Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Ekonomi » Magelang Disiapkan Menjadi Sentra Susu Baru, Wamentan Dorong…
Ekonomi

Magelang Disiapkan Menjadi Sentra Susu Baru, Wamentan Dorong Koperasi Perkuat Pemasaran

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendukung pengembangan Kabupaten Magelang sebagai sentra sapi perah baru. Dukungan itu mencakup pelayanan kesehatan hewan, penguatan koperasi, dan kemitraan dengan industri pengolahan susu.

Oleh Intan Larasati Jumat, 30 Oktober 2026 · 21.27 WIB
Ilustrasi sapi perah dan wadah susu di peternakan sentra susu Magelang
Ilustrasi sapi perah dan wadah susu di peternakan. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan Kabupaten Magelang sebagai sentra susu Magelang yang baru untuk memperkuat upaya mencapai swasembada susu nasional. Salah satu dukungan yang disiapkan adalah pelayanan kesehatan hewan untuk menjaga produktivitas ternak dan mencegah penyebaran penyakit.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan dukungan tersebut saat mewakili Gubernur Ahmad Luthfi mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Pertanian, Muhammad Saleh Mustafa, di Sentra Sapi Perah Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jumat, 30 Oktober 2026.

“Kami juga mendukung (swasembada susu). Kami di Pemprov memastikan untuk pengembangbiakannya,” kata Taj Yasin yang akrab disapa Gus Yasin.

Menurut Gus Yasin, peningkatan populasi ternak harus diimbangi dengan upaya menjaga kesehatan dan mencegah penyebaran penyakit. Salah satu upaya yang telah dilakukan Pemprov Jawa Tengah adalah program Healing atau Kesehatan Hewan Keliling yang mendekatkan pelayanan kesehatan hewan kepada peternak dan telah menjangkau 13 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

“Kalau ada sapi-sapi yang potensinya terkena penyakit, itu bisa dikoordinasikan dengan kita di Provinsi Jawa Tengah. Karena kami siap untuk pengobatan dan pencegahan,” kata Gus Yasin.

Dukungan tersebut sejalan dengan potensi Jawa Tengah sebagai salah satu daerah penghasil susu nasional. Menurut laporan Jatengpos, pada 2025, populasi sapi perah di Jawa Tengah mencapai 77.566 ekor dengan produksi susu sekitar 75.366 ton. Kontribusinya mencapai 9,66 persen terhadap produksi susu nasional, menempatkan Jawa Tengah di peringkat ketiga nasional.

Selain mengembangkan sentra peternakan yang sudah mapan seperti Boyolali dan Klaten, Pemprov Jawa Tengah juga berupaya membuka kawasan produksi baru di Magelang, Batang, dan Brebes. Pengembangan ini mempertimbangkan kesesuaian lahan, ketersediaan air dan pakan, serta akses pasar.

Wakil Menteri Pertanian, Muhammad Saleh Mustafa, mengatakan Kabupaten Magelang memiliki peluang untuk menjadi salah satu sentra susu dalam mendukung target swasembada susu nasional. Bahkan, pihaknya akan mengusulkan Magelang sebagai salah satu proyek percontohan pengembangan persusuan.

“Pesan dari Bapak Presiden bahwa kita harus mencapai swasembada susu. Ini yang paling berat, tapi tetap kita coba dulu,” ujar Saleh.

Menurut Saleh, pengembangan peternakan sapi perah tidak cukup hanya mengandalkan potensi wilayah. Kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, dan kelembagaan peternak juga harus diperhatikan. Ia secara khusus menyoroti keberadaan koperasi sebagai wadah untuk memperkuat posisi peternak agar memiliki daya tawar lebih baik dan tidak bergantung pada perantara dalam memasarkan hasil produksinya.

Koperasi dan Pemasaran Menjadi Kunci Sentra Susu Magelang

Sehari sebelumnya, Kamis, 29 Oktober 2026, Wamentan Saleh meresmikan unit pengolahan susu kambing milik Koperasi Produsen Rojo Koyo Utomo di Kabupaten Magelang. Peresmian itu menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan nilai tambah hasil peternakan sekaligus memperkuat posisi tawar peternak.

“Bisa nggak Magelang ini menjadi sentra susu,” ujar Saleh saat meresmikan unit pengolahan tersebut.

Menurut Saleh, membangun unit pengolahan saja belum cukup. Koperasi harus memastikan produk yang dihasilkan memiliki pasar dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi para peternak. Karena itu, pemasaran perlu menjadi perhatian sejak awal, seiring dengan penguatan produksi dan pengolahan. “Ending terakhirnya marketing,” tegasnya.

Sebagaimana diwartakan Agrofarm, Saleh menyampaikan solusi yang dapat diupayakan melalui koperasi, termasuk pengadaan sarana produksi secara bersama-sama dan pembentukan divisi pembelian.

“Jadi koperasi itu dibuat divisi pembelian,” ujarnya.

Saleh mendorong koperasi agar tidak hanya berfokus pada kegiatan produksi, tetapi juga memperkuat pengelolaan usaha dan membangun hubungan langsung dengan pembeli utama. Ia menyoroti pentingnya memangkas rantai distribusi agar peternak tidak terus berada pada posisi tawar yang lemah.

Menurut Saleh, inisiatif masyarakat seperti yang dilakukan Koperasi Produsen Rojo Koyo Utomo perlu diikuti dengan tata kelola yang baik, keterbukaan, dan kesungguhan dalam mengembangkan usaha. Dukungan yang diperoleh harus dikelola secara bertanggung jawab agar usaha terus berkembang dan manfaatnya kembali kepada peternak.

Saleh berharap pengembangan peternakan di Magelang tidak berhenti pada bertambahnya kapasitas pengolahan, tetapi berkembang menjadi ekosistem usaha susu yang mampu memperkuat ekonomi peternak. Keberhasilan itu perlu ditopang oleh kesinambungan pasokan, kualitas produk, dan kepastian pasar.

Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menyampaikan bahwa pertanian dan peternakan merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat sekaligus penopang ketahanan pangan daerah dan nasional.

“Bagi kami masyarakat Kabupaten Magelang, pertanian, peternakan bukan hanya sebagai sektor yang menjadi pendukung, tapi ini adalah urat nadi kehidupan kami, Pak Wakil. Fondasi dalam kami menjaga keluarga, menjaga ketahanan pangan, dan mendorong kedaulatan pangan baik daerah maupun nasional,” ujarnya.

Grengseng mengatakan pengembangan sektor peternakan perlu diarahkan pada agribisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut tidak cukup hanya meningkatkan produksi, tetapi juga perlu mencakup pengolahan, penguatan kelembagaan, dan pemasaran agar hasil usaha peternak memiliki nilai tambah.

Ia mengapresiasi inisiatif Koperasi Produsen Rojo Koyo Utomo yang mengembangkan unit pengolahan susu kambing dengan dukungan konsultasi akademik dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Pemerintah Kabupaten Magelang turut mendukung melalui penyediaan peralatan pengolahan.

“Saya berharap ini menjadi teladan, bukan hanya keteladanan di tingkatan Kabupaten Magelang, tapi saya berharap sekali akan muncul Rojo Koyo Utomo yang lain di Kabupaten Magelang,” kata Grengseng.

Dalam kegiatan peresmian tersebut, dilakukan penyerahan sertifikat halal, Nomor Kontrol Veteriner (NKV), dan Cara Budidaya Ternak yang Baik. Acara juga diisi dengan demonstrasi aplikasi TUMRAPE (Tumbuh Rekam Data Peternak), inovasi digital Pemerintah Kabupaten Magelang untuk mendukung pendataan dan pemantauan ternak.

Melalui aplikasi itu, peternak dapat memasukkan data ternak, termasuk identitas melalui barcode pada telinga ternak, serta informasi produktivitas, kesehatan, dan riwayat keturunan. Data tersebut diharapkan membantu pemerintah daerah memetakan populasi, memantau kondisi ternak, mengantisipasi potensi penyebaran penyakit, dan meningkatkan ketertelusuran ternak.

Tantangan Populasi dan Kapasitas Koperasi

Di sisi lain, pengembangan peternakan sapi perah di Magelang masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan populasi ternak dan kapasitas produksi koperasi. Bupati Grengseng menyebut wilayahnya memiliki potensi agroklimat yang mendukung pengembangan sapi perah. Terdapat delapan kecamatan dengan kondisi wilayah yang sesuai untuk peternakan tersebut. Salah satu kawasan yang ekosistem peternakannya telah berkembang adalah Kecamatan Ngablak.

Saat ini terdapat dua koperasi peternak sapi perah, yakni Sapto Argo dan Amarto. Produksi masing-masing koperasi masih di bawah 2.000 liter sehingga belum memenuhi kapasitas untuk memasok langsung ke industri pengolahan susu (IPS).

Akibatnya, peternak masih bergantung pada perantara dalam memasarkan susu. Kondisi tersebut turut memengaruhi harga jual yang diterima peternak.

Karena itu, pengembangan sapi perah di Magelang tidak hanya diarahkan pada peningkatan populasi dan produksi, tetapi juga dibarengi pembenahan manajemen koperasi serta penguatan kemitraan dengan industri pengolahan susu. Dengan kelembagaan yang kuat dan akses pasar yang semakin luas, hasil peternakan diharapkan tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *