Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Umum » Kubro Siswo Magelang: Syair, Gerak, dan Dakwah dari…
Umum

Kubro Siswo Magelang: Syair, Gerak, dan Dakwah dari Panggung Rakyat

Penari bergerak dalam iringan musik sementara syair yang dilantunkan menyampaikan ajakan kepada kebaikan. Artikel ini mengurai tiga unsur Kubro Siswo, akarnya pada masyarakat petani, dan alasan kesenian ini disebut sebagai dakwah kultural.

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 16.17 WIB
Kubro Siswo Magelang, penari yang tampil di lapangan desa pada malam hari dengan iringan musik
Ilustrasi penari yang tampil di lapangan desa pada malam hari dengan iringan musik tradisional. (Ilustrasi: KabarTidar)

Kubro Siswo Magelang: Syair, Gerak, dan Dakwah dari Panggung Rakyat

MAGELANG, Kubro Siswo Magelang adalah kesenian tradisional yang memadukan tari, musik, dan syair yang berisi nasihat, dan kesenian ini hidup sebagai tontonan sekaligus tuntunan bagi masyarakat yang menyaksikannya. Penari bergerak dalam iringan musik, penyanyi melantunkan syair yang mengandung ajakan kepada kebaikan, dan penonton tidak hanya menikmati keindahan gerak, melainkan juga menerima pesan yang disampaikan lewat bait bait yang dinyanyikan. Artikel ini membahas Kubro Siswo dari sisi bentuknya, nilai pendidikannya, perannya sebagai dakwah kultural, serta posisinya di antara kesenian rakyat Jawa yang lain, tanpa mengarang nama pencipta, jumlah penari yang pasti, nama sanggar tertentu, atau jadwal pentas yang pasti.

Gambaran dasar tentang Kubro Siswo tersebut didukung oleh kajian akademik yang menelitinya secara langsung. Jurnal Living Hadis yang diterbitkan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menjelaskan bahwa Kubro Siswo adalah seni tari yang diiringi musik dan syair syair yang berisi nasihat, dan kesenian ini tidak hanya terbatas pada tontonan, melainkan juga tuntunan yang disampaikan lewat syair. Penjelasan itu dapat dibaca pada kajian Kubro Siswo sebagai syiar Islam di Jurnal Living Hadis, yang menegaskan bahwa setiap syair yang dinyanyikan memiliki makna mendalam yang berisi ajakan kepada kebaikan.

Kajian lain yang diterbitkan Jurnal Dakwah Risalah Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau menambahkan bahwa Kubro Siswo merupakan bentuk seni yang mengintegrasikan ajaran Islam dengan budaya lokal, dan kesenian ini mengandung nilai nilai pendidikan Islam yang meliputi akidah, ibadah, akhlak, serta sosial budaya, yang tertuang dalam syair lagu yang dilantunkan dan perilaku masyarakat. Kajian itu dapat dibaca pada kajian nilai pendidikan Islam dalam Kubro Siswo di Jurnal Dakwah Risalah. Dua kajian tersebut menjadi fondasi artikel ini, karena keduanya meneliti Kubro Siswo di Magelang secara khusus, bukan sekadar menyebut namanya secara sepintas.

Penting untuk menegaskan sejak awal hal hal yang sengaja tidak ditulis dalam artikel ini. Artikel ini tidak menyebut nama pencipta perorangan, karena tidak ada sumber yang dapat dikutip untuk menetapkan satu pencipta tunggal. Artikel ini tidak menyebut jumlah penari yang pasti, karena jumlah penari dapat berbeda antarrombongan dan antaracara. Artikel ini tidak menyebut nama sanggar tertentu sebagai wakil kesenian, dan tidak menyebut jadwal pentas yang pasti, karena pentas Kubro Siswo umumnya terikat pada acara masyarakat yang waktunya ditentukan oleh penyelenggara setempat, bukan oleh kalender tetap yang berlaku untuk semua rombongan.

Kubro Siswo Magelang dan Bentuk Kesenian yang Memadukan Tari serta Syair

Bentuk Kubro Siswo dapat dipahami lewat tiga unsur yang selalu hadir bersama, yaitu gerak tari, iringan musik, dan lantunan syair. Gerak tari memberi wujud visual yang dapat dinikmati penonton, iringan musik memberi irama dan suasana yang mengikat gerak, sedangkan syair memberi isi pesan yang membedakan Kubro Siswo dari tarian yang hanya mengutamakan keindahan gerak. Ketiga unsur itu tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan, sehingga penonton yang hanya memperhatikan gerak akan kehilangan setengah makna, dan penonton yang hanya mendengarkan syair tanpa melihat gerak akan kehilangan daya tarik pertunjukannya.

Syair dalam Kubro Siswo patut mendapat perhatian khusus, karena syair inilah yang membawa fungsi tuntunan. Syair yang dinyanyikan berisi nasihat, ajakan kepada kebaikan, dan nilai nilai yang bersumber pada ajaran Islam, sebagaimana dijelaskan dalam kajian Living Hadis yang menyebut bahwa pesan dalam syair secara tidak langsung bersumber dari Alquran dan hadis. Syair yang disampaikan lewat nyanyian lebih mudah diingat dibandingkan nasihat yang disampaikan lewat ceramah semata, karena irama dan pengulangan membantu penonton menghafal bait bait yang didengarnya, bahkan setelah pertunjukan selesai.

Musik pengiring dalam Kubro Siswo berfungsi sebagai pengikat antara gerak dan syair. Iringan musik memberi tempo bagi penari, memberi jeda bagi penyanyi, dan memberi suasana bagi penonton untuk memasuki dunia pertunjukan. Tanpa musik, gerak tari akan terasa hampa dan syair akan terasa seperti bacaan biasa, sedangkan dengan musik, ketiganya menyatu menjadi pertunjukan yang utuh. Peran musik semacam ini lazim dalam kesenian rakyat Jawa, tetapi pada Kubro Siswo musik memiliki tugas tambahan, yaitu menjaga agar pesan syair tetap terasa sebagai bagian dari hiburan, bukan sebagai pelajaran yang kaku.

Gerak tari dalam Kubro Siswo sendiri cenderung bersifat komunal, yaitu gerak yang dilakukan bersama oleh sekelompok penari dalam pola yang teratur. Gerak komunal semacam ini mencerminkan nilai kebersamaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat petani dan masyarakat desa, sebagaimana akan dibahas pada bagian berikutnya. Penonton yang menyaksikan gerak bersama itu tidak hanya melihat keindahan, melainkan juga melihat gambaran tentang masyarakat yang bergerak dalam keselarasan, dan gambaran itu sendiri sudah merupakan pesan.

Akar Kubro Siswo pada Masyarakat Petani Jawa

Kajian yang diterbitkan jurnal Nusa Universitas Diponegoro menjelaskan bahwa Kubro Siswo, yang ditulis juga sebagai Kubrosiswo, adalah kesenian yang dikembangkan oleh masyarakat petani di desa Jawa dan masih dilestarikan hingga kini. Kajian itu dapat dibaca pada kajian Kubrosiswo sebagai wahana dakwah petani desa Jawa di Jurnal Nusa, dan di dalamnya dijelaskan bahwa kesenian ini dipandang sebagai penghubung nilai nilai ritual dengan konsep kesederhanaan dan gotong royong dalam satu komunitas petani.

Akar petani ini penting untuk memahami mengapa Kubro Siswo terasa dekat dengan kehidupan sehari hari. Masyarakat petani hidup dalam ritme musim tanam dan musim panen, dalam kerja bersama di sawah dan ladang, serta dalam tradisi selamatan yang dilakukan secara berkala. Kajian Nusa mencatat bahwa pertunjukan Kubrosiswo juga dikenali sebagai kegiatan sosial, yaitu selamatan yang secara teratur dilakukan oleh petani Jawa, dan masyarakat petani meyakini bahwa selamatan mampu menampung tuntutan sosial sekaligus ritual. Dengan demikian, Kubro Siswo tidak lahir di ruang kosong, melainkan tumbuh dari kebutuhan sosial dan spiritual komunitasnya.

Nilai kesederhanaan yang disebut dalam kajian tersebut juga patut direnungkan. Kesenian petani tidak mengandalkan kemewahan panggung atau peralatan yang mahal, melainkan mengandalkan kebersamaan, ketekunan berlatih, dan kesungguhan menyampaikan pesan. Kesederhanaan itu justru menjadi kekuatan, karena kesenian dapat digelar di lapangan desa, di halaman rumah, atau di tempat terbuka lainnya tanpa harus menunggu gedung pertunjukan yang megah. Fleksibilitas tempat ini membuat Kubro Siswo tetap dapat hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di panggung resmi.

Gotong royong sebagai nilai kedua yang disebut kajian tersebut tampak dalam cara pertunjukan disiapkan dan digelar. Latihan bersama, penyediaan tempat, konsumsi untuk rombongan, dan penjagaan ketertiban penonton umumnya melibatkan banyak pihak dari masyarakat setempat, bukan hanya rombongan penari. Dengan cara ini, pertunjukan Kubro Siswo menjadi kerja bersama yang memperkuat ikatan warga, dan ikatan itu bertahan lebih lama daripada pertunjukan itu sendiri, karena warga yang pernah bekerja bersama cenderung lebih mudah bekerja bersama lagi pada kesempatan berikutnya.

Kubro Siswo sebagai Dakwah Kultural dan Syiar Islam

Istilah dakwah kultural dipakai para peneliti untuk menjelaskan cara Kubro Siswo menyampaikan ajaran Islam lewat budaya, bukan lewat ceramah formal semata. Kajian Jurnal Dakwah Risalah menjelaskan bahwa Kubro Siswo memiliki peran dalam berdakwah secara kultural, antara lain lewat apresiasi terhadap seni, lewat pesan keselarasan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama manusia, lewat penumbuhan budaya multikulturalisme, serta lewat pendidikan untuk menumbuhkan perilaku dan budi pekerti luhur. Penjelasan ini menunjukkan bahwa dakwah dalam Kubro Siswo bekerja secara halus, lewat keindahan yang dinikmati dan pesan yang direnungkan, bukan lewat paksaan.

Kajian Living Hadis menambahkan sudut pandang yang sejalan, yaitu bahwa kesenian ini berfungsi sebagai tontonan yang mengajarkan kecintaan pada tradisi leluhur, sekaligus sebagai sarana dakwah yang selalu mengajak kepada nilai nilai budaya yang sejalan dengan syariat Islam. Dua fungsi itu, yaitu tontonan dan tuntunan, sering kali ditulis berpasangan dalam kajian tentang Kubro Siswo, dan pasangan itu menjadi kunci untuk memahami kesenian ini. Bila hanya dipandang sebagai tontonan, Kubro Siswo akan tampak seperti hiburan biasa, sedangkan bila hanya dipandang sebagai tuntunan, ia akan tampak seperti pelajaran yang kehilangan daya hiburnya. Kekuatan Kubro Siswo justru terletak pada kemampuannya menjadi keduanya sekaligus.

Pesan keselarasan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama manusia, yang dalam kajian disebut dengan istilah habluminallah dan habluminannas, memberi kerangka yang mudah dipahami untuk menilai isi syair Kubro Siswo. Syair yang mengajak kepada kebaikan tidak hanya berbicara tentang ibadah dalam arti sempit, melainkan juga tentang akhlak dalam pergaulan, tentang kejujuran, kesabaran, dan kepedulian kepada sesama. Dengan kerangka ini, penonton dapat memahami bahwa ajaran yang disampaikan lewat kesenian mencakup seluruh kehidupan, bukan hanya ritual tertentu.

Dakwah kultural lewat kesenian juga memiliki keunggulan dalam menjangkau penonton yang mungkin tidak hadir dalam pengajian formal. Pertunjukan kesenian dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk mereka yang datang semata mata untuk hiburan, dan pesan yang disampaikan lewat syair dapat menyentuh mereka tanpa mereka merasa sedang digurui. Cara kerja semacam ini sejalan dengan sejarah penyebaran Islam di Nusantara yang memanfaatkan seni sebagai jembatan budaya, dan Kubro Siswo dapat dibaca sebagai kelanjutan dari tradisi jembatan budaya tersebut di wilayah Magelang.

Nilai Pendidikan Islam dalam Syair Kubro Siswo

Kajian Jurnal Dakwah Risalah merinci nilai nilai pendidikan Islam dalam Kubro Siswo ke dalam empat kelompok, yaitu nilai akidah, nilai ibadah, nilai akhlak, dan nilai sosial budaya. Nilai akidah berkaitan dengan keyakinan dasar, nilai ibadah berkaitan dengan pengabdian kepada Tuhan, nilai akhlak berkaitan dengan perilaku mulia, dan nilai sosial budaya berkaitan dengan cara hidup bersama dalam masyarakat. Keempat nilai itu tidak disampaikan sebagai daftar pelajaran yang kaku, melainkan tertuang dalam syair lagu yang dilantunkan dan dalam perilaku masyarakat yang melestarikan kesenian.

Nilai akidah dalam syair dapat dikenali lewat ajakan untuk mengingat Tuhan, bersyukur atas nikmat, dan meyakini bahwa kehidupan memiliki tujuan yang melampaui kepentingan sesaat. Nilai semacam ini tidak selalu disampaikan dengan istilah yang sulit, melainkan lewat bahasa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan petani, sehingga mudah dipahami oleh penonton dari berbagai latar pendidikan. Kesederhanaan bahasa inilah yang membuat syair Kubro Siswo dapat berfungsi sebagai pendidikan bagi semua kalangan, bukan hanya bagi mereka yang telah lama belajar agama secara formal.

Nilai ibadah dalam syair mengingatkan penonton bahwa pengabdian kepada Tuhan bukan hanya urusan pribadi di tempat ibadah, melainkan juga tercermin dalam kerja, dalam kejujuran berdagang, dan dalam kepedulian kepada tetangga. Nilai akhlak melengkapi nilai ibadah itu dengan menekankan perilaku seperti sabar, rendah hati, dan saling menghormati, sedangkan nilai sosial budaya menekankan pentingnya hidup rukun, gotong royong, dan menghargai tradisi. Keempat nilai itu saling berkaitan, sehingga syair Kubro Siswo dapat dibaca sebagai kurikulum kehidupan yang disampaikan lewat seni.

Penting untuk dicatat bahwa artikel ini tidak mengutip bait syair tertentu secara persis, karena tidak ada sumber yang dapat dikutip untuk bait yang berlaku umum bagi semua rombongan. Syair Kubro Siswo dapat berbeda antarrombongan dan antaracara, dan mengutip satu bait seolah olah mewakili seluruh kesenian akan menyesatkan. Yang dapat dinyatakan secara bertanggung jawab adalah kerangka nilainya sebagaimana dirumuskan para peneliti, yaitu akidah, ibadah, akhlak, dan sosial budaya, serta fungsi syair sebagai pembawa pesan tersebut.

Pentas Kubro Siswo dalam Acara Masyarakat

Kajian Living Hadis mencatat bahwa Kubro Siswo biasanya ditampilkan dalam acara besar, seperti bulan kemerdekaan, peringatan Isra Mikraj, dan acara lainnya. Catatan ini memberi gambaran tentang konteks pentas yang paling umum, yaitu acara yang melibatkan banyak warga dan memiliki makna bersama, bukan pentas yang berdiri sendiri tanpa kaitan dengan kehidupan masyarakat. Bulan kemerdekaan memberi konteks kebangsaan, peringatan Isra Mikraj memberi konteks keagamaan, dan kedua konteks itu menunjukkan kelenturan Kubro Siswo dalam mengisi berbagai jenis acara.

Konteks acara besar juga menjelaskan mengapa Kubro Siswo sering digelar di ruang terbuka yang dapat menampung banyak penonton. Lapangan desa, halaman sekolah, atau halaman tempat ibadah yang luas menjadi panggung yang alami bagi kesenian komunal, karena penonton dapat berkumpul tanpa sekat yang kaku antara penari dan penonton. Suasana semacam ini memperkuat fungsi sosial pertunjukan, karena penonton tidak hanya menyaksikan, melainkan juga menjadi bagian dari keramaian acara.

Meski konteks acara besar tersebut tercatat dalam kajian, artikel ini tidak menyebut tanggal atau jadwal pentas yang pasti untuk rombongan tertentu. Jadwal pentas Kubro Siswo ditentukan oleh penyelenggara acara setempat, dan tiap rombongan memiliki kesepakatan sendiri dengan penyelenggara. Pembaca yang ingin menyaksikan pertunjukan sebaiknya memantau pengumuman acara desa, peringatan hari besar, atau festival budaya di wilayah Magelang, bukan mengandalkan satu tanggal yang diklaim berlaku umum.

Bagi penyelenggara acara, Kubro Siswo menawarkan pilihan pertunjukan yang menghibur sekaligus mendidik, sehingga cocok untuk acara yang dihadiri keluarga dari berbagai usia. Anak anak dapat menikmati gerak dan musik, orang dewasa dapat merenungkan syair, dan orang tua dapat merasa bahwa tradisi yang mereka kenal sejak muda masih hidup dan dihargai. Pertunjukan yang dapat dinikmati lintas generasi semacam ini semakin langka di tengah hiburan yang serba cepat dan individual, sehingga kehadirannya dalam acara masyarakat patut dijaga.

Kubro Siswo Bukan Ketoprak dan Bukan Jaran Kepang

Kubro Siswo sering kali disamakan dengan kesenian rakyat Jawa lainnya, padahal bentuk dan pusat pesannya berbeda. Ketoprak adalah seni pertunjukan drama yang mengutamakan lakon, yaitu cerita yang diperankan oleh tokoh tokoh dengan dialog dan alur, sehingga penonton mengikuti jalan cerita dari awal hingga akhir. Kubro Siswo tidak bekerja dengan cara itu, karena pusatnya bukan lakon drama, melainkan gerak bersama yang diiringi syair berisi nasihat. Perbedaan ini penting, karena penonton yang datang dengan harapan menonton drama akan salah memahami apa yang sedang disaksikan bila yang digelar adalah Kubro Siswo.

Jaran kepang, yang juga dikenal sebagai kuda lumping, juga berbeda dari Kubro Siswo. Jaran kepang mengutamakan properti kuda anyaman dan gerak yang menirukan kuda, serta sering dikaitkan dengan suasana yang magis dan atraksi yang menegangkan. Kubro Siswo tidak memakai kuda anyaman sebagai pusat pertunjukan, dan pesannya tidak bertumpu pada atraksi magis, melainkan pada syair yang berisi ajakan kepada kebaikan. Menyamakan Kubro Siswo dengan jaran kepang akan mengaburkan ciri yang paling membedakannya, yaitu syair sebagai pembawa tuntunan.

Perbandingan dengan panggung wayang dan ketoprak Magelang berguna untuk menunjukkan bahwa Magelang memiliki banyak kesenian panggung dengan fungsi yang berbeda beda, dan tiap kesenian perlu dikenal lewat cirinya sendiri. Wayang mengutamakan cerita dan filosofi lewat dalang, ketoprak mengutamakan lakon lewat pemain, sedangkan Kubro Siswo mengutamakan syair dan gerak bersama lewat rombongan. Keragaman ini adalah kekayaan, bukan persaingan, karena tiap kesenian mengisi ruang yang berbeda dalam kehidupan budaya masyarakat.

Perbandingan lain dapat dibuat dengan Topeng Ireng Magelang, kesenian yang mengutamakan gerak energetik dengan rias dan kostum yang mencolok. Topeng Ireng dikenal lewat kekuatan visual dan geraknya yang cepat, sedangkan Kubro Siswo dikenal lewat perpaduan gerak yang teratur dengan syair yang bermakna. Kedua kesenian itu sama sama berasal dari akar rakyat Jawa, tetapi keduanya menawarkan pengalaman yang berbeda, dan penonton yang mengenal perbedaannya akan lebih menghargai tiap kesenian sesuai dengan keunggulannya masing masing.

Tantangan Pelestarian dan Harapan ke Depan

Pelestarian Kubro Siswo menghadapi tantangan yang juga dihadapi banyak kesenian tradisional, yaitu perubahan selera hiburan, berkurangnya waktu luang warga untuk berlatih bersama, dan persaingan dengan hiburan digital yang dapat dinikmati sendirian. Tantangan tersebut bukan alasan untuk pesimis, melainkan penanda bahwa pelestarian memerlukan cara yang sadar dan terencana, bukan sekadar berharap kesenian bertahan dengan sendirinya. Rombongan yang terus berlatih, penyelenggara acara yang terus memberi panggung, dan penonton yang terus datang adalah tiga penopang yang harus berjalan bersama.

Salah satu jalan pelestarian yang sejalan dengan temuan para peneliti adalah menjadikan Kubro Siswo sebagai media pendidikan yang diakui, bukan hanya sebagai hiburan acara. Bila nilai akidah, ibadah, akhlak, dan sosial budaya dalam syairnya dikenali secara luas, sekolah, tempat ibadah, dan komunitas dapat memakai Kubro Siswo sebagai bahan pembelajaran budaya yang hidup, bukan sekadar tontonan tahunan. Pendidikan semacam ini tidak harus mengubah bentuk kesenian, melainkan memberi ruang bagi generasi muda untuk memahami makna di balik gerak dan syair yang mereka saksikan.

Dokumentasi juga menjadi bagian penting dari pelestarian. Kajian akademik yang telah meneliti Kubro Siswo di Magelang, seperti kajian Living Hadis, Jurnal Dakwah Risalah, dan Jurnal Nusa, adalah bentuk dokumentasi yang berharga, karena kajian tersebut merumuskan bentuk, nilai, dan peran kesenian dengan cara yang dapat dibaca oleh generasi berikutnya. Namun, dokumentasi tertulis saja tidak cukup, karena kesenian hidup dalam tubuh penari, suara penyanyi, dan irama musik. Rekaman pertunjukan, pelatihan bagi generasi muda, dan panggung yang teratur adalah pelengkap yang tidak dapat digantikan oleh tulisan semata.

Pada akhirnya, Kubro Siswo Magelang adalah bukti bahwa kesenian rakyat dapat menjadi tontonan sekaligus tuntunan, hiburan sekaligus pendidikan, dan tradisi sekaligus dakwah, tanpa harus kehilangan salah satu sisinya. Syair yang dinyanyikan mengajak kepada kebaikan, gerak yang dilakukan bersama menggambarkan kebersamaan, dan musik yang mengiringi menjaga agar pesan itu sampai dengan cara yang menyenangkan. Selama masyarakat Magelang terus memberi panggung, terus berlatih, dan terus mendengarkan syairnya dengan sungguh sungguh, Kubro Siswo akan tetap hidup bukan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai bagian dari kehidupan masa kini yang terus berbicara kepada siapa pun yang bersedia menyaksikannya.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

1 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *