Opini: Jalan-Jalan Magelang Harus Ramah Pejalan Kaki, Bukan Cuma Kendaraan
Opini: jalan Magelang seharusnya dirancang untuk pejalan kaki juga, bukan hanya untuk kendaraan yang melintas.

Opini, Jalan-jalan Magelang harus ramah pejalan kaki. Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi ia menyangkut cara kota ini diperlakukan setiap hari: apakah jalan hanya dipahami sebagai jalur kendaraan, atau juga sebagai ruang hidup warga yang berjalan kaki, menyeberang, menunggu, berbelanja, dan bertemu. Di Magelang, berjalan kaki bukan kegiatan pinggiran. Ia adalah cara banyak warga mencapai pasar, sekolah, tempat ibadah, halte, dan alun-alun, serta cara pengunjung pertama kali mengenal pusat kota. Karena itu, trotoar yang terputus, penyeberangan yang tidak jelas, dan jalur pejalan kaki yang dipakai parkir bukan sekadar ketidaknyamanan kecil. Semuanya adalah pesan tentang siapa yang diutamakan di ruang jalan.
Tulisan ini adalah opini. Ia tidak mengklaim hasil survei jalan di Magelang dan tidak menyebut satu ruas jalan pun sebagai yang terburuk, karena penilaian semacam itu memerlukan pengukuran lapangan yang tidak dilakukan dalam riset artikel ini. Yang disampaikan di sini adalah argumen: bila Magelang ingin tetap menjadi kota yang nyaman ditinggali dan dikunjungi, maka pejalan kaki harus ditempatkan sebagai pengguna jalan yang setara, bukan sisa dari perencanaan kendaraan. Argumen ini dibangun dari gambaran umum kota, dari fungsi ruang publik yang sudah dikenal warga, dan dari gagasan perencanaan kota yang berlaku luas di Indonesia, sebagaimana dibahas dalam tulisan tentang upaya Jakarta menjadi kota ramah pejalan kaki.
Magelang adalah kota yang sebenarnya sangat bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. Pusat kotanya relatif kompak, alun-alun menjadi titik orientasi yang mudah dikenali, dan kawasan perdagangan seperti Pecinan di Jalan Pemuda berada dalam jangkauan yang masuk akal bagi pejalan kaki. Artikel KabarTidar tentang wisata malam Kota Magelang menggambarkan alun-alun sebagai ruang publik yang pada sore menjelang malam dipenuhi keluarga dan pedagang, dengan jalur pejalan kaki di sekelilingnya. Gambaran itu penting, karena ia menunjukkan bahwa berjalan kaki di Magelang sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial, bukan hanya cara berpindah. Ketika jalur itu nyaman, orang betah tinggal lebih lama. Ketika jalur itu sempit, gelap, atau terhalang, orang memilih kendaraan, dan kota kehilangan keramaian yang justru membuatnya hidup.
Opini: jalan ramah pejalan kaki di Magelang dimulai dari trotoar yang utuh
Trotoar yang baik memiliki ciri yang mudah dikenali, sekalipun tanpa alat ukur. Permukaannya rata dan tidak licin, lebarnya cukup untuk dua orang berjalan berpapasan tanpa harus turun ke badan jalan, dan jalurnya berkesinambungan dari satu titik ke titik berikutnya. Trotoar yang baik juga bebas dari halangan permanen yang memaksa pejalan kaki memutar atau turun ke jalan, serta memiliki penerangan yang cukup pada malam hari. Sebaliknya, trotoar yang terputus di tengah jalan, berubah menjadi tempat parkir, atau dipenuhi papan dan barang dagangan yang menutup seluruh lebarnya, memaksa pejalan kaki mengambil risiko. Pejalan kaki yang paling dirugikan dalam kondisi itu adalah mereka yang paling rentan: anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan orang tua yang membawa anak kecil atau kereta bayi.
Persoalan trotoar sering dibicarakan seolah-olah hanya soal keindahan kota. Padahal, trotoar adalah soal keselamatan. Pejalan kaki yang terpaksa berjalan di badan jalan berada dalam ruang yang dirancang untuk kecepatan kendaraan, bukan kecepatan manusia. Di jalan yang ramai, perbedaan kecepatan itu berbahaya, terutama pada jam sibuk dan pada malam hari ketika jarak pandang berkurang. Kota yang ramah pejalan kaki bukan kota yang melarang kendaraan, melainkan kota yang memisahkan ruang gerak secara jelas: kendaraan berjalan di jalurnya, pejalan kaki berjalan di jalurnya, dan keduanya bertemu hanya di titik penyeberangan yang dirancang dengan baik. Kejelasan pemisahan itu justru membuat pengendara lebih tenang, karena mereka tidak perlu menebak dari mana pejalan kaki akan muncul.
Penyeberangan adalah bagian kedua yang tidak boleh diabaikan. Sebuah kota bisa memiliki trotoar yang bagus, tetapi bila menyeberang jalan terasa menakutkan, maka perjalanan kaki tetap terputus. Penyeberangan yang baik mudah dilihat oleh pengendara, memiliki marka yang jelas, dan memberi waktu yang cukup bagi pejalan kaki untuk menyeberang tanpa berlari. Di kawasan ramai, penyeberangan yang ditinggikan atau dilengkapi rambu dan lampu dapat membantu menegaskan hak pejalan kaki. Yang tidak kalah penting adalah penegakan: marka penyeberangan hanya bermakna bila pengendara menghormatinya dan bila pelanggaran ditindak secara konsisten. Tanpa penegakan, fasilitas terbaik pun hanya menjadi gambar di aspal.
Di Magelang, perhatian pada penyeberangan dan trotoar juga berkaitan dengan karakter kota sebagai kota pendidikan, kota perdagangan, dan kota transit menuju Borobudur. Pelajar berjalan kaki menuju sekolah, pedagang dan pembeli berjalan di sekitar pasar, dan wisatawan berjalan dari satu titik ke titik lain di pusat kota. Bila pengalaman berjalan kaki itu buruk, kesan pertama tentang Magelang ikut buruk. Sebaliknya, bila berjalan kaki terasa aman dan menyenangkan, wisatawan lebih mungkin menjelajahi kawasan di luar satu objek wisata saja, dan pedagang kecil di jalur pejalan kaki lebih mungkin dikunjungi. Jalan yang ramah pejalan kaki, dengan demikian, bukan hanya kebijakan transportasi, melainkan juga kebijakan ekonomi lokal dan kebijakan pariwisata yang paling murah.
Ramah pejalan kaki bukan anti kendaraan
Keberatan yang paling sering muncul terhadap gagasan ramah pejalan kaki adalah kekhawatiran bahwa kendaraan akan dikorbankan. Kekhawatiran itu perlu dijawab dengan jujur: kota tetap membutuhkan kendaraan, terutama untuk angkutan barang, layanan darurat, dan perjalanan jarak jauh. Namun, mengutamakan pejalan kaki di pusat kota tidak berarti menutup kota bagi kendaraan. Ia berarti membagi ruang secara lebih adil. Di kawasan yang padat pejalan kaki, kecepatan kendaraan dapat diturunkan, parkir dapat diatur di tempat yang tidak menutup trotoar, dan arus kendaraan dapat diarahkan agar tidak seluruhnya menumpuk di satu koridor yang sama dengan koridor pejalan kaki. Prinsipnya adalah kesesuaian fungsi: jalan arteri untuk lalu lintas cepat, jalan kawasan untuk campuran yang tertib, dan jalan di pusat keramaian untuk pejalan kaki sebagai prioritas.
Pembagian seperti itu juga membantu pengendara. Ketika trotoar jelas dan penyeberangan tertata, pengendara tidak perlu terus-menerus mengantisipasi pejalan kaki yang tiba-tiba muncul dari balik kendaraan parkir. Ketika parkir diatur di kantong-kantong yang jelas, pengendara tidak perlu berputar mencari tempat di trotoar atau bahu jalan yang sempit. Dengan kata lain, ketertiban pejalan kaki adalah ketertiban lalu lintas juga. Kota yang membiarkan trotoarnya dipakai sembarangan sesungguhnya sedang membiarkan ketidakpastian di jalan, dan ketidakpastian itulah yang sering menjadi sumber kemacetan kecil dan konflik antar pengguna jalan.
Di sisi lain, ramah pejalan kaki juga menuntut kedisiplinan dari pejalan kaki sendiri. Menyeberang di tempat yang disediakan, tidak berjalan bergerombol menutup seluruh trotoar, dan menghormati pengguna lain adalah bagian dari budaya jalan yang baik. Opini ini tidak membela pejalan kaki secara membabi buta. Ia membela sistem yang adil: fasilitas yang layak bagi pejalan kaki, aturan yang jelas bagi semua pengguna jalan, dan penegakan yang konsisten tanpa pandang bulu. Kota yang baik tidak dibangun dengan menyalahkan satu kelompok pengguna jalan, melainkan dengan merancang ruang agar kelompok-kelompok itu tidak saling berebut dalam ketidakpastian.
Perhatian pada kelompok rentan adalah ujian paling jujur bagi klaim ramah pejalan kaki. Sebuah trotoar dapat terlihat bagus dalam foto, tetapi bila kursi roda tidak bisa melewatinya karena ada undakan tinggi di ujungnya, atau bila lansia harus naik turun tanpa pegangan dan tanpa tempat istirahat, maka trotoar itu belum ramah. Aksesibilitas bukan tambahan mewah setelah pembangunan selesai, melainkan syarat sejak perancangan. Jalur landai di ujung trotoar, permukaan yang tidak licin, tempat duduk di interval yang wajar, dan penerangan yang cukup adalah kebutuhan dasar, bukan fasilitas bonus. Kota yang ramah bagi penyandang disabilitas dan lansia pada akhirnya ramah bagi semua orang, termasuk orang tua yang menggendong anak dan wisatawan yang membawa koper.
Apa yang bisa dilakukan Magelang, selangkah demi selangkah
Magelang tidak perlu memulai dengan proyek besar yang mahal untuk menjadi lebih ramah pejalan kaki. Langkah pertama yang paling masuk akal adalah memastikan jalur yang sudah ada berfungsi: trotoar yang rusak diperbaiki, halangan yang menutup jalur ditertibkan secara persuasif dan konsisten, dan penyeberangan di kawasan ramai dipastikan terlihat dan dihormati. Langkah kedua adalah menyambungkan jalur-jalur itu menjadi rute yang utuh, misalnya rute pejalan kaki yang menghubungkan alun-alun, kawasan perdagangan, dan titik transportasi umum, sehingga orang dapat berjalan dari satu tempat ke tempat lain tanpa terputus. Artikel KabarTidar tentang transportasi umum Magelang relevan di sini, karena perjalanan dengan angkutan umum selalu diawali dan diakhiri dengan berjalan kaki. Transportasi umum yang baik tanpa trotoar yang baik adalah perjalanan yang terputus di kedua ujungnya.
Langkah ketiga adalah menjadikan pejalan kaki sebagai pertimbangan sejak awal setiap penataan jalan, bukan sebagai tambahan di akhir. Setiap kali sebuah ruas jalan diperbaiki atau ditata ulang, pertanyaan yang perlu diajukan adalah: apakah pejalan kaki memiliki jalur yang utuh, apakah penyeberangannya aman, apakah penerangannya cukup, dan apakah kelompok rentan dapat melewatinya. Bila pertanyaan-pertanyaan itu diajukan sejak awal, biayanya jauh lebih kecil daripada memperbaiki trotoar yang sudah telanjur dibangun tanpa mempertimbangkan pejalan kaki. Prinsip ini berlaku untuk kawasan lama maupun kawasan baru, dan ia tidak memerlukan teknologi baru, hanya disiplin perencanaan.
Terakhir, kota perlu mendengarkan pejalan kakinya. Warga yang setiap hari berjalan kaki adalah pengamat terbaik tentang titik mana yang gelap, titik mana yang terputus, dan titik mana yang terasa tidak aman. Saluran pengaduan yang ditanggapi, survei sederhana di kawasan ramai, dan pelibatan komunitas disabilitas, komunitas lansia, dan pedagang kaki lima dalam penataan jalur pejalan kaki akan menghasilkan keputusan yang lebih tepat daripada sekadar menggambar jalur di atas peta. Jalan yang ramah pejalan kaki pada akhirnya bukan proyek pemerintah semata, melainkan kesepakatan warga tentang bagaimana ruang bersama dipakai.
Magelang memiliki modal yang tidak dimiliki semua kota: pusat kota yang kompak, ruang publik yang sudah hidup, dan kebiasaan berjalan kaki yang masih kuat. Modal itu akan hilang bila kota terus dirancang seolah-olah pejalan kaki adalah gangguan bagi kendaraan. Sebaliknya, modal itu akan tumbuh bila kota berani menegaskan bahwa jalan adalah milik bersama, dan bahwa berjalan kaki adalah cara yang sah, aman, dan bermartabat untuk menikmati kota. Opini ini mengajak Magelang memilih yang kedua, selangkah demi selangkah, dimulai dari trotoar yang utuh dan penyeberangan yang dihormati.



1 Komentar