Senin, 2 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Opini » Opini: Tol Jogja-Bawen Jangan Hanya Lewat, Magelang Harus…
Opini

Opini: Tol Jogja-Bawen Jangan Hanya Lewat, Magelang Harus Dapat Manfaat

Jalan tol yang hanya dilewati tanpa singgah tidak cukup bagi Magelang. Opini ini mengajukan daftar manfaat yang harus diperjuangkan, dari akses dan ekonomi lokal hingga kesiapan daerah sebelum jalan tol beroperasi.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 31 Oktober 2026 · 07.11 WIB
Tol Jogja-Bawen melintasi lahan hijau menuju kota
Ilustrasi jalan tol melintasi lahan hijau menuju kota. (Ilustrasi: KabarTidar)

Tol Jogja-Bawen tidak boleh hanya lewat di Magelang tanpa memberi manfaat nyata bagi daerah yang dilintasinya, sebab jalan tol yang hanya menjadi lintasan cepat akan mengubah Magelang menjadi pemandangan dari balik kaca kendaraan, bukan menjadi tujuan yang dikunjungi, tempat usaha yang tumbuh, dan daerah yang warganya ikut merasakan kemajuan. Opini ini berangkat dari keyakinan sederhana, yaitu infrastruktur besar harus diukur bukan hanya dari panjang jalan dan kecepatan tempuh, melainkan dari seberapa besar daerah yang dilintasi ikut naik kelas setelah jalan itu beroperasi. Magelang memiliki alasan yang kuat untuk menuntut ukuran itu, karena wilayah ini berada di tengah trase, dekat dengan Borobudur, dan selama ini sudah menjadi simpul perjalanan antara Yogyakarta, Semarang, dan Solo.

Sebagai gambaran dasar, Jalan Tol Yogyakarta-Bawen memiliki total panjang 75,12 kilometer dan terbagi menjadi enam seksi, menurut data Badan Pengatur Jalan Tol. Ruas itu melintasi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, dengan simpang susun di antaranya di Borobudur, Magelang, Temanggung, Ambarawa, dan Banyurejo. Seksi yang paling dekat dengan kepentingan Magelang adalah Seksi 3 yang menghubungkan Borobudur dan Magelang, sebab ruas inilah yang paling langsung menentukan apakah arus dari arah Yogyakarta dapat masuk ke Magelang dengan mudah atau justru melintas tanpa singgah. Kabar terbaru dari lapangan juga menunjukkan bahwa pembangunan di Magelang sudah memasuki tahap yang nyata, sebab PT Waskita Beton Precast membangun batching plant khusus di Magelang untuk memasok beton siap pakai bagi Seksi 3, dengan kapasitas produksi hingga 88.704 meter kubik per tahun, menurut keterangan perusahaan yang diberitakan media tersebut. Fakta itu penting, sebab menunjukkan bahwa Magelang bukan lagi sekadar nama di peta trase, melainkan lokasi kerja konstruksi yang nyata.

Pembaca yang ingin memahami trase, progres per seksi, dan dampak awal proyek ini dapat membaca artikel KabarTidar tentang Tol Yogyakarta-Bawen dan dampaknya bagi Magelang, yang menguraikan posisi Magelang di dalam trase secara lebih rinci. Opini ini tidak mengulang uraian teknis itu, melainkan mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu apa yang harus dipersiapkan dan diperjuangkan agar Magelang tidak hanya menjadi daerah yang dilintasi, tetapi menjadi daerah yang diuntungkan. Pertanyaan itu perlu diajukan sejak sekarang, sebab manfaat tidak datang dengan sendirinya begitu gerbang tol dibuka, melainkan harus direncanakan, dinegosiasikan, dan dikerjakan jauh sebelum kendaraan pertama melintas.

Tol Jogja-Bawen Bukan Sekadar Jalan Lewat

Tol Jogja-Bawen sering dipuji karena memangkas waktu tempuh, dan pujian itu tidak salah. Waktu tempuh yang lebih singkat memang membantu distribusi barang, memudahkan perjalanan wisata, dan mengurangi kepadatan di jalan nasional. Namun, pujian itu menjadi tidak lengkap bila tidak diikuti dengan pertanyaan tentang siapa yang menikmati penghematan waktu itu. Bila penghematan waktu hanya dinikmati oleh kendaraan yang melintas dari satu kota besar ke kota besar lain, sementara warga di daerah lintasan hanya merasakan kebisingan, debu konstruksi, dan perubahan tata guna lahan, maka Tol Jogja-Bawen itu telah gagal memenuhi janji keadilan pembangunannya. Magelang berhak menolak menjadi sekadar koridor, dan berhak menuntut agar setiap kilometer yang melintasi wilayahnya diimbangi dengan manfaat yang dapat diukur.

Ukuran manfaat itu harus dibuat konkret sejak awal. Manfaat bukan sekadar pernyataan bahwa ekonomi akan tumbuh, melainkan daftar yang dapat diperiksa, seperti akses keluar masuk yang mudah dijangkau dari pusat kota dan kawasan wisata, ketersediaan lahan usaha bagi pelaku lokal di sekitar simpang susun, keterlibatan tenaga kerja dan pemasok lokal selama konstruksi, serta peningkatan kunjungan ke destinasi di luar Borobudur. Bila daftar itu tidak pernah dibuat, maka keberhasilan proyek akan selalu dapat diklaim dengan kalimat yang umum, sementara warga yang tinggal di sekitar trase tidak memiliki tolok ukur untuk menagih janji. Karena itu, pemerintah daerah, pengelola jalan tol, dan pelaku usaha di Magelang perlu menyusun daftar manfaat itu bersama, dan mempublikasikannya agar dapat diawasi oleh publik.

Akses yang Membuka Magelang, Bukan Sekadar Melewatinya

Manfaat pertama yang harus diperjuangkan adalah akses yang benar-benar membuka Magelang. Simpang susun dan jalan penghubung tidak boleh hanya dirancang untuk kendaraan yang melintas, melainkan harus dirancang agar kendaraan yang menuju Magelang dapat keluar dengan mudah, menemukan petunjuk arah yang jelas, dan melanjutkan perjalanan ke pusat kota, kawasan wisata, pasar, dan sentra kuliner tanpa kebingungan. Pengalaman di banyak daerah menunjukkan bahwa gerbang tol yang jauh dari pusat kegiatan, tanpa jalan penghubung yang memadai dan tanpa angkutan lanjutan, justru membuat wisatawan enggan singgah. Wisatawan yang sudah nyaman melaju di jalan tol akan terus melaju ke tujuan berikutnya bila tidak ada alasan yang kuat dan petunjuk yang jelas untuk berhenti di Magelang.

Akses yang baik juga menyangkut jalan-jalan lokal yang menghubungkan simpang susun dengan kawasan di sekitarnya. Jalan kabupaten dan jalan kota yang sempit, rusak, atau tanpa penerangan yang memadai akan mengurangi manfaat Tol Jogja-Bawen, sebab kendaraan yang keluar dari tol akan terjebak pada hambatan baru di jalan lokal. Karena itu, pembangunan Tol Jogja-Bawen harus dibarengi dengan perbaikan jalan penghubung, penataan simpang, penyediaan tempat parkir yang tertib, dan penataan kawasan sekitar simpang susun agar tidak berubah menjadi kawasan kumuh yang dipenuhi bangunan liar.

Ekonomi Lokal, Wisata, dan UMKM Harus Menjadi Bagian dari Rencana

Manfaat kedua adalah ekonomi lokal yang ikut tumbuh, bukan sekadar menjadi penonton. Selama masa konstruksi, pelaksana proyek telah menyatakan harapan bahwa proyek menyerap tenaga kerja serta pemasok material lokal di wilayah Kabupaten Magelang yang memenuhi kualifikasi teknis dan keselamatan kerja. Harapan itu perlu diubah menjadi mekanisme yang dapat diverifikasi, seperti informasi lowongan yang terbuka, pelatihan keterampilan bagi pekerja lokal, dan kesempatan bagi pemasok lokal untuk mengikuti pengadaan sesuai kualifikasi yang jelas.

Setelah Tol Jogja-Bawen beroperasi, manfaat ekonomi harus dirasakan oleh usaha mikro, kecil, dan menengah, bukan hanya oleh usaha besar yang sudah memiliki jaringan luas. Pelaku kuliner, penginapan kecil, pemandu wisata, pengrajin, dan pedagang pasar di Magelang perlu mendapat tempat dalam ekosistem wisata yang baru, misalnya melalui pusat informasi wisata di sekitar simpang susun, peta kuliner dan destinasi yang mudah diakses, serta kerja sama dengan pengelola kawasan wisata. Tanpa upaya semacam itu, arus wisatawan yang lebih besar justru dapat mengalir ke usaha yang sudah besar dan sudah dikenal, sementara usaha kecil di sekitar Magelang tetap berjuang dengan cara yang sama seperti sebelum jalan tol ada.

Wisata adalah bidang yang paling sering disebut sebagai penerima manfaat jalan tol, tetapi wisata juga bidang yang paling mudah terjebak pada ketimpangan. Borobudur sebagai destinasi super prioritas memang akan menjadi magnet utama, dan hal itu patut disyukuri. Namun, Magelang tidak boleh puas hanya menjadi daerah penyangga Borobudur. Destinasi lain di Magelang, seperti wisata alam, wisata budaya, wisata religi, dan wisata kuliner, perlu dipromosikan sebagai rangkaian perjalanan, bukan sebagai pilihan yang terpisah. Wisatawan yang datang ke Borobudur perlu diberi alasan untuk tinggal satu malam lebih lama, mengunjungi satu destinasi tambahan, dan mencicipi satu kuliner lokal, sebab satu malam tambahan dan satu kunjungan tambahan itulah yang mengubah kunjungan singkat menjadi pendapatan bagi penginapan, rumah makan, dan pedagang lokal.

Kuliner lokal dapat menjadi contoh yang baik tentang bagaimana manfaat itu bekerja. Makanan rumahan yang dijual di pasar tradisional dan warung rumahan, seperti buntil dan jajanan pasar, tidak memerlukan investasi besar untuk dinikmati wisatawan, tetapi memerlukan informasi, kebersihan, dan kemudahan akses agar wisatawan berani mencoba. Bila kawasan kuliner lokal dipetakan dengan baik, diberi petunjuk arah yang jelas, dan dijaga kebersihannya, maka wisatawan yang keluar dari jalan tol akan memiliki alasan yang konkret untuk singgah. Sebaliknya, bila kuliner lokal tidak pernah disebut dalam informasi wisata resmi, maka wisatawan akan kembali ke pilihan yang sudah dikenal, dan pelaku kuliner lokal tetap tidak tersentuh oleh arus yang lewat di dekatnya.

Kesiapan Daerah adalah Pekerjaan yang Harus Dimulai Sekarang

Manfaat ketiga adalah kesiapan daerah, dan kesiapan itu tidak boleh menunggu hingga Tol Jogja-Bawen selesai. Pemerintah daerah perlu menyiapkan tata ruang di sekitar simpang susun, agar lahan pertanian yang produktif tidak berubah menjadi bangunan yang tidak terkendali, dan agar kawasan permukiman warga tidak tergusur oleh spekulasi lahan. Perlindungan lahan pertanian penting, sebab Magelang adalah daerah agraris yang hasil pertaniannya menopang kehidupan banyak keluarga. Jalan tol yang mengorbankan lahan pertanian tanpa pengganti yang jelas akan memberi manfaat jangka pendek bagi mobilitas, tetapi merugikan ketahanan pangan dan mata pencaharian dalam jangka panjang.

Kesiapan juga menyangkut lingkungan dan warisan budaya. Pembangunan di sekitar Borobudur dan kawasan Magelang yang memiliki nilai sejarah perlu memperhatikan standar lingkungan dan kelestarian cagar budaya, sebab kerusakan yang terjadi selama konstruksi sulit dipulihkan setelah jalan beroperasi. Pengawasan yang terbuka, pelaporan progres yang jujur, dan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan adalah bagian dari kesiapan, bukan hambatan bagi pembangunan. Proyek yang diawasi dengan baik justru lebih dipercaya oleh publik, dan kepercayaan publik itu menjadi modal penting ketika Tol Jogja-Bawen mulai beroperasi dan memerlukan dukungan warga di sekitarnya.

Pada akhirnya, tol Jogja-Bawen harus dipandang sebagai kesempatan yang menuntut kerja, bukan sebagai hadiah yang datang dengan sendirinya. Magelang harus berani menetapkan target yang jelas, seperti jumlah destinasi yang terhubung, jumlah pelaku usaha lokal yang terlibat, dan jumlah kunjungan yang singgah dan menginap, lalu mengukur capaian itu secara berkala setelah Tol Jogja-Bawen beroperasi. Bila target itu tidak tercapai, maka pemerintah daerah, pengelola jalan tol, dan pelaku usaha perlu duduk bersama untuk mencari penyebabnya, bukan saling menyalahkan. Sikap yang tegas tetapi santun itulah yang perlu dijaga.

Magelang tidak perlu menolak jalan tol, dan tidak perlu pula menerima jalan tol tanpa syarat. Sikap yang paling masuk akal adalah menyambut Tol Jogja-Bawen dengan daftar manfaat yang jelas, dengan kesiapan daerah yang dikerjakan sejak sekarang, dan dengan pengawasan publik yang terbuka. Bila Tol Jogja-Bawen itu benar-benar membuka akses, menggerakkan ekonomi lokal, menyebarkan wisata ke berbagai destinasi, dan menjaga lahan serta warisan budaya, maka Magelang akan menjadi contoh bahwa infrastruktur besar dapat memberi manfaat bagi daerah yang dilintasinya. Bila hal itu tidak terjadi, maka pertanyaan dalam opini ini akan tetap relevan, yaitu untuk apa jalan besar dibangun melintasi Magelang, bila Magelang sendiri hanya menjadi daerah yang dilewati.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *