Pakan Kambing Magelang: Hijauan, Konsentrat, dan Pakan Tambahan
Rumput saja tidak cukup dan konsentrat saja berbahaya. Panduan menyusun pakan kambing dari hijauan lokal Magelang, konsentrat, mineral, hingga pakan musim kemarau menurut fase ternak.

MAGELANG, KabarTidar. Pakan kambing adalah faktor yang paling menentukan apakah usaha ternak kambing di Magelang untung atau merugi, karena pakan menyerap sebagian besar biaya pemeliharaan sekaligus menentukan pertumbuhan, kesehatan, dan produksi susu ternak. Artikel ini membahas pakan kambing secara menyeluruh, mulai dari hijauan, konsentrat, dan pakan tambahan, hingga perbedaan kebutuhan menurut fase ternak, dengan sudut pandang peternak rakyat di Kabupaten Magelang yang memelihara kambing di pekarangan, di kandang panggung, dan di lahan yang terbatas. Pembahasan ini sengaja disusun sebagai panduan, bukan sebagai resep yang kaku, karena kebutuhan setiap kandang berbeda menurut jenis kambing, bobot badan, fase produksi, dan jenis pakan yang tersedia di sekitarnya.
Penting untuk menegaskan posisi artikel ini di antara artikel kambing KabarTidar yang sudah terbit. Artikel tentang kambing Peranakan Etawa Magelang sudah mengulas ras dwiguna penghasil susu dan daging, artikel tentang kambing Jawarandu Magelang sudah mengulas ternak persilangan rakyat yang tahan banting, dan artikel tentang kambing Boer Magelang sudah mengulas ras pedaging asal Afrika Selatan, sedangkan artikel tentang susu kambing etawa sudah mengulas produk susu dari sisi konsumen. Artikel ini tidak mengulang profil ras-ras tersebut, melainkan melengkapi seri itu dari sisi yang paling praktis, yaitu apa yang dimakan kambing setiap hari dan bagaimana peternak menyusunnya agar ternak sehat, tumbuh, dan berproduksi dengan biaya yang masuk akal.
Bagi peternak di Magelang, ketersediaan pakan sebenarnya cukup melimpah, karena wilayah ini memiliki sawah, kebun, tegalan, dan pekarangan yang menghasilkan rumput, daun-daunan, dan limbah pertanian sepanjang tahun, meskipun ketersediaannya berfluktuasi antara musim hujan dan musim kemarau. Persoalannya bukan semata-mata mencari rumput, melainkan menyusun pakan yang beragam, cukup serat, cukup protein dan energi, serta diberikan secara teratur dan bertahap. Kambing yang hanya diberi satu jenis rumput setiap hari, kambing yang pakannya berubah mendadak dari rumput segar ke jerami kering, dan kambing yang kekurangan air minum bersih adalah contoh persoalan yang sering ditemui di kandang rakyat dan sebenarnya dapat dicegah dengan pemahaman dasar tentang pakan. Artikel ini berangkat dari persoalan-persoalan semacam itu.
Pakan Kambing dan Prinsip Dasar Ransum untuk Ternak Ruminansia
Kambing adalah ternak ruminansia, yaitu ternak yang lambungnya terdiri dari beberapa ruang dan mengandalkan mikroba di dalam rumen untuk mencerna serat dari hijauan. Prinsip ini menjelaskan mengapa hijauan harus menjadi dasar pakan kambing, bukan sekadar pelengkap. Serat dari hijauan menjaga gerakan rumen tetap normal, merangsang kambing untuk memamah biak, dan menjaga suasana di dalam rumen tetap stabil. Kambing yang diberi terlalu banyak konsentrat dan terlalu sedikit hijauan dapat mengalami gangguan pencernaan, karena rumennya tidak mendapatkan serat yang cukup dan kadar keasamannya berubah. Sebaliknya, kambing yang hanya diberi hijauan yang mutunya rendah, misalnya rumput tua yang sudah keras dan miskin protein, dapat kekurangan energi dan protein meskipun perutnya tampak penuh, karena yang mengenyangkan belum tentu mencukupi gizinya.
Prinsip kedua adalah keragaman. Tidak ada satu bahan pakan pun yang mengandung semua zat gizi dalam proporsi yang sempurna, sehingga ransum yang baik selalu merupakan campuran dari beberapa bahan. Hijauan rumput umumnya menjadi sumber serat dan energi, hijauan leguminosa seperti gamal, lamtoro, dan kaliandra menjadi sumber protein, sedangkan konsentrat dari dedak, jagung giling, ampas tahu, dan bungkil menjadi sumber energi dan protein tambahan untuk ternak yang sedang tumbuh, bunting, menyusui, atau digemukkan. Mineral dan garam melengkapi ransum dalam jumlah kecil tetapi penting, karena kekurangan mineral dapat mengganggu pertumbuhan, reproduksi, dan produksi susu meskipun energi dan proteinnya sudah cukup. Peternak yang memahami prinsip keragaman ini tidak akan bergantung pada satu bahan pakan saja, dan akan lebih mudah mengganti satu bahan dengan bahan lain yang setara bila bahan pertama sulit didapat.
Prinsip ketiga adalah kesesuaian dengan fase dan tujuan ternak. Kambing yang sedang menyusui membutuhkan energi dan protein lebih banyak daripada kambing dewasa yang hanya dipelihara tanpa produksi, kambing yang sedang bunting membutuhkan perhatian khusus pada akhir kebuntingan ketika anak di dalam kandungan tumbuh pesat, dan cempe yang baru lahir memiliki kebutuhan yang sama sekali berbeda dengan kambing dewasa. Prinsip keempat adalah keteraturan dan perubahan bertahap. Kambing menyukai jadwal yang tetap, dan setiap perubahan jenis pakan sebaiknya dilakukan sedikit demi sedikit selama beberapa hari agar mikroba rumen dapat menyesuaikan diri. Perubahan mendadak, misalnya dari rumput segar ke konsentrat dalam jumlah besar dalam satu hari, adalah salah satu penyebab gangguan pencernaan yang paling sering terjadi di kandang rakyat.
Prinsip kelima, yang sering dilupakan, adalah air minum. Air bersih yang tersedia setiap saat adalah bagian dari pakan dalam arti luas, karena air diperlukan untuk pencernaan, pengaturan suhu tubuh, dan produksi susu. Kambing yang kekurangan air akan mengurangi konsumsi pakannya, sehingga pertumbuhannya melambat meskipun hijauan tersedia melimpah. Air minum sebaiknya bersih, tidak tercemar kotoran, dan tempatnya dibersihkan secara teratur. Pada musim kemarau, peternak perlu memeriksa ketersediaan air dengan lebih saksama, karena sumber air di sekitar kandang dapat menyusut sementara kebutuhan ternak tetap sama atau bahkan meningkat pada hari yang panas.
Terkait takaran, literatur peternakan umumnya menyebut kebutuhan bahan kering kambing sekitar tiga sampai lima persen dari bobot badan per hari, dengan catatan bahwa angka tersebut adalah gambaran umum, bukan resep yang berlaku sama untuk semua ternak. Bahan kering adalah bagian pakan setelah airnya dihilangkan, sehingga hijauan segar yang kandungan airnya tinggi harus diberikan dalam jumlah segar yang jauh lebih banyak daripada angka bahan keringnya. Karena itu, peternak tidak perlu terpaku pada satu angka gram per ekor yang beredar tanpa keterangan tentang bobot ternak, jenis pakan, dan fase produksinya. Artikel ini sengaja tidak menulis resep takaran per ekor yang kaku, dan sebagai gantinya menjelaskan jenis pakan, fungsi masing-masing, dan perbedaan kebutuhan menurut fase, agar peternak dapat menyusun ransum bersama penyuluh peternakan setempat yang mengenal kondisi kandangnya secara langsung.
Hijauan untuk Pakan Kambing di Magelang, dari Rumput hingga Leguminosa
Hijauan adalah pakan utama kambing dan di Magelang tersedia dalam banyak bentuk. Kelompok pertama adalah rumput-rumputan, yang paling dikenal adalah rumput gajah, rumput odot, dan rumput pakchong yang merupakan kultivar rumput gajah dengan batang yang lebih besar dan produksi yang tinggi. Rumput-rumput ini disenangi peternak karena mudah ditanam di pematang, di pekarangan, dan di lahan yang tidak terlalu luas, dapat dipanen berulang, dan disukai kambing dalam keadaan segar maupun setelah dilayukan sebentar. Rumput yang dipanen pada umur yang tepat, yaitu saat masih muda dan belum terlalu keras, memiliki mutu yang lebih baik daripada rumput yang dibiarkan tua hingga batangnya mengayu, karena rumput tua lebih sulit dicerna dan kandungan proteinnya menurun. Peternak yang menanam rumput sendiri sebaiknya mengatur jadwal panen bergilir, sehingga selalu tersedia rumput muda dan tidak terjadi kekosongan pakan.
Kelompok kedua adalah hijauan leguminosa, yaitu tanaman polong-polongan yang daunnya kaya protein dan sangat berguna untuk melengkapi rumput. Gamal, lamtoro, dan kaliandra adalah tiga leguminosa yang paling dikenal peternak di Jawa, karena mudah tumbuh di pekarangan dan di tepi lahan, dapat dipangkas berulang, dan daunnya disukai kambing. Leguminosa sebaiknya diberikan sebagai campuran, bukan sebagai satu-satunya pakan dalam jumlah besar dan dalam keadaan segar sekaligus, karena pemberian leguminosa segar yang berlebihan dalam satu waktu dapat menyebabkan kembung pada sebagian ternak. Cara yang lebih aman adalah mencampurnya dengan rumput, melayukannya sebentar sebelum diberikan, dan memperkenalkannya secara bertahap bila ternak belum terbiasa. Dengan cara itu, peternak mendapatkan manfaat proteinnya tanpa menanggung risiko gangguan pencernaannya.
Kelompok ketiga adalah daun-daunan dan hijauan dari kebun dan pekarangan, seperti daun nangka, daun pisang, daun singkong, dan daun-daunan lain yang tersedia di sekitar rumah. Daun nangka termasuk hijauan yang disukai kambing dan sering dipakai sebagai pakan selingan, sedangkan daun singkong memerlukan kehati-hatian khusus, karena daun singkong segar mengandung senyawa yang dapat membahayakan bila diberikan dalam jumlah besar dan tanpa pengolahan. Praktik yang umum dilakukan peternak adalah melayukan daun singkong terlebih dahulu sebelum diberikan dan tidak menjadikannya satu-satunya pakan dalam satu waktu pemberian. Prinsip yang sama berlaku untuk daun-daunan lain yang belum dikenal, yaitu perkenalkan sedikit demi sedikit, amati respons ternak, dan jangan mengganti seluruh ransum dalam satu hari.
Kelompok keempat adalah rumput lapangan dan hijauan liar yang tumbuh di pematang, di tepi jalan, dan di lahan kosong. Rumput lapangan memiliki keragaman jenis yang tinggi dan sering kali disukai kambing karena variasinya, tetapi mutunya sangat bergantung pada musim dan pada tempat tumbuhnya. Rumput yang tumbuh di tempat yang tercemar, misalnya di dekat tempat pembuangan sampah atau di lahan yang baru disemprot herbisida, sebaiknya tidak diambil, karena residu dan cemaran dapat membahayakan ternak. Peternak yang mengandalkan rumput lapangan perlu memperhatikan asal rumputnya, mencucinya bila perlu, dan melengkapinya dengan hijauan lain yang mutunya lebih terjamin, terutama untuk ternak yang sedang bunting, menyusui, atau digemukkan.
Kelompok kelima adalah limbah pertanian yang dapat dipakai sebagai hijauan atau sebagai sumber serat, seperti jerami padi, tongkol jagung, dan daun jagung. Bahan-bahan ini melimpah pada musim panen dan sangat membantu pada musim kemarau ketika rumput segar berkurang, tetapi mutunya umumnya lebih rendah daripada rumput muda, sehingga sebaiknya dipakai sebagai pelengkap dan dicampur dengan hijauan yang lebih baik atau dengan konsentrat, bukan sebagai satu-satunya pakan. Penelitian peternakan di Indonesia, antara lain kajian tentang pemanfaatan jerami dan tongkol jagung dalam ransum kambing, menunjukkan bahwa limbah pertanian dapat dimanfaatkan secara berguna bila diolah dan dicampur dengan benar, tetapi tidak dapat begitu saja menggantikan hijauan bermutu tanpa penyesuaian. Peternak di Magelang yang dekat dengan lahan sawah dan jagung dapat memanfaatkan peluang ini, asalkan jerami dan tongkol yang dipakai bersih, kering, dan tidak berjamur.
Konsentrat dalam Pakan Kambing, Pelengkap Hijauan yang Tidak Boleh Berlebihan
Konsentrat adalah pakan yang kandungan energi atau proteinnya lebih pekat daripada hijauan, dan dalam praktik peternakan rakyat di Magelang, konsentrat biasanya berupa campuran dari bahan-bahan yang mudah didapat di sekitar. Dedak padi adalah bahan konsentrat yang paling umum, karena tersedia di penggilingan padi, harganya relatif terjangkau, dan disukai ternak. Ampas tahu adalah bahan lain yang sangat dikenal peternak, karena tersedia dari perajin tahu, mengandung protein yang cukup, dan dapat diberikan dalam keadaan segar, meskipun daya simpannya pendek sehingga harus diberikan sebelum basi. Jagung giling dan pollard, yaitu dedak gandum, menjadi sumber energi tambahan, sedangkan bungkil kelapa dan bungkil kedelai menjadi sumber protein yang lebih pekat dan biasanya dipakai dalam jumlah yang lebih kecil.
Fungsi konsentrat adalah melengkapi hijauan, bukan menggantikannya. Ternak yang hijauannya sudah baik dan cukup mungkin hanya memerlukan sedikit konsentrat atau bahkan tidak memerlukan konsentrat sama sekali pada fase pemeliharaan biasa, sedangkan ternak yang sedang menyusui, ternak yang sedang digemukkan, dan kambing perah yang produksi susunya tinggi memerlukan konsentrat tambahan karena kebutuhan energi dan proteinnya melampaui apa yang dapat dipenuhi hijauan saja. Kesalahan yang sering terjadi adalah memberikan konsentrat dalam jumlah besar sekaligus dengan harapan ternak cepat gemuk, padahal pemberian konsentrat yang berlebihan dan mendadak dapat mengganggu rumen dan justru membuat ternak sakit, nafsu makannya menurun, dan pertumbuhannya terhambat. Konsentrat sebaiknya diberikan dalam jumlah yang dibagi ke dalam beberapa kali pemberian, diperkenalkan secara bertahap, dan selalu disertai hijauan yang cukup.
Mutu konsentrat juga perlu diperhatikan. Dedak yang sudah tengik, ampas tahu yang sudah basi, dan campuran konsentrat yang disimpan dalam keadaan lembap hingga berjamur tidak boleh diberikan kepada ternak, karena dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan keracunan. Peternak yang membeli konsentrat jadi dari toko pakan sebaiknya membaca keterangan pada kemasannya, memperhatikan tanggal kedaluwarsa bila ada, dan menyimpannya di tempat yang kering dan tertutup. Peternak yang meracik konsentrat sendiri sebaiknya memakai bahan yang bersih, menakar dengan wadah yang sama setiap hari agar jumlahnya konsisten, dan mencatat campuran yang dipakai, sehingga bila terjadi persoalan, ia dapat menelusuri bahan mana yang berubah. Konsistensi semacam ini tampak sepele, tetapi sangat membantu dalam usaha ternak yang dijalankan setiap hari.
Satu bentuk konsentrat yang patut dikenal adalah pakan lengkap atau complete feed, yaitu campuran hijauan dan konsentrat yang sudah diolah menjadi satu ransum, misalnya dalam bentuk pelet atau campuran fermentasi. Pakan lengkap memudahkan peternak karena takarannya lebih seragam dan ternak tidak dapat memilih-milih bahan yang disukainya saja, tetapi harganya umumnya lebih tinggi dan ketersediaannya di Magelang belum seluas bahan pakan rakyat. Kajian-kajian peternakan di Indonesia tentang pakan lengkap fermentasi, antara lain yang memakai jerami padi sebagai salah satu bahannya, menunjukkan bahwa pakan lengkap dapat menjadi pilihan pada kondisi tertentu, terutama bila hijauan segar sulit didapat, tetapi peternak tetap perlu menyesuaikannya dengan fase ternak dan kemampuan biaya kandangnya. Pakan lengkap bukan keharusan, melainkan salah satu pilihan di antara banyak pilihan.
Kebutuhan pakan kambing berubah sepanjang hidupnya, sehingga peternak yang memberikan pakan yang sama persis untuk semua ternak di kandangnya sebenarnya belum memenuhi kebutuhan masing-masing ternak. Fase pertama adalah cempe, yaitu anak kambing yang baru lahir. Pada hari-hari pertama, cempe wajib mendapatkan kolostrum, yaitu susu pertama induk yang kaya antibodi dan sangat menentukan daya tahan tubuhnya. Setelah itu, cempe menyusu pada induknya dan secara bertahap mulai dikenalkan pada hijauan muda yang lunak dan mudah dicerna, serta pada air minum bersih. Pengenalan hijauan sebaiknya dilakukan sedikit demi sedikit dan sejak dini, karena cempe yang terlambat mengenal hijauan akan lebih sulit beradaptasi saat disapih. Penyapihan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan pada umur yang cukup, bukan secara mendadak, agar cempe tidak stres dan pertumbuhannya tidak terhenti.
Fase kedua adalah kambing muda lepas sapih, yaitu ternak yang sedang tumbuh pesat dan membutuhkan protein yang cukup untuk membentuk otot dan tulang. Pada fase ini, hijauan yang bermutu baik menjadi dasar, dan leguminosa dalam jumlah yang wajar sangat membantu karena kandungan proteinnya lebih tinggi daripada rumput biasa. Konsentrat dapat diberikan dalam jumlah sedang bila pertumbuhan ternak tampak lambat atau bila hijauan yang tersedia mutunya rendah, tetapi pemberian konsentrat yang berlebihan pada fase ini tidak dianjurkan, karena dapat membuat ternak gemuk tanpa membentuk kerangka yang baik dan dapat mengganggu pencernaannya. Kambing muda juga memerlukan ruang gerak dan cahaya yang cukup, karena pertumbuhan tidak hanya ditentukan oleh pakan, melainkan juga oleh kesehatan dan kenyamanan kandangnya.
Fase ketiga adalah kambing dewasa pada masa pemeliharaan biasa, yaitu ternak yang tidak bunting, tidak menyusui, dan tidak sedang digemukkan. Pada fase ini, kebutuhan pakannya paling rendah, dan hijauan yang cukup serta air bersih umumnya sudah memadai, dengan tambahan mineral seperlunya. Peternak sering kali memboroskan biaya pada fase ini dengan memberikan konsentrat yang sebenarnya belum diperlukan, padahal biaya tersebut lebih berguna bila disimpan untuk fase bunting dan laktasi yang kebutuhannya jauh lebih tinggi. Sebaliknya, kambing dewasa yang dibiarkan kurus pada masa pemeliharaan akan sulit kembali ke kondisi yang baik saat memasuki masa kawin, karena tubuhnya harus mengejar ketertinggalan terlebih dahulu. Karena itu, tujuan pakan pada fase pemeliharaan adalah menjaga kondisi tubuh tetap stabil, tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus.
Fase keempat adalah induk bunting, yang memerlukan perhatian khusus pada dua bulan terakhir kebuntingan, ketika anak di dalam kandungan tumbuh dengan cepat dan ruang di dalam perut induk semakin sempit. Pada masa ini, induk sebaiknya mendapatkan hijauan yang bermutu baik dan mudah dicerna, karena hijauan yang terlalu kasar dan mengenyangkan dapat membuat induk merasa kenyang padahal gizinya belum cukup. Konsentrat dalam jumlah yang wajar membantu memenuhi kebutuhan energi dan protein yang meningkat, dan pemberian pakan sebaiknya dibagi ke dalam beberapa kali pemberian dalam sehari agar induk dapat makan lebih sering dalam porsi yang lebih kecil. Induk bunting juga perlu dijaga dari pakan yang berjamur dan dari perubahan pakan yang mendadak, karena gangguan pencernaan pada induk bunting dapat berdampak pada anak yang dikandungnya.
Fase kelima adalah induk menyusui atau laktasi, yaitu fase dengan kebutuhan pakan tertinggi pada kambing betina. Induk yang menyusui memerlukan energi dan protein yang jauh lebih banyak daripada induk yang tidak menyusui, karena sebagian besar zat gizi yang dimakannya diubah menjadi susu untuk anaknya. Pada kambing perah seperti Peranakan Etawa, fase laktasi inilah yang menentukan apakah produksi susu dapat dipertahankan atau cepat menurun, dan pembahasan tentang susunya sendiri sudah diulas dalam artikel KabarTidar tentang susu kambing etawa. Pakan induk laktasi sebaiknya terdiri dari hijauan bermutu baik, leguminosa secukupnya, dan konsentrat tambahan yang diberikan secara bertahap sesuai dengan produksi susunya, serta air minum yang selalu tersedia, karena susu sebagian besar terdiri dari air dan induk yang kekurangan air tidak dapat berproduksi dengan baik.
Fase keenam adalah pejantan dan ternak penggemukan, yang memiliki kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Pejantan yang dipakai untuk kawin memerlukan kondisi tubuh yang baik dan tidak terlalu gemuk, karena pejantan yang terlalu gemuk dapat mengalami penurunan kemampuan kawin, sedangkan pejantan yang terlalu kurus tidak memiliki stamina yang cukup pada musim kawin. Ternak penggemukan, sebaliknya, memang ditujukan untuk menambah bobot badan secepat mungkin dengan cara yang sehat, dan pada fase ini konsentrat memegang peran yang lebih besar daripada fase pemeliharaan biasa, dengan catatan bahwa hijauan tetap harus tersedia agar rumen tetap berfungsi. Ras pedaging seperti Boer yang diulas dalam artikel KabarTidar tentang kambing Boer Magelang dan ternak rakyat seperti Jawarandu yang diulas dalam artikel tentang kambing Jawarandu Magelang sama-sama memerlukan pakan penggemukan yang bertahap, dan perbedaan di antara keduanya terletak pada kecepatan tumbuh dan target pasarnya, bukan pada prinsip pakannya yang berubah-ubah.
Pakan Tambahan, Mineral, dan Air Minum untuk Kambing
Di luar hijauan dan konsentrat, ada kelompok pakan tambahan yang diberikan dalam jumlah kecil tetapi memiliki peran yang nyata. Kelompok yang paling dikenal adalah garam dan mineral. Peternak rakyat umumnya menyediakan garam dapur atau garam mineral dalam bentuk bongkahan yang dijilat ternak sesuai dengan kebutuhannya, atau mencampurkan sedikit garam ke dalam konsentrat. Garam dan mineral diperlukan untuk pertumbuhan tulang, fungsi saraf dan otot, serta reproduksi, dan kekurangannya dapat terlihat dari nafsu makan yang menurun, pertumbuhan yang lambat, dan gangguan reproduksi yang sulit dijelaskan. Pemberian mineral sebaiknya mengikuti petunjuk produk yang dipakai dan tidak berlebihan, karena kelebihan mineral tertentu juga dapat mengganggu kesehatan ternak.
Bentuk pakan tambahan lain yang dikenal dalam literatur peternakan Indonesia adalah multinutrien blok, yaitu blok padat yang mengandung campuran molases, urea dalam kadar yang diatur, mineral, dan bahan lainnya, yang dijilat ternak sedikit demi sedikit. Kajian tentang pemberian multinutrien blok pada kambing Jawarandu menunjukkan bahwa blok semacam ini dapat menjadi pelengkap ransum berbasis hijauan dan membantu meningkatkan pertambahan bobot badan, meskipun hasilnya bergantung pada ransum dasarnya dan tidak dapat menggantikan hijauan serta konsentrat. Peternak yang tertarik memakai multinutrien blok sebaiknya membeli produk yang jelas komposisinya dan mengikuti petunjuk pemakaiannya, serta berhati-hati dengan produk yang mengandung urea, karena urea dalam jumlah yang salah dapat membahayakan ternak. Bila ragu, berkonsultasi dengan penyuluh peternakan atau dokter hewan adalah langkah yang lebih aman daripada mencoba-coba sendiri.
Kelompok pakan tambahan lain yang sering ditanyakan adalah vitamin dan obat cacing, meskipun keduanya bukan pakan dalam arti yang sebenarnya. Vitamin umumnya sudah tercukupi dari hijauan segar yang beragam, terutama hijauan hijau yang masih muda, dan pemberian vitamin tambahan hanya diperlukan pada kondisi tertentu, misalnya ternak yang sakit, ternak yang pakannya sangat terbatas, atau atas saran dokter hewan. Obat cacing juga bukan pakan, tetapi berkaitan erat dengan pakan, karena ternak yang cacingan tidak dapat memanfaatkan pakannya dengan baik, sehingga pertumbuhannya lambat meskipun pakannya sudah cukup. Peternak sebaiknya menjadwalkan pemberian obat cacing secara teratur sesuai dengan saran penyuluh atau dokter hewan, dan menjaga kebersihan kandang serta tempat pakan agar penularan cacing dapat ditekan.
Air minum patut diulang pada bagian ini karena perannya yang sering diremehkan. Kambing yang diberi pakan kering seperti jerami dan konsentrat memerlukan air lebih banyak daripada kambing yang diberi hijauan segar yang kandungan airnya tinggi, dan induk menyusui memerlukan air lebih banyak daripada ternak yang tidak menyusui. Tempat air sebaiknya diletakkan di tempat yang teduh, dibersihkan dari lumut dan kotoran secara teratur, dan diperiksa setiap hari, terutama pada musim kemarau dan pada hari yang panas. Air yang berasal dari selokan atau dari genangan yang tercemar sebaiknya tidak dipakai, karena dapat membawa bibit penyakit dan parasit yang justru membuat seluruh upaya perbaikan pakan menjadi sia-sia.
Pakan Kambing yang Diawetkan untuk Musim Kemarau di Magelang
Musim kemarau adalah ujian bagi peternak kambing di Magelang, karena rumput segar berkurang, hijauan menjadi lebih keras, dan peternak harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk mencari rumput. Pengawetan pakan adalah jawaban yang paling masuk akal, dan dua cara yang paling dikenal adalah pembuatan hay dan silase. Hay adalah hijauan yang dikeringkan hingga kadar airnya rendah dan dapat disimpan dalam waktu lama, sedangkan silase adalah hijauan yang diawetkan melalui fermentasi dalam keadaan tertutup rapat dan tanpa udara. Keduanya memungkinkan peternak menyimpan kelebihan hijauan musim hujan untuk dipakai pada musim kemarau, sehingga ternak tidak mengalami penurunan pakan secara mendadak ketika musim berganti.
Pembuatan hay memerlukan hijauan yang dipanen pada umur yang tepat, dijemur hingga cukup kering, dan disimpan di tempat yang kering dan berventilasi baik. Hay yang disimpan dalam keadaan lembap akan berjamur dan tidak boleh diberikan kepada ternak, karena jamur dapat menghasilkan racun dan menyebabkan gangguan kesehatan. Pembuatan silase memerlukan wadah yang tertutup rapat, misalnya drum plastik atau kantong silase, serta hijauan yang dicacah dan dipadatkan agar udara di dalamnya seminimal mungkin. Silase yang berhasil memiliki bau yang asam dan segar, sedangkan silase yang berbau busuk dan berlendir menandakan proses fermentasi yang gagal dan sebaiknya tidak diberikan. Kedua cara ini memerlukan latihan, sehingga peternak yang baru pertama kali membuatnya sebaiknya mencoba dalam jumlah kecil terlebih dahulu dan belajar dari penyuluh atau dari peternak yang sudah berpengalaman.
Selain hay dan silase, peternak juga dapat menyimpan limbah pertanian kering seperti jerami padi dan tongkol jagung untuk musim kemarau, dengan catatan bahwa bahan-bahan tersebut mutunya rendah dan sebaiknya dipakai sebagai pelengkap, bukan sebagai satu-satunya pakan. Jerami yang disimpan harus benar-benar kering dan disimpan di tempat yang tidak terkena hujan, karena jerami yang basah akan berjamur dengan cepat. Pada musim kemarau, peternak juga dapat menanam rumput dan leguminosa di pekarangan yang masih memiliki air, memangkas pohon leguminosa secara bergilir, dan memanfaatkan daun-daunan dari kebun yang tetap hijau, sehingga ketergantungan pada rumput lapangan yang mengering dapat dikurangi. Perencanaan semacam ini sebaiknya dimulai sejak musim hujan, bukan ketika kemarau sudah tiba dan hijauan sudah sulit dicari.
Kesalahan Umum dalam Pemberian Pakan Kambing dan Cara Menghindarinya
Kesalahan pertama yang paling sering terjadi adalah mengubah pakan secara mendadak. Kambing yang selama ini hanya makan rumput lapangan lalu tiba-tiba diberi konsentrat dalam jumlah besar, atau kambing yang selama ini makan rumput segar lalu tiba-tiba hanya diberi jerami kering, akan mengalami gangguan pencernaan karena mikroba di dalam rumennya belum menyesuaikan diri. Cara menghindarinya adalah mengubah pakan secara bertahap selama beberapa hari, yaitu mencampur pakan baru dengan pakan lama dalam proporsi yang semakin besar, sambil mengamati nafsu makan dan kotorannya. Bila ternak menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman, seperti nafsu makan menurun, perut kembung, atau kotoran menjadi terlalu encer, perubahan sebaiknya diperlambat dan pakan lama dikembalikan untuk sementara waktu.
Kesalahan kedua adalah memberikan leguminosa segar dalam jumlah besar sekaligus, terutama lamtoro dan gamal yang baru dipetik. Leguminosa memang kaya protein, tetapi pemberian yang berlebihan dalam satu waktu dapat menyebabkan kembung, yaitu penumpukan gas di dalam rumen yang membuat perut ternak menggelembung, ternak gelisah, dan pada keadaan berat dapat menyebabkan kematian. Cara menghindarinya adalah mencampur leguminosa dengan rumput, melayukannya sebentar sebelum diberikan, dan memperkenalkannya secara bertahap. Peternak juga perlu mengenali tanda awal kembung, yaitu perut kiri yang membesar dan ternak yang tampak tidak nyaman, agar dapat segera mengambil tindakan dan meminta bantuan dokter hewan bila keadaannya memburuk.
Kesalahan ketiga adalah memberikan pakan yang berjamur, basi, atau tercemar. Ampas tahu yang sudah basi, dedak yang sudah tengik, hay yang berjamur, dan rumput yang tumbuh di tempat yang tercemar herbisida atau limbah semuanya dapat membahayakan ternak, meskipun jumlahnya sedikit. Cara menghindarinya adalah memeriksa pakan sebelum diberikan, mencium baunya, dan membuang pakan yang sudah berubah warna, berbau tidak wajar, atau berlendir. Tempat pakan juga perlu dibersihkan setiap hari dari sisa pakan yang membusuk, karena sisa pakan yang dibiarkan di dalam palungan akan mencemari pakan baru yang diberikan pada hari berikutnya.
Kesalahan keempat adalah memberikan satu jenis pakan saja dalam waktu yang lama. Kambing yang hanya diberi rumput gajah setiap hari tanpa leguminosa dan tanpa konsentrat dapat kekurangan protein, sedangkan kambing yang hanya diberi ampas tahu tanpa hijauan dapat kekurangan serat dan mengalami gangguan pencernaan. Keragaman adalah kunci, dan peternak yang memiliki beberapa jenis hijauan di pekarangan, ditambah satu atau dua bahan konsentrat, sudah berada pada jalur yang benar. Kesalahan kelima adalah mengabaikan air minum dan kebersihan tempat pakan, yang sudah dibahas sebelumnya, tetapi patut diulang karena dampaknya sering tidak disadari. Kambing yang tempat pakannya kotor dan airnya tercemar akan lebih mudah sakit, dan ternak yang sakit tidak dapat memanfaatkan pakan sebaik ternak yang sehat.
Jadwal Pemberian Pakan Kambing dan Penutup untuk Peternak Magelang
Jadwal pemberian pakan yang baik adalah jadwal yang teratur dan dapat dijalankan setiap hari tanpa memberatkan peternak. Sebagian besar peternak rakyat di Magelang memberikan pakan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari, dengan porsi yang lebih besar pada sore hari agar ternak memiliki pakan sepanjang malam. Peternak yang memiliki waktu lebih dapat membagi pakan menjadi tiga kali sehari, yaitu pagi, siang, dan sore, terutama untuk induk menyusui dan ternak penggemukan yang kebutuhannya tinggi. Yang lebih penting daripada jumlah kali pemberian adalah keteraturannya, karena kambing yang diberi pakan pada jam yang tidak menentu akan lebih mudah stres dan nafsu makannya tidak stabil. Konsentrat, bila diberikan, sebaiknya diberikan pada waktu yang sama setiap hari dan dalam wadah yang sama, agar jumlahnya konsisten dan mudah dievaluasi.
Peternak juga perlu membiasakan diri mengamati ternaknya setiap kali memberi pakan. Kambing yang sehat akan segera mendekati palungan, makan dengan lahap, dan memamah biak dengan tenang setelah makan, sedangkan kambing yang nafsu makannya menurun, memisahkan diri dari kelompoknya, atau kotorannya berubah bentuk patut diperiksa lebih lanjut. Pengamatan harian semacam ini adalah alat pemantau yang paling murah dan paling cepat, karena perubahan nafsu makan sering kali muncul sebelum tanda penyakit yang lebih jelas. Peternak yang mencatat jenis pakan, jumlah yang diberikan, dan respons ternaknya akan lebih mudah menemukan penyebab persoalan bila suatu hari ternaknya bermasalah, dan catatan tersebut juga berguna bila ia berkonsultasi dengan penyuluh peternakan.
Sebagai penutup, pakan kambing yang baik di Magelang tidak harus mahal dan tidak harus rumit. Hijauan yang beragam dari pekarangan dan lahan sekitar, leguminosa secukupnya sebagai sumber protein, konsentrat dari bahan lokal sebagai pelengkap untuk fase yang membutuhkan, mineral dan garam dalam jumlah kecil, serta air bersih yang selalu tersedia sudah cukup untuk membangun usaha ternak yang sehat dan berkelanjutan. Artikel ini sengaja tidak menulis resep takaran per ekor yang kaku, karena kebutuhan setiap kandang berbeda menurut bobot ternak, fase produksi, dan jenis pakan yang tersedia, dan resep yang ditulis tanpa keterangan tersebut justru berisiko menyesatkan. Peternak yang ingin menyusun ransum yang lebih rinci dapat berkonsultasi dengan penyuluh peternakan di wilayahnya, dengan membawa keterangan tentang jenis kambing, jumlah ternak, dan bahan pakan yang tersedia di sekitar kandangnya.
Usaha ternak kambing di Magelang memiliki masa depan yang baik, karena pasar daging dan susu kambing terus ada, bahan pakan lokal melimpah, dan pengetahuan peternak semakin terbuka melalui kelompok ternak dan pendampingan. Artikel-artikel KabarTidar tentang peternakan lereng Magelang, tentang kambing Peranakan Etawa Magelang, dan tentang kambing Jawarandu Magelang menunjukkan bahwa ternak kambing bukan sekadar usaha sampingan, melainkan bagian dari ekonomi pedesaan yang diorganisasikan secara bersama. Dengan pakan yang disusun dengan benar, diberikan secara teratur, dan diubah secara bertahap, peternak Magelang dapat menjaga ternaknya tetap sehat, tumbuh dengan baik, dan berproduksi secara berkelanjutan dari musim hujan hingga musim kemarau.


