Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Museum Kapal Samudraraksa: Kapal Relief Borobudur yang Berlayar…
Wisata

Museum Kapal Samudraraksa: Kapal Relief Borobudur yang Berlayar ke Ghana

Di kawasan Candi Borobudur tersimpan kapal kayu yang benar-benar berlayar dari Jakarta ke Ghana pada 2003 hingga 2004. Kapal Samudra Raksa adalah replika dari relief abad ke-8, dan museumnya menuturkan kisah pembangunan, pelayaran, dan pembuktiannya.

Oleh Intan Larasati Minggu, 25 Oktober 2026 · 18.27 WIB
Ilustrasi kapal kayu bercadik berlayar di laut
Ilustrasi kapal Samudra Raksa. (Ilustrasi: KabarTidar)

Museum Kapal Samudraraksa di kawasan Candi Borobudur, Magelang, menyimpan sebuah kapal kayu sepanjang sekitar 19 meter yang benar-benar pernah berlayar melintasi Samudra Hindia. Kapal itu bukan sekadar pajangan: pada 2003 hingga 2004, kapal tersebut berlayar dari Jakarta menuju Ghana, Afrika Barat, menyusuri rute perdagangan rempah kuno yang dijuluki Jalur Kayu Manis.

Kapal bernama Samudra Raksa itu adalah replika skala penuh dari kapal yang terukir pada relief Candi Borobudur abad ke-8. Gagasan membangunnya datang dari seorang pelaut Inggris yang terpikat pada ukiran kapal di dinding candi, lalu diwujudkan oleh para pembuat kapal tradisional Indonesia. Setelah pelayarannya selesai, kapal itu ditempatkan di museum yang dibangun khusus untuknya, beberapa ratus meter di sebelah utara Candi Borobudur.

Artikel ini menelusuri kisah itu dari awal: relief apa yang menjadi dasarnya, siapa yang membangun replikanya dan dengan cara apa, ke mana kapal itu berlayar dan apa yang ingin dibuktikannya, serta apa yang bisa dilihat pengunjung di museumnya hari ini.

Kapal dari relief: apa yang digambarkan Borobudur

Candi Borobudur dibangun pada abad ke-8, dan relief-reliefnya menggambarkan kehidupan Jawa kuno pada masa itu: kehidupan istana, pasar, sawah, hingga alat transportasi seperti tandu, kereta kuda, dan kapal. Di antara ukiran-ukiran itu terdapat panel-panel yang menggambarkan kapal laut dengan layar dan cadik, penyeimbang di sisi lambung yang berfungsi menstabilkan kapal dan memecah ombak.

Menurut pengelola kawasan wisata Borobudur, InJourney Destination Management, kapal yang direplika berasal dari relief Jataka-Avadana panel 86. Relief itu menggambarkan kapal yang dilengkapi layar dan cadik. Dari panel inilah para pembangun kemudian merekonstruksi bentuk kapal secara utuh, meskipun yang tersedia hanyalah ukiran batu, bukan gambar teknik.

Kapal-kapal dalam relief Borobudur itu memberi gambaran tentang pelayaran masa Sriwijaya, ketika para pelaut Nusantara mengarungi lautan dengan mengandalkan angin musim. Relief-relief tersebut menjadi bukti visual bahwa masyarakat Jawa kuno mengenal kapal laut yang mampu menempuh jarak jauh, bukan hanya perahu sungai atau perahu pantai.

Di sinilah muncul pertanyaan yang kemudian menggerakkan seluruh proyek ini: apakah kapal seperti yang terukir di Borobudur itu benar-benar mampu berlayar dari Indonesia sampai ke Afrika? Pertanyaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan mengkaji ukiran. Ia harus dijawab dengan membangun kapalnya dan melayarkannya.

Ide Philip Beale: dari kunjungan 1982 ke tim pembangunan 2002

Gagasan itu datang dari Philip Beale, seorang pelaut Inggris yang pernah berdinas di Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Pada 1982, Beale mengunjungi Candi Borobudur untuk mempelajari kapal-kapal tradisional dan tradisi maritim. Di sana ia terpikat pada relief-relief kapal kuno yang terukir di dinding candi.

Beale menyimpulkan bahwa kapal-kapal dalam relief itu mungkin merupakan bagian dari jalur pelayaran kuno yang menghubungkan Indonesia dengan Afrika. Ia memutuskan untuk merekonstruksi salah satu kapal tersebut dan melayarkannya ke Afrika Barat, untuk membuktikan bahwa para pelaut Indonesia pada masa kuno mampu mencapai Afrika melalui laut, bukan hanya melalui darat.

Butuh waktu dua puluh tahun sebelum gagasan itu benar-benar berjalan. Pada 2002, Beale bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, membentuk tim pembangunan kapal. Tim itu melibatkan Nick Burningham, ahli kapal tradisional Indonesia dan arkeologi maritim asal Australia, yang mengawasi pembangunan kapal. Pembangun utamanya adalah As’ad Abdullah, pembuat kapal tradisional dari Pulau Kangean, Jawa Timur, bersama para pekerjanya.

Para pembangun itu berbasis di Kepulauan Kangean, sekitar 60 mil di sebelah utara Bali. Mereka bekerja dengan bahan yang sangat terbatas: menurut catatan ekspedisi, Burningham hanya berbekal model kayu balsa buatannya sebagai panduan bentuk kapal. Dari model kecil itulah kapal kayu berukuran penuh dibangun.

Proses pembangunan kapal memakan waktu sekitar enam bulan. Hasilnya adalah kapal yang kemudian diberi nama Samudra Raksa, dari bahasa Jawa Kuno yang berarti pelindung lautan. Nama itu diberikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2003. Sang pembangun sendiri memberi kapal itu nama lain, Lallai Beke Ellau, yang dalam bahasa Bajo berarti berlari bersama matahari.

Membangun replika dari segenggam ukiran

Kapal Samudra Raksa memiliki lunas sepanjang 17,29 meter dan lambung sekitar 19 meter secara keseluruhan, dengan lebar 4,25 meter, tinggi lambung 2,25 meter, dan sarat layar sekitar 1,5 meter. Kapal ini digerakkan oleh dua layar tanja, yaitu layar persegi panjang yang dipasang miring, pada dua tiang tegak dan satu tiang haluan. Kecepatannya mencapai 9 knot.

Papan lambung kapal terbuat dari kayu bungor, yang kadang disebut benteak, sedangkan geladaknya terbuat dari kayu jati. Kapal ini juga dilengkapi dua motor tempel kecil yang dipasang di sisi lambung. Motor itu hanya dipakai untuk bermanuver di pelabuhan atau saat kapal kehabisan angin, bukan untuk pelayaran jarak jauh. Dengan kata lain, pelayaran samudra ditempuh dengan layar, seperti pada masa kuno.

Ada satu perbedaan yang sengaja dibuat dari relief aslinya. Kapal dalam relief digambarkan dengan perisai tinggi di haluan dan buritan. Pada replika, perisai itu tidak dipasang, karena perisai tersebut menghalangi pandangan nakhoda sampai melanggar aturan pencegahan tubrukan di laut. Keputusan ini menunjukkan bahwa replika tersebut bukan tiruan buta, melainkan rekonstruksi yang disesuaikan dengan keselamatan pelayaran modern.

Kapal itu diresmikan di Pelabuhan Benoa, Bali, pada 15 Juli 2003 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika bersama Philippe Delanghe, pakar program budaya Kantor UNESCO Jakarta. Setelah itu dilakukan pelayaran uji coba dari Tanjung Benoa, Bali, melalui Surabaya, menuju Pelabuhan Ancol. Hasil uji coba menyatakan kapal itu layak laut.

Pemberangkatan dari Jakarta dan enam bulan di laut

Ekspedisi Kapal Borobudur dimulai dari Jakarta pada Agustus 2003 dan dilepas langsung oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Sumber-sumber yang tersedia berbeda soal tanggal persis pemberangkatannya, ada yang menyebut pertengahan Agustus dan ada yang menyebut 30 Agustus, sehingga artikel ini hanya menulis bulan pemberangkatannya. Yang pasti dari kedua sumber itu: pelayaran dimulai pada Agustus 2003 dan berakhir pada 23 Februari 2004.

Kapal itu dinakhodai oleh Kapten I Gusti Putu Ngurah Sedana, perwira TNI Angkatan Laut Indonesia. Menurut InJourney, ekspedisi ini melibatkan 27 awak dari berbagai negara. Kapal hanya dapat menampung 16 orang, sehingga para awak naik dan turun secara bergantian di setiap titik singgah. Sistem pergantian inilah yang memungkinkan kapal kecil itu menempuh pelayaran selama sekitar enam bulan.

Rute yang ditempuh mengikuti apa yang secara historis disebut Jalur Kayu Manis, jalur perdagangan rempah dari perairan Indonesia melintasi Samudra Hindia menuju Seychelles, lalu Madagaskar, kemudian melewati Afrika Selatan dan Tanjung Harapan, hingga akhirnya sampai di Ghana, Afrika Barat. Pada 23 Februari 2004, kapal itu tiba di Pelabuhan Tema, Accra, Ghana.

Pelayaran selama enam bulan itu bukan perjalanan yang mudah. Kapal kayu tanpa mesin utama, yang hanya mengandalkan layar, harus menghadapi angin dan gelombang Samudra Hindia serta Samudra Atlantik bagian selatan. Keberhasilan kapal itu tiba di Ghana menjadi inti dari seluruh proyek: kapal yang bentuknya hanya diketahui dari ukiran batu ternyata mampu menempuh pelayaran samudra.

Apa yang ingin dibuktikan oleh Jalur Kayu Manis

Tujuan ekspedisi ini adalah menunjukkan bahwa hubungan dagang jarak jauh antara Indonesia dan Afrika pada masa kuno memang mungkin terjadi melalui laut. Jalur Kayu Manis adalah nama untuk rute perdagangan rempah abad ke-8 yang menghubungkan kepulauan Indonesia dengan Madagaskar dan Afrika Timur. Rempah-rempah, termasuk kayu manis, menjadi komoditas yang menggerakkan perdagangan itu.

Gagasan ini berpijak pada jejak sejarah yang lebih luas. Para pelaut Austronesia dari Asia Tenggara diketahui telah mencapai Madagaskar di sisi barat Samudra Hindia, jauh sebelum bangsa Eropa menguasai jalur perdagangan rempah. Relief kapal di Borobudur menjadi petunjuk visual bahwa masyarakat Jawa pada abad ke-8 sudah mengenal kapal yang sanggup menempuh pelayaran semacam itu.

Perlu ditegaskan batas dari apa yang dibuktikan ekspedisi ini. Pelayaran Samudra Raksa membuktikan bahwa kapal berdasarkan relief Borobudur mampu berlayar dari Indonesia ke Afrika. Pelayaran itu tidak membuktikan bahwa pada abad ke-8 ada kapal tertentu yang menempuh rute persis yang sama, pada tahun tertentu, dengan muatan tertentu. Yang dibuktikan adalah kemungkinan teknisnya, bukan catatan perjalanan kuno yang spesifik.

Meski demikian, pembuktian kemungkinan itu sendiri bernilai besar. Ia mengubah relief Borobudur dari sekadar ukiran menjadi hipotesis yang bisa diuji. Dan pengujian itu dilakukan dengan cara yang paling langsung: membangun kapalnya dan melayarkannya.

Setelah ekspedisi selesai, kisah pelayaran ini diabadikan dengan cara lain. Pada 2005, dua perangko diterbitkan untuk memperingati ekspedisi tersebut. Kapal itu sendiri kemudian dipulangkan ke Borobudur, tempat kisahnya bermula, untuk dipamerkan di museum yang dibangun khusus untuknya.

Museum Kapal Samudraraksa hari ini: apa yang bisa dilihat pengunjung

Museum Kapal Samudraraksa adalah museum maritim dan arkeologi yang dibangun beberapa ratus meter di sebelah utara Candi Borobudur, di dalam kompleks Taman Wisata Candi Borobudur. Museum ini diresmikan pada 31 Agustus 2005 oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Prof. Dr. Alwi Shihab. Peresmian itu sekaligus menjadi penghormatan bagi awak kapal, para pembangun kapal dari Indonesia, serta kerja sama pemerintah dan internasional yang mendukung Ekspedisi Kapal Borobudur.

Pusat perhatian museum ini tentu saja kapal Samudra Raksa itu sendiri, yang dipamerkan dalam ukuran penuh. Pengunjung dapat melihat langsung bentuk kapal yang selama ini hanya dikenal dari relief: lambung kayunya, tiang-tiangnya, layar tanjanya, dan cadik di sisi lambungnya. Melihat kapal dalam ukuran penuh memberi gambaran yang tidak bisa diberikan oleh foto relief, yaitu seberapa besar dan seberapa sempit ruang yang ditempati para awak selama enam bulan pelayaran.

Selain kapal, museum ini menyimpan koleksi benda-benda bersejarah dan dokumentasi video tentang ekspedisi Samudra Raksa. Dokumentasi itu penting karena pelayaran 2003 hingga 2004 adalah peristiwa yang sudah berlalu, dan video menjadi jembatan antara kapal yang diam di museum dengan laut yang pernah dilayarinya.

Museum ini juga menafsirkan perdagangan maritim Samudra Hindia pada masa kuno, khususnya hubungan dagang antara Indonesia, Madagaskar, dan Afrika Timur. Pameran-pamerannya menjelaskan bahwa Borobudur bukan hanya monumen keagamaan, melainkan juga jendela menuju dunia maritim Nusantara pada abad ke-8.

Menurut pengelolanya, museum ini dibangun sebagai upaya kreatif dan inovatif dengan misi mendidik bangsa melalui visualisasi sejarah maritim kepulauan. Misi itu menjelaskan mengapa museum ini tidak hanya memamerkan kapal, melainkan juga koleksi benda bersejarah, dokumentasi video ekspedisi, dan wahana interaktif. Tujuannya adalah membuat sejarah maritim yang jauh dan abstrak menjadi sesuatu yang bisa dilihat, dimasuki, dan dibayangkan oleh pengunjung dari berbagai usia.

Pada 2018, museum ini menambah wahana baru bernama Raka Adventure Interactive Cinema, bioskop interaktif yang memakai teknologi digital berupa animasi tiga dimensi pada layar LED. Wahana ini mengemas sejarah maritim Indonesia dari abad ke-8 sampai masa kini dalam bentuk yang mudah diikuti keluarga. Di dalamnya terdapat tokoh fiktif bernama Raka yang mengajak pengunjung menjelajah ruang dan waktu untuk menyaksikan perjalanan maritim kepulauan Indonesia.

Di sebelah museum ini, masih di dalam kompleks yang sama, terdapat Museum Karmawibhangga. Museum tersebut menampilkan foto-foto relief Karmawibhangga yang terukir pada kaki candi Borobudur yang tersembunyi, serta batu-batu candi dan artefak arkeologi lainnya. Menurut sejumlah panduan wisata, tiket masuk kedua museum ini sudah termasuk dalam tiket masuk Taman Wisata Candi Borobudur, sehingga pengunjung yang datang ke candi dapat mengunjungi museum tanpa tiket terpisah.

Dari Jakarta ke Tema: etape-etape pelayaran

Rute Samudra Raksa dapat dibaca sebagai rangkaian etape. Dari perairan Indonesia, kapal melintasi Samudra Hindia menuju Seychelles, lalu ke Madagaskar, kemudian melewati Afrika Selatan dan Tanjung Harapan, sebelum akhirnya tiba di Ghana. Setiap etape itu bukan sekadar titik di peta, melainkan bagian dari argumen ekspedisi.

Madagaskar menjadi persinggahan yang paling bermakna. Pulau besar di lepas pantai Afrika Timur itu dihuni oleh keturunan pelaut Austronesia dari Asia Tenggara, yang pada masa sangat awal telah mengarungi samudra dengan kano bercadik tunggal maupun ganda. Dengan singgah di Madagaskar, ekspedisi ini menyentuh langsung jejak migrasi maritim yang menjadi latar gagasan Jalur Kayu Manis.

Etape berikutnya, melewati Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika, adalah ujian terbesar. Di sinilah kapal berpindah dari Samudra Hindia ke Samudra Atlantik, melewati perairan yang terkenal ganas. Kapal yang lolos dari etape ini membuktikan bahwa kapal relief Borobudur bukan hanya mampu berlayar di laut yang relatif terlindung, melainkan juga di samudra terbuka.

Tujuan akhirnya, Pelabuhan Tema di Accra, Ghana, dicapai pada 23 Februari 2004, sekitar enam bulan setelah pemberangkatan dari Jakarta. Tema dipilih sebagai ujung barat rute, tempat kapal menutup pembuktian bahwa perdagangan laut jarak jauh antara Indonesia dan Afrika memang dapat ditempuh dengan teknologi kapal abad ke-8.

Dunia maritim abad ke-8 di balik relief

Untuk memahami mengapa relief kapal di Borobudur begitu penting, perlu dilihat apa lagi yang digambarkan relief candi itu. Relief-relief Borobudur menggambarkan kehidupan sehari-hari Jawa abad ke-8 secara luas: kehidupan istana, pasar, sawah, flora dan fauna, pakaian dan perhiasan, serta alat transportasi. Kapal adalah salah satu alat transportasi itu, berdampingan dengan tandu dan kereta kuda.

Kapal-kapal dalam relief itu memberi gambaran tentang kapal-kapal masa Sriwijaya, ketika para pelaut Melayu mengembangkan teknologi layar dan menguasai angin musim. Pada masa yang lebih awal, kano bercadik tunggal dan ganda dipakai para pelaut Austronesia untuk penyeberangan samudra paling awal, dari Asia Tenggara ke Madagaskar di barat dan ke Hawaii serta Pulau Paskah di timur. Relief Borobudur menunjukkan tahap yang lebih maju: kapal yang lebih besar, dengan layar dan cadik, yang dipakai untuk perdagangan.

Perdagangan itulah yang memberi nama pada rute ekspedisi. Kayu manis dan rempah-rempah lain menjadi komoditas yang menggerakkan pelayaran jarak jauh. Jalur Kayu Manis menghubungkan kepulauan penghasil rempah dengan pasar-pasar di Afrika dan sekitarnya. Ekspedisi Samudra Raksa menelusuri kembali jalur itu bukan untuk berdagang, melainkan untuk membuktikan bahwa jalur itu memang bisa dilayari dengan kapal seperti yang terukir di Borobudur.

Di sini penting untuk menjaga batas antara gambaran dan catatan. Relief Borobudur menunjukkan kapal-kapal yang dikenal masyarakat Jawa abad ke-8, tetapi relief itu bukan catatan pelayaran tertentu. Relief tidak menuliskan nama nakhoda, tanggal keberangkatan, atau daftar muatan. Itulah sebabnya ekspedisi ini membuktikan kemungkinan, bukan peristiwa spesifik. Dan kemungkinan itu pun sudah cukup untuk mengubah cara kita memandang relief: bukan sekadar hiasan candi, melainkan gambar teknologi pelayaran yang nyata.

Jejak lain ekspedisi ini

Samudra Raksa bukan satu-satunya replika kapal Borobudur yang pernah dibangun. Pada 1985, di Filipina, dibangun replika lain yang disebut Sarimanok, juga berdasarkan kapal Borobudur. Keberadaan replika kedua ini menunjukkan bahwa daya tarik kapal relief Borobudur melampaui satu proyek dan satu negara.

Sebuah replika kapal Borobudur juga dipamerkan di Resorts World Sentosa, Singapura. Replika-replika ini membuat kapal Borobudur dikenal lebih luas, meskipun kapal yang benar-benar berlayar dari Jakarta ke Ghana dan kini dipamerkan di museum tetaplah Samudra Raksa yang asli dari ekspedisi 2003 hingga 2004.

Philip Beale sendiri tidak berhenti pada ekspedisi ini. Antara 2008 dan 2010, ia memimpin Ekspedisi Fenisia, yang merekonstruksi rute pelayaran para pelaut Fenisia pada 600 Sebelum Masehi. Tujuannya serupa: membuktikan bahwa kapal yang dibangun bangsa Fenisia mampu bertahan menghadapi kondisi di sepanjang pantai Afrika. Pola yang sama terlihat di kedua proyek itu, yaitu membangun ulang kapal kuno berdasarkan bukti yang tersisa, lalu mengujinya di laut.

Mengapa museum ini layak dikunjungi

Museum Kapal Samudraraksa menarik karena ia membalik urutan biasa dalam menikmati Borobudur. Biasanya pengunjung datang untuk melihat candi, lalu pulang. Di museum ini, pengunjung justru diajak melihat apa yang ada di balik ukiran candi: sebuah kapal yang keluar dari dinding batu, dibangun kembali oleh tangan-tangan manusia, lalu benar-benar berlayar.

Kisah ini juga mengingatkan bahwa sejarah maritim Indonesia tidak hanya tertulis dalam naskah atau tersimpan di dasar laut. Ia pernah diuji di laut lepas, dengan kapal kayu, layar, dan awak dari berbagai negara. Kapal yang kini diam di museum itu adalah bukti bahwa pengujian tersebut berhasil.

Bagi pengunjung Borobudur, museum ini adalah pelengkap yang sepadan dengan candi itu sendiri. Candi menunjukkan apa yang dibangun masyarakat Jawa kuno di darat. Museum ini menunjukkan ke mana masyarakat itu mampu pergi melalui laut. Keduanya, jika dilihat bersamaan, memberi gambaran yang lebih utuh tentang dunia abad ke-8: dunia yang membangun candi setinggi bukit, sekaligus melayarkan kapal menyeberangi samudra. Kapal itu kini menunggu di museum, beberapa ratus meter dari candi yang menginspirasinya.

Sumber: InJourney Destination Management (tautan); Wikipedia, “Samudra Raksa” (tautan).

Baca juga: VW Safari Borobudur: Keliling Desa Penyangga dengan Mobil Klasik Atap Terbuka

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *