Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Ekonomi » Kambing Jawarandu, Persilangan Etawa dan Kacang untuk Peternak…
Ekonomi

Kambing Jawarandu, Persilangan Etawa dan Kacang untuk Peternak Rakyat

Dari kandang pekarangan hingga pasar hewan, kambing persilangan ini bertahan karena satu paket yang seimbang: tubuh lebih besar dari kambing lokal, tetapi tetap tahan dan mudah dipelihara.

Oleh Intan Larasati Selasa, 27 Oktober 2026 · 18.28 WIB
Kambing jawarandu di kandang panggung kayu diberi hijauan segar oleh peternak di pekarangan desa
Ilustrasi seekor kambing jawarandu di kandang panggung kayu yang diberi seikat hijauan segar oleh peternak di pekarangan desa. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, KabarTidar. Kambing jawarandu adalah kambing hasil persilangan antara kambing Jawa dan kambing Etawa yang sudah lama dipelihara peternak rakyat di Jawa Tengah. Di banyak kandang kampung, kambing ini dikenal sebagai ternak yang tidak rewel, mudah dipelihara dengan pakan hijauan yang tersedia di sekitar rumah, dan tetap memberi hasil berupa daging, anak, dan susu. Artikel ini mengulas kambing jawarandu dari asal usulnya, ciri fisiknya, keunggulannya, hingga cara merawatnya, dengan merujuk pada literatur peternakan yang tersedia dan pada panduan budidaya kambing yang diterbitkan lembaga resmi.

Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk meluruskan satu hal. Kambing jawarandu bukan ras murni yang turun dari satu garis keturunan tunggal dengan standar yang seragam di semua daerah. Ia adalah populasi hasil persilangan, sehingga penampilannya bisa bervariasi dari satu kandang ke kandang lain. Variasi itu bukan kekurangan, melainkan ciri khas ternak persilangan rakyat yang terbentuk selama bergenerasi-generasi di tangan peternak. Karena itu, artikel ini tidak memaksakan satu angka produksi atau satu ukuran tubuh sebagai patokan mutlak, melainkan menjelaskan rentang sifat yang dilaporkan literatur dan prinsip pemeliharaan yang membuat ternak ini tetap produktif.

Bagi pembaca yang sudah mengenal kambing Peranakan Etawa, kambing jawarandu akan terasa akrab sekaligus berbeda. Keduanya sama-sama membawa darah Etawa, tetapi kadar dan arah seleksinya tidak sama. Perbedaan itu dibahas dalam artikel KabarTidar tentang kambing Peranakan Etawa Magelang, yang mengulas ras dwiguna yang lebih menonjol sisi perahnya. Kambing jawarandu berada pada posisi yang lebih membumi, yaitu ternak rakyat yang mengutamakan ketahanan tubuh dan kemudahan pemeliharaan, dengan susu sebagai hasil tambahan yang tetap berharga. Pemahaman tentang posisi ini membantu calon peternak menentukan pilihan secara jujur, bukan sekadar mengikuti tren.

Asal Usul Kambing Jawarandu dari Persilangan Jawa dan Etawa

Nama jawarandu berasal dari sebutan Jawa Randu, yaitu kambing Jawa yang sudah bersilangan dengan kambing Etawa. Jurnal Wilayah dan Lingkungan Universitas Diponegoro dalam kajian tentang Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap, menyebut kambing Jawa Randu sebagai hasil persilangan kambing Jawa dengan Etawa, dan mencatat bahwa kecamatan tersebut menjadi sentra peternakan kambing Jawa Randu yang dikembangkan sebagian besar masyarakat setempat. Kajian itu juga mencatat bahwa hasil peternakan kambing Jawa Randu banyak diminati, tidak hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh pembeli dari luar daerah bahkan luar provinsi, dengan konsumen yang berasal dari Banyumas, Banjarnegara, Purworejo, Kebumen, Jawa Barat, dan kota-kota di sekitarnya.

Penamaan yang sama muncul dalam literatur lain dengan ejaan yang sedikit berbeda. Buletin Veteriner Udayana tahun 2025 menyebut Jawa Randu, dengan nama lain Bligon, sebagai salah satu hasil persilangan Etawa dengan kambing lokal di Indonesia, sejajar dengan Senduro dan Sapera. Artinya, jawarandu adalah bagian dari keluarga besar kambing persilangan Etawa yang terbentuk di berbagai daerah, masing-masing dengan penyesuaian terhadap lingkungan dan selera peternak setempat. Di Yogyakarta, nama Bligon lebih populer, sedangkan di Jawa Tengah bagian barat dan tengah, nama Jawa Randu atau jawarandu lebih sering dipakai. Perbedaan nama ini tidak mengubah hakikatnya, yaitu kambing lokal yang mendapat tambahan darah Etawa.

Untuk memahami asal usul ini, perlu diingat siapa kedua tetuanya. Kambing Etawa berasal dari India dan dikenal sebagai kambing Jamnapari, dengan tubuh besar, telinga panjang yang terkulai, dan profil muka cembung. Kambing ini dibawa ke Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dan pertama kali berkembang biak di Jawa Tengah, menurut penjelasan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari. Sementara itu, kambing Jawa dan kambing Kacang adalah kambing lokal Indonesia yang bertubuh lebih kecil, tetapi dikenal tahan terhadap lingkungan setempat dan memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. Persilangan keduanya melahirkan ternak yang mencoba mengambil jalan tengah, yaitu tubuh yang lebih besar daripada kambing lokal murni, tetapi tetap lebih adaptif dan lebih mudah dipelihara daripada Etawa murni.

Proses persilangan rakyat umumnya tidak berjalan melalui satu program pemuliaan yang tercatat rapi seperti di balai pembibitan. Peternak mengawinkan kambing betina lokal dengan pejantan berdarah Etawa, lalu memilih anak-anak yang tumbuh baik, beranak baik, dan mudah dipelihara untuk dikawinkan kembali. Selama bergenerasi-generasi, cara seperti ini menghasilkan populasi yang beragam, tetapi secara umum mengarah pada kambing yang lebih besar daripada tetua lokalnya dan lebih tahan daripada tetua Etawanya. Kajian Universitas Diponegoro tentang Karangpucung juga mengingatkan sisi lain dari proses ini, yaitu bahwa pengembangan kambing Jawa Randu selama ini masih banyak dilakukan secara tradisional dan turun temurun, bahkan sebagian masih bersifat subsisten atau hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, dan belum berorientasi pada agribisnis secara menyeluruh.

Catatan itu penting bagi Magelang. Kabupaten Magelang memiliki bentang wilayah dari dataran hingga lereng gunung, dengan ketersediaan hijauan dan pola usaha tani yang berbeda-beda antar kecamatan. Kambing persilangan seperti jawarandu cocok dengan kondisi semacam ini justru karena ia terbentuk dari seleksi lapangan, bukan dari kandang percobaan yang serba terkontrol. Peternak di lereng yang berhawa dingin dan peternak di dataran yang berhawa panas sama-sama bisa memelihara jawarandu, asalkan pakan dan kandangnya disesuaikan. Sejarah persilangannya yang berakar di Jawa Tengah juga membuat ternak ini terasa dekat dengan budaya ternak Jawa, di mana ternak disebut rojo koyo, raja kekayaan, karena berfungsi sebagai tabungan keluarga yang bisa dijual saat dibutuhkan.

Ciri Fisik Kambing Jawarandu yang Bervariasi

Ciri fisik kambing jawarandu paling mudah dipahami sebagai perpaduan antara kedua tetuanya. Dari Etawa, ia mewarisi kecenderungan telinga yang lebih panjang dan profil muka yang lebih cembung daripada kambing lokal murni. Dari kambing Jawa dan Kacang, ia mewarisi tubuh yang lebih kompak dan proporsi yang lebih sederhana. Hasilnya adalah kambing yang terlihat lebih besar daripada kambing Kacang, tetapi tidak sebesar dan tidak semencolok kambing Peranakan Etawa yang telinganya sangat panjang dan terkulai penuh. Peternak berpengalaman biasanya bisa membedakan jawarandu dari kedua tetuanya hanya dengan melihat telinga dan wajahnya, meskipun batasnya tidak selalu tajam.

Penelitian tentang sifat kualitatif persilangan kambing Peranakan Etawa dengan kambing Kacang di Kota Gorontalo memberi gambaran konkret tentang variasi ini. Penelitian yang dilaksanakan pada Desember 2015 hingga Januari 2016 itu menggunakan 61 ekor kambing Kacang, 30 ekor kambing Peranakan Etawa, dan 88 ekor persilangan Peranakan Etawa dengan Kacang, semuanya betina. Hasilnya menunjukkan bahwa warna bulu kambing Peranakan Etawa dan kambing Kacang adalah hitam, putih, dan coklat, sedangkan pada persilangan muncul tambahan warna abu-abu. Pola dan kombinasi warna bulu pada persilangan pun lebih beragam, meliputi hitam polos, coklat polos, putih polos, kombinasi hitam putih, kombinasi coklat putih, kombinasi coklat hitam putih, kombinasi abu-abu putih hitam, kombinasi abu-abu putih, dan kombinasi hitam abu-abu.

Penelitian yang sama juga menemukan perbedaan pada garis muka dan bentuk telinga. Garis muka pada kambing Peranakan Etawa, kambing Kacang, dan persilangannya terdiri atas bentuk cembung dan datar, dengan perbedaan yang nyata antar kelompok. Bentuk telinga terdiri atas telinga berdiri, setengah menjuntai, dan menjuntai ke bawah, juga dengan perbedaan yang nyata. Sebaliknya, bentuk tanduk dan bentuk punggung tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, dengan tanduk yang bisa berupa bertanduk, tidak bertanduk, atau benjolan tanduk, serta punggung yang bisa lurus atau cembung. Temuan ini menegaskan bahwa pembeli bibit jawarandu tidak boleh mengharapkan penampilan yang seragam seperti ras murni yang sudah distandardisasi, karena keragaman adalah sifat bawaan populasi persilangan.

Warna dan pola bulu yang beragam itu tidak menentukan kualitas seekor jawarandu secara langsung. Di kalangan peternak, ada selera warna tertentu yang dianggap menarik, tetapi selera itu bersifat pasar dan budaya, bukan ukuran produktivitas. Yang lebih menentukan adalah keserasian tubuh, kondisi ambing pada betina, kondisi skrotum pada pejantan, kaki yang lurus dan kuat, gigi yang lengkap sesuai tahap pertumbuhan, serta tidak adanya cacat. Prinsip memilih bibit yang baik yang diuraikan dalam panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari untuk kambing Peranakan Etawa tetap relevan dipakai sebagai patokan umum, karena ciri-ciri tubuh yang sehat berlaku untuk semua kambing, apa pun persilangannya.

Ukuran tubuh jawarandu juga bervariasi menurut pakan, jenis kelamin, dan umur. Sebagai gambaran tentang rentang yang ditemui di lapangan, bukan sebagai standar ras, sebuah penelitian tentang pakan kambing jawarandu yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis menggunakan 12 ekor kambing jawarandu jantan dengan bobot rata-rata 20 kilogram sebagai materi penelitian. Angka itu menggambarkan bobot kambing muda pada kondisi penelitian tersebut, bukan bobot dewasa jawarandu secara umum, dan tidak boleh dipakai sebagai patokan harga atau patokan panen. Pelajaran yang bisa diambil justru sebaliknya, yaitu bahwa bobot seekor kambing sangat ditentukan oleh umur dan pakan, sehingga membandingkan bobot tanpa menyebut umur dan kondisi pemeliharaan adalah perbandingan yang menyesatkan.

Kambing Jawarandu sebagai Ternak Dwiguna

Kambing jawarandu digolongkan sebagai ternak dwiguna, yaitu bisa menghasilkan daging dan susu, meskipun penekanan keduanya tidak seimbang seperti pada kambing perah khusus. Sisi dagingnya lebih menonjol dalam kehidupan sehari-hari peternak rakyat, karena anak jantan yang lahir bisa dibesarkan untuk dijual sebagai pedaging, dan induk yang sudah tidak produktif masih memiliki nilai jual. Sisi susunya bersifat tambahan, yaitu induk yang sedang menyusui bisa diperah sebagian susunya untuk konsumsi keluarga atau dijual dalam skala kecil, selama anaknya tetap mendapat susu yang cukup. Keseimbangan inilah yang membuat jawarandu terasa masuk akal bagi keluarga tani, karena satu jenis ternak memberi lebih dari satu bentuk hasil.

Perbandingan dengan kambing Peranakan Etawa membantu menempatkan posisi jawarandu secara jujur. Kambing Peranakan Etawa sudah diarahkan lebih kuat ke arah perah, dengan ambing yang lebih menonjol dan produksi susu yang lebih sering dicatat dalam literatur, misalnya sekitar 1 sampai 2 liter per hari menurut Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari, dengan rentang yang bisa berbeda menurut pakan dan manajemen. Kambing jawarandu tidak memiliki angka produksi susu tunggal yang disepakati literatur seperti itu, karena populasinya beragam dan belum banyak dicatat dalam kondisi yang seragam. Calon peternak yang dijanjikan angka susu jawarandu yang sangat tinggi sebaiknya meminta bukti catatan produksi induknya, bukan sekadar janji penjual, karena angka tertinggi hanya tercapai bila pakan, kesehatan, dan manajemen pemerahan semuanya terpenuhi.

Susu kambing secara umum, termasuk susu dari kambing persilangan seperti jawarandu, memiliki sifat yang membuatnya diminati. Susu kambing dipercaya memiliki nilai gizi yang tinggi, dan pembahasan tentang kandungan serta keunggulan susu kambing dapat dibaca dalam artikel KabarTidar tentang susu kambing Etawa. Namun perlu ditegaskan bahwa susu adalah pangan bergizi, bukan obat, dan klaim kesehatan yang berlebihan perlu disikapi dengan bijak. Susu dari ternak yang sakit tidak boleh dicampur dengan susu dari ternak yang sehat, dan susu sebaiknya ditangani secara higienis serta direbus atau dipasteurisasi sebelum dikonsumsi, sesuai anjuran keamanan pangan yang berlaku umum.

Sisi daging jawarandu berkaitan erat dengan pasar yang sudah dikenal peternak Magelang. Daging kambing memiliki musim permintaan yang memuncak menjelang hari raya kurban, sehingga peternak bisa merencanakan waktu panen agar berpapasan dengan musim tersebut. Anak jantan yang dibesarkan dengan pakan yang cukup dan kesehatan yang terjaga akan mencapai kondisi jual yang lebih baik daripada anak yang dipelihara seadanya. Di sinilah perbedaan antara beternak sebagai sambilan yang tidak terurus dan beternak sebagai usaha keluarga yang dikelola dengan sungguh-sungguh menjadi nyata, karena pakan dan perawatan yang sama-sama sederhana bisa menghasilkan bobot dan harga yang berbeda.

Selain daging dan susu, jawarandu juga memberi hasil sampingan yang sering tidak dihitung, tetapi nyata nilainya. Kotoran kambing adalah pupuk kandang yang baik untuk kebun dan sawah, dan bagi keluarga tani di Magelang, pupuk kandang dari kandang sendiri mengurangi ketergantungan pada pupuk beli. Kulit kambing juga memiliki nilai, dan kajian Universitas Diponegoro tentang Karangpucung bahkan menghitung variasi pengolahan hasil, termasuk pengolahan kulit menjadi kerupuk kulit dalam analisis kelayakan usahanya, sebagai contoh diversifikasi yang bisa meningkatkan pendapatan peternak bila dikelola secara agribisnis. Hasil sampingan ini tidak menjadikan jawarandu sebagai ternak yang istimewa, tetapi menegaskan bahwa ternak rakyat memberi manfaat yang berlapis bagi rumah tangga yang memeliharanya.

Mengapa Kambing Jawarandu Cocok untuk Peternak Rakyat

Alasan pertama peternak rakyat memilih kambing jawarandu adalah kemampuan adaptasinya. Kambing ini mewarisi ketahanan kambing lokal terhadap iklim, pakan yang beragam, dan kondisi kandang yang sederhana, sekaligus mendapat tambahan ukuran tubuh dari darah Etawa. Literatur peternakan secara konsisten menyebut kambing persilangan Etawa memiliki daya tahan dan kemampuan beradaptasi yang baik terhadap lingkungan Indonesia, dan sifat itu tampak pada jawarandu yang tersebar di pedesaan Jawa Tengah. Bagi Magelang yang wilayahnya membentang dari dataran hingga lereng gunung, kemampuan adaptasi ini adalah modal yang sangat berharga, karena ternak yang mudah stres karena perubahan lingkungan akan sulit berproduksi.

Alasan kedua adalah kebutuhan lahan yang tidak luas. Kambing jawarandu bisa dipelihara dalam skala kecil, dengan pola yang paling umum di pedesaan adalah beberapa ekor per keluarga, di kandang belakang rumah atau di lahan pekarangan. Pola ini cocok dengan tenaga kerja keluarga dan cocok pula dengan ketersediaan hijauan yang dicari atau ditanam di sekitar rumah. Peternak tidak harus memiliki padang penggembalaan yang luas, karena pakan bisa dicari, ditanam, atau dibeli dari sekitar. Pola ini juga membuat risiko usaha lebih terkendali, karena kerugian dari satu ekor yang sakit tidak langsung menghancurkan seluruh usaha.

Alasan ketiga adalah tingkat kesuburan tetua lokalnya. Kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia dan tergolong tipe pedaging, dan menurut literatur yang dikutip dalam Jurnal Animal Agriculture Universitas Diponegoro, kambing Kacang dapat beranak tunggal maupun kembar, dengan rata-rata litter size 2 ekor menurut Sitepoe pada tahun 2008. Meskipun kambing Kacang mempunyai tingkat kesuburan tinggi, jumlah bangsa kambing ini makin berkurang karena tingginya angka pemotongan untuk produksi daging dan sangat sedikit upaya yang diarahkan ke pemuliabiakan serta seleksi, menurut Devendra dan Burns pada tahun 1994 yang dikutip dalam jurnal yang sama. Warisan kesuburan inilah yang membuat jawarandu berpotensi melahirkan anak kembar, meskipun capaian nyata di setiap kandang tetap ditentukan oleh pakan, umur induk, dan kesehatan.

Alasan keempat adalah fungsi tabungan yang sudah mengakar dalam budaya Jawa. Sebagaimana telah disinggung, ternak dalam tradisi Jawa disebut rojo koyo, raja kekayaan, karena berfungsi sebagai tabungan keluarga yang bisa dijual saat dibutuhkan, misalnya untuk biaya sekolah, biaya berobat, atau keperluan mendesak lainnya. Kambing jawarandu menjalankan fungsi ini dengan sangat baik, karena selain bisa dijual sewaktu-waktu, ia juga melahirkan anak yang bisa menjadi tambahan modal. Kombinasi tabungan jangka panjang dari ternaknya dan hasil harian atau musiman dari susu dan anaknya membuat jawarandu terasa seperti rekening yang hidup di kandang.

Alasan kelima adalah pasar yang sudah dikenal dan tidak memerlukan penjelasan panjang kepada pembeli. Pembeli di pasar hewan sudah mengenal jawarandu sebagai kambing kampung yang besar dan sehat, dan kajian Universitas Diponegoro mencatat bahwa konsumen kambing Jawa Randu berasal dari berbagai kabupaten di sekitar Cilacap hingga Jawa Barat. Pasar yang luas ini memberi peternak pilihan, yaitu menjual di pasar hewan setempat, menjual kepada pedagang yang datang ke kandang, atau menjual kepada tetangga yang membutuhkan kambing untuk keperluan kurban dan hajatan. Pilihan yang banyak ini mengurangi ketergantungan pada satu pembeli saja, yang sering menjadi kelemahan peternak kecil.

Namun semua keunggulan itu hanya bekerja bila peternak tidak terjebak pada anggapan bahwa kambing jawarandu bisa dipelihara tanpa modal apa pun. Anggapan bahwa kambing kampung bisa dibiarkan makan apa saja dan tetap gemuk adalah anggapan yang keliru dan menjadi penyebab banyak kegagalan usaha ternak rakyat. Kambing jawarandu memang lebih tahan daripada Etawa murni, tetapi ia tetap membutuhkan pakan yang cukup, kandang yang bersih, dan perhatian terhadap kesehatannya. Ketahanan adalah keunggulan relatif, bukan kekebalan mutlak, dan peternak yang memahami batas ini akan jauh lebih berhasil daripada peternak yang mengandalkan ketahanan semata.

Pakan Kambing Jawarandu, Kunci Pertumbuhan dan Produksi

Tiga prinsip keberhasilan usaha kambing menurut Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari adalah ketersediaan pakan, kualitas bibit yang baik, dan manajemen yang baik, dan ketiganya harus saling mendukung. Prinsip ini dirumuskan untuk kambing Peranakan Etawa, tetapi berlaku sepenuhnya untuk kambing jawarandu, karena pakan adalah faktor yang paling sering menentukan berhasil atau gagalnya usaha ternak rakyat. Banyak kegagalan usaha peternakan disebabkan oleh kekurangan pakan, dan sebelum mendatangkan kambing, peternak sebaiknya menanam rumput dan leguminosa terlebih dahulu, menghitung produksinya agar seimbang dengan jumlah kambing yang akan dipelihara, dan baru mendatangkan kambing setelah hijauan yang ditanam sudah bisa dipanen.

Pemberian pakan pada kambing dalam bentuk segar adalah 10 persen dari bobot badan, menurut panduan balai tersebut. Rumput yang baik diberikan antara lain rumput setaria, rumput benggala, rumput odot, dan rumput lapang, sedangkan leguminosa yang bisa diberikan antara lain daun gamal, daun lamtoro, daun kelor, daun turi, kaliandra, dan sentrosema. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan menambahkan contoh hijauan pokok lain seperti daun nangka dan mahoni, dengan air minum 1,5 sampai 2,5 liter tiap ternak per hari dengan campuran garam beryodium. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore, dengan porsi sore yang lebih banyak agar pada malam hari kambing masih bisa makan.

Pemberian pakan harus bervariasi, karena semakin banyak jenis pakan yang diberikan, semakin lengkap pemenuhan gizi yang dibutuhkan kambing, sehingga pertumbuhan kambing lebih baik. Setiap jenis tanaman memiliki kelebihan dan kekurangan kandungan nutrisi, dan variasi adalah cara termurah untuk melengkapi kekurangan tersebut tanpa harus bergantung pada satu jenis pakan saja. Pemberian leguminosa harus dilayukan terlebih dahulu, yaitu bila diarit hari ini maka baru diberikan keesokan harinya, dengan tujuan menurunkan zat antinutrisi yang terkandung dalam leguminosa sehingga tidak menimbulkan efek terhadap kesehatan kambing.

Ada dua larangan penting dalam pemberian hijauan yang sering dilanggar pemula. Pertama, hijauan pakan ternak tidak boleh diberikan dalam keadaan basah oleh embun pagi, karena bisa mengakibatkan kembung dan cacingan, sebab embun yang menempel pada daun masih terdapat telur cacing. Kedua, pakan tidak boleh diberikan terus menerus tanpa jeda, karena kambing adalah hewan pemamah biak yang membutuhkan waktu untuk mengunyah kembali makanan yang sudah masuk ke lambung. Pengambilan nutrisi yang dibutuhkan ternak justru terjadi saat proses memamah biak itu berlangsung, sehingga kambing yang terus makan tanpa jeda bisa terlihat buncit tetapi tidak gemuk.

Untuk meningkatkan pertumbuhan, pakan segar bisa ditambahkan konsentrat, dan bila harga konsentrat mahal dapat digantikan dengan dedak atau ampas tahu. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan menyebut campuran pakan tambahan bernutrisi berupa konsentrat dan bekatul dengan perbandingan 3 banding 1, atau dengan rincian mudah berupa bekatul 50 persen, bungkil kelapa 25 persen, dan bungkil kacang-kacangan 25 persen. Kambing yang bunting, pejantan pemacek, dan kambing yang menyusui harus diberikan pakan tambahan, karena induk bunting membutuhkan pakan untuk pertumbuhan induk dan janinnya, pejantan membutuhkan kondisi fit agar tetap bisa menjadi pemacek yang baik, dan induk menyusui membutuhkan pakan tambahan agar dapat memproduksi susu dengan maksimal. Namun untuk betina bunting, pakan yang mengandung lemak terlalu banyak tidak boleh diberikan, agar tidak terjadi distokia akibat pertumbuhan janin yang terlalu besar.

Air minum harus selalu tersedia di kandang, dan tempat minum bisa berupa ember, baskom, maupun bambu berukuran besar yang dilubangi bagian atasnya. Sesekali air minum dicampur garam, dan air serta wadah tempat minum harus selalu bersih. Hal yang tampak sepele ini sering menentukan, karena kambing yang kekurangan air akan menurunkan konsumsi pakan dan produksinya, sementara wadah minum yang kotor bisa menjadi sumber penyakit. Penelitian tentang pakan kambing jawarandu yang menambahkan kunyit dan multinutrien blok pada ransum juga mengingatkan hal yang sama dari sisi yang berbeda, yaitu bahwa perbaikan pakan yang kecil dan terukur, seperti penambahan bahan yang bersifat antioksidan alami, bisa berpengaruh pada pertambahan bobot dan daya tahan tubuh, tetapi tidak bisa menggantikan pakan dasar yang cukup dan kandang yang bersih.

Kandang dan Perawatan Harian Kambing Jawarandu

Kandang kambing jawarandu bisa terbuat dari kayu maupun bambu, dengan atap genteng, asbes, atau daun rumbia, dan harus dibuat kokoh serta nyaman bagi ternak. Kandang harus dapat melindungi kambing dari cuaca ekstrem, baik panas maupun hujan, dan sebaiknya menghadap ke timur sehingga sinar matahari pagi masuk ke dalam kandang. Sinar matahari pagi bermanfaat untuk menambah vitamin D pada kambing dan membuat kandang mudah kering. Kandang harus berbentuk panggung dengan lantai yang tidak rapat, dibuat ada jarak atau celah sehingga kotoran dan urine jatuh ke bawah kandang dengan mudah, tetapi lantai jangan terlalu renggang karena kaki kambing bisa terperosok ke sela-sela lantai dan mengakibatkan kaki pincang atau patah.

Tinggi kandang dari tanah minimal satu meter, dan kandang dibagi atas kandang induk, kandang jantan, kandang dara, dan kandang beranak, menurut panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari. Ukuran kandang yang dianjurkan panduan itu adalah 110 sentimeter kali 125 sentimeter per ekor untuk pejantan, 100 sentimeter kali 125 sentimeter per ekor untuk induk dan dara, serta 120 sentimeter kali 120 sentimeter per ekor untuk kandang beranak. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan menambahkan syarat lokasi, yaitu jarak kandang minimal 10 meter dari rumah, kandang tipe panggung sekitar 0,5 meter agar tidak terkena kotoran, wadah pakan setinggi bahu kambing, pemisahan antara kambing jantan dan betina kecuali bila hendak dikawinkan, serta kandang yang mendapat cukup sinar matahari dan terlindung dari angin malam. Perbedaan angka tinggi panggung antara kedua panduan itu wajar, karena keduanya memberi patokan minimal yang berbeda, tetapi pesannya sama, yaitu kandang panggung yang kering dan berventilasi baik.

Perawatan ternak mencakup pemberian makan dan minum, pencukuran bulu, pemotongan kuku, membersihkan kandang, dan perawatan lainnya. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan menyebut kambing dimandikan sebanyak dua kali dalam sebulan, karena ternak yang tidak pernah dimandikan akan lebih mudah terserang penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur. Tujuan perawatan adalah mencegah penyakit yang bersarang pada kuku atau bulunya, dan ternak yang bersih akan terlihat lebih sehat dan menarik, sehingga memiliki harga jual yang lebih tinggi. Sanitasi kandang yang rutin adalah fondasi dari semua perawatan ini, karena kandang yang kotor adalah tempat berkembangnya penyakit yang kemudian menular dari satu ekor ke ekor lain.

Penjelasan tentang budidaya kambing dari Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari dapat dibaca melalui panduan budidaya kambing dari BPTU HPT Pelaihari, sedangkan kajian tentang kambing Jawa Randu di Karangpucung dapat dibaca melalui kajian agribisnis kambing Jawa Randu Universitas Diponegoro. Kedua rujukan ini menjadi sumber utama bagian pemeliharaan dan asal usul dalam artikel ini, dan keduanya sama-sama menekankan hal yang sama, yaitu keberhasilan beternak ditentukan oleh pakan, bibit, kandang, dan kebersihan yang dijalankan setiap hari, bukan oleh satu trik sesaat.

Reproduksi dan Siklus Usaha Kambing Jawarandu

Siklus reproduksi kambing jawarandu mengikuti pola umum kambing tropis, dengan masa bunting sekitar 5 bulan dan kemampuan beranak lebih dari satu kali dalam dua tahun bila perkawinan diatur dengan tepat. Panduan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari untuk kambing Peranakan Etawa menyebut kambing bisa beranak tiga kali dalam dua tahun, dengan betina sebaiknya dikawinkan pada usia minimal 10 sampai 12 bulan, pejantan pada usia minimal 15 bulan, rasio jantan dan betina 1 banding 10, siklus birahi 18 sampai 21 hari, dan waktu yang tepat untuk mengawinkan adalah pada saat birahi kedua setelah melahirkan. Angka-angka ini dipakai di sini sebagai patokan umum kambing persilangan Etawa, bukan sebagai standar resmi jawarandu, karena literatur jawarandu yang spesifik belum mencatat siklusnya secara terpisah dengan cara yang sama.

Tanda birahi pada betina bisa dikenali dari tingkah lakunya, yaitu terlihat gelisah, nafsu makan dan minum turun, selalu mengibaskan ekornya, sering kencing, serta organ kemaluannya membengkak dan basah. Bila tanda-tanda itu terlihat, peternak harus segera mengawinkan betina, baik dengan cara langsung maupun dengan inseminasi buatan. Lama waktu birahi umumnya sekitar 1 sampai 2 hari, dengan siklus birahi yang berselang selama 2 sampai 3 minggu menurut panduan Grobogan. Pengenalan tanda birahi adalah keterampilan yang membedakan peternak yang siklus usahanya teratur dengan peternak yang jarak beranaknya memanjang tanpa sebab yang jelas.

Untuk menentukan umur kambing, peternak bisa melihat pertumbuhan gigi. Gigi yang belum berganti menandakan umur kurang dari satu tahun, satu pasang gigi berganti menandakan umur 1 sampai 1,5 tahun, dua pasang berganti menandakan umur 1,5 sampai 2 tahun, tiga pasang berganti menandakan umur 2 sampai 2,5 tahun, empat pasang berganti menandakan umur 3 sampai 4 tahun, dan gigi tetap yang sudah bergesek menandakan umur 4 tahun. Pengetahuan ini penting saat membeli bibit, karena umur yang diklaim penjual bisa diperiksa secara kasar dari giginya, dan umur menentukan harga serta masa produktif yang tersisa.

Panen kambing jawarandu juga memiliki waktunya sendiri. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Grobogan menyebut kambing yang siap panen adalah kambing yang sudah menginjak usia dewasa, yakni usia sekitar 8 sampai 12 bulan, dan panen dilakukan setiap tahun, sedangkan bila peternak ingin menjual dengan bobot maksimal atau untuk diikutkan kontes, maka umur 1,5 tahun adalah yang paling ideal. Panduan yang sama menyarankan mengusahakan masa panen berpapasan dengan Hari Raya Idul Adha agar harga jual menjadi lebih tinggi. Saran ini berlaku untuk jawarandu sebagaimana berlaku untuk kambing pedaging pada umumnya, tetapi harga di Magelang pada saat panen tetap harus diperiksa ke pasar setempat, karena harga antar daerah dan antar musim bisa berbeda.

Pencatatan adalah kebiasaan kecil yang membedakan usaha yang berkembang dengan usaha yang jalan di tempat. Peternak yang mencatat tanggal kawin, tanggal beranak, jumlah anak, kematian anak, dan pemberian obat akan bisa melihat pola yang tidak terlihat dari ingatan semata, misalnya induk mana yang selalu melahirkan anak kembar, induk mana yang susunya cepat kering, dan pejantan mana yang anaknya tumbuh paling cepat. Kajian Universitas Diponegoro tentang Karangpucung menunjukkan bahwa peternakan kambing Jawa Randu yang dikelola tanpa pencatatan dan tanpa orientasi agribisnis hanya menghasilkan pendapatan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan pengelolaan yang lebih terencana membuka peluang pendapatan yang jauh lebih besar. Pencatatan tidak memerlukan buku yang mewah, cukup satu buku tulis di kandang yang diisi setiap ada kejadian penting.

Penyakit yang Perlu Diwaspadai pada Kambing Jawarandu

Faktor utama untuk mencegah penyakit pada kambing adalah kebersihan, baik kebersihan kandang, tempat minum, maupun ternaknya. Penyakit yang sering terjadi pada kambing menurut Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari antara lain kembung perut, cacingan, orf, sakit mata, dan scabies. Kembung perut disebabkan oleh terlalu banyak memakan rumput muda atau rumput berembun sehingga menimbulkan penumpukan gas dalam rumen, dengan ciri perut sebelah kiri kelihatan menggembung dan kambing kelihatan kesakitan serta sulit buang kotoran. Cacingan disebabkan oleh penggembalaan pada lahan yang masih berembun pagi serta kandang yang kotor dan becek, dengan ciri bulu kusam dan rontok, kurus, dan perut buncit.

Orf disebabkan oleh virus parapox, dengan ciri terbentuk koreng seperti kutil di sekitar mulut kambing, dan pencegahannya adalah pemisahan kambing yang terkena orf dari kambing yang sehat. Sakit mata disebabkan oleh mata kambing yang terkena amoniak atau tiupan angin saat transportasi, dengan ciri mata bagian putih memerah dan mata bagian hitam memutih. Scabies disebabkan oleh Sarcoptes scabiei, dengan ciri kulit mengeras, gundul, dan berkerak, dan pencegahannya juga pemisahan kambing yang terkena dari kambing yang sehat. Daftar penyakit ini bukan untuk menakut-nakuti calon peternak, melainkan untuk menunjukkan bahwa sebagian besar penyakit kambing berakar pada kebersihan dan manajemen, sehingga sebagian besar pula bisa dicegah dengan kandang yang bersih, pakan yang benar, dan pemisahan ternak yang sakit.

Satu masalah kesehatan yang sangat relevan bagi jawarandu adalah cacingan, karena kambing persilangan rakyat umumnya dipelihara dengan penggembalaan atau pemberian hijauan segar yang dicari dari lahan sekitar. Penelitian tentang helmintiasis pada kambing jawarandu di beberapa lokasi di Kabupaten Ngawi yang disusun di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2025 menunjukkan bahwa masalah cacing saluran pencernaan pada jawarandu memang menjadi perhatian penelitian kedokteran hewan. Temuan semacam ini menegaskan pentingnya pemberian obat cacing secara berkala sesuai anjuran dokter hewan atau petugas kesehatan hewan, pemberian hijauan yang sudah dilayukan dan tidak berembun, serta kandang yang kering dan tidak becek.

Satu penyakit yang sangat merugikan usaha perah secara khusus adalah mastitis, yaitu peradangan pada ambing. Literatur peternakan menyebut mastitis sangat merugikan peternak karena kambing perah yang terkena mastitis akan mengalami penurunan produksi susu dan kualitas susu yang dihasilkan juga rendah, selain menambah biaya perawatan dan pengobatan. Kesehatan ambing selama laktasi menjadi sangat penting dalam menunjang produksi dan kualitas susu, sehingga kebersihan saat pemerahan, kebersihan kandang, dan pemantauan ambing setiap hari adalah bagian dari pekerjaan perah, bukan tambahan yang bisa ditunda. Ternak yang sakit perlu ditangani dengan bantuan dokter hewan atau petugas kesehatan hewan setempat, dan susu dari ternak yang sakit tidak boleh dicampur dengan susu dari ternak yang sehat.

Vaksinasi secara rutin sesuai jadwal yang ditentukan oleh dokter hewan, pemotongan kuku secara teratur, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala adalah tiga kebiasaan yang melengkapi kebersihan kandang. Bagi peternak pemula di Magelang, bergabung dengan kelompok atau perkumpulan peternak adalah jalan pintas yang sah untuk mendapat akses ke vaksinasi, pengetahuan, dan pasar, tanpa harus mempelajari semuanya dari nol sendirian. Kelompok peternak juga memudahkan pengadaan obat cacing dan vitamin secara bersama, sehingga biayanya lebih ringan daripada ditanggung sendiri-sendiri.

Memilih Bibit Kambing Jawarandu yang Baik

Memilih bibit adalah keputusan yang paling menentukan dalam usaha kambing jawarandu, karena kesalahan memilih bibit akan terbawa selama bertahun-tahun. Calon pembeli sebaiknya membeli dari peternak atau kelompok yang terpercaya dan mau menunjukkan induknya, bukan hanya anak yang dijual. Induk yang sehat, beranak baik, dan susunya cukup adalah pertanda yang lebih bisa dipercaya daripada penampilan anak semata. Bila penjual tidak bisa menunjukkan induk atau tidak bisa menjelaskan umur dan riwayat kesehatan ternaknya, calon pembeli sebaiknya menunda pembelian dan mencari penjual lain.

Secara fisik, calon induk yang baik memiliki tubuh yang kompak, kaki yang lurus dan kuat, gigi yang lengkap sesuai tahap pertumbuhan, ambing yang simetris dan tidak bengkak atau keras, serta tidak cacat. Calon pejantan yang baik memiliki tubuh besar, gelambir yang jelas, ekor yang melengkung ke atas, bulu yang bersih dan mengkilat, keturunan kembar bila informasinya tersedia, serta skrotum yang besar, simetris, dan turun ke bawah. Patokan ini diadaptasi dari standar calon induk dan pejantan kambing Peranakan Etawa dalam panduan balai, dan dipakai di sini sebagai patokan umum memilih kambing yang sehat, bukan sebagai standar resmi jawarandu yang mengikat.

Harga bibit jawarandu tidak bisa dipatok dengan satu angka dalam artikel ini, karena harga sangat dipengaruhi umur, jenis kelamin, kondisi tubuh, dan pasar setempat pada saat pembelian. Calon pembeli sebaiknya membandingkan harga di pasar hewan dan di kandang peternak sebelum memutuskan, dan sebaiknya tidak membeli hanya karena harga paling murah, karena ternak yang murah tetapi sakit atau sudah tua bisa jauh lebih mahal pada akhirnya. Sebaliknya, harga yang paling mahal pun tidak menjamin kualitas bila tidak disertai riwayat yang jelas. Prinsip yang paling aman adalah membeli ternak yang sehat dengan riwayat yang bisa diverifikasi, dengan harga yang wajar menurut pasar setempat.

Satu kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah membeli terlalu banyak ekor sekaligus pada awal usaha. Skala yang dianjurkan untuk pemula adalah memulai dari beberapa ekor, mempelajari pakan, kandang, dan kesehatan sambil berjalan, dan baru menambah jumlah setelah hijauan dan pengalaman sudah mencukupi. Kajian Universitas Diponegoro tentang Karangpucung mengingatkan bahwa peternakan kambing Jawa Randu di pedesaan umumnya masih berskala kecil, dan pengembangan menuju agribisnis memerlukan perbaikan pada subsistem hulu, budidaya, dan kelembagaan pendukung secara bersamaan, bukan sekadar menambah jumlah ternak. Menambah ternak tanpa menambah pakan hanya akan membuat semua ternak kurus secara bersamaan.

Penutup, Kambing Jawarandu sebagai Pilihan yang Masuk Akal

Pada akhirnya, kambing jawarandu menjadi pilihan yang masuk akal bagi peternak rakyat bukan karena satu keunggulan saja, melainkan karena paketnya yang seimbang. Ia mewarisi tubuh yang lebih besar dari darah Etawa, tetapi tetap membawa ketahanan dan kesuburan kambing lokal Indonesia. Ia menghasilkan daging sebagai hasil utama, susu sebagai hasil tambahan, anak sebagai tambahan modal, dan pupuk kandang sebagai hasil sampingan untuk kebun. Ia bisa dipelihara dalam skala kecil dengan lahan yang tidak luas, dan ia memiliki fungsi tabungan yang sudah dipahami budaya Jawa selama bergenerasi-generasi.

Namun paket seimbang itu hanya bekerja bila tiga prinsipnya dijalankan, yaitu pakan yang cukup dan bervariasi, bibit yang baik, dan manajemen yang baik. Peternak yang membeli bibit bagus tetapi memberi pakan seadanya akan kecewa dengan pertumbuhannya. Peternak yang memberi pakan bagus tetapi mengabaikan kebersihan kandang akan kehilangan produksi karena penyakit. Peternak yang mengurus keduanya tetapi tidak mencatat siklus birahi dan beranak akan kehilangan keteraturan usaha. Keberhasilan beternak jawarandu adalah keberhasilan mengelola hal-hal dasar secara konsisten, bukan keberhasilan menemukan rahasia yang tersembunyi.

Bagi warga Magelang yang tertarik memulai, langkah paling masuk akal adalah memulai dari skala kecil, memilih bibit dari peternak atau kelompok yang terpercaya, menanam hijauan sebelum mendatangkan ternak, dan menjalin hubungan dengan kelompok peternak setempat. Dari sanalah pengetahuan praktis tentang pakan, kandang, kesehatan, dan pasar bisa diperoleh sambil berjalan, dan dari sanalah kambing jawarandu bisa berubah dari sekadar hewan di kandang menjadi usaha keluarga yang bertahan lama dan memberi manfaat yang berlapis bagi rumah tangga yang memeliharanya.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *