Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Bukit Rhema, Rumah Doa Berbentuk Merpati yang Dikenal…
Wisata

Bukit Rhema, Rumah Doa Berbentuk Merpati yang Dikenal sebagai Gereja Ayam

Dari kejauhan ia tampak seperti ayam raksasa, padahal perancangnya memimpikan seekor merpati. Inilah kisah rumah doa di atas bukit Borobudur yang sempat mangkrak, lalu hidup kembali dan menjadi ikon toleransi.

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 15.09 WIB
Ilustrasi Bukit Rhema berbentuk merpati di atas bukit
Ilustrasi bangunan berbentuk burung merpati bermahkota di atas bukit hijau dengan sawah berundak di bawahnya. (Ilustrasi: KabarTidar)

Bukit Rhema adalah nama resmi dari bangunan yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai Gereja Ayam, sebuah bangunan berbentuk burung besar yang berdiri di atas bukit di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Bangunan ini bukan gereja dalam pengertian gedung ibadah satu agama, dan bukan pula patung ayam raksasa, melainkan rumah doa yang dirancang menyerupai burung merpati bermahkota. Sebutan Gereja Ayam melekat karena bentuk kepalanya yang oleh warga sekitar terlihat seperti ayam, dan sebutan itulah yang kemudian membuatnya terkenal hingga ke mancanegara. Artikel ini menguraikan fakta pembangunannya dari sumber yang dapat ditelusuri, meluruskan kesalahpahaman yang paling sering beredar, dan menjelaskan mengapa tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata yang paling banyak dibicarakan di kawasan Borobudur.

Alamat lengkap yang dicantumkan oleh pengelola adalah Karangrejo Gombong, Kurahan, Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 56553, dan lokasinya hanya beberapa kilometer dari Candi Borobudur. Kedekatan itu penting, karena banyak pengunjung yang datang ke Borobudur kemudian melanjutkan perjalanan ke Bukit Rhema dalam satu rangkaian wisata yang sama. Namun kedekatan jarak tidak berarti keduanya memiliki kisah yang sama. Candi Borobudur adalah mahakarya Buddha dari abad kesembilan, sedangkan Bukit Rhema adalah bangunan dari akhir abad kedua puluh yang lahir dari pengalaman rohani seorang pengusaha Jakarta. Memahami perbedaan zaman ini membantu pengunjung untuk tidak mencampuradukkan keduanya, dan untuk menghargai Bukit Rhema sebagai kisah yang berdiri sendiri.

Popularitas Bukit Rhema meningkat pesat setelah bangunan ini menjadi salah satu lokasi syuting film Ada Apa dengan Cinta 2 pada 2016, menurut ensiklopedia daring yang merangkum riwayatnya. Film itu memperkenalkan siluet bangunan kepada penonton di Indonesia, Malaysia, dan Brunei, dan setelah itu arus pengunjung pun meningkat. Akan tetapi, kisah Bukit Rhema sudah dimulai jauh sebelum film itu dibuat, yaitu pada 1988, ketika pendirinya berdoa di bukit tersebut, dan pada 1992, ketika batu pertama diletakkan. Film hanya menjadi pintu masuk bagi banyak orang, sedangkan isi kisahnya adalah tentang doa, ketekunan, kegagalan, dan kebangkitan kembali sebuah bangunan yang sempat terbengkalai selama bertahun-tahun.

Bukit Rhema dan Visi Daniel Alamsjah pada 1988

Kisah Bukit Rhema bermula dari pengalaman rohani Daniel Alamsjah, seorang pengusaha asal Jakarta, yang mengaku mendapat panggilan doa saat berkunjung ke Bukit Rhema pada 1988. Dalam doanya, ia merasa menerima wahyu untuk mendirikan sebuah tempat doa yang terbuka untuk segala bangsa, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun golongan. Visi itu kemudian dirumuskan sebagai Rumah Doa Bagi Segala Bangsa, dan rumusan inilah yang menjadi identitas resmi tempat ini hingga sekarang. Penting untuk menyampaikan visi ini sebagai pengakuan dan keyakinan pendirinya, karena sifatnya adalah pengalaman rohani yang tidak dapat dibuktikan dengan dokumen, tetapi dapat ditelusuri jejaknya melalui kesaksian pendiri, pemandu, dan pengelola yang merawat kisah itu.

Versi yang diceritakan oleh pemandu setempat menambahkan detail yang membuat kisah ini terasa lebih hidup. Menurut panduan perjalanan yang mewawancarai pemandu di lokasi, Daniel datang ke Borobudur hingga ke dusun tersebut dan bertemu dengan seorang anak kecil bernama Jito yang tuna wicara, lalu berkomunikasi dengan bahasa tubuh. Anak itu sedang mencari rumput untuk hewan ternaknya, dan Daniel diajak naik ke atas bukit. Setibanya di puncak, Daniel takjub melihat pemandangan yang sama persis dengan yang dilihatnya dalam doa sewaktu masih di Jakarta. Sumber lain yang berasal dari lingkungan pendidikan di Kabupaten Malang menyebut anak itu bernama Wardito, berusia 14 tahun, dan sedang mencari rumput di perbukitan. Perbedaan nama antara satu sumber dengan sumber lain menunjukkan bahwa detail kisah lisan ini perlu disampaikan dengan hati-hati, dan artikel ini menyebut kedua versi itu sebagai cerita yang disampaikan pemandu, bukan sebagai fakta yang sudah dipastikan oleh dokumen.

Apa pun detail pertemuannya, inti kisahnya tetap sama, yaitu bahwa Daniel merasa menemukan di atas bukit itu tempat yang pernah dilihatnya dalam doa. Ia kemudian berdoa semalaman di bukit yang saat itu masih berupa hutan lebat, dan dari doa itulah, menurut Daniel, lahir ilham untuk membangun rumah doa. Kisah semacam ini lazim dalam riwayat tempat-tempat doa, di mana pendiri mengaitkan pilihan lokasi dengan pengalaman rohani yang mendalam. Bagi pengunjung yang tidak menganut keyakinan yang sama, kisah ini tetap dapat dipahami sebagai kisah tentang seseorang yang begitu yakin pada sebuah gagasan sehingga ia rela pindah dari Jakarta ke Borobudur dan menghabiskan bertahun-tahun untuk mewujudkannya.

Daniel Alamsjah sendiri, menurut panduan perjalanan yang sama, lahir di Bandar Lampung, tumbuh besar di Jakarta, dan kemudian menjadi warga Borobudur, dengan rumah tinggal yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Bukit Rhema. Pada 2021, ia disebut masih sehat di usia 78 tahun. Detail biografis ini membantu pembaca memahami bahwa pendiri Bukit Rhema bukanlah tokoh dari masa lampau yang jauh, melainkan orang yang masih dapat ditemui dan kisahnya masih diceritakan oleh pemandu di lokasi. Kedekatan zaman ini juga berarti bahwa banyak saksi pembangunan masih hidup, sehingga kisah Bukit Rhema dapat diverifikasi melalui wawancara, foto lama, dan arsip pengelola, bukan hanya melalui legenda.

Peletakan Batu Pertama dan Pembangunan Tanpa Arsitek

Keinginan Daniel untuk membangun rumah doa baru terwujud beberapa tahun setelah pengalaman doanya, tepatnya pada 1992, ketika Daniel bersama koleganya dari Jakarta meletakkan batu pertama. Situs resmi pengelola juga menegaskan bahwa pembangunan dimulai pada 1992 berdasarkan visi yang diterima pada 1988. Peletakan batu pertama dilakukan bersama warga sekitar, dan foto-foto lama yang masih tersimpan menunjukkan Daniel muda berdiri berdampingan dengan masyarakat desa. Detail ini penting, karena menunjukkan bahwa sejak awal pembangunan Bukit Rhema melibatkan warga setempat, bukan hanya dikerjakan oleh pekerja dari luar.

Pembangunan dilakukan secara manual dan gotong royong, karena jalan ke atas bukit pada masa itu belum dapat diakses mobil, sehingga material diangkut naik dengan cara disunggi oleh warga dan pekerja. Jalan setapak yang kini dilalui pengunjung dulunya hanyalah jalur tanah menanjak. Pada 1994, tiang-tiang penyangga sudah dapat didirikan, dan pada 1995 ruang doa yang pertama sudah dapat diselesaikan, menurut panduan perjalanan yang merangkum penuturan pemandu. Tahapan ini menunjukkan bahwa pembangunan berjalan bertahap, sesuai dengan dana dan tenaga yang tersedia, bukan dibangun sekaligus oleh kontraktor besar dalam waktu singkat.

Salah satu fakta yang paling sering dikutip tentang pembangunan ini adalah bahwa Daniel membangunnya tanpa bantuan arsitek, dan desainnya lahir murni dari imajinasinya. Hal ini menjelaskan mengapa bentuk bangunan terasa sangat personal dan tidak mengikuti kaidah arsitektur formal. Daniel menginginkan bentuk burung merpati, karena ia mengidamkan tempat yang melambangkan kesetiaan, cinta kasih, dan kedamaian. Merpati adalah simbol yang mudah dipahami lintas budaya, dan mahkota di kepalanya melambangkan kemenangan dan doa yang terangkat ke langit, menurut uraian tentang arsitektur bangunan ini. Namun justru mahkota itulah yang oleh warga sekitar terlihat seperti jengger ayam, sehingga bangunan yang dimaksudkan sebagai merpati justru dikenal sebagai ayam.

Struktur utama bangunan ini terdiri dari tujuh lantai, dengan bagian kepala dan mahkota, tubuh bangunan, serta sayap dan ekor. Bagian kepala dan mahkota menjadi titik pandang, karena dari sana pengunjung dapat menikmati panorama 360 derajat kawasan Borobudur dan pegunungan sekitarnya. Tubuh bangunan berfungsi sebagai ruang doa dan aula besar yang dapat digunakan untuk ibadah, retret, maupun kegiatan rohani lintas denominasi. Sayap dan ekor menjadi area tambahan yang dijadikan ruang doa kecil, spot wisata, serta fasilitas publik. Pembagian fungsi ini menunjukkan bahwa sejak awal bangunan dirancang bukan hanya sebagai monumen untuk dilihat dari jauh, melainkan sebagai ruang yang dipakai, dimasuki, dan dihidupi oleh kegiatan doa dan pertemuan.

Mengapa Disebut Gereja Ayam Padahal Bentuknya Merpati

Kesalahpahaman yang paling awet tentang Bukit Rhema adalah anggapan bahwa bangunan ini adalah gereja berbentuk ayam. Situs resmi pengelola menjawab pertanyaan ini secara tegas, yaitu bahwa nama Gereja Ayam berasal dari masyarakat sekitar, karena Daniel adalah seorang Kristen, sehingga mereka mengira bangunan berbentuk merpati itu adalah sebuah gereja yang sedang dibangun. Padahal, menurut pengelola, Bukit Rhema bukan gereja, melainkan rumah doa yang terbuka untuk semua agama dan semua bangsa tanpa terkecuali. Penjelasan ini penting untuk disampaikan secara utuh, karena menyangkut identitas tempat dan hubungan dengan warga sekitar yang mayoritas beragama Islam.

Sumber lain menambahkan bahwa Daniel sempat mendapat surat larangan membangun gereja dari pemerintah setempat, karena mayoritas penduduk sekitar beragama Islam, sehingga ia mengganti kegunaan gedung tujuh tingkat itu menjadi rumah peribadatan untuk lima agama resmi di Indonesia. Artikel ini menyampaikan keterangan itu sebagai versi yang beredar dalam tulisan perjalanan, karena dokumen surat tersebut tidak dikutip secara lengkap dalam sumber yang tersedia. Yang dapat dipastikan dari situs resmi pengelola adalah bahwa kawasan Bukit Rhema kini memiliki musala, jalan salib, dan kapel, serta masih dalam proses perizinan untuk dua tempat ibadah agama lain, sedangkan bangunan inti Gedung Bukit Rhema tetap dapat digunakan bersama. Perkembangan ini menunjukkan bahwa gagasan rumah doa bagi segala bangsa diwujudkan secara bertahap, melalui penambahan fasilitas, bukan hanya melalui satu bangunan.

Dari sisi bentuk, kebingungan antara merpati dan ayam dapat dipahami bila pengunjung melihat bangunan dari kejauhan. Kepala bangunan yang besar, paruh yang pendek, dan mahkota yang bergerigi memang dapat terbaca sebagai kepala ayam, terutama bagi orang yang belum mendengar penjelasan tentang merpati. Justru karena itulah sebutan Gereja Ayam menjadi begitu populer, karena sebutan itu mudah diingat, mudah diceritakan, dan mudah menjadi bahan foto. Pengelola sendiri tidak menolak sebutan itu, melainkan memakainya sebagai pintu masuk untuk menjelaskan kisah yang sebenarnya. Pengunjung yang datang karena penasaran dengan ayam raksasa kemudian pulang dengan pemahaman tentang merpati, doa, dan toleransi, dan perubahan pemahaman itulah yang menjadi pengalaman wisata yang paling berharga di tempat ini.

Setiap lantai di dalam bangunan, menurut sejumlah tulisan perjalanan, didesain dengan tema tersendiri, dengan mural dan foto yang mengangkat tema seperti perjalanan spiritual manusia, makna doa, kemuliaan Tuhan, mukjizat, dan kearifan lokal. Artikel ini menyebut tema-tema itu sebagai gambaran yang dikutip dari tulisan perjalanan, karena daftar resmi dan lengkap dari pengelola tidak tersedia dalam sumber yang dirujuk. Bagi pengunjung, yang terpenting adalah bahwa interior bangunan memang dirancang sebagai ruang permenungan, bukan sekadar lorong kosong menuju puncak. Pengunjung diajak untuk berjalan perlahan dari satu lantai ke lantai berikutnya, membaca, berdoa, dan menikmati pemandangan yang berubah di setiap ketinggian.

Pembangunan yang Terhenti dan Krisis Moneter 1998

Pembangunan Bukit Rhema tidak berjalan mulus. Setelah berjalan bertahap sejak 1992, pembangunan sempat terhenti pada akhir 1990-an karena keterbatasan dana, menurut ensiklopedia daring yang merangkum riwayatnya. Panduan perjalanan yang lebih rinci menyebut bahwa pembangunan sempat terhambat oleh krisis moneter 1998 sampai 2000, dan juga sempat ada penolakan warga. Situs yang dikelola oleh pihak kedai di kawasan itu menyebut pembangunan berhenti pada 1999, setelah itu Daniel lebih fokus pada pelayanan sosial melalui Panti Rehabilitasi Bethesda, sehingga kawasan Bukit Rhema sempat terbengkalai cukup lama. Perbedaan penyebutan antara akhir 1990-an, 1998 sampai 2000, dan 1999 sebenarnya merujuk pada periode yang sama, yaitu masa krisis ekonomi yang melanda Indonesia, dan artikel ini menyajikannya sebagai satu rentang masa sulit, bukan sebagai tiga peristiwa yang berbeda.

Krisis moneter 1998 adalah konteks yang penting untuk memahami mengapa sebuah bangunan yang dibangun dengan dana mandiri bisa terhenti. Ketika nilai tukar jatuh, harga material naik, dan banyak usaha mengalami kesulitan, proyek yang bergantung pada dana pribadi dan gotong royong menjadi sangat rentan. Bangunan yang belum rampung sepenuhnya kemudian dibiarkan dalam keadaan setengah jadi, ditumbuhi semak, dan hanya dikunjungi oleh sedikit orang. Masa terbengkalai ini berlangsung cukup lama, dan dalam masa itulah bangunan yang dimaksudkan sebagai rumah doa justru lebih dikenal sebagai bangunan mangkrak yang misterius. Kisah ini mengingatkan bahwa di balik setiap bangunan ikonik, sering tersimpan masa-masa ketika gagasan besar hampir padam karena keadaan ekonomi.

Selama masa terbengkalai itu, Daniel tidak sepenuhnya meninggalkan kawasan Borobudur. Ia memusatkan perhatian pada pelayanan sosial, terutama melalui panti rehabilitasi yang menjadi bagian dari ekosistem Bukit Rhema hingga sekarang. Pilihan ini menunjukkan bahwa bagi pendirinya, Bukit Rhema tidak pernah semata-mata soal bangunan, melainkan soal pelayanan kepada manusia. Ketika bangunan tidak dapat dilanjutkan, pelayanan tetap berjalan dalam bentuk lain, yaitu merawat mereka yang membutuhkan pemulihan. Ketika bangunan akhirnya dibangkitkan kembali, pelayanan sosial itu tidak ditinggalkan, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas, bersama kuliner, fashion, olahraga, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat sekitar.

Bagi pengunjung masa kini, jejak masa terhenti itu masih dapat dirasakan dalam bentuk bangunan yang tidak sepenuhnya mulus. Ada bagian yang terasa seperti hasil dari beberapa tahap pembangunan yang berbeda zaman, dan ada ruang yang fungsinya berubah seiring waktu. Ketidaksempurnaan ini justru membuat bangunan terasa manusiawi, karena ia tidak lahir dari satu gambar yang sempurna, melainkan dari ketekunan yang terputus dan disambung kembali. Pengunjung yang mengetahui kisah ini akan melihat bangunan bukan hanya sebagai latar foto, tetapi sebagai bukti bahwa sebuah gagasan dapat bertahan melewati krisis, penolakan, dan kehabisan dana.

Dibersihkan Kembali, Dibuka, dan Meledak karena Film

Area Bukit Rhema mulai dibersihkan kembali pada 2012, menurut situs kedai di kawasan itu, dan proses ini menjadi awal kebangkitan sebelum tempat ini semakin dikenal luas. Panduan perjalanan menyebut bahwa Bukit Rhema dibuka kembali untuk umum pada 2014 setelah mengalami perbaikan. Kedua keterangan ini tidak bertentangan, karena pembersihan dan perbaikan pada 2012 dapat dipahami sebagai tahap persiapan, sedangkan pembukaan kembali pada 2014 adalah tahap ketika pengunjung umum mulai dilayani secara lebih teratur. Artikel ini menyajikan keduanya sebagai rangkaian, agar pembaca tidak mengira bahwa kebangkitan terjadi dalam satu hari.

Setelah dibuka kembali, Bukit Rhema masih perlu waktu untuk dikenal luas, dan momentum besar itu datang melalui film Ada Apa dengan Cinta 2. Film yang dirilis pada 2016 itu memakai Bukit Rhema sebagai salah satu lokasi syuting, dan menurut sejumlah sumber, adegan di bangunan ini menjadi salah satu adegan yang paling diingat penonton. Situs kedai menyebut syuting dilakukan pada 2015, sedangkan penayangan dan dampaknya dirasakan pada 2016, sehingga kedua tahun itu merujuk pada tahap yang berbeda, yaitu tahap pengambilan gambar dan tahap penayangan. Setelah film itu laris di Indonesia, Malaysia, dan Brunei, kunjungan ke Bukit Rhema meningkat tajam, termasuk dari wisatawan yang sebelumnya tidak pernah mendengar nama Dusun Gombong.

Dampak film terhadap sebuah destinasi sering disebut sebagai wisata film, dan Bukit Rhema adalah contoh yang sangat jelas. Pengunjung datang karena ingin berdiri di tempat yang sama dengan tokoh film, berfoto dengan sudut yang sama, dan merasakan suasana yang sama. Pengelola yang cerdas tidak hanya melayani rasa penasaran itu, tetapi juga mengarahkan pengunjung untuk mengenal kisah yang lebih dalam, yaitu kisah rumah doa dan pemberdayaan masyarakat. Dengan cara itu, kunjungan yang bermula dari film dapat berubah menjadi kunjungan yang bermakna, dan pengunjung pulang tidak hanya dengan foto, tetapi juga dengan pemahaman baru tentang toleransi dan ketekunan.

Kini, menurut situs resmi pengelola, Bukit Rhema telah berkembang menjadi ekosistem yang terus bertumbuh, dari rumah doa menjadi ekosistem kehidupan yang mencakup kuliner, fashion, olahraga, rehabilitasi, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat sekitar Borobudur. Di kawasan ini terdapat Kedai Bukit Rhema untuk kuliner, Daun Bukit untuk fashion dan suvenir, Panti Rehabilitasi Betesda, lapangan mini soccer, pertanian hidroponik, dan Kelompok Kerja Latela Dusun Gombong untuk pemberdayaan ibu-ibu masyarakat sekitar. Daftar ini menunjukkan bahwa Bukit Rhema tidak lagi hanya mengandalkan bangunan utamanya, melainkan membangun kegiatan yang memberi manfaat ekonomi bagi warga. Pengunjung yang datang dapat makan di kedai, membeli suvenir dari kelompok warga, dan menyaksikan kegiatan pertanian, sehingga uang wisata berputar di dusun itu sendiri.

Panorama dari Mahkota dan Pengalaman Berkunjung

Daya tarik utama Bukit Rhema bagi banyak pengunjung adalah panorama dari bagian mahkota. Dari ketinggian itu, pengunjung dapat menikmati panorama 360 derajat kawasan Borobudur dan pegunungan sekitarnya, termasuk Perbukitan Menoreh yang membentang di kejauhan. Pengalaman ini sering dibandingkan dengan pengalaman di Punthuk Setumbu, tetapi Bukit Rhema menawarkan sudut pandang yang berbeda, karena pengunjung berdiri di dalam kepala seekor burung raksasa, bukan di atas gardu pandang terbuka. Sensasi itu sulit digambarkan dengan kata-kata, dan justru karena itu banyak pengunjung yang datang kembali bersama keluarga atau teman yang belum pernah merasakannya.

Perjalanan menuju puncak juga merupakan bagian dari pengalaman. Pengunjung menaiki jalur menanjak menuju bukit, melewati pepohonan dan pemandangan persawahan, sebelum memasuki bangunan dan menaiki lantai demi lantai. Bagi pengunjung yang ingin menggabungkan kunjungan ini dengan wisata alam, KabarTidar sebelumnya telah membahas rute bersepeda keliling kawasan Borobudur, homestay di kawasan Borobudur, dan suasana Borobudur pada malam hari, yang semuanya dapat dirangkai menjadi perjalanan yang lebih panjang. Menginap di homestay warga, misalnya, memberi kesempatan untuk menikmati Bukit Rhema pada pagi hari ketika udara masih sejuk, sebelum rombongan besar datang.

Di dalam bangunan, pengunjung diajak untuk bersikap tenang dan menghormati fungsi tempat ini sebagai rumah doa. Meskipun tempat ini terbuka untuk wisata, ia tetap dipakai untuk berdoa, retret, dan kegiatan rohani. Pengunjung yang datang dengan rombongan sebaiknya menjaga suara, tidak berlari di tangga, dan memberi ruang bagi mereka yang sedang berdoa. Pemandu di lokasi, seperti Mbak Atul yang disebut dalam panduan perjalanan, biasanya menyampaikan tata tertib dan sejarah sebelum rombongan mulai menjelajah, dan mendengarkan penjelasan pemandu adalah cara terbaik untuk memahami tempat ini. Pemandu lokal juga adalah warga yang kehidupannya berkaitan langsung dengan kawasan ini, sehingga mendengarkan mereka berarti menghargai pengetahuan setempat.

Bagi pengunjung yang datang bersama anak-anak, Bukit Rhema dapat menjadi bahan percakapan yang baik tentang perbedaan antara nama dan wujud, antara yang terlihat dan yang dimaksudkan. Anak dapat diajak untuk mengamati bangunan dari jauh, menebak hewan apa yang dilihatnya, lalu mendengarkan penjelasan bahwa bangunan itu sebenarnya adalah merpati, bukan ayam. Percakapan sederhana ini melatih anak untuk tidak cepat menyimpulkan dari kesan pertama, dan untuk bertanya sebelum menilai. Setelah itu, anak dapat diajak untuk mengamati pemandangan dari mahkota dan menyebutkan gunung serta sawah yang terlihat, sehingga kunjungan menjadi pelajaran geografi yang hidup.

Bukit Rhema dalam Ekonomi Kawasan Borobudur

Bukit Rhema tidak dapat dipisahkan dari ekonomi kawasan Borobudur secara keseluruhan. Kawasan Borobudur adalah salah satu destinasi wisata utama di Jawa Tengah, dan setiap destinasi baru yang tumbuh di sekitarnya akan memengaruhi arus pengunjung, lama tinggal, dan belanja wisatawan. KabarTidar sebelumnya telah membahas ekonomi pariwisata Borobudur, dan Bukit Rhema adalah contoh nyata dari pembahasan itu, karena tempat ini mengubah kunjungan singkat ke Candi Borobudur menjadi perjalanan yang lebih panjang, dengan tambahan kuliner, suvenir, dan penginapan di desa-desa sekitar. Perpanjangan lama tinggal ini penting bagi warga, karena semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar peluang warga untuk memperoleh penghasilan.

Ekosistem Bukit Rhema yang melibatkan kelompok ibu-ibu, petani hidroponik, dan pengrajin suvenir menunjukkan model pemberdayaan yang bertumpu pada warga, bukan hanya pada investor dari luar. Model seperti ini tidak selalu mudah, karena memerlukan pelatihan, pembagian peran, dan kesabaran dalam membangun pasar. Namun bila berhasil, model ini lebih berkelanjutan, karena warga merasa memiliki usaha itu dan akan menjaganya. Pengunjung yang membeli suvenir dari Daun Bukit atau makan di Kedai Bukit Rhema, misalnya, secara langsung mendukung kelompok warga tersebut, dan dukungan itu lebih bermakna daripada sekadar membeli oleh-oleh dari toko besar yang tidak berkaitan dengan dusun.

Di sisi lain, popularitas yang tinggi juga membawa tantangan. Kawasan yang dahulu sepi kini harus mengatur parkir, antrean, sampah, dan arus pengunjung, terutama pada akhir pekan dan musim liburan. Pengelola perlu memastikan bahwa kenaikan jumlah pengunjung tidak merusak fungsi doa dan ketenangan tempat ini. Warga sekitar juga perlu dilibatkan dalam pengaturan itu, agar mereka tidak merasa tergusur oleh keramaian yang justru lahir dari dusun mereka sendiri. Keseimbangan antara wisata, doa, dan kehidupan warga adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai, dan Bukit Rhema akan terus diuji dalam hal ini selama ia tetap populer.

Perbandingan dengan Desa Wisata Candirejo yang juga berada di kawasan Borobudur dapat membantu pembaca memahami variasi model wisata desa di Magelang. Candirejo menawarkan pengalaman desa yang lebih luas, dengan kegiatan pertanian, kesenian, dan kehidupan sehari-hari warga, sedangkan Bukit Rhema menawarkan satu ikon yang kuat dengan ekosistem di sekitarnya. Keduanya saling melengkapi, karena wisatawan yang sudah menikmati ikon di Bukit Rhema dapat melanjutkan ke Candirejo untuk merasakan kehidupan desa yang lebih menyeluruh. Rangkaian seperti inilah yang membuat kawasan Borobudur tidak hanya bertumpu pada satu candi, melainkan pada jaringan desa dan destinasi yang saling menguatkan.

Hal yang Sengaja Diluruskan dalam Artikel Ini

Ada beberapa hal tentang Bukit Rhema yang sengaja diluruskan dalam artikel ini, karena kesalahpahaman tentangnya sudah terlanjur luas. Pertama, bangunan ini bukan gereja, melainkan rumah doa bagi segala bangsa. Kedua, bentuknya bukan ayam, melainkan burung merpati bermahkota, dan sebutan ayam berasal dari persepsi warga sekitar. Ketiga, bangunan ini tidak dibangun dalam waktu singkat oleh satu pihak, melainkan dibangun bertahap sejak 1992, terhenti pada masa krisis, dan dibangkitkan kembali pada 2012 sampai 2014. Keempat, pendirinya bukan tokoh anonim dari masa lampau, melainkan Daniel Alamsjah, pengusaha Jakarta yang pindah ke Borobudur dan masih berkaitan dengan kawasan itu hingga masa kini. Meluruskan keempat hal ini bukan untuk mengurangi daya tarik tempat, melainkan untuk menambahnya, karena kisah yang benar justru lebih menarik daripada sekadar label ayam raksasa.

Artikel ini juga sengaja tidak mencantumkan biaya pembangunan, karena tidak ada sumber yang dikutip yang menyebut angka biaya secara dapat diverifikasi. Banyak tulisan populer yang menyebut pembangunan dilakukan dengan dana mandiri, tetapi tidak menyebut jumlahnya, dan artikel ini tidak akan mengarang angka untuk melengkapi cerita. Hal yang sama berlaku untuk jam buka dan tarif masuk, yang dapat berubah sewaktu-waktu menurut kebijakan pengelola, sehingga pembaca disarankan untuk memeriksa informasi terbaru dari situs resmi pengelola atau menghubungi kontak yang tercantum di sana sebelum berkunjung. Sikap ini mungkin terasa kurang praktis, tetapi lebih jujur daripada mencantumkan angka yang sudah kedaluwarsa dan menyesatkan pembaca.

Pada akhirnya, Bukit Rhema mengajarkan bahwa sebuah tempat dapat dikenal karena salah paham, tetapi bertahan karena makna yang sesungguhnya. Sebutan Gereja Ayam yang awalnya lahir dari persepsi warga justru menjadi jalan bagi jutaan orang untuk mengenal rumah doa bagi segala bangsa. Bangunan yang sempat mangkrak justru menjadi bukti bahwa gagasan yang baik dapat bangkit kembali bila ada ketekunan dan dukungan masyarakat. Bagi pengunjung yang datang ke Borobudur, menyempatkan diri ke Bukit Rhema berarti menyempatkan diri untuk melihat bahwa di balik siluet burung raksasa di atas bukit, tersimpan kisah tentang doa, toleransi, kegagalan, dan kebangkitan yang jauh lebih besar daripada bangunannya sendiri.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *