Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Desa Wisata di Kabupaten Magelang Selain Candirejo: dari…
Wisata

Desa Wisata di Kabupaten Magelang Selain Candirejo: dari Gerabah hingga Menoreh

Di luar Candirejo, Kabupaten Magelang menyimpan desa-desa wisata dengan ciri masing-masing, mulai dari gerabah Karanganyar, permainan tradisional Bumiharjo, desa bahasa Ngargogondo, hingga jalur Menoreh di Giritengah dan Majaksingi.

Oleh Intan Larasati Minggu, 25 Oktober 2026 · 21.22 WIB
Desa Wisata di Kabupaten Magelang Selain Candirejo: dari Gerabah hingga Menoreh
Ilustrasi yang memperlihatkan perajin gerabah di beranda rumah desa dengan roda putar tanah liat, sawah hijau dan Perbukitan Menoreh di latar, serta seorang anak yang memainkan egrang bambu di halaman. (Ilustrasi: KabarTidar)

Desa wisata di Kabupaten Magelang tidak berhenti di Candirejo. Di sekitar Candi Borobudur dan di lereng Perbukitan Menoreh, sejumlah desa lain juga mengembangkan pariwisata yang dikelola warga, dengan penekanan yang berbeda-beda: ada yang menonjol lewat gerabah, ada yang lewat permainan tradisional, ada yang lewat bahasa, pertanian, batik, hingga jalur pendakian. Artikel ini merangkum desa-desa wisata tersebut, di luar Candirejo, agar pembaca yang sudah mengenal Candirejo memiliki gambaran yang lebih luas tentang pilihan yang tersedia di Kabupaten Magelang.

Jawaban singkatnya begini: bila minat utama adalah kerajinan tangan, Karanganyar dan Karangrejo layak didahulukan, karena keduanya menempatkan proses pembuatan gerabah dan produk rumah tangga sebagai pengalaman utama. Bila perjalanan membawa anak-anak atau rombongan keluarga, Bumiharjo menawarkan permainan tradisional yang dimainkan bersama, bukan sekadar ditonton. Bila yang dicari adalah suasana belajar yang lebih tenang, Ngargogondo dikenal sebagai desa wisata bahasa, sementara Tuksongo menonjol lewat batik dan seni pertunjukan. Untuk udara pegunungan dan berjalan kaki di perbukitan, Giritengah dan Majaksingi berada di kawasan Menoreh, sedangkan Wanurejo, Ngadiharjo, dan Kebonsari melengkapi klaster di sekitar Borobudur dengan penginapan warga, kebun tanaman hias, dan usaha pangan rumahan.

Penting untuk dipahami sejak awal bahwa daftar ini bukan daftar peringkat. Setiap desa memiliki skala, pengelola, dan kesiapan yang berbeda. Sebagian desa sudah memiliki balai ekonomi desa yang dikenal sebagai Balkondes, homestay, dan paket kegiatan yang terstruktur. Sebagian lain lebih cocok dipahami sebagai desa yang sedang berkembang, tempat kunjungan terbaik adalah kunjungan yang direncanakan bersama pengelola setempat, bukan kunjungan yang datang tanpa kabar. Karena itu, artikel ini tidak mencantumkan tarif, jam buka, atau paket yang bersifat berubah-ubah. Informasi semacam itu sebaiknya dikonfirmasi langsung kepada pengelola desa sebelum berangkat, sebab pengelola desa dapat mengubah jadwal dan ketentuan sewaktu-waktu.

Candirejo sendiri hanya disebut di sini sebagai pembanding. Desa di Kecamatan Borobudur itu sudah dibahas tersendiri di KabarTidar, dan artikel ini tidak mengulang pembahasannya secara rinci. Yang perlu dicatat adalah pola yang sama yang juga tampak di desa-desa lain dalam artikel ini: wisata tidak dibangun semata-mata di atas satu objek, melainkan di atas kehidupan sehari-hari warga, mulai dari sawah, dapur, bengkel kerajinan, hingga panggung kesenian. Perbedaan di antara desa-desa itu terletak pada unsur kehidupan mana yang paling menonjol dan paling siap dibagikan kepada pengunjung.

Memilih Desa Wisata di Kabupaten Magelang Sesuai Minat

Pertanyaan yang paling berguna sebelum memilih desa bukanlah desa mana yang paling terkenal, melainkan pengalaman apa yang ingin didapatkan. Seorang pengunjung yang ingin belajar membuat sesuatu dengan tangan akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dari pengunjung yang ingin berjalan jauh di perbukitan. Seorang guru yang membawa rombongan pelajar juga memiliki kebutuhan yang berbeda dari pasangan yang hanya ingin menginap semalam di rumah warga dan bangun pagi menghadap sawah.

Dari sisi kerajinan, Karanganyar adalah pilihan yang paling jelas. Desa ini dikenal lewat gerabah, dan proses pembuatannya sudah lama menjadi bagian dari mata pencaharian warga. Karangrejo, yang tidak jauh dari kawasan yang sama, menawarkan kombinasi yang lebih luas: pertanian organik, produk rumah tangga, dan penginapan yang dikelola dengan standar yang lebih tertata. Keduanya sama-sama berada di Kecamatan Borobudur, sehingga dapat dikunjungi dalam satu rangkaian perjalanan tanpa harus berpindah wilayah terlalu jauh.

Dari sisi permainan dan pendidikan, Bumiharjo dan Ngargogondo menawarkan dua pendekatan yang berbeda. Bumiharjo mengajak pengunjung bergerak dan bermain, sementara Ngargogondo mengajak pengunjung belajar bahasa dan mengikuti kegiatan pertanian sesuai musim. Dari sisi seni dan keterampilan, Tuksongo menempatkan batik, gamelan, dan tari dalam satu pengalaman desa. Dari sisi alam, Giritengah dan Majaksingi mengajak pengunjung naik ke kawasan Menoreh, dengan udara yang lebih sejuk, aliran sungai, dan pemandangan perbukitan.

Dari sisi penginapan dan kuliner rumahan, Wanurejo, Ngadiharjo, dan Kebonsari melengkapi gambaran itu. Di desa-desa ini, pengalaman tidak selalu berupa lokakarya formal. Kadang pengalaman itu berupa menginap di rumah warga atau di Balkondes, makan dari dapur warga, membeli produk dari perajin di desanya langsung, dan berbincang dengan warga yang membuat produk tersebut. Bagi pengunjung yang baru pertama kali menjelajahi desa wisata, pendekatan seperti ini sering kali terasa paling mudah, karena tidak menuntut keterampilan khusus dan tidak menuntut stamina tertentu.

Karena itu, pembaca disarankan membaca artikel ini bukan sebagai rencana perjalanan yang harus dijalankan seluruhnya dalam satu hari. Membaca artikel ini lebih tepat dipahami sebagai peta minat: tentukan satu atau dua desa yang paling sesuai, hubungi pengelolanya, lalu sisakan waktu yang cukup di setiap desa. Desa wisata, pada dasarnya, tidak dirancang untuk dikunjungi dengan tergesa-gesa. Nilai utamanya justru muncul ketika pengunjung memiliki waktu untuk memperhatikan proses, bertanya, dan mengikuti ritme warga.

Karangrejo: Desa Organik di Dekat Punthuk Setumbu

Desa Wisata Karangrejo berada di Kecamatan Borobudur, sekitar empat kilometer dari Candi Borobudur menurut portal resmi pariwisata Indonesia. Kedekatan itu membuat Karangrejo mudah dijangkau dari kawasan candi, sekaligus cukup jauh untuk mempertahankan suasana pedesaan. Menurut portal yang sama, luas wilayah yang dijelajahi wisatawan di Karangrejo mencapai sekitar 174 hektare, dengan pilihan berkeliling menggunakan mobil klasik terbuka, jip, andong, atau sepeda. Pilihan kendaraan itu bukan sekadar variasi transportasi, melainkan cara yang berbeda untuk membaca lanskap yang sama: mobil klasik dan jip menjangkau jalur yang lebih jauh, termasuk jalur sungai purba menurut portal tersebut, sedangkan andong dan sepeda memberi waktu yang lebih lambat untuk memperhatikan sawah dan rumah warga.

Hal yang membedakan Karangrejo dari desa wisata lain di sekitar Borobudur adalah penekanannya pada pertanian. Portal resmi pariwisata Indonesia menyebut Karangrejo telah dikembangkan sebagai desa organik dengan dukungan Perusahaan Gas Negara, dan pengunjung dapat belajar menanam langsung dari warga, termasuk menanam padi dan merasakan lumpur sawah. Bagi warga kota yang jarang bersentuhan dengan sawah, pengalaman seperti ini sering kali menjadi bagian yang paling diingat, bukan karena sulit, melainkan karena menuntut kehadiran fisik: kaki masuk ke lumpur, tangan memegang bibit, dan tubuh menyesuaikan diri dengan ritme kerja di sawah.

Selain pertanian, Karangrejo juga memperlihatkan sisi industri rumah tangga. Portal yang sama mencatat produk yang dapat disaksikan pembuatannya di desa ini, antara lain gula aren, gerabah, miniatur Borobudur dari batu dan bambu, keripik singkong, dan jamu. Daftar itu penting karena menunjukkan bahwa Karangrejo tidak bergantung pada satu produk saja. Seorang pengunjung dapat melihat bagaimana bahan dari kebun dan dapur diolah menjadi barang yang dapat dibawa pulang, dan pada saat yang sama memahami bahwa produk-produk itu adalah bagian dari ekonomi rumah tangga, bukan sekadar suvenir yang dibuat untuk wisatawan.

Karangrejo juga dikenal lewat kedekatannya dengan Punthuk Setumbu. Menurut portal resmi pariwisata Indonesia, bukit yang berada pada ketinggian 400 meter di atas permukaan laut itu menawarkan pemandangan Candi Borobudur di tengah hamparan hijau, dan pada hari yang cerah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu dapat terlihat dari kejauhan. Punthuk Setumbu sendiri bukan bagian dari Desa Karangrejo secara administratif dalam pengertian yang sempit, tetapi dalam pengalaman perjalanan, keduanya sering dibicarakan bersama, karena pengunjung yang menginap di Karangrejo dapat memulai pagi dengan menyaksikan matahari terbit dari titik pandang tersebut sebelum kembali ke desa untuk sarapan dan kegiatan lainnya.

Dari sisi penginapan, portal resmi pariwisata Indonesia menyebut Karangrejo sebagai desa wisata berkelanjutan yang bersertifikat, dengan homestay yang memadukan arsitektur modern dan tradisional. Pernyataan itu perlu dibaca secara hati-hati: yang dimaksud bukan hotel berbintang di tengah desa, melainkan penginapan yang dikelola warga dengan fasilitas yang lebih tertata daripada sekadar kamar tambahan di rumah penduduk. Bagi pengunjung yang menginginkan kenyamanan tanpa meninggalkan suasana desa, Karangrejo menawarkan jalan tengah yang cukup jelas.

Sebuah catatan tambahan datang dari dunia akademik. Jurnal pengabdian masyarakat Universitas Indonesia menyebut Karangrejo sebagai Desa Wisata Borobudur dalam kegiatan sosialisasi tradisi purnama, yang menunjukkan bahwa desa ini juga menjadi ruang bagi kegiatan budaya dan pendidikan, bukan hanya ruang bagi kegiatan ekonomi. Tradisi, dalam konteks seperti ini, tidak tampil sebagai pertunjukan yang dipisahkan dari warga, melainkan sebagai praktik yang masih dibicarakan, dipelajari, dan diwariskan di dalam komunitas.

Karanganyar dan Dusun Klipoh: Gerabah yang Diwariskan Turun-Temurun

Desa Wisata Karanganyar berada di Kecamatan Borobudur, sekitar tiga kilometer di sebelah barat Candi Borobudur menurut portal resmi pariwisata Indonesia. Desa ini dikenal lewat gerabah, dan pengenalan itu bukan sekadar label promosi. Menurut portal yang sama, Karanganyar pernah masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia pada tahun 2021, dan gerabah di desa ini diyakini sudah ada sejak masa pembangunan Candi Borobudur, sekitar abad ke-8 Masehi. Keyakinan itu perlu dibaca sebagai keyakinan yang hidup di kalangan warga dan perajin, bukan sebagai hasil penelitian arkeologi yang dipaparkan dalam artikel ini. Namun keyakinan itu sendiri menjelaskan mengapa gerabah diperlakukan bukan sebagai keterampilan baru, melainkan sebagai warisan.

Salah satu dusun yang paling sering disebut dalam pembahasan gerabah Karanganyar adalah Klipoh. Menurut panduan wisata Dolanesia, di Desa Wisata Klipoh yang berada di Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, terdapat tempat untuk belajar membuat gerabah tradisional. Panduan itu menyebut sekitar 80 persen penduduk desa berprofesi sebagai pembuat gerabah, dengan teknik yang diwariskan turun-temurun, mulai dari pemilihan tanah liat, pembentukan, penjemuran dengan sinar matahari, pembakaran, pewarnaan tradisional, hingga penyelesaian akhir. Angka 80 persen itu, sebagaimana angka-angka lain dalam artikel ini, sebaiknya dipahami sebagai gambaran dari sumber tersebut pada waktu penulisan sumber itu, bukan sebagai sensus terbaru.

Proses pembuatan gerabah di Karanganyar, menurut portal resmi pariwisata Indonesia, dimulai dari pencampuran tanah liat dengan pasir, lalu melalui tahap penggilingan, pencetakan, pengeringan, dan pembakaran, dengan pembakaran dilakukan tiga kali menggunakan tungku tradisional berbahan bakar jerami. Tahapan yang panjang itu menjelaskan mengapa gerabah tidak dapat dipahami hanya dari bentuk akhirnya. Sebuah vas, lampu, peralatan makan, atau suvenir yang dijual di galeri komunitas adalah hasil dari kerja yang berulang, kesabaran menunggu tanah kering, dan kehati-hatian menjaga api.

Pengunjung di Karanganyar tidak hanya menonton. Menurut portal resmi pariwisata Indonesia, pengunjung dapat mencoba membuat gerabah dan membawa pulang hasilnya. Pengalaman mencoba itu penting, karena gerabah menuntut koordinasi tangan dan mata yang tidak dapat dipelajari hanya dari penjelasan. Tanah liat yang terlalu basah akan runtuh, tanah yang terlalu kering akan retak, dan bentuk yang tampak sederhana sering kali membutuhkan beberapa kali percobaan. Karena itu, lokakarya gerabah di Karanganyar lebih tepat dipahami sebagai pengantar, bukan sebagai kursus singkat yang menjanjikan keterampilan penuh.

Di Karanganyar juga terdapat galeri komunitas yang didukung UNESCO dan Balai Ekonomi Desa menurut portal resmi pariwisata Indonesia. Galeri semacam itu berfungsi sebagai etalase bersama, tempat produk dari berbagai perajin dapat dilihat dalam satu tempat, dan tempat pengunjung dapat memahami keragaman bentuk dan fungsi gerabah. Bagi perajin, galeri bersama mengurangi ketergantungan pada pembeli yang datang dari pintu ke pintu, dan bagi pengunjung, galeri memberi gambaran yang lebih utuh daripada hanya mengunjungi satu bengkel.

Perlu dibedakan dengan hati-hati antara Karanganyar dan Karangrejo, karena nama keduanya mirip dan keduanya berada di Kecamatan Borobudur. Karanganyar menonjol lewat gerabah sebagai identitas utama, sedangkan Karangrejo menonjol lewat kombinasi pertanian organik, produk rumah tangga, dan penginapan. Keduanya dapat dikunjungi dalam perjalanan yang sama, tetapi pengalaman yang ditawarkan tidak sama, dan pengunjung yang menyamakan keduanya akan kehilangan perbedaan yang justru membuat masing-masing desa layak dikunjungi.

Wanurejo: Balkondes dan Kehidupan Desa di Sisi Borobudur

Desa Wanurejo juga berada di kawasan Borobudur, dan namanya sering muncul dalam daftar desa wisata di sekitar candi. Menurut panduan wisata Tiket.com, desa wisata di sekitar kompleks Candi Borobudur mencakup Wanurejo, Majaksingi, dan Gade, masing-masing dengan nilai dan kekhasan yang berbeda. Pernyataan itu menunjukkan bahwa Wanurejo dipahami sebagai bagian dari klaster desa wisata Borobudur, bukan sebagai objek wisata tunggal yang berdiri sendiri.

Yang paling mudah dikenali dari Wanurejo adalah Balkondes Wanurejo, balai ekonomi desa yang menjadi pusat kegiatan, penginapan, dan pertemuan. Menurut situs yang dikelola badan usaha milik desa setempat, Balkondes Wanurejo menggambarkan dirinya sebagai pusat kreativitas, budaya, dan jajanan tradisional di samping Candi Borobudur. Gambaran itu sejalan dengan fungsi Balkondes pada umumnya: bangunan dan kawasan yang dibangun dengan dukungan badan usaha milik negara, lalu dikelola dan dikembangkan oleh desa melalui pemerintah desa atau badan usaha milik desa, dengan pendampingan dari pengelola kawasan Borobudur.

Dalam konteks yang lebih luas, penelitian tentang desa wisata di Magelang mencatat bahwa Balkondes di kawasan Borobudur berjumlah dua puluh, termasuk Balkondes Wanurejo, dan masing-masing memiliki daya tarik wisata yang berbeda. Angka dua puluh itu berasal dari kajian yang memetakan Balkondes di kawasan Borobudur, dan penting untuk memahami Balkondes bukan sebagai hotel semata. Balkondes adalah simpul: tempat menginap, tempat pertemuan, tempat pertunjukan, dan tempat produk warga diperkenalkan. Seorang pengunjung yang menginap di Balkondes Wanurejo, karena itu, tidak hanya mendapatkan kamar, melainkan juga akses ke jaringan kegiatan desa di sekitarnya.

Wanurejo juga dikenal lewat batik, sebagaimana ditunjukkan oleh keberadaan usaha batik yang menggunakan nama desa tersebut. Namun artikel ini tidak merinci motif, pengrajin tertentu, atau harga batik Wanurejo, karena rincian semacam itu tidak terverifikasi secara memadai dari sumber yang dibaca. Yang dapat dikatakan secara aman adalah bahwa batik merupakan salah satu bentuk kerajinan yang hidup di kawasan Borobudur, dan pengunjung yang tertarik pada batik sebaiknya menanyakan langsung kepada pengelola desa atau perajin setempat tentang lokakarya yang tersedia pada waktu kunjungan.

Bagi pengunjung yang baru pertama kali menjelajahi desa wisata di Magelang, Wanurejo dapat menjadi titik awal yang baik, karena letaknya dekat dengan Borobudur dan fasilitas Balkondesnya relatif mudah dikenali. Akan tetapi, kedekatan itu juga mengandung risiko: pengunjung dapat terjebak pada pola kunjungan yang terlalu singkat, hanya mampir, berfoto, lalu pergi. Padahal, nilai desa wisata justru muncul ketika pengunjung meluangkan waktu untuk berjalan di desa, berbincang dengan warga, dan memahami bahwa Balkondes adalah bagian dari desa, bukan pengganti desa.

Ngargogondo: Desa Bahasa Pertama di Indonesia

Desa Wisata Ngargogondo berada di Kecamatan Borobudur, sekitar tiga setengah kilometer dari Candi Borobudur menurut portal pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Portal itu menyebut Ngargogondo sebagai desa wisata bahasa pertama di Indonesia, dan sebagai pusat pembelajaran berbagai bahasa bagi warga setempat. Sebutan pertama itu perlu dibaca sebagai klaim dari portal tersebut, tetapi klaim itu sendiri menunjukkan arah pengembangan Ngargogondo yang berbeda dari desa-desa lain: bahasa diposisikan bukan sebagai alat komunikasi wisata semata, melainkan sebagai kegiatan belajar yang melibatkan warga.

Jurnal ilmiah dari Universitas Tidar yang meneliti pengelolaan pariwisata di Ngargogondo mencatat potensi desa ini secara lebih rinci, antara lain wisata desa bahasa, Balkondes yang menyediakan paket pertemuan, homestay, tur jip off-road, tur mobil klasik, tur jalur, tur andong, pusat pembibitan durian, tari topeng ireng, dan pusat kerajinan krobong. Daftar itu menunjukkan bahwa Ngargogondo tidak hanya mengandalkan satu kegiatan. Bahasa menjadi pembeda, tetapi kegiatan lain, mulai dari pertanian hingga seni pertunjukan, tetap menjadi penopang pengalaman.

Dari sisi pertanian dan kehidupan sehari-hari, AsiaToday menggambarkan Ngargogondo sebagai desa yang memadukan wisata budaya dengan pertanian, tempat pengunjung dapat mengikuti kegiatan bertani, memanen hasil sesuai musim, dan mencicipi makanan tradisional yang terkait dengan Magelang. Gambaran itu penting karena menegaskan bahwa desa bahasa bukan berarti desa yang hanya berisi kelas bahasa. Bahasa, dalam konteks Ngargogondo, hidup di tengah kegiatan pertanian, pertemuan warga, dan kunjungan kelompok, sehingga belajar bahasa tidak terpisah dari belajar tentang kehidupan desa.

Ngargogondo juga disebut sebagai desa yang menyediakan program wisata edukasi bagi anak-anak dan rombongan yang lebih besar. Hal itu membuat Ngargogondo relevan bagi sekolah dan komunitas yang mencari kunjungan yang terstruktur, dengan pemandu lokal dan kegiatan yang dapat disesuaikan dengan usia peserta. Namun, seperti desa-desa lain dalam artikel ini, program semacam itu sebaiknya dikonfirmasi terlebih dahulu kepada pengelola, karena ketersediaan pemandu, materi, dan jadwal dapat berubah mengikuti musim dan kegiatan warga.

Jurnal Universitas Tidar itu juga mencatat tantangan yang dihadapi Ngargogondo, yakni jaringan pemangku kepentingan yang belum sepenuhnya terkoordinasi, termasuk dinas pariwisata kabupaten, universitas, perusahaan, pemerintah desa, kelompok sadar wisata, Balkondes, badan usaha milik desa, dan komunitas. Catatan itu bukan alasan untuk menghindari Ngargogondo, melainkan pengingat yang jujur bahwa desa wisata adalah kerja bersama yang masih terus dirapikan. Pengunjung yang memahami hal itu akan lebih sabar ketika menghadapi perubahan jadwal atau perbedaan informasi, dan lebih menghargai upaya warga yang mengelola pariwisata di sela-sela pekerjaan utama mereka sebagai petani dan perajin.

Bumiharjo: Kampung Dolanan dan Permainan yang Dimainkan Bersama

Desa Bumiharjo di Kecamatan Borobudur dikenal dengan nama Kampoeng Dolanan Nusantara. Menurut AsiaToday, desa ini melestarikan ratusan permainan tradisional yang diwariskan turun-temurun, dan pengunjung dapat mencoba egrang, bakiak, dan gasing, serta merasakan kesenian seperti gamelan, angklung, dan tari. Kata kuncinya di sini adalah mencoba. Permainan tradisional, berbeda dari pertunjukan, tidak lengkap tanpa partisipasi. Egrang menuntut keseimbangan, bakiak menuntut kekompakan kelompok, dan gasing menuntut ketepatan tangan. Seorang pengunjung yang hanya menonton permainan itu akan mendapatkan gambaran yang berbeda dari pengunjung yang ikut memainkannya, jatuh, tertawa, lalu mencoba lagi.

Nilai pendidikan dari Bumiharjo terletak pada kesederhanaannya. Permainan tradisional tidak membutuhkan perangkat mahal atau ruang khusus yang tertutup. Yang dibutuhkan adalah halaman, alat dari bambu atau kayu, dan kesediaan untuk bermain bersama. Dalam konteks itu, Bumiharjo menawarkan koreksi yang lembut terhadap anggapan bahwa hiburan harus selalu baru dan berbasis layar. Permainan lama, yang pernah dimainkan di halaman rumah dan lapangan desa, ternyata masih dapat dimainkan, masih dapat diajarkan, dan masih dapat dinikmati oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Bumiharjo juga relevan bagi keluarga yang membawa anak-anak, karena kegiatan di desa ini bersifat fisik dan sosial. Anak-anak tidak hanya diajak melihat, melainkan diajak bergerak, bekerja sama, dan mengikuti aturan permainan. Orang tua, pada saat yang sama, dapat mengenali kembali permainan dari masa kecilnya, atau justru mempelajari permainan dari daerah lain di Nusantara yang belum pernah dimainkan sebelumnya. Pertemuan antargenerasi seperti itu adalah salah satu fungsi desa wisata yang paling sulit diukur, tetapi paling mudah dirasakan.

Sebagai catatan, nama Bumiharjo kadang ditulis dengan variasi ejaan dalam berbagai sumber, dan pengunjung sebaiknya memastikan lokasi yang dituju adalah Kampoeng Dolanan Nusantara di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, bukan tempat lain dengan nama yang mirip. Ketelitian semacam itu penting, karena desa wisata di Indonesia jumlahnya banyak, dan nama yang mirip tidak selalu merujuk pada tempat yang sama.

Tuksongo: Batik, Gamelan, dan Seni Pertunjukan

Desa Wisata Tuksongo, juga di Kecamatan Borobudur, menempatkan keterampilan dan kesenian sebagai pengalaman utama. Menurut AsiaToday, pengunjung di Tuksongo dapat belajar membatik, menyiapkan makanan tradisional, dan mengikuti kegiatan pertanian bersama warga, serta menyaksikan festival budaya yang menampilkan seni pertunjukan pada waktu-waktu tertentu. Gambaran itu menunjukkan Tuksongo sebagai desa yang memadukan keterampilan tangan, dapur, dan panggung dalam satu kunjungan.

Pengalaman yang lebih rinci tentang Tuksongo tercatat dalam laporan kegiatan mahasiswa Universitas Gadjah Mada, yang menyebut Tuksongo sebagai Desa Wisata dan menggambarkan kegiatan selama dua hari di desa tersebut. Menurut laporan itu, peserta diajak membatik pada hari pertama, dengan penjelasan tentang filosofi batik dan keharusan berimprovisasi ketika malam atau lilin batik merusak desain awal. Peserta juga diajak mengecat topeng dari kertas, bermain gamelan, berlatih tari tradisional, dan membuat udheng, penutup kepala dari kain yang dahulu menjadi perlengkapan sehari-hari masyarakat Jawa dan Bali, dan kini menjadi bagian dari busana tradisional. Pada malam hari, kegiatan dipusatkan di joglo Balkondes Tuksongo.

Laporan itu penting bukan karena pesertanya mahasiswa dari berbagai negara, melainkan karena menunjukkan urutan kegiatan yang masuk akal di Tuksongo: belajar membuat, belajar memainkan, belajar memakai, lalu berkumpul dan berbincang. Batik, dalam urutan itu, bukan sekadar kain yang dibeli, melainkan proses yang menuntut kesabaran dan keberanian menerima kesalahan. Gamelan, pada saat yang sama, bukan sekadar musik latar, melainkan latihan mendengarkan dan menyesuaikan diri dengan pemain lain. Topeng kertas, yang mungkin tampak sederhana, menunjukkan bahwa kesenian dapat dibuat dari bahan yang mudah didapat, dan tetap memiliki nilai sebagai karya.

Dokumen panduan wisata Borobudur Trail of Civilization juga menempatkan Tuksongo dalam peta kegiatan bertema musik dan bunyi, bersama Ngargogondo dan Kembanglimus, dengan kegiatan seperti bermain gamelan dan alat musik, pertunjukan topeng ireng, jathilan, tambur, lukisan, dan ukiran bambu. Dokumen itu mengaitkan kegiatan desa dengan relief Candi Borobudur yang menggambarkan alat musik, sehingga kunjungan ke desa menjadi lanjutan dari kunjungan ke candi, bukan kegiatan yang terpisah. Pengunjung yang sudah melihat relief di candi, lalu mencoba memainkan gamelan di desa, akan memahami hubungan antara warisan batu dan warisan hidup dengan cara yang lebih konkret.

Tuksongo, karena itu, cocok bagi pengunjung yang ingin pulang dengan keterampilan baru, betapapun sederhananya, dan dengan pemahaman bahwa kesenian Jawa bukan benda museum semata. Kesenian itu masih dipraktikkan, masih diajarkan, dan masih menjadi bagian dari pertemuan warga di joglo dan halaman desa.

Giritengah dan Majaksingi: Menoreh sebagai Latar, Bukan Sekadar Pemandangan

Desa Giritengah berada di Kecamatan Borobudur, di kawasan Perbukitan Menoreh. Menurut AsiaToday, Giritengah menawarkan kesempatan untuk menjelajahi lanskap Perbukitan Menoreh, berjalan di jalur perbukitan, menyaksikan matahari terbit dari titik pandang, dan menjelajahi perkebunan yang dikelola warga. Homestay juga tersedia, sehingga pengunjung dapat tinggal lebih lama dan merasakan desa dengan ritme yang lebih santai.

Gambaran itu diperkuat oleh keberadaan jalur pendakian Puncak Suroloyo melalui Giritengah, yang tercatat dalam direktori jalur pendakian sebagai jalur dengan tingkat kesulitan sedang dan perkiraan waktu tempuh sekitar satu setengah hingga dua jam. Dari Puncak Suroloyo, menurut direktori yang sama, pengunjung dapat menyaksikan Candi Borobudur, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing di sisi utara, serta Kota Yogyakarta dan Samudra Hindia di sisi selatan. Pernyataan tentang jarak pandang itu perlu dibaca dengan kehati-hatian yang wajar, karena jarak pandang sangat bergantung pada cuaca, kabut, dan musim. Akan tetapi, pernyataan itu menjelaskan mengapa Giritengah diposisikan sebagai desa pendakian, bukan sekadar desa persinggahan.

Di kawasan Suroloyo juga terdapat Sendang Kawidodaren, yang menurut direktori jalur pendakian digunakan warga setempat untuk upacara tradisional setiap tanggal 1 Suro. Detail itu mengingatkan bahwa jalur pendakian di Menoreh bukan jalur yang steril dari kehidupan warga. Jalur itu melewati kebun, permukiman, dan tempat-tempat yang memiliki makna bagi komunitas setempat. Pengunjung yang berjalan di jalur itu, karena itu, sebaiknya berjalan dengan sikap yang sama seperti bertamu: menjaga kebersihan, tidak merusak tanaman, dan menghormati kegiatan warga yang sedang berlangsung.

Desa Majaksingi, yang juga berada di lereng Perbukitan Menoreh, menawarkan kombinasi yang berbeda. Menurut AsiaToday, Majaksingi menawarkan udara yang lebih sejuk, aliran sungai, dan pemandangan pegunungan, dengan Balkondes Majaksingi dan Punthuk Gupakan sebagai daya tarik yang dikaitkan dengan wilayah tersebut, serta batik dengan pewarna alami sebagai kerajinan yang dikenal dari desa ini. Kombinasi alam dan kerajinan itu membuat Majaksingi cocok bagi pengunjung yang ingin berjalan di alam pada pagi hari dan belajar membuat sesuatu pada siang atau sore hari.

Gambaran yang lebih hidup tentang Majaksingi datang dari portal resmi pariwisata Indonesia, yang menelusuri usaha rumahan di desa tersebut. Menurut portal itu, di Majaksingi terdapat usaha pembuatan tahu rumahan, antara lain usaha yang dikelola Ibu Mulyana bersama dua anaknya, yang mulai bekerja pada pukul dua dini hari hingga pukul tiga sore, membersihkan kedelai, memasak, dan mencetak tahu menjadi balok, dengan produksi sekitar 75 kilogram tahu per hari, baik tahu putih maupun tahu kuning. Rincian jam kerja dan jumlah produksi itu berasal dari artikel portal tersebut, dan menunjukkan bahwa usaha pangan rumahan di Majaksingi bukan usaha sampingan yang dikerjakan sambil lalu, melainkan pekerjaan utama yang dimulai sebelum fajar.

Portal yang sama juga mencatat bahwa Majaksingi menjadi tempat tinggal salah satu perajin Upanat, sandal khusus yang wajib dikenakan pengunjung Candi Borobudur sejak tahun 2020 untuk mengurangi kerusakan batu candi. Menurut portal itu, sekitar 14 perajin memasok sandal dan tas Upanat kepada pengelola Borobudur, dan salah satu perajin di Majaksingi, bersama istrinya, memproduksi 50 hingga 80 pasang sandal dan tas Upanat setiap hari. Cerita Upanat ini penting karena menunjukkan hubungan yang konkret antara desa dan candi: pelestarian candi tidak hanya dilakukan oleh pengelola candi, melainkan juga oleh perajin desa yang membuat alas kaki yang dikenakan pengunjung.

Selain tahu dan Upanat, portal resmi pariwisata Indonesia mencatat usaha besek di Majaksingi, yakni wadah anyaman bambu yang digunakan untuk menyimpan rempah atau makanan. Menurut portal itu, perajin besek di Majaksingi telah membuat besek sejak tahun 2001, dan dalam beberapa tahun terakhir permintaan meningkat, antara lain karena hotel berbintang di kawasan Borobudur sering memesan besek sebagai suvenir penyambutan tamu. Cerita besek ini melengkapi gambaran Majaksingi sebagai desa yang ekonominya ditopang oleh banyak usaha kecil, bukan satu usaha besar.

Ngadiharjo dan Kebonsari: Menginap, Berkebun, dan Usaha Pangan

Di luar desa-desa yang sudah disebutkan, portal resmi pariwisata Indonesia juga memperkenalkan Ngadiharjo dan Kebonsari sebagai bagian dari desa-desa wisata di Magelang. Keduanya berada di kawasan Borobudur, dan keduanya menawarkan pengalaman yang lebih menekankan penginapan dan usaha rumahan daripada lokakarya formal.

Balkondes Ngadiharjo, menurut portal itu, menawarkan penginapan dengan suasana nostalgia, dibangun dengan gaya rumah panggung tradisional dari kayu, dengan warna cokelat yang dominan dan pemandangan Perbukitan Menoreh serta Gunung Merapi, Gunung Sumbing, Gunung Merbabu, dan Suroloyo. Menurut portal yang sama, kawasan penginapan itu meliputi area seluas 1,5 hektare, dengan restoran dan gazebo, serta tujuh rumah tamu. Pengelola, menurut portal itu, dapat membantu mengatur pertemuan atau kegiatan luar ruang, dan tersedia sepeda listrik untuk menjelajahi kawasan penginapan. Rincian itu menunjukkan Balkondes Ngadiharjo sebagai tempat menginap yang sekaligus berfungsi sebagai titik awal untuk menjelajahi desa-desa di sekitarnya.

Sekitar tiga kilometer dari Balkondes Ngadiharjo, menurut portal yang sama, terdapat Rudy Coffee and Flowers di Desa Kebonsari, kebun tanaman hias yang dikelola pasangan suami istri, dengan tanaman utama aglaonema dan begonia. Kebun itu, menurut portal itu, menjadi tempat bersantai pada sore hari, sekaligus tempat pelanggan dari Magelang dan Yogyakarta membeli tanaman secara langsung atau daring. Cerita Kebonsari ini menunjukkan bahwa desa wisata tidak selalu harus memiliki candi, air terjun, atau puncak bukit. Kebun tanaman hias yang dikelola dengan tekun, ditambah kedai kopi, sudah cukup menjadi alasan untuk singgah, terutama bagi pengunjung yang menyukai tanaman dan suasana yang tenang.

Di Kebonsari juga terdapat usaha pengolahan buah carica, menurut portal resmi pariwisata Indonesia. Usaha yang dikelola Sukirman dan istrinya itu mengubah buah carica yang tumbuh di dataran tinggi menjadi produk manisan, dengan produksi sekitar 2.000 gelas per hari dan lima pekerja, serta distribusi ke Klaten, Magelang, dan Solo menurut portal tersebut. Usaha carica ini, sebagaimana usaha tahu di Majaksingi dan gerabah di Karanganyar, menunjukkan pola yang berulang di desa wisata Magelang: produk yang awalnya dibuat untuk kebutuhan lokal atau pasar terdekat, kemudian menjadi produk yang dikenal pengunjung karena prosesnya dapat disaksikan langsung.

Ngadiharjo dan Kebonsari, karena itu, cocok dimasukkan dalam rencana perjalanan yang lebih santai, misalnya sebagai tempat menginap dan tempat singgah pada sore hari, setelah mengunjungi desa yang kegiatan utamanya lebih menuntut fisik atau keterampilan. Kombinasi itu, menginap di satu desa, belajar di desa lain, dan bersantai di desa ketiga, adalah cara yang paling masuk akal untuk menjelajahi klaster desa wisata Borobudur tanpa kelelahan.

Ngargoretno: Desa Wisata Berbasis Masyarakat di Salaman

Berbeda dari desa-desa sebelumnya yang sebagian besar berada di Kecamatan Borobudur, Desa Wisata Ngargoretno berada di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Jurnal ilmiah yang meneliti pengembangan pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat di Ngargoretno menyebut desa ini sebagai Desa Wisata Ngargoretno, dan mencatat upaya pengembangannya melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, pelibatan masyarakat, dukungan anggaran yang memadai, dan pelatihan bagi pelaku atau pengelola objek desa wisata.

Ngargoretno penting untuk disebutkan dalam artikel ini karena menunjukkan bahwa desa wisata di Kabupaten Magelang tidak hanya terkonsentrasi di sekitar Borobudur. Kecamatan Salaman memiliki lanskap perbukitan dan kehidupan pedesaan yang berbeda dari dataran di sekitar candi. Namun artikel ini sengaja tidak merinci objek, jalur, atau paket tertentu di Ngargoretno, karena sumber yang dibaca lebih menekankan pada model pengelolaan berbasis masyarakat daripada pada daftar atraksi yang dapat diverifikasi secara rinci.

Yang dapat dipelajari dari Ngargoretno adalah pentingnya tata kelola. Desa wisata berbasis masyarakat, sebagaimana dibahas dalam jurnal tersebut, tidak hanya soal memiliki pemandangan atau kerajinan, melainkan soal siapa yang memutuskan, siapa yang mengelola, dan siapa yang menerima manfaat. Pelatihan bagi pengelola, dukungan anggaran, dan kerja sama dengan pemerintah daerah adalah unsur-unsur yang menentukan apakah desa wisata dapat bertahan setelah perhatian awal mereda. Pengunjung yang memahami hal itu akan lebih menghargai desa yang mungkin belum memiliki fasilitas selengkap desa di sekitar Borobudur, tetapi sedang membangun fondasi yang lebih kokoh.

Ngargoretno juga menjadi pengingat bahwa tidak semua desa wisata harus dikunjungi dengan ekspektasi yang sama. Sebagian desa cocok untuk kunjungan yang terstruktur dan padat kegiatan, sebagian lain lebih cocok untuk kunjungan yang tenang, berbincang dengan warga, dan memahami proses pembangunan desa. Keduanya sah, asalkan pengunjung menyesuaikan ekspektasi dengan kesiapan desa, dan tidak menuntut desa yang sedang berkembang untuk tampil seperti destinasi yang sudah matang.

Apa Itu Balkondes dan Mengapa Ia Sering Muncul dalam Daftar Ini

Pembaca yang membaca daftar di atas akan sering menemukan kata Balkondes. Istilah itu adalah singkatan dari Balai Ekonomi Desa, yakni bangunan dan kawasan yang dibangun dengan dukungan badan usaha milik negara, lalu dikelola oleh desa melalui pemerintah desa atau badan usaha milik desa, dengan pendampingan dari pengelola kawasan Borobudur dan pihak terkait. Penelitian tentang desa wisata di Magelang mencatat dua puluh Balkondes di kawasan Borobudur, termasuk Balkondes Wanurejo, Borobudur, Candirejo, Karangrejo, Giritengah, Majaksingi, Ngargogondo, Tuksongo, Karanganyar, dan sejumlah desa lainnya.

Fungsi Balkondes perlu dipahami secara tepat. Balkondes bukan desa wisata itu sendiri, melainkan simpul ekonomi dan kegiatan di dalam desa wisata. Di Balkondes, pengunjung dapat menginap, mengadakan pertemuan, menyaksikan pertunjukan, membeli produk warga, dan mendapatkan informasi tentang kegiatan desa. Akan tetapi, desa wisata yang sesungguhnya tetaplah desa itu sendiri: sawah, bengkel, dapur, halaman, dan warga yang tinggal di dalamnya. Seorang pengunjung yang hanya menginap di Balkondes tanpa berjalan di desa akan mendapatkan pengalaman yang tidak lengkap, sebagaimana seorang pengunjung yang hanya mengunjungi candi tanpa memahami desa-desa di sekitarnya.

Pemahaman ini juga membantu pembaca membedakan antara desa wisata dan objek wisata. Objek wisata adalah satu titik, misalnya candi, air terjun, atau puncak bukit. Desa wisata adalah satu kesatuan kehidupan, tempat berbagai titik, kegiatan, dan warga saling terkait. Karena itu, desa wisata tidak dapat dinilai hanya dari satu foto atau satu bangunan. Desa wisata dinilai dari apakah pengunjung dapat merasakan kehidupan desa secara utuh, apakah warga terlibat sebagai pelaku utama, dan apakah manfaat ekonomi dari kunjungan sampai kepada warga.

Dalam konteks Kabupaten Magelang, Balkondes juga menunjukkan peran negara dan badan usaha milik negara dalam pembangunan pariwisata pedesaan. Dukungan pembangunan fisik dari badan usaha milik negara, pendampingan dari pengelola kawasan, dan pengelolaan oleh badan usaha milik desa adalah model yang khas di kawasan Borobudur, dan tidak selalu ditemukan di kabupaten lain dengan bentuk yang sama. Model ini memiliki kelebihan, yakni desa mendapatkan bangunan dan modal awal, dan memiliki tantangan, yakni perlunya kejelasan pembagian kerja antara kelompok sadar wisata, Balkondes, dan badan usaha milik desa, sebagaimana dicatat dalam penelitian tentang Ngargogondo.

Etika Berkunjung dan Cara Merencanakan Kunjungan

Desa wisata, pada akhirnya, adalah tempat tinggal. Karena itu, etika berkunjung menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman, bukan tambahan yang dapat diabaikan. Pengunjung sebaiknya meminta izin sebelum memotret warga dari dekat, terutama anak-anak, sebagaimana disarankan dalam panduan wisata untuk desa-desa di kawasan Borobudur. Pengunjung juga sebaiknya berpakaian sopan, memakai alas kaki yang nyaman untuk berjalan di jalan desa dan sawah, dan membawa perlengkapan yang sesuai dengan cuaca, karena sebagian kegiatan dilakukan di luar ruang.

Perencanaan yang baik dimulai dari menghubungi pengelola desa. Pengunjung sebaiknya menanyakan kegiatan yang tersedia pada tanggal kunjungan, jumlah peserta yang dapat dilayani, kebutuhan khusus bagi anak-anak atau rombongan lanjut usia, serta tarif dan ketentuan terbaru. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan formalitas, melainkan cara untuk memastikan bahwa kunjungan tidak mengganggu kegiatan warga, misalnya panen, upacara, atau kegiatan sekolah. Pengelola desa, pada umumnya, lebih mudah mengatur kunjungan yang dikabarkan sebelumnya daripada kunjungan yang datang tiba-tiba dalam jumlah besar.

Pengunjung juga sebaiknya menyiapkan diri untuk ketidakpastian yang wajar. Kegiatan pertanian bergantung pada musim, kegiatan kesenian bergantung pada jadwal latihan dan pertunjukan, dan kegiatan kerajinan bergantung pada ketersediaan bahan dan pesanan yang sedang dikerjakan perajin. Ketidakpastian itu bukan kekurangan, melainkan ciri dari pariwisata yang berbasis pada kehidupan nyata. Desa yang kegiatannya selalu sama setiap hari, tanpa dipengaruhi musim dan kehidupan warga, justru patut dipertanyakan keasliannya.

Dari sisi belanja, pengunjung disarankan membeli produk langsung dari perajin atau dari galeri komunitas desa, bukan dari perantara yang tidak jelas asal produknya. Membeli langsung tidak hanya memastikan bahwa produk itu asli, melainkan juga memastikan bahwa sebagian besar nilai ekonomi dari pembelian itu sampai kepada pembuatnya. Membawa pulang gerabah dari Karanganyar, batik dari Tuksongo atau Majaksingi, tahu atau besek dari Majaksingi, atau tanaman hias dari Kebonsari, dengan demikian, bukan sekadar membawa suvenir, melainkan membawa cerita tentang tangan yang membuatnya.

Dari sisi lingkungan, pengunjung sebaiknya menjaga kebersihan jalur pendakian dan jalan desa, tidak memetik tanaman di kebun warga tanpa izin, tidak merusak instalasi atau peralatan lokakarya, dan mengikuti arahan pemandu lokal. Di kawasan Menoreh, terutama di jalur menuju Suroloyo, menjaga kebersihan dan menghormati tempat-tempat yang memiliki makna bagi warga adalah bagian dari etika yang sama dengan meminta izin sebelum memotret.

Penutup: Desa-Desa yang Saling Melengkapi, Bukan Saling Menggantikan

Desa wisata di Kabupaten Magelang, selain Candirejo, pada akhirnya saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Karangrejo menawarkan pertanian organik dan penginapan yang tertata, Karanganyar menawarkan gerabah yang diwariskan turun-temurun, Wanurejo menawarkan Balkondes dan kehidupan desa di sisi Borobudur, Ngargogondo menawarkan bahasa dan kegiatan pertanian, Bumiharjo menawarkan permainan tradisional, Tuksongo menawarkan batik dan seni pertunjukan, Giritengah dan Majaksingi menawarkan Menoreh dan kerajinan rumahan, Ngadiharjo dan Kebonsari menawarkan penginapan dan usaha pangan, dan Ngargoretno menawarkan pelajaran tentang tata kelola berbasis masyarakat di Salaman.

Dengan peta seperti itu, pembaca tidak perlu mengunjungi semua desa dalam satu perjalanan. Justru sebaliknya, pembaca dapat memilih satu atau dua desa yang paling sesuai dengan minat, menghabiskan waktu yang cukup di sana, dan menyimpan desa-desa lain untuk kunjungan berikutnya. Cara seperti itu lebih menghormati warga, lebih memberi manfaat ekonomi yang merata, dan lebih memberi pengalaman yang dapat diingat, daripada kunjungan yang berpindah-pindah dengan tergesa-gesa.

Bagi pembaca yang baru mengenal Desa Wisata Candirejo, artikel tentang Candirejo di KabarTidar dapat dibaca sebagai pembanding, untuk memahami pola umum desa wisata di kawasan Borobudur. Bagi pembaca yang sudah mengenal Candirejo, artikel ini menawarkan langkah berikutnya: keluar dari satu desa yang sudah dikenal, dan menjelajahi desa-desa lain yang masing-masing memiliki cerita, keterampilan, dan lanskapnya sendiri. Kabupaten Magelang, dengan cara itu, tidak hanya dikenal lewat satu candi, melainkan juga lewat desa-desa yang hidup di sekitarnya.

Informasi lebih lanjut tentang salah satu desa dalam artikel ini dapat ditelusuri melalui portal resmi pariwisata Indonesia tentang Desa Wisata Karangrejo, yang memaparkan pertanian organik, produk rumah tangga, dan penginapan di desa tersebut. Sebelum berangkat, pembaca tetap disarankan mengonfirmasi kegiatan, tarif, dan ketentuan terbaru kepada pengelola desa yang dituju, karena desa wisata adalah tempat yang hidup dan terus berubah mengikuti musim, kegiatan warga, dan perkembangan pengelolaannya.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

1 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *