Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Olahraga » Stadion Moch Soebroto Magelang: Sejarah, Fasilitas, dan Laga…
Olahraga

Stadion Moch Soebroto Magelang: Sejarah, Fasilitas, dan Laga yang Pernah Mampir

Di tepi Kali Progo, stadion ini menjadi kandang PPSM sejak 2012, rumah sementara PSIS, dan tempat laga pembuka Liga 1. Ini profil lengkapnya, termasuk angka kapasitas yang masih berbeda di antara sumber.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 31 Oktober 2026 · 20.42 WIB
Ilustrasi Stadion Moch Soebroto Magelang di tepi sungai pada senja hari, dengan tribun, lampu stadion, dan pemain di lapangan
Ilustrasi Stadion Moch Soebroto Magelang di tepi sungai pada senja hari, dengan tribun beratap, lampu stadion, dan pemain di lapangan hijau. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG, KabarTidar. Stadion Moch Soebroto Magelang adalah stadion utama Kota Magelang yang berdiri di tepi Kali Progo, di Kampung Sanden, Kramat Selatan, Magelang Utara. Stadion ini dikenal sebagai kandang PPSM Magelang, pernah menjadi rumah sementara PSIS Semarang selama Stadion Jatidiri direnovasi, dan pernah menjadi tempat laga pembuka Liga 1. Artikel ini merangkum profil lengkapnya, mulai dari sejarah pembangunan, fasilitas yang tercatat, tim dan laga yang pernah mampir, sampai hal-hal yang masih perlu diluruskan, seperti perbedaan angka kapasitas yang beredar di berbagai sumber.

Bagi warga Magelang, stadion ini bukan sekadar bangunan tribun dan lapangan rumput. Pada hari pertandingan, kawasan Sanden berubah menjadi titik kumpul, dengan arus penonton yang datang dari berbagai penjuru kota dan kabupaten, pedagang yang membuka lapak di sekitar kawasan, dan suara dukungan yang terdengar jauh dari dalam tribun. Pada hari tanpa pertandingan, stadion ini tetap menjadi penanda kawasan olahraga di sisi utara kota, berdampingan dengan kawasan Gelanggang Olahraga Samapta yang sama-sama berada di Sanden. Memahami stadion ini berarti memahami satu bagian dari kehidupan olahraga Magelang, dari kompetisi profesional sampai pembinaan di level lokal.

Profil ini disusun dari sumber-sumber yang dapat diperiksa, antara lain profil stadion yang diterbitkan Espos pada 2022, data stadion di Wikipedia bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, serta pemberitaan tentang tim-tim yang pernah memakai stadion ini. Angka yang berbeda di antara sumber tidak disembunyikan, melainkan ditulis apa adanya dengan menyebut sumbernya, supaya pembaca tidak mengira satu angka yang masih diperselisihkan adalah angka yang sudah pasti. Bagian yang belum bisa dipastikan dari sumber yang tersedia juga ditulis sebagai hal yang belum pasti, bukan diisi dengan perkiraan.

Sejarah Stadion Moch Soebroto Magelang

Sebelum memakai nama yang dikenal sekarang, stadion ini bernama Stadion Madya Magelang. Pembangunan stadion dimulai pada tahun 2008 dan dilakukan secara bertahap, sehingga stadion ini masih dalam tahap pembangunan selama bertahun-tahun sesudahnya. Stadion ini sudah mulai bisa digunakan untuk kegiatan olahraga sejak tahun 2011, meski sebagian pekerjaannya belum selesai. Nama Stadion Moch Soebroto baru diresmikan pada 24 Februari 2015 oleh Wali Kota Magelang saat itu, Sigit Widyonindito. Nama dr. H. Moch. Soebroto dipilih sebagai bentuk penghormatan bagi Wali Kota Magelang periode 1971 sampai 1981.

Dari sisi anggaran, rencana yang dibuat pada tahun 2008 menyebutkan dana yang dibutuhkan untuk pembangunan stadion hingga selesai adalah sekitar Rp124 miliar. Angka ini dikutip dari data stadion di Wikipedia bahasa Indonesia dan perlu dibaca sebagai angka rencana awal, bukan sebagai laporan akhir penggunaan anggaran. Pembangunan bertahap adalah ciri yang melekat pada stadion ini sejak awal, dan ciri itu pula yang menjelaskan mengapa sebagian fasilitasnya rampung lebih dulu, sementara sebagian yang lain, terutama tribune sisi utara, masih menjadi pekerjaan rumah bertahun-tahun kemudian.

Profil Espos pada Juli 2022 mencatat bahwa stadion ini berada di tepi Kali Progo dan belum memiliki tribune utara. Kondisi itu membuat bentuk stadion ini tidak melingkar penuh seperti stadion besar pada umumnya, melainkan terbuka di satu sisi. Bagi penonton, sisi yang terbuka itu berarti pemandangan ke arah sungai dan perbukitan di kejauhan, tetapi bagi pengelola, sisi yang terbuka itu juga berarti kapasitas yang belum maksimal dan pekerjaan konstruksi yang belum tuntas. Sampai artikel ini ditulis, tidak ditemukan sumber terbaru yang dapat memastikan apakah tribune utara sudah dibangun sesudah 2022, sehingga artikel ini tidak mengklaim bahwa tribune itu sudah ada.

Sejak awal, stadion ini direncanakan bukan sebagai bangunan tunggal, melainkan sebagai bagian dari sebuah kompleks olahraga. Data stadion di Wikipedia bahasa Indonesia menyebutkan bahwa di lokasi ini, selain stadion, juga sedang dibangun kolam renang prestasi dan Gelanggang Olahraga Samapta. Pernyataan itu berasal dari gambaran rencana yang lebih lama, sehingga perlu dibaca dengan hati-hati. GOR Samapta sendiri kini dikenal sebagai gelanggang yang aktif dipakai untuk berbagai kejuaraan, termasuk kejuaraan bola voli, dan kawasan Sanden secara keseluruhan memang berfungsi sebagai pusat kegiatan olahraga Kota Magelang. Gambaran tentang fasilitas olahraga publik di Kota Magelang dapat memberi konteks tambahan tentang posisi stadion ini di antara sarana olahraga lain di kota yang sama.

Pengelolaan stadion ini, menurut profil Espos pada 2022, berada di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Magelang. Pengelolaan oleh dinas teknis ini masuk akal untuk bangunan sebesar stadion, karena perawatan rumput, struktur tribun, lampu, dan lintasan atletik membutuhkan anggaran dan tenaga teknis yang tidak kecil. Pada tahun yang sama, Espos juga mencatat bahwa sesuai dengan peraturan daerah setempat, tarif sewa Stadion Moch Soebroto untuk pertandingan Liga 1 adalah Rp12 juta. Angka itu adalah angka tahun 2022 dan tidak boleh dibaca sebagai tarif yang berlaku hari ini, karena tarif sewa dapat berubah mengikuti peraturan daerah yang baru.

Fasilitas Stadion Moch Soebroto Magelang

Fasilitas yang paling mudah dikenali dari stadion ini adalah tiga tribunnya, yaitu Tribun Barat, Tribun Timur, dan Tribun Selatan. Tidak adanya tribune utara membuat stadion ini memiliki denah yang menyerupai huruf U. Menurut data stadion di Wikipedia bahasa Inggris, Tribun Barat memiliki kapasitas 6.000 penonton termasuk tempat duduk VIP, Tribun Timur 6.000 penonton, dan tribune selatan 4.000 penonton. Bila ketiga angka itu dijumlahkan, hasilnya adalah 16.000, dan angka ini tidak sama dengan angka kapasitas total yang beredar, sehingga pembaca perlu memahami bahwa angka kapasitas stadion ini memang tidak tunggal.

Perbedaan angka kapasitas adalah hal pertama yang harus diluruskan dalam profil ini. Sumber-sumber berbahasa Indonesia, termasuk Wikipedia bahasa Indonesia dan profil Espos pada 2022, menyebut kapasitas stadion ini sebesar 20.000 penonton. Sementara itu, Wikipedia bahasa Inggris mencantumkan kapasitas 30.000 penonton. Kedua angka itu tidak dapat benar pada saat yang sama untuk kondisi fisik yang sama, dan artikel ini tidak memilih salah satu secara diam-diam. Kemungkinan penyebab perbedaan ini adalah perbedaan cara menghitung, misalnya apakah tempat berdiri dihitung, apakah kapasitas rencana dimasukkan, atau apakah angka yang dikutip berasal dari tahun yang berbeda. Sampai ada data resmi terbaru dari pengelola yang dapat dikutip, angka yang paling aman untuk dipakai adalah angka yang paling sering disebut sumber Indonesia, yaitu 20.000 penonton, dengan catatan bahwa ada sumber lain yang mencantumkan 30.000 penonton.

Di luar tribun, stadion ini memiliki 11 pintu masuk, yang terdiri atas 5 pintu di tribune barat, 3 pintu di tribune timur, dan 3 pintu di sisi selatan. Jumlah pintu masuk ini penting untuk keselamatan penonton, karena pintu yang cukup membuat arus masuk dan keluar bisa terbagi dan tidak menumpuk di satu titik. Stadion ini juga memiliki 17 ruang toilet dan sekitar 20 ruang kosong yang dapat dipakai sebagai ruang ganti pemain, ruang wasit, ruang media, dan ruang-ruang pendukung lain. Ruang-ruang pendukung inilah yang membuat stadion ini bisa dipakai untuk pertandingan resmi, karena pertandingan liga tidak hanya membutuhkan lapangan dan tribun, tetapi juga ruang ganti yang layak, ruang perangkat pertandingan, dan ruang kerja media.

Untuk kendaraan penonton, area parkir stadion ini dilaporkan dapat menampung sekitar 1.000 sepeda motor dan sekitar 100 mobil. Angka ini memberi gambaran tentang skala keramaian yang bisa ditampung kawasan stadion pada hari pertandingan, sekaligus memberi gambaran tentang keterbatasannya. Penonton yang datang dengan mobil dalam jumlah besar pada laga penting kemungkinan besar harus memarkirkan kendaraan di luar kawasan stadion, dan hal ini perlu diperhitungkan oleh siapa pun yang berencana menonton laga besar di stadion ini. Datang lebih awal bukan sekadar saran kenyamanan, melainkan cara praktis untuk menghindari antrean di pintu masuk dan di area parkir.

Penerangan adalah fasilitas lain yang menentukan apakah stadion ini bisa dipakai untuk laga malam. Stadion ini memiliki 4 tiang lampu stadion, dengan masing-masing tiang membawa 94 lampu. Penerangan yang memadai adalah salah satu syarat verifikasi dari operator liga, dan profil Espos pada 2022 mencatat bahwa stadion ini sudah lolos verifikasi PT Liga Indonesia Baru. Verifikasi semacam ini biasanya memeriksa banyak hal sekaligus, mulai dari kondisi rumput, penerangan, ruang ganti, sampai keamanan, sehingga lolos verifikasi adalah penanda bahwa stadion ini memenuhi standar minimum untuk menggelar pertandingan liga profesional pada saat itu.

Di sekeliling lapangan, stadion ini memiliki lintasan atletik, sehingga fungsinya tidak terbatas pada sepak bola saja. Lintasan atletik membuat stadion ini juga bisa dipakai untuk kegiatan atletik, upacara, dan kegiatan olahraga lain yang membutuhkan lintasan lari. Fasilitas lain yang tercatat adalah papan skor elektrik, mushola, toilet, ruang perkantoran, ruang ganti pemain, dan ruang ganti wasit. Wikipedia bahasa Inggris juga menyebut stadion ini sebagai stadion tipe A dengan standar rumput internasional. Klaim tentang standar rumput itu perlu dibaca sebagai gambaran kualitas permukaan lapangan pada masa stadion ini dibangun dan diverifikasi, bukan sebagai jaminan bahwa kondisi rumput selalu sama pada setiap musim, karena kondisi rumput sangat dipengaruhi perawatan dan cuaca.

Tim dan Laga yang Pernah Memakai Stadion Moch Soebroto

Tim yang paling lekat dengan stadion ini adalah PPSM Magelang. Menurut data stadion di Wikipedia bahasa Indonesia, PPSM Magelang rutin menggunakan stadion ini untuk menggelar pertandingan kandang sejak tahun 2012. Pertandingan yang digelar di sini meliputi pertandingan liga Divisi Utama dan Indonesia Soccer Championship B, Piala Indonesia, Piala Wali Kota Magelang, dan pertandingan uji coba PPSM Magelang. Dengan kata lain, stadion ini adalah rumah bagi klub kota sendiri, dan setiap musim kompetisi, stadion ini menjadi tempat warga Magelang menyaksikan timnya bertanding tanpa harus pergi ke kota lain.

Kisah PPSM dan sepak bola Magelang secara lebih luas dibahas dalam artikel tentang PPSM dan Persikama sebagai dua wajah sepak bola Magelang. Kaitan antara klub dan stadion ini penting, karena stadion tanpa klub tuan rumah yang aktif akan cepat sepi, sementara klub tanpa stadion yang layak akan kesulitan menggelar laga kandang. Di Magelang, kedua hal itu bertemu, yaitu klub yang aktif dan stadion yang cukup besar untuk menampung dukungan penontonnya. Dukungan penonton inilah yang membuat laga kandang terasa berbeda dari laga tandang, karena pemain bermain di hadapan warga kotanya sendiri.

Selain PPSM, tim besar yang paling sering dikaitkan dengan stadion ini adalah PSIS Semarang. PSIS memakai Stadion Moch Soebroto sebagai home base selama Stadion Jatidiri di Semarang direnovasi total. Profil Espos pada 2022 menulis bahwa selama ini Stadion Moch Soebroto digunakan sebagai home base PSIS Semarang, dan PSIS kembali ke Stadion Jatidiri sebagai markas pada Liga 1 2022/2023 setelah renovasi stadion itu rampung. Data pemakai di Wikipedia bahasa Indonesia mencatat PSIS memakai stadion ini pada 2017 sampai 2020 dan pada 2024, sementara Wikipedia bahasa Inggris mencatat rentang 2018 sampai 2019 dan 2023 sampai sekarang. Perbedaan rentang ini menunjukkan bahwa masa pemakaian PSIS tidak terjadi dalam satu periode yang rapi, melainkan dalam beberapa periode yang mengikuti jadwal renovasi di Semarang. Yang pasti adalah pola yang sama, yaitu Magelang menjadi tuan rumah sementara bagi tim dari ibu kota provinsi ketika tim itu tidak bisa memakai stadionnya sendiri.

Pola menjadi tuan rumah sementara itu juga terlihat pada laga pembuka Liga 1 2022/2023. Stadion Moch Soebroto menjadi tempat laga perdana kompetisi itu, yaitu pertandingan Persis Solo melawan Dewa United FC pada 25 Juli 2022. Persis Solo tidak bisa memakai Stadion Manahan pada awal kompetisi karena stadion itu dipakai sebagai lokasi ASEAN Para Games pada 30 Juli sampai 6 Agustus 2022. Persis hanya memakai Stadion Moch Soebroto untuk laga perdana itu, lalu baru kembali ke kandangnya di Stadion Manahan pada pekan keempat, saat menjamu Persita pada 14 Agustus 2022. Laga pembuka itu adalah momen penting bagi stadion ini, karena laga pembuka liga biasanya mendapat sorotan nasional, dan sorotan itu jatuh pada stadion di kota kecil yang biasanya tidak menjadi pusat perhatian sepak bola nasional.

Daftar pemakai stadion ini juga mencatat Nusantara United pada 2022, menurut data pemakai di Wikipedia bahasa Indonesia. Kehadiran tim-tim dari luar kota ini menunjukkan bahwa stadion ini memiliki daya tarik praktis bagi klub yang membutuhkan stadion yang sudah terverifikasi, dengan rumput yang layak dan tribun yang cukup besar, di lokasi yang masih terjangkau dari kota-kota lain di Jawa Tengah. Bagi Kota Magelang, setiap tim tamu yang memakai stadion ini membawa rombongan, penonton, dan kegiatan ekonomi di sekitar kawasan, mulai dari penginapan sampai kuliner.

Pada 2026, stadion ini kembali menjadi berita ketika Persipa Pati memilihnya sebagai kandang untuk Liga Nusantara 2026/2027. Kabar itu dibahas tersendiri sebagai berita dalam artikel tentang Stadion Moch Soebroto yang menjadi kandang Persipa Pati, dan profil ini tidak mengulang isi berita itu. Yang relevan untuk profil ini adalah pola yang sama yang sudah berulang, yaitu stadion Magelang kembali dipilih oleh tim dari luar kota karena memenuhi syarat kompetisi. Alasan yang diberitakan untuk pilihan itu adalah soal kelayakan fasilitas dan kesiapan infrastruktur, termasuk soal rumput dan pencahayaan yang menjadi syarat kompetisi musim itu. Manajemen Persipa juga disebut mempertimbangkan catatan historis yang baik di stadion ini, yaitu ketika tim itu menjuarai Liga 3 Jawa Tengah 2021 dan kemudian promosi ke Liga 2.

Menonton Pertandingan di Stadion Moch Soebroto

Bagi penonton yang baru pertama kali datang, ada beberapa hal praktis yang layak diketahui. Pertama, stadion ini terletak di Sanden, Kramat Selatan, Magelang Utara, di tepi Kali Progo. Lokasi di tepi sungai ini memberi suasana yang khas, tetapi juga berarti akses jalan di sekitar kawasan bisa padat pada hari pertandingan. Kedua, pintu masuk terbagi di tiga sisi, yaitu barat, timur, dan selatan, sehingga penonton sebaiknya memperhatikan pintu mana yang sesuai dengan tribunnya, supaya tidak harus memutar setelah sampai di kawasan stadion. Ketiga, area parkir yang dilaporkan menampung sekitar 1.000 motor dan 100 mobil membuat kendaraan roda dua menjadi pilihan yang lebih praktis pada laga ramai.

Keempat, pertandingan malam sangat bergantung pada lampu stadion. Dengan 4 tiang lampu dan 94 lampu di tiap tiang, stadion ini dirancang untuk laga malam, dan verifikasi operator liga pada 2022 menjadi penanda bahwa fasilitas penerangannya memenuhi syarat pada saat itu. Namun, penonton tetap perlu memeriksa jadwal dan pengumuman resmi panitia sebelum datang, karena jam pertandingan, harga tiket, dan aturan masuk dapat berubah dari satu pertandingan ke pertandingan lain. Artikel profil ini sengaja tidak mencantumkan harga tiket, karena harga tiket ditentukan oleh panitia tiap pertandingan dan tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua laga.

Kelima, tribun yang tersedia adalah barat, timur, dan selatan, dan tidak ada tribune utara. Penonton yang memilih tribun barat akan mendapatkan tempat duduk termasuk area VIP, menurut data kapasitas tribun yang dikutip di atas. Penonton yang datang berkelompok sebaiknya datang bersama-sama dan masuk lewat pintu yang sama, karena tribun yang besar bisa membuat rombongan terpisah bila masuk dari pintu yang berbeda. Bagi penonton yang membawa anak-anak, memilih tribun yang tidak terlalu dekat dengan kelompok suporter yang paling riuh adalah pilihan yang masuk akal, dan orang tua tetap perlu mengawasi anak-anak di tangga tribun dan di area parkir.

Di luar pertandingan sepak bola, lintasan atletik di sekeliling lapangan membuat stadion ini juga relevan untuk kegiatan olahraga lain. Kegiatan atletik, upacara, dan acara yang membutuhkan lapangan luas dan lintasan lari dapat memakai kawasan ini, selama mendapat izin dari pengelola. Hal ini penting untuk dipahami, karena stadion yang hanya dipakai pada hari pertandingan sepak bola akan cepat terasa sepi dan mahal perawatannya. Stadion yang dipakai bergantian untuk berbagai kegiatan memiliki peluang lebih besar untuk tetap terawat, karena ada pemasukan dan ada alasan untuk merawat rumput, tribun, dan fasilitasnya secara rutin.

Stadion Moch Soebroto dan Kota Magelang

Nama stadion ini menyimpan sejarah kota. Moch. Soebroto adalah Wali Kota Magelang periode 1971 sampai 1981, dan penamaan stadion atas namanya pada 2015 adalah bentuk penghormatan dari kota kepada mantan pemimpinnya. Penamaan semacam ini bukan hal yang sepele, karena nama yang melekat pada bangunan publik akan disebut setiap hari, dalam berita, dalam percakapan warga, dan dalam jadwal pertandingan. Dengan memberi nama mantan wali kota pada stadion utama kota, Magelang menautkan ingatan tentang masa lalu kota dengan kegiatan yang paling ramai di masa kini, yaitu sepak bola.

Dari sisi pembangunan kota, stadion ini juga menunjukkan cara kota kecil membangun fasilitas besar secara bertahap. Pembangunan yang dimulai pada 2008, mulai dipakai pada 2011, dan baru diresmikan namanya pada 2015 adalah gambaran pembangunan yang tidak selesai dalam satu tarikan anggaran, melainkan dicicil sesuai kemampuan. Cara ini memiliki sisi positif, yaitu stadion bisa dipakai sebelum seluruhnya selesai, tetapi juga memiliki sisi negatif, yaitu sebagian pekerjaan, seperti tribune utara, bisa tertunda sangat lama. Pelajaran dari stadion ini adalah bahwa merencanakan stadion tidak cukup hanya dengan membangunnya, tetapi juga harus menyiapkan rencana penyelesaian dan perawatan jangka panjang.

Bagi pembinaan olahraga, stadion besar seperti ini memiliki dua peran yang berbeda. Peran pertama adalah sebagai panggung, yaitu tempat pertandingan penting digelar dan penonton berkumpul. Peran kedua adalah sebagai penanda standar, yaitu contoh fasilitas yang harus dikejar oleh lapangan-lapangan yang lebih kecil di kota dan kabupaten. Pemain muda yang pernah bermain atau menonton di stadion ini akan membawa gambaran tentang standar lapangan, tribun, dan penerangan yang layak, dan gambaran itu bisa menjadi patokan ketika mereka berlatih di lapangan desa atau lapangan sekolah. Dengan cara ini, stadion utama tidak hanya melayani pertandingan profesional, tetapi juga ikut membentuk selera dan harapan tentang fasilitas olahraga di Magelang.

Pertanyaan yang masih terbuka tentang stadion ini layak ditulis secara jujur di akhir profil. Pertama, berapa kapasitas pastinya, mengingat sumber Indonesia menyebut 20.000 dan sumber berbahasa Inggris menyebut 30.000. Kedua, apakah tribune utara sudah dibangun sesudah 2022, mengingat profil terakhir yang dikutip di sini berasal dari 2022 dan belum ada sumber terbaru yang memastikan perkembangannya. Ketiga, berapa tarif sewa yang berlaku sekarang, mengingat angka Rp12 juta yang dikutip berasal dari peraturan daerah yang berlaku pada 2022. Ketiga pertanyaan ini bukan kelemahan profil, melainkan undangan bagi pengelola dan pemerintah kota untuk memperbarui data publik tentang stadion ini, supaya warga dan klub yang ingin memakai stadion ini tidak harus bergantung pada angka lama.

Pada akhirnya, Stadion Moch Soebroto Magelang adalah stadion yang sudah membuktikan fungsinya. Stadion ini sudah menjadi kandang PPSM sejak 2012, sudah menjadi rumah sementara PSIS pada masa renovasi Jatidiri, sudah menjadi tempat laga pembuka Liga 1 2022/2023, dan pada 2026 kembali dipilih sebagai kandang oleh tim dari luar kota. Stadion ini berdiri di tepi Kali Progo, memiliki tiga tribun, lintasan atletik, lampu stadion, dan ruang-ruang pendukung yang membuatnya lolos verifikasi operator liga. Kekurangan yang masih tercatat, yaitu tribune utara yang belum ada dan angka kapasitas yang masih berbeda di antara sumber, tidak menghapus fungsi itu, tetapi menunjukkan pekerjaan yang masih perlu diselesaikan. Bagi warga Magelang, stadion ini adalah milik bersama yang layak dijaga, dipakai, dan diperbarui datanya, supaya tetap menjadi kebanggaan kota untuk musim-musim berikutnya.

Informasi lebih lanjut tentang stadion ini dapat ditelusuri lewat data stadion di Wikipedia bahasa Indonesia dan lewat profil stadion di Espos, yang menjadi dua sumber utama profil ini. Kedua sumber itu juga menjadi rujukan untuk angka-angka yang dikutip di atas, termasuk soal kapasitas, fasilitas, dan sejarah penamaan stadion.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *