Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Umum » Hangno Hartono: Dalang dan Seniman Wayang dari Magelang
Umum

Hangno Hartono: Dalang dan Seniman Wayang dari Magelang

Dari Muntilan ke panggung internasional, Hangno Hartono memakai wayang sebagai media pendidikan lingkungan bagi anak-anak.

Oleh Intan Larasati Senin, 26 Oktober 2026 · 01.09 WIB
Hangno Hartono dalang wayang Magelang
Ilustrasi dalang memainkan wayang kulit warna-warni dari bahan daur ulang di balik layar dengan anak-anak menonton dan gamelan di latar (Ilustrasi: KabarTidar)

Hangno Hartono adalah dalang dan seniman wayang dari Magelang yang karyanya menunjukkan bahwa wayang bukan sekadar warisan yang dipajang, melainkan alat untuk berbicara tentang persoalan hari ini. Ia lahir di Magelang pada 19 Agustus 1963 dan dibesarkan di Muntilan, tempat ia pertama kali mengenal wayang. Artikel ini adalah profil karya: ia membahas perjalanan belajarnya, keterampilan tatah sunggingnya, komunitas Wayang Merdeka yang ia dirikan bersama rekan-rekannya, dan pertunjukan serta lokakaryanya, tanpa mengulas kehidupan pribadinya. Batasan itu sesuai dengan karakter karyanya sendiri: Hangno Hartono dikenal karena apa yang ia buat dan ajarkan, bukan karena kisah di luar panggung dan bengkelnya.

Jawaban singkatnya begini: Hangno Hartono adalah seniman wayang kulit yang menguasai keterampilan membuat wayang, yaitu tatah sungging atau seni mengukir dan mewarnai wayang kulit, dan yang menggunakan wayang sebagai media pendidikan masyarakat, termasuk pendidikan tentang pengelolaan sampah dan lingkungan. Ia adalah salah satu pendiri komunitas Wayang Merdeka, yang dibentuk pada 2022 bersama Miko Jatmiko dan sejumlah seniman, untuk menyelenggarakan lokakarya pembuatan wayang dari bahan daur ulang bagi anak-anak dan masyarakat umum. Sejak 2022, Wayang Merdeka secara rutin mengadakan lokakarya pembuatan wayang dari sampah plastik dan bahan organik, bekerja sama dengan komunitas dan sekolah, dan karyanya telah ditampilkan dalam ajang internasional, termasuk Light to Night Singapore 2024 melalui karya Temple of Love. Bagi Magelang, Hangno Hartono adalah contoh seniman yang kaitan Magelangnya tidak berhenti pada tempat lahir, melainkan tertanam pada tempat ia dibesarkan dan pertama kali mengenal wayang.

Nama Hangno Hartono terverifikasi dalam artikel KabarTidar tentang tokoh nasional kelahiran Magelang, yang menyebutnya sebagai seniman wayang kontemporer yang lahir di Magelang dan dibesarkan di Muntilan. Artikel tokoh itu juga mencatat, menurut profil Green Network Asia, bahwa ketertarikannya pada wayang bermula sejak kanak-kanak di Muntilan, tempat ia menyaksikan pertunjukan wayang yang sering digelar di kelenteng tempat warga Tionghoa beribadah. Pengalaman itu penting, karena ia menunjukkan bahwa wayang di Muntilan bukan hanya milik satu kelompok, melainkan tontonan bersama yang dinikmati lintas komunitas. Kisah masa kecil itu adalah titik awal yang layak diceritakan, karena ia menjelaskan mengapa wayang bagi Hangno Hartono selalu berkaitan dengan kebersamaan dan pendidikan masyarakat, bukan hanya dengan keahlian teknis semata.

Untuk memahami Hangno Hartono, pembaca perlu memahami apa itu wayang kulit dan apa itu dalang. Wayang kulit adalah pertunjukan bayangan dengan boneka pipih dari kulit yang diukir, dilubangi, dan diwarnai, kemudian dimainkan di balik layar dengan iringan gamelan. Dalang adalah seniman yang memainkan wayang itu: ia menggerakkan boneka, menarasikan cerita, menyanyikan tembang, dan mengubah suaranya untuk puluhan tokoh, sambil memberi isyarat kepada musisi gamelan. Dalang, dengan demikian, bukan sekadar pemain boneka, melainkan sutradara, narator, penyanyi, dan pemain sekaligus. Wayang kulit sendiri telah ditetapkan UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Takbenda Manusia pada 7 November 2003, sebagaimana dicatat dalam sumber-sumber tentang wayang yang dikutip dalam riset artikel ini. Penetapan itu menegaskan bahwa wayang adalah warisan dunia, dan seniman seperti Hangno Hartono adalah penjaga sekaligus pembaru warisan itu.

Hangno Hartono: belajar tatah sungging dan memahami wayang dari Muntilan

Perjalanan belajar Hangno Hartono dimulai dari menonton, kemudian berlanjut ke membuat. Menurut artikel tokoh KabarTidar, setelah mengenal wayang sejak kanak-kanak di Muntilan, ia belajar tatah sungging, yaitu seni mengukir dan mewarnai wayang kulit, di bawah bimbingan maestro Ki Sagio. Tatah sungging adalah keterampilan yang memerlukan kesabaran luar biasa: kulit harus ditatah atau dilubangi dengan pola yang rumit, kemudian disungging atau diwarnai dengan warna-warna yang memiliki makna. Setiap tokoh wayang memiliki pola, warna, dan bentuk yang berbeda, yang menunjukkan watak, status, dan perannya dalam cerita. Seniman tatah sungging yang baik tidak hanya terampil secara teknis, melainkan juga memahami makna di balik setiap pola dan warna, sehingga wayang yang ia buat bukan sekadar benda yang indah, melainkan tokoh yang siap dimainkan.

Hangno Hartono juga menempuh pendidikan tinggi di bidang filsafat di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan bidang kriya kulit di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, sebagaimana dicatat dalam artikel tokoh KabarTidar. Kombinasi filsafat dan kriya itu tampak dalam karyanya: ia tidak hanya menampilkan keterampilan teknis mengukir kulit, melainkan juga gagasan tentang lingkungan dan masyarakat. Filsafat memberinya kerangka untuk memikirkan apa makna wayang bagi manusia dan lingkungan, sedangkan kriya memberinya keterampilan untuk mewujudkan gagasan itu dalam benda yang dapat dilihat, disentuh, dan dimainkan. Kombinasi itu adalah ciri seniman kontemporer yang tidak puas hanya dengan mengulang tradisi, melainkan ingin tradisi itu berbicara tentang persoalan hari ini.

Wayang, dalam pemahaman Hangno Hartono sebagaimana dikutip dalam profil Green Network Asia, sarat makna: narasi cerita, ikonografi, dan fisik wayang itu sendiri memiliki filosofi. Ketika seseorang memasuki dunia wayang, ia memasuki kedalaman itu, dan kedalaman itu sering dilupakan oleh banyak orang. Pernyataan itu penting, karena ia menjelaskan mengapa Hangno Hartono tidak memperlakukan wayang sebagai sekadar hiasan atau suvenir. Baginya, wayang adalah bahasa: setiap tokoh, setiap warna, dan setiap gerakan memiliki arti, dan arti itu dapat dipakai untuk mengajarkan nilai-nilai moral, kepedulian lingkungan, dan kebersamaan. Seniman yang memahami wayang sebagai bahasa akan lebih mudah mengajak anak-anak dan masyarakat umum untuk memainkannya, karena ia tidak mengharuskan mereka menghafal cerita kuno terlebih dahulu, melainkan mengajak mereka menciptakan tokoh dan cerita mereka sendiri.

