Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Umum » Topeng Ireng, Tarian Bertopeng Hitam dari Kawasan Borobudur
Umum

Topeng Ireng, Tarian Bertopeng Hitam dari Kawasan Borobudur

Wajah dihitamkan, kostum meriah, dan gerak yang menghentak membuat Topeng Ireng mudah dikenali di lapangan desa. Dari daun kelapa hingga bulu warna warni, kesenian Borobudur ini tumbuh bersama warga yang memainkannya.

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 15.03 WIB
Ilustrasi penari Topeng Ireng di lapangan desa
Ilustrasi tiga penari berwajah hitam dengan kostum bulu warna warni dan hiasan daun menari energetik di lapangan desa dengan gamelan di belakang. (Ilustrasi: KabarTidar)

Topeng Ireng adalah kesenian tari rakyat yang lahir di kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, dan namanya langsung memberi gambaran tentang ciri yang paling mudah dikenali, yaitu wajah penari yang dihitamkan serta gerak yang gagah dan penuh tenaga. Kesenian ini tidak dimainkan dengan topeng kayu seperti tari topeng pada umumnya, melainkan dengan wajah yang dilabur warna hitam, kostum yang meriah, dan iringan musik yang menghentak, sehingga penonton merasakan semangat kebersamaan sejak hentakan pertama. Di tengah khazanah seni Jawa Tengah yang kaya, Topeng Ireng menempati tempat tersendiri karena ia lahir dari masyarakat desa, tumbuh bersama kegiatan warga, dan hingga kini masih dipentaskan dalam hajatan, bersih desa, festival, dan penyambutan tamu di kawasan Borobudur dan sekitarnya.

Menurut portal Visit Jawa Tengah milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Tari Topeng Ireng lahir di Tuksongo, Borobudur, sekitar tahun 1950, dan para penarinya pada masa awal mengenakan kostum dari daun kelapa serta menutupi wajah mereka dengan warna hitam dari arang. Keterangan itu penting karena ia memberi titik awal yang dapat dirujuk, sekaligus menunjukkan kesederhanaan bahan yang dipakai pada masa kelahirannya. Daun kelapa adalah bahan yang mudah didapat di desa, arang adalah bahan yang akrab dengan dapur, dan dari dua bahan sederhana itulah lahir sebuah kesenian yang kemudian berkembang menjadi tontonan yang meriah. Kesederhanaan bahan berbanding terbalik dengan semangat yang ditampilkan, sebab gerak Topeng Ireng sejak awal dikenal kuat, lincah, dan penuh percaya diri.

Portal yang sama juga menjelaskan bahwa Topeng Ireng dikenal pula sebagai Tari Dayakan, yaitu sebuah kreasi tari rakyat baru yang terinspirasi dari Tari Kubro Siswo, dan gerakannya diadaptasi dari seni bela diri Jawa. Keterangan ini perlu dicatat dengan hati-hati, sebab ia membedakan Topeng Ireng dari kesenian lain yang sering disamakan dengannya. Topeng Ireng bukan ketoprak, bukan pula jaran kepang, meskipun ketiganya sama-sama merupakan kesenian rakyat Jawa yang hidup di tengah masyarakat. Topeng Ireng memiliki sejarah, kostum, dan gerak yang khas, dan menyamakannya dengan kesenian lain tanpa sumber hanya akan mengaburkan identitasnya. Karena itu, artikel ini menulis Topeng Ireng berdasarkan sumber yang dapat dirujuk, dan tidak menambahkan persamaan atau asal usul yang tidak didukung sumber.

Artikel ini mengajak pembaca mengenal Topeng Ireng secara menyeluruh, mulai dari kelahirannya di Tuksongo, perubahan kostum dari masa ke masa, gerak yang diadaptasi dari bela diri, musik pengiringnya, hingga perannya sekarang dalam kehidupan warga Borobudur dan dalam pariwisata budaya. Artikel ini sengaja tidak mencantumkan jumlah penari yang pasti, nama pencipta perorangan, atau tahun-tahun yang tidak didukung sumber, sebab aturan penulisan yang dipegang portal ini menuntut kehati-hatian terhadap angka dan nama. Yang diutamakan adalah pemahaman tentang kesenian itu sendiri, tentang masyarakat yang melahirkannya, dan tentang cara terbaik untuk menikmatinya dengan hormat, baik sebagai penonton maupun sebagai bagian dari komunitas yang merawatnya.

Asal Usul Topeng Ireng di Tuksongo Borobudur

Tuksongo adalah sebuah desa di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, yang letaknya tidak jauh dari kawasan Candi Borobudur, dan dari desa inilah Topeng Ireng berasal, menurut portal Visit Jawa Tengah. Kelahiran sekitar tahun 1950 menempatkan Topeng Ireng sebagai kesenian yang relatif muda bila dibandingkan dengan kesenian keraton yang usianya ratusan tahun, tetapi usia yang muda itu justru menjadi kekuatannya, sebab ia lahir dari kebutuhan masyarakat desa akan hiburan dan kebersamaan pada masa setelah kemerdekaan. Pada masa itu, masyarakat desa membutuhkan kesenian yang dapat dimainkan bersama, ditonton bersama, dan dirayakan bersama, tanpa harus menunggu undangan keraton atau panggung besar. Topeng Ireng menjawab kebutuhan itu dengan gerak yang mudah dinikmati, kostum yang dibuat dari bahan sekitar, dan semangat yang menular kepada penonton.

Nama Topeng Ireng sendiri mengandung dua kata yang saling menjelaskan, yaitu topeng yang merujuk pada wajah yang ditutupi, dan ireng yang dalam bahasa Jawa berarti hitam. Wajah yang dihitamkan dengan arang pada masa awal bukan sekadar hiasan, melainkan penanda yang membuat penari tampil sebagai sosok yang berbeda dari dirinya sehari-hari. Ketika wajah dihitamkan, penari seolah melepas identitas pribadinya dan masuk ke dalam peran sebagai bagian dari kelompok, dan pelepasan identitas itu memberi kebebasan untuk bergerak dengan lebih berani, lebih lucu, dan lebih ekspresif. Dalam banyak kesenian rakyat, penutup wajah memiliki fungsi serupa, yaitu memberi jarak antara penari dan penonton, sekaligus memberi ruang bagi penari untuk menampilkan karakter yang tidak dapat ia tampilkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai tari rakyat baru yang terinspirasi dari Kubro Siswo, Topeng Ireng menunjukkan bahwa kesenian desa tidak lahir dalam ruang kosong, melainkan tumbuh dari kesenian yang sudah ada sebelumnya. Kubro Siswo sendiri adalah kesenian yang memadukan gerak, nyanyian, dan kebersamaan, dan dari inspirasi itu Topeng Ireng mengembangkan bentuknya sendiri dengan penekanan pada gerak yang kuat dan kostum yang mencolok. Proses semacam ini adalah hal yang wajar dalam sejarah kesenian rakyat, sebab setiap generasi seniman mengambil apa yang ia warisi, lalu mengubahnya sesuai dengan selera, bahan, dan kebutuhan zamannya. Hasilnya bukan tiruan, melainkan kreasi baru yang tetap berakar pada tradisi, dan Topeng Ireng adalah contoh yang baik dari proses tersebut.

Kaitan Topeng Ireng dengan kawasan Borobudur juga tidak dapat dilepaskan dari posisi Borobudur sebagai pusat kebudayaan dan pariwisata di Kabupaten Magelang. Candi Borobudur menarik jutaan pengunjung, dan di sekelilingnya tumbuh desa-desa wisata, sanggar seni, homestay, dan usaha kuliner yang saling mendukung. Dalam ekosistem itu, Topeng Ireng berfungsi sebagai duta budaya yang memperkenalkan wajah desa Borobudur kepada tamu, bukan hanya melalui candi yang megah, tetapi juga melalui tubuh penari yang bergerak, musik yang menghentak, dan tawa penonton yang pecah. Pembaca yang ingin memahami konteks pariwisata di kawasan ini dapat membaca artikel KabarTidar tentang ekonomi pariwisata Borobudur, yang menguraikan bagaimana pariwisata dan kehidupan warga saling terkait di kawasan ini.

Kostum Topeng Ireng dari Daun Kelapa hingga Bulu Meriah

Perubahan kostum adalah salah satu cerita paling menarik dalam sejarah Topeng Ireng, sebab ia menunjukkan bagaimana sebuah kesenian menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Pada masa awal, menurut portal Visit Jawa Tengah, penari mengenakan kostum dari daun kelapa dan menutupi wajah dengan warna hitam dari arang. Kostum daun kelapa memberi kesan alami, ringan, dan dekat dengan kehidupan desa, sebab daun kelapa adalah bahan yang tersedia di pekarangan dan mudah dibentuk menjadi hiasan. Wajah yang dihitamkan arang memberi kesan gagah dan misterius, sekaligus menegaskan nama Topeng Ireng itu sendiri. Penonton pada masa itu tidak membutuhkan kostum yang mewah untuk terhibur, sebab yang mereka cari adalah semangat, kekompakan, dan kelucuan gerak yang ditampilkan.

Seiring perkembangan, sekitar tahun 1980, kostum Topeng Ireng berubah dan mulai menyerupai kostum suku Indian Amerika, menurut portal yang sama. Perubahan ini sering kali mengejutkan pembaca yang baru pertama kali mendengar tentang Topeng Ireng, sebab suku Indian Amerika tampak jauh dari desa Borobudur. Namun, dalam dunia kesenian rakyat, meminjam unsur visual dari tempat jauh bukanlah hal yang aneh, sebab seniman desa sering kali terinspirasi oleh gambar, film, dan cerita yang mereka lihat, lalu mengolahnya menjadi bagian dari keseniannya sendiri. Bulu-bulu warna warni, hiasan kepala yang tinggi, dan warna kostum yang mencolok memberi kesan meriah dan mudah dikenali dari kejauhan, dan kesan itu sesuai dengan fungsi Topeng Ireng sebagai hiburan lapangan yang harus dapat dinikmati oleh penonton dalam jumlah besar.

Yang penting untuk dicatat adalah bahwa perubahan kostum tidak menghapus ciri utama Topeng Ireng, yaitu wajah yang dihitamkan dan gerak yang gagah. Bulu dan warna boleh berubah, bahan boleh berganti, tetapi wajah hitam tetap menjadi penanda yang membedakan Topeng Ireng dari tari lain. Konsistensi pada penanda utama ini menunjukkan bahwa seniman Topeng Ireng memahami apa yang menjadi jati diri keseniannya, dan mereka menjaga jati diri itu sambil tetap memberi ruang bagi kreativitas. Setiap sanggar dapat memiliki variasi kostumnya sendiri, dengan warna dan hiasan yang berbeda, tetapi penonton yang sudah mengenal Topeng Ireng akan tetap mengenalinya dari wajah hitam dan semangat geraknya, bukan hanya dari bulunya.

Dalam pementasan masa kini, kostum Topeng Ireng umumnya terlihat meriah, dengan hiasan kepala dari bulu sintetis atau bahan lain yang ringan, kostum berwarna cerah, dan rias wajah hitam yang tebal. Penari juga sering mengenakan aksesori tambahan yang memberi bunyi saat bergerak, sehingga gerak dan bunyi menyatu menjadi irama yang hidup. Kostum yang meriah ini memiliki fungsi praktis, yaitu membuat penari mudah terlihat dari kejauhan dan memberi kesan perayaan, serta fungsi simbolis, yaitu menegaskan bahwa pementasan adalah peristiwa gembira yang layak dirayakan bersama. Bagi penonton anak-anak, kostum yang meriah ini sering kali menjadi daya tarik pertama, dan dari ketertarikan visual itulah mereka kemudian belajar mengenal nama kesenian dan cerita di baliknya.

Gerak Topeng Ireng yang Diadaptasi dari Bela Diri Jawa

Gerak adalah jiwa Topeng Ireng, dan menurut portal Visit Jawa Tengah, gerakannya diadaptasi dari seni bela diri Jawa. Adaptasi ini menjelaskan mengapa gerak Topeng Ireng terasa berbeda dari tari halus yang gerakannya lembut dan mengalir, sebab gerak bela diri menekankan ketegasan, keseimbangan, dan kekuatan. Penari Topeng Ireng bergerak dengan langkah yang mantap, ayunan tangan yang tegas, dan perpindahan posisi yang cepat, sehingga penonton merasakan tenaga yang mengalir dari panggung ke arena. Gerak yang tegas ini tidak berarti kasar, sebab di balik ketegasan itu terdapat latihan, kekompakan, dan penguasaan tubuh yang hanya dapat diperoleh melalui latihan berulang bersama kelompok.

Dalam pementasan kelompok, kekompakan gerak menjadi penanda kualitas yang paling mudah dinilai penonton. Ketika sekelompok penari bergerak serentak, dengan hentakan kaki yang bersamaan dan ayunan tangan yang seirama, penonton merasakan getaran kebersamaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Kekompakan itu tidak lahir dari bakat perorangan saja, melainkan dari latihan bersama yang rutin, saling mendengarkan irama, dan saling memperhatikan posisi teman di sampingnya. Karena itu, sanggar Topeng Ireng bukan hanya tempat belajar menari, tetapi juga tempat belajar bekerja sama, disiplin, dan menghargai peran masing-masing, sebab satu penari yang bergerak di luar irama dapat mengganggu keseluruhan penampilan kelompok.

Selain gerak yang gagah, Topeng Ireng juga dikenal dengan unsur humor dan kelucuan yang muncul dari interaksi antarpenari dan dari ekspresi tubuh yang berlebihan. Penari sering kali menampilkan gerak yang dilebih-lebihkan, saling menggoda, dan mengundang tawa penonton, sehingga suasana pementasan menjadi cair dan akrab. Unsur humor ini penting karena ia membuat kesenian ini dapat dinikmati oleh semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua, tanpa perlu memahami cerita yang rumit. Penonton tidak perlu menjadi ahli tari untuk menikmati Topeng Ireng, cukup dengan membuka mata, mendengarkan musik, dan membiarkan diri terbawa oleh semangat yang ditampilkan. Keterbukaan semacam inilah yang membuat kesenian rakyat bertahan, sebab ia tidak mengasingkan penonton, melainkan mengajak mereka masuk.

Musik pengiring Topeng Ireng, yang umumnya menggunakan gamelan dan alat musik perkusi, memberi kerangka irama bagi gerak penari. Kendang memberi hentakan yang memandu langkah, gong memberi penanda pergantian bagian, dan alat musik lain memberi warna yang membuat suasana semakin hidup. Hubungan antara penari dan pemusik adalah hubungan yang saling mendengarkan, sebab pemusik harus peka terhadap tempo penari, dan penari harus peka terhadap irama pemusik. Bila hubungan itu berjalan baik, pementasan terasa mengalir dan penonton sulit membedakan mana gerak yang direncanakan dan mana gerak yang lahir spontan dari semangat. Bila hubungan itu terganggu, penonton akan segera merasakannya, sebab gerak dan musik akan terasa berjalan sendiri-sendiri.

Topeng Ireng di Hajatan, Bersih Desa, dan Festival

Topeng Ireng paling sering dipentaskan dalam acara yang melibatkan banyak orang, seperti hajatan, bersih desa, peringatan hari besar, dan festival seni budaya. Dalam hajatan, kehadiran Topeng Ireng memberi hiburan yang meriah bagi tuan rumah dan tamu, sekaligus menjadi ungkapan syukur atas peristiwa yang dirayakan, seperti pernikahan, khitanan, atau panen. Dalam bersih desa, Topeng Ireng menjadi bagian dari rangkaian syukur warga atas keselamatan dan rezeki desa, dan pementasannya sering kali menjadi puncak acara yang ditunggu-tunggu. Dalam festival, Topeng Ireng tampil sebagai perwakilan desa atau sanggar, dan pementasannya menjadi ajang untuk menunjukkan kreativitas, kekompakan, dan kebanggaan daerah. Ketiga konteks itu menunjukkan bahwa Topeng Ireng bukan kesenian panggung yang jauh dari kehidupan, melainkan kesenian yang hidup di tengah peristiwa warga.

Pementasan di lapangan terbuka memiliki tantangan tersendiri, sebab penari harus menghadapi panas, debu, dan penonton yang bergerak bebas, bukan duduk tertib di kursi teater. Tantangan itu justru menjadi bagian dari daya tarik Topeng Ireng, sebab penari belajar tampil dalam kondisi apa pun dan penonton belajar menikmati kesenian tanpa jarak yang kaku. Anak-anak dapat duduk di barisan depan, pedagang dapat berjualan di sekeliling arena, dan penonton dapat bersorak, tertawa, dan bertepuk tangan dengan bebas. Suasana yang cair ini membuat Topeng Ireng terasa demokratis, sebab ia tidak membedakan penonton berdasarkan status, dan siapa pun yang datang dapat menikmati hiburan yang sama. Keterbukaan arena adalah cermin dari keterbukaan masyarakat desa yang melahirkannya.

Di kawasan Borobudur, Topeng Ireng juga sering menjadi bagian dari penyambutan tamu dan paket wisata budaya, terutama bagi wisatawan yang ingin mengenal desa di sekitar candi, bukan hanya candinya. Wisatawan yang menginap di homestay kawasan Borobudur, sebagaimana diulas dalam artikel KabarTidar tentang homestay kawasan Borobudur, sering kali mendapat kesempatan menyaksikan kesenian desa, termasuk Topeng Ireng, sebagai bagian dari pengalaman menginap. Pengalaman semacam ini memberi nilai tambah bagi wisatawan, sebab mereka tidak hanya melihat peninggalan masa lalu, tetapi juga melihat budaya yang masih hidup di masa kini. Bagi warga, kehadiran wisatawan memberi penghasilan tambahan dan pengakuan, tetapi juga menuntut kesiapan, sebab sanggar harus dapat tampil dengan kualitas yang baik pada waktu yang disepakati.

Festival seni budaya di Magelang, yang diulas dalam artikel KabarTidar tentang festival seni budaya Magelang, menjadi panggung penting bagi Topeng Ireng untuk bertemu dengan kesenian lain dan dengan penonton yang lebih luas. Dalam festival, setiap sanggar menampilkan versi terbaiknya, dan penonton dapat membandingkan gaya, kostum, dan kekompakan antar sanggar. Perbandingan itu sebaiknya dipandang sebagai ajang belajar, bukan sebagai persaingan yang menjatuhkan, sebab setiap sanggar memiliki warna dan kekuatannya sendiri. Festival juga menjadi tempat bagi generasi muda untuk melihat bahwa kesenian daerahnya dihargai, dan penghargaan itu dapat menumbuhkan kebanggaan yang mendorong mereka untuk ikut bergabung dengan sanggar, bukan hanya menonton dari pinggir arena.

Sanggar, Regenerasi, dan Masa Depan Topeng Ireng

Sanggar adalah jantung dari kelangsungan Topeng Ireng, sebab di sanggarlah penari baru dilatih, kostum dirawat, musik dipelajari, dan nilai kebersamaan ditanamkan. Sanggar seni di Magelang, sebagaimana diulas dalam artikel KabarTidar tentang sanggar seni Kota Magelang, memiliki peran yang melampaui sekadar tempat latihan, sebab ia juga menjadi ruang berkumpul, ruang belajar, dan ruang silaturahmi bagi warga dari berbagai usia. Di sanggar, anak-anak belajar gerak dasar, remaja belajar kekompakan kelompok, dan orang tua memberi dukungan serta menjaga tradisi. Struktur lintas usia ini penting, sebab ia memastikan bahwa pengetahuan tidak hanya disimpan oleh satu generasi, melainkan diteruskan secara hidup dari tangan ke tangan.

Regenerasi adalah tantangan terbesar bagi hampir semua kesenian rakyat, termasuk Topeng Ireng, sebab generasi muda kini memiliki banyak pilihan hiburan yang bersaing untuk mendapatkan perhatian mereka. Gawai, permainan daring, dan hiburan dari kota besar sering kali terasa lebih menarik daripada latihan tari yang membutuhkan waktu, tenaga, dan kedisiplinan. Tantangan ini tidak dapat dijawab dengan melarang hiburan modern, melainkan dengan membuat sanggar menjadi tempat yang menyenangkan, terbuka, dan relevan bagi generasi muda. Sanggar yang memberi ruang bagi kreativitas, yang menghargai pendapat anggota muda, dan yang memanfaatkan media sosial untuk membagikan penampilannya, memiliki peluang lebih besar untuk menarik anggota baru daripada sanggar yang hanya mengandalkan kewajiban dan nostalgia.

Peran sekolah dan pemerintah desa juga penting dalam regenerasi Topeng Ireng, sebab keduanya dapat memberi panggung dan dukungan yang tidak dapat diberikan sanggar sendirian. Sekolah dapat memasukkan pengenalan kesenian daerah dalam kegiatan ekstrakurikuler atau pentas seni, sehingga siswa mengenal Topeng Ireng bukan hanya dari cerita, tetapi dari pengalaman langsung. Pemerintah desa dapat mendukung dengan memberi ruang latihan, membantu pembiayaan kostum, dan memasukkan Topeng Ireng dalam kalender acara desa, sehingga sanggar memiliki kepastian jadwal tampil. Dukungan semacam ini sebaiknya diberikan tanpa mengintervensi kreativitas sanggar, sebab kesenian rakyat tumbuh paling baik bila senimannya memiliki kebebasan untuk berkreasi dalam bingkai tradisi yang ia pahami.

Di sisi lain, dokumentasi dan promosi yang baik dapat membantu Topeng Ireng dikenal lebih luas tanpa mengubah jati dirinya. Rekaman video penampilan, foto kostum, dan cerita tentang sanggar dapat dibagikan melalui media sosial dan portal berita daerah, agar orang dari luar Borobudur dapat mengenal kesenian ini sebelum menyaksikannya langsung. Dokumentasi juga berfungsi sebagai arsip, sehingga generasi mendatang dapat melihat bagaimana Topeng Ireng ditampilkan pada masa kini dan membandingkannya dengan penampilan masa depan. Arsip semacam ini penting, sebab kesenian yang tidak didokumentasikan berisiko kehilangan jejaknya, dan generasi mendatang akan kesulitan memahami perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.

Menonton Topeng Ireng dengan Hormat dan Gembira

Bagi penonton yang baru pertama kali menyaksikan Topeng Ireng, ada beberapa hal sederhana yang dapat membuat pengalaman menonton menjadi lebih menyenangkan dan menghormati penari. Pertama, datanglah lebih awal agar mendapat tempat yang baik dan dapat mengamati persiapan penari tanpa mengganggu. Kedua, ikuti irama dengan tepuk tangan dan sorakan yang wajar, sebab penari sangat terbantu oleh dukungan penonton, tetapi hindari teriakan yang mengganggu atau masuk ke arena tanpa izin. Ketiga, bila ingin mengambil foto atau video, lakukan dari tempat penonton dan tanpa menggunakan lampu kilat yang menyilaukan penari. Keempat, hargai penari dengan tidak meminta mereka berpose di tengah penampilan, dan bila ingin berfoto bersama, tunggulah hingga pementasan selesai dan mintalah izin dengan sopan.

Penonton juga sebaiknya memahami bahwa Topeng Ireng adalah kesenian yang melibatkan banyak orang dengan peran berbeda, dan setiap peran layak dihargai. Penari di depan panggung sering kali mendapat sorotan, tetapi pemusik di belakang, penata kostum, dan pengurus sanggar yang mengatur jadwal juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Penghargaan kepada seluruh tim dapat diwujudkan dengan cara sederhana, seperti mengucapkan terima kasih, memberi apresiasi yang tulus, dan membagikan cerita tentang penampilan itu kepada orang lain dengan cara yang benar. Apresiasi yang tulus lebih berharga daripada pujian yang berlebihan, sebab ia menunjukkan bahwa penonton benar-benar memperhatikan, bukan sekadar lewat.

Sebagai penutup, Topeng Ireng layak dikenal sebagai salah satu kekayaan budaya Magelang yang lahir dari desa, tumbuh bersama warga, dan hingga kini masih memukau penonton dengan wajah hitam, kostum meriah, dan gerak yang gagah. Kesenian ini mengingatkan bahwa budaya tidak selalu lahir dari istana atau panggung megah, melainkan sering kali lahir dari pekarangan, dari daun kelapa, dari arang dapur, dan dari semangat kebersamaan warga desa. Bila pembaca berkesempatan mengunjungi kawasan Borobudur, sempatkanlah waktu untuk menyaksikan Topeng Ireng, bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai perjumpaan dengan masyarakat yang menciptakannya. Dari perjumpaan itulah, pemahaman tentang Magelang menjadi lebih utuh, sebab Magelang tidak hanya dikenal melalui candinya, tetapi juga melalui tubuh penarinya yang bergerak, musiknya yang menghentak, dan tawanya yang menular. Informasi lebih lanjut tentang kesenian ini dapat dirujuk pada portal Visit Jawa Tengah tentang Tari Topeng Ireng dan pada halaman Topeng Ireng Dance di portal yang sama, yang menjadi sumber utama artikel ini.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

1 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *