Festival Seni dan Budaya di Magelang Sepanjang Tahun: Kalender Lengkapnya
Dari kirab gunungan getuk di Alun-Alun sampai panggung seniman petani di lereng gunung, ini panduan musim demi musim untuk merencanakan kunjungan ke festival-festival Magelang tanpa terpaku pada satu tanggal.

MAGELANG, Sepanjang tahun, Kota Magelang dan Kabupaten Magelang memiliki kalender festival seni dan budaya yang cukup padat. Kalender itu tidak hanya berisi satu atau dua acara besar, melainkan rangkaian kirab, pertunjukan seni, tradisi syukuran, dan festival komunitas yang tersebar dari musim panen durian di awal tahun hingga tradisi di kawasan Gunung Tidar pada akhir tahun. Sebagian festival mengikuti kalender Masehi, sebagian mengikuti kalender Hijriah atau kalender Jawa, sehingga tanggalnya bergeser dari tahun ke tahun.
Artikel ini disusun sebagai panduan kalender, bukan liputan satu acara. Setiap festival yang ditulis di sini adalah festival yang keberadaannya terverifikasi dari pemberitaan atau sumber resmi. Festival yang sudah memiliki artikel sendiri di KabarTidar, yaitu Festival Balon Syawalan Payaman dan Magelang Flower Festival, hanya disinggung singkat sebagai bagian dari kalender, supaya pembaca tidak perlu membaca ulang liputan yang sama. Untuk jadwal terbaru, pembaca tetap perlu mengonfirmasi ke penyelenggara atau pemerintah daerah, karena tanggal, lokasi, dan rangkaian acara dapat berubah setiap edisi.
Secara umum, kalender Magelang dapat dibaca dalam tiga kelompok. Pertama, festival yang terikat hari jadi dan musim, seperti Grebeg Gethuk pada April dan festival panen di Candimulyo pada musim durian. Kedua, festival yang mengikuti hari besar keagamaan, seperti Waisak di Borobudur, Syawalan di Payaman, dan Maulud di Pakis, yang tanggal Masehinya bergeser setiap tahun. Ketiga, festival komunitas dan tradisi desa yang waktunya mengikuti penanggalan Jawa atau kesepakatan warga, seperti Suran dan merti dusun. Memahami tiga kelompok ini membantu pembaca merencanakan kunjungan tanpa terpaku pada satu tanggal yang belum tentu berlaku pada tahun berikutnya.
Festival seni dan budaya di Magelang dalam satu tahun
Jika diringkas dalam satu putaran tahun, kalender festival seni dan budaya di Magelang kira-kira berjalan sebagai berikut. Awal tahun diisi festival panen di Candimulyo. Sekitar Idulfitri, muncul Grebeg Kupat di tingkat kabupaten dan Festival Balon Syawalan di Payaman. Bulan April menjadi milik Kota Magelang lewat rangkaian hari jadi yang berpuncak pada Grebeg Gethuk. Sekitar bulan purnama Waisak, perhatian beralih ke kawasan Borobudur. Bulan Juli diisi dua festival besar berbasis komunitas dan kabupaten, yaitu Festival Lima Gunung dan Ketep Summit Festival. Menjelang akhir tahun, karnaval etnik, festival bunga, festival santri, dan tradisi Gunung Tidar mengisi Oktober dan November. Di sela-selanya, tradisi Suran dan merti dusun berlangsung di berbagai desa mengikuti penanggalan Jawa dan Islam.
Pola ini bukan jadwal resmi yang berlaku kaku setiap tahun. Sejumlah acara memang memiliki bulan yang relatif stabil, misalnya Grebeg Gethuk pada April dan Festival Lima Gunung pada Juli, tetapi ada pula acara yang tanggalnya berpindah cukup jauh, misalnya Magelang Ethno Carnival yang pada 2025 digelar pada September setelah sempat tertunda dari Agustus, lalu pada 2026 menjadi puncak Magelang Flower Festival pada 1 November. Karena itu, bulan yang disebut dalam artikel ini sebaiknya dibaca sebagai pola dan musim, bukan sebagai tanggal pasti. Pengumuman resmi pemerintah kota, pemerintah kabupaten, atau panitia setempat tetap menjadi rujukan utama sebelum berangkat.
Kalender ini juga memperlihatkan dua pusat kegiatan yang saling melengkapi. Kota Magelang, dengan Alun-Alun sebagai pusatnya, menjadi panggung kirab dan karnaval yang melibatkan kelurahan, sekolah, dan instansi. Kabupaten Magelang, dengan desa-desa, kawasan candi, dan lereng gunungnya, menjadi panggung festival komunitas, tradisi syukuran, dan perayaan keagamaan. Pembaca yang hanya datang ke satu pusat akan melewatkan separuh cerita. Sebaliknya, pembaca yang membaca kalender ini sebagai satu kesatuan akan melihat Magelang sebagai wilayah yang merayakan seni dan budayanya lewat banyak tangan, bukan lewat satu panggung saja.
Awal tahun: festival panen durian di Candimulyo
Kecamatan Candimulyo di Kabupaten Magelang dikenal sebagai sentra durian. Pada musim panen, kecamatan ini menggelar festival durian yang dalam berbagai edisi disebut dengan nama yang tidak selalu sama, antara lain Festival Grebeg Durian dan Festival Tandurian, singkatan dari tanaman hias dan durian lokal Candimulyo. Perbedaan nama ini penting dicatat, supaya pembaca tidak mengira keduanya sebagai dua festival yang sepenuhnya berbeda. Keduanya merujuk pada perayaan panen yang sama di wilayah yang sama, dengan penekanan yang bisa bergeser antara durian, tanaman hias, dan hasil bumi setempat.
Menurut pemberitaan Berita Magelang, Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang menyampaikan apresiasi atas Festival Grebeg Durian yang diselenggarakan setiap tahun, dan berharap masyarakat juga mampu mengolah hasil durian menjadi produk bernilai jual lebih tinggi. Dalam edisi yang diberitakan itu, Desa Giyanti meraih juara pertama, disusul Desa Kembaran dan Desa Purworejo. Penyebutan juara ini menunjukkan bahwa festival tersebut bukan sekadar pasar buah, melainkan juga ajang antardesa yang melibatkan penilaian dan partisipasi desa-desa penghasil durian di Candimulyo.
Isi festival durian Candimulyo, menurut sumber-sumber yang tersedia, meliputi bazar durian dan buah-buahan lokal, lomba olahan berbahan durian, serta kirab durian yang diikuti desa-desa penghasil durian. Pada edisi 2023, Festival Tandurian digelar pada 25 dan 26 Februari 2023 di kawasan tanaman hias Bojong, Desa Giyanti, Candimulyo, mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, dengan durian lokal Candimulyo sebagai primadona. Contoh tanggal ini tidak boleh dibaca sebagai tanggal tetap, karena musim panen dan keputusan panitia dapat menggeser jadwal. Pola yang dapat dipegang adalah musimnya, yaitu sekitar awal tahun pada masa panen durian, dan lokasinya, yaitu kawasan Candimulyo, khususnya Giyanti.
Bagi pembaca, festival ini paling mudah dinikmati sebagai festival rasa dan ekonomi lokal. Pengunjung dapat mencicipi durian dari berbagai desa, membandingkan karakter buahnya, dan melihat langsung bagaimana hasil kebun diolah menjadi produk olahan. Karena festival ini terikat musim panen, pengunjung yang datang di luar musim kemungkinan masih dapat menemukan pedagang durian di Candimulyo, tetapi tidak akan menemukan suasana festivalnya. Karena itu, konfirmasi musim panen dan pengumuman panitia setempat menjadi langkah yang penting sebelum merencanakan kunjungan.
Sekitar Idulfitri: Grebeg Kupat dan Balon Syawalan
Setelah Ramadan, kalender Magelang memasuki musim Syawalan. Dua agenda yang menonjol pada musim ini adalah Grebeg Kupat di Kabupaten Magelang dan Festival Balon Syawalan di Payaman. Keduanya berakar pada tradisi Lebaran, tetapi bentuk perayaannya berbeda. Grebeg Kupat mengarak gunungan ketupat sebagai simbol saling mengakui kesalahan, sedangkan Festival Balon Syawalan menerbangkan balon udara tradisional sebagai tanda Syawalan telah tiba. Keduanya sama-sama melibatkan warga dalam jumlah besar dan sama-sama mengandalkan gotong royong.
Grebeg Kupat Kabupaten Magelang, menurut artikel KabarTidar tentang tradisi ini, berkembang cepat dalam dua tahun terakhir. Pada edisi pertama tingkat kabupaten, Minggu, 6 April 2025, ada dua gunungan yang disusun dari 2.025 selongsong kupat. Setahun kemudian, pada Sabtu, 28 Maret 2026, jumlahnya menjadi tujuh gunungan berisi sekitar 7.000 ketupat, yang dibuat bersama oleh organisasi perangkat daerah dan badan usaha milik daerah Kabupaten Magelang, lalu diarak dari kawasan Masjid Agung Jawa Tengah menuju Lapangan drh. Soepardi di Sawitan, Kota Mungkid, untuk kemudian diperebutkan masyarakat dalam prosesi grebeg. Sebelum naik ke tingkat kabupaten, tradisi ini sudah berjalan di Desa Banjarsari, Kecamatan Secang, dan kawasan sekitarnya. Pembaca yang ingin mengikuti Grebeg Kupat dapat membaca liputan lengkapnya lewat tautan internal di akhir bagian ini, karena artikel ini tidak mengulang seluruh liputan tersebut.
Festival Balon Syawalan Payaman juga sudah memiliki artikel sendiri di KabarTidar. Tradisi ini berlangsung di Dusun Kauman, Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, dan menurut sejumlah sumber telah ada sejak tahun 1980-an. Sekitar 150 balon udara tradisional diterbangkan sebagai tanda Syawalan, dari dua lokasi pelepasan, yaitu halaman Masjid Agung Kauman dan lapangan dusun setempat. Karena tanggal Syawalan mengikuti kalender Hijriah, festival ini tidak memiliki tanggal Masehi yang tetap. Pembaca yang merencanakan kunjungan pada musim ini sebaiknya memantau pengumuman panitia dan pemerintah kabupaten, serta memperhatikan ketentuan keselamatan penerbangan balon yang berlaku pada edisi tersebut, karena ketentuan itu dapat berubah dari tahun ke tahun.
Musim Syawalan juga menjadi pengingat bahwa tidak semua festival Magelang dapat dijadwalkan dengan kalender Masehi semata. Festival yang terikat Lebaran, Maulid, atau Tahun Baru Jawa akan selalu bergeser dalam kalender Masehi. Bagi pembaca, cara paling aman adalah menandai musimnya, misalnya sekitar Idulfitri untuk Syawalan, lalu memeriksa tanggal pastinya mendekati hari pelaksanaan. Cara ini lebih dapat diandalkan daripada menghafal tanggal satu edisi dan menganggapnya berlaku selamanya.
April: Grebeg Gethuk dan rangkaian hari jadi Kota Magelang
Bulan April adalah bulan hari jadi Kota Magelang. Puncak rangkaian peringatan itu adalah Grebeg Gethuk di Alun-Alun Kota Magelang, yang pada 2026 digelar pada Minggu, 12 April 2026, dalam rangka Hari Jadi ke-1.120 Kota Magelang. Menurut Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Grebeg Gethuk 2026 diawali fragmen sejarah Bumi Mantyasih, kirab budaya, sendratari kolosal, hingga grebeg gethuk oleh masyarakat. Menurut Borobudur News, rangkaian itu dimulai dari fragmen Bumi Pardikan Mantyasih, dilanjutkan kirab Bergodo Mantyasih dari Meteseh ke pendopo Alun-Alun, upacara adat Jawa penyerahan prasasti, kirab pengageng wali kota, dan kirab Bulu Bekti kelurahan menuju Alun-Alun Kota Magelang.
Kirab tersebut diikuti rombongan forum koordinasi pimpinan daerah, organisasi perangkat daerah, dan bregada dengan kostum tradisional, serta perwakilan 17 kelurahan yang membawa gunungan berisi hasil bumi dan potensi lokal masing-masing. Di saat yang sama, doa karaharjan digelar di Masjid Agung Kauman, yang menandai dimensi spiritual yang menyertai perayaan budaya tersebut. Ada dua gunungan getuk yang digrebeg, masing-masing setinggi sekitar tiga meter dengan diameter 2,5 meter, berisi ratusan kilogram getuk yang disusun menjulang. Total getuk yang digunakan mencapai sekitar 300 kilogram, dengan jumlah sekitar 1.120 buah, menyesuaikan usia Kota Magelang pada tahun itu.
Menurut panitia Grebeg Gethuk, Tri Setyo Nugroho, yang akrab disapa Gepeng Nugroho, dua gunungan itu merupakan simbol rasa syukur masyarakat atas perjalanan panjang Kota Magelang. Ia menggambarkan prosesi itu sebagai kembul bujono, yaitu makan bersama sebagai wujud syukur. Menurutnya, getuk dipilih bukan tanpa alasan. Selain sebagai makanan tradisional, getuk juga merepresentasikan nilai kesederhanaan dan kekuatan ekonomi rakyat. Penjelasan ini penting, karena menunjukkan bahwa Grebeg Gethuk bukan sekadar perebutan makanan, melainkan perayaan yang mengangkat kuliner khas sebagai identitas kota.
Sumber lain mencatat bahwa gunungan getuk memiliki dua bentuk, yaitu lancip sebagai simbol laki-laki dan bulat sebagai simbol perempuan, dan pada akhir prosesi hasil bumi serta getuk pada gunungan diperebutkan masyarakat. Kirab budaya yang menyertai Grebeg Gethuk juga menampilkan tari-tarian, drumband, seni bela diri, dan barongsai, dengan kostum yang menarik dan penuh warna, diikuti lembaga, instansi, dan sekolah di Kota Magelang. Rangkaian hari jadi Kota Magelang pada 2026 juga mencakup agenda lain, seperti Wayangan Mantyasih pada 17 April di Meteseh, pasar murah dan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah di Alun-Alun pada Maret, serta program belanja Magelang Great Sale. Pembaca yang datang pada April sebaiknya memeriksa daftar agenda resmi hari jadi pada tahun berjalan, karena susunan acaranya dapat berubah setiap tahun.
Bulan purnama Waisak: Borobudur sebagai pusat perayaan
Menjelang pertengahan tahun, perhatian kalender Magelang beralih ke kawasan Candi Borobudur. Peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak, yang dirayakan setiap tahun pada bulan purnama di bulan Waisak, sekitar April, Mei, atau awal Juni dalam kalender Masehi, dipusatkan secara nasional di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Waisak memperingati tiga peristiwa dalam kehidupan Siddharta Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan wafatnya Buddha. Karena itu, perayaan ini memiliki dimensi keagamaan yang kuat, dan pengunjung yang datang sebaiknya memahami bahwa mereka memasuki ruang ibadah dan ritual, bukan sekadar tontonan.
Pada 2026, peringatan Waisak 2570 BE digelar selama empat hari, mulai 28 hingga 31 Mei 2026, di kawasan Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon. Puncaknya berlangsung pada Minggu malam, 31 Mei 2026, ketika ribuan pengunjung di Marga Utama kompleks Taman Wisata Candi Borobudur bersama-sama menerbangkan 2.570 lampion perdamaian sebagai penutup rangkaian perayaan. Menurut Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, perayaan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat, antara lain meningkatkan hunian homestay dan mendorong tumbuhnya ekonomi masyarakat di sekitar candi. Menurut laporan pengamanan, perayaan yang bertajuk Lentera Perdamaian Lampion Waisak Borobudur 2026 itu dihadiri sekitar 10.000 peserta dari dalam dan luar negeri.
Rangkaian Waisak tidak hanya terdiri dari pelepasan lampion. Rangkaian itu meliputi bakti sosial, pengambilan Api Dharma dan Air Berkah, pindapata, serta kirab dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Kirab ini menjadi salah satu momen yang paling banyak disaksikan, karena menghubungkan tiga candi dalam satu prosesi. Pada 2026, pelepasan lampion dilakukan dalam dua sesi, yaitu sesi pertama pada sore hingga malam dan sesi kedua pada malam hari, di Lapangan Marga Utama dan Taman Lumbini kawasan Candi Borobudur. Sebagian sesi lampion memerlukan tiket, dan jumlah tiket serta ketentuannya ditetapkan penyelenggara pada setiap edisi. Pembaca sebaiknya memeriksa kanal resmi pengelola kawasan dan penyelenggara Waisak sebelum membeli tiket atau merencanakan kehadiran, karena harga dan kuota dapat berubah.
Di luar kawasan Borobudur, perayaan Waisak juga menghadirkan tradisi balon di Candi Ngawen, Kecamatan Muntilan. Pada 31 Mei 2026, sebanyak 25 balon tradisional diterbangkan di kawasan Candi Ngawen sebagai bagian dari perayaan Waisak di wilayah Magelang. Balon-balon itu dibuat secara tradisional menggunakan kertas tipis dan rangka bambu, dan pelepasan balon dimaknai sebagai simbol pelepasan beban batin serta doa dan harapan menuju kehidupan yang lebih damai. Kehadiran balon Ngawen menunjukkan bahwa Waisak di Magelang tidak hanya terpusat di satu titik, melainkan menyebar ke candi-candi lain yang memiliki komunitas dan tradisi masing-masing.
Juli: Festival Lima Gunung dan Ketep Summit Festival
Bulan Juli menjadi bulan festival berbasis lereng dan kawasan. Dua festival yang menonjol pada bulan ini adalah Festival Lima Gunung dan Ketep Summit Festival. Keduanya sama-sama digelar di Kabupaten Magelang, sama-sama melibatkan banyak kecamatan dan komunitas, dan sama-sama mengarak gunungan atau menampilkan kesenian dalam jumlah besar. Perbedaannya terletak pada penyelenggara dan karakternya. Festival Lima Gunung digerakkan komunitas seniman petani secara mandiri, sedangkan Ketep Summit Festival merupakan agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Magelang di kawasan wisata Ketep Pass.
Festival Lima Gunung, yang disingkat FLG, adalah festival kesenian tahunan yang diselenggarakan Komunitas Lima Gunung sejak 2002. Komunitas ini menghimpun seniman dan petani dari kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh, dan dirintis budayawan Sutanto Mendut pada 1997 sebagai ruang berkesenian berbasis masyarakat desa dan tradisi lokal. Pada penyelenggaraan ke-25, festival ini digelar pada 10 hingga 12 Juli 2026 di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, yang menjadi kali keempat Warangan dipercaya menjadi pusat pelaksanaan. Lokasi festival selalu berganti, meliputi kawasan lima gunung yang mengitari Magelang, dan panggungnya kerap berupa ruang terbuka di pelataran rumah warga.
Ciri yang paling sering disebut dari Festival Lima Gunung adalah kemandiriannya. Menurut Espos yang mengutip Antara, perjalanan festival ini mengalami titik penting pada 2010 ketika para pegiat komunitas menandatangani Sumpah Tanah sebagai komitmen menyelenggarakan festival secara mandiri tanpa bergantung pada sponsor pemerintah maupun swasta. Sejak saat itu, penyelenggaraan mengandalkan gotong royong masyarakat. Isi festival meliputi pentas musik, pertunjukan tari tradisional dan kontemporer, kirab budaya, ritual, instalasi seni berbasis alam, pameran seni rupa, pidato kebudayaan, diskusi, dan penyerahan Penghargaan Lima Gunung. Pada edisi 2018, sebanyak 60 kelompok seniman terlibat. Angka ini tidak boleh dipakai sebagai patokan setiap tahun, tetapi memberi gambaran tentang skala partisipasi yang biasa terjadi.
Ketep Summit Festival, menurut Borobudur News, berlangsung selama dua hari, 18 dan 19 Juli 2026, di kawasan wisata Ketep Pass, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, sebagai agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Magelang. Festival ini memadukan potensi wisata alam, budaya, dan edukasi dalam satu rangkaian kegiatan. Puncaknya adalah kirab gunungan yang diikuti perwakilan 21 kecamatan di Kabupaten Magelang. Setiap kecamatan menampilkan gunungan kreatif yang disusun menggunakan hasil pertanian serta produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah dari masing-masing wilayah. Gunungan itu kemudian diarak mengelilingi kawasan wisata Ketep Pass sebelum akhirnya diperebutkan masyarakat dan wisatawan yang hadir.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Magelang, Farnia Berliani Sri Tulodho, kirab gunungan menjadi representasi kebersamaan dan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan hasil panen serta kesejahteraan yang dirasakan masyarakat. Tradisi ngalap berkah, yaitu memperebutkan isi gunungan, diyakini membawa kebaikan dan keberkahan bagi yang mendapatkannya. Bagi pembaca, Juli menjadi bulan yang tepat untuk melihat Magelang dari dua sisi sekaligus, yaitu sisi komunitas seniman petani di lereng gunung dan sisi kabupaten yang merayakan hasil bumi dari 21 kecamatan dalam satu panggung alam di Ketep Pass.
Festival yang mengikuti kalender Hijriah berikutnya adalah Pakis Maulud Festival di Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Festival ini digelar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan menurut Camat Pakis, Rahmat Pambudi, dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Pada 2026, festival ini dibuka pada Jumat, 28 Agustus 2026, di Dusun Pakis Tengah, dengan kehadiran Wakil Bupati Magelang, Sahid, yang menyampaikan bahwa festival ini bukan hanya perayaan budaya, melainkan wujud nyata semangat kebersamaan, gotong royong, serta kecintaan terhadap tradisi dan nilai-nilai keagamaan.
Isi Pakis Maulud Festival meliputi kirab budaya yang dalam pemberitaan disebut juga Pakis Maulud Carnival. Kirab ini menampilkan kemampuan masyarakat Desa Pakis dalam menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat identitas lokal. Menurut Wakil Bupati Magelang, kirab budaya menunjukkan kemampuan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur, dan momentum Maulid dapat menjadi sarana meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Karena Maulid mengikuti kalender Hijriah, bulan Masehi festival ini akan bergeser setiap tahun. Pembaca yang ingin datang sebaiknya menandai musim Maulid, lalu memeriksa pengumuman Kecamatan Pakis dan Pemerintah Kabupaten Magelang.
Karnaval dengan skala kota yang paling dikenal di Magelang adalah Magelang Ethno Carnival, yang sering disingkat MEC. Menurut Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, MEC 2025 sempat tertunda pada akhir Agustus karena alasan keamanan, lalu akhirnya sukses digelar pada Sabtu, 20 September 2025. Parade itu diikuti 2.218 peserta dari 31 kontingen berbagai daerah, termasuk Kabupaten Magelang, Semarang, Ambarawa, dan Surakarta, dengan tema Gaungkan Magelang Wujudkan Pesona Nusantara. Rutenya dimulai dari kawasan Polwil atau CPM, dengan penampilan utama di Alun-Alun Kota Magelang, kemudian bergerak melewati Jalan Pemuda, dan berakhir di Tugu Adipura.
Menurut Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Magelang, Sarwo Imam Santosa, MEC bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi sarana mengapresiasi seni budaya sekaligus menggerakkan sektor pariwisata. Menurut Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, penundaan pada Agustus 2025 dilakukan demi keamanan dan kenyamanan masyarakat, dan penyelenggaraan kembali pada September 2025 dilakukan setelah suasana dinilai lebih baik. Pada 2026, Magelang Ethno Carnival menjadi puncak Magelang Flower Festival pada 1 November 2026. Perpindahan ini menunjukkan bahwa MEC tidak memiliki tanggal Masehi yang tetap, dan posisinya dalam kalender dapat berubah mengikuti rangkaian acara kota pada tahun berjalan.
Magelang Flower Festival sendiri sudah memiliki artikel sendiri di KabarTidar, sehingga di sini hanya disebut sebagai konteks. Pada 2026, festival ini digelar selama tujuh hari, 25 Oktober hingga 1 November 2026, di kawasan Alun-Alun Kota Magelang, dengan pameran bunga, pameran kucing, gelar wicara, lomba mewarnai, senam bersama, dan Magelang Ethno Carnival sebagai puncaknya. Festival ini diselenggarakan untuk menegaskan kembali identitas Kota Magelang sebagai Tuin van Java, atau kebunnya Pulau Jawa, sekaligus menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah, perhotelan, restoran, dan industri oleh-oleh. Pembaca yang ingin detail lengkapnya dapat membaca artikel Magelang Flower Festival di KabarTidar melalui tautan internal di bagian ini.
Oktober: festival santri dan Semarak Budaya Borobudur
Bulan Oktober di Kabupaten Magelang diisi festival yang berakar pada tradisi pesantren dan komunitas seni kawasan Borobudur. Pada Senin malam, 12 Oktober 2026, Pemerintah Kabupaten Magelang menggelar Festival Rebana, Musabaqah Tilawatil Quran, dan Musabaqah Qiraatul Kutub Tahun 2026 dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026. Kegiatan itu dibuka oleh Wakil Bupati Magelang, Sahid, di halaman parkir Masjid Agung Jawa Tengah An-Nuur, Sawitan, Kota Mungkid. Festival ini diikuti peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Magelang.
Menurut Wakil Bupati Magelang, festival ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan seni Islami dan syiar Islam, tetapi juga menjadi sarana membumikan Al-Quran, melestarikan tradisi keilmuan pesantren, serta membentuk generasi penerus yang beriman dan berakhlak mulia. Ia juga menyampaikan bahwa festival ini menjadi ikhtiar bersama untuk membumikan Al-Quran, memperkuat tradisi keilmuan pesantren, mengembangkan seni Islami, serta membentuk generasi penerus yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Bagi pembaca, festival ini menawarkan sisi lain dari kalender Magelang, yaitu seni vokal dan bacaan kitab yang tumbuh di pesantren, bukan hanya tari dan kirab jalanan.
Pada bulan yang sama, kawasan Borobudur menghadirkan Semarak Budaya Borobudur 2026, yang digelar pada Minggu, 18 Oktober 2026, mulai pukul 14.30 hingga 22.00 WIB di Kampung Seni Borobudur, Kabupaten Magelang. Kegiatan ini melibatkan seniman dari berbagai sanggar serta komunitas yang anggotanya tersebar di 20 desa di kawasan Borobudur, melalui kolaborasi komunitas budaya, sanggar seni, generasi muda, dan pengelola kawasan wisata. Penyelenggara berharap kegiatan perdana ini menjadi awal terbentuknya ruang kolaborasi yang lebih luas bagi masyarakat dari 20 desa tersebut untuk terus berkarya, menjaga tradisi, dan memperkenalkan identitas budaya lokal kepada khalayak yang lebih luas.
Penting untuk mencatat status Semarak Budaya Borobudur secara jujur. Pada 2026, kegiatan ini masih merupakan kegiatan perdana yang diharapkan berkembang menjadi agenda tahunan, bukan festival yang sudah terbukti rutin selama bertahun-tahun seperti Festival Lima Gunung atau Grebeg Gethuk. Karena itu, artikel ini menempatkannya sebagai agenda yang mulai tumbuh, bukan sebagai agenda tahunan yang sudah mapan. Pembaca yang tertarik sebaiknya memeriksa apakah kegiatan ini berlanjut pada tahun berikutnya, dan tidak menganggap satu edisi perdana sebagai jaminan kalender tetap.
Pada Oktober 2026, kawasan Borobudur juga menghadirkan festival seni lain, yaitu Borobudur Gita Nritya Aradhana Cultural Festival, yang digelar di Museum Kampung Seni Borobudur pada Minggu, 18 Oktober 2026, dengan pertunjukan tari, musik keroncong, flash mob, dan kesenian tradisional dari sejumlah sanggar dan komunitas. Kehadiran dua kegiatan seni di kawasan yang sama pada hari yang sama menunjukkan bahwa Oktober menjadi bulan yang padat bagi komunitas seni Borobudur, dan pembaca yang datang pada bulan ini sebaiknya memeriksa jadwal sanggar dan pengelola kawasan secara terperinci, karena beberapa kegiatan dapat berlangsung bersamaan di lokasi yang berdekatan.
November dan bulan Sura: Merti Gunung Tidar dan tradisi tahun baru Jawa
Menjelang akhir tahun, kalender Kota Magelang kembali ke Gunung Tidar. Merti Gunung Tidar digelar pada 6 hingga 8 November 2026, sebagai bagian dari upaya merawat Gunung Tidar sebagai warisan sejarah, budaya, spiritual, dan ekologis Kota Magelang. Menurut Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sebanyak 192 rukun warga se-Kota Magelang direncanakan membawa tumpeng sebagai simbol gotong royong dan kebersamaan, disertai rangkaian reresik, ritual dan doa, kirab budaya, pagelaran kesenian, serta pembagian tumpeng dan kembul bujana, yaitu makan bersama.
Merti Gunung Tidar memperlihatkan bentuk perayaan yang berbeda dari karnaval bunga atau karnaval etnik. Jika festival bunga menghadirkan kreativitas melalui flora dan karnaval, Merti Gunung Tidar menghadirkan bentuk perayaan yang berakar pada tradisi masyarakat, dengan tumpeng sebagai pusatnya. Gunung Tidar sendiri memiliki makna khusus bagi Kota Magelang, karena di tengah kota terdapat bukit yang dalam legenda dikenal sebagai pakunya Tanah Jawa, dengan makam dan petilasan yang diziarahi masyarakat. Karena itu, merti ini bukan sekadar acara hiburan, melainkan perawatan simbolik atas ruang yang dianggap sakral dan bersejarah.
Gunung Tidar juga memiliki sejarah festival tersendiri. Pada 2015, Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Pemerintah Kota Magelang menjadikan Festival Tidar sebagai agenda kepariwisataan tahunan dengan memanfaatkan momentum perayaan tahun baru dalam kalender Jawa, yaitu bulan Sura. Festival Tidar 2015 diselenggarakan selama tiga hari, 23 hingga 25 Oktober 2015, di Gunung Tidar dan kawasannya, dengan rangkaian ritual budaya, pentas kesenian rakyat, pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah, kirab budaya, pentas wayang kulit, festival musik jalanan, dan Tidar Travel Mart. Kegiatan itu melibatkan tim kesenian dari lima kabupaten di wilayah eks Keresidenan Kedu, yaitu Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, dan Kebumen, bersama perwakilan 17 kelurahan di Kota Magelang.
Catatan tentang Festival Tidar 2015 ini perlu dibaca sebagai catatan sejarah, bukan sebagai jadwal yang masih berlaku dengan bentuk yang sama. Artikel ini tidak mengklaim bahwa Festival Tidar masih digelar dengan nama dan format yang persis sama pada tahun berjalan, karena sumber yang tersedia berasal dari 2015. Yang dapat dipegang adalah polanya, yaitu Gunung Tidar menjadi panggung perayaan pada momentum tahun baru Jawa dan pada November, dengan kirab, pagelaran kesenian, dan makan bersama sebagai unsur yang berulang. Pembaca yang ingin mengikuti tradisi Gunung Tidar sebaiknya memeriksa pengumuman terbaru Pemerintah Kota Magelang, termasuk apakah agenda itu disebut Merti Gunung Tidar, Festival Tidar, atau nama lain pada tahun berjalan.
Di luar Kota Magelang, momentum tahun baru Jawa juga dirayakan di desa-desa Kabupaten Magelang melalui tradisi Suran. Salah satu contoh yang terdokumentasi adalah Suran di Dusun Kudusan, Desa Tirto, Kecamatan Grabag, yang menurut kajian akademik diselenggarakan setiap tahun sebagai ritual peringatan tahun baru Jawa yang jatuh pada 1 Sura, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Rangkaian ritual itu, menurut kajian tersebut, telah berlangsung sejak 1980 dan berlangsung selama dua hari, diawali jamasan kerangka gunungan dan diakhiri pertunjukan wayang kulit. Contoh lain adalah kirab seribu tumpeng di Pertapaan Suro Gendero, Desa Ngablak, yang menurut pemberitaan telah dilaksanakan untuk kedelapan kalinya pada edisi yang diberitakan, dengan gunungan tumpeng yang diperebutkan warga setelah doa bersama, dan doa yang diikuti tokoh dari berbagai agama sebagai simbol kerukunan.
Sepanjang tahun di desa: merti dusun dan festival penulis Borobudur
Tidak semua festival Magelang terpusat di kota, kawasan candi, atau lereng gunung yang terkenal. Sebagian besar perayaan justru berlangsung di desa, dalam skala yang lebih kecil tetapi berulang setiap tahun. Merti dusun adalah salah satu bentuknya. Merti dusun, yang juga dikenal sebagai bersih dusun atau bersih desa dan sering dirangkai dengan sedekah bumi, adalah tradisi syukuran warga satu dusun atas rezeki, keselamatan, dan ketentraman yang diterima selama setahun. KabarTidar sudah memiliki artikel pengantar tentang tradisi ini di dusun-dusun lereng Merapi sisi Magelang, yang dapat dibaca pembaca sebagai latar sebelum mengikuti merti dusun di desa tertentu.
Contoh yang terdokumentasi adalah merti dusun di Desa Genito, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali, khususnya pada bulan Safar menurut kalender Islam. Acara itu dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, forum koordinasi pimpinan kecamatan, kepala desa dan perangkat, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat. Rangkaiannya meliputi upacara adat, ritual di sendang, pagelaran seni budaya, dan arak-arakan hasil bumi oleh warga sebagai bentuk syukur. Pola ini, yaitu syukuran, kesenian, dan arak-arakan hasil bumi, berulang di banyak desa, meskipun bulan dan rangkaiannya dapat berbeda mengikuti kesepakatan warga dan penanggalan setempat.
Di sisi yang berbeda, Magelang juga memiliki festival yang berakar di Borobudur tetapi bergerak di ranah sastra dan pemikiran, yaitu Borobudur Writers and Cultural Festival, yang disingkat BWCF. Festival ini adalah pertemuan tahunan bagi penulis fiksi dan nonfiksi, pekerja kreatif, aktivis budaya, dan aktivis lintas iman, yang diselenggarakan sejak 2012. Pembukaannya digelar di Yogyakarta, sedangkan acara-acara lainnya digelar di Borobudur, Magelang. Pesertanya meliputi sastrawan, penulis, pemusik, penari, perupa, pewarta, sejarawan, sosiolog, arkeolog, filolog, antropolog, ilmuwan, budayawan, dan teolog.
Selama dua hari penuh, peserta BWCF diajak berdiskusi, mengikuti simposium, mengikuti kelas lokakarya, menghadiri peluncuran buku, wisata membaca relief candi, kelas yoga dan meditasi di pelataran Candi Borobudur, menyaksikan pemutaran film, dan menyaksikan pertunjukan seni di Lapangan Aksobya. Di akhir acara, BWCF menyerahkan Sang Hyang Kamahayanikan Award kepada tokoh, perorangan, atau kelompok yang dipandang memiliki kontribusi besar dalam bidang seni budaya dan humaniora di tengah masyarakat. Karena lokasi dan format festival ini dapat berubah, termasuk pada 2026 yang rangkaian presentasinya diumumkan berlangsung di Kota Lama, Semarang, pembaca yang tertarik sebaiknya memeriksa pengumuman resmi BWCF pada tahun berjalan, dan tidak menganggap Borobudur sebagai lokasi tunggal yang tetap.
Festival penulis ini penting dimasukkan dalam kalender, karena menunjukkan bahwa seni dan budaya Magelang tidak hanya tampil lewat tubuh dan kostum dalam kirab, tetapi juga lewat tulisan, diskusi, dan penghargaan. Pembaca yang lebih menyukai ruang diskusi daripada keramaian jalanan dapat menemukan tempatnya di festival ini, sementara pembaca yang menyukai keramaian dapat memilih kirab dan karnaval. Kalender yang lengkap seharusnya memberi ruang bagi kedua selera itu, bukan hanya bagi satu jenis penonton.
Cara membaca kalender dan merencanakan kunjungan
Setelah membaca seluruh kalender, pembaca dapat merencanakan kunjungan dengan tiga langkah sederhana. Pertama, tentukan musimnya, bukan tanggalnya. Jika pembaca ingin melihat kirab gunungan getuk, tandai April. Jika ingin melihat festival seniman petani, tandai Juli. Jika ingin melihat lampion Waisak, tandai bulan purnama Waisak. Jika ingin melihat karnaval etnik, periksa dulu apakah pada tahun berjalan karnaval itu berdiri sendiri atau menjadi puncak festival bunga. Menandai musim lebih aman daripada menghafal tanggal satu edisi.
Kedua, periksa pengumuman resmi mendekati hari pelaksanaan. Sumber yang paling dapat diandalkan adalah Pemerintah Kota Magelang, Pemerintah Kabupaten Magelang, Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Magelang, serta Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Magelang, beserta panitia setempat. Pengumuman resmi biasanya memuat tanggal, lokasi, rute kirab, dan ketentuan bagi pengunjung, termasuk rekayasa lalu lintas pada acara besar seperti Grebeg Gethuk dan Magelang Ethno Carnival. Pada acara besar di Alun-Alun Kota Magelang, sejumlah ruas jalan dapat ditutup sementara, dan kendaraan dari arah Semarang menuju Yogyakarta atau sebaliknya dapat dialihkan melalui jalur alternatif. Pembaca yang datang dengan kendaraan pribadi sebaiknya memeriksa informasi lalu lintas pada hari pelaksanaan.
Ketiga, hormati sifat acara yang dikunjungi. Sebagian festival adalah tontonan terbuka, seperti karnaval dan pameran bunga, tetapi sebagian lain adalah ritual dan ibadah, seperti Waisak, Suran, dan merti dusun. Pada ritual dan ibadah, pengunjung sebaiknya mengikuti arahan panitia, menjaga ketenangan, tidak menghalangi prosesi, dan tidak mengambil gambar dengan cara yang mengganggu. Pada tradisi perebutan gunungan, pengunjung sebaiknya mengikuti arahan petugas dan menjaga keselamatan diri serta orang lain, karena kerumunan dapat menjadi padat dalam waktu singkat. Etika ini berlaku untuk semua festival, tetapi menjadi lebih penting pada acara yang memiliki dimensi sakral.
Untuk pembaca yang baru pertama kali datang, Alun-Alun Kota Magelang adalah titik awal yang paling mudah. Dari sana, pembaca dapat mengikuti Grebeg Gethuk pada April, Magelang Ethno Carnival dan Magelang Flower Festival pada Oktober dan November, serta Merti Gunung Tidar di kawasan Gunung Tidar yang tidak jauh dari pusat kota. Untuk pengalaman yang lebih berbasis desa dan alam, pembaca dapat melanjutkan ke Candimulyo pada musim durian, ke Pakis pada Juli untuk Festival Lima Gunung, ke Sawangan untuk Ketep Summit Festival, dan ke Borobudur pada musim Waisak serta Oktober untuk kegiatan seni komunitas. Rute ini tidak harus ditempuh dalam satu perjalanan, melainkan dapat dibagi ke dalam beberapa kunjungan sepanjang tahun.
Kalender festival seni dan budaya di Magelang pada akhirnya bukan daftar tanggal, melainkan gambaran tentang cara masyarakat Magelang merayakan hasil bumi, hari jadi, hari besar keagamaan, dan kebersamaan desa. Setiap festival memiliki penyelenggara yang berbeda, dari pemerintah kota dan kabupaten hingga komunitas seniman petani dan warga satu dusun, tetapi semuanya memiliki benang merah yang sama, yaitu gotong royong. Gunungan dibuat bersama, kirab diarak bersama, tumpeng dibawa bersama, dan panggung dibuka untuk seniman dari berbagai desa. Selama pembaca memeriksa jadwal terbaru ke penyelenggara dan pemerintah daerah sebelum berangkat, kalender ini dapat dipakai sebagai panduan awal untuk menjelajahi Magelang sepanjang tahun, dari Candimulyo pada awal tahun hingga Gunung Tidar pada akhir tahun.
Untuk liputan yang lebih dalam, pembaca dapat membaca artikel KabarTidar tentang Festival Balon Syawalan Payaman, Magelang Flower Festival 2026, dan Grebeg Kupat Magelang. Informasi resmi tentang rangkaian acara Kota Magelang pada 2026 juga dapat diperiksa melalui pengumuman Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tentang empat event Kota Magelang dan liputan Espos tentang Festival Lima Gunung.



3 Komentar