Muntilan sebagai tempat tumbuh Hangno Hartono juga layak dipahami dalam konteksnya. Muntilan adalah kawasan di Kabupaten Magelang yang dikenal sebagai pusat perdagangan dan seni, berada di jalur menuju Borobudur, dan memiliki tradisi pertunjukan yang hidup. Artikel KabarTidar tentang Pasar Muntilan menggambarkan Muntilan sebagai simpul perdagangan kawasan, dan gambaran itu melengkapi gambaran tentang Muntilan sebagai tempat seni: kota yang ramai oleh perdagangan juga ramai oleh pertunjukan, karena keramaian itu sendiri menciptakan penonton. Hangno Hartono yang dibesarkan di Muntilan tumbuh dalam keramaian semacam itu, dan keramaian itu membentuk pemahamannya bahwa seni pertunjukan bukan kegiatan yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.

Wayang Merdeka: wayang dari bahan daur ulang untuk anak-anak

Karya Hangno Hartono yang paling dikenal dalam beberapa tahun terakhir adalah Wayang Merdeka, komunitas yang ia dirikan bersama Miko Jatmiko dan sejumlah seniman pada 2022. Menurut profil Green Network Asia dan dokumen National Gallery Singapore yang dikutip dalam riset artikel ini, Wayang Merdeka dibentuk karena keprihatinan terhadap pengaruh teknologi pada ekologi anak dan terhadap prasangka terhadap seni tradisional wayang kulit. Komunitas itu menyelenggarakan lokakarya pembuatan wayang dengan bahan daur ulang, untuk mendidik generasi muda tentang wayang kulit dan tentang daur ulang dengan cara yang menyenangkan dan kreatif. Dalam waktu satu tahun sejak dibentuk, Wayang Merdeka telah menyelenggarakan lebih dari enam lokakarya dan bekerja sama dengan komunitas seperti Urban Farming dan Komunitas UFO Jogja di Yogyakarta.

Konsep lokakarya Wayang Merdeka sengaja membebaskan anak-anak dari bentuk dan cerita wayang yang kaku. Menurut profil Green Network Asia, sejak 2022, Wayang Merdeka secara rutin mengadakan lokakarya pembuatan wayang dari sampah plastik dan bahan organik, bekerja sama dengan komunitas lain seperti Komunitas Urban Farming Kali Code, Sekolah Dasar Tumbuh, dan Kinder Station Primary. Dengan mengesampingkan bentuk dan cerita tradisional yang kaku seperti Ramayana dan Mahabharata, Hangno Hartono memberi anak-anak kebebasan untuk menciptakan wayang sesuai keinginan mereka. Kebebasan itu adalah kunci pendidikan: anak-anak yang diberi kebebasan untuk menciptakan tokohnya sendiri akan lebih memahami wayang daripada anak-anak yang hanya disuruh menghafal nama-nama tokoh. Mereka belajar bahwa wayang adalah medium untuk bercerita, bukan sekadar daftar tokoh yang harus dihafal.

Pendekatan Wayang Merdeka juga menghubungkan dua persoalan yang sering dibicarakan secara terpisah: pelestarian seni tradisional dan pengelolaan sampah. Dengan mengajak anak-anak mengubah sampah rumah tangga menjadi wayang, Hangno Hartono mengajarkan bahwa sampah bukan sekadar barang yang dibuang, melainkan bahan yang dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai. Anak-anak yang membuat wayang dari sampah plastik belajar tentang daur ulang bukan dari ceramah, melainkan dari tangan mereka sendiri: mereka memotong, menempel, mewarnai, dan kemudian memainkan wayang yang mereka buat. Pembelajaran semacam itu lebih melekat daripada pembelajaran dari buku, karena ia melibatkan tubuh, imajinasi, dan kebanggaan atas karya sendiri.

Bagi Hangno Hartono, sebagaimana dikutip dalam profil Green Network Asia, melestarikan seni wayang juga berarti merawat manusia dan lingkungan tempat manusia dan makhluk lain hidup. Pernyataan itu menghubungkan seni dengan ekologi secara eksplisit: wayang yang dibuat dari bahan daur ulang bukan sekadar wayang yang murah, melainkan wayang yang membawa pesan tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Pesan itu relevan bagi Magelang, yang memiliki sungai-sungai besar dan kawasan pertanian yang memerlukan kepedulian lingkungan dari warganya. Seniman yang mengajarkan anak-anak untuk mengubah sampah menjadi wayang sedang mengajarkan kepedulian lingkungan dengan cara yang paling mudah dipahami anak-anak: melalui bermain dan bercerita.

Temple of Love dan wayang di panggung internasional

Karya Wayang Merdeka tidak hanya berhenti pada lokakarya di Yogyakarta dan sekitarnya. Pada Light to Night Singapore 2024, Wayang Merdeka bersama seniman Arahmaiani dan seniman multimedia Milosh Luczynski menampilkan karya Temple of Love, yang diproyeksikan pada fasad National Gallery Singapore pada 19 Januari hingga 8 Februari 2024. Karya itu mengisahkan monster yang muncul di tengah malam, menghancurkan bangunan dan alam, hingga kemudian Ibu Alam muncul dan menyembuhkan bumi dengan cinta dan perawatannya, sehingga dunia menjadi segar dan subur kembali. Kisah itu, sebagaimana dicatat dalam dokumen National Gallery Singapore yang dikutip dalam riset artikel ini, adalah kisah tentang kehancuran dan pemulihan, yang disampaikan melalui bahasa wayang yang dipadukan dengan proyeksi cahaya.

Penampilan di Singapura itu penting karena dua alasan. Pertama, ia menunjukkan bahwa wayang dari bahan daur ulang, yang dibuat dalam lokakarya bersama anak-anak, dapat berkembang menjadi karya seni yang ditampilkan di panggung internasional, tanpa kehilangan pesan lingkungannya. Kedua, ia menunjukkan bahwa Hangno Hartono dan Wayang Merdeka bekerja dalam jaringan seniman yang luas, termasuk seniman perempuan Arahmaiani yang sejak 1990-an dikenal karena karya-karya yang mengangkat persoalan sosial dan perempuan, serta seniman multimedia internasional. Jaringan semacam itu memperluas jangkauan wayang: dari lokakarya di sekolah dan komunitas, menuju fasad galeri nasional di negara lain, dengan penonton yang mungkin belum pernah menonton wayang kulit sebelumnya. Wayang yang dapat berbicara kepada penonton internasional tanpa kehilangan akarnya adalah wayang yang hidup, bukan wayang yang beku sebagai pajangan museum.

Anggota Wayang Merdeka, sebagaimana dicatat dalam dokumen National Gallery Singapore, meliputi Hangno Hartono, Lejar Daniarta Hukubun, Miko Jatmiko, Adik Kristiantoro, dan Dwe Rahmanto, dengan Arahmaiani sebagai konsultan. Penyebutan anggota itu penting, karena ia menunjukkan bahwa Wayang Merdeka adalah kerja kolektif, bukan kerja satu orang. Hangno Hartono adalah salah satu pendiri dan penggeraknya, tetapi karya-karya Wayang Merdeka adalah hasil dari kolaborasi banyak seniman dengan keterampilan yang berbeda. Pengakuan atas kerja kolektif itu sesuai dengan semangat wayang itu sendiri: pertunjukan wayang selalu merupakan kerja kolektif antara dalang, musisi gamelan, pembuat wayang, dan penonton, dan Wayang Merdeka memperluas kolektif itu hingga mencakup anak-anak, komunitas lingkungan, dan seniman dari bidang lain.

Selain pertunjukan dan lokakarya, Hangno Hartono juga aktif dalam berbagai acara dan komunitas yang memperkenalkan wayang kepada masyarakat umum, sebagaimana dicatat dalam profil Green Network Asia. Kegiatan-kegiatan itu mencakup pengajaran wayang kepada anak-anak sekolah, kerja sama dengan komunitas pertanian kota, dan partisipasi dalam acara-acara seni yang mempertemukan wayang dengan persoalan lingkungan. Pola kegiatan itu menunjukkan bahwa bagi Hangno Hartono, wayang bukan kegiatan yang hanya dilakukan di panggung pada malam hari, melainkan kegiatan yang dapat dilakukan di sekolah pada siang hari, di komunitas pada akhir pekan, dan di galeri pada festival seni. Wayang yang hadir di berbagai tempat dan waktu adalah wayang yang tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari, bukan wayang yang hanya diingat pada acara-acara tertentu.

Apa yang diajarkan karya Hangno Hartono kepada Magelang

Bagi Magelang, karya Hangno Hartono mengajarkan tiga hal. Pertama, tradisi dapat diperbarui tanpa dikhianati. Wayang Merdeka tidak meninggalkan wayang kulit, melainkan memperluas bahan dan ceritanya: wayang tetap wayang, tetapi bahannya dapat berasal dari sampah plastik, dan ceritanya dapat diciptakan oleh anak-anak sesuai imajinasi mereka. Pembaruan semacam itu sering ditakuti sebagai perusakan tradisi, tetapi dalam kasus Wayang Merdeka, pembaruan itu justru membuat tradisi lebih mudah diakses oleh generasi muda yang sebelumnya merasa wayang adalah seni yang jauh dan sulit. Tradisi yang dapat diakses akan bertahan, sedangkan tradisi yang hanya dijaga dalam bentuk yang kaku berisiko ditinggalkan.

Kedua, seni dapat menjadi media pendidikan lingkungan yang efektif. Anak-anak yang belajar tentang sampah melalui ceramah mungkin akan lupa dalam seminggu, tetapi anak-anak yang mengubah sampah menjadi wayang dan memainkannya akan mengingat pelajaran itu lebih lama, karena mereka mengalaminya dengan tangan dan imajinasi mereka. Magelang, dengan sungai-sungai dan kawasan pertaniannya, memerlukan pendidikan lingkungan semacam itu, yang tidak hanya memberi pengetahuan, melainkan juga memberi pengalaman. Seniman seperti Hangno Hartono menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus selalu dilakukan di ruang kelas dengan buku, melainkan dapat dilakukan di bengkel, di sekolah, dan di komunitas, dengan wayang sebagai medianya.

Ketiga, seniman dari daerah dapat bekerja di tingkat nasional dan internasional tanpa meninggalkan akarnya. Hangno Hartono dibesarkan di Muntilan, belajar di Yogyakarta, dan karyanya ditampilkan di Singapura, tetapi akar Muntilannya tetap menjadi bagian dari kisahnya: tempat ia pertama kali menonton wayang di kelenteng, tempat ia belajar bahwa wayang adalah tontonan bersama lintas komunitas. Kisah itu memberi gambaran yang realistis bagi seniman muda Magelang: mereka tidak harus meninggalkan Magelang untuk menjadi seniman, dan mereka tidak harus melupakan Magelang ketika karyanya dikenal di tempat lain. Akar dan jangkauan dapat berjalan bersama, sebagaimana wayang yang berakar pada cerita lama tetapi dapat menceritakan persoalan baru.

Pada akhirnya, profil karya Hangno Hartono adalah profil tentang wayang sebagai bahasa yang hidup. Bahasa itu dapat dipakai untuk menceritakan Ramayana dan Mahabharata, tetapi juga dapat dipakai untuk menceritakan sampah plastik, lingkungan, dan masa depan anak-anak. Dalang yang memahami wayang sebagai bahasa akan selalu menemukan cerita baru untuk diceritakan, dan seniman yang mengajarkan bahasa itu kepada anak-anak sedang memastikan bahwa bahasa itu tidak punah. Magelang, sebagai tempat Hangno Hartono dibesarkan dan pertama kali mengenal wayang, memiliki alasan yang sah untuk bangga, bukan karena ia lahir di sini semata, melainkan karena karya yang tumbuh dari sini kini diajarkan kepada anak-anak, ditampilkan di panggung internasional, dan dipakai untuk merawat lingkungan. Itulah warisan karya Hangno Hartono yang paling nyata: wayang yang tidak hanya ditonton, melainkan dibuat, dimainkan, dan dipakai untuk menjaga bumi tempat wayang itu dimainkan.

Artikel KabarTidar tentang festival seni budaya Magelang menunjukkan bahwa Magelang memiliki ruang-ruang untuk seni pertunjukan, dan karya Hangno Hartono menunjukkan salah satu arah yang dapat ditempuh ruang-ruang itu: seni tradisional yang dibuka bagi anak-anak, dipadukan dengan kepedulian lingkungan, dan ditampilkan dengan bangga di mana pun, dari lokakarya sekolah hingga fasad galeri nasional.

Lokakarya wayang sebagai sekolah kecil bagi anak Magelang

Gagasan lokakarya Wayang Merdeka dapat dibayangkan sebagai sekolah kecil yang sangat cocok bagi anak-anak Magelang, sekalipun lokakarya-lokakarya yang dikutip dalam artikel ini sebagian besar digelar di Yogyakarta dan sekitarnya. Di sekolah kecil itu, anak-anak tidak duduk mendengarkan ceramah tentang wayang, melainkan langsung membuat wayang dari bahan yang ada di sekitar mereka, mewarnainya sesuai imajinasi mereka, dan memainkannya dalam cerita yang mereka ciptakan sendiri. Proses itu mengajarkan tiga hal sekaligus: keterampilan tangan melalui tatah dan sungging yang disederhanakan, pemahaman tentang daur ulang melalui bahan yang dipakai, dan keberanian bercerita melalui tokoh yang mereka buat. Tiga pelajaran itu tidak dapat dipisahkan, karena wayang yang dibuat anak adalah sekaligus karya seni, bukti daur ulang, dan tokoh cerita.

Bagi sekolah dan komunitas di Magelang, gagasan itu dapat diadaptasi tanpa harus meniru Wayang Merdeka secara persis. Sekolah dapat mengajak seniman wayang setempat untuk mengadakan lokakarya sederhana, komunitas dapat mengadakan kegiatan membuat wayang dari bahan daur ulang pada acara-acara lingkungan, dan festival seni dapat memberi ruang bagi anak-anak untuk menampilkan wayang ciptaan mereka. Adaptasi semacam itu tidak memerlukan biaya besar, tetapi memerlukan kesediaan untuk memperlakukan anak-anak sebagai pencipta, bukan hanya sebagai penonton. Anak-anak yang diberi kesempatan untuk menciptakan wayangnya sendiri akan lebih menghargai wayang daripada anak-anak yang hanya disuruh menonton pertunjukan wayang semalam suntuk tanpa pemahaman.

Pada akhirnya, karya Hangno Hartono mengingatkan Magelang bahwa seni tradisional tidak harus dipilih antara dilestarikan secara kaku atau ditinggalkan sama sekali. Ada jalan ketiga, yang ditempuh Wayang Merdeka: tradisi dibuka, bahannya diperluas, ceritanya dibebaskan, dan anak-anak diajak masuk ke dalamnya sebagai pencipta. Jalan ketiga itu memerlukan seniman yang memahami tradisi secara mendalam, karena hanya seniman yang memahami tradisi yang dapat membukanya tanpa merusaknya. Hangno Hartono, dengan latar belajar tatah sungging di bawah maestro dan pendidikan filsafat serta kriya, adalah seniman semacam itu, dan karyanya adalah bukti bahwa tradisi yang dibuka dengan pengetahuan justru menjadi lebih hidup, bukan lebih rapuh.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *