Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Festival Lima Gunung: Panggung Seniman Petani Lereng
Wisata

Festival Lima Gunung: Panggung Seniman Petani Lereng

Bukan sekadar satu entri kalender festival: Festival Lima Gunung adalah perayaan swadaya petani-seniman lereng Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.

Oleh Intan Larasati Minggu, 25 Oktober 2026 · 23.39 WIB
Festival Lima Gunung
Ilustrasi panggung terbuka di dusun lereng dengan penari dan gamelan di hadapan warga pada malam hari (Ilustrasi: KabarTidar)

Festival Lima Gunung adalah festival yang paling sering disalahpahami di Magelang, karena ia sering disebut sekilas dalam daftar festival, tetapi jarang dijelaskan secara mendalam. Dalam artikel kalender festival seni dan budaya KabarTidar, Festival Lima Gunung hanya muncul sebagai satu entri di antara banyak acara. Artikel ini melakukan hal yang berbeda: membahas Festival Lima Gunung secara mendalam, sebagai festival yang lahir dari komunitas petani-seniman di lereng lima gunung, yang diselenggarakan secara mandiri tanpa sponsor, dan yang berpindah dari satu desa ke desa lain di lereng gunung-gunung itu. Memahami festival ini berarti memahami komunitas di baliknya, bukan hanya daftar pertunjukannya.

Fakta-fakta dasar festival ini terverifikasi dari berbagai sumber, termasuk ensiklopedia dan jurnal akademik tentang komunitasnya. Festival Lima Gunung pertama kali diselenggarakan pada tahun 2002 di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Festival itu digagas oleh Komunitas Lima Gunung, sebuah komunitas petani-seniman yang tinggal di lereng lima gunung yang mengelilingi Magelang, yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Sumbing, dan Pegunungan Menoreh. Komunitas itu sendiri didirikan pada tahun 1997 oleh budayawan Sutanto Mendut. Sejak awal, festival ini dirancang sebagai perayaan akar rumput untuk merayakan kesenian lokal dan melestarikan tradisi masyarakat pertanian di kawasan itu, bukan sebagai acara komersial yang dirancang untuk menarik sponsor besar.

Prinsip yang paling membedakan Festival Lima Gunung dari banyak festival lainnya adalah kemandiriannya. Menurut berbagai sumber, festival ini beroperasi dengan prinsip swadaya, tanpa menggunakan dana sponsor dari pemerintah maupun pihak swasta. Ketua festival, Sutanto Mendut, dalam festival ke-12 pada tahun 2013, dikutip menyatakan bahwa komunitasnya berusaha mandiri semampunya, tanpa mengandalkan menteri, gubernur, atau bupati. Prinsip itu kemudian diperkuat pada tahun 2010, mulai festival ke-9, ketika komunitas mengikrarkan sumpah tanah sebagai komitmen untuk menyelenggarakan festival tanpa sponsor dan tanpa proposal kepada perusahaan atau pemerintah. Sumpah itu bukan sekadar slogan, melainkan komitmen yang memengaruhi cara festival diselenggarakan: dari mana dananya berasal, siapa yang bekerja, dan bagaimana keputusan diambil.

Artikel ini tidak mencantumkan tanggal festival untuk tahun berjalan, harga tiket, atau jadwal pertunjukan per hari yang belum terverifikasi dari pengumuman resmi komunitas atau penyelenggara. Festival Lima Gunung diselenggarakan secara bergiliran di desa-desa lereng, dan tanggal serta desa penyelenggaranya berubah dari tahun ke tahun. Mencantumkan tanggal lama seolah-olah masih berlaku adalah kesalahan yang sering terjadi dalam panduan festival, dan artikel ini menghindarinya dengan mengarahkan pembaca pada pengumuman resmi komunitas menjelang pelaksanaan, sambil memberi gambaran mendalam tentang sejarah, komunitas, dan bentuk pertunjukannya yang relatif stabil dari tahun ke tahun.

Festival Lima Gunung: panggung seniman petani lereng

Ungkapan petani-seniman adalah kunci untuk memahami Festival Lima Gunung. Anggota Komunitas Lima Gunung sebagian besar adalah petani yang juga seniman, atau seniman yang juga bertani. Mereka menanam, memanen, dan merawat lahan pada hari-hari biasa, dan berlatih kesenian, membuat karya, dan mementaskan pertunjukan pada waktu-waktu tertentu. Identitas ganda ini bukan sekadar latar belakang, melainkan inti dari festival: kesenian yang dipentaskan di Festival Lima Gunung adalah kesenian yang lahir dari kehidupan pertanian, yang menceritakan tanah, musim, panen, dan hubungan manusia dengan gunung dan lembah tempat mereka tinggal.

Dalam jurnal akademik tentang Komunitas Lima Gunung, digambarkan bahwa di lereng-lereng gunung itu terdapat berpuluh-puluh kelompok kesenian, dan hampir setiap desa memiliki kelompok kesenian, bahkan dalam satu desa bisa terdapat beberapa kelompok. Komunitas Lima Gunung berbeda dari kelompok kesenian lain karena anggotanya berasal dari lima gunung yang berbeda, dan karena mereka menghidupi kesenian dengan upacara adat dusun serta perayaan tahunan bernama Festival Lima Gunung. Bagi petani yang tergabung dalam komunitas itu, festival adalah perayaan kegembiraan bersama, tempat mereka menemukan kebanggaan dan eksistensi diri melalui kesenian, sekaligus jembatan untuk berinteraksi dengan berbagai kalangan di luar komunitasnya, dari tokoh masyarakat hingga seniman profesional.

Model petani-seniman ini juga memengaruhi bentuk karya yang dipentaskan. Karya-karya di Festival Lima Gunung umumnya tidak dibuat di studio kota yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan dibuat di dusun, dengan bahan-bahan lokal, dengan melibatkan warga dusun, dan dengan tema-tema yang dekat dengan kehidupan pertanian. Pertunjukan bisa berupa tari, teater, musik, instalasi, atau bentuk-bentuk campuran yang sulit dikategorikan dalam satu genre. Keberagaman bentuk itu adalah cerminan dari keberagaman kelompok kesenian yang tergabung dalam komunitas, yang masing-masing membawa tradisi dusunnya sendiri ke panggung bersama.

Bagi penonton, model ini memberi pengalaman yang berbeda dari festival seni kota. Penonton Festival Lima Gunung tidak hanya menonton pertunjukan di gedung yang tertutup, melainkan hadir di dusun, berjalan di jalan dusun, melihat rumah-rumah warga yang menjadi bagian dari panggung, dan merasakan suasana desa yang menjadi tuan rumah. Pengalaman itu menuntut sikap yang berbeda dari menonton di gedung: penonton adalah tamu di dusun, bukan pelanggan di gedung pertunjukan, dan perilaku yang sopan, seperti menjaga kebersihan, menghormati warga, dan tidak mengganggu aktivitas desa, adalah bagian dari pengalaman itu sendiri.

Sejarah Festival Lima Gunung dari 1997 hingga 2002

Sejarah Festival Lima Gunung dimulai sebelum festival itu sendiri ada, yaitu dengan berdirinya Komunitas Lima Gunung pada tahun 1997. Komunitas itu didirikan oleh Sutanto Mendut, seorang budayawan yang tinggal di kawasan Magelang, dengan gagasan untuk menghubungkan kelompok-kelompok kesenian petani di lereng lima gunung yang mengelilingi Magelang. Gagasan itu lahir dari kesadaran bahwa kelompok-kelompok itu, meskipun masing-masing kuat di dusunnya, akan lebih kuat bila saling terhubung, saling mengunjungi, dan saling belajar. Komunitas itu karena itu bukan sekadar organisasi formal, melainkan jaringan yang menghubungkan dusun-dusun yang terpisah oleh gunung dan lembah.

Lima tahun setelah komunitas itu berdiri, pada tahun 2002, festival pertama diselenggarakan di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis. Pemilihan Warangan sebagai tempat pertama bukan kebetulan: Warangan adalah dusun di lereng yang menjadi bagian dari jaringan komunitas, dan penyelenggaraan festival di sana menunjukkan bahwa festival ini sejak awal adalah festival dusun, bukan festival kota yang dipindahkan ke dusun. Dusun Warangan kemudian menjadi tuan rumah festival pada beberapa kesempatan berikutnya, termasuk pada tahun 2003, 2014, dan menurut sumber ensiklopedia, pada tahun 2026, yang menunjukkan bahwa dusun pertama itu tetap menjadi bagian penting dari sejarah festival, meskipun festivalnya berpindah-pindah.

Pada tahun-tahun awal, festival ini masih relatif kecil, dengan peserta yang sebagian besar berasal dari komunitas itu sendiri dan dari dusun-dusun sekitarnya. Namun, dari tahun ke tahun, festival ini dikenal lebih luas, melalui liputan media, kunjungan seniman dari luar Magelang, dan jaringan yang dibangun oleh komunitasnya. Pengenalan yang lebih luas itu membawa tantangan tersendiri: bagaimana menjaga kemandirian dan karakter dusun festival, sementara semakin banyak pihak yang ingin terlibat, mendukung, atau bahkan mensponsori. Jawaban komunitas terhadap tantangan itu adalah sumpah tanah pada tahun 2010, yang menegaskan komitmen untuk tetap mandiri.

Sumpah tanah itu perlu dipahami dalam konteksnya. Dalam tradisi Jawa, sumpah adalah ikrar yang serius, yang mengikat orang yang mengucapkannya secara moral dan spiritual, bukan sekadar pernyataan administratif. Sumpah tanah yang diikrarkan oleh Komunitas Lima Gunung pada festival ke-9 adalah ikrar untuk menyelenggarakan festival tanpa sponsor dan tanpa proposal kepada perusahaan atau pemerintah, dengan mengandalkan swadaya komunitas dan dukungan warga dusun tuan rumah. Ikrar itu membuat festival ini unik di Indonesia, di mana banyak festival budaya bergantung pada sponsor atau anggaran pemerintah, dan juga membuat festival ini rentan: bila swadaya komunitas menurun, festival dapat menjadi lebih sederhana, tetapi kesederhanaan itu justru dianggap sebagai bagian dari kejujuran festival, bukan sebagai kegagalan.

Festival yang berpindah desa: sistem bergiliran

Salah satu ciri paling khas dari Festival Lima Gunung adalah sistem bergilirannya. Menurut berbagai sumber, festival ini diselenggarakan secara bergiliran di antara tujuh desa di lereng lima gunung. Artinya, setiap tahun, desa tuan rumahnya berbeda, dan suasana festivalnya pun berbeda, tergantung pada desa yang menjadi tuan rumah, tradisi dusun itu, dan kelompok kesenian yang tinggal di sana. Sistem bergiliran ini memiliki beberapa konsekuensi penting yang perlu dipahami oleh penonton.

Konsekuensi pertama adalah bahwa tidak ada satu lokasi tetap Festival Lima Gunung yang dapat dikunjungi setiap tahun. Penonton yang ingin menghadiri festival harus memeriksa desa tuan rumah pada tahun itu, bukan mengasumsikan bahwa festival selalu diadakan di tempat yang sama dengan tahun sebelumnya. Konsekuensi kedua adalah bahwa infrastruktur festival selalu bersifat sementara dan berbasis dusun: panggung, tempat duduk penonton, dan fasilitas lainnya dibangun dan disiapkan oleh warga dusun tuan rumah bersama komunitas, dengan bahan dan cara yang tersedia di dusun itu. Kesederhanaan infrastruktur itu adalah bagian dari karakter festival, bukan kekurangan yang harus diperbaiki dengan gedung permanen.

Konsekuensi ketiga adalah pembagian manfaat dan beban yang lebih merata. Bila festival selalu diadakan di satu tempat, hanya tempat itu yang mendapatkan manfaat ekonomi dan perhatian, sementara desa-desa lain hanya menjadi penonton. Dengan sistem bergiliran, setiap desa tuan rumah mendapatkan kesempatan untuk menjadi pusat perhatian, menerima kunjungan, dan menampilkan keseniannya, sekaligus menanggung beban menjadi tuan rumah, seperti menyiapkan tempat, melayani tamu, dan mengatur lalu lintas dusun. Pembagian seperti itu lebih adil, dan juga memperkuat jaringan antar dusun, karena dusun yang pernah menjadi tuan rumah kemudian membantu dusun lain saat gilirannya tiba.

Konsekuensi keempat adalah bahwa setiap edisi festival memiliki tema dan suasana yang berbeda, yang sering kali merujuk pada isu-isu yang dihadapi komunitas pada tahun itu, seperti pertanian, tanah, air, atau kehidupan dusun. Tema-tema itu bukan tema yang dipilih oleh panitia pemasaran, melainkan tema yang muncul dari diskusi komunitas dan dari pengalaman warga lereng. Penonton yang menghadiri beberapa edisi festival pada tahun yang berbeda akan menyadari perbedaan itu, dan akan memahami bahwa Festival Lima Gunung bukan acara yang diulang dengan format yang sama setiap tahun, melainkan perayaan yang terus berubah mengikuti kehidupan komunitasnya.

Apa yang dipentaskan di Festival Lima Gunung

Pertunjukan di Festival Lima Gunung sangat beragam, dan keragaman itu adalah cerminan dari keragaman kelompok kesenian yang tergabung dalam komunitas. Bentuk-bentuk yang umum dipentaskan meliputi tari tradisional dan tari kreasi baru, teater rakyat, musik gamelan dan musik kontemporer yang berbasis tradisi, serta pertunjukan-pertunjukan yang menggabungkan beberapa bentuk sekaligus. Selain pertunjukan panggung, festival ini juga umumnya diisi dengan pameran, diskusi, dan kegiatan komunitas, seperti kerja bakti, makan bersama, dan upacara adat, yang menunjukkan bahwa festival ini bukan hanya soal panggung, melainkan juga soal kehidupan dusun secara keseluruhan.

Salah satu bentuk pertunjukan yang sering dikaitkan dengan Festival Lima Gunung adalah tari lengger, yang dalam liputan tentang festival ke-19 pada tahun 2020 disebut sebagai pembuka festival, dengan gamelan yang terdiri atas gong, bonang, dan saron. Lengger adalah tari tradisional yang hidup di banyak daerah Jawa Tengah, dan kehadirannya di Festival Lima Gunung menunjukkan hubungan festival dengan tradisi dusun yang lebih luas. Namun, lengger hanyalah satu dari banyak bentuk yang dipentaskan, dan setiap edisi festival menampilkan kombinasi bentuk yang berbeda, tergantung pada kelompok yang tampil dan tema tahun itu.

Bentuk lain yang penting adalah teater dan pertunjukan yang dibuat khusus untuk festival, yang sering kali mengangkat tema-tema pertanian, tanah, dan kehidupan lereng. Pertunjukan-pertunjukan seperti itu bisa bersifat serius, lucu, atau campuran keduanya, dan sering kali melibatkan warga dusun sebagai pemain, bukan hanya seniman profesional. Keterlibatan warga sebagai pemain adalah ciri khas festival ini: panggung festival bukan panggung yang memisahkan pemain dan penonton secara tegas, melainkan panggung yang menjadi bagian dari kehidupan dusun, di mana batas antara pemain, warga, dan penonton sering kali kabur.

Selain pertunjukan, Festival Lima Gunung juga dikenal karena pemberian penghargaan, yang disebut sebagai Lima Gunung Award dalam berbagai sumber. Penghargaan itu diberikan kepada pihak-pihak yang dianggap berkontribusi pada pelestarian budaya dan kehidupan dusun, dan menjadi bagian dari perayaan yang menghargai bukan hanya seniman di atas panggung, tetapi juga orang-orang yang bekerja di balik layar, seperti petani, guru, dan tokoh dusun. Detail tentang penerima penghargaan setiap tahun berubah, dan artikel ini tidak menyebut penerima tertentu yang belum terverifikasi untuk tahun berjalan, tetapi keberadaan penghargaan itu sendiri menunjukkan bahwa festival ini memiliki dimensi penghargaan dan pengakuan, bukan hanya hiburan.

Festival Lima Gunung pada masa pandemi: panggung di atap rumah

Edisi festival pada masa pandemi COVID-19, yaitu Festival Lima Gunung ke-19 pada tahun 2020, adalah edisi yang paling banyak diliput karena cara penyelenggaraannya yang unik. Menurut liputan media pada waktu itu, festival ke-19 diselenggarakan di Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, dengan protokol kesehatan yang ketat, pertunjukan yang dipentaskan di atap-atap rumah, dan penonton yang dibatasi untuk mencegah kerumunan. Liputan itu menggambarkan suasana yang kontras: di tengah pandemi yang melanda dunia, warga dusun tetap merayakan festival, tetapi dengan cara yang disesuaikan, tanpa ribuan penonton yang memadati jalan dusun seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Cara penyelenggaraan itu bukan sekadar penyesuaian teknis, melainkan juga pernyataan tentang kemandirian dan ketahanan komunitas. Di tengah pembatasan yang membuat banyak festival dibatalkan, Komunitas Lima Gunung memilih untuk tetap menyelenggarakan festival, dengan skala yang lebih kecil dan bentuk yang disesuaikan, daripada membatalkannya sama sekali. Pilihan itu menunjukkan bahwa bagi komunitas itu, festival bukan sekadar acara yang dapat dibatalkan bila kondisi tidak ideal, melainkan bagian dari siklus tahunan kehidupan dusun yang harus tetap dijalankan, meskipun dalam bentuk yang berbeda.

Panggung di atap rumah juga memiliki makna simbolis. Atap rumah adalah bagian dari rumah warga, dan memindahkan panggung ke atap berarti memindahkan festival lebih dekat lagi ke kehidupan rumah tangga, bukan menjauhkannya. Penonton yang terbatas, yang sebagian besar adalah warga dusun sendiri, menyaksikan pertunjukan dari halaman dan jalan dusun, dengan jarak yang diatur, dan dengan gamelan yang dimainkan di atas atap. Suasana itu, menurut liputan pada waktu itu, terasa khidmat dan penuh kesungguhan, dengan doa keselamatan di tengah pandemi menjadi bagian dari perayaan.

Edisi pandemi itu juga menunjukkan fleksibilitas sistem bergiliran festival. Karena festival diselenggarakan di dusun, dengan infrastruktur yang sementara dan berbasis warga, penyelenggara dapat menyesuaikan skala dan bentuknya dengan cepat, tanpa harus membatalkan sewa gedung atau mengembalikan sponsor besar, karena memang tidak ada sponsor besar yang terlibat. Fleksibilitas itu adalah keuntungan dari kemandirian, yang sering kali tidak dimiliki oleh festival-festival besar yang bergantung pada anggaran dan sponsor.

Menonton Festival Lima Gunung sebagai tamu dusun

Menonton Festival Lima Gunung memerlukan persiapan yang berbeda dari menonton festival di kota. Pertama, penonton harus memeriksa desa tuan rumah dan tanggal pelaksanaan pada tahun itu melalui pengumuman resmi komunitas atau penyelenggara, karena keduanya berubah setiap tahun. Kedua, penonton harus merencanakan transportasi dan penginapan dengan mempertimbangkan bahwa dusun tuan rumah umumnya berada di lereng, dengan jalan yang menanjak dan berkelok, dan dengan pilihan penginapan yang terbatas. Menginap di kota kecamatan terdekat atau di Kota Magelang, lalu datang ke dusun pada hari festival, adalah pilihan yang umum, tetapi memerlukan perencanaan waktu tempuh yang realistis.

Ketiga, penonton harus datang dengan sikap tamu dusun. Dusun tuan rumah adalah tempat tinggal warga, bukan arena festival yang steril. Jalan dusun akan ramai, warung-warung akan sibuk, dan rumah-rumah warga akan menjadi bagian dari suasana festival. Penonton sebaiknya menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, tidak memarkirkan kendaraan di tempat yang menghalangi jalan warga, dan tidak membuat suara keras di luar area pertunjukan, terutama pada malam hari. Sikap-sikap sederhana itu menentukan apakah warga dusun tetap menyambut festival pada tahun-tahun berikutnya.

Keempat, penonton sebaiknya memahami bahwa festival ini diselenggarakan secara swadaya, dan bahwa tidak ada tiket masuk komersial dengan harga tetap yang selalu berlaku. Pada beberapa edisi, penonton dapat memberikan sumbangan sukarela, membeli produk warga, atau mendukung kelompok kesenian dengan cara lain. Memberi sumbangan secara sukarela, bila tersedia dan bila penonton mampu, adalah cara yang baik untuk mendukung festival, tetapi sumbangan itu tidak boleh dianggap sebagai pembelian hak untuk mengatur pertunjukan atau menuntut fasilitas seperti di gedung pertunjukan komersial.

Kelima, penonton yang ingin mendokumentasikan festival sebaiknya menanyakan ketentuan dokumentasi kepada penyelenggara atau pemain, karena tidak semua pertunjukan boleh direkam atau difoto dengan lampu kilat. Dokumentasi yang sopan, yang menghormati pemain dan penonton lain, dan yang tidak menyebarkan foto warga tanpa izin, adalah dokumentasi yang baik. Sebaliknya, dokumentasi yang mengganggu pertunjukan atau yang memperlakukan warga dusun sebagai objek foto semata justru merugikan festival dan komunitasnya.

Festival Lima Gunung dan masa depan kesenian lereng

Masa depan Festival Lima Gunung bergantung pada keberlanjutan komunitas di baliknya, yaitu petani-seniman di lereng lima gunung. Tantangan yang dihadapi komunitas itu sama dengan tantangan yang dihadapi banyak komunitas pertanian di Indonesia: generasi muda yang pergi ke kota untuk bekerja atau bersekolah, lahan pertanian yang menyempit, dan kesenian tradisional yang bersaing dengan hiburan digital. Namun, komunitas ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak komunitas lain: jaringan antar dusun yang kuat, prinsip kemandirian yang sudah teruji selama lebih dari dua dekade, dan festival tahunan yang menjadi momen untuk memperbarui jaringan itu.

Peran penonton dan wisatawan dalam masa depan itu adalah peran pendukung, bukan penyelamat. Wisatawan yang datang dengan hormat, memberi sumbangan sukarela, membeli produk warga, dan menceritakan festival dengan jujur kepada orang lain, telah berkontribusi pada keberlanjutan festival. Sebaliknya, wisatawan yang datang dengan tuntutan komersial, yang mengharapkan festival untuk menyesuaikan diri dengan standar wisata kota, atau yang memperlakukan dusun sebagai latar foto semata, justru dapat merugikan festival dan komunitasnya. Perbedaan antara kedua peran itu terletak pada sikap, bukan pada jumlah uang yang dibelanjakan.

Dari sisi akademik dan kebudayaan, Festival Lima Gunung juga telah menjadi objek kajian, seperti jurnal tentang Komunitas Lima Gunung dan kajian tentang konsep panutan dalam tata kelola festival, yang menunjukkan bahwa festival ini tidak hanya penting bagi warga lereng, tetapi juga bagi pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana kesenian rakyat dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan. Kajian-kajian itu memberi pengakuan akademik bagi festival, tetapi pengakuan yang paling penting tetap berasal dari warga dusun itu sendiri, yang setiap tahun menyiapkan dusunnya, berlatih, dan mementaskan keseniannya, dengan atau tanpa perhatian dari luar.

Pada akhirnya, Festival Lima Gunung adalah pengingat bahwa festival budaya yang paling berharga tidak selalu festival yang paling besar, paling mahal, atau paling banyak disponsori. Kadang-kadang, festival yang paling berharga adalah festival yang diselenggarakan oleh warga dusunnya sendiri, dengan dana swadaya, di jalan dusun dan halaman rumah, dengan kesenian yang lahir dari tanah dan musim. Festival Lima Gunung adalah festival seperti itu, dan memahami sejarah, komunitas, dan prinsipnya adalah langkah pertama untuk menghargainya, baik bagi penonton yang datang ke dusun tuan rumah, maupun bagi pembaca yang baru mengenalnya melalui artikel ini.

Untuk konteks festival budaya di Magelang, pembaca dapat membaca artikel KabarTidar tentang festival budaya Magelang, sedangkan gambaran sejarah festival ini dapat dirujuk pada ensiklopedia tentang Festival Lima Gunung dan liputan tentang seperempat abad Festival Lima Gunung yang tetap mandiri tanpa sponsor.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *