Sabtu, 24 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Grebeg Kupat Magelang: dari Tradisi Desa Banjarnegoro menjadi…
Wisata

Grebeg Kupat Magelang: dari Tradisi Desa Banjarnegoro menjadi Agenda Tahunan Kabupaten

Dari Dusun Dawung hingga Lapangan drh. Soepardi: Grebeg Kupat mengubah kupat berisi uang dan voucher menjadi pesta rakyat, simbol ngaku lepat, dan etalase tahunan Kabupaten Magelang.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 24 Oktober 2026 · 19.25 WIB
Ilustrasi gunungan ketupat raksasa yang diperebutkan warga di lapangan dengan latar pegunungan
Ilustrasi gunungan ketupat raksasa yang diperebutkan warga di lapangan. (Ilustrasi: KabarTidar)

Sebanyak 7 gunungan berisi sekitar 7.000 ketupat diserbu ribuan warga di Lapangan drh. Soepardi, Sawitan, Kota Mungkid, Sabtu (28/3/2026). Tradisi Grebeg Kupat Kabupaten Magelang tahun 2026 itu berlangsung meriah sejak pagi, menjadi magnet masyarakat dari berbagai wilayah, dan menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Magelang. Hanya dalam dua tahun, Grebeg Kupat berubah dari tradisi desa menjadi agenda tahunan kabupaten, tanpa kehilangan maknanya: kupat sebagai simbol ngaku lepat, saling mengakui kesalahan di momen Idulfitri.

Perubahan skala itu terlihat dari angkanya. Pada edisi pertama tingkat kabupaten, Minggu (6/4/2025), ada dua gunungan yang disusun dari 2.025 selongsong kupat. Setahun kemudian, jumlahnya melesat menjadi tujuh gunungan dengan sekitar 7.000 ketupat, dibuat bersama oleh organisasi perangkat daerah (OPD) dan badan usaha milik daerah (BUMD) Kabupaten Magelang, lalu diarak dari MAJT Jawa Tengah 2 menuju Lapangan drh. Soepardi mulai pukul 08.00 WIB untuk kemudian diperebutkan masyarakat dalam prosesi grebeg.

Grebeg Kupat: Dari Dawung ke Lapangan Soepardi

Sebelum naik ke tingkat kabupaten, Grebeg Kupat sudah berjalan di Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, setiap tahunnya. Tradisi di Dusun Dawung, Banjarnegoro, itu terdokumentasi setidaknya pada Rabu (26/4/2023), ketika warga tampak antusias berebut gunungan ketupat berisi uang. Pola yang sama bertahan hingga kini: ketupat disusun menjadi gunungan, lalu diperebutkan warga, dengan isi yang membuat jantung berdegup, uang tunai dan voucher.

Pada gelaran kabupaten pertama, 6 April 2025, Pemerintah Kabupaten Magelang menyelenggarakan Grebeg Kupat dengan sangat meriah di Lapangan drh. Soepardi, Kota Mungkid. Pada grebeg itu terdapat dua gunungan kupat yang diperebutkan masyarakat. Kupat tersebut telah diisi uang pecahan mulai dari Rp2.000 hingga Rp100.000 serta voucher wisata di Kabupaten Magelang, dengan jumlah kupat yang disusun pada gunungan tersebut sebanyak 2.025 selongsong. Kegiatan itu juga dimeriahkan pentas kesenian tradisional dari berbagai desa di Kabupaten Magelang, di antaranya kesenian wayang orang dari Desa Wonolelo, Sawangan, dan tari Soreng dari Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngablak.

Acara 2025 itu dihadiri Wakil Menteri Sosial RI Agus Jabo Priyono, Bupati Magelang Grengseng Pamuji, Wakil Bupati H. Sahid, serta Kapolresta Magelang Kombes Pol Herbin Sianipar dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah lainnya. Kehadiran mereka menandai betapa pentingnya peristiwa budaya ini dalam membangun semangat kebersamaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Wakil Menteri Sosial menyebut Grebeg Kupat sebagai simbol kebangkitan dan semangat kemandirian masyarakat. “Kami ingin rakyat Magelang bisa mandiri, berdaya secara ekonomi. Pemerintah hadir memberikan peluang, bukan sekadar bantuan,” katanya.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, sebelumnya Grebeg Kupat sudah berjalan di Desa Banjarnegoro setiap tahunnya, namun pada 2025 budaya itu dilaksanakan di tingkat Kabupaten Magelang sehingga dapat lebih dinikmati masyarakat luas. “Jadi mulai hari ini insya Allah Grebeg Kupat akan menjadi agenda rutin tahunan di Kabupaten Magelang,” kata Grengseng Pamuji. Ia berharap Grebeg Kupat dapat berdampak positif dan meningkatkan partisipasi masyarakat, terutama di bidang UMKM, sehingga roda perekonomian masyarakat dapat terus berputar dan lebih berkembang. Di sisi lain, ia berharap kegiatan ini juga bisa berdampak positif di sektor pariwisata. Menurutnya, ini adalah momentum untuk mendorong Kabupaten Magelang menjadi destinasi wisata nasional yang tidak hanya tergantung oleh keberadaan Candi Borobudur.

Setahun kemudian, janji agenda tahunan itu ditepati. Grebeg Kupat 2026 digelar sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Magelang, dengan konsep peringatan Hari Jadi Kota Mungkid ke-42 yang digelar sederhana namun tetap ada Grebeg Kupat dan Festival Balon Udara. Selain Grebeg Kupat, rangkaian acara masih berlanjut dengan pertunjukan wayang orang pada malam hari serta agenda penerbangan balon udara pada Minggu pagi. Pemerintah berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan aman, tertib, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Kupat: Ngaku Lepat dan Empat L

Mengapa ketupat? Dalam tradisi Jawa, masyarakat umumnya mengenal dua kali pelaksanaan Lebaran, yakni Idulfitri dan Lebaran ketupat. Tradisi Lebaran ketupat dikenal dengan istilah Syawalan, karena waktunya bertepatan dengan bulan Syawal, tepatnya pada hari ketujuh bulan Syawal. Tradisi ini dikaitkan dengan Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali atau Walisongo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Setelah salat Id, masyarakat Jawa biasanya tidak langsung pulang ke rumah, melainkan berkunjung dari rumah ke rumah untuk silaturahim ke sanak keluarga, saudara, hingga tetangga. Sehari setelah Idulfitri, umumnya masyarakat Jawa melaksanakan puasa sunnah bulan Syawal selama enam hari, setelah itu barulah mereka mengadakan acara halal bihalal dan Lebaran ketupat.

Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari kata bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Dengan ketupat, sesama muslim diharapkan mengakui kesalahan dan saling memaafkan serta melupakan kesalahan dengan cara memakan ketupat. Bupati Grengseng mengulang makna itu di sela Grebeg Kupat 2026: “Grebeg Kupat ini menjadi sarana hubungan antara pemerintah daerah dengan masyarakat untuk menyatu dalam mewujudkan visi pembangunan. Secara filosofis, kupat ini melambangkan ‘ngaku lepat’, saling mengakui kesalahan di momen Idul Fitri sebagai modal membangun ke depan.”

Makna kupat diperkaya lagi dalam tafsir empat “L”: lebar atau telah selesai beribadah puasa, luber yakni mudah memaafkan terhadap sesama, lebur atau saling memaafkan, dan labur yang memiliki arti kembali putih. Bungkus ketupat yang dibuat dari janur kuning pun memiliki makna penolak bala bagi orang Jawa, sedangkan bungkus segi empat mencerminkan prinsip “kiblat papat lima pancer” yang bermakna, ke mana pun manusia menuju, pasti suatu saat kembali pada Allah. Biasanya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Dalam ritual yang diadakan sekitar sepekan setelah Lebaran ini, selain terdapat hubungan manusia dengan Tuhan (habluminallah), sekaligus manusia dengan manusia (habluminannas). Tradisi warisan leluhur ini dinilai sangat baik dilaksanakan dan dilestarikan karena nguri-nguri kebudayaan daerah, dan menjadi salah satu wujud berkepribadian dalam kebudayaan.

Grebeg: dari Keraton hingga Desa

Kata grebeg sendiri dalam bahasa Jawa berarti berdesakan, dan itu tepat menggambarkan inti acaranya: kerumunan warga yang berdesakan memperebutkan gunungan. Tradisi grebeg diwariskan turun-temurun sejak Kerajaan Mataram Islam dan hidup subur di dua pusat kebudayaan Jawa, Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Pada level filosofis, grebeg merupakan manifestasi rasa syukur sultan kepada Tuhan atas limpahan kemakmuran, sekaligus pernyataan kedermawanan raja kepada rakyatnya melalui simbol gunungan, tumpukan hasil bumi yang disusun menyerupai bukit kecil. Gunungan menjadi “jembatan” antara doktrin Islam, kebijakan sosial-politik keraton, dan kearifan ekologi agraris masyarakat Jawa.

Secara historis, grebeg bermula dari strategi dakwah Wali Songo yang menempuh metode kultural: menanamkan ajaran Islam melalui medium seni dan ritus komunal agar selaras dengan laku budaya setempat. Sunan Kalijaga, tokoh sentral dakwah di wilayah Demak-Mataram, menyisipkan unsur syariat pada seremoni ucapan syukur agraris Hindu-Buddha, sehingga lahirlah gunungan sebagai simbol jabal, gunung yang disebut dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 16, dengan iringan prajurit berkuda yang menyerupai tawaf mengelilingi Ka’bah. Waktu pelaksanaan diletakkan pada momen sakral kalender Hijriah, yakni Syawal, Maulid, dan Zulhijah, agar unsur teologi semakin kuat.

Versi Magelang adalah kelanjutan tradisi itu di tangan rakyat, bukan keraton. Tidak ada sultan yang membagikan hasil bumi dari atas panggung, melainkan pemerintah kabupaten dan warga yang bersama-sama menyusun gunungan, mengaraknya, lalu memperebutkannya. Isinya pun menyesuaikan zaman: selain ketupat, ada uang tunai dan voucher wisata. Tetapi logikanya sama dengan grebeg keraton, syukur yang diwujudkan dengan memberi, dan memberi yang dirayakan bersama-sama. Ketika Bupati Grengseng menyebut Grebeg Kupat sebagai sarana hubungan pemerintah daerah dengan masyarakat, ia sebenarnya mengulang fungsi lama gunungan itu, hanya saja rajanya kini adalah pemerintah daerah, dan rakyatnya adalah warga satu kabupaten.

Tujuh Gunungan: Petulungan, Petuduh, Petutur

Jumlah gunungan pada 2026 bukan tanpa makna. Bupati Magelang menjelaskan, jumlah tujuh gunungan yang dihadirkan bukan tanpa makna, karena angka tujuh dalam tradisi Jawa melambangkan pertolongan, petunjuk, dan nasihat kebaikan. “Tujuh gunungan ini melambangkan petulungan, petuduh, dan petutur. Harapannya Kabupaten Magelang selalu mendapat berkah serta dalam menjalankan pemerintahan kami diberikan pertolongan dan petunjuk,” imbuhnya.

Di balik angka itu, ada pesan politik yang sengaja dibuat merakyat: Grebeg Kupat merupakan bentuk kedekatan antara pemerintah daerah dengan masyarakat, sekaligus simbol persatuan dalam membangun daerah. Gunungan yang dibuat bersama OPD dan BUMD, diarak bersama, lalu diperebutkan bersama, menjadi gambaran pemerintahan yang ingin menyatu dengan warganya, bukan sekadar memberi dari atas panggung. Filosofi ngaku lepat pun dibalik menjadi modal pembangunan: pemerintah dan masyarakat sama-sama mengakui kekurangan, saling memaafkan, lalu melangkah ke depan dengan putih kembali.

Rangkaian 2026 itu sendiri dibingkai sebagai peringatan Hari Jadi Kota Mungkid ke-42 yang digelar sederhana, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, namun dengan semangat kebersamaan, kepedulian sosial, dan pelestarian tradisi lokal yang tetap menjadi ruh utama setiap rangkaian kegiatan. Dengan konsep sederhana namun sarat makna, Hari Jadi Kota Mungkid ke-42 diharapkan tetap menjadi momentum untuk memperkuat persatuan masyarakat serta menumbuhkan optimisme di tengah berbagai tantangan yang dihadapi daerah maupun bangsa. Dalam bingkai itu, tujuh gunungan bukan sekadar tontonan: ia adalah pernyataan bahwa di tengah kesederhanaan, tradisi tetap dirayakan, dan pemerintah tetap hadir bersama warganya.

Pesan itu pula yang membuat Grebeg Kupat berbeda dari sekadar pesta rebutan. Di banyak daerah, gunungan hasil bumi diperebutkan karena dipercaya membawa berkah. Di Magelang, gunungan kupat berisi uang dan voucher wisata menambahkan lapisan ekonomi yang terang-terangan: yang diperebutkan bukan hanya berkah simbolis, melainkan daya beli dan kunjungan wisata. Bupati Grengseng sejak 2025 sudah menegaskan arah itu, bahwa Grebeg Kupat harus menggairahkan UMKM dan pariwisata, dan menjadi momentum agar Kabupaten Magelang menjadi destinasi wisata nasional yang tidak hanya tergantung pada Candi Borobudur.

Syawalan Magelang: Balon Payaman dan Pesta Rakyat

Grebeg Kupat tidak berdiri sendiri dalam kalender Syawalan Magelang. Di Dusun Kauman, Desa Payaman, rangkaian acara Hari Raya Idulfitri diisi dengan Festival Balon Syawalan. Tradisi ini sudah berlangsung lama, sejak tahun 1980-an, diadakan untuk memperingati Lebaran Ketupat. Sekitar 150 balon udara tradisional diterbangkan sebagai tanda Syawalan, dengan dua lokasi pelepasan: halaman depan Masjid Agung Kauman dan lapangan dusun setempat, dan tema tiap tahun berganti-ganti mengikuti momentum yang sedang hangat saat itu. Pada rangkaian Hari Jadi 2026, Festival Balon Udara digelar pada Minggu pagi, 29 Maret 2026, di Lapangan drh. Soepardi, sehari setelah Grebeg Kupat, sehingga akhir pekan Syawalan di Kota Mungkid menjadi paket lengkap: gunungan pada Sabtu, balon pada Minggu, wayang orang pada malam harinya.

Materi promosi resmi Grebeg Kupat 2026 menyebut pentas kesenian, puluhan stan UMKM, hingga tradisi rebutan gunungan kupat sebagai daya tariknya, dan mengajak keluarga, sahabat, dan orang tersayang merasakan kemeriahan yang hanya hadir setahun sekali di Lapangan drh. Soepardi, Kota Mungkid. Pola ini menjelaskan mengapa Pemkab Magelang serius menjadikan Grebeg Kupat agenda tahunan: ia menggerakkan tiga hal sekaligus, pelestarian tradisi, panggung kesenian desa, dan perputaran ekonomi pedagang kecil di sekitar lapangan. Voucher wisata yang diselipkan di dalam kupat pada 2025 adalah contoh paling harfiah dari logika itu: promosi pariwisata yang dibungkus tradisi, lalu diperebutkan warga dengan tangan sendiri.

Magelang pun bukan satu-satunya daerah yang merayakan Syawalan dengan kupat. Kalender Syawalan Jawa Tengah 2026 mencatat berbagai agenda sejenis di kabupaten lain, seperti Festival Syawalan di Kaliwungu, Kendal, Bakdo Kupat di Delanggu, Klaten, Tradisi Sewu Kupat di Kudus, hingga Gebyar Syawalan di Tlatar, Boyolali. Masing-masing punya bentuknya sendiri, tetapi akarnya sama: seminggu setelah Idulfitri, masyarakat Jawa menutup Lebaran dengan ketupat, silaturahim, dan saling memaafkan. Yang membedakan Magelang adalah kemasan kabupatennya: gunungan yang dibuat OPD dan BUMD, diarak dari MAJT, diperebutkan di lapangan ibu kota, dan dirangkai dengan wayang orang serta balon udara menjadi satu akhir pekan Syawalan.

Kota Mungkid sendiri, sebagai ibu kota Kabupaten Magelang, menjadi panggung yang tepat untuk agenda itu. Lapangan drh. Soepardi di Sawitan bukan sekadar lapangan: ia adalah ruang publik pusat pemerintahan kabupaten, tempat warga dari berbagai wilayah berkumpul. Ketika ribuan warga memadati lokasi sejak pagi untuk menyaksikan sekaligus mengikuti prosesi perebutan gunungan, lapangan itu berubah menjadi etalase kabupaten, tempat pemerintah dan masyarakat bertemu tanpa sekat panggung dan podium.

Pekerjaan Rumah: Grebeg yang Aman

Meski berlangsung meriah, Bupati menyoroti pentingnya evaluasi tata kelola kegiatan agar ke depan lebih tertib dan aman bagi masyarakat. “Ke depan panitia perlu memperbaiki tata kelola. Harus diatur dengan jelas kapan gunungan bisa diambil agar tidak menimbulkan risiko seperti berdesakan atau terinjak. Ini penting supaya masyarakat tetap aman dan nyaman,” tegasnya. Catatan yang sama sebenarnya sudah disampaikan sejak edisi pertama tingkat kabupaten pada 2025, ketika Bupati mengatakan kegiatan yang baru pertama kali dilaksanakan di tingkat kabupaten itu masih perlu dilakukan evaluasi oleh panitia penyelenggara sehingga lebih baik di tahun-tahun yang akan datang.

Terkait adanya informasi dugaan aksi pencopetan di tengah kerumunan pada 2026, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman. Kapolresta Magelang menyebut pihaknya tengah mengumpulkan data untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, apakah benar terjadi tindak pidana pencopetan atau kemungkinan kelalaian seperti barang jatuh atau hilang, dan menegaskan hal itu masih ditangani anggota di lapangan. Ia mengimbau masyarakat yang mengikuti kegiatan dengan kerumunan besar agar selalu menjaga barang pribadinya, dan jika terjadi tindak pidana, segera melapor kepada petugas di lokasi. Artikel ini menulis dugaan itu sebagai dugaan yang masih diverifikasi polisi, bukan sebagai fakta yang sudah terbukti, karena kepolisian sendiri menyatakan masih mengumpulkan data.

Menariknya, evaluasi itu sendiri sudah menunjukkan kemajuan dari tahun ke tahun. Pada 2025, catatannya masih umum: kegiatan yang baru pertama kali di tingkat kabupaten perlu dievaluasi agar lebih baik. Pada 2026, catatannya sudah spesifik: aturan yang jelas tentang kapan gunungan boleh diambil, demi mencegah desakan dan injakan, plus pendalaman polisi atas dugaan pencopetan. Sebuah tradisi yang mau dievaluasi secara terbuka seperti itu sedang belajar menjadi agenda besar yang profesional, bukan sekadar keramaian tahunan yang dibiarkan berulang dengan risiko yang sama.

Evaluasi itu penting justru karena Grebeg Kupat kini sudah menjadi agenda tahunan. Tradisi yang lahir dari desa, tempat semua orang saling kenal, kini menampung ribuan warga dari berbagai wilayah di lapangan kabupaten. Aturan kapan gunungan boleh diambil, jalur kerumunan, dan pengamanan barang bawaan menjadi syarat agar makna ngaku lepat tidak tercoreng oleh insiden yang sebenarnya bisa dicegah. Di sinilah ujian kedewasaan sebuah tradisi yang naik kelas: bukan hanya soal berapa banyak ketupat yang disusun, melainkan seberapa aman ribuan tangan yang memperebutkannya.

Menonton Grebeg Kupat: yang Perlu Diketahui

Bagi pembaca yang ingin menyaksikan Grebeg Kupat berikutnya, ada beberapa hal praktis yang patut dicatat. Pertama, waktunya: Grebeg Kupat adalah agenda tahunan pada musim Syawalan, sekitar sepekan setelah Idulfitri, sehingga tanggalnya mengikuti kalender Hijriah dan bergeser setiap tahun. Pada 2025 ia digelar 6 April, pada 2026 digelar 28 Maret, keduanya di Lapangan drh. Soepardi, Sawitan, Kota Mungkid. Kedua, datanglah pagi: pada 2026, ribuan warga sudah memadati lokasi sejak pagi, dan gunungan diarak mulai pukul 08.00 WIB, sehingga datang siang berarti hanya menyaksikan sisa perebutan. Ketiga, lalu lintas di sekitar lapangan pada 2025 sempat dialihkan, jadi siapkan rute alternatif dan ikuti arahan petugas.

Keempat, jagalah barang bawaan. Imbauan Kapolresta Magelang pada 2026 itu lahir dari pengalaman nyata kerumunan besar: dompet, ponsel, dan barang berharga mudah berpindah tangan atau terjatuh tanpa disadari di tengah desakan. Datanglah dengan barang seperlunya, simpan di tempat yang aman, dan segera lapor kepada petugas di lokasi bila terjadi sesuatu. Kelima, luangkan waktu untuk stan UMKM dan pentas kesenian: wayang orang, tari Soreng, dan puluhan pedagang kecil adalah bagian dari acara yang sama pentingnya dengan gunungan itu sendiri, karena merekalah yang membuat Grebeg Kupat menjadi pesta rakyat, bukan sekadar antrean rebutan.

Pada akhirnya, Grebeg Kupat adalah cerita tentang skala yang berubah tanpa makna yang hilang. Dari Dusun Dawung di Banjarnegoro hingga Lapangan drh. Soepardi di Kota Mungkid, dari gunungan desa hingga tujuh gunungan kabupaten berisi sekitar 7.000 ketupat, yang diperebutkan tetaplah kupat yang sama: nasi yang dibungkus janur, dimakan setelah saling mengakui kesalahan, dengan harapan kembali putih. Yang bertambah hanyalah panggungnya, dan dengan itu, tanggung jawab untuk menjaganya tetap aman, tertib, dan bermanfaat bagi warga yang datang. Setahun sekali, pada musim Syawalan, Magelang mengingatkan dirinya sendiri lewat cara yang paling merakyat: berebut, lalu memaafkan.

Edisi berikutnya akan menguji apakah janji agenda tahunan itu bertahan dan apakah evaluasi tata kelola benar-benar dijalankan. Jika gunungan 2025 yang berisi uang dan voucher adalah awal, dan tujuh gunungan 2026 adalah penegasan, maka edisi Syawalan berikutnya adalah pembuktian: bahwa tradisi yang naik kelas bisa tetap meriah tanpa mengorbankan keselamatan, dan bahwa kupat yang diperebutkan ribuan tangan tetap bermakna ngaku lepat, bukan sekadar rebutan isi.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *