Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Sungai Elo: dari Mata Air hingga Bertemu Progo
Wisata

Sungai Elo: dari Mata Air hingga Bertemu Progo

Elo adalah sungai yang relatif tenang dan mengalir sepanjang tahun, yang alurnya melewati Mungkid sebelum menyatu dengan Progo — dan sejumlah angka tentangnya ternyata berbeda antar sumber.

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 05.12 WIB
Sungai Elo Magelang
Ilustrasi sungai jernih berkelok di antara sawah dan perbukitan hijau menuju pertemuan dua aliran sungai di kejauhan, dengan perahu karet kecil di salah satu kelokan. (Ilustrasi: KabarTidar)

Sungai Elo adalah sungai di Kabupaten Magelang yang mengalir dari kawasan pegunungan di utara, melewati Kecamatan Mungkid, lalu bertemu dengan Sungai Progo sebagai muaranya. Sungai ini dikenal luas sebagai jalur arung jeram yang ramah pemula, tetapi artikel ini tidak mengulang panduan arung jeram itu. Artikel ini adalah profil geografi Sungai Elo, yaitu dari mana airnya berasal, ke mana alirannya menuju, bagaimana ia bertemu dengan Progo, dan bagaimana warga memanfaatkannya. Sejumlah angka yang beredar tentang sungai ini tidak seragam antar sumber, sehingga artikel ini menyebut perbedaan itu secara terbuka dan tidak menetapkan satu angka sebagai fakta yang pasti.

Posisi Sungai Elo dalam sistem sungai Magelang dapat dipahami dari peta daerah aliran sungai. Sungai Elo termasuk dalam Wilayah Sungai Progo-Opak-Serang, yang dikelola Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak. Dalam profil balai tersebut, daftar daerah aliran sungai di wilayah kerja itu mencakup DAS Progo, Opak, Serang, Tangsi, Elo, dan Oyo. Artinya, Elo bukan sungai yang berdiri sendiri, melainkan satu daerah aliran sungai di dalam sistem yang lebih besar, yang bermuara ke Progo dan kemudian mengalir ke selatan menuju Samudra Hindia.

Kajian akademik tentang wisata arung jeram Sungai Elo di Kecamatan Mungkid menempatkan sungai ini dengan lebih spesifik, yaitu Sungai Elo terdapat di Sub DAS Elo yang berbatasan dengan Sub DAS Progo. Penempatan ini penting, karena ia menjelaskan mengapa Elo dan Progo sering disebut berpasangan. Keduanya mengalir berdekatan di wilayah Mungkid dan sekitarnya, dengan Sub DAS yang berbatasan, sebelum akhirnya aliran Elo menyatu dengan aliran Progo. Pertemuan dua sungai itu adalah titik akhir dari profil Elo sebagai sungai yang mandiri, dan titik awal dari perjalanannya sebagai bagian dari Progo.

Di Kabupaten Magelang sendiri, Elo adalah salah satu dari sepuluh sungai utama yang melintasi wilayah kabupaten, bersama Progo, Pabelan, Blongkeng, Lamat, Putih, Bebeng, Batang, Krasak, dan Tangsi. Sejumlah sungai di kabupaten itu menyatu alirannya dengan Sungai Progo, dan Elo termasuk di antaranya, bersama Pabelan, Tangsi, Krasak, Senowo, Sileng, Batang, Putih, Apu, Trising, dan Krinjing. Gambaran ini menunjukkan bahwa Elo bukan sungai yang kecil dan terisolasi, melainkan bagian dari jaringan sungai yang saling terhubung dan bersama-sama menopang kehidupan di Kabupaten Magelang.

Sungai Elo Magelang dan hulu yang disebut berbeda oleh sumber

Pertanyaan tentang dari mana Sungai Elo berasal ternyata tidak memiliki satu jawaban yang seragam dalam sumber-sumber yang dirujuk. Satu sumber wisata menyebut bahwa Sungai Elo memiliki hulu dari Gunung Merbabu dan Gunung Andong, dan hilirnya mengalir ke Sungai Progo. Sumber wisata lain menyebut bahwa aliran Sungai Elo berasal dari lereng Gunung Merapi. Perbedaan ini perlu ditulis secara terbuka, karena artikel yang hanya memilih satu versi tanpa menyebut versi lain akan memberi kesan pasti pada hal yang sebenarnya masih diperdebatkan atau setidaknya ditulis berbeda oleh sumber yang berbeda.

Perbedaan penyebutan hulu itu dapat dipahami dari geografi Magelang yang kompleks. Kabupaten Magelang dikelilingi oleh gunung-gunung, yaitu Merapi di timur, Merbabu dan Andong di utara, Sumbing dan Sindoro di barat laut, serta Menoreh di selatan. Sungai-sungai yang mengalir di kabupaten ini berhulu di gunung-gunung yang berbeda, dan beberapa anak sungai Progo berhulu di Sindoro, Sumbing, dan Merbabu, sementara beberapa anak sungai lain berhulu di Merapi. Dalam lanskap yang padat seperti itu, satu sungai dapat menerima air dari beberapa sumber di kawasan pegunungan, sehingga penyebutan satu gunung sebagai hulu tunggal dapat menyederhanakan kenyataan yang lebih majemuk.

Artikel ini juga tidak menetapkan nama mata air tunggal sebagai hulu Sungai Elo, karena nama semacam itu tidak terverifikasi dalam sumber-sumber yang dirujuk. Kehati-hatian ini disengaja. Dalam penulisan geografi sungai, nama mata air yang salah justru lebih merugikan daripada ketiadaan nama, karena ia dapat menyesatkan pembaca yang mencari lokasi itu di lapangan dan dapat menimbulkan klaim yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Yang dapat ditegaskan dengan aman adalah kawasan hulunya berada di wilayah pegunungan di utara Magelang, dan alirannya menuju ke selatan melewati Mungkid sebelum bertemu Progo.

Untuk konteks yang lebih luas, Kota Magelang sendiri memiliki dua sungai yang cukup besar, yaitu Sungai Elo di sebelah timur dan Sungai Progo di sebelah barat, yang juga merupakan batas alamiah yang menentukan letak administrasi Kota Magelang. Kota Magelang termasuk dalam Daerah Aliran Sungai Progo-Opak-Serang. Gambaran ini membantu pembaca memahami posisi Elo bukan hanya sebagai sungai kabupaten, melainkan juga sebagai sungai yang membingkai kota, dengan Elo di timur dan Progo di barat, seperti dua sisi dari satu lanskap air yang sama.

Perbedaan penyebutan hulu juga menjadi pengingat tentang cara membaca sumber wisata. Sumber wisata sering menulis geografi sungai secara ringkas untuk keperluan promosi, bukan untuk keperluan akademik. Karena itu, angka dan nama dalam sumber wisata perlu dibandingkan dengan kajian akademik dan dokumen balai sungai sebelum dijadikan fakta. Artikel ini melakukan perbandingan itu, dan hasilnya adalah kejujuran tentang apa yang diketahui, apa yang berbeda antar sumber, dan apa yang belum dapat dipastikan.

Alur Sungai Elo melewati Mungkid menuju Progo

Alur Sungai Elo yang paling terdokumentasi adalah segmen yang melewati Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Kajian akademik tentang arung jeram Sungai Elo secara eksplisit menempatkan kajian itu di Kecamatan Mungkid, dan portal pariwisata Provinsi Jawa Tengah menempatkan Sungai Elo di Desa Pare, Blondo, Mungkid, Magelang. Penempatan ini memberi titik jangkar geografis yang dapat diverifikasi, yaitu Mungkid sebagai wilayah yang dilalui dan dimanfaatkan alirannya, bukan sekadar nama yang disebut dalam brosur wisata.

Dari Mungkid, aliran Elo terus menuju pertemuannya dengan Sungai Progo. Pertemuan itu adalah fakta yang disepakati oleh hampir semua sumber yang dirujuk, dari sumber wisata sampai ensiklopedia tentang sungai di Kabupaten Magelang. Setelah bertemu Progo, air Elo tidak lagi mengalir sebagai sungai yang mandiri, melainkan menjadi bagian dari aliran Progo yang lebih besar, yang mengalir ke selatan melalui Daerah Istimewa Yogyakarta dan bermuara di Samudra Hindia. Dengan demikian, perjalanan Elo dapat diringkas dalam tiga tahap, yaitu kawasan pegunungan di utara sebagai daerah tangkapan airnya, Mungkid sebagai segmen tengah yang paling dikenal, dan pertemuan dengan Progo sebagai muaranya.

Karakter aliran Elo digambarkan dalam kajian akademik sebagai aliran yang relatif stabil sepanjang tahun, dengan tinggi muka air yang relatif stabil. Kajian itu juga mencatat bahwa Sungai Elo memiliki kemiringan antara 10 sampai 20 meter per kilometer, dengan bentukan jeram yang bervariasi dan pencapaian yang relatif mudah. Kemiringan dan bentukan jeram itulah yang membuat Elo cocok dikembangkan sebagai objek wisata arung jeram, dan sejak tahun 1995 Sungai Elo telah dikelola sebagai tempat wisata arung jeram. Angka tahun 1995 itu memberi gambaran tentang umur pemanfaatan wisata Elo, yang sudah berjalan tiga dekade.

Karakter aliran yang stabil juga menjelaskan mengapa Elo dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, bukan hanya wisata. Sungai yang mengalir sepanjang tahun dengan muka air yang relatif stabil adalah sungai yang dapat diandalkan, baik untuk irigasi di lahan sekitarnya maupun untuk aktivitas di tepinya. Sebaliknya, sungai yang hanya mengalir pada musim hujan dan mengering pada musim kemarau sulit diandalkan untuk pemanfaatan yang berkelanjutan. Stabilitas aliran Elo, sebagaimana dicatat kajian akademik, adalah modal geografis yang membuat sungai ini bernilai bagi warga di sekitarnya.

Namun stabilitas itu bukan berarti sungai ini tanpa perubahan. Pada musim hujan, debit air meningkat dan arus menjadi lebih kuat, sehingga durasi pengarungan dan karakter jeram ikut berubah. Portal pariwisata Provinsi Jawa Tengah secara eksplisit mengaitkan durasi pengarungan Sungai Elo dengan debit air, dengan rentang sekitar 2,5 sampai 3,5 jam. Perbedaan durasi itu adalah gambaran sederhana tentang betapa berbedanya sungai yang sama dalam kondisi air yang berbeda, dan mengapa warga serta pemandu sungai harus selalu membaca kondisi air sebelum melakukan aktivitas di sungai.

Panjang Sungai Elo: angka yang berbeda antar sumber

Salah satu hal yang paling sering ditanyakan tentang Sungai Elo adalah panjangnya, dan salah satu hal yang paling sulit dijawab dengan pasti adalah angka itu. Sumber wisata yang satu menyebut panjang Sungai Elo sekitar 8 kilometer, sumber lain yang mengutip situs rafting menyebut aliran Sungai Elo mengalir sejauh 12 kilometer sebelum bermuara ke Sungai Progo, dan sumber wisata lain menyebut panjang sekitar 15 kilometer. Ketiga angka itu beredar dalam sumber yang berbeda, dan artikel ini tidak memilih satu angka sebagai fakta, karena tidak ada dokumen balai sungai yang dirujuk dalam riset ini yang menetapkan panjang Elo secara otoritatif.

Perbedaan angka itu dapat terjadi karena beberapa sebab yang wajar. Pertama, panjang yang diukur bisa berbeda tergantung pada titik awal dan titik akhir yang dipakai, apakah dari hulu terjauh, dari titik start pengarungan, atau dari batas administrasi tertentu. Kedua, panjang jalur pengarungan tidak sama dengan panjang sungai secara keseluruhan, karena jalur pengarungan hanya mencakup segmen yang dipakai untuk wisata. Ketiga, sungai dapat berubah bentuk dari waktu ke waktu akibat erosi, sedimentasi, dan perubahan alur, sehingga pengukuran pada tahun yang berbeda dapat menghasilkan angka yang berbeda.

Sikap yang tepat dalam menghadapi perbedaan angka adalah menyebutkannya secara terbuka, sebagaimana dilakukan artikel ini, dan mengajak pembaca untuk tidak mengutip satu angka tanpa menyebut sumbernya. Pembaca yang membutuhkan angka panjang untuk keperluan akademik atau perencanaan sebaiknya merujuk pada dokumen resmi Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak atau pada kajian hidrologi yang mengukur alur Elo secara langsung. Artikel profil seperti ini tidak menggantikan dokumen teknis semacam itu, melainkan memberi gambaran umum yang jujur tentang apa yang diketahui dan apa yang belum pasti.

Hal yang sama berlaku untuk debit air Sungai Elo. Artikel ini tidak menyebut angka debit tertentu untuk Elo, karena angka debit yang terverifikasi dalam sumber yang dirujuk adalah debit Sungai Progo, yaitu rata-rata sebesar 30 meter kubik per detik sebagai sungai dengan debit terbesar di Kabupaten Magelang, bukan debit Elo. Menyebut angka debit Progo sebagai debit Elo adalah kesalahan yang harus dihindari, karena kedua sungai itu memiliki karakter dan ukuran yang berbeda. Pertemuan antara sungai-sungai lain dengan Progo sebagai muaranya membuat aliran Progo dapat tetap mengalir sepanjang tahun, dan Elo adalah salah satu penyumbang aliran itu, tetapi besar sumbangannya tidak ditetapkan dalam artikel ini.

Kejujuran tentang angka ini bukan kelemahan artikel, melainkan kekuatannya. Portal berita yang mengarang angka panjang dan debit demi kelengkapan artikel justru merugikan pembaca, karena angka yang salah akan dikutip ulang, disebarkan, dan akhirnya dianggap sebagai fakta. Portal berita yang mengakui perbedaan sumber dan batas pengetahuannya memberi pembaca alat untuk menilai sendiri, dan memberi peneliti berikutnya titik awal yang jujur untuk pengukuran yang lebih akurat.

Pertemuan Sungai Elo dengan Sungai Progo

Pertemuan Sungai Elo dengan Sungai Progo adalah momen geografis yang paling penting dalam profil ini. Di titik itu, Elo yang relatif lebih kecil dan lebih tenang menyatu dengan Progo yang lebih besar dan lebih deras. Pertemuan sungai-sungai kecil dengan sungai utama adalah pola yang umum dalam sistem daerah aliran sungai, dan dalam kasus Magelang, pola itu berulang pada banyak sungai, dari Pabelan sampai Krasak, yang semuanya bermuara ke Progo. Elo hanyalah satu dari banyak anak sungai Progo, tetapi ia adalah salah satu yang paling dikenal karena pemanfaatan wisatanya.

Sungai Progo sendiri adalah sungai utama yang berhulu di lereng Gunung Sindoro, dengan sumber-sumber lain di Gunung Sumbing, Telomoyo, Merbabu, dan Merapi, serta memiliki luas daerah aliran sungai sekitar 2.462 kilometer persegi. Sungai ini mengalir melalui dua provinsi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dan bermuara di Pantai Trisik, Kabupaten Kulon Progo. Gambaran tentang Progo ini penting untuk memahami skala pertemuan Elo dan Progo, karena Elo bertemu dengan sungai yang daerah aliran sungainya ribuan kilometer persegi dan alirannya membentang dari pegunungan utara sampai pantai selatan.

Setelah pertemuan itu, air yang berasal dari kawasan Elo ikut mengalir dalam sistem Progo yang lebih besar, melewati kawasan Borobudur, Mendut, dan Pawon, lalu memasuki wilayah Yogyakarta dan akhirnya mencapai Samudra Hindia. Perjalanan itu menunjukkan bahwa sungai lokal seperti Elo tidak berhenti di batas kabupaten. Air yang mengalir di Mungkid pada akhirnya menjadi bagian dari sistem air yang menghubungkan pegunungan, dataran, dan laut, dan pengelolaan Elo di hulu ikut memengaruhi kualitas dan kuantitas air Progo di hilir.

Implikasi dari keterhubungan ini adalah tanggung jawab bersama. Sampah dan limbah yang dibuang ke Elo tidak berhenti di Elo, melainkan terbawa ke Progo dan seterusnya. Sebaliknya, upaya menjaga kebersihan Elo memberi manfaat yang meluas sampai ke Progo. Karena itu, menjaga Elo bukan hanya urusan warga Mungkid, melainkan bagian dari menjaga sistem sungai yang lebih besar, yang melibatkan banyak kabupaten dan dua provinsi.

Bagi pembaca yang ingin memahami kehidupan warga di tepi kedua sungai ini secara lebih luas, artikel KabarTidar tentang kehidupan di tepi Sungai Progo dan Elo memberi gambaran tentang pertanian, penambangan pasir, dan wisata sungai di tepian kedua sungai itu. Artikel tersebut adalah pelengkap yang baik bagi profil geografi ini, karena ia menjawab pertanyaan tentang siapa yang hidup di tepi sungai, sementara artikel ini menjawab pertanyaan tentang dari mana sungai itu berasal dan ke mana ia mengalir.

Pemanfaatan Sungai Elo: irigasi, wisata, dan kehidupan tepi

Pemanfaatan Sungai Elo yang paling tua adalah pemanfaatan airnya untuk kehidupan sehari-hari dan pertanian di sekitarnya. Sungai yang mengalir sepanjang tahun dengan muka air yang relatif stabil adalah sumber air yang dapat diandalkan untuk mengairi lahan, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan menopang ekosistem tepi sungai. Dalam sistem daerah aliran sungai, pemanfaatan semacam ini adalah pemanfaatan dasar yang mendahului wisata, dan ia tetap berjalan sampai sekarang, meskipun wisata menjadi pemanfaatan yang paling banyak diberitakan.

Pemanfaatan kedua, yang paling dikenal publik, adalah wisata arung jeram. Sejak tahun 1995, Sungai Elo telah dikelola sebagai tempat wisata arung jeram, dan pengelolaannya dibantu oleh perusahaan yang mencoba mengembangkan dan mengelola wisata arung jeram di sungai ini menjadi objek wisata yang menarik. Portal pariwisata Provinsi Jawa Tengah mencatat bahwa Elo adalah sungai yang paling populer di antara tiga jalur di Mungkid, yaitu Sungai Progo Atas, Sungai Progo Bawah, dan Sungai Elo, karena tingkat kesulitannya paling rendah. Portal yang sama mencatat bahwa selama pengarungan, wisatawan dapat beristirahat di gubuk di tengah perjalanan sambil menikmati kelapa muda dan makanan tradisional.

Artikel ini sengaja tidak mengulang panduan arung jeram Elo secara rinci, karena KabarTidar telah mengulasnya dalam artikel tentang arung jeram Sungai Elo, yang membahas karakter jalur ramah pemula itu. Yang dicatat di sini adalah satu hal yang relevan dengan profil geografi, yaitu wisata arung jeram adalah pemanfaatan yang sangat bergantung pada karakter geografis sungai, yaitu kemiringan, bentukan jeram, stabilitas aliran, dan kemudahan pencapaian. Tanpa karakter geografis itu, wisata arung jeram Elo tidak akan ada. Dengan kata lain, geografi bukan latar yang pasif, melainkan modal utama dari wisata itu sendiri.

Pemanfaatan ketiga adalah pemanfaatan ekonomi di tepi sungai yang tumbuh mengikuti wisata, yaitu warung, jasa pemandu, jasa transportasi, dan penginapan di sekitar jalur wisata. Ekonomi tepi sungai ini bersifat musiman dan bergantung pada jumlah kunjungan, tetapi bagi banyak keluarga di sekitar Mungkid, penghasilan dari wisata menjadi pelengkap yang berarti bagi penghasilan dari pertanian atau pekerjaan lainnya. Pola ini sama dengan pola yang terjadi di tepi Progo, di mana wisata sungai membuka pekerjaan baru tanpa menghapus pekerjaan lama.

Pemanfaatan keempat, yang sering luput dari perhatian, adalah pemanfaatan sungai sebagai ruang sosial dan ruang belajar. Tepi sungai adalah tempat warga bertemu, tempat anak-anak belajar tentang air, dan tempat komunitas sungai belajar membaca karakter sungai. Pengetahuan tentang kapan air aman, kapan arus kuat, dan di mana bagian sungai yang dalam adalah pengetahuan yang diwariskan lewat pengalaman, dan pengetahuan itu menjadi bagian dari kearifan lokal yang menjaga keselamatan warga dan wisatawan di sungai.

Menjaga Sungai Elo dari hulu sampai pertemuan

Menjaga Sungai Elo berarti menjaga seluruh alirannya, dari kawasan pegunungan di utara sampai pertemuannya dengan Progo. Di kawasan hulu, menjaga berarti menjaga tutupan lahan dan hutan di daerah tangkapan air, agar air hujan dapat meresap dan mengalir secara teratur, bukan meluncur deras membawa lumpur dan sampah. Di segmen tengah, menjaga berarti menjaga kebersihan tepi sungai, mengatur aktivitas wisata agar tidak merusak bantaran, dan memastikan limbah dari warung dan penginapan tidak dibuang ke sungai. Di muara, menjaga berarti memastikan pertemuan Elo dan Progo tetap berfungsi sebagai pertemuan air yang bersih, bukan sebagai tempat penumpukan sampah dari hulu.

Tantangan menjaga Elo tidak berbeda jauh dari tantangan menjaga sungai-sungai lain di Magelang. Sampah yang dibuang ke sungai, penambangan material yang tidak terkendali, dan alih fungsi lahan di daerah tangkapan air adalah ancaman yang umum. Namun Elo memiliki satu keunggulan, yaitu perhatian publik yang tinggi karena wisatanya. Perhatian itu dapat menjadi modal untuk menjaga sungai, karena wisatawan yang datang untuk menikmati sungai yang bersih akan kecewa jika sungai itu kotor, dan kekecewaan itu akan berdampak pada kunjungan berikutnya. Dengan kata lain, menjaga kebersihan Elo bukan hanya kewajiban lingkungan, melainkan juga kepentingan ekonomi wisata itu sendiri.

Peran warga sekitar adalah kunci dalam menjaga Elo. Warga yang tinggal di tepi sungai adalah pihak yang pertama kali melihat perubahan pada sungai, baik perubahan warna air, tinggi muka air, maupun sampah yang hanyut. Warga yang dilibatkan sebagai pemandu, pengelola warung, dan penjaga kebersihan memiliki kepentingan langsung untuk menjaga sungai, karena penghasilan mereka bergantung pada sungai yang bersih dan aman. Keterlibatan warga semacam ini adalah bentuk pelestarian yang paling nyata, karena ia lahir dari kepentingan sehari-hari, bukan dari instruksi yang datang dari jauh.

Peran pemerintah dan balai sungai juga penting, terutama dalam hal pengelolaan daerah aliran sungai secara menyeluruh. Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, sebagai pengelola Wilayah Sungai Progo-Opak-Serang, memiliki tanggung jawab untuk mengelola sistem sungai secara terpadu, dari hulu sampai hilir. Pengelolaan terpadu berarti keputusan tentang satu segmen sungai mempertimbangkan dampaknya pada segmen lain, dan keputusan tentang satu anak sungai mempertimbangkan dampaknya pada sungai utama. Tanpa pengelolaan terpadu, upaya menjaga satu segmen dapat gagal karena kerusakan yang berasal dari segmen lain.

Pada akhirnya, Sungai Elo adalah sungai yang sederhana dalam peta tetapi kaya dalam peran. Ia mengalir dari kawasan pegunungan di utara Magelang, melewati Mungkid dengan aliran yang relatif stabil dan jeram yang bervariasi, lalu bertemu dengan Sungai Progo sebagai muaranya, dan dari sana ikut mengalir sampai ke Samudra Hindia. Ia memberi air bagi pertanian, memberi jalur bagi wisata arung jeram yang ramah pemula, memberi penghasilan bagi warga tepi sungai, dan memberi pelajaran tentang bagaimana sebuah sungai kecil dapat menjadi bagian dari sistem air yang besar. Selama alirannya dijaga dari hulu sampai pertemuan, Sungai Elo akan tetap menjadi bagian dari kehidupan Magelang, bukan hanya sebagai nama di peta, melainkan sebagai sungai yang bekerja setiap hari bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Gambaran umum tentang sungai-sungai di kabupaten ini dapat dibandingkan melalui daftar sungai di Kabupaten Magelang, yang menempatkan Elo di antara sepuluh sungai utama kabupaten itu.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *