Sabtu, 24 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Sumbu Aksis Budaya: Garis Lurus Borobudur, Pawon, dan…
Wisata

Sumbu Aksis Budaya: Garis Lurus Borobudur, Pawon, dan Mendut yang Menyimpan Tahapan Pencerahan

Tiga candi Buddha di Magelang berdiri pada satu garis lurus. Bukan sekadar kebetulan tata ruang: garis itu dibaca sebagai tahapan batin, dari rahim welas asih di Mendut, dapur penyucian di Pawon, hingga puncak pencerahan di Borobudur.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 24 Oktober 2026 · 18.53 WIB
Ilustrasi tiga candi Buddha berderet pada satu garis lurus di dataran hijau dengan matahari terbit
Ilustrasi tiga candi Buddha berderet pada satu garis lurus, dari yang kecil hingga Borobudur di ujung poros. (Ilustrasi: KabarTidar)

Tiga candi Buddha di Kabupaten Magelang berdiri pada satu garis lurus. Candi Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut membentuk apa yang kini disebut Sumbu Aksis Budaya, garis imajiner yang ditetapkan UNESCO sebagai satu kesatuan Warisan Dunia pada 1991 dengan nomor referensi 592. Ketiganya dibangun pada masa Dinasti Syailendra, sekitar abad ke-8 hingga ke-9, dan hingga kini masih dikunjungi umat Buddha dari berbagai belahan dunia untuk puja bakti.

Yang membuat garis ini lebih dari sekadar kebetulan tata ruang adalah maknanya: perjalanan menyusuri ketiga candi itu dibaca sebagai tahapan batin yang bertingkat. Di Mendut, peziarah memulai dengan belajar dan meditasi. Di Pawon, ia menjalani penyucian diri. Di Borobudur, ia mencapai puncak pencerahan dan penyatuan dengan kebenaran sejati. Satu garis, tiga candi, tiga tahap menuju kesadaran tertinggi.

Sumbu Aksis Budaya: Garis yang Ditemukan Saat Pemugaran

Kesegarisan ketiga candi itu baru disadari saat pemugaran pada awal abad ke-20. Dalam deskripsi arkeologisnya pada 1927, N. J. Krom mencatat bahwa tiga candi Buddha di kawasan ini, Borobudur, Pawon, dan Mendut, terletak pada satu garis lurus. Menurut Balai Konservasi Borobudur, Candi Pawon berada tepat pada poros yang menghubungkan Candi Borobudur dengan Candi Mendut. Temuan itu kemudian menjadi dasar penetapan UNESCO: Borobudur Temple Compounds, sebutan warisan dunia untuk kawasan tiga candi Buddha di Jawa Tengah, mencakup Borobudur, Mendut, dan Pawon, dengan kriteria budaya i, ii, dan vi.

Apakah garis itu sengaja dirancang atau kebetulan? Para ahli tidak menutup kemungkinan keduanya. Kesegarisan itu mungkin kebetulan, tetapi selaras dengan cerita rakyat setempat bahwa dahulu terdapat jalan bata kuno dari Borobudur ke Mendut dengan dinding di kedua sisinya. Ketiga candi memiliki arsitektur dan hiasan yang serupa, yang menunjukkan hubungan ritual antara ketiganya untuk membentuk kesatuan suci, meskipun proses ritual yang tepat tidak diketahui. Kajian klasik tentang hubungan ketiganya ditulis J. L. Moens pada 1951 dengan judul “Barabudur, Mendut en Pawon en hun onderlinge samenhang”, Borobudur, Mendut, dan Pawon serta hubungan timbal baliknya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sumbu aksis adalah garis lurus yang digunakan sebagai acuan untuk berputar, simetri, atau mengukur koordinat. Sumbu aksis berfungsi sebagai elemen utama yang memberikan struktur penataan, menciptakan keteraturan yang simetri, orientasi, dan hirarki visual pada tata letak bangunan di suatu kawasan. Sebuah monumen, bangunan sakral, ataupun bangunan penting lainnya sering dibangun dalam satu sumbu yang sejajar, sehingga menjadikannya titik fokus visual yang kuat. Dalam hal ini, sumbu aksis Borobudur, Pawon, dan Mendut memiliki nilai spiritual dan budaya yang tinggi untuk menciptakan kesakralan bangunan tersebut.

Penataan candi yang membentuk garis lurus juga menunjukkan tingkat pengetahuan arsitektur dan astronomi yang tinggi. Menurut kajian yang diwawancarai pendeta Buddha aliran Shingon, Hendrick Tanuwidjaja, pada 2025, sistem ini berkaitan dengan konsep Wasu Sastra, naskah arsitektur kuno dari India yang juga digunakan dalam tradisi Buddhis. Masyarakat masa itu sudah memahami bagaimana menggabungkan geometri, arah astronomis, dan nilai spiritual ke dalam arsitektur. Orientasi sumbu ke arah Gunung Merapi menunjukkan kesadaran kosmologis, bahwa bangunan suci harus selaras dengan alam dan arah semesta. Dalam kosmologi Hindu-Buddha, Merapi dimaknai sebagai Gunung Meru, gunung suci sebagai pusat alam semesta, sehingga garis ini dapat dimaknai sebagai poros spiritual yang menggambarkan perjalanan manusia menuju pencerahan, simbol jalan Dharma, jalan menuju kebijaksanaan dan kesempurnaan batin.

Ada pula tafsir langit atas garis ini: sebuah kajian di Jurnal STUPA Universitas Tarumanagara (April 2026) mencatat bahwa menurut penelitian ahli perbintangan, kesegarisan Borobudur, Pawon, dan Mendut terkait dengan tiga bintang pada rasi Orion yang dinamai Alnitak, Alnilam, dan Mintaka. Tafsir ini disampaikan di sini sebagai pendapat peneliti, bukan kesepakatan para ahli: kesegarisan di darat sudah pasti, padanannya di langit masih menjadi bahan perdebatan.

Mendut: Gerbang Belajar dan Meditasi

Perjalanan ziarah secara tradisional dimulai dari Candi Mendut, yang terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, sekitar 3 kilometer dari Candi Borobudur. Candi bercorak Buddha Mahayana ini ditemukan kembali pada 1836 dalam kondisi tertimbun tanah dan ditumbuhi semak belukar. Pada tahun itu candi mulai dibersihkan, dan seluruh bangunan diketemukan kecuali bagian atapnya. Pada 1897–1904 dilakukan usaha penggalian, pemugaran, dan perbaikan perdana oleh Belanda, yang berhasil membangun bagian kaki dan tubuh candi. Pada 1908, T. Van Erp melanjutkan perbaikan Candi Mendut bersamaan dengan perbaikan Candi Borobudur, namun perbaikan itu belum selesai karena atapnya belum dapat dipasang. Pada 1925, perbaikan berikutnya menghasilkan beberapa stupa kecil yang dapat dipasangkan kembali pada atap candi.

Candi Mendut diperkirakan lebih tua dari Candi Borobudur, atau paling tidak masih sezaman. Perkiraan itu berdasarkan temuan tulisan pendek (inskripsi) yang diduga berasal dari bagian atas pintu masuk. Dari segi paleografis, tulisan itu ada persamaan dengan tulisan-tulisan pendek yang tertera pada bagian atas panel relief Karmawibhangga Candi Borobudur. Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari Dinasti Syailendra, masa Kerajaan Mataram Kuno atau Medang. Di dalam Prasasti Karang Tengah bertarikh 824 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Samaratungga, disebutkan Raja Indra telah membangun bangunan suci bernama srimad venuvana yang artinya hutan bambu. Oleh arkeolog Belanda J. G. de Casparis, kata srimad venuvana ini dihubungkan dengan Candi Mendut.

Bangunan Candi Mendut terbuat dari batu bata yang ditutupi dengan batu alam, dengan tinggi bangunan sekitar 26,4 meter, dan berdiri di atas batur setinggi sekira 2 meter. Ukuran tapak atau batur kurang lebih 13,7 x 13,7 meter, dengan bagian utamanya 10 x 10 meter. Bangunan ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh, dengan tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat daya. Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi, dan atapnya bertingkat tiga dan dihiasi stupa-stupa kecil, yang jumlahnya sekarang sebanyak 48 buah. Hiasannya berselang-seling, dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa dewata gandarwa dan apsara atau bidadari, dua ekor kera, dan seekor garuda. Di kedua tepi tangga terdapat relief-relief cerita Pancatantra dan jataka, sedangkan pada dinding tubuh candi terdapat relief kalpataru, dua bidadari, Hariti, dan Atawaka.

Di dalam induk candi terdapat tiga arca Buddha besar. Di tengah, Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan dharmacakramudra, dan di depannya terdapat relief berbentuk roda yang diapit sepasang rusa, lambang Buddha. Di sebelah kiri terdapat arca Awalokiteswara, dan di sebelah kanan arca Wajrapani. Ketiga arca ini melambangkan batin, badan, dan ucapan yang harus dijaga agar tidak berbuat jahat dan selalu mengembangkan kebajikan. Dalam pembacaan mandala, Candi Mendut melambangkan Garbhadhatu Mandala atau mandala rahim, yang melambangkan welas asih dan fondasi awal dari sebuah praktik spiritual. Di sinilah peziarah memulai: belajar dan meditasi, menegakkan fondasi batin sebelum melangkah lebih jauh.

Pawon: Dapur di Tengah Poros

Di tengah poros, di antara Mendut dan Borobudur, berdiri Candi Pawon. Candi ini berukuran lebih kecil bila dibandingkan dengan Candi Borobudur dan Candi Mendut, tetapi posisinya justru paling menentukan: tanpa Pawon, tidak ada poros. Bentuk arsitekturalnya terbagi menjadi tiga bagian, yakni bagian kaki, tubuh, dan atap. Seperti halnya Candi Mendut, Candi Pawon mempunyai ruangan di dalamnya (garbhagrha). Namun demikian, pada garbhagrha Candi Pawon tidak dijumpai area dewa bercorak keagamaan Buddha di dalamnya. Ruang itu kosong dari arca, seolah menegaskan bahwa Pawon bukan tempat pemujaan arca, melainkan tempat peralihan.

Dalam Bahasa Jawa, Pawon berarti “dapur”. Menurut pembacaan yang dikutip kajian Jurnal STUPA, Candi Pawon berperan sebagai penghubung ritual, tempat pelaksanaan upacara Homa, ritual api yang menyatukan unsur duniawi dan spiritual. Api Homa menjadi simbol pembakaran ego dan penyucian diri: setelah belajar dan bermeditasi di Mendut, peziarah “dibakar” egonya di Pawon, disucikan, sebelum layak menapaki puncak di Borobudur. Tradisi lama juga menyebut Pawon sebagai tempat beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum masuk ke Candi Borobudur, fungsi yang selaras dengan makna dapur sebagai tempat mengolah dan menyiapkan.

Upaya pelestarian Pawon dilakukan secara rutin, meliputi pelindungan, konservasi batu candi, maupun halaman zona I. Konservasi pernah dilakukan pada 2010 oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, dan pada 2012 dilakukan rehabilitasi atap Candi Pawon bersamaan dengan Candi Mendut, meliputi pembersihan mikroorganisme, injeksi retakan, perbaikan hiasan antefik, pelapisan permukaan batu, dan pengawasan arkeologi. Mulai 2013, Balai Konservasi Borobudur melakukan monitoring dan evaluasi secara berkesinambungan, dan pada tahun yang sama menyusun rencana pelestarian Pawon. Rencana itu bertujuan mengoptimalkan zona inti dan zona penyangga untuk melestarikan warisan budaya, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan mempromosikan warisan budaya ke masyarakat internasional, sekaligus menyelesaikan permasalahan arkeologis, menata lingkungan sekitar candi untuk mengantisipasi perkembangan permukiman yang mengancam kelestarian, meningkatkan sarana dan prasarana, membuat manajemen pengunjung, meminimalkan potensi kerusakan akibat bencana, dan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pelestarian.

Borobudur: Puncak Pencerahan

Ujung garis itu adalah Candi Borobudur di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, yang didirikan di atas bukit yang telah dimodifikasi dengan ketinggian 265 meter di atas permukaan laut. Lingkungan geografisnya berada di Dataran Kedu yang dikelilingi Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah utara, dan Pegunungan Menoreh di sebelah selatan, serta terletak di dekat aliran Sungai Progo dan Elo. Sekitar 40 kilometer barat laut Yogyakarta, Borobudur berdiri di dataran tinggi di antara dua pasang gunung kembar, Sindoro-Sumbing dan Merbabu-Merapi, dan dua sungai, Progo dan Elo.

Candi Borobudur disusun menggunakan batu andesit yang berbentuk persegi, dengan struktur seperti punden berundak yang semakin ke atas semakin mengecil, dan empat buah tangga di setiap sisi mata angin. Strukturnya terdiri atas 9 teras berundak, yakni 6 teras berdenah persegi dan 3 teras berdenah lingkaran. Candi ini memiliki panjang 121,66 meter, lebar 121,38 meter, dan tinggi 35,40 meter. Menurut filsafat agama Buddha, Borobudur merupakan tiruan alam semesta yang terdiri dari tiga tingkatan secara vertikal: Kamadhatu, bagian bawah yang melambangkan alam bawah dan perilaku manusia yang masih terikat nafsu duniawi; Rupadhatu, bagian tengah yang melambangkan alam antara, perilaku manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi tetapi masih terikat dunia nyata; dan Arupadhatu, bagian atas yang melambangkan alam atas, tempat para dewa, simbol unsur tak berwujud dan tingkatan yang telah meninggalkan nafsu duniawi. Batu-batu candi diperkirakan berasal dari sungai-sungai di sekitar Borobudur dengan volume keseluruhan sekitar 55.000 meter kubik, kira-kira 2.000.000 potong batu.

Candi Borobudur mengandung 1.460 panil relief cerita yang tersusun dalam 11 deretan mengitari bangunan, selain 1.212 panil relief dekoratif. Untuk membaca rangkaian relief dilakukan secara pradaksina, yaitu mengelilingi candi searah jarum jam, dimulai dari sisi sebelah timur. Relief Karmawibhangga di kaki candi, sebanyak 160 panel, mengungkapkan perbuatan manusia tentang kebajikan maupun kejahatan serta segala akibatnya, dan diperkirakan sengaja ditutup pada masa pembangunan, kemungkinan karena alasan teknis untuk menahan beban atas bangunan agar tidak longsor. Relief Lalitavistara sebanyak 120 panil menggambarkan riwayat hidup Sang Buddha Gautama, dari para dewa di surga Tushita mengabulkan permohonan Bodhisattva untuk turun ke dunia menjelma menjadi Siddharta Gautama hingga menyampaikan khotbah pertamanya di Taman Rusa. Relief Jataka-Avadana, total 720 panel, mengisahkan kehidupan Buddha sebelumnya, sedangkan relief Gandavyuha melukiskan pengembaraan Sudhana dari satu guru ke guru lain dalam upaya mencapai kebuddhaan.

Dengan asumsi setiap relung dan stupa berisi arca, jumlah arca di Candi Borobudur sebanyak 504 buah: 432 arca pada tingkat Rupadhatu yang diletakkan di dalam relung, dan 72 arca pada tingkat Arupadhatu yang diletakkan di dalam stupa. Jumlah stupa 73 buah, dengan rincian 1 stupa induk, 32 stupa pada teras melingkar I, 24 stupa pada teras melingkar II, dan 16 stupa pada teras melingkar III. Stupa induk tidak berlubang terawang, sedangkan stupa pada teras melingkar berlubang terawang, berbentuk belah ketupat pada teras I dan II yang secara filosofis berarti menuju tingkat kesempurnaan dan keadaan yang masih belum stabil, serta berbentuk segi empat pada teras III yang berarti lebih sempurna dan stabil. Terdapat pula 32 arca singa, yang menurut agama Buddha adalah kendaraan Sang Buddha pada waktu naik ke surga dan simbol kekuatan pengusir pengaruh jahat untuk menjaga kesucian candi.

Dalam pembacaan mandala, Candi Borobudur merupakan penggambaran Vajradhatu Mandala atau mandala intan, yang melambangkan tubuh kebenaran Buddha (Dharmakaya) sebagai simbol kebijaksanaan dan pencapaian akhir dari praktik spiritual. Maka pradaksina di Borobudur bukan sekadar mengelilingi bangunan: ia adalah puncak perjalanan yang dimulai di Mendut dan disucikan di Pawon, penyatuan dengan kebenaran sejati.

Satu Perjalanan, Tiga Tahap Batin

Dari ketiga makna candi itu, muncul makna bahwa perjalanan ziarah melalui candi-candi tersebut merupakan simbol proses spiritual. Di Candi Mendut, peziarah memulai dengan belajar dan meditasi. Di Candi Pawon, ia melakukan proses penyucian diri. Di Candi Agung Borobudur, ia mencapai puncak pencerahan dan penyatuan dengan kebenaran sejati. Hubungan ketiga candi tidak hanya sekadar bentukan fisik, tetapi juga mencerminkan tahapan perjalanan spiritual seseorang dalam mencapai pencerahan. Lapisan proses ini mengandung nilai spiritual seperti kesabaran, kesucian hati, kebijaksanaan, dan pengendalian diri.

Dalam wawancara kajian Jurnal STUPA, praktik spiritual itu digambarkan lebih rinci dan bertahap: umat Buddha pada masa lalu memulai dari Candi Ngawen, yang terletak di timur Candi Mendut, melakukan inisiasi awal lima Buddha utama (Pancadnyani Buddha) sebagai gerbang pertama; dilanjutkan di Candi Mendut, bermeditasi dan melakukan ritual pemujaan kepada Buddha Vairocana yang digambarkan dalam Garbhadhatu Mandala sebagai Buddha yang berada di pusat mandala yang merupakan personifikasi Dharmakaya; di Candi Pawon, melakukan ritual api (Homa) sebagai simbol pembakaran ego dan penyucian diri; dan di akhir perjalanan, Candi Borobudur, sebagai tahap tertinggi, yaitu penyatuan dengan kebenaran mutlak atau pencerahan. Perjalanan ziarah antara candi-candi itu menjadi bentuk ritual spiritual yang menyimbolkan perubahan batin menuju kesadaran tertinggi.

Keterhubungan ketiga candi juga menunjukkan perpaduan antara budaya India dengan akulturasi budaya lokal Jawa kuno, yang berusaha menciptakan tanah Jawa sebagai tanah suci tersendiri tanpa perlu menjadikan India sebagai kiblat tanah suci lagi. Penempatan candi yang berdekatan dengan Sungai Elo dan Sungai Progo juga bersifat simbolis: Sungai Elo merupakan simbolis dari Sungai Neranjara, dan Sungai Progo merupakan simbolis dari Sungai Yamuna di Prayagraj, India, bahkan penamaan Progo disebut berasal dari nama Prayagraj itu sendiri, hingga kedua aliran sungai tersebut menyatu menjadi satu aliran sungai seperti simbolis Sungai Gangga. Sungai Neranjara menjadi tempat beberapa peristiwa: Pangeran Siddharta menyeberanginya dengan Kuda Kanthaka untuk melepaskan keduniawian menuju kesucian, petapa Siddharta menerima dana makanan dari seorang wanita bernama Sujata dan melemparkan mangkuk tersebut ke Sungai Neranjara, yang melawan arus menjadi simbol pesan baginya bahwa jika mangkuk itu bisa melawan arus maka ia dapat mencapai pencerahan agung di malam itu, dan petapa Siddharta mencapai pencerahan agung dan menjadi Buddha di bawah Pohon Bodhi dekat tepi Sungai Neranjara. Bagi masyarakat masa lalu, beribadah dan menyatu dengan alam adalah satu cara untuk mendekatkan diri pada nilai-nilai spiritual.

Di sekitar poros itu, situs-situs lain ikut menguatkan gambaran kawasan suci yang padat. Candi Gunung Wukir atau Canggal, candi Hindu tertua bertarikh 732 Masehi, terletak hanya 10 kilometer di timur Borobudur, tempat Raja Sanjaya dari aliran Siwa memerintahkan pembangunan tempat suci Shivalinga di Bukit Wukir. Reruntuhan Candi Banon, candi Hindu beberapa ratus meter di utara Pawon, tidak dapat direkonstruksi karena banyak batunya hilang, tetapi beberapa arca dewa Hindu ditemukan dalam kondisi baik, yakni Wisnu, Brahma, Siwa, dan Ganesha, yang kini berada di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Kawasan ini, dengan kata lain, bukan satu candi raksasa yang berdiri sendiri, melainkan satu lanskap suci yang saling berkaitan.

Sumbu yang Masih Hidup: Thudong dan Kirab Waisak

Ketiga candi kerap digunakan sebagai sarana peribadatan hingga masa kini, dan sumbu aksis itu masih dilalui kaki-kaki peziarah. Dalam ritual Thudong Dhammayatra pada acara Pabbajja Samanera Internasional yang diselenggarakan Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia (MBMI), para bhikkhu dari berbagai negara, terutama Thailand, berjalan kaki jarak jauh dari Candi Ngawen, Candi Mendut, Candi Pawon, hingga berakhir pada Candi Agung Borobudur sebagai puncak perjalanan. Kata thudong berasal dari istilah Pali dhutanga, yang memiliki arti latihan pengembaraan spiritual, dan Dhammayatra memiliki arti mengunjungi atau berziarah ke tempat-tempat suci yang berhubungan dengan spiritual Buddhisme. Latihan ini dilakukan para bhikkhu guna menumbuhkan kesabaran dan pelepasan diri dari keterikatan duniawi. Dalam ritual ini, praktik jalan kaki menggunakan jalur pedestrian dan tidak mengundang begitu banyak umat dan masyarakat yang menonton, supaya para bhikkhu dan samanera bisa lebih fokus dalam menjalankan praktik latihan spiritual ini.

Prosesi Kirab Waisak, ritual yang selalu diadakan setiap tahun dalam rangkaian Perayaan Waisak Nasional di Candi Agung Borobudur, mengambil rute yang berbeda. Kirab dimulai dari Candi Mendut setelah beberapa hari melakukan puja di Candi Mendut, dan akan parade dengan berbagai panji-panji Buddhis, mobil hias, dan rombongan para bhikkhu serta umat yang berjalan kaki dengan lantunan doa di sepanjang perjalanan menuju Candi Agung Borobudur sebagai simbol puncak pencapaian praktik spiritual. Rute yang digunakan dalam ritual ini tidak melewati Candi Pawon, karena menggunakan jalan yang dapat menampung ribuan umat dan masyarakat yang datang untuk menonton, sehingga ritual ini menggunakan badan jalan arteri dan kolektor yang menghubungkan Candi Mendut menuju Candi Agung Borobudur. Perbedaan dua ritual ini menarik: rute sunyi para bhikkhu melewati Pawon, sementara kirab massal melewatinya demi daya tampung jalan.

Selain kedua ritual itu, beberapa kegiatan besar tahunan juga diselenggarakan sebagai pelestarian pemanfaatan candi sesuai fungsinya, seperti Perayaan Waisak Nasional Walubi, Tipitaka Chanting dan Asalha Mahapuja STI, Magha Puja KBI, Yobbana Dhamma Samaya, dan Pabbajja Samanera Internasional MBMI. Hingga pada masa kini, umat Buddha dari berbagai belahan dunia kerap datang berkunjung untuk melakukan puja bakti di ketiga candi tersebut.

Pekerjaan Rumah: Jalur Pejalan Kaki yang Belum Nyambung

Namun, sumbu aksis budaya Borobudur–Pawon–Mendut belum sepenuhnya terwujud sebagai jalur ziarah yang utuh. Hasil observasi kajian Jurnal STUPA menunjukkan bahwa jalur penghubung antar candi masih didominasi oleh jaringan jalan kendaraan bermotor, sementara fasilitas pejalan kaki belum dirancang sebagai satu kesatuan ruang spiritual. Dari sisi aksesibilitas, konektivitas antar candi saat ini lebih mendukung kegiatan berskala besar, seperti prosesi Kirab Waisak, dibandingkan praktik ziarah berjalan kaki yang bersifat personal dan kontemplatif. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara nilai spiritual sumbu aksis budaya dengan kualitas ruang dan akses fisik yang tersedia.

Kajian itu menyarankan pengembangan kawasan Borobudur sebagai jalur wisata ziarah berbasis sumbu aksis budaya diarahkan pada penataan ruang yang lebih terintegrasi: penyediaan jalur pedestrian yang aman, nyaman, dan berkesinambungan antar candi menjadi langkah penting untuk mendukung praktik ziarah berjalan kaki, khususnya bagi peziarah individu dan kelompok kecil yang membutuhkan suasana kontemplatif. Selain itu, diperlukan fasilitas pendukung seperti papan informasi interpretatif, ruang istirahat, dan pusat informasi yang mampu menjelaskan makna spiritual dan sejarah sumbu aksis budaya. Untuk mengakomodasi pergerakan berskala besar, transportasi pendukung seperti shuttle dapat disediakan sebagai alternatif, tanpa mengurangi kesakralan jalur utama. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat fungsi sumbu aksis budaya sebagai ruang spiritual sekaligus ruang kota yang berkelanjutan.

Bagi pembaca KabarTidar yang ingin menyusuri poros ini, urutannya sudah jelas: mulailah dari Candi Mendut, singgahlah di Pawon yang kecil dan sunyi, dan akhiri di Borobudur. Tiga candi itu, yang dibangun Wangsa Syailendra lebih dari seribu tahun lalu dan kini dijaga sebagai Warisan Dunia, masih mengajarkan hal yang sama seperti dulu: pencerahan bukan tujuan yang dicapai dengan melompat, melainkan garis lurus yang dilalui tahap demi tahap, dari belajar, disucikan, hingga akhirnya sampai. Borobudur yang pada peringatan Hari PBB lalu bersinar biru adalah ujung dari garis yang sama, poros yang menautkan tiga candi, dua sungai, dan satu perjalanan batin.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

1 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *