan beberapa sampel mencapai 44 miligram, dibandingkan kadar 3,9 miligram pada wilayah yang tidak beracun. Catatan ini berasal dari kasus pada sapi, bukan pada kambing, dan tidak berarti rumput gajah adalah tanaman beracun yang harus dihindari. Pelajaran praktisnya adalah jangan memberikan satu jenis hijauan saja dalam jumlah besar secara terus-menerus, terutama hijauan yang baru dipupuk nitrogen dalam dosis tinggi, dan selalu berikan pakan yang beragam. Keragaman adalah pengaman yang paling murah dalam pemberian pakan ternak.
Indigofera, Leguminosa Pohon Berprotein Tinggi
Indigofera, dengan nama ilmiah Indigofera zollingeriana, adalah leguminosa pohon yang dalam dua dekade terakhir semakin populer sebagai hijauan pakan ternak di Indonesia, karena kandungan proteinnya yang tinggi dan kemampuannya tumbuh baik di iklim tropis. Dalam penelitian tentang kandungan nutrisi dan antinutrisi Indigofera zollingeriana, yang dilakukan oleh peneliti dari Balai Penelitian Sapi Potong dan Balai Penelitian Kambing, tanaman ini digambarkan sudah beradaptasi dengan baik di Indonesia dan sudah tumbuh sejak awal tahun 2000-an. Penelitian itu mencatat kandungan protein yang tinggi, yaitu 28 sampai 34 persen, serat kasar yang rendah, yaitu 12 sampai 16 persen, dan total digestible nutrient 69 sampai 72 persen, tergantung pada bagian tanaman yang dianalisis. Angka-angka ini jauh lebih tinggi daripada angka protein rumput, dan inilah alasan utama mengapa indigofera disebut sebagai sumber protein hijau bagi ternak ruminansia.
Penelitian lain dari Universitas Jambi yang mengevaluasi suplementasi Indigofera zollingeriana sebagai sumber konsentrat protein hijau mencatat kandungan protein tanaman ini sebesar 25 sampai 27 persen, dan menemukan bahwa suplementasi indigofera berpengaruh nyata dalam meningkatkan total gas, amonia, total asam lemak volatil, dan energi metabolis, serta berpengaruh nyata dalam menurunkan metana dan persentase metana dalam percobaan in vitro. Hasil ini menunjukkan bahwa indigofera bukan hanya kaya protein di atas kertas, tetapi juga aktif dalam proses fermentasi rumen, meskipun percobaan in vitro tidak sama dengan percobaan pada ternak hidup dan hasilnya tidak boleh langsung diterjemahkan menjadi angka pertambahan bobot tertentu. Penelitian kombinasi pakchong dan indigofera pada sapi Bali mencatat kandungan protein kasar indigofera sebesar 24,17 persen, sedangkan tinjauan pustaka dari mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Tidar mencatat kandungan protein kasar indigofera sebesar 29,16 persen. Kisaran 24 sampai 34 persen ini menunjukkan variasi yang wajar menurut bagian tanaman, umur, dan lokasi, tetapi pesan utamanya tetap sama, yaitu indigofera adalah leguminosa berprotein tinggi.
Di samping keunggulannya, indigofera juga mengandung zat antinutrisi yang perlu diperhatikan. Penelitian tentang kandungan nutrisi dan antinutrisi indigofera mencatat kandungan saponin 0,8 sampai 1,2 persen dan tanin 2,4 sampai 7 persen, dan menegaskan bahwa kandungan antinutrisi ini harus dipertimbangkan dalam penggunaan Indigofera zollingeriana sebagai sumber protein, serta penting untuk menemukan jumlah pemberian yang aman. Tinjauan pustaka Universitas Tidar juga menegaskan hal yang sama secara umum untuk leguminosa pohon, yaitu bahwa tanaman tersebut memerlukan pengolahan lebih lanjut untuk mengurangi zat antinutrisi yang terkandung di dalamnya dan meningkatkan palatabilitasnya, agar produktivitas ternak meningkat. Dalam praktik peternak, pengolahan yang paling sederhana adalah melayukan daun indigofera sebelum diberikan, memberikannya secara bertahap dari jumlah kecil hingga ternak terbiasa, dan tidak memberikan indigofera sebagai satu-satunya pakan dalam jumlah besar. Kambing yang belum terbiasa dengan satu jenis daun baru sebaiknya diperkenalkan secara perlahan selama beberapa hari, sambil diamati nafsu makan dan kondisi kotorannya.
Produktivitas indigofera juga patut dicatat. Tinjauan pustaka Universitas Tidar mencatat bahwa produksi indigofera dapat mencapai 4,096 ton bahan kering per hektare per tahun, angka yang memang lebih rendah daripada produksi beberapa leguminosa lain dalam tinjauan itu, tetapi tetap berarti bila ditanam sebagai pagar kebun, tanaman sela, atau tanaman pinggir lahan. Indigofera dapat ditanam dari biji, dipangkas secara teratur agar tetap rendah dan mudah dipanen, dan daun serta ranting mudanya dipotong untuk pakan. Pangkasan yang teratur juga menjaga agar tanaman tidak tumbuh terlalu tinggi dan berkayu, sehingga daun yang dipanen tetap muda dan lunak. Bagi peternak dengan lahan sempit, menanam indigofera sebagai pagar hidup di sekeliling kebun atau kandang adalah cara yang efisien, karena ia tidak memerlukan petak khusus yang luas, tetapi tetap memberi daun setiap minggu.
Untuk kambing, indigofera sangat cocok sebagai pakan pelengkap yang kaya protein, terutama bagi induk menyusui, anak kambing yang sedang tumbuh, dan pejantan yang dipersiapkan sebagai pemacek. Kambing secara alami menyukai daun leguminosa pohon, dan dalam penelitian tentang kandungan nutrisi indigofera ditegaskan bahwa leguminosa pohon adalah pakan yang umum bagi kambing dan berpotensi digunakan sebagai pakan ternak karena peternak biasanya menggunakan hasil samping pertanian yang nilai nutrisinya rendah. Artinya, indigofera mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh rumput dan jerami yang miskin protein. Namun, karena kandungan proteinnya sangat tinggi dan kandungan antinutrisinya perlu diperhatikan, indigofera sebaiknya diberikan sebagai bagian dari campuran, bukan sebagai pakan tunggal. Publikasi penelitian indigofera dapat dibaca pada jurnal Livestock Research for Rural Development, yang memuat penelitian dari Balai Penelitian Sapi Potong dan Balai Penelitian Kambing.
Lamtoro, Gamal, Kaliandra, dan Turi sebagai Pelengkap
Selain indigofera, ada empat leguminosa pohon lain yang sudah lama dikenal oleh peternak Indonesia, yaitu lamtoro, gamal, kaliandra, dan turi. Tinjauan pustaka dari mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Tidar, yang merangkum berbagai jurnal terakreditasi, mencatat kandungan protein kasar lamtoro sebesar 23,8 persen, turi sebesar 31,29 persen, gamal sebesar 22,6 persen, kaliandra sebesar 25 persen, dan kelor sebesar 25,77 persen, dengan indigofera sebesar 29,16 persen dalam tinjauan yang sama. Tinjauan itu juga mencatat produktivitas lamtoro mencapai 8,1 ton per hektare per tahun, turi 2 sampai 3 ton per panen, gamal 62,76 ton per hektare per tahun, dan kaliandra 2 sampai 3 ton per hektare per tahun, dengan catatan bahwa angka-angka tersebut berasal dari berbagai penelitian dengan metode dan lokasi yang berbeda, sehingga tidak boleh dibandingkan secara mentah tanpa memperhatikan konteksnya. Angka gamal yang sangat tinggi itu, misalnya, perlu dibaca sebagai hasil dari penelitian tertentu dengan kondisi tertentu, bukan sebagai jaminan produksi di setiap kebun peternak.
Lamtoro adalah leguminosa yang paling mudah ditemukan di pedesaan Jawa, karena ia tumbuh liar di tegalan, pinggir jalan, dan pekarangan, dan daunnya sudah lama dipakai sebagai pakan kambing. Kelebihan lamtoro adalah ketersediaannya yang melimpah dan kemudahan perbanyakannya, tetapi peternak perlu berhati-hati karena lamtoro mengandung mimosin, yaitu zat antinutrisi yang bila diberikan berlebihan dalam waktu lama dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Karena itu, lamtoro sebaiknya diberikan dalam jumlah yang wajar, dicampur dengan hijauan lain, dan tidak dijadikan satu-satunya pakan harian. Prinsip yang sama berlaku untuk semua leguminosa pohon, yaitu keragaman dan kewajaran jumlah adalah kunci, bukan pemberian satu jenis daun secara berlebihan.
Gamal adalah leguminosa pohon yang sering ditanam sebagai pagar hidup, tanaman peneduh, dan tanaman penghasil kayu bakar, sekaligus sebagai pakan ternak. Daun gamal cukup disukai kambing, dan tanamannya mudah diperbanyak dengan stek batang. Kaliandra adalah leguminosa pohon yang bunganya berwarna merah mencolok dan sering ditanam sebagai tanaman hias sekaligus tanaman pakan dan tanaman penahan erosi di lereng. Daun kaliandra dapat diberikan kepada kambing, tetapi seperti leguminosa lainnya, ia perlu diberikan secara bertahap dan dicampur dengan hijauan lain. Turi adalah tanaman yang bunganya dapat dimakan manusia sebagai sayur, dan daunnya dapat dimakan ternak, sehingga ia adalah tanaman serbaguna yang cocok ditanam di pekarangan. Keempat tanaman ini memiliki satu kesamaan, yaitu mereka adalah tanaman pohon atau perdu yang dapat dipangkas berulang kali, sehingga mereka memberi daun pada musim kemarau ketika rumput sudah mengering, asalkan mereka sudah cukup besar dan perakarannya sudah dalam.
Bagi peternak di Magelang, kombinasi beberapa leguminosa pohon dalam satu kebun adalah strategi yang lebih aman daripada hanya mengandalkan satu jenis. Bila satu jenis daun sedang tidak tersedia karena baru dipangkas, jenis lain masih dapat dipanen. Bila kambing bosan dengan satu jenis daun, jenis lain dapat menggantikannya. Bila satu jenis daun mengandung zat antinutrisi tertentu, pencampuran dengan jenis lain akan mengencerkan zat tersebut dalam total ransum harian. Peternak juga dapat memanfaatkan tanaman yang sudah ada di sekitarnya, seperti lamtoro liar di tegalan atau gamal pagar, tanpa harus membeli bibit mahal, asalkan ia memastikan tanaman tersebut tidak disemprot pestisida dan tidak tumbuh di tempat yang tercemar. Daun yang dipetik dari tepi jalan raya yang ramai sebaiknya dihindari, karena debu dan polusi kendaraan dapat menempel pada daun, dan daun yang tumbuh di dekat tempat pembuangan limbah sebaiknya tidak dipakai sebagai pakan.
Kombinasi Rumput dan Leguminosa yang Terbukti di Penelitian
Pertanyaan yang paling sering diajukan oleh peternak adalah berapa perbandingan yang tepat antara rumput dan leguminosa. Penelitian kombinasi pakchong dan indigofera pada sapi Bali memberi satu jawaban yang terukur, meskipun penelitiannya dilakukan pada sapi, bukan pada kambing. Penelitian itu membagi 28 ekor sapi Bali jantan berusia dua sampai tiga tahun ke dalam empat kelompok pakan, yaitu rumput gajah 70 persen dan lamtoro 30 persen sebagai kelompok pembanding, pakchong 70 persen dan indigofera 30 persen, pakchong 60 persen dan indigofera 40 persen, serta pakchong 50 persen dan indigofera 50 persen, dengan masa adaptasi satu minggu dan masa pengumpulan data tiga bulan. Hasil pertambahan bobot badan dari yang tertinggi hingga terendah adalah kelompok pakchong 60 persen dan indigofera 40 persen sebesar 0,34 kilogram per ekor per hari, kelompok pakchong 70 persen dan indigofera 30 persen sebesar 0,32 kilogram per ekor per hari, kelompok pakchong 50 persen dan indigofera 50 persen sebesar 0,22 kilogram per ekor per hari, dan kelompok pembanding sebesar 0,20 kilogram per ekor per hari. Berdasarkan hasil itu, penelitian tersebut menyimpulkan bahwa kombinasi optimal pakchong dan indigofera pada sapi Bali adalah 60 persen pakchong dan 40 persen indigofera.
Hasil ini tidak boleh langsung disalin mentah-mentah sebagai resep untuk kambing, karena sapi dan kambing memiliki ukuran tubuh, perilaku makan, dan kebutuhan nutrisi yang berbeda, dan karena penelitian itu dilakukan di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dengan kondisi yang berbeda dari Magelang. Namun, pola umumnya dapat dipakai sebagai pelajaran, yaitu bahwa menambahkan leguminosa hingga sekitar sepertiga sampai dua perlima dari total hijauan memberi hasil yang lebih baik daripada hanya memberikan rumput saja atau hanya memberikan leguminosa saja, dan bahwa menambahkan leguminosa hingga setengah dari total hijauan justru menurunkan hasil dalam penelitian itu. Pelajaran ini sejalan dengan prinsip keragaman dan kewajaran yang sudah dibahas sebelumnya, yaitu leguminosa adalah pelengkap yang berharga, tetapi bukan pengganti rumput secara total. Peternak kambing dapat memulai dengan campuran sekitar dua pertiga rumput dan sepertiga leguminosa, mengamati respons ternaknya selama dua sampai tiga minggu, lalu menyesuaikan sedikit demi sedikit sesuai nafsu makan, kondisi kotoran, dan bobot badan kambingnya.
Di samping kombinasi rumput dan leguminosa, peternak juga perlu memperhatikan pemberian air minum yang bersih dan cukup, garam mineral bila tersedia, dan konsentrat atau pakan penguat bila dibutuhkan, terutama bagi induk menyusui dan kambing yang sedang digemukkan. Hijauan saja, betapapun berkualitasnya, tidak selalu cukup untuk memenuhi semua kebutuhan mineral dan energi pada fase produksi yang tinggi. Namun, artikel ini tidak membahas konsentrat secara rinci, karena fokusnya adalah hijauan pakan ternak, dan karena pemberian konsentrat perlu disesuaikan dengan harga, ketersediaan, dan tujuan usaha masing-masing peternak. Yang dapat ditegaskan di sini adalah bahwa hijauan yang baik akan mengurangi kebutuhan konsentrat, sehingga biaya pakan total menjadi lebih rendah, dan kambing menjadi lebih sehat karena rumennya bekerja dengan pakan serat yang cukup.
Menanam Kebun Hijauan di Lahan Sempit Magelang
Menanam kebun hijauan di lahan sempit tidak membutuhkan modal besar, tetapi membutuhkan perencanaan yang sederhana dan disiplin panen yang teratur. Langkah pertama adalah menghitung kebutuhan harian secara kasar, yaitu berapa ekor kambing yang dipelihara dan berapa banyak hijauan segar yang dibutuhkan setiap hari. Peternak dapat memulai dari kebun kecil, misalnya petak odot atau pakchong seluas beberapa puluh meter persegi, ditambah beberapa pohon indigofera atau gamal sebagai pagar, lalu memperluas kebun secara bertahap bila ternyata hijauan tersebut disukai kambing dan tumbuh baik di tanahnya. Memulai dari kecil dan memperluas secara bertahap jauh lebih aman daripada langsung menanam satu hektare tanaman yang belum pernah dicoba, karena peternak dapat belajar dari kebun kecilnya sendiri tanpa menanggung kerugian besar bila tanaman tersebut ternyata tidak cocok.
Langkah kedua adalah memilih lokasi yang tepat. Kebun hijauan sebaiknya dekat dengan kandang, agar peternak tidak menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk mengangkut pakan. Lokasi yang dekat dengan sumber air akan memudahkan penyiraman pada musim kemarau, sedangkan lokasi yang tergenang sebaiknya dihindari karena perakaran hijauan dapat membusuk. Di lahan miring, tanaman sebaiknya ditanam mengikuti kontur dan dipanen secara bergilir, agar tanah tidak terbuka sepenuhnya dan tidak mudah tererosi oleh hujan. Leguminosa pohon sebaiknya ditanam di pinggir lahan atau sebagai pagar, karena perakarannya yang dalam dapat membantu menahan tanah, dan tajuknya dapat memberi naungan parsial tanpa menutupi seluruh kebun rumput. Rumput sebaiknya ditanam di petak yang mudah dijangkau dan mudah dipanen, dengan jalan kecil di antaranya agar peternak dapat memotong tanpa menginjak rumpun yang masih tumbuh.
Langkah ketiga adalah menyiapkan tanah dan bibit dengan baik. Tanah sebaiknya diolah, dibersihkan dari gulma, dan diberi pupuk kandang sebelum tanam, karena hijauan yang dipanen berulang kali adalah tanaman yang rakus hara. Stek rumput sebaiknya ditanam pada awal musim hujan, ketika tanah masih lembap dan hujan masih akan turun secara teratur, agar stek cepat berakar dan bertunas. Biji indigofera sebaiknya disemai terlebih dahulu atau ditanam langsung pada lubang yang sudah diberi pupuk kandang, lalu disiram secara teratur hingga bibit cukup besar untuk dipindahkan atau dipangkas. Peternak yang membeli bibit dari penjual sebaiknya memeriksa asal bibitnya, yaitu apakah bibit tersebut benar-benar kultivar yang dimaksud, karena nama odot, pakchong, dan rumput gajah sering tertukar di pasaran, dan bibit yang salah dapat menghasilkan tanaman yang berbeda dari yang diharapkan.
Langkah keempat adalah memanen secara bergilir dan memupuk setelah panen. Kebun hijauan sebaiknya dibagi menjadi beberapa petak, sehingga setiap minggu selalu ada petak yang siap panen, petak yang sedang bertunas, dan petak yang sedang dipupuk. Setelah panen, petak sebaiknya segera diberi pupuk kandang, disiram bila tanah kering, dan dibiarkan bertunas tanpa gangguan hingga mencapai umur panen berikutnya. Panen yang terlalu sering dengan interval yang terlalu pendek akan melemahkan rumpun, karena tanaman belum sempat mengisi kembali cadangan makanannya, sedangkan panen yang terlalu jarang akan menghasilkan tanaman yang tua dan berserat. Kisaran umur panen 55 sampai 60 hari untuk pakchong yang muncul dalam penelitian dapat menjadi patokan awal, sedangkan untuk odot dan rumput gajah, peternak dapat mencoba interval yang sedikit lebih pendek, yaitu ketika daun masih muda dan lunak, sambil mengamati produksi dan kualitasnya dari musim ke musim.
Langkah kelima adalah menangani hijauan setelah panen dengan benar. Hijauan yang baru dipotong sebaiknya dilayukan sebentar bila masih sangat basah, dicacah bila batangnya besar, dan diberikan dalam keadaan segar pada hari yang sama, agar vitamin dan palatabilitasnya tetap terjaga. Hijauan yang disimpan terlalu lama dalam keadaan basah dan tertumpuk akan cepat panas, berjamur, dan berbau, sehingga kambing menolak memakannya dan dapat mengalami gangguan pencernaan. Sisa pakan yang tidak dimakan sebaiknya dibersihkan dari tempat pakan setiap hari, agar tidak menjadi tempat berkembangnya jamur dan serangga, dan agar peternak dapat mengetahui dengan tepat berapa banyak pakan yang benar-benar dimakan oleh kambingnya. Catatan sederhana tentang jumlah pakan yang diberikan dan sisa pakan yang terbuang, meski hanya ditulis di buku kecil di kandang, akan sangat membantu peternak dalam menilai apakah kebun hijauannya sudah cukup atau masih perlu diperluas.
Kesalahan Umum dan Cara Menghindarinya
Kesalahan pertama yang paling sering terjadi adalah hanya mengandalkan satu jenis hijauan. Peternak yang hanya memberi rumput gajah setiap hari, tanpa leguminosa sama sekali, akan kesulitan memenuhi kebutuhan protein kambingnya, terutama pada induk menyusui. Peternak yang hanya memberi daun lamtoro atau indigofera setiap hari, tanpa rumput sama sekali, berisiko memberikan zat antinutrisi secara berlebihan dan mengganggu pencernaan kambingnya. Solusinya adalah keragaman, yaitu selalu mencampur rumput dan leguminosa, dan mengganti jenis leguminosa secara berkala bila tersedia lebih dari satu jenis. Keragaman juga berlaku untuk sumber hijauan liar, yaitu rumput lapangan, daun pisang, daun nangka, dan daun-daun lain yang dikenal aman, dapat dipakai sebagai variasi, asalkan peternak yakin tanaman tersebut tidak beracun dan tidak disemprot pestisida.
Kesalahan kedua adalah memanen terlalu tua atau terlalu muda secara terus-menerus. Panen yang terlalu tua menghasilkan pakan yang berserat tinggi, sulit dicerna, dan banyak terbuang, sedangkan panen yang terlalu muda secara terus-menerus akan melemahkan rumpun dan menurunkan produksi jangka panjang. Solusinya adalah memanen pada umur yang tepat, yaitu ketika tanaman sudah cukup tinggi tetapi batangnya masih lunak, dan membiarkan rumpun beristirahat cukup lama setelah panen agar dapat bertunas kembali dengan kuat. Peternak dapat menandai tanggal panen pada setiap petak dengan patok sederhana, sehingga ia tidak perlu mengingat-ingat dan tidak memanen petak yang sama terlalu cepat.
Kesalahan ketiga adalah tidak memupuk kebun hijauan sama sekali. Banyak peternak yang rajin memanen tetapi lupa mengembalikan hara ke tanah, sehingga kebunnya semakin kurus dari tahun ke tahun dan ia menyalahkan bibitnya, padahal masalahnya adalah tanahnya yang sudah kehabisan hara. Solusinya adalah mengembalikan pupuk kandang secara teratur, terutama setelah panen, dan bila memungkinkan, mengembalikan urine ternak yang sudah diencerkan ke kebun. Pupuk kandang bukan hanya sumber hara, tetapi juga sumber bahan organik yang memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah menahan air, dan mendukung kehidupan mikroba tanah yang bermanfaat.
Kesalahan keempat adalah memberikan hijauan baru dalam jumlah besar secara tiba-tiba. Kambing yang belum pernah makan indigofera, gamal, atau kaliandra sebaiknya diperkenalkan secara bertahap, dari jumlah kecil yang dicampur dengan hijauan yang sudah biasa dimakan, lalu ditambah sedikit demi sedikit selama beberapa hari. Perubahan pakan yang mendadak dapat mengganggu mikroba rumen dan menyebabkan kembung atau diare, terutama bila hijauan baru tersebut kaya protein atau mengandung zat antinutrisi. Peternak yang sabar dalam masa perkenalan akan mendapatkan kambing yang lahap makan hijauan baru tersebut dalam waktu yang tidak lama, sedangkan peternak yang terburu-buru justru akan menyimpulkan bahwa kambingnya tidak suka hijauan tersebut, padahal masalahnya adalah cara pemberiannya yang terlalu mendadak.
Kesalahan kelima adalah mengabaikan kebersihan dan keamanan hijauan. Hijauan yang dipetik dari tempat yang tercemar, yang disemprot pestisida, atau yang sudah berjamur sebaiknya tidak diberikan kepada kambing, betapapun melimpahnya hijauan tersebut. Hijauan yang tumbuh di tepi jalan raya yang sangat ramai, di dekat tempat pembuangan sampah, atau di lahan yang baru disemprot herbisida sebaiknya dihindari, dan peternak sebaiknya menunggu masa yang cukup lama setelah penyemprotan sebelum memanen hijauan dari lahan tersebut, sesuai petunjuk pada kemasan pestisida yang dipakai. Keamanan pakan adalah bagian dari keamanan pangan, karena susu dan daging yang dihasilkan oleh kambing yang makan pakan tercemar dapat membawa risiko bagi konsumennya.
Penutup, Hijauan yang Baik adalah Investasi Kandang
Hijauan pakan ternak yang baik bukan hadiah yang datang sekali, melainkan investasi kandang yang dirawat setiap hari. Odot memberi kualitas yang tinggi dengan serat yang relatif rendah, pakchong memberi produksi yang tinggi dengan patokan panen sekitar 55 sampai 60 hari, rumput gajah memberi ketersediaan yang luas dan cara tanam yang sudah dikenal, indigofera memberi protein yang tinggi sebagai pelengkap, dan lamtoro, gamal, kaliandra, serta turi memberi keragaman daun yang menyelamatkan peternak pada musim kemarau. Tidak ada satu tanaman pun yang sempurna sendirian, dan kombinasi rumput dan leguminosa dalam proporsi yang wajar, dengan panen yang tepat waktu dan pemupukan yang teratur, adalah resep yang paling masuk akal menurut penelitian yang tersedia.
Bagi peternak pemula di Magelang, langkah yang paling realistis adalah memulai dari kebun kecil di dekat kandang, menanam satu jenis rumput yang mudah, yaitu odot atau pakchong, ditambah beberapa pohon leguminosa sebagai pagar, lalu belajar dari kebun itu sendiri selama satu musim. Catat tanggal tanam, tanggal panen, jumlah pakan yang diberikan, dan respons kambingnya, karena catatan sederhana itu akan menjadi panduan yang jauh lebih berharga daripada sekadar mengikuti anjuran umum. Bila kebun kecil itu berhasil, perluaslah secara bertahap, tambah jenis leguminosa yang lain, dan bagikan stek atau bibit kepada tetangga, karena kebun hijauan yang baik akan semakin berharga bila ia menjadi gerakan bersama di satu dusun, bukan hanya usaha satu kandang. Pada akhirnya, kambing yang sehat, susu yang cukup, dan kandang yang tenang semuanya bermula dari satu hal yang sederhana, yaitu hijauan yang ditanam sendiri, dipanen tepat waktu, dan diberikan dengan beragam setiap hari.


