Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Ekonomi » Gerabah Magelang: Perajin Tanah Liat yang Bertahan
Ekonomi

Gerabah Magelang: Perajin Tanah Liat yang Bertahan

Satu dusun di dekat Borobudur masih mengolah tanah liat dengan tangan, dari generasi ke generasi. Seberapa banyak perajinnya yang tersisa, dan apa yang membuat mereka bertahan?

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 05.02 WIB
gerabah Klipoh Magelang
Ilustrasi perempuan perajin membentuk gerabah tanah liat di atas alat putar di teras rumah kayu, rak-rak gerabah di sekelilingnya dan asap pembakaran tipis di kejauhan. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, Di Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, tanah liat masih diolah dengan tangan menjadi gerabah, sebagaimana telah dilakukan warga setempat secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Dusun ini terletak sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur, dan dikenal sebagai sentra kerajinan gerabah yang paling terdokumentasi di wilayah Magelang. Bagi warga Klipoh, gerabah bukan sekadar barang dagangan, melainkan warisan leluhur yang bentuk dan proses pembuatannya, menurut penuturan warga, telah ada bahkan sebelum Candi Borobudur berdiri. Bagi wisatawan, Klipoh adalah tempat untuk melihat dan mencoba sendiri proses pembuatan gerabah tradisional, dari memilih tanah liat hingga membakar hasil bentukannya.

Artikel ini menelusuri keberadaan sentra dan komunitas perajin gerabah di Magelang, dengan fokus pada Klipoh sebagai sentra yang memiliki bukti dokumentasi paling kuat. Penelusuran ini menemukan satu sentra yang terdokumentasi secara kredibel, yaitu Klipoh, dan tidak menemukan sentra gerabah lain dengan skala dan dokumentasi sebanding di wilayah Magelang dalam sumber-sumber yang ditelusuri untuk artikel ini. Pernyataan itu ditulis secara eksplisit karena penting bagi pembaca: artikel ini tidak mengarang nama bengkel, sentra, atau tokoh perajin di luar yang tercatat dalam sumber. Nama-nama yang muncul di sini, seperti Kelompok Perajin Gerabah Bina Karya dan ketuanya Supoyo, serta usaha Arum Art, adalah nama-nama yang tercatat dalam sumber yang disebutkan, bukan nama yang dibuat untuk keperluan artikel.

Klipoh juga dikenal dengan sebutan Nglipoh. Menurut laporan Berita Magelang, seni membuat gerabah di Dusun Nglipoh atau Banjaran 1, Desa Karanganyar, Kabupaten Magelang, masih terus dilestarikan. Perajin gerabah warga Nglipoh, Supoyo, dalam laporan itu mengatakan bahwa sejak Candi Borobudur belum berdiri, Dusun Nglipoh sudah ada dan masyarakatnya sudah membuat gerabah. Pada zaman dahulu, menurut Supoyo, para leluhur membuat peralatan dapur seperti piring, mangkok, gelas, kendi, dan perabotan lainnya. Gambaran yang sama muncul dalam tulisan tentang Desa Wisata Klipoh, yang menyebut tradisi pembuatan gerabah di Klipoh diperkirakan telah ada sebelum pembuatan Candi Borobudur, dan kegiatan serta proses pembuatan gerabah yang diwariskan secara turun-temurun terukir pada salah satu relief Borobudur.

Kaitan antara gerabah Klipoh dan relief Borobudur adalah salah satu alasan mengapa sentra ini menarik perhatian peneliti dan wisatawan. Menurut laporan harian Merah Putih, salah seorang perajin gerabah di Desa Wisata Klipoh, Rupiah, mengisahkan bahwa gerabah menjadi salah satu peninggalan berharga bagi masyarakat Desa Klipoh, dan sejarah terbentuknya Desa Klipoh berkaitan erat dengan perkembangan kerajinan gerabah. Rupiah menuturkan bahwa munculnya gerabah berbarengan dengan dibangunnya Candi Borobudur. Ia berbicara sembari menjalankan tepian alat pemutar gerabah yang berbentuk lingkaran pipih, dan selama alat berputar, kedua tangannya terampil membentuk dan menghaluskan tanah liat di atasnya. Gambaran itu menunjukkan bahwa gerabah Klipoh bukan hanya produk, melainkan keterampilan tubuh yang diwariskan melalui pengamatan dan latihan sejak kecil.

Asal-usul nama Klipoh sendiri, menurut penuturan yang dikutip harian Merah Putih, berkaitan dengan kisah seorang perempuan yang disebut Nyai Kalipah. Kisah itu menyebutkan bahwa seorang perempuan yang merupakan janda dengan gelar tinggi dari Kerajaan Medang, bersama para pengikutnya, meninggalkan kerajaan karena permasalahan yang terjadi di kerajaan, lalu berpindah ke wilayah yang kini disebut Klipoh. Wilayah itu kemudian menjadi tempat tinggalnya, yang dapat diketahui dari tekstur tanah dan kedekatan dengan sumber air. Warga sekitar kemudian memberi nama kepada perempuan tersebut dengan sebutan Nyai Kalipah, yang terdiri dari dua kata, yaitu kali yang berarti sungai dan pohe yang berarti tempatnya, sehingga Kalipah memiliki makna sungai sebagai tempat tinggalnya. Kisah ini dikutip sebagai penuturan warga dan tradisi lisan, bukan sebagai fakta sejarah yang terverifikasi melalui dokumen tertulis, dan pembaca perlu membedakannya dari fakta-fakta yang terdokumentasi tentang proses dan kelembagaan perajin.

Menurut laporan yang sama, Nyai Kalipah adalah orang pertama yang mengajarkan dan mengembangkan gerabah di wilayahnya. Penuturan semacam ini adalah bagian dari cara masyarakat Klipoh menjelaskan asal-usul keterampilan mereka, dan penting untuk dicatat sebagai cerita asal-usul yang hidup di tengah masyarakat, bukan sebagai klaim sejarah yang dapat dibuktikan secara arkeologis dalam artikel ini. Yang dapat diverifikasi dari sumber-sumber tertulis adalah bahwa keterampilan membuat gerabah di Klipoh diwariskan secara turun-temurun, bahwa sebagian besar penduduk dusun ini berprofesi sebagai perajin, dan bahwa gerabah Klipoh telah lama dikenal sebagai produk dari kawasan Borobudur.

Gerabah Klipoh Magelang: berapa banyak perajin yang masih bertahan

Pertanyaan yang paling sering muncul tentang sentra kerajinan tradisional adalah berapa banyak perajin yang masih bertahan. Untuk Klipoh, angka yang tersedia berasal dari laporan-laporan yang berbeda waktu, sehingga perlu dibaca dengan memperhatikan kapan laporan itu dibuat. Menurut laporan ANTARA Foto tentang geliat gerabah Klipoh, Dusun Klipoh berpenduduk sekitar 600 jiwa yang sebagian warganya berprofesi sebagai perajin gerabah, dan hingga saat laporan itu dibuat, tercatat sebanyak 86 perajin yang masih aktif memproduksi gerabah. Laporan itu mengutip Ketua Kelompok Perajin Gerabah Bina Karya Dusun Klipoh, Supoyo, sebagai sumber angka tersebut. Angka 86 perajin aktif ini adalah angka dari laporan tersebut, bukan angka sensus terbaru, dan pembaca perlu memahami bahwa jumlah perajin dapat berubah dari tahun ke tahun.

Gambaran lain tentang skala Klipoh datang dari tulisan tentang Desa Wisata Klipoh, yang menyebut sekitar 80 persen penduduk Klipoh berprofesi sebagai perajin gerabah. Angka ini, yang merujuk pada tulisan National Geographic Indonesia, memberi gambaran tentang betapa sentralnya gerabah dalam kehidupan ekonomi dusun ini. Bila angka 80 persen itu dibaca bersamaan dengan angka penduduk sekitar 600 jiwa dari laporan ANTARA Foto, maka gambaran yang muncul adalah sebuah dusun yang sebagian besar warganya menggantungkan hidup pada tanah liat. Namun, kedua angka itu berasal dari sumber dan waktu yang berbeda, sehingga artikel ini tidak menggabungkannya menjadi satu angka baru. Yang dapat dikatakan dengan aman adalah bahwa gerabah adalah mata pencaharian utama bagi sebagian besar warga Klipoh, menurut sumber-sumber tersebut.

Tulisan lain tentang Klipoh, yang dimuat di situs Nara Mutiara, menyebut sekitar 75 persen masyarakat dusun ini menggantungkan hidup sebagai pengrajin gerabah, dan rata-rata pekerjaan itu dilakukan oleh perempuan. Menurut tulisan itu, para perempuan di Klipoh sudah terbiasa membuat gerabah sejak kecil, dan keterampilan itu diturunkan oleh orang tua mereka secara turun-temurun. Perbedaan kecil antara angka 80 persen dan 75 persen menunjukkan bahwa angka-angka semacam ini adalah perkiraan dari sumber yang berbeda, bukan hasil sensus resmi. Yang konsisten di semua sumber adalah pola pembagian kerja: perempuan yang membentuk gerabah, dan laki-laki yang mencari tanah liat untuk bahan baku serta merang untuk pembakaran. Pola ini juga disebut dalam tulisan tentang gerabah Klipoh yang menyatakan bahwa di Klipoh, yang bertugas membuat gerabah adalah perempuan, sementara kaum laki-laki bertugas mencari tanah liat dan merang untuk pembakaran gerabah.

Pola pembagian kerja itu penting karena menunjukkan bahwa gerabah Klipoh adalah pekerjaan keluarga dan pekerjaan dusun, bukan pekerjaan perorangan yang terpisah dari kehidupan sosial. Tanah liat harus dicari, diangkut, dan diolah sebelum dapat dibentuk. Pembakaran membutuhkan bahan bakar dan tenaga untuk mengipasi api. Penjemuran membutuhkan cuaca yang mendukung dan ruang yang cukup. Setiap tahap melibatkan orang yang berbeda, sehingga gerabah menjadi kegiatan kolektif yang mengikat warga dusun. Ketika satu tahap terganggu, misalnya hujan berkepanjangan yang menghambat penjemuran, seluruh rangkaian produksi ikut terganggu. Laporan ANTARA Foto menggambarkan suasana itu: setelah beberapa hari hujan membasahi kawasan, warga memanfaatkan terik matahari untuk menjemur dan membakar gerabah, dengan asap putih mengepul di salah satu sudut desa.

Di sisi lain, ada kabar yang kurang menggembirakan tentang regenerasi perajin Klipoh. Menurut tulisan Kazebara tentang macetnya regenerasi perajin gerabah Klipoh, perajin yang ditemui di dusun itu sebagian besar adalah perempuan yang sudah tua, dan beberapa di antaranya mengatakan tidak memiliki penerus. Tulisan itu mengisahkan Mbah Kaminah, yang sudah belajar membuat gerabah sejak kecil dan mulai terjun menjadi perajin sejak tahun 2000. Di rumah sederhana berbahan kayu dengan teras yang terisi rak penuh gerabah, Mbah Kaminah bekerja setiap hari, dan menurut tulisan itu, tidak ada anak cucunya yang membuat gerabah. Kisah ini dikutip sebagai gambaran dari satu sumber tentang tantangan regenerasi, bukan sebagai pernyataan bahwa seluruh perajin Klipoh tidak memiliki penerus, karena sumber lain menunjukkan bahwa anak-anak dan pelajar masih belajar membuat gerabah melalui kegiatan wisata edukasi.

Tantangan regenerasi ini adalah tantangan umum bagi kerajinan tradisional di banyak tempat, dan Klipoh tidak terkecuali. Proses pembuatan gerabah membutuhkan waktu yang tidak singkat, keterampilan khusus, dan kesabaran yang tidak dapat dipelajari dalam sehari. Tulisan Kazebara mencatat bahwa hasil percobaan pengunjung yang mencoba membuat gerabah sering kali tidak menjadi seperti contoh, karena pekerjaan itu membutuhkan keterampilan khusus. Kenyataan ini menjelaskan mengapa regenerasi tidak dapat hanya mengandalkan minat sesaat, melainkan membutuhkan pembinaan yang berkelanjutan, pasar yang menjanjikan, dan penghargaan ekonomi yang memadai bagi perajin. Bila pendapatan dari gerabah terlalu kecil, generasi muda yang memiliki pilihan pekerjaan lain akan cenderung meninggalkan keterampilan itu, betapapun besarnya nilai budayanya.

Proses pembuatan gerabah: dari tanah liat hingga pembakaran

Proses pembuatan gerabah di Klipoh menggunakan teknik yang masih sederhana berdasarkan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun. Menurut tulisan tentang Desa Wisata Klipoh, pembuatan gerabah melalui berbagai proses, antara lain pembentukan gerabah, pengeringan dengan bantuan sinar matahari dengan cara dijemur, dan pembakaran. Tulisan Kazebara merinci proses itu lebih lanjut: dimulai dengan pemilihan bahan tanah liat, pembentukan, pengeringan, pembakaran, pewarnaan, dan finishing. Setiap tahap memiliki peran yang menentukan kualitas hasil akhir, dan tidak ada tahap yang dapat dilewati begitu saja tanpa memengaruhi kekuatan dan keindahan gerabah.

Menurut laporan Berita Magelang, teknis pembuatan gerabah di Nglipoh adalah sebagai berikut: tanah dibuat seperti adonan, lalu mulai dibentuk menggunakan alat bantu putar, cetakan, atau dipilin. Setelah dibentuk, gerabah dijemur selama satu hari, kemudian dibakar selama lebih kurang 12 jam jika menggunakan jerami atau kayu, sedangkan jika menggunakan gas, pembakaran berlangsung sekitar lima jam. Penjelasan ini memberi gambaran yang konkret tentang waktu yang dibutuhkan: satu hari untuk penjemuran dan setengah hari untuk pembakaran dengan bahan bakar tradisional. Waktu-waktu ini adalah waktu yang disebutkan dalam laporan tersebut, dan dalam praktiknya dapat bervariasi mengikuti cuaca, ukuran gerabah, dan jenis bahan bakar yang digunakan.

Pembakaran tradisional di Klipoh menggunakan api dari bebakaran dedaunan pohon pisang yang sudah mengering, demikian gambaran laporan ANTARA Foto. Agar mendapatkan hasil yang maksimal, warga berbagi tugas: ada yang berperan menaruh dedaunan pisang di antara gerabah, dan ada pula yang bertugas membuat angin dengan kipas yang terbuat dari anyaman bambu. Gambaran ini menunjukkan bahwa pembakaran bukan sekadar menyalakan api, melainkan pekerjaan yang membutuhkan koordinasi, pengalaman membaca api, dan kesabaran menjaga suhu agar gerabah matang merata. Bila api terlalu besar atau terlalu kecil, gerabah dapat retak atau tidak matang sempurna, sehingga seluruh pekerjaan sebelumnya menjadi sia-sia.

Bahan baku gerabah Klipoh adalah tanah liat berkualitas yang, menurut tulisan Nara Mutiara, dibeli dari persawahan warga atau dibeli dari Bali seharga Rp20.000 per kilogram. Angka harga ini dikutip dari sumber tersebut sebagai gambaran biaya bahan baku menurut sumber itu, bukan sebagai harga yang berlaku pasti pada hari ini. Yang penting dari keterangan ini adalah bahwa tanah liat yang baik tidak selalu tersedia di pekarangan sendiri, sehingga perajin harus membeli dari tempat lain bila tanah setempat tidak memenuhi syarat. Kualitas tanah liat menentukan kelenturan adonan, kemudahan pembentukan, dan kekuatan gerabah setelah dibakar. Karena itu, pemilihan tanah liat adalah tahap yang tidak dapat dianggap sepele.

Setelah dibentuk dan dikeringkan, gerabah dibakar, lalu diwarnai dan diselesaikan. Menurut tulisan Kazebara, beragam jenis gerabah dihasilkan di Klipoh, mulai dari asbak, tempat lilin, kendi, mangkok, cangkir, pot bunga, sampai miniatur patung Buddha dan stupa. Menurut laporan ANTARA Foto, berbagai produk gerabah Klipoh antara lain kendil, cobek, blengker, kuali, hingga anglo, yang dipasarkan dengan harga mulai Rp2.000 hingga Rp30.000 per barang menurut laporan tersebut. Rentang harga ini dikutip dari laporan ANTARA Foto sebagai gambaran harga pada saat laporan itu dibuat, bukan sebagai daftar harga yang berlaku hari ini. Produk-produk yang lebih rumit, seperti keramik dengan tingkat kesulitan tinggi, menurut tulisan Nara Mutiara, dapat mencapai harga jutaan rupiah, tergantung tingkat kesulitan, bentuk, ukuran, dan waktu pembuatan.

Produk unggulan Klipoh yang sebenarnya, menurut tulisan Kazebara, adalah alat memasak. Namun, karena jumlah perajin semakin sedikit dan kebanyakan pesanan adalah suvenir, perajin membuat peralatan memasak ketika ada pesanan saja. Keterangan ini menunjukkan pergeseran pasar: gerabah yang dahulu dibuat untuk kebutuhan dapur sehari-hari kini lebih banyak dibuat sebagai suvenir dan benda pajangan bagi wisatawan. Pergeseran ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, pasar suvenir memberi pendapatan tambahan dan memperkenalkan gerabah Klipoh kepada wisatawan dari berbagai daerah dan negara. Di sisi lain, pergeseran ini dapat menggeser keterampilan membuat alat memasak yang membutuhkan kekuatan dan ketahanan khusus, bila pesanan alat memasak semakin jarang datang.

Salah satu pesanan yang masih bertahan dan memiliki makna khusus adalah kendil berukuran kecil yang digunakan sebagai wadah ari-ari atau plasenta bayi, demikian tulisan tentang gerabah Klipoh. Pesanan semacam ini menunjukkan bahwa gerabah masih memiliki fungsi ritual dan budaya di tengah masyarakat, bukan hanya fungsi hiasan. Kendil kecil untuk ari-ari adalah benda yang dibuat dengan ketelitian dan penghormatan, karena berkaitan dengan kelahiran dan tradisi keluarga. Keberadaan pesanan semacam ini adalah bukti bahwa gerabah Klipoh masih hidup dalam praktik budaya masyarakat, bukan hanya dalam etalase toko suvenir.

Dari dapur ke desa wisata: Klipoh membuka diri bagi pengunjung

Perubahan besar dalam sejarah Klipoh terjadi ketika dusun ini membuka diri sebagai tempat wisata edukasi. Menurut laporan Berita Magelang, pada tahun 2004, gerabah Nglipoh dibuka sebagai wisata edukasi dan terus berjalan hingga sekarang. Pengunjung yang datang mencakup semua kalangan, mulai dari anak-anak play group, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan perguruan tinggi, bahkan ada yang berasal dari instansi perusahaan dan kedinasan yang datang untuk berwisata dan menambah wawasan dalam membuat gerabah. Menurut tulisan tentang Desa Wisata Klipoh, sejak tahun 2000, Dusun Klipoh mulai dikunjungi wisatawan, dan salah satu fasilitas penunjang berupa galeri komunitas diresmikan pada bulan Mei 2014, yang dibangun atas kerja sama UNESCO bersama Desa Karanganyar.

Menurut tulisan Nara Mutiara, pembukaan Klipoh sebagai tempat edukasi bermula dari ketertarikan wisatawan asing yang ingin mencoba membuat gerabah sendiri. Pada awalnya, masyarakat belum memiliki persiapan apa pun untuk kegiatan wisata, sehingga praktik pembuatan gerabah bagi wisatawan yang datang hanya dilakukan seadanya, padahal wisatawan asing itu terlihat sangat antusias. Kondisi itu kemudian mendorong Supoyo berinisiatif membuat Arum Art sebagai tempat belajar membuat gerabah ketika wisatawan datang berkunjung, baik wisatawan lokal maupun internasional. Menurut tulisan tentang potensi kerajinan di Kabupaten Magelang yang dimuat di situs Bakti Nusa, Arum Art yang beralamat di Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, merupakan industri kecil yang berfokus pada produk kerajinan gerabah, dan seiring perkembangan zaman, usaha gerabah Desa Karanganyar berkembang menjadi wisata edukasi berbasis vokasional, di mana wisatawan diajak terlibat dan praktik secara langsung dalam pembuatan gerabah, dan hasil praktik tersebut dapat dibawa pulang sebagai suvenir.

Dalam kegiatan wisata edukasi, pengunjung diajari langsung praktik membuat gerabah, dan rata-rata untuk pemula diajari membuat bentuk yang mudah dan sederhana seperti gelas, mangkok, vas bunga, tempat lilin, dan cangkir, demikian laporan Berita Magelang. Baik anak kecil maupun orang dewasa, menurut laporan itu, untuk pemula metode yang diajarkan sama, sehingga hasil yang dibuat hampir mirip. Setelah pengunjung membuat sendiri, perajin memandu proses selanjutnya dan membakarkan hasil karya tersebut. Bila pengunjung meminta dikirim, hasil karya akan dikirimkan, atau boleh langsung diambil dan dibawa pulang. Pola ini membuat pengalaman wisata edukasi menjadi lengkap: pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga mencoba, dan membawa pulang benda yang dibuatnya sendiri.

Menurut laporan ANTARA Foto, guna mewujudkan kelestarian dan menggencarkan promosi kerajinan gerabah Klipoh, perajin membuka kesempatan bagi setiap orang untuk belajar membuat gerabah di Klipoh. Pintu Klipoh terbuka bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara serta para pelajar yang ingin belajar mengolah tanah liat menjadi gerabah. Keterbukaan ini adalah strategi kelestarian yang masuk akal: semakin banyak orang yang memahami sulitnya membuat gerabah, semakin besar penghargaan mereka terhadap harga dan nilai gerabah, dan semakin besar pula peluang generasi muda untuk tertarik meneruskan keterampilan itu. Wisata edukasi juga memberi pendapatan tambahan bagi perajin di luar penjualan produk, sehingga pekerjaan membuat gerabah menjadi lebih menjanjikan secara ekonomi.

Sebelum menjadi desa wisata, hasil kerja keras perajin dengan proses yang panjang dihargai sangat murah oleh tengkulak, demikian tulisan Kazebara. Hasil yang tidak seberapa itu membuat tingkat perekonomian perajin berada di ambang batas kemiskinan. Semenjak menjadi desa wisata, menurut tulisan itu, kehidupan perajin gerabah menjadi lebih baik. Keterangan ini menunjukkan bahwa perubahan pasar, dari pasar tengkulak ke pasar wisatawan langsung, memiliki dampak nyata bagi kesejahteraan perajin. Ketika perajin dapat menjual langsung kepada pembeli dan menerima pembayaran dari kegiatan edukasi, mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada perantara yang menekan harga.

Artikel KabarTidar tentang desa wisata selain Candirejo membahas bagaimana desa-desa wisata di Magelang menawarkan pengalaman yang berbeda dari sekadar melihat pemandangan. Klipoh termasuk dalam pola yang sama: desa wisata yang menawarkan pengalaman membuat, bukan hanya melihat. Pengalaman membuat gerabah adalah pengalaman yang melibatkan tangan, mata, dan kesabaran, sehingga pengunjung pulang dengan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai sebuah benda. Bagi desa wisata lain di Magelang, pengalaman Klipoh dapat menjadi pelajaran tentang pentingnya membuka diri secara bertahap, menyiapkan fasilitas, dan menjaga kualitas produk di tengah meningkatnya jumlah pengunjung.

Apa yang belum ditemukan dan apa yang perlu diverifikasi lebih lanjut

Penelusuran untuk artikel ini menemukan Klipoh sebagai sentra gerabah yang terdokumentasi kuat, tetapi tidak menemukan sentra gerabah lain dengan skala dan dokumentasi sebanding di wilayah Magelang. Hal ini tidak berarti bahwa tidak ada perajin gerabah sama sekali di luar Klipoh. Yang dapat dikatakan secara jujur adalah bahwa dalam sumber-sumber yang ditelusuri, yaitu laporan media, tulisan tentang potensi kerajinan Kabupaten Magelang, dan tulisan tentang desa wisata, hanya Klipoh yang muncul secara konsisten sebagai sentra dengan komunitas perajin, kelompok perajin, dan kegiatan wisata edukasi yang terdokumentasi. Bila ada perajin perorangan di tempat lain di Magelang, keberadaan mereka belum terdokumentasi dalam sumber-sumber tersebut, dan artikel ini tidak mengarang nama atau lokasi mereka.

Pernyataan ini penting karena pembaca berhak membedakan antara apa yang sudah terdokumentasi dan apa yang belum diketahui. Artikel yang mengarang nama sentra atau tokoh perajin demi melengkapi cerita justru merugikan perajin yang sebenarnya, karena pembaca yang datang berdasarkan informasi palsu akan kecewa, dan perajin yang namanya dicatut tanpa persetujuan akan dirugikan. Karena itu, artikel ini membatasi diri pada Klipoh dan menyatakan batas penelusurannya secara terbuka. Bila pemerintah daerah, dinas terkait, atau komunitas perajin memiliki data yang lebih baru tentang jumlah perajin, sentra lain, atau program pembinaan, data tersebut layak menjadi bahan pemutakhiran artikel ini di masa mendatang.

Sejumlah hal lain juga perlu diverifikasi lebih lanjut sebelum dijadikan pegangan. Jumlah perajin aktif sebanyak 86 orang berasal dari laporan ANTARA Foto yang tidak mencantumkan tanggal terbaru dalam kutipan yang tersedia, sehingga jumlah tersebut mungkin sudah berubah. Harga produk mulai Rp2.000 hingga Rp30.000 juga berasal dari laporan yang sama dan perlu diperbarui bila pembaca hendak berbelanja. Harga tanah liat Rp20.000 per kilogram berasal dari tulisan Nara Mutiara dan juga perlu dikonfirmasi. Pembaca yang hendak berkunjung ke Klipoh sebaiknya menghubungi pengelola desa wisata atau kelompok perajin terlebih dahulu untuk memastikan jam kunjungan, biaya kegiatan edukasi, dan ketersediaan pembakaran, karena informasi semacam itu dapat berubah mengikuti musim dan kesibukan perajin.

Pada akhirnya, gerabah Klipoh bertahan karena tiga hal yang saling menguatkan: keterampilan yang diwariskan dalam keluarga, pasar wisata edukasi yang memberi pendapatan langsung, dan cerita asal-usul yang memberi makna budaya pada setiap benda. Keterampilan tanpa pasar akan sulit bertahan, pasar tanpa keterampilan akan kehilangan keasliannya, dan cerita tanpa keduanya akan menjadi dongeng belaka. Klipoh memiliki ketiganya, meskipun dalam kondisi yang tidak mudah, terutama dalam hal regenerasi. Tantangan ke depan adalah memastikan generasi muda Klipoh melihat gerabah bukan hanya sebagai pekerjaan orang tua mereka, melainkan sebagai keterampilan yang dapat memberi penghidupan yang layak dan kebanggaan yang nyata. Bila tantangan itu dapat dijawab, tanah liat Klipoh akan terus dibentuk oleh tangan-tangan baru, dan gerabah Magelang akan tetap bertahan sebagai warisan yang hidup, bukan sekadar kenangan.

Bagi pembaca yang hendak mengenal gerabah Magelang lebih dekat, Klipoh adalah titik awal yang paling dapat dipertanggungjawabkan. Datanglah dengan waktu yang cukup, karena proses pembuatan gerabah tidak dapat dipahami dalam kunjungan yang terburu-buru. Cobalah membentuk tanah liat dengan tangan sendiri, rasakan sulitnya menjaga bentuk agar tidak miring atau retak, dan perhatikan bagaimana perajin membaca tanah, api, dan cuaca dalam satu rangkaian pekerjaan. Pengalaman itu akan mengubah cara pembaca melihat sebuah kendi, mangkok, atau pot bunga: bukan lagi sekadar benda, melainkan hasil dari tanah, tangan, api, dan kesabaran yang diwariskan dari generasi ke generasi di sebuah dusun di lereng kawasan Borobudur.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *