Gunung Sindoro, Kembaran Sumbing
Profil gunung api setinggi 3.153 meter di antara Temanggung dan Wonosobo, dari jalur Kledung dan Sigedang hingga bedanya dengan Sumbing, dan posisinya yang jujur bagi pembaca Magelang.

MAGELANG, KabarTidar. Gunung Sindoro adalah gunung api yang berdiri berhadapan dengan Gunung Sumbing di Jawa Tengah, dipisahkan oleh sebuah celah pass yang dari kejauhan membuat keduanya tampak seperti sepasang gunung kembar. Dari sisi Magelang, Sindoro bukan gunung yang wilayahnya masuk Kabupaten Magelang, dan kejujuran geografis itu penting disampaikan di awal: Sindoro terletak di antara Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo, sementara Sumbinglah yang wilayahnya dibagi tiga kabupaten, termasuk Magelang. Namun bagi pembaca Magelang, Sindoro tetap gunung tetangga yang paling dekat, karena jalan Parakan menuju Wonosobo melewati celah di antara kedua gunung itu, dan dari lereng Sumbing sisi Magelang, Sindoro adalah siluet yang hampir selalu terlihat.
Artikel ini adalah profil Gunung Sindoro: letak dan ketinggiannya yang sudah diverifikasi dari beberapa sumber, bentuknya sebagai gunung api, jalur pendakian dan basecamp yang namanya berulang kali muncul dalam panduan pendakian, perkebunan di lerengnya yang hanya disinggung singkat di sini, serta perbedaan yang paling mudah diingat antara Sindoro dan Sumbing. Pembahasan mendalam soal tembakau sengaja tidak ditulis di sini, karena topik itu menjadi artikel tersendiri, dan pembahasan soal kebakaran Sumbing juga tidak diulang, karena sudah ditulis lengkap dalam artikel tentang sejarah kebakaran Gunung Sumbing. Di sini Sindoro dibahas sebagai gunungnya sendiri, bukan sebagai bayangan Sumbing.
Letak dan Ketinggian Gunung Sindoro
Gunung Sindoro, yang juga ditulis Sundoro dan Sindara dalam sejumlah sumber, adalah gunung api strato di Jawa Tengah. Ketinggiannya 3.153 meter di atas permukaan laut, menurut Wikipedia dan panduan Gunung Bagging, sementara Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah menulis 3.151 meter. Angka 3.153 meter inilah yang dipakai artikel ini, dan selisih 2 meter itu dicatat di sini agar pembaca tidak mengira salah satu sumber salah: keduanya merujuk pada puncak yang sama, dengan pembulatan yang sedikit berbeda.
Letak Sindoro berada di antara Temanggung dan Wonosobo. Sumbing, tetangganya, terletak di sebelah tenggara Sindoro, dan keduanya dipisahkan oleh Kledung Pass yang menurut Gunung Bagging berada pada ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. Celah inilah yang menjadi simpul penting bagi seluruh kawasan: jalan raya Parakan ke Wonosobo melewatinya, desa Kledung berada di dekatnya, dan basecamp pendakian kedua gunung dapat dicapai dari kawasan yang sama. Dari sudut pandang pendaki, Kledung Pass adalah pintu gerbang ganda, karena dari satu kawasan yang sama, pendaki dapat memilih naik Sindoro atau naik Sumbing.
Secara bentang alam yang lebih luas, Sindoro dan Sumbing mendominasi kawasan Dataran Tinggi Dieng dan Dataran Kedu. Kompleks Gunung Sindoro, menurut Wikivoyage yang merangkum data geografis kawasan ini, menjadi hulu Daerah Aliran Sungai Progo di lereng timur dan Daerah Aliran Sungai Serayu di lereng barat. Batas antara kedua daerah aliran itu membentang ke arah tenggara dari kompleks Sindoro hingga ke puncak Sumbing, lalu kedua sungai induknya sama-sama bermuara ke Samudra Hindia di pantai selatan Jawa, dengan jarak muara sekitar 125 kilometer. Bagi warga lereng, fakta hidrologi itu bukan sekadar catatan peta: air yang turun dari Sindoro mengairi sawah dan kebun di dua sisi gunung, dan hutan di lereng atas adalah penampung air yang membuat mata air di bawahnya tetap mengalir pada musim kemarau.
Nama Sindoro sendiri, menurut penjelasan asal usul yang dikutip Gunung Bagging dari George Quinn pada 2011, kemungkinan berasal dari kata Jawa si sebagai penanda orang dan ndara atau bandara yang berarti tuan atau majikan, sehingga Sindoro dapat dibaca sebagai gunung yang bertuan atau gunung yang agung. Penjelasan ini disampaikan sebagai tafsir kebahasaan, bukan sebagai kepastian sejarah, dan ia selaras dengan cerita rakyat setempat yang mengaitkan nama Sindoro dan Sumbing dengan dua bersaudara, satu yang bijak dan satu yang sumbing bibirnya. Cerita itu hidup sebagai dongeng asal usul, dan artikel ini menuliskannya sebagai cerita, bukan sebagai fakta sejarah.
Gunung Sindoro, Kembaran yang Tidak Identik
Sebutan gunung kembar untuk Sindoro dan Sumbing mudah dipahami ketika keduanya dilihat dari kejauhan: dua kerucut yang hampir simetris, berdiri berdampingan, dengan ketinggian yang tidak jauh berbeda. Namun sebutan itu hanya benar pada tingkat siluet. Begitu didekati, perbedaan keduanya cukup jelas, dan perbedaan itu justru yang membuat pendaki sering mendaki keduanya dalam perjalanan yang berbeda.
Perbedaan pertama adalah ketinggian. Sumbing mencapai 3.371 meter di atas permukaan laut, sehingga Sindoro lebih rendah 218 meter dari tetangganya. Selisih 218 meter itu diperoleh dari pengurangan sederhana antara 3.371 meter dan 3.153 meter, dan ia menjelaskan mengapa Sumbing sering disebut gunung yang lebih tinggi sekaligus lebih lama didaki, sementara Sindoro dipandang sebagai pendakian yang lebih singkat. Dinas Pariwisata Jawa Tengah mencatat pendakian Sindoro dari basecamp ke puncak memakan waktu 5 sampai 6 jam, sementara pendakian Sumbing memakan waktu 9 sampai 10 jam, meskipun lereng Sumbing disebut lebih landai. Angka waktu itu adalah gambaran umum, bukan janji, karena kecepatan setiap pendaki berbeda, tetapi perbandingan arahnya konsisten dengan selisih ketinggian dan karakter jalur keduanya.
Perbedaan kedua adalah wilayah administratifnya. Sumbing dibagi tiga kabupaten, yaitu Magelang, Temanggung, dan Wonosobo, sehingga satu gunung menjadi urusan tiga pemerintah daerah. Sindoro hanya dibagi dua kabupaten, yaitu Temanggung dan Wonosobo, sehingga ia tidak memiliki sisi Magelang secara administratif. Konsekuensi praktisnya adalah jalur pendakian resmi Sindoro tidak berangkat dari Magelang, dan pembaca Magelang yang ingin mendaki Sindoro harus menuju Temanggung atau Wonosobo terlebih dahulu. Hal ini berbeda dengan Sumbing, yang dari sisi Magelang dapat didaki lewat Kaliangkrik dan Dusun Butuh yang dikenal sebagai Nepal van Java.
Perbedaan ketiga adalah kawah dan aktivitasnya. Sindoro adalah gunung api semi aktif dengan kawah di puncak yang ditempati kubah lava kecil, menurut Wikipedia dan Wikivoyage, serta memiliki kawah kawah parasit dan kerucut vulkanik di lereng barat laut sampai selatannya, yang terbesar bernama Kembang. Sumbing, menurut Wikivoyage, memiliki kawah freatik kecil di puncak dan hanya satu laporan letusan historis, yaitu pada 1730. Sindoro, sebaliknya, memiliki catatan letusan yang lebih muda, dan perbedaan riwayat inilah yang dibahas pada bagian berikutnya.
Perbedaan keempat adalah pengalaman pendakian. Gunung Bagging menyebut Sindoro sebagai pendakian yang relatif mudah untuk ukurannya dan cocok sebagai pengantar pendakian di Indonesia, dengan pemandangan dari puncak ke arah Sumbing, Merapi, Merbabu, Ungaran, Slamet, punggungan tinggi Dieng seperti Gunung Prau, dan pantai utara Jawa. Sumbing, dengan ketinggian yang lebih besar dan jalur yang lebih panjang, menawarkan pengalaman yang lebih melelahkan tetapi juga pemandangan kawahnya yang dikelilingi ngarai. Pendaki yang hanya punya waktu satu malam sering memilih Sindoro, sementara pendaki yang mengejar ketinggian tertinggi ketiga di Jawa, setelah Semeru dan Slamet menurut sejumlah sumber, akan memilih Sumbing.
Gunung Api yang Masih Bernapas
Sindoro adalah gunung api aktif dalam arti yang perlu dipahami secara tepat: ia tidak sedang meletus, tetapi ia masih menunjukkan tanda kehidupan vulkanik, dan statusnya dipantau. Letusan terakhir Sindoro yang dilaporkan, menurut Global Volcanism Program Smithsonian Institution yang mengutip Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, terjadi pada 29 Oktober 1971. Letusan letusan historis Sindoro, menurut Wikipedia, sebagian besar berkategori ringan sampai sedang. Angka dan kategori itu penting, karena ia menempatkan Sindoro di antara gunung api yang aktif tetapi tidak termasuk yang paling eksplosif di Jawa, dan ia juga menjelaskan mengapa lerengnya tetap dihuni dan diolah secara intensif.
Tanda kehidupan Sindoro yang paling baru dicatat pada akhir 2011. Menurut buletin Global Volcanism Program, pengamatan visual pada Oktober sampai Desember 2011 menunjukkan asap dari fumarol di sekitar kawah puncak, dengan suhu fumarol rata-rata 75 derajat Celsius pada 26 Oktober dan 95 derajat Celsius pada 2 November 2011. Pada 2 November itu, tinggi asap sudah melewati bibir kawah. Aktivitas seismik, terutama gempa vulkanik dalam dan dangkal, mulai meningkat pada November 2011, sehingga status Sindoro dinaikkan dari Normal atau Level I menjadi Waspada atau Level II pada 5 Desember 2011. Setelah minggu pertama Januari 2012, jumlah gempa harian menurun secara signifikan, dan statusnya diturunkan kembali ke Level I pada 30 Maret 2012.
Rangkaian 2011 sampai 2012 itu memberi pelajaran yang masih berlaku bagi pendaki hari ini: status gunung api dapat berubah dalam hitungan minggu, dan pendaki wajib memeriksa status terbaru dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sebelum berangkat, bukan mengandalkan ingatan bahwa Sindoro terakhir meletus pada 1971. Gunung Bagging juga mencatat peringatan yang lebih praktis dan lebih lama berlaku: berkemah di puncak tidak disarankan sejak 2011 karena gas beracun di dekat kawah puncak, dan satu pendaki dilaporkan meninggal karena berkemah di dekat kawah pada 2013. Panduan itu menyarankan pendaki menunggu hingga setelah pukul tujuh pagi untuk mengintip ke dalam kawah aktif dan tidak berlama-lama di dekat gas. Peringatan ini ditulis di sini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan karena ia adalah informasi keselamatan yang paling spesifik tentang Sindoro yang ditemukan dalam riset artikel ini.
Di luar kawah, Sindoro juga memiliki danau kecil di puncak yang menurut Gunung Bagging hanya ada pada musim hujan. Informasi kecil ini berguna bagi pendaki yang membayangkan danau permanen di puncak: pada musim kemarau, danau itu tidak ada, dan sumber air di jalur tidak selalu dapat diandalkan, sehingga pendaki diminta membawa air yang cukup dan menganggap tidak ada air di jalur. Prinsip yang sama berlaku untuk semua jalur Sindoro, karena tidak semua jalur memiliki sumber air yang andal.
Jalur Kledung, Jalur Paling Populer
Jalur Kledung adalah jalur pendakian Sindoro yang paling sering disebut sebagai jalur utama. Basecamp Sindoro via Kledung berada di Jalan Raya Parakan Wonosobo Nomor 12, Kledung, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, menurut direktori Trip.com, dan Dinas Pariwisata Jawa Tengah menyebut pendaki dapat memulai pendakian Sindoro dari Desa Kledung, Kecamatan Kledung. Sejumlah panduan lama juga menyebut Kledung sebagai jalur paling populer menuju Sindoro, dan AllTrails mencatat jalur Gunung Sindoro via Kledung sepanjang 14,6 kilometer dengan kenaikan ketinggian 1.724 meter, serta waktu tempuh pulang pergi rata-rata sekitar 9 sampai 9,5 jam menurut data komunitasnya.
Perbedaan antara angka 5 sampai 6 jam dari Dinas Pariwisata Jawa Tengah dan angka 9 sampai 9,5 jam pulang pergi dari AllTrails bukan pertentangan, melainkan perbedaan cara menghitung: angka pertama mengukur waktu dari basecamp ke puncak, sedangkan angka kedua mengukur perjalanan pulang pergi secara keseluruhan, termasuk istirahat dan perbedaan kecepatan pendaki. Artikel ini menuliskan keduanya dengan penjelasan itu, agar pembaca tidak mengira salah satu sumber salah. Jalur Kledung juga dikenal karena akses transportasi umumnya lebih mudah dan karena banyak warga setempat menawarkan jasa ojek sepeda motor untuk mengangkut barang atau mengantar pendaki sampai Pos 1, menurut AllTrails. Jasa ojek itu adalah bagian dari ekonomi lereng yang sama dengan perkebunan di bawahnya: warga yang sehari-hari bertani juga menjadi pengantar pendaki pada musim pendakian.
Ciri visual jalur Kledung yang paling sering disebut adalah kebun tembakau. Panduan lama tentang Sindoro menyebut pendaki yang memakai jalur Kledung akan berjalan melewati ladang tembakau, sebelum memasuki hutan di tengah perjalanan menuju puncak. Gambaran itu selaras dengan artikel pendamping tentang kopi lereng Sumbing yang mencatat tembakau sebagai tanaman utama kawasan Sindoro Sumbing sampai akhir 1970-an, meskipun pembahasan ekonomi tembakau yang mendalam ditulis dalam artikel tersendiri tentang tembakau lereng Sumbing Sindoro. Di jalur Kledung, tembakau adalah pemandangan pembuka, bukan tujuan pendakian, dan ia mengingatkan pendaki bahwa gunung ini bukan kawasan kosong, melainkan ruang kerja ribuan petani.
Di dekat Kledung juga terdapat jalur Anggrunggondok yang juga dikenal sebagai jalur Alang-Alang Sewu. Menurut Gunung Bagging, jalur ini lebih baru dan kurang populer, terletak sekitar satu kilometer di sebelah barat Kledung Pass dan basecamp utama Kledung, tidak jauh dari belokan menuju basecamp Garung untuk Gunung Sumbing. Jalur Anggrunggondok melewati Pos 1 Lembah Kesunyian pada 1.755 meter, Pos 2 Lembah Katresnan pada 2.062 meter, Pos 3 Alang-Alang Sewu pada 2.370 meter, dan Pos 4 Jalu Mulyo atau Labirin Stone pada 2.850 meter, dengan sumber air di antara Pos 1 dan Pos 2. Nama Alang-Alang Sewu merujuk pada padang alang-alang yang luas di jalur itu, dan bagi pendaki yang sudah pernah lewat Kledung, jalur ini adalah variasi yang layak dicoba, dengan catatan bahwa popularitasnya yang lebih rendah berarti pendaki harus lebih mandiri dalam soal informasi dan logistik.
Jalur Sigedang dan Sikatok dari Utara
Jalur utara Sindoro dikenal dengan dua nama yang sering membingungkan pembaca, yaitu Sigedang dan Sikatok, dan kadang ditulis Sigebang dalam sumber lama. Ketiganya merujuk pada kawasan yang sama di utara Sindoro, yaitu kawasan kebun teh Tambi di Kabupaten Wonosobo, dan perbedaan penulisan itu lebih mencerminkan perbedaan penyebutan setempat dan perbedaan titik awal yang berdekatan, bukan tiga gunung yang berbeda. Artikel ini menuliskan nama Sigedang dan Sikatok secara berdampingan, agar pembaca yang menemukan salah satu nama di peta atau di direktori tidak mengira ia salah jalur.
Basecamp pendakian Gunung Sindoro jalur Sigedang, menurut direktori Trip.com, berada di Jalan Tambi, Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Gunung Bagging mencatat basecamp jalur ini berada pada ketinggian sekitar 1.700 meter dan titik awal pendakian sedikit lebih tinggi, yaitu 1.791 meter, sehingga jalur ini memiliki titik awal tertinggi di antara jalur Sindoro. Dari titik awal itu, jalur melewati Pos Bayangan pada 1.865 meter, Pos 1 Kebun Teh pada 1.889 meter, dan Pos 2 Kebun Teh pada 2.066 meter, yang menurut Gunung Bagging sebenarnya adalah pondok penimbangan teh. Ujung kawasan kebun teh dikenal sebagai Patok Besi pada 2.168 meter, lalu jalur berlanjut melalui hutan menuju Pos 3 Watu Tulis pada 2.422 meter, sebuah batu besar yang konon bertulis, dan segera setelah itu terdapat area berkemah Pos 3 pada 2.519 meter yang disebut sebagai tempat bermalam yang paling digemari.
Waktu tempuh jalur Sigedang atau Sikatok, menurut Gunung Bagging, adalah 3,5 sampai 4,5 jam untuk naik dan sekitar 2,5 jam untuk turun, sementara AllTrails mencatat jalur Gunung Sindoro via Sigedang sepanjang 20 kilometer pulang pergi dengan kenaikan ketinggian 1.844 meter dan waktu tempuh rata-rata sekitar 10 sampai 11 jam pulang pergi. Sekali lagi, perbedaan angka itu mencerminkan perbedaan cara menghitung dan perbedaan rute yang ditempuh, bukan kesalahan salah satu sumber. Yang konsisten dari kedua sumber adalah karakter jalur utara ini: ia sangat indah, melewati kebun teh yang membentang di awal pendakian, lalu hutan, dengan pemandangan ke arah Dataran Tinggi Dieng dan perbukitan di utara Sindoro.
Kebun teh yang dilewati jalur utara adalah Kebun Teh Tambi, yang menurut sejumlah sumber wisata berada pada ketinggian 800 sampai 2.000 meter di atas permukaan laut dan pernah dimiliki perusahaan Belanda bernama Bagelen Thee en Kina Maatschappij, sebelum diambil alih Indonesia dan kini dikelola PT Tambi. Salah satu sumber wisata mencatat perkebunan teh Tambi pertama kali didirikan pada 1865, dan sumber lain mencatat kawasan Tambi berada pada ketinggian 1.200 sampai 2.000 meter. Perbedaan rentang ketinggian itu wajar, karena kebun teh Tambi mencakup beberapa blok kebun yang berbeda, dari Tambi sampai Tlogomulyo dan Sigedang, dan artikel ini menuliskannya sebagai kawasan kebun, bukan sebagai satu petak tunggal. Bagi pendaki, kebun teh adalah gerbang yang ramah: jalurnya jelas, pemandangannya terbuka, dan aktivitas pemetik teh masih terlihat di pagi hari.
Jalur Lain yang Lebih Sepi
Selain Kledung dan Sigedang atau Sikatok, panduan lama menyebut jalur Sibajak di Temanggung dan Jlumprit di Desa Katekan, Temanggung, sebagai pilihan menuju Sindoro, serta jalur Bansari di timur dan Banaran di barat yang disebut Gunung Bagging sebagai jalur yang kurang dikenal. Jalur Bedakah, yang menurut AllTrails terletak tidak jauh dari jalur Alang-Alang Sewu dan Kledung, tetapi lebih dekat ke Kota Wonosobo, juga tercatat sebagai jalur alternatif dengan panjang sekitar 13,5 kilometer pulang pergi dan waktu tempuh rata-rata sekitar 9 sampai 10 jam. Artikel ini tidak menguraikan pos per pos jalur jalur sepi itu, karena sumber yang tersedia tidak memberi rincian pos yang konsisten untuk semuanya, dan mengarang rincian pos akan melanggar aturan riset artikel ini. Yang dapat dikatakan dengan aman adalah jalur jalur itu ada, lebih sepi, dan lebih menuntut kemandirian, sehingga pendaki yang memilihnya disarankan memakai pemandu setempat, terutama untuk jalur Banaran yang menurut Gunung Bagging paling baik ditempuh dengan pemandu dari Banaran.
Pola yang sama berlaku untuk kombinasi lintas jalur. Gunung Bagging menyebut lintas utara ke tenggara, yaitu Sigedang ke Kledung atau sebaliknya, sebagai lintas yang sangat baik, begitu pula lintas timur ke utara, yaitu Bansari ke Sigedang atau sebaliknya, karena pendaki dapat menikmati pemandangan yang berbeda pada saat naik dan turun. Lintas seperti itu membutuhkan pengaturan transportasi di dua titik yang berbeda, dan pendaki harus memastikan kendaraan penjemput sudah diatur sebelum berangkat, karena tidak semua basecamp memiliki angkutan umum yang mudah pada malam hari. Informasi praktis semacam ini tidak kalah penting dari daftar pos, karena banyak pendakian yang gagal bukan karena jalur yang sulit, melainkan karena logistik pulang yang tidak diatur.
Apa yang Terlihat dari Puncak Gunung Sindoro
Puncak Sindoro adalah bibir kawah, dan pemandangan dari sana adalah alasan utama banyak pendaki rela berjalan semalaman. Gunung Bagging mencatat dari puncak Sindoro terlihat Sumbing yang berdiri di dekatnya, Merapi, Merbabu, Ungaran, Slamet, punggungan tinggi Dieng seperti Gunung Prau, dan pantai utara Jawa. Daftar itu adalah daftar pemandangan pada hari yang cerah, bukan pemandangan yang dijamin setiap pendakian, karena kabut dan awan sering menutup pandangan pada musim hujan. Pendaki yang mengejar matahari terbit disarankan mendaki pada malam hari dan tiba di puncak sebelum fajar, karena matahari terbit dari puncak Sindoro, menurut Gunung Bagging, biasanya sangat indah dan layak diperjuangkan dengan pendakian malam.
Di puncak, pendaki juga akan menemukan batu tatah pada ketinggian 2.843 meter dalam perjalanan menuju puncak menurut Gunung Bagging, yaitu bebatuan tersebar di jalur yang semakin curam dan minim naungan, sehingga pendaki yang berkulit terang disarankan memakai tabir surya pada siang hari. Detail kecil semacam itu sering luput dari brosur wisata, tetapi ia menentukan kenyamanan pendakian: jalur atas Sindoro terbuka, panas pada siang hari, dan berangin, sehingga topi, air yang cukup, dan lapisan pakaian hangat untuk pagi di puncak sama pentingnya dengan sepatu yang baik.
Musim pendakian yang paling sering direkomendasikan adalah musim kemarau, dan AllTrails mencatat waktu terbaik mengunjungi jalur Kledung adalah April sampai Oktober, sementara Dinas Pariwisata Jawa Tengah menyebut musim kemarau sebagai waktu favorit pendaki. Rekomendasi itu selaras dengan kondisi jalur yang berdebu pada musim kemarau dan berlumpur serta berkabut pada musim hujan, serta dengan risiko gas kawah yang menurut sejumlah sumber lebih terasa pada musim hujan. Artikel ini tidak menetapkan satu bulan terbaik yang mutlak, karena kondisi cuaca setiap tahun berbeda, dan pendaki tetap harus memeriksa prakiraan cuaca dan status gunung sebelum berangkat.
Perkebunan di Lereng, Disinggung Singkat
Lereng Sindoro adalah lereng pertanian, dan tiga komoditas yang paling sering disebut dalam sumber tentang kawasan ini adalah tembakau, teh, dan sayur, dengan kopi sebagai tanaman pendamping yang kemudian berkembang. Tembakau adalah tanaman yang paling identik dengan lereng Sindoro dan Sumbing, dan jalur Kledung sendiri melewati ladang tembakau di awal pendakian, seperti sudah ditulis di atas. Pembahasan soal petani tembakau, musim panen, rantai pasar, dan tantangan yang dihadapi petani ditulis secara mendalam dalam artikel pendamping tentang tembakau lereng Sumbing Sindoro, dan artikel ini sengaja tidak mengulang pembahasan itu, agar kedua artikel tidak saling menduplikasi.
Teh adalah komoditas kedua yang membentuk wajah lereng utara Sindoro, melalui Kebun Teh Tambi dan kebun teh Sikatok yang dilewati jalur Sigedang. Sayur dan tanaman semusim lainnya mengisi lereng yang lebih rendah dan sela sela kebun tahunan, dan pola tumpang sari yang dicatat dalam artikel tentang kopi lereng Sumbing, yaitu kopi yang ditanam berdampingan dengan tembakau, jagung, bawang, atau cabai, memberi gambaran umum tentang cara petani lereng memanfaatkan setiap petak lahan. Bagi Sindoro, pola yang sama berlaku dalam bentuk yang disesuaikan dengan ketinggian dan pasar setempat: tanaman tahunan menahan tanah, tanaman semusim memberi pendapatan yang lebih cepat, dan keduanya ditanam dalam satu lanskap yang sama.
Penting untuk dicatat bahwa lereng Sindoro bukan kawasan wisata yang steril dari pertanian. Pendaki yang berjalan di jalur Kledung atau Sigedang berjalan di ruang kerja petani, dan sikap yang tepat adalah menghormati tanaman, tidak memetik hasil kebun, tidak membuang sampah di kebun, dan memberi jalan kepada petani yang membawa hasil panen. Hubungan antara pendaki dan petani inilah yang membuat pendakian Sindoro terasa berbeda dari pendakian di kawasan konservasi yang tertutup: gunung ini hidup, diolah, dan dijaga oleh orang yang tinggal di kakinya.
Posong, Menikmati Sindoro Tanpa Mendaki
Bagi pembaca yang tidak ingin atau belum sanggup mendaki, cara paling mudah menikmati pasangan Sindoro dan Sumbing adalah dari Wisata Alam Posong di Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. Posong, menurut Wikivoyage, adalah titik pandang di lereng selatan Sumbing yang menghadap ke selatan, dan pada cuaca cerah dari sana terlihat Slamet di barat, Sumbing, Merapi dan Merbabu yang kembar di tenggara, Ungaran di timur laut, dan bila beruntung, Lawu di perbatasan Jawa Timur. Sejumlah sumber wisata menyebut Posong sebagai tempat menyaksikan lautan awan dan panorama tujuh puncak gunung pada hari yang cerah, dan menyarankan datang pagi-pagi untuk matahari terbit, karena pagi adalah waktu paling aman untuk mendapatkan langit yang jernih.
Posong juga penting sebagai pengingat bahwa Sindoro dan Sumbing tidak harus didaki untuk dinikmati. Dari Posong, kedua gunung terlihat sebagai satu lanskap, dan pengunjung dapat memahami mengapa keduanya disebut kembar, mengapa Kledung Pass menjadi simpul, dan mengapa lereng di bawahnya dipenuhi kebun. Bagi keluarga, rombongan sekolah, atau wisatawan yang hanya singgah dalam perjalanan Parakan ke Wonosobo, Posong adalah pintu masuk yang paling ramah ke dalam cerita dua gunung ini, tanpa perlu membawa perlengkapan pendakian.
Di sekitar Kledung juga terdapat Embung Kledung di Jalan Raya Parakan Wonosobo Kilometer 12, Kledung, yang menurut Wikivoyage menawarkan pemandangan Gunung Sumbing, serta kawasan Alam Sewu di Giripurno, Ngadirejo, yang dikelilingi kebun tembakau. Tempat tempat ini menunjukkan bahwa kawasan Kledung Pass adalah kawasan wisata yang berlapis: ada titik pandang, ada embung, ada kebun, dan ada basecamp pendakian, semuanya dalam jarak yang berdekatan. Wisatawan dapat menyusun kunjungan satu hari yang menggabungkan semuanya, tanpa harus memilih satu aktivitas saja.
Sindoro dari Sisi Magelang, Sejujur-jujurnya
Pertanyaan yang wajar dari pembaca Magelang adalah apakah Sindoro dapat disebut gunung Magelang. Jawabannya, berdasarkan peta administratif yang dipakai semua sumber dalam riset ini, adalah tidak. Sindoro tidak masuk Kabupaten Magelang, dan artikel yang mengklaim sebaliknya akan salah. Yang masuk Kabupaten Magelang adalah Sumbing, melalui Kecamatan Kaliangkrik dan kawasan sekitarnya, dan dari lereng Sumbing itulah Sindoro paling mudah dilihat oleh warga Magelang.
Kejujuran itu tidak mengurangi relevansi Sindoro bagi Magelang. Jalan dari Magelang menuju Wonosobo dan Dieng melewati Parakan dan Kledung Pass, sehingga perjalanan wisata dari Magelang ke Dieng hampir selalu melewati celah di antara Sindoro dan Sumbing. Pedagang, sopir, dan wisatawan Magelang mengenal kedua gunung itu sebagai satu pasangan, dan banyak keluarga Magelang yang mendaki Sumbing dari Kaliangkrik kemudian melanjutkan ke Sindoro dari Kledung pada kesempatan berikutnya. Dalam arti perjalanan dan lanskap, Sindoro adalah gunung tetangga Magelang, meskipun dalam arti administratif ia adalah gunung Temanggung dan Wonosobo.
Bagi portal berita Magelang, pembedaan ini adalah bagian dari akurasi yang dijanjikan kepada pembaca. Artikel ini tidak mengklaim data Temanggung atau Wonosobo sebagai data Magelang, dan ketika sebuah angka atau sebuah jalur berasal dari Temanggung atau Wonosobo, artikel ini menyebut asal itu secara eksplisit. Sikap yang sama dipakai dalam artikel pendamping tentang tembakau, yang secara jujur menyatakan bahwa dokumentasi tembakau yang ditemukan paling lengkap untuk sisi Temanggung, sementara sisi Magelang berbagi gunung dan tanah yang sama tetapi tidak memiliki dokumentasi yang setara dalam riset ini.
Persiapan Pendaki yang Datang dari Magelang
Pendaki dari Magelang yang menuju Sindoro sebaiknya mengatur perjalanan dalam tiga tahap: menuju basecamp, mendaki, dan pulang. Menuju basecamp berarti menuju Kledung di Temanggung untuk jalur paling populer, atau menuju Sigedang di Kejajar, Wonosobo, untuk jalur utara, dan kedua tujuan itu dicapai melalui Parakan. Pendaki sebaiknya berangkat lebih awal, karena perjalanan dari Magelang ke Kledung atau Kejajar memakan waktu jalan darat yang tidak singkat, dan tiba di basecamp pada siang hari memberi waktu untuk registrasi, istirahat, dan pengecekan cuaca sebelum pendakian malam.
Mendaki berarti membawa air yang cukup, karena sumber air di jalur tidak selalu andal, memakai pakaian hangat untuk pagi di puncak, memakai pelindung matahari untuk jalur atas yang terbuka, dan membawa perlengkapan hujan meskipun berangkat pada musim kemarau, karena cuaca gunung dapat berubah dengan cepat. Pendaki juga harus mematuhi larangan berkemah di dekat kawah puncak, menunggu hingga setelah pukul tujuh pagi untuk mengintip kawah, dan tidak berlama-lama di dekat gas, sesuai peringatan Gunung Bagging yang sudah dikutip di atas. Aturan itu bukan formalitas, melainkan batas keselamatan yang ditulis berdasarkan pengalaman nyata di gunung ini.
Pulang berarti memastikan transportasi dari basecamp tujuan sudah diatur, terutama bila pendaki memakai lintas jalur yang berakhir di basecamp yang berbeda dari basecamp awal. Pendaki yang turun di Kledung setelah naik dari Sigedang, atau sebaliknya, tidak boleh mengandalkan angkutan yang kebetulan lewat pada malam hari. Rencana pulang yang sudah diatur sebelum naik adalah bagian dari pendakian yang aman, sama pentingnya dengan rencana naik itu sendiri.
Catatan tentang Sumber
Artikel ini disusun dari sumber yang dapat diperiksa kembali: Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah untuk ketinggian dan waktu pendakian umum, Global Volcanism Program Smithsonian Institution untuk letusan 1971 dan rangkaian status 2011 sampai 2012, Wikipedia untuk bentuk stratovulkan dan kawah parasit, Wikivoyage untuk hidrologi dan Posong, Gunung Bagging untuk rincian pos, waktu tempuh, dan peringatan gas kawah, serta AllTrails dan direktori Trip.com untuk panjang jalur, alamat basecamp, dan gambaran komunitas pendaki. Artikel KabarTidar tentang sejarah kebakaran Gunung Sumbing dan tentang kopi lereng Sumbing dipakai sebagai pembatas cakupan, agar artikel ini tidak mengulang sejarah kebakaran dan tidak mengulang detail rantai kopi yang sudah ditulis di sana.
Sejumlah hal sengaja tidak ditulis secara rinci dalam artikel ini. Rincian pos untuk jalur jalur sepi seperti Sibajak, Jlumprit, Bansari, dan Banaran tidak diuraikan pos per pos, karena sumber yang tersedia tidak memberi rincian yang konsisten untuk semuanya. Harga tiket, tarif ojek, dan biaya basecamp tidak ditulis, karena angka angka itu berubah dan tidak terverifikasi dari sumber resmi dalam riset ini. Status gunung api terkini juga tidak ditetapkan dalam artikel ini, karena status itu berubah dan hanya dapat dipastikan dari pengumuman terbaru Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada saat pembaca berangkat. Jika pembaca memiliki dokumen resmi yang lebih baru tentang jalur, pos, atau status Sindoro, redaksi akan mengoreksi artikel ini.
Gunung Sindoro, pada akhirnya, adalah gunung yang paling mudah dikenali tetapi paling sering disalahpahami posisinya: ia tampak seperti gunung Magelang karena ia selalu terlihat bersama Sumbing, padahal ia adalah gunung Temanggung dan Wonosobo yang berdiri di seberang celah Kledung. Memahami pembedaan itu tidak mengurangi keindahannya, justru menambahnya, karena pendaki kemudian tahu persis gunung apa yang ia daki, dari mana ia berangkat, dan gunung apa yang terlihat di seberangnya pada saat matahari terbit. Sindoro adalah kembaran Sumbing yang lebih rendah, lebih singkat didaki, dan tetap menyimpan kawah yang bernapas, dan bagi pendaki dari Magelang, ia adalah tujuan terdekat berikutnya setelah Sumbing.



1 Komentar