Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Olahraga » Voli Magelang: Budaya Tarkam, Klub Desa, dan Jalan…
Olahraga

Voli Magelang: Budaya Tarkam, Klub Desa, dan Jalan Menuju Prestasi

Dari lapangan desa pada malam hari sampai GOR Samapta saat turnamen nasional mampir, voli menjadi hiburan rakyat sekaligus jalur prestasi di Magelang. Ini budaya tarkamnya, klubnya, dan turnamen-turnamannya.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 31 Oktober 2026 · 20.43 WIB
Ilustrasi pertandingan voli Magelang di lapangan desa pada malam hari, dengan pemain yang meloncat di dekat net dan penonton di bangku bambu
Ilustrasi pertandingan voli di lapangan desa pada malam hari, dengan pemain yang meloncat di dekat net, penonton di bangku bambu, dan lapak pedagang di tepi lapangan. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, KabarTidar. Voli Magelang hidup di lapangan desa pada malam hari, di gelanggang kota pada kejuaraan pelajar, dan di GOR Samapta ketika turnamen nasional mampir ke kota ini. Olahraga ini dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan enam pemain, dengan tujuan menjatuhkan bola ke daerah lawan, dan di Magelang, permainan yang sederhana itu tumbuh menjadi budaya, yaitu tarkam, turnamen antar kampung yang mempertemukan tim-tim desa, menyedot ribuan penonton, dan menggerakkan pedagang di sekitar lapangan. Artikel ini menjelaskan budaya itu, klub dan pembinaannya, turnamen-turnamen yang tercatat, dan jalan yang tersedia bagi warga yang ingin menonton atau bermain.

Kata tarkam adalah singkatan dari antar kampung, dan maknanya lebih luas dari sekadar format pertandingan. Tarkam adalah cara warga desa dan dusun menguji timnya, mempertemukan pemain dari kampung yang berbeda, dan merayakan kebersamaan lewat olahraga. Turnamen tarkam biasanya digelar pada malam hari di lapangan terbuka, memakai penerangan lampu, dan ditonton warga yang datang dengan berjalan kaki dari dusun sekitar. Di sekeliling lapangan, pedagang membuka lapak, anak-anak berlarian di antara penonton, dan pengeras suara mengumumkan jalannya pertandingan. Suasana semacam inilah yang membuat voli di Magelang terasa berbeda dari olahraga yang hanya ditonton lewat layar, karena penontonnya adalah tetangga sendiri.

Di tingkat yang lebih formal, voli Magelang juga memiliki jalur prestasi. Ada liga pelajar yang digelar dinas pemerintah kota, ada klub-klub yang membina pemain muda secara konsisten, ada kejuaraan yang digelar aparat dan sponsor untuk mencari bibit atlet, dan ada turnamen nasional yang mampir ke GOR Samapta dengan hadiah miliaran rupiah. Jalur-jalur ini tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terhubung. Pemain yang pertama kali dikenal lewat tarkam bisa dipantau klub, pemain klub bisa tampil di kejuaraan resmi, dan penonton tarkam bisa menyaksikan pemain idolanya tampil di turnamen yang lebih besar. Artikel ini menelusuri jalur itu satu per satu, dengan contoh-contoh yang tercatat dalam pemberitaan.

Budaya Voli Magelang di Lapangan Desa

Lapangan voli desa adalah titik awal budaya voli Magelang. Lapangan itu bisa berada di halaman balai dusun, di tanah lapang dekat masjid atau sekolah, atau di pekarangan yang dirapikan warga untuk pertandingan. Net dipasang di tengah, garis lapangan digambar dengan kapur atau cat, dan kursi penonton bisa sesederhana bangku bambu yang dipasang di pinggir lapangan. Kesederhanaan ini justru menjadi kekuatan, karena lapangan bisa dibuat di mana saja dan pertandingan bisa digelar tanpa menunggu gedung besar. Warga yang ingin bermain tidak perlu menjadi anggota klub dulu, cukup bergabung dengan tim dusun atau tim karang taruna.

Pertandingan tarkam biasanya digelar dalam rangkaian acara yang lebih besar, misalnya peringatan hari besar, hari jadi dusun, atau perayaan bersama. Panitia yang menggelar turnamen biasanya berasal dari karang taruna, pemerintah desa, atau gabungan keduanya, dengan dukungan tokoh masyarakat dan sponsor lokal. Hadiah turnamen bisa berupa uang pembinaan, trofi, dan hadiah hiburan, dan besarnya hadiah sangat bervariasi, dari hadiah kecil untuk turnamen dusun sampai hadiah puluhan juta rupiah untuk turnamen yang mengundang tim dari luar daerah. Yang tidak berubah adalah fungsinya, yaitu mempertemukan warga dan memberi panggung bagi pemain lokal.

Salah satu contoh terbaru dari budaya ini adalah Turnamen Voli Semi Open IKN Cup Pasivic 2026, yang digelar di kawasan perkampungan lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Paten, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Turnamen ini mempertemukan 16 tim voli dari sejumlah daerah di Kabupaten Magelang dan resmi dibuka pada Minggu malam, 23 Agustus 2026, dengan dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan Dukun, Pemerintah Desa Paten, panitia, peserta, dan masyarakat. Pertandingan final dijadwalkan pada 4 September 2026. Nama IKN Pasivic adalah kepanjangan dari Indra Kurniawan, anggota Komisi 3 DPRD Kabupaten Magelang dari Fraksi PDI Perjuangan, yang menjadi salah satu penggagas dan pendukung turnamen itu. Kepala Desa Paten, Sutarno, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya turnamen itu.

Pertandingan perdana IKN Cup Pasivic 2026 mempertemukan VOLPOS dari Gowok Pos, Dukun, melawan Joyo Sentono dari Sudimoro, Srumbung, dan Putra Bateh Jr dari Bateh, Candimulyo, melawan Prevog dari Grogol, Dukun. Rangkaian pembukaan ditandai dengan penyerahan bola voli dari Indra Kurniawan kepada wasit pertandingan. Panitia menyatakan bahwa selain menjadi arena persaingan antarklub, turnamen itu diharapkan menjadi wadah pencarian bibit atlet voli sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat. Dua tujuan itu, yaitu mencari bibit dan mempererat silaturahmi, adalah dua tujuan yang hampir selalu disebut dalam turnamen voli di Magelang, dan keduanya sama pentingnya. Tanpa bibit baru, voli akan kehabisan pemain, dan tanpa silaturahmi, turnamen akan kehilangan penontonnya.

Contoh lain yang menunjukkan skala tarkam di Magelang adalah Open Turnamen Bola Voli Kapolresta Magelang Cup III CV Barokah Merapi 2026, yang digelar dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80. Pembukaan turnamen itu berlangsung di Lapangan Gluduk, Desa Dukun, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, pada Senin malam, 8 Juni 2026, dan dihadiri ribuan pasang mata. Pembukaan dipimpin oleh Kapolresta Magelang, Kombes Pol Herbin Sianipar, didampingi pejabat utama Polresta Magelang, unsur TNI, panitia, dan tokoh masyarakat. Pembukaan ditandai dengan serah terima bola dari Direktur Utama CV Barokah Merapi kepada Kapolresta Magelang, yang kemudian diserahkan kepada wasit sebagai simbol dimulainya kompetisi. Turnamen ini diproyeksikan menjadi salah satu agenda olahraga terbesar di Kabupaten Magelang pada tahun itu, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan antara Polri, TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Tradisi turnamen yang digelar aparat ini sudah berjalan lama. Pada 2017, Bolavoli Kapolres Magelang Cup I digelar di Lapangan Karang Kopek, Kecamatan Ngluwar, dan partai finalnya disaksikan ribuan penggemar bola voli. Tim putra Barokah Merapi Muntilan memenangi trofi setelah di final mengalahkan Ivonk Ambarawa dengan skor 3-0, dengan skor per set 25-23, 25-15, dan 25-12. Pada partai perebutan juara ketiga dan keempat putri yang digelar sebelumnya, Arvis dari Sleman, Yogyakarta, menang 3-1 atas Pop Sisvo yang diperkuat Polwan Polda DIY, dengan skor per set 25-18, 25-22, 20-25, dan 27-25. Kapolres Magelang saat itu, AKBP Hindarsono, mengatakan bahwa turnamen itu juga menjadi ajang mencari bibit pemain bagi klub-klub, dan melihat animo penonton yang begitu antusias, ia menyatakan bahwa turnamen itu nantinya akan diadakan setiap tahun bersamaan dengan HUT Bhayangkara, dengan tempat yang berbeda. Ia juga menjelaskan bahwa tempat di daerah perbatasan seperti Ngluwar sengaja dipilih supaya turnamen lebih dikenal masyarakat kampung.

Dari contoh-contoh itu, terlihat pola yang berulang dalam tarkam Magelang. Pertama, lapangan yang dipakai adalah lapangan terbuka di desa, bukan gedung tertutup. Kedua, pembukaan turnamen selalu menjadi acara tersendiri, dengan serah terima bola kepada wasit sebagai simbol dimulainya pertandingan. Ketiga, penontonnya ribuan, bukan puluhan, dan penonton itu datang dari desa penyelenggara dan desa-desa sekitar. Keempat, turnamen selalu dikaitkan dengan tujuan yang lebih besar dari sekadar juara, yaitu pembinaan, silaturahmi, dan kebersamaan. Pola ini membuat tarkam di Magelang bukan sekadar hiburan musiman, melainkan kalender sosial yang ditunggu warga.

Turnamen Voli Magelang dari Desa sampai Nasional

Di atas tarkam desa, ada turnamen yang skalanya lebih besar dan mengundang tim dari luar Magelang. Salah satu yang paling menonjol pada 2026 adalah SBY Cup 2026, turnamen bola voli putra yang digelar di GOR Samapta, Magelang, pada 13 sampai 17 Mei 2026. Turnamen ini mempertemukan delapan tim unggulan, yaitu Surabaya Samator, Jakarta LavAni Livin Transmedia, Berlian Bank Jateng, Sukun Badak, Ganeksa Bhumikarta, PBV Pasundan, PDAM Tirta Bhagasasi, dan DPUPR Alib Grobogan. Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp1,3 miliar, dengan pemenang utama berhak atas uang tunai Rp500 juta. Pertandingan digelar setiap hari mulai pukul 13.00 WIB sampai 21.00 WIB selama lima hari pelaksanaan.

SBY Cup 2026 digagas sebagai bentuk kecintaan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, terhadap olahraga voli. Ketua Panitia SBY Cup 2026, Ossy Dermawan, menyatakan bahwa ajang ini dirancang untuk memberikan dampak positif bagi para penggemar olahraga voli di tanah air lewat atmosfer kompetisi yang berkualitas. Penyelenggara juga menyiapkan sekitar 20 stan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah, makanan, dan minuman untuk pengunjung, sehingga turnamen ini terasa seperti festival olahraga dan hiburan rakyat, bukan sekadar pertandingan. Pertandingan disiarkan secara langsung lewat kerja sama dengan Transmedia, dengan siaran di CNN Indonesia dan detikcom, serta siaran televisi nasional untuk semifinal dan final.

Komite Olahraga Nasional Indonesia Kota Magelang menyambut penyelenggaraan SBY Cup 2026 di GOR Samapta. Ketua KONI Kota Magelang, Ali Sobri Sungkar, memberikan apresiasi tinggi terhadap pemilihan lokasi turnamen itu, dan pihak KONI berharap kesuksesan ajang ini menjadi pemantik bagi penyelenggaraan kompetisi olahraga lainnya di wilayah itu. Dalam pemberitaan tentang sambutan itu, disebutkan pula bahwa PBVSI Kota Magelang terlibat penuh sejak awal, di bawah pimpinan Waluyo dan Helmi sebagai sekretaris. Keterlibatan pengurus daerah dalam turnamen nasional seperti ini penting, karena panitia lokal yang terlibat akan belajar mengelola pertandingan berskala besar, mulai dari drawing dan technical meeting sampai pengelolaan penonton dan siaran.

Di sisi lain, tim-tim Magelang juga membuktikan diri di luar daerah. Klub bola voli Bujang Ganong asal Kabupaten Magelang meraih gelar juara pertama dalam Kejuaraan Bola Voli Ampeldento 1975 ke-3 Piala Bupati Wonosobo Tahun 2026. Kejuaraan yang digelar di Dusun Mranggen, Desa Tanjunganom, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, itu resmi ditutup pada Sabtu, 17 Oktober 2026, setelah berlangsung sejak 26 September 2026. Kejuaraan tahun itu diikuti 32 tim bola voli dari tiga provinsi, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada pertandingan grand final, Bujang Ganong berhasil mengungguli Menganti Beach dari Kabupaten Kebumen dan memastikan diri sebagai kampiun. Ketua Panitia Kejuaraan, Muhsin, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian kegiatan sampai penutupan, dan keberhasilan penyelenggaraan itu diharapkan menjadi motivasi untuk kembali menggelar turnamen serupa pada tahun-tahun mendatang.

Kemenangan Bujang Ganong di Wonosobo menunjukkan satu hal penting tentang voli Magelang, yaitu tim desa Magelang tidak hanya kuat di kandang sendiri, tetapi juga mampu bersaing di turnamen luar daerah yang diikuti puluhan tim dari tiga provinsi. Hal ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari jam terbang yang diperoleh lewat tarkam yang padat di Magelang sendiri. Tim yang setiap musim menghadapi lawan-lawan yang berbeda di turnamen desa akan terbiasa dengan tekanan penonton, dengan lapangan terbuka yang kondisinya berubah-ubah, dan dengan lawan yang gaya bermainnya tidak bisa ditebak dari nama besarnya. Pengalaman semacam itu adalah modal yang tidak bisa dibeli, dan inilah yang membuat tarkam tetap penting meski sudah ada turnamen yang lebih besar.

Klub dan Pembinaan Voli Magelang

Di balik turnamen yang ramai, ada klub-klub yang bekerja lebih sunyi, yaitu berlatih rutin, membina pemain muda, dan mengikuti kejuaraan demi kejuaraan. Salah satu klub yang tercatat dalam penelitian adalah Pervores Sembaga Bumi, klub bola voli yang terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Penelitian dari Universitas Negeri Semarang pada 2023 tentang manajemen pembinaan prestasi klub ini menyimpulkan bahwa pembinaan prestasi bola voli di klub itu sudah berjalan dengan baik, dilihat dari empat faktor pendukung, yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan. Penelitian itu juga mencatat bahwa pembinaan prestasi pada usia dini secara konsisten adalah salah satu bentuk kerja klub ini, dan bahwa banyaknya turnamen atau kompetisi di Kabupaten Magelang yang diikuti beberapa organisasi bola voli menjadi latar yang mendukung pembinaan itu.

Temuan tentang Pervores Sembaga Bumi ini penting karena menunjukkan bahwa pembinaan voli di Magelang tidak hanya bergantung pada bakat alami pemain, tetapi juga pada manajemen klub. Klub yang memiliki perencanaan latihan, pembagian tugas pengurus yang jelas, kepemimpinan yang tegas, dan pengawasan terhadap perkembangan pemain akan lebih mampu mempertahankan pemain mudanya daripada klub yang hanya mengandalkan semangat sesaat. Bagi orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke klub voli, empat faktor itu bisa menjadi patokan sederhana untuk menilai klub, yaitu apakah klub itu memiliki jadwal latihan yang teratur, pengurus yang bisa dihubungi, pelatih yang jelas, dan catatan perkembangan pemain.

Di tingkat nasional, induk organisasi bola voli Indonesia adalah Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia, yang disingkat PBVSI. PBVSI didirikan pada 5 Desember 1955 di Jakarta dan bertanggung jawab atas pengelolaan dan pengembangan bola voli di seluruh Indonesia, termasuk pengelolaan kompetisi, pengembangan atlet, regulasi, dan promosi olahraga ini di tingkat lokal, regional, dan internasional. PBVSI juga menjadi bagian dari federasi internasional, yaitu Federation Internationale de Volleyball. Di Magelang, PBVSI tingkat kota dan kabupaten adalah pihak yang terlibat dalam kejuaraan resmi dan dalam turnamen besar seperti SBY Cup 2026, sehingga jalur prestasi dari Magelang menuju tingkat provinsi dan nasional pada dasarnya melewati struktur organisasi ini.

Pembinaan voli di Magelang juga menyentuh jalur pendidikan. Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kota Magelang menggelar Liga Voli antar pelajar SD dan SMP tingkat Kota Magelang di GOR Samapta Sanden, Kota Magelang, pada 27 sampai 31 Agustus 2024. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat dan bakat siswa dalam olahraga voli serta membudayakan olahraga sejak dini. Sekretaris Penyelenggara Liga Voli antar SD dan SMP tingkat Kota Magelang 2024, Noviana Anggraeni, menjelaskan bahwa perlombaan ini sekaligus menjadi tahapan seleksi kejuaraan yang lebih tinggi untuk mewakili Kota Magelang. Wakil Wali Kota Magelang saat itu, KH. M. Mansyur, saat membuka kejuaraan, menyambut baik dan menyampaikan apresiasi tinggi serta ucapan terima kasih kepada segenap pihak yang terlibat.

Liga pelajar seperti ini adalah jembatan antara olahraga sekolah dan olahraga prestasi. Siswa yang pertama kali bermain voli di jam olahraga sekolah bisa bertemu lawan dari sekolah lain, merasakan atmosfer pertandingan resmi di gelanggang, dan dipantau oleh pelatih serta pengurus untuk seleksi ke tingkat yang lebih tinggi. Bagi sekolah, liga ini juga menjadi ajang untuk menunjukkan pembinaan ekstrakurikulernya, dan bagi dinas, liga ini menjadi cara untuk memetakan sekolah mana saja yang memiliki bibit pemain. Gambaran tentang fasilitas olahraga publik di Kota Magelang, termasuk gelanggang yang dipakai liga ini, dapat membantu pembaca memahami di mana saja kegiatan seperti ini digelar.

Voli di Magelang juga memiliki bentuk-bentuk yang lebih meriah dan tidak selalu serius. Dalam rangka Hari Santri Nasional 2024, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Magelang menggelar lomba voli plastik antar Pondok Pesantren se-Kabupaten Magelang. Voli plastik adalah versi permainan yang lebih ringan dan lebih menghibur, karena bolanya terbuat dari plastik dan permainannya lebih mengutamakan kelucuan dan kebersamaan daripada teknik. Lomba semacam ini menunjukkan bahwa voli di Magelang tidak hanya hidup di jalur prestasi, tetapi juga di jalur perayaan, di mana yang penting adalah semua orang bisa ikut bermain dan tertawa bersama. Tradisi olahraga rakyat seperti ini memiliki kesamaan semangat dengan olahraga tradisional di Magelang, yang sama-sama tumbuh dari kebersamaan warga, meski cabang dan aturannya berbeda.

GOR Samapta dan Panggung Besar Voli Magelang

GOR Samapta di Sanden adalah panggung besar bagi voli Magelang. Gelanggang ini menjadi tempat Liga Voli antar pelajar SD dan SMP pada 2024, dan menjadi tempat SBY Cup 2026, turnamen nasional dengan delapan tim unggulan dan hadiah Rp1,3 miliar. Bagi pemain desa yang biasa bermain di lapangan terbuka, tampil di GOR Samapta adalah pengalaman yang berbeda, karena lapangan indoor memiliki lantai yang rata, penerangan yang merata, dan tribun yang membuat suara penonton menggema. Bagi penonton, GOR Samapta menawarkan kenyamanan yang tidak dimiliki lapangan desa, yaitu atap, tempat duduk, dan perlindungan dari hujan.

Keberadaan gelanggang seperti GOR Samapta juga penting bagi citra Magelang sebagai tuan rumah turnamen. Penyelenggara turnamen nasional memilih lokasi bukan hanya karena lapangannya layak, tetapi juga karena kota itu memiliki pengurus yang bisa bekerja sama, penonton yang antusias, dan fasilitas pendukung seperti penginapan dan kuliner. Sambutan KONI Kota Magelang terhadap SBY Cup 2026 menunjukkan bahwa kota ini memandang turnamen besar bukan sebagai beban, melainkan sebagai kesempatan, yaitu kesempatan bagi penyelenggara lokal untuk belajar, bagi usaha kecil untuk berjualan di stan bazar, dan bagi penonton Magelang untuk menyaksikan tim-tim terbaik Indonesia tanpa harus pergi ke kota lain.

Namun, panggung besar tidak menggantikan lapangan desa, dan keduanya harus berjalan bersama. Lapangan desa adalah tempat pemain ditemukan, sedangkan gelanggang adalah tempat pemain ditampilkan. Bila hanya ada gelanggang tanpa lapangan desa, tidak akan ada pemain baru yang muncul. Bila hanya ada lapangan desa tanpa gelanggang, pemain yang sudah bagus tidak akan pernah merasakan pertandingan dengan standar yang lebih tinggi. Magelang memiliki keduanya, dan inilah keunggulan struktur voli di wilayah ini. Tugas berikutnya adalah menjaga keduanya tetap aktif, yaitu lapangan desa tetap dipakai untuk tarkam dan gelanggang tetap dipakai untuk kejuaraan yang lebih besar.

Cara Menonton dan Bermain Voli di Magelang

Bagi warga yang ingin menonton, cara paling mudah adalah mengikuti pengumuman turnamen di desa dan kecamatan. Turnamen tarkam biasanya diumumkan lewat pengeras suara masjid, grup pesan warga, spanduk di jalan desa, dan media sosial panitia. Penonton tidak perlu membeli tiket mahal untuk tarkam, dan datang lebih awal adalah cara terbaik untuk mendapatkan tempat duduk yang baik, karena bangku penonton di lapangan desa jumlahnya terbatas. Penonton juga sebaiknya membawa uang tunai secukupnya untuk jajan di lapak pedagang, karena lapak-lapak itu adalah bagian dari ekonomi turnamen dan menjadi sumber pemasukan bagi warga sekitar.

Bagi warga yang ingin bermain, langkah pertama adalah bergabung dengan tim dusun atau tim karang taruna. Tim-tim ini biasanya berlatih pada sore atau malam hari di lapangan desa, dan menerima pemain baru dari warga setempat. Langkah kedua adalah mengikuti turnamen tarkam secara rutin, karena turnamen adalah tempat pemain diuji dan dikenal. Langkah ketiga, bagi pemain yang serius, adalah bergabung dengan klub yang memiliki jadwal latihan teratur dan mengikuti kejuaraan resmi, seperti klub yang dibina dengan manajemen yang baik sebagaimana dicontohkan Pervores Sembaga Bumi di Borobudur. Langkah keempat adalah mengikuti seleksi yang digelar lewat jalur pelajar atau lewat kejuaraan resmi, karena seleksi itulah yang membuka jalan menuju tingkat provinsi dan nasional.

Bagi orang tua, ada beberapa hal yang layak diperhatikan sebelum memasukkan anak ke klub voli. Pertama, pastikan klub memiliki pelatih dan jadwal latihan yang jelas, bukan sekadar kumpulan pemain yang bertemu tanpa rencana. Kedua, pastikan anak tetap bersekolah dengan baik, karena latihan yang baik tidak boleh mengorbankan pendidikan. Ketiga, perhatikan beban fisik anak, karena voli melibatkan lompatan dan pukulan yang berulang, dan anak yang masih dalam masa pertumbuhan perlu latihan yang sesuai dengan usianya. Keempat, dukung anak dengan menonton pertandingannya, karena dukungan orang tua di pinggir lapangan adalah motivasi yang besar bagi pemain muda.

Bagi panitia yang ingin menggelar turnamen, contoh-contoh di Magelang memberi pelajaran yang jelas. Pertama, tentukan tujuan turnamen sejak awal, apakah untuk mencari bibit, mempererat silaturahmi, merayakan hari besar, atau ketiganya sekaligus. Kedua, siapkan lapangan dan penerangan dengan baik, karena lapangan yang tidak rata dan lampu yang redup akan merusak pertandingan. Ketiga, libatkan tokoh masyarakat, pemerintah desa, dan sponsor lokal sejak awal, karena turnamen yang didukung banyak pihak akan lebih mudah mendapatkan izin, dana, dan penonton. Keempat, siapkan tempat bagi pedagang, karena pedagang bukan gangguan, melainkan bagian dari suasana turnamen dan sumber pemasukan warga. Kelima, jaga sportivitas dengan wasit yang tegas dan aturan yang jelas, karena satu keputusan yang dirasa tidak adil bisa merusak silaturahmi yang justru menjadi tujuan turnamen.

Pada akhirnya, voli Magelang adalah cerita tentang lapangan desa yang tidak pernah sepi, klub yang membina dengan sabar, pelajar yang bertanding di gelanggang kota, dan turnamen nasional yang mampir ke GOR Samapta. Cerita ini tidak bergantung pada satu bintang saja, melainkan pada banyak orang, yaitu pemain, pelatih, pengurus klub, panitia turnamen, pedagang, dan penonton yang datang malam demi malam. Selama lapangan desa tetap dipakai, klub tetap berlatih, dan turnamen tetap digelar, voli Magelang akan terus memiliki pemain baru dan penonton baru. Bagi warga yang belum pernah menonton tarkam, datanglah ke lapangan desa terdekat pada malam pertandingan, dan saksikan sendiri mengapa olahraga ini menjadi salah satu hiburan rakyat yang paling bertahan di Magelang.

Informasi tentang turnamen yang dikutip dalam artikel ini dapat ditelusuri lewat laporan tentang IKN Cup Pasivic 2026 di Dukun, pengumuman Liga Voli pelajar Kota Magelang 2024, laporan kemenangan Bujang Ganong di Wonosobo, dan laporan Kejuaraan Kapolres Magelang 2017.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *