Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Ekonomi » Kambing Boer, Ras Pedaging dari Afrika Selatan untuk…
Ekonomi

Kambing Boer, Ras Pedaging dari Afrika Selatan untuk Peternak Magelang

Setelah Etawa yang dwiguna, inilah ras pedaging murni dari Afrika Selatan: besar, cepat tumbuh, dan terbiasa merumput di lahan semak, dengan catatan penerapannya di Magelang.

Oleh Intan Larasati Selasa, 27 Oktober 2026 · 18.04 WIB
Ilustrasi kambing Boer bertubuh putih dan berkepala cokelat kemerahan berdiri di padang rumput
Ilustrasi seekor kambing Boer bertubuh putih dan berkepala cokelat kemerahan berdiri di padang rumput berpagar kayu. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, KabarTidar. Kambing Boer adalah ras kambing pedaging asal Afrika Selatan yang paling mudah dikenali dari tubuhnya yang putih dan kepalanya yang berwarna merah kecokelatan, telinganya yang panjang dan terkulai, serta tubuhnya yang besar, kekar, dan berotot. Ras ini melengkapi seri ras kambing yang telah diterbitkan KabarTidar, karena setelah mengulas kambing Peranakan Etawa yang dwiguna sebagai penghasil susu dan daging, kini giliran ras yang sejak awal dibentuk khusus untuk daging, yaitu Boer. Bagi peternak di Kabupaten Magelang yang selama ini mengenal kambing perah dan kambing pedaging lokal, Boer menawarkan pembanding yang menarik, yaitu ras yang pertumbuhannya cepat, karkasnya baik, dan kemampuannya merumput di lahan semak sudah teruji di tanah asalnya yang kering dan panas, meskipun penerapannya di Magelang tetap harus disesuaikan dengan iklim, pakan, dan pasar setempat.

Nama Boer sendiri berasal dari kata dalam bahasa Belanda dan Afrikaans yang berarti petani, dan nama itu melekat karena ras ini dikembangkan oleh para petani di wilayah Eastern Cape, Afrika Selatan, dari kambing-kambing lokal yang mereka pelihara. Boer bukan ras yang ditemukan begitu saja di alam, melainkan hasil seleksi yang dilakukan secara sadar selama bergenerasi-generasi, yaitu memilih kambing yang tubuhnya besar, pertumbuhannya cepat, dagingnya baik, dan mampu bertahan dengan merumput di padang semak berduri. Sejarah seleksi itu penting dipahami peternak, karena ia menjelaskan mengapa Boer tampak berbeda dengan kambing lokal Indonesia, yaitu bukan karena Boer berasal dari iklim yang sama, melainkan karena Boer dibentuk untuk menjawab persoalan yang mirip, yaitu bagaimana menghasilkan daging dari lahan yang tidak subur dan dari pakan yang tidak selalu melimpah.

Perbandingan dengan kambing Peranakan Etawa membantu menempatkan Boer pada tempat yang tepat. Sebagaimana diulas dalam artikel KabarTidar tentang kambing Peranakan Etawa di Magelang, ras Peranakan Etawa adalah hasil persilangan antara kambing Etawa dari India dan kambing lokal Indonesia, dengan telinga panjang yang berlipat, muka cembung, dan peran dwiguna sebagai penghasil susu dan daging, serta produksi susu sekitar satu sampai dua liter per hari menurut Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari. Boer berbeda pada titik itu, karena Boer adalah ras pedaging murni, yang susunya memang ada tetapi bukan tujuan utama pemeliharaannya, dan keunggulannya terletak pada pertumbuhan, otot, dan karkas, bukan pada produksi susu harian. Peternak yang sudah memelihara Peranakan Etawa untuk susu tidak perlu mengganti seluruh ternaknya dengan Boer, melainkan dapat memahami Boer sebagai pilihan lain, yaitu untuk usaha pedaging, untuk persilangan perbaikan daging, atau untuk diversifikasi usaha yang selama ini hanya mengandalkan susu. Artikel KabarTidar tentang susu kambing Etawa melengkapi perbandingan itu dari sisi produk susu, sehingga pembaca dapat melihat dengan jelas bahwa Etawa unggul pada susu, sedangkan Boer unggul pada daging, dan keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Kambing Boer Berasal dari Eastern Cape, Afrika Selatan

Sejarah kambing Boer bermula dari kambing-kambing yang dipelihara oleh masyarakat Khoikhoi di wilayah Cape, yang kemudian dipelihara oleh para petani Boer di Eastern Cape dan disilangkan dengan pengaruh kambing dari berbagai asal, termasuk kemungkinan pengaruh kambing Angora dan kambing Eropa atau India. Pada tahun 1830-an, berbagai tipe dan warna kambing sudah digambarkan di wilayah itu, dan pada akhir abad kesembilan belas, kambing Boer sudah digambarkan sebagai kambing yang besar dan kuat, dengan profil muka cembung dan telinga terkulai, yang menyerupai kambing Anglo-Nubian. Gambaran itu menunjukkan bahwa ciri Boer yang dikenal sekarang, yaitu tubuh besar, muka cembung, dan telinga terkulai, sudah terbentuk jauh sebelum ada standar ras yang tertulis, yaitu melalui seleksi petani yang memilih kambing yang paling sesuai dengan lahan dan kebutuhan mereka.

Seleksi yang terarah untuk kualitas tertentu dimulai sekitar tahun 1930, mula-mula untuk kemampuan merumput dan untuk jumlah serta mutu daging, dan kemudian juga untuk warna bulu, yaitu tubuh putih dengan kepala merah kecokelatan yang kini menjadi ciri ras tersebut. Tahun 1920 juga disebut sebagai titik awal pembiakan selektif di Eastern Cape untuk kualitas daging dan kemampuan bertahan dengan merumput di padang semak berduri di wilayah itu, sehingga kedua penanda waktu itu, yaitu sekitar 1920 dan sekitar 1930, menggambarkan proses yang sama dari dua sisi, yaitu awal pembiakan selektif dan awal seleksi yang terarah untuk sifat-sifat tertentu. Pada tahun 1959, perkumpulan pembiak kambing Boer, yaitu Boer Goat Breeders Association atau Boerbok Telersvereniging, didirikan di Somerset East, dan pendirian perkumpulan itu menandai bahwa Boer sudah menjadi ras yang terorganisasi, dengan standar, pencatatan, dan pembiak yang saling terhubung, bukan lagi sekadar kumpulan kambing besar milik petani yang terpisah-pisah.

Dari Afrika Selatan, Boer diekspor ke banyak negara di dunia, dan pada tahun 2025, ras ini dilaporkan ke sistem informasi keanekaragaman hewan ternak Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang disebut DAD-IS, oleh tujuh puluh dua negara, dengan tiga puluh negara di antaranya melaporkan data populasi, dan populasi di seluruh dunia diperkirakan mencapai seratus delapan puluh dua ribu delapan ratus enam puluh tiga ekor. Negara-negara yang melaporkan populasi lima ribu ekor atau lebih meliputi Argentina, Australia, Brasil, Chili, Kolombia, Namibia, dan Afrika Selatan, yang menunjukkan bahwa Boer tidak hanya bertahan di tanah asalnya, tetapi juga berkembang di benua Amerika, Australia, dan Afrika. Penyebaran yang luas itu juga menjelaskan mengapa Boer sering dipakai untuk memperbaiki kualitas daging ras lain, karena pembiak di berbagai negara menemukan bahwa persilangan dengan Boer dapat meningkatkan bobot dan karkas keturunan, tanpa harus mengganti seluruh populasi lokal dengan Boer murni. Penjelasan tentang sejarah, ciri, dan penyebaran Boer ini dirangkum dari artikel kambing Boer yang merujuk pada ensiklopedia ras ternak Mason dan data DAD-IS Organisasi Pangan dan Pertanian, dan pembaca yang ingin memeriksa angka-angka itu dapat membuka rujukan tersebut.

Nama lain Boer adalah Boerbok, Improved Boer, dan Veredelde Boerbok, dan standar rasnya dipegang oleh perkumpulan pembiak Boer Afrika Selatan. Status konservasinya menurut Organisasi Pangan dan Pertanian pada tahun 2007 dan menurut DAD-IS pada tahun 2025 adalah tidak berisiko, yang berarti ras ini tidak terancam punah dan populasinya cukup besar serta tersebar luas. Status itu penting bagi peternak yang mempertimbangkan Boer, karena ras yang tidak berisiko lebih mudah dicari bibitnya, lebih banyak literatur pemeliharaannya, dan lebih banyak pembiak yang dapat diajak bertukar pengalaman, dibandingkan dengan ras langka yang bibitnya sulit dan informasinya terbatas. Namun, status tidak berisiko di tingkat dunia tidak berarti Boer murni mudah didapat di setiap daerah di Indonesia, dan peternak Magelang tetap perlu memeriksa ketersediaan bibit, harga, dan kesehatan bibit di pasar setempat, karena artikel ini tidak menetapkan harga atau jumlah populasi Boer di Magelang, yang tidak terverifikasi dalam riset ini.

Ciri Fisik Kambing Boer yang Mudah Dikenali

Ciri yang paling mencolok dari kambing Boer adalah warna bulunya, yaitu tubuh putih dengan kepala merah kecokelatan dan belang putih di muka, serta kulit yang berpigmen. Warna itu bukan sekadar hiasan, karena dalam sejarah seleksi Boer, warna tubuh putih dengan kepala merah kecokelatan dipilih secara sadar setelah seleksi awal untuk daging dan kemampuan merumput, sehingga warna itu menjadi penanda ras yang diakui dalam standar. Bulu Boer mengkilap dan pendek, yang berbeda dengan bulu Peranakan Etawa yang panjang di leher, pundak, punggung, dan paha, dan perbedaan bulu itu membuat Boer tampak lebih ringkas dan lebih mudah dirawat dari sisi bulu, meskipun bulu pendek juga berarti Boer lebih membutuhkan naungan saat hujan dan angin dingin, karena bulunya tidak memberi perlindungan sebanyak bulu panjang.

Ukuran tubuh Boer termasuk besar untuk ukuran kambing. Menurut data DAD-IS yang dikutip dalam ensiklopedia ras ternak, bobot rata-rata kambing Boer jantan dewasa adalah seratus empat belas kilogram, sedangkan bobot rata-rata betina dewasa adalah sembilan puluh empat kilogram, dengan tinggi rata-rata jantan sembilan puluh empat sentimeter dan betina tujuh puluh delapan sentimeter. Angka-angka itu adalah rata-rata, bukan patokan yang harus dicapai setiap ekor, karena bobot nyata dipengaruhi oleh pakan, umur, jenis kelamin, dan kondisi pemeliharaan, tetapi angka itu memberi gambaran mengapa Boer disebut ras besar, yaitu karena jantan dewasanya dapat melampaui seratus kilogram, jauh di atas kambing lokal yang umumnya lebih kecil. Sumber lain yang mengulas Boer menyebut kisaran bobot jantan antara seratus sepuluh sampai seratus tiga puluh lima kilogram dan betina antara sembilan puluh sampai seratus kilogram, yang sejalan dengan rata-rata DAD-IS, dan kisaran itu menunjukkan variasi yang wajar antar individu dan antar populasi.

Telinga Boer berukuran sedang, lebar, terkulai, dan halus, dengan bentuk yang menggantung di sisi kepala, sedangkan tanduknya berwarna gelap, melengkung ke belakang, bulat, dan padat, serta terdapat pada kedua jenis kelamin. Profil muka Boer cembung, dengan hidung yang tertekan dan tanduk yang kuat, dan tubuhnya digambarkan berdada lebar, rusuk yang membulat baik, punggung yang lebar, kaki yang berotot, serta pantat dan paha yang berdaging baik. Kombinasi dada lebar, punggung lebar, dan paha berdaging adalah ciri tubuh pedaging yang dicari pembiak, karena bagian-bagian itulah yang menghasilkan potongan daging yang paling bernilai, dan karena itu penilaian Boer yang baik tidak hanya melihat besar tubuhnya secara keseluruhan, tetapi juga melihat keserasian dada, punggung, dan paha, serta keserasian kepala, telinga, dan tanduknya.

Variasi warna bulu Boer juga perlu dipahami, karena tidak seluruh Boer memiliki pola tubuh putih dengan kepala merah kecokelatan secara sempurna. Standar yang dianjurkan adalah pola itu, tetapi Boer juga dapat berwarna seluruhnya merah, seluruhnya hitam, atau bertotol, dan variasi itu tidak serta-merta membuat seekor kambing bukan Boer, melainkan menunjukkan bahwa Boer memiliki keragaman warna di luar pola yang paling dikenal. Bagi pembeli bibit, yang lebih penting daripada warna yang sempurna adalah asal-usul bibit, catatan pertumbuhan, kesehatan, dan kesesuaian dengan tujuan usaha, karena kambing dengan warna yang sempurna tetapi pertumbuhan yang lambat dan kesehatan yang buruk tetap merupakan bibit yang buruk untuk usaha pedaging, sedangkan kambing dengan warna yang kurang sempurna tetapi pertumbuhan yang cepat dan kesehatan yang baik dapat menjadi bibit yang lebih menguntungkan.

Keunggulan Kambing Boer sebagai Ras Pedaging

Keunggulan pertama Boer adalah laju pertumbuhannya yang cepat. Dalam pengelolaan ekstensif di daerah subtropis, pertambahan bobot sekitar seratus tujuh puluh lima gram per hari dapat diharapkan, sedangkan dalam pengelolaan intensif, pertambahan bobot lebih dari dua ratus gram per hari dimungkinkan. Angka-angka itu berasal dari kajian tentang pertumbuhan, kebutuhan gizi, karkas, dan mutu daging Boer yang diterbitkan pada tahun 1988, dan angka itu perlu dibaca sebagai gambaran potensi dalam kondisi yang digambarkan kajian itu, bukan sebagai janji yang berlaku otomatis di setiap kandang di Magelang. Pertumbuhan yang cepat berarti waktu pemeliharaan sampai panen lebih singkat, biaya pakan per kilogram pertambahan bobot dapat lebih efisien bila pakan dikelola dengan benar, dan perputaran modal usaha dapat lebih cepat, tetapi pertumbuhan yang cepat juga menuntut pakan yang cukup dan seimbang, karena kambing yang tumbuh cepat tetapi pakannya kurang akan menunjukkan pertumbuhan yang melambat dan tubuh yang tidak mencapai potensinya.

Keunggulan kedua Boer adalah kualitas karkasnya yang baik, yaitu tubuh yang berotot, dada yang lebar, punggung yang lebar, dan paha yang berdaging, yang menghasilkan potongan daging yang lebih banyak dan lebih bernilai dibandingkan dengan kambing yang tubuhnya ramping dan bertipe perah. Kualitas karkas itu adalah alasan utama mengapa Boer dipakai untuk persilangan, karena keturunan persilangan Boer dengan ras lokal sering kali menunjukkan perbaikan pada bobot dan bentuk tubuh dibandingkan dengan ras lokal murni, meskipun perbaikan itu tidak sebesar Boer murni dan meskipun keturunan persilangan tetap memerlukan pakan dan perawatan yang baik. Peternak Magelang yang memelihara kambing lokal untuk pedaging dapat mempertimbangkan persilangan dengan Boer sebagai salah satu jalan perbaikan, tetapi harus memahami bahwa persilangan adalah program jangka panjang yang memerlukan pencatatan, seleksi, dan kesabaran, bukan sekadar mengawinkan satu ekor pejantan Boer dengan induk lokal lalu mengharapkan seluruh keturunannya menjadi Boer.

Keunggulan ketiga Boer adalah kemampuannya merumput di berbagai tipe lahan, termasuk padang semak asam, padang pesisir, padang campuran, dan padang semak berduri, serta kemampuannya memanfaatkan semak berkualitas rendah, merumput pada pohon berduri, semak, dan perdu, dan bahkan dipakai untuk pengelolaan vegetasi di daerah padang semak berduri. Kemampuan merumput itu berasal dari sejarah seleksinya di padang semak berduri Eastern Cape, dan kemampuan itu membuat Boer cocok untuk lahan yang tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ternak yang hanya makan rumput pendek. Di Magelang, kemampuan itu dapat diterjemahkan sebagai kemampuan memanfaatkan hijauan pekarangan, daun-daunan, dan semak di lahan lereng, tetapi penerjemahan itu harus dilakukan dengan hati-hati, karena hijauan di Magelang berbeda jenisnya dengan hijauan di Afrika Selatan, dan sebagian hijauan lokal mengandung zat antinutrisi yang harus dilayukan atau diolah sebelum diberikan, sebagaimana sudah dijelaskan dalam panduan pemeliharaan Peranakan Etawa.

Keunggulan keempat Boer adalah ketahanannya terhadap penyakit dan adaptasinya terhadap kondisi panas dan kering semi gurun, yang digambarkan dalam literatur sebagai ketahanan terhadap penyakit yang baik dan adaptasi yang baik terhadap kondisi panas dan kering. Ketahanan itu tidak berarti Boer kebal terhadap penyakit, dan peternak tidak boleh mengabaikan vaksinasi, sanitasi kandang, dan pengendalian parasit hanya karena memelihara Boer, karena penyakit yang menyerang kambing pada umumnya, seperti cacingan, kembung, dan penyakit kulit, tetap dapat menyerang Boer bila manajemennya buruk. Yang dimaksud dengan ketahanan dalam literatur adalah bahwa Boer yang dipelihara dengan manajemen yang baik menunjukkan daya tahan yang baik dalam kondisi yang sulit, bukan bahwa Boer dapat dipelihara tanpa perawatan. Peternak yang memahami perbedaan itu akan tetap menjalankan perawatan dasar, sambil menikmati keunggulan Boer yang memang lebih tahan terhadap kondisi sulit dibandingkan dengan ras yang dibentuk untuk iklim sejuk dan pakan yang melimpah.

Reproduksi Kambing Boer dan Siklus Usaha Pedaging

Reproduksi Boer memiliki ciri yang menguntungkan bagi usaha pedaging, yaitu induk betina bersifat poliestrus dan mampu berbiak kapan saja sepanjang tahun, dengan musim berbiak alami pada bulan April dan Mei, yaitu musim gugur di belahan bumi selatan, dan aktivitas berbiak yang paling rendah pada akhir musim semi dan awal musim panas, yaitu sekitar bulan November sampai Januari. Siklus birahi berlangsung sekitar dua puluh satu hari, masa birahi sekitar tiga puluh sampai empat puluh lima jam, masa kebuntingan rata-rata sekitar seratus empat puluh delapan hari, dan masa tidak birahi setelah melahirkan bervariasi antara sekitar tiga puluh sampai delapan puluh hari, dengan kebuntingan yang biasanya dapat dikonfirmasi antara empat puluh dua sampai delapan puluh dua hari setelah melahirkan. Angka-angka reproduksi itu berasal dari kajian tentang sifat reproduksi induk Boer yang diterbitkan pada tahun 2000, dan angka itu memberi gambaran tentang keteraturan siklus usaha, yaitu induk dapat dikelola agar melahirkan tiga kali dalam dua tahun, sebagaimana juga dapat dicapai pada kambing Peranakan Etawa dengan pengelolaan yang tepat.

Usia pubertas pada anak betina Boer bergantung pada musim kelahirannya, yaitu rata-rata sekitar seratus lima puluh tujuh hari bagi anak yang lahir pada pertengahan musim panas dan disapih pada musim berbiak alami, sampai sekitar seratus sembilan puluh satu hari bagi anak yang lahir pada akhir musim dingin, dengan bobot pada saat pubertas sekitar dua puluh empat sampai tiga puluh dua kilogram untuk induk yang mendapat pakan berenergi rendah, dan sekitar dua puluh empat sampai tiga puluh delapan kilogram untuk induk yang mendapat pakan berenergi tinggi. Kelahiran pada Boer terjadi dalam perbandingan anak tunggal, kembar dua, kembar tiga, dan kembar empat sebesar dua puluh lima berbanding lima puluh sembilan berbanding lima belas berbanding satu, yang berarti kelahiran kembar dua adalah yang paling sering, disusul kelahiran tunggal, kemudian kembar tiga, dan kembar empat yang jarang. Perbandingan itu penting bagi perencanaan usaha, karena kelahiran kembar berarti induk harus menghasilkan susu yang cukup untuk dua atau tiga anak sekaligus, dan peternak harus menyiapkan pakan tambahan bagi induk menyusui, serta memantau pertumbuhan anak kembar yang sering kali lebih kecil saat lahir dibandingkan dengan anak tunggal.

Susu induk Boer, meskipun bukan tujuan utama, tetap memiliki peran dalam usaha pedaging, karena susu itulah yang menentukan pertumbuhan anak pada bulan-bulan pertama. Hasil susu induk Boer sekitar satu setengah sampai dua setengah kilogram per hari, dengan kadar lemak sekitar tujuh koma tujuh persen dan kadar protein sekitar empat koma tiga persen, menurut kajian tentang asal, adaptasi, uji penampilan, reproduksi, dan produksi susu Boer yang diterbitkan pada tahun 1988. Kadar lemak dan protein yang tinggi itu menjelaskan mengapa anak Boer dapat tumbuh cepat, karena susu yang diterimanya kaya gizi, dan mengapa induk Boer yang menyusui anak kembar memerlukan pakan tambahan, karena produksi susu yang kaya itu menuntut energi dan protein yang besar dari pakan induk. Peternak yang mengabaikan pakan induk menyusui akan melihat anak yang pertumbuhannya lambat, meskipun bibitnya Boer murni, karena potensi genetik anak tidak dapat terwujud tanpa susu yang cukup pada awal kehidupannya.

Siklus usaha pedaging Boer dapat direncanakan dari angka-angka itu, yaitu induk dikawinkan setelah masa tidak birahi setelah melahirkan berakhir, kebuntingan berlangsung sekitar seratus empat puluh delapan hari, anak disapih setelah cukup kuat makan hijauan dan konsentrat, dan anak jantan dibesarkan sebagai calon pedaging sampai mencapai bobot panen yang direncanakan, sedangkan anak betina yang baik dipelihara sebagai calon induk pengganti. Panen yang berpapasan dengan hari raya kurban dapat menjadi jendela pasar yang menguntungkan, sebagaimana sudah dijelaskan dalam panduan Peranakan Etawa, karena permintaan daging kambing meningkat menjelang hari raya itu, tetapi peternak Boer sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu jendela pasar, melainkan juga membangun hubungan dengan pedagang, rumah makan, dan konsumen tetap, agar kambing yang sudah mencapai bobot panen tidak harus menunggu lama dan tidak harus dijual dengan harga yang tertekan karena seluruh peternak panen pada waktu yang sama.

Perawatan Kambing Boer, Pakan, Kandang, dan Kesehatan

Perawatan Boer mengikuti prinsip dasar pemeliharaan kambing pada umumnya, yaitu pakan yang cukup dan bervariasi, kandang yang bersih dan terlindung, air minum yang selalu tersedia dan bersih, serta pemantauan kesehatan yang rutin, dengan penyesuaian untuk tubuh Boer yang besar dan pertumbuhannya yang cepat. Pakan utama Boer adalah hijauan, yaitu rumput, daun-daunan, dan semak, yang dilengkapi dengan konsentrat bila diperlukan, terutama bagi induk bunting, induk menyusui, pejantan pemacek, dan anak yang sedang tumbuh cepat. Pemberian pakan harus dilakukan secara bertahap bila jenis pakan berubah, karena perubahan pakan yang mendadak, terutama penambahan konsentrat yang kaya energi secara tiba-tiba, dapat menimbulkan gangguan pencernaan pada kambing yang tumbuh cepat, dan gangguan itu dapat menghapus keuntungan pertumbuhan yang diharapkan. Prinsip bertahap itu berlaku untuk seluruh ras kambing, tetapi pada Boer yang pertumbuhannya cepat, prinsip itu menjadi lebih penting, karena kebutuhan energinya yang tinggi sering menggoda peternak untuk menambah konsentrat secara berlebihan dan mendadak.

Kandang Boer sebaiknya berbentuk panggung, kokoh, terlindung dari hujan dan angin malam, mendapat sinar matahari pagi, dan memiliki lantai yang tidak terlalu renggang agar kaki kambing tidak terperosok, sebagaimana sudah dijelaskan dalam panduan kandang Peranakan Etawa yang dapat dipakai sebagai acuan awal untuk Boer, dengan penyesuaian ukuran karena tubuh Boer lebih besar. Kandang dibagi atas kandang induk, kandang jantan, kandang dara, dan kandang beranak, dan pemisahan itu penting karena pejantan Boer yang besar dapat mengganggu induk bunting atau anak bila dicampur tanpa pengawasan, dan karena induk yang baru melahirkan memerlukan ketenangan untuk menyusui anaknya. Jarak kandang dari rumah, kebersihan lantai dan tempat pakan, serta kebersihan tempat minum adalah hal-hal dasar yang menentukan kesehatan, dan kandang yang kotor adalah tempat berkembangnya penyakit yang kemudian menyerang ternak, apa pun rasnya.

Kesehatan Boer perlu diwaspadai pada tiga hal utama, yaitu parasit internal, penyakit yang berkaitan dengan pertumbuhan cepat, dan penyakit umum kambing. Parasit internal, terutama cacing Haemonchus contortus yang mengisap darah di lambung, adalah ancaman utama bagi kambing yang merumput, dan Boer tidak kebal terhadap parasit itu, sehingga pemantauan dengan metode yang dianjurkan dokter hewan, rotasi padang rumput, dan pemberian obat cacing yang tepat sasaran lebih baik daripada pemberian obat cacing secara membabi buta. Penyakit yang berkaitan dengan pertumbuhan cepat meliputi gangguan pencernaan akibat perubahan pakan yang mendadak dan penyakit pada anak yang dipelihara secara intensif, yang dapat dicegah dengan perubahan pakan yang bertahap, kepadatan kandang yang sesuai, dan kebersihan kandang yang rutin. Penyakit umum kambing, seperti kembung karena rumput muda atau rumput berembun, cacingan karena penggembalaan pada lahan yang masih berembun dan kandang yang becek, serta penyakit kulit, tetap dapat menyerang Boer dan harus ditangani dengan pemisahan ternak yang sakit dan bantuan dokter hewan atau petugas kesehatan hewan setempat.

Vaksinasi secara rutin sesuai jadwal yang ditentukan dokter hewan, pemotongan kuku secara teratur, pencukuran bulu bila diperlukan, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala adalah kebiasaan yang melengkapi kebersihan kandang, dan kebiasaan itu sebaiknya dijalankan melalui kelompok atau perkumpulan peternak bila ada, agar biayanya lebih ringan dan pengetahuannya dapat dibagikan. Peternak Magelang yang sudah bergabung dalam perkumpulan peternak kambing perah, seperti yang diberitakan KabarTidar tentang perkumpulan peternak di Srumbung, dapat memanfaatkan jaringan itu untuk bertanya tentang Boer, meskipun perkumpulan itu berfokus pada kambing perah, karena pengetahuan dasar tentang pakan, kandang, dan kesehatan kambing berlaku untuk seluruh ras, dan karena anggota perkumpulan sering kali juga memelihara kambing pedaging sebagai usaha sampingan. Bagi peternak pemula, bergabung dengan kelompok adalah jalan pintas yang sah untuk mendapat akses ke vaksinasi, pengetahuan, dan pasar, tanpa harus mempelajari semuanya dari nol sendirian.

Kambing Boer untuk Peternak Magelang, Peluang dan Catatan Penting

Peluang Boer bagi peternak Magelang terletak pada tiga hal, yaitu permintaan daging kambing yang stabil dan meningkat menjelang hari raya kurban, kemampuan Boer memanfaatkan hijauan dan semak di lahan lereng dan pekarangan, serta potensi persilangan untuk memperbaiki bobot dan karkas kambing lokal. Permintaan daging kambing di Magelang, sebagaimana di banyak daerah Jawa, tidak hanya datang dari konsumen harian, tetapi juga dari hajatan, warung sate, dan perayaan keagamaan, sehingga peternak pedaging memiliki beberapa saluran pasar yang berbeda musimnya. Kemampuan Boer merumput di lahan semak memberi peluang bagi peternak di lereng yang lahannya tidak cocok untuk rumput unggul semata, karena Boer dapat memanfaatkan daun-daunan dan semak yang tersedia, asalkan hijauan itu aman dan tidak mengandung zat antinutrisi yang berbahaya. Potensi persilangan memberi peluang bagi peternak yang sudah memiliki induk lokal, karena dengan satu pejantan Boer yang baik, peternak dapat memperbaiki keturunan secara bertahap tanpa harus mengganti seluruh populasi induknya sekaligus.

Catatan penting yang harus dibaca bersamaan dengan peluang itu adalah bahwa artikel ini tidak menetapkan harga bibit Boer di Magelang, tidak menetapkan jumlah populasi Boer di Magelang, dan tidak menetapkan bahwa Boer sudah tersebar luas di Magelang, karena ketiga hal itu tidak terverifikasi dalam riset ini. Peternak yang tertarik sebaiknya memeriksa langsung kepada pembiak, pedagang ternak, dan Dinas Peternakan setempat tentang ketersediaan bibit, harga yang berlaku, riwayat kesehatan bibit, dan kesesuaian bibit dengan iklim Magelang, serta meminta catatan pertumbuhan induk dan pejantan yang akan dibeli, karena bibit yang baik adalah bibit yang pertumbuhannya terdokumentasi, bukan bibit yang hanya dijanjikan besar dari penampilannya. Peternak juga sebaiknya memulai dari skala kecil, yaitu beberapa ekor terlebih dahulu, untuk mempelajari pakan, kandang, dan pasar Boer di lingkungannya, sebelum memperbesar skala, karena skala kecil memberi ruang untuk belajar dengan risiko yang terkendali, sedangkan skala besar yang dimulai tanpa pengalaman dapat menimbulkan kerugian yang besar bila pakan, kandang, atau pasar ternyata belum siap.

Perbandingan akhir antara Boer dan Peranakan Etawa dapat dirangkum sebagai pilihan tujuan usaha, yaitu bila tujuan utama adalah susu harian dengan nilai jual per liter yang tinggi, maka Peranakan Etawa adalah pilihan yang lebih tepat, sebagaimana sudah diulas dalam artikel Peranakan Etawa dan artikel susu kambing Etawa, sedangkan bila tujuan utama adalah daging dengan pertumbuhan cepat dan karkas yang baik, maka Boer adalah pilihan yang lebih tepat. Peternak yang menginginkan keduanya dapat memelihara keduanya dalam kandang yang terpisah, atau memelihara induk Peranakan Etawa untuk susu dan persilangan Boer untuk pedaging, dengan pencatatan yang terpisah agar kinerja masing-masing usaha dapat dinilai dengan benar. Pilihan apa pun yang diambil, tiga prinsip yang sama tetap berlaku, yaitu pakan yang cukup dan bervariasi, bibit yang baik dan terdokumentasi, dan manajemen yang baik dan konsisten, karena tanpa ketiga prinsip itu, ras apa pun, termasuk Boer yang pertumbuhannya cepat dan karkasnya baik, tidak akan menunjukkan potensinya di kandang.

Pada akhirnya, kambing Boer adalah ras pedaging yang sejarahnya menjelaskan keunggulannya, yaitu dibentuk oleh petani di Eastern Cape untuk daging, pertumbuhan cepat, dan kemampuan merumput di lahan semak, diorganisasikan melalui perkumpulan pembiak sejak tahun 1959, dan tersebar ke tujuh puluh dua negara dengan populasi dunia yang diperkirakan mencapai seratus delapan puluh dua ribu ekor lebih. Ciri tubuh putih dengan kepala merah kecokelatan, telinga terkulai, tanduk melengkung ke belakang, dan tubuh berotot membuat Boer mudah dikenali, dan angka bobot rata-rata seratus empat belas kilogram untuk jantan dan sembilan puluh empat kilogram untuk betina, pertambahan bobot sekitar seratus tujuh puluh lima gram per hari pada pengelolaan ekstensif dan lebih dari dua ratus gram per hari pada pengelolaan intensif, serta kemampuan induk melahirkan tiga kali dalam dua tahun dengan kelahiran kembar dua sebagai yang paling sering, memberi gambaran kuantitatif tentang potensi ras ini. Bagi peternak Magelang, Boer bukan janji keuntungan yang otomatis, melainkan peluang yang harus diuji dalam skala kecil, dengan pakan, kandang, kesehatan, dan pasar yang dipersiapkan sejak awal, dan dengan pemahaman bahwa ras yang baik hanya bekerja bila dirawat dengan baik.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *