Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Umum » Dua Lukisan Penangkapan Diponegoro: Versi Pieneman vs Raden…
Umum

Dua Lukisan Penangkapan Diponegoro: Versi Pieneman vs Raden Saleh

Satu penangkapan di Magelang, dua lukisan, dua pesan. Yang satu dibingkai sebagai penyerahan yang tertib, yang lain sebagai penangkapan yang dilawan dengan martabat — dan perbedaan itu mengajarkan cara membaca gambar sejarah.

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 04.13 WIB
"lukisan Penangkapan Diponegoro" (paragraf pembuka + satu H2: "Lukisan Penangkapan Diponegoro versi Raden Saleh")
Ilustrasi tIDAK diterbitkan, TIDAK menyentuh server/VPS, TIDAK ada gambar dibuat. (Ilustrasi: KabarTidar)

Satu peristiwa, dua lukisan, dua pesan yang bertolak belakang. Pada 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang setelah datang untuk berunding dengan Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock. Peristiwa itu kemudian dilukis dua kali: pertama oleh pelukis Belanda Nicolaas Pieneman sekitar tahun 1835, dan kedua oleh pelukis Jawa Raden Saleh pada tahun 1857. Lukisan Pieneman menampilkan seorang pangeran yang tunduk dan menyerah, sementara lukisan Raden Saleh menampilkan seorang pangeran yang marah, tegak, dan menantang penangkapnya. Perbedaan itu bukan sekadar perbedaan gaya melukis, melainkan perbedaan sudut pandang tentang siapa yang benar, siapa yang kalah, dan bagaimana sebuah penangkapan seharusnya diingat.

Perbandingan kedua lukisan ini penting karena keduanya termasuk lukisan sejarah Hindia yang paling terkenal. Penulis Susie Protschky menyebut kedua karya itu sebagai dua lukisan sejarah Hindia yang paling dikenal, dan perbandingan keduanya masih dipakai hingga kini untuk mengajar satu pelajaran dasar dalam membaca sejarah: sebuah gambar tentang peristiwa masa lalu tidak pernah netral. Lukisan dibuat oleh seseorang, atas pesanan seseorang, untuk penonton tertentu, dan dalam keadaan tertentu. Karena itu, cara membaca lukisan sejarah yang baik bukan hanya bertanya apa yang digambarkan, melainkan juga siapa yang menggambarkannya, kapan ia menggambarkannya, dan apa yang ingin dicapai oleh gambar itu.

Artikel ini membandingkan kedua lukisan itu secara langsung: siapa pelukisnya, kapan masing-masing dibuat, apa yang tampak di dalam gambar, dari sudut pandang mana peristiwa itu diceritakan, dan di mana kedua lukisan itu berada sekarang. Artikel ini juga menjelaskan batas kedua lukisan sebagai sumber sejarah, karena tidak satu pun dari kedua pelukis itu menyaksikan penangkapan pada 28 Maret 1830 secara langsung. Semua rincian visual di bawah ini merujuk pada catatan museum dan kajian sejarawan seni yang dikutip dalam catatan riset, dan tafsir yang masih diperdebatkan ditulis sebagai tafsir, bukan sebagai fakta yang sudah pasti.

Peristiwa yang dilukis: penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang, 1830

Sebelum membandingkan lukisannya, peristiwa yang dilukis perlu ditegaskan terlebih dahulu. Diponegoro, yang hidup pada 1785 hingga 1855 dan merupakan keturunan Sultan Yogyakarta, beberapa kali dilewati dalam pergantian takhta. Pada 1825, setelah menyatakan dirinya sebagai Ratu Adil dan menyebut musuh-musuhnya tidak menjalankan Islam dengan sungguh-sungguh, ia memulai perang melawan sultan yang berkuasa dan pemerintah kolonial Belanda. Perang Jawa itu berlangsung selama lima tahun di sebagian besar Jawa Tengah, dan menurut berbagai catatan sejarah, menelan korban yang sangat besar, dengan lebih dari 200.000 orang Jawa dan 15.000 tentara Belanda tewas.

Pada 28 Maret 1830, ketika sebagian besar pemimpin gerilya lainnya sudah tertangkap, Diponegoro diundang datang ke rumah Letnan Jenderal de Kock di Magelang untuk merundingkan akhir permusuhan, dengan jaminan keamanan perjalanan. Setelah tiga jam berada di sana, ia ditangkap. Penangkapan itu menandai berakhirnya Perang Jawa sebagai perang besar, dan diikuti dengan pengasingan Diponegoro, mula-mula ke Manado, lalu ke Makassar di Benteng Rotterdam, tempat ia menjalani sisa hidupnya dalam tahanan hingga wafat pada 8 Januari 1855. Rangkaian inti inilah yang menjadi bahan kedua lukisan: undangan berunding, penangkapan, dan pengasingan.

Bagi Magelang, peristiwa ini memberi kota itu tempat yang khusus dalam ingatan nasional, bukan karena Diponegoro lahir di sini, melainkan karena di sinilah perlawanannya dihentikan. Gedung bekas Karesidenan Kedu di Magelang kini menjadi Museum Pangeran Diponegoro, dan di ruang publik kota berdiri patung Diponegoro menunggang kuda. Kedua lukisan yang dibandingkan dalam artikel ini tidak berada di Magelang, tetapi peristiwa yang mereka gambarkan terjadi di kota ini, dan karena itu pembaca Magelang memiliki alasan yang kuat untuk mengenal keduanya dengan teliti.

Lukisan Penangkapan Diponegoro versi Pieneman: penyerahan yang tertib

Lukisan pertama dibuat oleh Nicolaas Pieneman, pelukis Belanda, sekitar tahun 1830 hingga 1835, atas pesanan de Kock atau keluarganya. Judul lengkapnya dalam bahasa Belanda adalah De onderwerping van Diepo Negoro aan Luitenant-generaal Baron De Kock, yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai The Submission of Prince Dipo Negoro to General De Kock, atau Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal de Kock. Judul itu sendiri sudah memberi petunjuk tentang pesan lukisan: peristiwa itu dibingkai sebagai penyerahan, bukan sebagai penangkapan.

Lukisan Pieneman adalah lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 77 sentimeter kali 100 sentimeter, jauh lebih kecil daripada lukisan Raden Saleh. Karya ini kini berada di Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda, dengan nomor inventaris SK-A-2238. Lukisan itu sempat dimiliki keluarga de Kock, hingga akhirnya disumbangkan ke Rijksmuseum pada 29 Januari 1907 oleh F. L. W. de Kock. Riwayat kepemilikan itu penting: lukisan ini lahir dari lingkungan pemenang perang, disimpan oleh keluarga sang jenderal, dan baru kemudian menjadi koleksi museum nasional Belanda.

Di dalam gambar, Diponegoro digambarkan meninggalkan para pengikutnya dan menyerah dengan tenang kepada de Kock yang digambarkan percaya diri, sementara bendera Belanda berkibar tinggi di atas rumah letnan jenderal itu. Diponegoro berdiri satu anak tangga lebih rendah daripada de Kock, yang menunjuk ke arah kereta yang akan membawa pemimpin gerilya itu ke pengasingan. Para prajurit Diponegoro digambarkan meletakkan senjata mereka di tanah mengikuti penyerahan pemimpinnya, dan sebagian lagi digambarkan menjatuhkan diri ke tanah di hadapannya. Seluruh adegan tampak tunduk kepada kekuasaan Belanda, tertib, dan selesai.

Sejarawan seni Werner Krauss merangkum pesan lukisan Pieneman itu dengan kalimat yang sering dikutip: lukisan itu memberi kesan bahwa tindakan keras de Kock adalah demi kebaikan orang Jawa, dan bahwa sang jenderal sebenarnya tidak punya pilihan selain mengirim Diponegoro pergi, seperti seorang ayah yang penuh kasih terpaksa mengirim anaknya yang tersesat pergi agar belajar pelajaran berharga. Tafsir Krauss itu membantu pembaca memahami mengapa lukisan Pieneman terasa begitu tenang: ia tidak melukis kekerasan penangkapan, melainkan melukis pembenaran atas penangkapan itu.

Namun ada satu kelemahan mendasar pada lukisan Pieneman sebagai dokumen visual. Pieneman tidak pernah pergi ke Hindia Belanda, sehingga tidak jelas atas dasar apa ia menggambarkan kawasan di sekitar rumah de Kock, wajah, dan ciri fisik orang-orang yang dilukisnya. Akibatnya, para prajurit Jawa dalam lukisannya tampak lebih menyerupai orang Arab daripada orang Jawa asli. Ada kemungkinan Pieneman mendapat inspirasi dari sketsa-sketsa de Kock atau ajudannya, Mayor Francois Victor Henri Antoine Ridder de Stuer, tetapi hal itu tetap berarti bahwa lukisan Pieneman adalah rekonstruksi dari jauh, bukan kesaksian mata.

Lukisan Penangkapan Diponegoro versi Raden Saleh: penangkapan yang menantang

Lukisan kedua dibuat oleh Raden Saleh, pelukis Jawa yang belajar seni di Eropa dan kemudian dikenal sebagai salah satu pelukis Indonesia paling terkemuka pada abad ke-19. Karyanya yang berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro, dalam bahasa Belanda Gevangenname van Prins Diponegoro, selesai pada tahun 1857, lebih dari dua puluh tahun setelah peristiwa yang digambarkannya dan dua tahun setelah wafatnya Diponegoro pada 1855. Sejarawan seni Werner Krauss berpendapat bahwa wafatnya Diponegoro itulah yang mendorong Saleh menyelesaikan lukisan ini dan merumuskan kembali penangkapan itu dalam kerangka Jawa, bukan dalam kerangka kolonial Pieneman.

Lukisan Raden Saleh adalah lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 112 sentimeter kali 178 sentimeter, hampir dua kali lipat luas lukisan Pieneman. Ukuran yang besar itu sesuai dengan ambisi lukisan ini: menurut kajian Krauss, Saleh memasukkan lebih dari empat puluh orang ke dalam bingkai, menjadikannya salah satu proyeknya yang paling ambisius. Lukisan itu dibuat setelah Saleh kembali ke Jawa pada 1851, sesudah masa belajar yang panjang di Eropa. Sketsa pendahuluan lukisan ini selesai pada 1856, setelah Saleh sempat meminta izin untuk mengunjungi berbagai tempat yang berkaitan dengan Perang Jawa tetapi tidak diizinkan.

Di dalam gambar, Diponegoro berdiri menantang di hadapan de Kock di depan rumah sang pejabat kolonial. Ia mengenakan sorban hijau, tabard putih di atas celana panjang, dan jaket, dengan sabuk emas di pinggang tempat tasbih digantungkan, serta selendang di bahu. Ia tampak berusaha mengendalikan amarahnya, sebagaimana layaknya bangsawan Jawa yang menahan diri, sementara mata para perwira Eropa digambarkan statis dan menghindari pandangan orang lain. Berbeda dengan lukisan Pieneman, de Kock dalam lukisan Saleh berdiri di sisi kiri Diponegoro, pada ketinggian yang sama dengan sang pangeran, bukan di atasnya.

Di sekeliling kedua tokoh utama itu, para perwira Belanda diidentifikasi oleh sejarawan dan penulis biografi Diponegoro, Peter Carey, sebagai Kolonel Louis du Perr, Letnan Kolonel W. A. Roest, dan Mayor Ajudan Francois Victor Henri Antoine Ridder de Stuer. Di sisi kanan Diponegoro berdiri seorang pria Jawa yang diidentifikasi Carey sebagai putra Diponegoro, Diponegoro Muda, diikuti Residen Kedu Franciscus Gerardus Valck, Kolonel Jan-Baptist Cleerens, dan Kapten Johan Jacob Roeps. Di kaki Diponegoro, seorang perempuan yang mungkin adalah istrinya, Raden Ayu Retnaningsih, digambarkan meraih sang pangeran. Identifikasi tokoh-tokoh ini berasal dari kajian Carey, dan karena itu ditulis di sini sebagai atribusi, bukan sebagai kepastian mutlak.

Dua ciri visual lain membedakan lukisan Saleh. Pertama, suasana yang digambarkan adalah suasana pagi yang masih tenang, tanpa angin, dengan Diponegoro sebagai pusat komposisi, dan Saleh memberi kedalaman pada gambar dengan menampilkan prajurit di barisan depan secara tajam sementara barisan belakang dibuat kabur. Kedua, kepala para perwira Belanda digambarkan sedikit terlalu besar untuk tubuh mereka, sementara kepala para prajurit Jawa digambarkan dengan proporsi yang wajar. Ketiga, Saleh memasukkan dirinya sendiri ke dalam lukisan itu, sebagai prajurit yang membungkuk kepada pemimpin yang ditangkap dan sebagai prajurit yang menghadap penonton. Jumlah persis kemunculan dirinya masih diperdebatkan dalam literatur, sehingga artikel ini tidak menetapkan satu angka, tetapi kehadiran dirinya di dalam gambar itu sendiri sudah merupakan pernyataan: pelukis menempatkan dirinya di pihak yang ditangkap, bukan di pihak yang menangkap.

Latar Saleh sendiri menjelaskan mengapa lukisan ini terasa berbeda. Saleh tidak pernah bertemu Diponegoro dan sedang belajar di Eropa ketika penangkapan itu terjadi, tetapi keluarganya pernah berjuang untuk Diponegoro, dan selama di Eropa ia pernah menyatakan hubungan kekeluargaan dengan sang gerilyawan serta memprotes perlakuannya oleh pemerintah kolonial Belanda. Sebelum melukis adegan ini, Saleh sempat mengunjungi seorang sepupu di Magelang, tempat Diponegoro ditangkap, sehingga ia mengenal kawasan dan latar peristiwanya. Lukisan ini juga kemungkinan dipengaruhi oleh pelukis sejarah Louis Gallait, dan penggunaan warnanya mengingatkan pada karya-karya Horace Vernet dan Eugene Delacroix, dua pelukis yang dikenal Saleh.

Membandingkan keduanya: sikap, posisi, pengikut, pakaian, dan judul

Perbedaan pertama dan paling mudah dilihat adalah sikap Diponegoro. Pieneman menampilkan Diponegoro yang pasrah dan kalah, sementara Saleh menampilkan Diponegoro yang marah dan menantang, yang sedang berjuang mengendalikan emosinya. Perbedaan ini bukan sekadar pilihan ekspresi wajah, melainkan pernyataan tentang martabat. Dalam versi Pieneman, kekalahan itu total: pemimpinnya tunduk, pasukannya meletakkan senjata. Dalam versi Saleh, kekalahan militer itu tidak menghapus martabat: pemimpinnya ditangkap, tetapi tidak ditundukkan.

Perbedaan kedua adalah posisi tubuh. Pieneman menempatkan Diponegoro satu anak tangga lebih rendah daripada de Kock, sehingga secara simbolis sang pangeran memiliki kekuasaan yang lebih kecil daripada penangkapnya. Saleh menempatkan keduanya pada ketinggian yang sama, dan menurut Krauss, menempatkan de Kock di sisi kiri, yang dalam pembacaan Jawa dipandang sebagai sisi yang kurang kuat. Pembaca yang hanya melihat satu lukisan saja tidak akan menyadari betapa disengajanya penempatan posisi ini, tetapi begitu kedua lukisan diletakkan berdampingan, perbedaan posisi itu menjadi pesan yang paling jelas.

Perbedaan ketiga adalah penggambaran para pengikut. Dalam lukisan Pieneman, para pengikut Diponegoro menyerah bersama pemimpinnya: mereka meletakkan senjata dan menjatuhkan diri ke tanah. Dalam lukisan Saleh, para pengikut Jawa digambarkan dengan pakaian Jawa yang lebih akurat, termasuk batik dan blangkon menurut sejumlah kajian, dan kehadiran mereka terasa sebagai rombongan yang mendampingi, bukan sebagai massa yang sudah menyerah. Perbedaan ini berkaitan dengan pengetahuan pelukisnya: Pieneman tidak pernah ke Hindia dan menggambarkan orang Jawa dengan ciri yang lebih menyerupai orang Arab, sementara Saleh adalah orang Jawa yang mengenal pakaian dan penampilan bangsawan serta prajurit Jawa.

Perbedaan keempat adalah sudut pandang penceritaan. Pieneman melukis adegan itu dari sisi kanan, sementara Saleh melukisnya dari sisi kiri, menurut sejumlah kajian perbandingan kedua karya. Perbedaan sudut pandang yang tampak teknis ini sejalan dengan perbedaan yang lebih besar: Pieneman bercerita dari sudut pandang pihak kolonial yang menang, sementara Saleh bercerita dari sudut pandang pihak Jawa yang ditangkap. Judul kedua lukisan menegaskan perbedaan itu: Pieneman menamai karyanya Penyerahan, yang menekankan tindakan sang pangeran yang menyerah, sementara Saleh menamai karyanya Penangkapan, yang menekankan tindakan pihak kolonial yang menangkap.

Perbedaan kelima adalah soal siapa yang memesan dan untuk siapa lukisan itu dibuat. Lukisan Pieneman dipesan oleh de Kock atau keluarganya, yaitu pihak yang melakukan penangkapan. Lukisan Saleh selesai pada 1857 dan kemudian dihadiahkan kepada Raja Willem III dari Belanda. Saleh sendiri mengatakan bahwa hadiah itu merupakan tanda terima kasih karena pemerintah Belanda telah membiayai pendidikannya di Eropa selama hampir dua puluh tiga tahun. Fakta bahwa lukisan yang menampilkan Diponegoro secara menantang itu justru dihadiahkan kepada raja Belanda inilah yang membuat tafsir atas lukisan Saleh menjadi begitu diperdebatkan, sebagaimana dijelaskan di bawah ini.

Apa yang tidak dilukis: batas kedua lukisan sebagai sumber sejarah

Meskipun kedua lukisan itu sangat terkenal, keduanya memiliki batas yang sama: tidak satu pun pelukisnya menyaksikan penangkapan pada 28 Maret 1830. Pieneman melukis dari Belanda, tanpa pernah menginjakkan kaki di Hindia, dan kemungkinan besar bersandar pada cerita atau sketsa orang lain. Saleh melukis lebih dari dua dekade setelah peristiwa itu, dari ingatan kolektif, cerita keluarga, dan kunjungannya ke Magelang, bukan dari pengalaman menyaksikan langsung. Karena itu, kedua lukisan itu bukanlah foto peristiwa, melainkan tafsir atas peristiwa, dan rincian seperti jumlah orang yang hadir, susunan ruangan, atau pakaian persis setiap tokoh tidak dapat dipastikan hanya dari lukisan.

Batas itu diakui pula oleh para sejarawan. Sejarawan H. J. de Graaf, misalnya, mengkritik kepala-kepala yang tidak proporsional dalam lukisan Saleh dan mempersoalkan perbedaan antara galeri yang digambarkan Saleh dengan ruangan sebenarnya tempat penangkapan itu terjadi. Kritik semacam itu tidak mengurangi nilai lukisan sebagai karya seni, tetapi mengingatkan pembaca bahwa lukisan sejarah tidak dapat dipakai sebagai bukti tunggal tentang bagaimana sebuah ruangan tampak atau siapa saja yang berdiri di mana pada hari itu. Untuk fakta dasar peristiwa, tanggal, tempat, undangan berunding, tiga jam, dan penangkapan, sumber tertulis dan arsip tetap menjadi pegangan utama.

Batas lainnya adalah bahwa kedua lukisan hanya menampilkan satu momen: momen penangkapan di depan rumah de Kock. Keduanya tidak menampilkan perang lima tahun yang mendahului penangkapan, tidak menampilkan petani Jawa yang menanggung beban perang, dan tidak menampilkan pengasingan panjang setelahnya. Pembaca yang hanya mengenal peristiwa ini lewat lukisan akan mendapat gambaran yang tidak lengkap, seperti membaca satu adegan dari sebuah novel panjang. Karena itu, lukisan sebaiknya dibaca bersama dengan kisah perang, kisah pengasingan, dan kisah akibat perang bagi masyarakat Jawa.

Perdebatan tafsir: nasionalisme awal atau hadiah kepada raja?

Tafsir yang paling sering melekat pada lukisan Saleh adalah tafsir nasionalisme awal. Dalam tafsir ini, lukisan Saleh dipandang sebagai contoh awal nasionalisme Asia Tenggara dalam seni. John Clark, dalam bukunya tahun 1998, menulis bahwa lukisan itu menyatakan kepada Belanda: kalian melakukan ini kepada kami, tetapi kami tetap menjadi diri kami. Krauss memperluas tafsir itu dengan menyatakan bahwa penempatan de Kock di sisi kiri dan kepala-kepala besar para perwira Belanda, bagi penonton Jawa, merendahkan mereka menjadi raksasa-raksasa yang tidak berdaya, sebuah komentar pahit tentang kekuasaan kolonial Belanda yang mungkin tidak disadari oleh penonton Belanda yang tidak mengenal pertimbangan budaya Jawa itu.

Carey mendukung tafsir perlawanan itu dengan caranya sendiri. Ia menggambarkan pemberian lukisan kepada raja Belanda sebagai isyarat yang aneh dan berlapis, dan menganggap suasana pagi dalam lukisan itu menandakan bahwa kenangan tentang Diponegoro, kejeniusan dan penderitaannya, suatu hari akan menebus bangsa dari belenggu kolonialisme. Dalam pembacaan ini, hadiah kepada raja justru menjadi cara Saleh menyampaikan pesan perlawanan ke pusat kekuasaan itu sendiri, dengan bahasa visual yang hanya sepenuhnya dipahami oleh penonton Jawa.

Namun tafsir itu tidak diterima begitu saja oleh semua sejarawan. Sejarawan Indonesia Harsja Bachtiar menulis bahwa pemberian lukisan kepada Willem III justru menjadi bukti bahwa tidak ada perlawanan di sana, melainkan hubungan antara seorang abdi dalem dan rajanya, atau antara seorang seniman dan pelindungnya. Sejarawan seni Astri Wright memberikan pembacaan yang serupa, dengan menyatakan bahwa penggambaran Saleh atas akhir Perang Jawa dapat berfungsi sebagai peringatan bagi pemberontak di masa depan, dan bahkan mengusulkan kemungkinan bahwa lukisan Saleh dipesan oleh pemerintah kolonial Belanda. Protschky pun mempertanyakan adanya perlawanan dalam lukisan itu, dengan menunjuk pada lukisan-lukisan Saleh atas para Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang digambarkan sebagai penguasa yang tidak tertandingi, sehingga dengan mempersembahkan lukisan kepada raja Belanda, Saleh mengakui kekuasaan Belanda.

Perdebatan ini tidak harus diselesaikan oleh pembaca dalam satu jawaban. Justru karena kedua tafsir itu sama-sama bersandar pada fakta yang sama, yaitu lukisan yang menantang tetapi dihadiahkan kepada raja, perdebatan itu mengajarkan sesuatu yang penting: sebuah karya seni besar dapat memuat lebih dari satu pesan, dan pesan yang ditangkap penonton bergantung pada pengetahuan budaya penonton itu sendiri. Pembaca yang bijak tidak perlu memilih satu tafsir dan membuang tafsir lainnya, melainkan mencatat bahwa para ahli sendiri berbeda pendapat, dan perbedaan itu adalah bagian dari sejarah lukisan ini.

Jejak kedua lukisan hingga kini

Riwayat kedua lukisan setelah selesai dilukis juga berbeda. Lukisan Pieneman, setelah lama dimiliki keluarga de Kock, disumbangkan ke Rijksmuseum pada 1907 dan sejak itu menjadi bagian dari koleksi museum nasional Belanda. Lukisan itu sempat menjadi bagian dari pameran seni kolonial di Harderwijk antara 1 Desember 1993 dan 31 Maret 1994, dan pada 2014 tercatat dipajang di Ruang 1.17 Rijksmuseum. Dengan kata lain, lukisan versi kolonial itu tetap berada di Belanda, di museum yang memamerkannya sebagai bagian dari sejarah Belanda.

Lukisan Saleh menempuh perjalanan yang berlawanan arah. Setelah selesai pada 1857 dan dihadiahkan kepada Raja Willem III, lukisan itu sempat berada di istana di Den Haag, lalu digantung di Bronbeek, sebuah rumah bagi para veteran Tentara Kerajaan Kolonial. Pada 1978, Yayasan Oranje Nassau mengatur pengiriman karya itu kepada pemerintah Indonesia, berdasarkan ketentuan Perjanjian Kebudayaan 1969. Lukisan itu mula-mula disimpan di Museum Pusat bersama benda-benda lain dari Perang Jawa hingga awal 1980-an, dan pada 2005 tercatat disimpan di museum Istana Negara. Karena kondisinya memburuk, pada 2012 Goethe-Institut dan Yayasan Ansari Djojohadikusumo mengatur restorasi lukisan itu oleh konservator Susanne Erhards dari Kelompok Koln, yang dimulai dengan pembersihan sebelum dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, dilanjutkan dengan analisis komposisi pernis, pelapisan ulang kanvas, pembingkaian ulang, perbaikan kerusakan cat dengan cat air, dan lapisan pernis baru.

Perlu dicatat dengan jujur bahwa sejumlah katalog mencantumkan lokasi lukisan Saleh secara berbeda-beda, sebagian menyebut Galeri Nasional Indonesia dan sebagian menyebut Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta. Artikel ini karena itu tidak menetapkan satu ruangan pajang sebagai lokasi mutlak, melainkan mencatat riwayat perpindahannya yang terdokumentasi dan menyarankan pembaca yang ingin melihat lukisan itu untuk memeriksa keterangan terbaru dari lembaga yang menyimpannya. Ketidakpastian semacam ini adalah hal yang biasa dalam riwayat karya seni yang sudah berpindah tangan selama lebih dari satu setengah abad, dan mengakuinya lebih jujur daripada memaksakan satu klaim.

Kehadiran kedua lukisan dalam kebudayaan populer Indonesia juga menunjukkan betapa hidupnya perdebatan itu. Penyair Taufiq Ismail, setelah melihat lukisan Saleh pada 1995, menulis sebuah puisi pendek tentang pangeran yang ditangkap dengan khianat dan tentang betapa padat dan kayanya isyarat lukisan itu. Pada 2001, seniman Yogyakarta Rudi Winarso membuat parodi lukisan itu, yang menggambarkan Raden Saleh menunjukkan lukisannya kepada Diponegoro yang terharu, sementara keduanya ditawan oleh Pieneman, de Kock, dan Raja Willem III. Pada 2010, koreografer Sardono W. Kusumo memakai reproduksi lukisan itu dalam skala besar sebagai latar panggung opera Taking a Fresh Look at Diponegoro, dan pada 2022 lukisan itu menjadi alur utama film Mencuri Raden Saleh garapan Angga Dwimas Sasongko.

Apa yang dapat dipelajari pembaca Magelang dari dua lukisan ini

Pelajaran pertama adalah tentang cara membaca gambar sejarah. Ketika melihat lukisan Pieneman, pembaca sebaiknya bertanya: siapa yang memesan lukisan ini, dan apa yang ingin ditunjukkan oleh pemesan itu tentang dirinya sendiri. Ketika melihat lukisan Saleh, pembaca sebaiknya bertanya pertanyaan yang sama, ditambah pertanyaan tentang kepada siapa lukisan itu dihadiahkan dan mengapa. Dua pertanyaan sederhana itu sudah cukup untuk mengubah cara seseorang melihat lukisan, dari sekadar mengagumi teknik melukis menjadi memahami pesan yang dibawanya.

Pelajaran kedua adalah tentang perbedaan antara peristiwa dan ceritanya. Peristiwa penangkapan pada 28 Maret 1830 adalah satu, tetapi ceritanya ada banyak: cerita versi pemenang, cerita versi yang ditangkap, cerita versi sejarawan, dan cerita versi seniman. Lukisan Pieneman dan lukisan Saleh adalah dua cerita visual tentang peristiwa yang sama, dan keduanya benar dalam arti bahwa keduanya memang dibuat dan memang menampilkan penangkapan itu, tetapi tidak ada satu pun dari keduanya yang dapat berdiri sendiri sebagai kebenaran lengkap tentang apa yang terjadi di rumah de Kock pada hari itu.

Pelajaran ketiga berkaitan langsung dengan Magelang. Kota ini menyimpan jejak peristiwa itu di Museum Pangeran Diponegoro, dan pengunjung museum dapat memakai perbandingan kedua lukisan ini sebagai bekal sebelum atau sesudah berkunjung. Ketika berdiri di museum dan mendengar cerita tentang perundingan yang berujung penangkapan, pengunjung dapat membayangkan dua cara peristiwa itu dilukis: versi yang menampilkan penyerahan yang tertib, dan versi yang menampilkan penangkapan yang menantang. Membayangkan keduanya sekaligus membuat cerita museum terasa lebih dalam, karena pengunjung tidak hanya menerima satu versi, melainkan memahami bahwa peristiwa itu sendiri pernah diperebutkan maknanya.

Pada akhirnya, dua lukisan tentang penangkapan Diponegoro mengajarkan bahwa sejarah tidak hanya ditulis dengan kata-kata, melainkan juga dilukis dengan warna, posisi tubuh, dan pilihan sudut pandang. Pieneman melukis penyerahan, Saleh melukis penangkapan, dan perbedaan satu kata dalam judul itu sudah memuat perbedaan dunia. Bagi pembaca yang ingin memahami peristiwa Magelang 1830 secara utuh, tugasnya bukan memilih satu lukisan dan membuang lukisan lainnya, melainkan menatap keduanya berdampingan, mencatat apa yang sama dan apa yang berbeda, dan bertanya mengapa perbedaan itu ada. Untuk kisah lengkap tentang peristiwa yang dilukis kedua karya ini, baca pula Sejarah Berdirinya Kota Magelang, dan untuk uraian katalog tentang lukisan Saleh, lihat artikel tentang Penangkapan Pangeran Diponegoro.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *