Gizi Anak Sekolah: Kebutuhan Zat Gizi dan Tanda Kekurangannya
Anak usia sekolah tumbuh cepat dan belajar seharian, sehingga piring makannya harus lengkap. Ini zat gizi utama, panduan Isi Piringku, tanda kekurangan gizi, dan program tablet tambah darah untuk remaja putri.

MAGELANG, KabarTidar. Gizi Anak Sekolah adalah fondasi tumbuh kembang, daya tahan tubuh, dan kemampuan belajar anak selama masa sekolah, karena pada usia sekolah anak tumbuh dengan cepat, aktif bergerak, dan membutuhkan energi serta zat gizi dalam jumlah yang cukup setiap hari. Anak usia sekolah umumnya menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, sehingga apa yang ia makan di rumah sebelum berangkat, bekal yang ia bawa, dan jajanan yang ia beli di sekitar sekolah semuanya ikut menentukan apakah kebutuhan gizinya terpenuhi atau tidak. Ketika asupan gizi kurang, dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi dapat muncul perlahan dalam bentuk tubuh yang mudah lelah, daya tahan tubuh yang menurun, konsentrasi belajar yang berkurang, dan pertumbuhan yang tidak optimal.
Artikel ini membahas kebutuhan gizi anak usia sekolah berdasarkan zat gizi utama, panduan praktis Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan, tanda tanda kekurangan gizi yang perlu diwaspadai orang tua dan guru, serta peran sarapan, bekal, dan jajanan sehat. Sumber utama artikel ini adalah pedoman dan publikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, termasuk panduan Isi Piringku sebagai panduan satu kali makan dengan porsi gizi seimbang, serta publikasi Kementerian Kesehatan tentang pencegahan anemia pada remaja putri melalui tablet tambah darah. Artikel ini adalah informasi umum tentang gizi, bukan pengganti saran tenaga kesehatan, dan setiap kekhawatiran tentang kondisi gizi seorang anak sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter, ahli gizi, atau petugas puskesmas.
Mengapa Gizi Anak Sekolah Menentukan Tumbuh Kembang
Masa usia sekolah, yang umumnya mencakup anak usia sekitar 6 sampai 12 tahun pada jenjang sekolah dasar dan berlanjut ke masa remaja awal pada jenjang sekolah menengah pertama, adalah masa pertumbuhan yang penting. Pada masa ini, tinggi dan berat badan anak bertambah, tulang dan otot menguat, otak terus berkembang, dan anak mulai dituntut untuk berkonsentrasi belajar dalam waktu yang lebih lama. Semua proses itu membutuhkan bahan bakar dan bahan bangunan yang berasal dari makanan. Karbohidrat dan lemak menyediakan energi, protein membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, sedangkan vitamin dan mineral mengatur berbagai proses tubuh, mulai dari pembentukan darah sampai pertahanan terhadap penyakit.
Ketika asupan makanan tidak mencukupi kebutuhan, tubuh anak akan kekurangan bahan untuk tumbuh dan untuk belajar. Kekurangan energi dan protein yang berlangsung lama dapat menghambat pertumbuhan, sedangkan kekurangan zat gizi mikro seperti zat besi dapat menimbulkan anemia, yaitu kondisi ketika sel darah merah atau kadar hemoglobin di dalam tubuh lebih rendah dari biasanya. Menurut publikasi Kementerian Kesehatan yang dikutip pemerintah daerah dalam sosialisasi tablet tambah darah, anemia menyebabkan tubuh menjadi lebih mudah lemah dan mudah pingsan, daya tahan tubuh menurun, konsentrasi belajar menurun, prestasi di sekolah menurun, serta kebugaran dan produktivitas menurun. Gambaran ini menunjukkan bahwa gizi bukan hanya soal berat badan, tetapi juga soal kemampuan anak mengikuti pelajaran dengan baik.
Sebaliknya, gizi yang baik saja tidak cukup tanpa pola hidup sehat yang menyertainya. Anak tetap membutuhkan aktivitas fisik yang cukup, tidur yang cukup, dan kebersihan diri serta lingkungan, termasuk kebiasaan mencuci tangan sebelum makan. Namun, dalam artikel ini, fokus pembahasan adalah makanan, karena makanan adalah sumber zat gizi yang paling langsung dapat diatur oleh orang tua setiap hari, mulai dari menu sarapan, isi bekal, sampai pilihan jajanan. Dengan memahami zat gizi utama dan sumber makanannya, orang tua dapat menyusun menu yang beragam tanpa harus bergantung pada satu jenis makanan mahal.
Perlu ditekankan sejak awal bahwa setiap anak berbeda. Kebutuhan gizi anak dipengaruhi usia, jenis kelamin, berat dan tinggi badan, serta tingkat aktivitasnya. Kementerian Kesehatan menetapkan Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan, yang disingkat AKG, untuk masyarakat Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019, dengan nilai yang berbeda menurut kelompok umur dan jenis kelamin. Artikel ini tidak mencantumkan angka AKG per kelompok umur secara rinci, karena penentuan kecukupan gizi seorang anak sebaiknya dilakukan bersama tenaga kesehatan yang dapat mengukur berat dan tinggi badan anak serta menilai pola makannya secara langsung. Yang dapat dilakukan orang tua di rumah adalah memastikan makanan anak beragam, cukup, dan seimbang setiap hari, sesuai panduan Isi Piringku yang dijelaskan pada bagian berikutnya.
Kebutuhan Gizi Anak Sekolah Berdasarkan Zat Gizi Utama
Zat gizi utama yang dibutuhkan anak usia sekolah dapat dikelompokkan menjadi zat gizi makro dan zat gizi mikro, ditambah air. Zat gizi makro adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah relatif besar, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. Zat gizi mikro adalah vitamin dan mineral yang dibutuhkan dalam jumlah kecil tetapi perannya sangat penting dan tidak dapat digantikan. Air, meskipun sering tidak disebut sebagai zat gizi, juga memegang peran penting karena sebagian besar tubuh terdiri atas air dan anak yang aktif membutuhkan cairan yang cukup setiap hari.
Karbohidrat adalah sumber energi utama bagi anak. Makanan pokok seperti nasi, jagung, singkong, ubi, roti, dan mi menyediakan karbohidrat yang menjadi bahan bakar untuk bergerak, bermain, dan belajar. Anak yang tidak sarapan atau yang makan makanan pokoknya terlalu sedikit sering merasa lemas dan sulit berkonsentrasi di kelas pada jam jam pertama. Karena itu, makanan pokok sebaiknya ada pada setiap kali makan utama, dengan porsi yang disesuaikan dengan usia dan aktivitas anak, bukan dihilangkan sama sekali. Anggapan bahwa anak harus menghindari nasi agar sehat adalah keliru, karena yang perlu diatur adalah keragaman dan porsinya, bukan menghilangkan kelompok makanan pokok dari piring anak.
Protein adalah zat gizi pembangun yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jaringan, termasuk otot dan organ tubuh, serta untuk perbaikan sel sel tubuh yang rusak. Sumber protein hewani antara lain telur, ikan, daging, ayam, hati, dan susu, sedangkan sumber protein nabati antara lain tempe, tahu, dan kacang kacangan. Kementerian Kesehatan, dalam berbagai materi penyuluhan gizi seimbang, menekankan pentingnya protein hewani setiap hari, antara lain karena protein hewani mengandung zat besi yang lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi dari sumber nabati. Kombinasi protein hewani dan nabati dalam menu sehari hari memberi variasi yang baik, sekaligus menjaga menu tetap terjangkau, karena tempe dan tahu adalah sumber protein nabati yang murah dan mudah didapat di Magelang maupun di daerah lain di Indonesia.
Lemak juga dibutuhkan anak, bukan untuk dihindari sepenuhnya. Lemak menyediakan energi yang padat, membantu penyerapan vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E, dan K, serta menjadi bahan pembangun sel. Sumber lemak yang baik antara lain minyak goreng yang digunakan secukupnya dalam memasak, santan dalam jumlah wajar, kacang kacangan, alpukat, dan ikan berlemak. Yang perlu dibatasi adalah lemak dari makanan yang digoreng berulang ulang dengan minyak yang sudah keruh dan dari jajanan tinggi lemak tetapi rendah zat gizi lainnya, seperti keripik dan makanan cepat saji yang dikonsumsi terlalu sering. Prinsipnya bukan melarang lemak, melainkan memilih sumber lemak yang baik dan mengatur jumlahnya.
Vitamin dan mineral, yang disebut zat gizi mikro, bekerja mengatur proses tubuh dan melindungi anak dari penyakit. Vitamin A dari wortel, bayam, dan buah berwarna oranye berperan untuk kesehatan mata dan daya tahan tubuh. Vitamin C dari jambu, jeruk, mangga, dan sayur segar membantu penyerapan zat besi dan menjaga daya tahan tubuh. Vitamin D yang dibentuk dengan bantuan sinar matahari serta dari ikan dan susu berperan untuk kesehatan tulang, bersama kalsium dari susu, ikan teri, dan sayur hijau. Zat besi dari daging merah, hati ayam, dan sayuran hijau berperan dalam pembentukan darah, sedangkan yodium dari garam beryodium berperan untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan. Seng atau zinc dari makanan laut, daging, dan kacang kacangan juga berperan dalam pertumbuhan dan daya tahan tubuh. Keragaman makanan adalah kunci untuk memenuhi semua zat gizi mikro ini, karena tidak ada satu makanan pun yang mengandung semuanya dalam jumlah cukup.
Serat dan air melengkapi kebutuhan itu. Serat dari sayur, buah, dan kacang kacangan membantu pencernaan dan mencegah sembelit, sedangkan air menjaga tubuh tetap terhidrasi, terutama bagi anak yang aktif bermain dan berolahraga. Panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan menganjurkan minum air putih 6 sampai 8 gelas per hari. Minuman manis dalam kemasan sebaiknya dibatasi, karena gula tambahannya tinggi tetapi hampir tidak menyumbang zat gizi lain, dan kebiasaan minum manis setiap hari dapat menggeser nafsu makan anak dari makanan bergizi. Air putih tetap menjadi pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan cairan anak sehari hari.
Isi Piringku sebagai Panduan Praktis Gizi Anak Sekolah
Agar pedoman gizi seimbang mudah dipraktikkan, Kementerian Kesehatan memperkenalkan Isi Piringku, yaitu panduan satu kali makan dengan porsi gizi seimbang. Dalam panduan itu, satu piring makan diisi dengan makanan pokok, lauk pauk sumber protein, sayuran, dan buah buahan, dengan porsi yang seimbang, ditambah anjuran minum air putih 6 sampai 8 gelas per hari. Poster Isi Piringku yang diterbitkan Kementerian Kesehatan menggambarkan piring yang dibagi untuk kelompok makanan tersebut, sehingga orang tua tidak perlu menimbang setiap bahan makanan untuk menerapkan gizi seimbang di rumah. Cukup dengan memastikan keempat kelompok makanan itu hadir dalam satu kali makan, orang tua sudah menjalankan langkah besar menuju gizi seimbang.
Makanan pokok menempati bagian dari piring sebagai sumber energi utama, dan dapat berupa nasi, jagung, singkong, ubi, atau roti, sesuai kebiasaan keluarga. Lauk pauk sumber protein dapat berupa lauk hewani seperti telur, ikan, ayam, atau daging, serta lauk nabati seperti tempe dan tahu. Sayuran sebaiknya hadir setiap kali makan, dengan jenis yang berganti ganti, misalnya bayam, wortel, kangkung, buncis, atau kol, agar anak mendapatkan vitamin dan mineral yang beragam. Buah buahan melengkapi piring itu sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat, misalnya pisang, pepaya, jeruk, mangga, atau jambu, sesuai musim dan ketersediaan di pasar. Dengan pola ini, anak tidak hanya kenyang, tetapi juga mendapatkan zat gizi yang lengkap dalam satu kali makan.
Penerapan Isi Piringku tidak harus kaku dan tidak harus mahal. Orang tua dapat menyesuaikan dengan bahan yang tersedia di dapur dan di pasar setempat, selama keempat kelompok makanan itu tetap hadir. Misalnya, pada hari ketika lauk hewani berupa ikan tersedia, tempe dapat menjadi pendampingnya, dan pada hari ketika buah musiman sedang murah, buah itu dapat menjadi pilihan buah hari itu. Yang penting adalah keragaman dari hari ke hari, bukan kesempurnaan dalam satu kali makan. Jika pada satu kali makan sayur atau buahnya kurang, orang tua dapat melengkapinya pada waktu makan berikutnya, sehingga dalam satu hari penuh kebutuhan anak tetap terpenuhi.
Untuk anak sekolah, Isi Piringku juga dapat diterapkan pada bekal sekolah. Bekal yang baik bukan bekal yang paling banyak atau paling mahal, melainkan bekal yang mengandung makanan pokok, lauk, sayur, dan buah dalam wadah yang praktis. Nasi dengan lauk telur dan tumis sayur ditambah potongan buah adalah contoh bekal yang sederhana, bergizi, dan mudah disiapkan. Sebaliknya, bekal yang hanya berisi mi instan atau camilan manis tanpa lauk dan sayur tidak memenuhi prinsip Isi Piringku, karena hanya memberi energi tanpa protein, vitamin, dan mineral yang cukup. Orang tua yang menyiapkan bekal di rumah memiliki kendali yang lebih besar atas apa yang dimakan anak dibandingkan ketika anak sepenuhnya bergantung pada jajanan di sekolah.
Tanda Kekurangan Gizi Anak Sekolah yang Perlu Diwaspadai
Kekurangan gizi pada anak sekolah tidak selalu tampak sebagai tubuh yang sangat kurus. Kekurangan gizi dapat bersifat kurang energi dan protein, kurang zat gizi mikro, atau keduanya, dan tanda tandanya bisa halus pada awalnya. Orang tua dan guru perlu mewaspadai beberapa tanda berikut, dengan catatan penting bahwa tanda tanda ini bukan diagnosis, melainkan alasan untuk memeriksakan anak ke tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat dipastikan. Anak yang tubuhnya tampak biasa saja tetap dapat mengalami kekurangan zat besi atau vitamin tertentu, sehingga pengamatan sehari hari perlu dilengkapi dengan pemeriksaan berat dan tinggi badan secara berkala, misalnya melalui kegiatan ukur tinggi dan timbang berat di sekolah atau posyandu dan puskesmas.
Tanda pertama yang sering dikeluhkan adalah anak mudah lelah, lesu, dan tidak bersemangat mengikuti pelajaran. Anak yang kekurangan energi atau kekurangan zat besi dapat tampak pucat, terutama pada kelopak mata bagian dalam, bibir, dan telapak tangan, serta mudah mengantuk di kelas. Menurut publikasi Kementerian Kesehatan tentang anemia yang dikutip dalam sosialisasi tablet tambah darah, anemia menyebabkan tubuh lebih mudah lemah dan mudah pingsan, sehingga anak yang sering mengeluh pusing atau lemas sebaiknya tidak dianggap remeh. Tanda ini memang dapat disebabkan banyak hal, mulai dari kurang tidur sampai penyakit tertentu, sehingga pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Tanda kedua adalah daya tahan tubuh yang menurun, misalnya anak sering sakit, mudah batuk pilek, atau lukanya lama sembuh. Zat gizi seperti protein, vitamin A, vitamin C, dan seng berperan dalam pertahanan tubuh, sehingga asupan yang kurang dalam waktu lama dapat membuat anak lebih rentan terhadap infeksi. Jika anak tampak jauh lebih sering sakit dibandingkan teman seusianya, orang tua sebaiknya meninjau kembali pola makannya, apakah sayur dan buahnya sudah hadir setiap hari, apakah lauk hewani sudah cukup, dan apakah anak sudah sarapan secara teratur. Catatan sederhana tentang frekuensi sakit dan pola makan anak dapat membantu tenaga kesehatan saat berkonsultasi.
Tanda ketiga adalah gangguan konsentrasi dan prestasi belajar yang menurun. Anak yang kekurangan zat besi atau yang berangkat sekolah tanpa sarapan dapat sulit berkonsentrasi, mudah lupa, dan nilai pelajarannya menurun tanpa sebab yang jelas. Publikasi Kementerian Kesehatan tentang anemia menegaskan bahwa anemia pada remaja putri dapat berdampak pada penurunan konsentrasi belajar dan penurunan prestasi di sekolah, dan dampak yang sama secara umum dapat terjadi pada anak usia sekolah yang mengalami kekurangan gizi. Guru yang melihat perubahan prestasi seorang anak secara mendadak sebaiknya mengomunikasikannya kepada orang tua, agar pola makan dan kesehatan anak dapat ditinjau bersama, bukan semata mata dianggap sebagai masalah kemalasan.
Tanda keempat berkaitan dengan pertumbuhan, yaitu berat badan yang sulit naik, tinggi badan yang tertinggal dibandingkan teman seusia, atau pertumbuhan yang melambat dari kurva pertumbuhan sebelumnya. Pertumbuhan yang melambat dalam waktu lama dapat menjadi tanda kekurangan energi dan protein kronis, dan memerlukan penilaian tenaga kesehatan dengan mengukur berat dan tinggi badan serta membandingkannya dengan standar pertumbuhan anak. Orang tua sebaiknya menyimpan catatan hasil penimbangan dan pengukuran tinggi badan anak dari waktu ke waktu, karena tren pertumbuhan jauh lebih bermakna daripada satu kali pengukuran. Jika tren pertumbuhan anak melambat atau menurun, segera konsultasikan ke puskesmas atau dokter anak.
Tanda kelima adalah tanda tanda kekurangan zat gizi mikro yang lebih spesifik, misalnya sariawan yang sering kambuh, gusi mudah berdarah, kulit kering dan bersisik, rambut mudah rontok, atau mata yang sulit beradaptasi dalam gelap. Tanda tanda ini dapat berkaitan dengan kekurangan vitamin C, vitamin A, atau zat gizi lain, tetapi sekali lagi tidak dapat disimpulkan sendiri di rumah, karena penyakit dan kondisi lain dapat menimbulkan tanda yang serupa. Prinsip yang aman adalah menganggap tanda tanda itu sebagai peringatan dini untuk memperbaiki pola makan dan untuk berkonsultasi, bukan sebagai dasar untuk memberi suplemen atau obat tanpa anjuran tenaga kesehatan. Pemberian vitamin atau suplemen tanpa indikasi yang jelas tidak dianjurkan, karena kelebihan zat gizi tertentu juga dapat menimbulkan masalah.
Data Riskesdas atau Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 yang dikutip dalam penelitian tentang anemia pada remaja putri menunjukkan bahwa masalah anemia di Indonesia bukan masalah kecil. Prevalensi anemia di Indonesia sebesar 21,7 persen, pada kelompok anak dan remaja umur 5 sampai 14 tahun sebesar 26,4 persen, dan pada kelompok umur 15 sampai 24 tahun sebesar 18,4 persen. Angka angka itu menggambarkan bahwa lebih dari seperempat anak dan remaja usia 5 sampai 14 tahun mengalami anemia pada waktu survei tersebut dilakukan, sehingga upaya pencegahan anemia sejak usia sekolah menjadi sangat penting. Angka itu dikutip di sini sebagai gambaran nasional dari Riskesdas 2018, bukan sebagai data terbaru, dan orang tua yang ingin mengetahui kondisi terkini dapat merujuk pada publikasi Kementerian Kesehatan yang lebih baru atau bertanya kepada petugas puskesmas setempat.
Sarapan, Bekal, dan Jajanan di Sekolah
Sarapan adalah waktu makan yang paling sering terlewatkan oleh anak sekolah, padahal sarapan memberi energi awal untuk belajar di pagi hari. Anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan sering merasa lapar sebelum jam istirahat, sulit berkonsentrasi, dan cenderung membeli jajanan apa saja yang tersedia di kantin atau di sekitar sekolah. Sarapan yang baik tidak harus rumit, cukup mengandung makanan pokok, lauk, dan buah atau sayur, misalnya nasi dengan telur dan potongan buah, atau roti dengan telur dan susu. Jika waktu pagi sangat terbatas, bekal sarapan yang dapat dimakan di perjalanan atau di sekolah tetap lebih baik daripada tidak sarapan sama sekali, selama isinya bergizi dan disiapkan secara higienis.
Bekal sekolah memberi orang tua kesempatan untuk memastikan anak makan makanan bergizi di tengah hari. Bekal yang baik mengikuti prinsip Isi Piringku, yaitu mengandung makanan pokok, lauk pauk, sayur, dan buah, dengan air putih sebagai minumannya. Wadah bekal sebaiknya bersih, tertutup rapat, dan mudah dibuka oleh anak, sedangkan makanan yang dibawa sebaiknya tidak mudah basi, terutama pada cuaca panas. Lauk yang ditumis atau digoreng kering, sayur yang dimasak matang, dan buah yang dikupas atau dipotong di rumah adalah pilihan yang praktis. Orang tua juga sebaiknya melibatkan anak dalam memilih menu bekal, agar bekal itu benar benar dimakan, bukan dibawa pulang utuh karena anak tidak menyukainya.
Jajanan sekolah adalah bagian yang paling sulit dikendalikan, tetapi tetap dapat diarahkan. Anak perlu dikenalkan pada perbedaan antara jajanan yang mengenyangkan dan bergizi dengan jajanan yang hanya manis, asin, atau berlemak tanpa zat gizi yang berarti. Jajanan seperti buah potong, telur rebus, kacang rebus, dan susu lebih baik dibandingkan permen, minuman manis dalam kemasan, dan keripik yang dikonsumsi setiap hari. Orang tua dapat memberi uang jajan secukupnya dan membekali anak dengan bekal utama, sehingga anak tidak sepenuhnya bergantung pada jajanan. Sekolah juga berperan melalui kantin sehat yang menyediakan makanan bergizi dan membatasi jajanan rendah gizi, serta melalui pembinaan di unit kesehatan sekolah atau UKS.
Kebersihan makanan juga tidak boleh dilupakan, karena anak yang gizinya sudah baik tetap dapat sakit bila makanannya tercemar. Orang tua sebaiknya mengajarkan anak untuk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, tidak berbagi alat makan yang kotor, dan memilih jajanan yang disajikan secara tertutup dan higienis. Pembaca yang ingin memahami pertolongan pertama saat makanan menimbulkan masalah dapat membaca artikel KabarTidar tentang pertolongan pertama keracunan makanan, dan artikel tentang salmonella dan keracunan makanan, yang menjelaskan mengapa kebersihan pangan penting bagi anak sekolah. Makanan bergizi yang disiapkan dengan bersih memberi manfaat ganda, yaitu zat gizinya terpenuhi dan risiko sakitnya berkurang.
Anemia dan Tablet Tambah Darah untuk Remaja Putri
Kelompok yang secara khusus mendapat perhatian Kementerian Kesehatan dalam pencegahan anemia adalah remaja putri. Hal ini karena remaja putri mengalami menstruasi setiap bulan, sehingga kehilangan darah secara berkala dan membutuhkan zat besi yang lebih banyak untuk menggantikan darah yang hilang. Selain itu, pola makan remaja putri yang kurang kaya zat besi, kebiasaan minum teh atau kopi setelah makan yang dapat menghambat penyerapan zat besi non heme dari sumber nabati, serta kebiasaan diet ketat tanpa memperhatikan kebutuhan gizi harian, dapat memperparah risiko kekurangan zat besi. Penelitian pada siswi sekolah menengah kejuruan di Rantepao yang diterbitkan Jurnal Panrita Abdi Universitas Hasanuddin menemukan bahwa sebagian besar siswi jarang atau bahkan tidak pernah mengonsumsi makanan sumber zat besi seperti daging merah, hati ayam, atau sayuran hijau, dan temuan itu memperkuat urgensi edukasi gizi yang menekankan perilaku konsumsi pangan bergizi seimbang.
Untuk mencegah anemia pada remaja putri, Kementerian Kesehatan menganjurkan pemberian tablet tambah darah, yang disingkat TTD, melalui unit kesehatan sekolah atau madrasah. Menurut ketentuan Kementerian Kesehatan tahun 2020 yang dikutip dalam penelitian tersebut, pemberian TTD dilakukan pada remaja putri mulai usia 12 sampai 18 tahun di institusi pendidikan menengah, yaitu SMP dan SMA atau yang sederajat, melalui UKS atau UKM. Dosis pencegahan dilakukan dengan memberikan satu tablet tambah darah setiap minggu selama 52 minggu. Tablet tambah darah adalah suplemen gizi yang mengandung senyawa zat besi yang setara dengan 60 miligram besi elemental dan 400 mikrogram asam folat, menurut ketentuan Kementerian Kesehatan tahun 2015 yang dikutip dalam sumber yang sama.
Orang tua dan remaja putri perlu memahami bahwa TTD adalah program pencegahan yang dijalankan bersama sekolah dan petugas kesehatan, bukan obat yang diminum sembarangan tanpa pengawasan. Jika remaja putri mendapatkan TTD dari sekolah, minumlah sesuai anjuran dan sampaikan kepada guru UKS atau petugas kesehatan bila ada keluhan setelah meminumnya, seperti mual atau pusing, agar dapat dievaluasi. Penelitian di Rantepao menemukan bahwa ketakutan terhadap efek samping seperti mual atau pusing, kurangnya pemahaman tentang manfaat TTD, serta lemahnya pengawasan dari tenaga kesehatan maupun guru UKS menjadi hambatan utama keberhasilan program TTD di kalangan remaja. Karena itu, edukasi yang jujur tentang manfaat dan kemungkinan keluhan, disertai pendampingan, menjadi sama pentingnya dengan pembagian tablet itu sendiri.
Selain TTD, makanan sehari hari tetap menjadi fondasi pencegahan anemia. Sumber zat besi heme yang mudah diserap tubuh berasal dari daging merah, hati ayam, dan makanan hewani lainnya, sedangkan sumber zat besi non heme berasal dari sayuran hijau dan kacang kacangan. Penyerapan zat besi non heme dapat dibantu oleh vitamin C dari buah buahan, sehingga mengonsumsi buah bersama makanan utama adalah kebiasaan yang baik. Sebaliknya, kebiasaan minum teh atau kopi segera setelah makan dapat menghambat penyerapan zat besi non heme, sehingga sebaiknya diberi jeda waktu. Jika pola makan sudah memenuhi gizi seimbang, suplementasi TTD tidak diperlukan lagi, menurut penjelasan yang dikutip dari Kementerian Kesehatan tahun 2015 dalam penelitian tersebut, tetapi penentuan itu tetap berada pada tenaga kesehatan, bukan diputuskan sendiri di rumah.
Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi ke Tenaga Kesehatan
Orang tua sebaiknya tidak menunggu sampai tanda kekurangan gizi menjadi berat sebelum berkonsultasi. Segera periksakan anak ke puskesmas, dokter, atau ahli gizi bila anak tampak pucat dan mudah lelah dalam waktu lama, berat badannya tidak naik atau justru turun selama beberapa bulan, tinggi badannya tertinggal jauh dari teman seusia, sering sakit, atau prestasi belajarnya menurun secara mendadak tanpa sebab yang jelas. Tenaga kesehatan dapat mengukur berat dan tinggi badan anak, menilai status gizinya, memeriksa kadar hemoglobin bila diperlukan, dan memberi saran makanan yang sesuai dengan kondisi anak. Konsultasi semacam ini adalah langkah yang wajar dan tidak perlu ditunggu sampai anak jatuh sakit.
Di Magelang, fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit dapat menjadi tempat konsultasi pertama, dan pembaca dapat membaca artikel KabarTidar tentang RSUD Tidar Magelang sebagai salah satu fasilitas kesehatan rujukan di Kota Magelang. Namun, untuk urusan gizi sehari hari, puskesmas terdekat biasanya sudah cukup, karena petugas gizi puskesmas dapat menilai pola makan anak dan memberi penyuluhan kepada orang tua. Sekolah juga dapat menjadi pintu masuk, melalui guru dan petugas UKS yang dapat mengarahkan orang tua kepada petugas kesehatan bila menemukan tanda tanda yang mengkhawatirkan pada siswa.
Orang tua juga perlu waspada terhadap tawaran produk gizi yang menjanjikan hasil instan, seperti susu atau suplemen yang diklaim dapat membuat anak cepat tinggi atau cepat pintar dalam waktu singkat. Pertumbuhan anak adalah proses jangka panjang yang dipengaruhi makanan beragam, tidur cukup, aktivitas fisik, dan kesehatan secara umum, bukan satu produk saja. Jika anak memang membutuhkan suplemen atau susu khusus karena kondisi medis tertentu, pemberiannya harus berdasarkan anjuran tenaga kesehatan setelah pemeriksaan, bukan berdasarkan iklan. Sikap kritis terhadap klaim produk gizi adalah bagian dari literasi gizi keluarga.
Sebagai gambaran praktis, berikut adalah contoh menu sehari yang mengikuti prinsip Isi Piringku dan dapat disesuaikan dengan selera serta ketersediaan bahan di rumah. Menu ini adalah contoh, bukan resep medis, dan porsinya disesuaikan dengan usia serta aktivitas anak. Pada waktu sarapan, anak dapat makan nasi dengan telur dadar dan tumis sayur, ditambah potongan pepaya dan segelas air putih. Jika anak lebih menyukai roti, roti dengan telur dan susu serta buah pisang dapat menjadi alternatif sarapan yang tetap mengandung makanan pokok, protein, dan buah.
Pada waktu makan siang, bekal atau makanan di rumah dapat berupa nasi dengan lauk ikan atau ayam, tempe, sayur bayam atau sayur sop, dan buah jeruk, dengan air putih sebagai minumannya. Pada waktu makan malam, menu dapat berupa nasi dengan lauk daging atau hati ayam seminggu sekali, tahu, sayur kangkung atau buncis, dan buah mangga atau jambu, dengan air putih. Di antara waktu makan utama, camilan sehat seperti buah potong, kacang rebus, atau susu dapat diberikan, sedangkan camilan manis dan minuman manis dalam kemasan sebaiknya dibatasi dan tidak dijadikan kebiasaan harian. Dengan pola seperti ini, anak mendapatkan makanan pokok, protein hewani dan nabati, sayur, dan buah setiap hari, tanpa menu yang rumit atau mahal.
Keragaman dari hari ke hari sama pentingnya dengan kelengkapan dalam satu hari. Orang tua dapat menyusun menu mingguan sederhana, misalnya mengganti jenis lauk hewani antara telur, ikan, ayam, dan daging, mengganti jenis sayur setiap hari, dan memanfaatkan buah musiman yang sedang murah. Cara ini mencegah anak bosan, memperluas jenis zat gizi yang didapat, dan menjaga belanja tetap terkendali. Anak yang dilibatkan dalam memilih sayur dan buah di pasar atau di kebun sering lebih bersemangat memakannya, karena ia merasa memiliki andil dalam menu yang tersaji di meja makan.
Sebagai penutup, gizi anak sekolah dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari, yaitu sarapan yang tidak terlewatkan, piring makan yang berisi makanan pokok, lauk, sayur, dan buah, air putih yang cukup, bekal yang disiapkan di rumah, dan jajanan yang dipilih dengan bijak. Tanda tanda kekurangan gizi, mulai dari mudah lelah dan pucat, sering sakit, sulit berkonsentrasi, sampai pertumbuhan yang melambat, perlu diwaspadai dan ditindaklanjuti dengan konsultasi ke tenaga kesehatan, bukan didiagnosis sendiri di rumah. Bagi remaja putri, program tablet tambah darah dari sekolah adalah upaya pencegahan anemia yang perlu didukung dengan makanan kaya zat besi dan pemahaman yang benar tentang manfaatnya.
Catatan penting untuk pembaca, artikel ini adalah informasi umum tentang gizi anak usia sekolah, bukan pengganti saran tenaga kesehatan. Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, dan keputusan tentang makanan khusus, suplemen, atau penanganan kekurangan gizi harus didasarkan pada pemeriksaan oleh dokter, ahli gizi, atau petugas puskesmas. Jika orang tua khawatir tentang pertumbuhan, berat badan, atau kesehatan anaknya, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan terdekat.
Sumber sumber yang dipakai dalam artikel ini antara lain panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan sebagai panduan satu kali makan dengan porsi gizi seimbang dan anjuran minum air putih 6 sampai 8 gelas per hari, yang posternya dapat dilihat melalui poster Isi Piringku Kementerian Kesehatan, serta penelitian tentang skrining status gizi, anemia, dan kepatuhan minum tablet tambah darah pada remaja putri yang diterbitkan Jurnal Panrita Abdi Universitas Hasanuddin, yang memuat ketentuan Kementerian Kesehatan tentang pemberian tablet tambah darah dan data Riskesdas 2018 yang dikutip dalam artikel ini, yang dapat diakses melalui jurnal Panrita Abdi tentang anemia dan tablet tambah darah. Pembaca yang ingin mendalami pedoman gizi seimbang dapat merujuk langsung pada publikasi Kementerian Kesehatan tersebut dan berkonsultasi dengan petugas gizi di puskesmas setempat.


