Sabtu, 7 November 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Candi Mendut, Candi Buddha Tertua di Magelang
Wisata

Candi Mendut, Candi Buddha Tertua di Magelang

Candi Mendut di Mungkid, Magelang, adalah candi Buddha tertua dari tiga candi pada satu garis lurus dengan Pawon dan Borobudur. Candi abad ke-9 ini ditutup selama setahun untuk rehabilitasi tahap II agar kembali mendekati bentuk aslinya, termasuk atap yang selama ini belum ada.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 7 November 2026 · 11.52 WIB
Ilustrasi Candi Mendut, candi Buddha abad ke-9 di Magelang, dengan arca Buddha di dalam bilik utama
Ilustrasi Candi Mendut dengan arca Buddha di dalam bilik utama. (Ilustrasi: KabarTidar)

MUNGKID, KabarTidar, Candi Mendut adalah candi Buddha tertua di Magelang, sebuah bangunan abad ke-9 yang berdiri sekitar tiga kilometer di sebelah timur Candi Borobudur. Candi ini dibangun lebih dahulu daripada Borobudur dan Candi Pawon, dan hingga hari ini masih menjadi titik awal perayaan Waisak yang paling penting di Indonesia. Namun, sejak 5 Agustus 2026, candi ini ditutup untuk kunjungan wisata selama satu tahun penuh karena sedang dipugar. Penutupan itu justru menjadi babak baru dalam sejarah panjang sebuah bangunan yang sudah bertahan lebih dari sebelas abad.

Candi Mendut terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di Jalan Mayor Kusen. Lokasinya berada di jalur yang menghubungkan Borobudur dengan Kota Magelang, sehingga hampir semua wisatawan yang menuju Borobudur akan melewatinya. Meski ukurannya jauh lebih kecil daripada Borobudur, Candi Mendut menyimpan tiga arca batu berukuran besar yang oleh para ahli dinilai sebagai salah satu karya pahat Buddha Jawa yang paling indah dan proporsional. Candi ini juga merupakan bagian dari Kompleks Candi Borobudur yang ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 1991, bersama Borobudur dan Pawon.

Bagi umat Buddha, Candi Mendut bukan sekadar situs wisata. Candi ini adalah tempat ibadah yang masih aktif dan menjadi gerbang awal perjalanan spiritual dalam perayaan Waisak. Setiap tahun, pada bulan purnama Waisak, ribuan umat Buddha berkumpul di halaman candi ini sebelum berjalan kaki menuju Borobudur melalui Candi Pawon. Api Dharma dan Air Suci disemayamkan lebih dahulu di Candi Mendut, lalu diarak bersama persembahan menuju Borobudur. Tradisi itu menjadikan Candi Mendut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Borobudur, meskipun namanya jauh lebih jarang disebut.

Candi Mendut, Bangunan Tertua dari Tiga Candi

Candi Mendut dibangun pada awal abad ke-9 Masehi, pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra yang menguasai Jawa Tengah pada abad ke-8 dan ke-9. Dinasti ini dikenal sebagai pelindung utama agama Buddha Mahayana, dan pada masa kekuasaannya dibangun banyak candi yang berfungsi sebagai tempat ibadah sekaligus pusat pembelajaran ajaran Buddha. Candi Mendut adalah yang tertua di antara tiga candi yang berdiri pada satu garis lurus yang sama, yaitu Mendut, Pawon, dan Borobudur.

Bukti tertulis mengenai pendirian candi ini terdapat pada Prasasti Karangtengah yang berangka tahun 824 Masehi. Prasasti itu menyebutkan bahwa Raja Indra dari Dinasti Syailendra membangun sebuah bangunan suci bernama Venuvana, yang berarti hutan bambu. Arkeolog Belanda J. G. de Casparis menghubungkan bangunan suci yang disebut dalam prasasti tersebut dengan Candi Mendut. Dengan demikian, Candi Mendut diperkirakan dibangun dan diselesaikan pada masa pemerintahan Raja Indra, sekitar tahun 824 Masehi, atau lebih dari sebelas abad yang lalu.

Ketiga candi, Mendut, Pawon, dan Borobudur, terletak pada satu garis lurus yang sama, dengan Pawon berada tepat di tengah garis antara Borobudur dan Mendut. Para ahli meyakini bahwa ketiga candi itu memiliki hubungan keagamaan satu sama lain, meskipun urutan dan tata cara ritual yang menghubungkannya secara persis belum diketahui sepenuhnya. Hubungan itu tampak jelas dalam perayaan Waisak hingga hari ini, ketika prosesi dimulai dari Candi Mendut, melewati Candi Pawon, dan berakhir di Candi Borobudur. Perjalanan itu dimaknai sebagai lambang perjalanan spiritual dari ketidaktahuan menuju pencerahan.

Candi Mendut menghadap ke arah barat laut. Denah dasarnya berbentuk bujur sangkar dengan sisi sepanjang 13,7 meter, dan dasar candi berada 3,7 meter di atas permukaan tanah. Bangunan candi memiliki tinggi 26,4 meter. Tangga masuk berada di sisi barat laut, diapit oleh hiasan makara, makhluk mitologi penjaga pintu. Di sekeliling tubuh candi terdapat selasar berbentuk bujur sangkar yang digunakan untuk pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi candi sebagai bagian dari ibadah. Dinding luar candi dipahat dengan relief yang menggambarkan para bodhisatwa, antara lain Avalokitesvara, Maitreya, Cunda, Ksitigarbha, Samantabhadra, Vajrapani, Manjusri, Akasagarbha, dan Prajnaparamita. Dinding-dinding itu juga memuat panel-panel cerita Jataka, kisah-kisah tentang kehidupan lampau Sang Buddha.

Sebagai bagian dari Kompleks Candi Borobudur, Candi Mendut tercatat sebagai Warisan Dunia UNESCO sejak 1991. Status itu menegaskan nilai penting candi ini bukan hanya bagi Magelang, melainkan bagi dunia. Candi ini juga tercatat sebagai cagar budaya yang dilindungi oleh negara. Saat ini, Candi Mendut berada di bawah pengelolaan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Pengelolaan itu mencakup pelestarian bangunan, pengaturan kunjungan, serta pelaksanaan pemugaran yang sedang berjalan.

Tiga Arca Raksasa di Ruang Utama

Bagian yang paling terkenal dari Candi Mendut adalah ruang utamanya yang menyimpan tiga arca batu berukuran besar. Arca yang berada di tengah adalah arca Dhyani Buddha Wairocana yang tingginya mencapai tiga meter. Arca itu digambarkan dalam posisi duduk dengan kedua tangan membentuk mudra dharmacakra, yaitu sikap memutar roda dharma, yang melambangkan pengajaran pertama Sang Buddha. Menurut kepercayaan yang berkembang, arca Wairocana dimaksudkan untuk membebaskan para pemuja dari karma badan.

Dua arca lainnya mengapit arca Wairocana. Di satu sisi berdiri arca Bodhisatwa Avalokitesvara, bodhisatwa welas asih yang dikenal sebagai penolong bagi makhluk yang menderita. Di sisi lainnya berdiri arca Bodhisatwa Vajrapani, bodhisatwa pelindung ajaran Buddha. Kedua arca itu, bersama arca Wairocana, dimaknai sebagai pembebasan dari tiga macam karma, yaitu karma badan, karma ucapan, dan karma pikiran. Ketiga arca itu dipahat dari batu yang sama dengan tubuh candi, dan hingga kini masih berdiri di tempatnya semula.

Di bawah dasar arca Wairocana terdapat relief rendah yang menggambarkan roda dharma atau dharmacakra bersama sepasang rusa yang sedang berbaring. Relief itu merujuk pada pengajaran pertama Sang Buddha di Taman Rusa, ketika roda dharma pertama kali diputar. Detail seperti ini menunjukkan bahwa setiap bagian Candi Mendut dirancang dengan makna keagamaan yang saling berkaitan, bukan sekadar hiasan. Arca Wairocana sendiri sering disebut sebagai mahakarya seni pahat Buddha Jawa yang paling indah dan proporsional, karena bentuk tubuh, wajah, dan lipatan jubahnya dipahat dengan sangat halus dan seimbang.

Keberadaan tiga arca berukuran besar di dalam satu ruangan yang relatif sempit membuat pengalaman memasuki Candi Mendut terasa berbeda dari candi-candi lain di Magelang. Pengunjung yang masuk akan langsung berhadapan dengan arca Wairocana yang menjulang, sementara dua bodhisatwa berdiri mengapit di kiri dan kanannya. Suasana di dalam ruangan itu tenang dan gelap, berbeda dengan cahaya terang di luar. Banyak pengunjung yang datang untuk berdoa dan bermeditasi di hadapan arca-arca itu, dan candi ini memang masih difungsikan sebagai tempat ibadah, bukan hanya sebagai objek wisata.

Selain tiga arca utama, dinding luar Candi Mendut juga menyimpan kekayaan relief yang patut diperhatikan. Panel-panel cerita Jataka yang dipahat di dinding menggambarkan kisah-kisah moral dari kehidupan lampau Sang Buddha, yang dahulu berfungsi sebagai media pengajaran bagi para peziarah. Relief para bodhisatwa di dinding luar menunjukkan keluasan ajaran Mahayana yang berkembang pada masa Dinasti Syailendra. Setiap sosok bodhisatwa digambarkan dengan perhiasan dan atribut yang berbeda, sehingga para ahli dapat mengenali masing-masing tokoh dari ciri-cirinya.

Penemuan Kembali dan Pemugaran

Setelah masa kejayaan Dinasti Syailendra berakhir, Candi Mendut terbengkalai selama berabad-abad. Pada 1836, candi ini ditemukan kembali dalam keadaan berupa reruntuhan yang tertutup oleh semak belukar. Penemuan itu terjadi pada masa pemerintahan kolonial Belanda, ketika para arkeolog mulai menaruh perhatian pada peninggalan-peninggalan kuno di Jawa. Pemugaran Candi Mendut dimulai pada 1897 dan selesai pada 1925. Pemugaran itu dipimpin oleh arkeolog Belanda Theodoor van Erp, yang juga terlibat dalam pemugaran Candi Borobudur. Berkat pemugaran tersebut, Candi Mendut dapat berdiri kembali dalam bentuk yang kita lihat hari ini.

Ancaman terhadap Candi Mendut tidak hanya datang dari usia. Pada November 2020, candi ini ditutup dengan terpal untuk mengantisipasi letusan Gunung Merapi. Terpal penutup itu dilepas pada 16 April 2021 setelah dilakukan evaluasi dan konsultasi dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, karena arah ancaman erupsi Merapi telah berubah. Peristiwa itu menunjukkan betapa rentannya candi-candi di Magelang terhadap aktivitas vulkanik, dan betapa pentingnya upaya pelestarian yang berkelanjutan.

Pemugaran besar berikutnya dimulai pada akhir 2025. Menurut Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, pemugaran itu dilakukan setelah ditemukan kerusakan pada bagian candi serta kebocoran pada sistem drainase yang menyebabkan air meresap ke dalam tubuh candi. Kebocoran drainase menjadi penyebab utama dimulainya pemugaran, karena air yang meresap dapat merusak struktur batu dari dalam. Selama masa pemugaran tahap pertama, kawasan Candi Mendut tetap dibuka dengan pembatasan, dan Pemerintah Kabupaten Magelang memberikan diskon tiket masuk sebesar 50 persen sejak Jumat, 16 Januari 2026, hingga proses pemugaran selesai. Selama masa diskon, tiket masuk Candi Mendut menjadi Rp5.500 untuk pengunjung dewasa, Rp3.000 untuk anak-anak, dan Rp15.500 bagi wisatawan mancanegara. Tiket terusan Candi Mendut dan Candi Pawon menjadi Rp7.000.

Pemugaran itu berdampak langsung pada para pedagang di kawasan Candi Mendut. Menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, para pedagang mengeluhkan penurunan jumlah pengunjung yang berdampak pada pendapatan mereka. Kondisi itu terjadi seiring dengan proses pemugaran yang sedang berlangsung, sehingga suasana kawasan wisata menjadi kurang menarik bagi pengunjung. Keluhan itu menjadi pengingat bahwa pemugaran cagar budaya tidak hanya berdampak pada bangunan, tetapi juga pada kehidupan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Pada 5 Agustus 2026, Candi Mendut resmi ditutup untuk kunjungan wisata selama satu tahun, hingga 5 Agustus 2027. Penutupan itu dilakukan sebagai bagian dari pelaksanaan rehabilitasi tahap II yang bertujuan melestarikan salah satu cagar budaya nasional sekaligus warisan dunia agar kembali mendekati bentuk aslinya. Selama proses rehabilitasi berlangsung, seluruh kawasan Candi Mendut difokuskan untuk pekerjaan pemugaran yang menjadi bagian dari program Kementerian Kebudayaan. Penutupan selama satu tahun ini merupakan yang terpanjang dalam sejarah Candi Mendut sebagai objek wisata.

Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Magelang, Farnia Berliani Sri Tulodho, mengatakan rehabilitasi tahap II tidak hanya berorientasi pada upaya konservasi cagar budaya, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat daya tarik pariwisata. Menurut dia, Candi Mendut akan dipugar mendekati bentuk aslinya, termasuk melengkapi bagian yang selama ini belum ada, seperti atap candi. Pernyataan itu dikutip dari BorobudurNews yang terbit pada 6 Agustus 2026. Selama ini, Candi Mendut berdiri tanpa atap, sehingga bagian atas bangunan tampak terbuka. Pemugaran tahap II diharapkan dapat mengembalikan atap candi, sehingga bangunan itu mendekati wujud aslinya pada abad ke-9.

Selain pemugaran fisik, kawasan Candi Mendut juga direncanakan dikembangkan sebagai ruang pertunjukan seni dan budaya, termasuk penyelenggaraan berbagai kegiatan pada malam hari. Langkah itu diharapkan mampu memperluas aktivitas wisata yang selama ini lebih banyak berlangsung pada siang hari. Pemerintah Kabupaten Magelang menilai pengembangan pertunjukan seni dan event budaya di kawasan Candi Mendut akan memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata. Dengan hadirnya berbagai agenda budaya, wisatawan diharapkan tidak hanya berkunjung dalam waktu singkat, tetapi juga menghabiskan waktu lebih lama di kawasan Magelang. Kondisi itu diyakini mampu meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat, khususnya bagi pelaku usaha kecil, pedagang, hingga sektor jasa pariwisata di sekitar kawasan Candi Mendut.

Para pedagang di kawasan Candi Mendut menyatakan mendukung rehabilitasi, meskipun mereka khawatir terhadap keberlangsungan usaha selama masa penutupan. Siti Khotimah, seorang pedagang suvenir di kawasan Candi Mendut, menyatakan mendukung pelaksanaan rehabilitasi karena meyakini proyek itu akan memberikan manfaat bagi sektor pariwisata di masa mendatang. Namun, ia mengaku khawatir terhadap keberlangsungan usahanya selama masa penutupan kawasan wisata yang berlangsung selama satu tahun. Ia mengatakan, kalau nanti sudah bagus, tentu para pedagang senang karena pengunjung bisa lebih ramai, tetapi selama satu tahun ini mereka harus bertahan. Siti menjelaskan, pada rehabilitasi tahap pertama, para pedagang kios sempat memperoleh kompensasi berupa keringanan biaya sewa. Namun, untuk rehabilitasi tahap II, menurutnya hingga kini belum ada kepastian mengenai skema kompensasi, terutama bagi pedagang lapak. Meski begitu, ia mengapresiasi proses sosialisasi yang dinilai lebih baik dibandingkan sebelumnya karena para pedagang memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai pelaksanaan proyek rehabilitasi.

Hal senada disampaikan Sugiyo, juru parkir di kawasan Candi Mendut. Ia mengatakan para pelaku usaha pada dasarnya mendukung program rehabilitasi tersebut dengan harapan jumlah wisatawan akan meningkat setelah proyek selesai. Namun, Sugiyo menyebut pembahasan mengenai bentuk kompensasi bagi pelaku usaha yang terdampak penutupan kawasan masih terus berlangsung. Menurutnya, sejumlah opsi memang telah disampaikan dalam forum sosialisasi, namun hingga kini belum ada keputusan final. Kompensasi masih dibahas dan belum benar-benar jelas. Pernyataan para pedagang dan juru parkir itu dikutip dari BorobudurNews yang terbit pada 6 Agustus 2026.

Candi Mendut dalam Perayaan Waisak

Peran Candi Mendut yang paling penting dalam kehidupan keagamaan adalah sebagai titik awal perayaan Waisak. Waisak, yang juga dikenal sebagai Vesak, adalah hari raya terpenting bagi umat Buddha. Perayaan itu memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Siddharta Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan wafatnya atau Parinibbana Sang Buddha. Waisak diperingati pada bulan purnama Waisakha yang biasanya jatuh pada bulan Mei atau awal Juni, dan merupakan hari libur resmi di Indonesia.

Rangkaian perayaan Waisak di Magelang dimulai beberapa hari sebelum hari puncak. Api Dharma diambil dari Api Abadi Mrapen di Kabupaten Grobogan, sedangkan Air Suci diambil dari Umbul Jumprit di Temanggung. Kedua simbol suci itu kemudian dibawa dan disemayamkan di Candi Mendut. Pada perayaan Waisak 2570 BE atau 2026, Api Dharma diambil dari Mrapen pada Jumat, 29 Mei 2026, dan tiba di Candi Mendut sekira pukul 15.40 WIB. Api itu disakralkan dengan pembacaan paritta suci oleh para Bhikkhu Sangha dan rohaniawan dari beberapa majelis. Keesokan harinya, Sabtu, 30 Mei 2026, Air Suci diambil dari Umbul Jumprit dan dibawa ke Candi Mendut untuk disakralkan. Air suci tiba di Candi Mendut sekira pukul 14.35 WIB, lalu diserahkan kepada para biksu untuk disemayamkan di altar candi.

Pada hari puncak Waisak, Minggu, 31 Mei 2026, ribuan umat Buddha dari berbagai daerah mengikuti prosesi Kirab Waisak 2570 BE yang berlangsung dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Prosesi diawali dengan ritual doa dan penyucian persembahan di halaman Candi Mendut. Api Dharma dan Air Suci yang telah disemayamkan di Candi Mendut kemudian diarak bersama berbagai persembahan menuju Candi Borobudur. Prosesi itu menjadi salah satu rangkaian puncak perayaan Tri Suci Waisak. Detik-detik Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE jatuh pada Minggu sore pukul 15.44.44 WIB dan dipusatkan di pelataran Candi Borobudur. Rangkaian perayaan itu telah dibahas lebih lanjut dalam artikel Waisak Mendut Borobudur di KabarTidar.

Perjalanan kirab dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur menempuh jarak sekitar 3,5 kilometer, melewati Candi Pawon yang berada di tengah garis lurus antara kedua candi. Para bhikkhu dan umat berjalan kaki dalam suasana tenang dan penuh kesadaran, sambil membawa dupa, bunga, dan lilin sebagai persembahan suci. Perjalanan itu bukan sekadar pergerakan fisik, tetapi juga menjadi lambang perjalanan spiritual dari ketidaktahuan menuju pencerahan. Langkah demi langkah ditempuh dalam hening, dan setiap langkah dimaknai sebagai bagian dari perenungan. Sesampainya di kompleks Candi Borobudur, acara dilanjutkan dengan meditasi bersama yang dilakukan oleh ribuan umat. Setelah meditasi, umat secara perlahan menyalakan lilin dan berdoa, kemudian melakukan pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali searah jarum jam. Tiga kali putaran itu melambangkan penghormatan kepada Triratna, yaitu Buddha, Dhamma, dan Sangha. Sebagai penutup rangkaian acara, dilakukan penerbangan lampion yang menjadi simbol pelepasan harapan dan doa ke langit.

Perayaan Waisak di Magelang tidak hanya diikuti oleh umat Buddha dari Indonesia, tetapi juga oleh umat Buddha dari berbagai penjuru dunia. Pada Waisak 2026, para biksu menempuh perjalanan lebih dari 600 kilometer dari Bali untuk sampai ke Magelang dan mengikuti prosesi. Kehadiran ribuan umat dari berbagai daerah dan negara menjadikan Waisak di Borobudur sebagai salah satu perayaan Buddha terbesar di dunia. Candi Mendut, sebagai titik awal prosesi, menjadi saksi bisu dari perjalanan ribuan peziarah yang setiap tahun memadati jalan dari Mendut menuju Borobudur. Peran itu menjadikan Candi Mendut jauh lebih penting daripada ukurannya yang kecil, karena tanpa Candi Mendut, prosesi Waisak tidak memiliki titik awal.

Hubungan antara Candi Mendut, Candi Pawon, dan Candi Borobudur juga menjadi tema tersendiri yang dibahas dalam artikel Jalur Suci Mendut Pawon Borobudur di KabarTidar. Ketiga candi itu berdiri pada satu garis lurus yang sama dan diyakini memiliki hubungan keagamaan, meskipun urutan dan tata cara ritual yang menghubungkannya secara persis belum diketahui sepenuhnya. Dalam perayaan Waisak, hubungan itu diwujudkan dalam bentuk kirab yang menghubungkan ketiga candi secara fisik. Para peziarah yang mengikuti kirab itu seolah menelusuri kembali jalur suci yang telah digunakan selama lebih dari seribu tahun, meskipun bentuk ritualnya tentu telah berubah mengikuti zaman.

Berkunjung ke Candi Mendut

Candi Mendut beralamat di Jalan Mayor Kusen, Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini berjarak sekitar tiga kilometer di sebelah timur Candi Borobudur, dan dapat dicapai dengan kendaraan bermotor dari Borobudur maupun dari Kota Magelang. Dari arah Borobudur, pengunjung dapat mengikuti jalan menuju Mungkid dan Kota Magelang, sedangkan dari arah Kota Magelang, candi ini berada di jalur Magelang menuju Yogyakarta melalui Mungkid. Lokasinya yang berada di tepi jalan utama membuat Candi Mendut mudah ditemukan, dan banyak wisatawan yang mengunjunginya sebagai bagian dari perjalanan menuju atau pulang dari Borobudur.

Hal yang paling penting untuk diketahui oleh calon pengunjung adalah bahwa Candi Mendut saat ini sedang ditutup. Candi ini resmi ditutup untuk kunjungan wisata mulai 5 Agustus 2026 hingga 5 Agustus 2027 sebagai bagian dari rehabilitasi tahap II. Selama masa penutupan, seluruh kawasan Candi Mendut difokuskan untuk pekerjaan pemugaran, sehingga wisatawan tidak dapat memasuki kawasan candi. Penutupan ini perlu diperhatikan oleh siapa pun yang merencanakan perjalanan ke Magelang, agar tidak kecewa setibanya di lokasi. Setelah pemugaran selesai pada Agustus 2027, candi ini diharapkan dibuka kembali dengan wajah baru, termasuk atap candi yang selama ini belum ada.

Pada masa normal, sebelum penutupan, Candi Mendut buka dari Selasa sampai Minggu pada pukul 07.00 sampai 17.00 WIB, dan tutup setiap hari Senin. Informasi jam buka itu dapat berubah sesuai kebijakan pengelola, sehingga calon pengunjung disarankan memeriksa informasi terbaru sebelum berkunjung. Harga tiket masuk pada masa normal, menurut sejumlah sumber wisata, adalah Rp10.500 untuk pengunjung dewasa dan Rp5.500 untuk anak-anak, sedangkan wisatawan mancanegara dikenakan tarif Rp20.500 per orang. Harga tiket itu dapat berubah sesuai kebijakan pengelola. Selama masa pemugaran tahap pertama, Pemerintah Kabupaten Magelang memberikan diskon tiket masuk sebesar 50 persen, sehingga tiket menjadi Rp5.500 untuk dewasa, Rp3.000 untuk anak-anak, dan Rp15.500 bagi wisatawan mancanegara. Tiket terusan Candi Mendut dan Candi Pawon pada masa diskon menjadi Rp7.000. Informasi harga tiket dan jam buka ini dikutip dari JNEWS Online dan Wikiwisata, dan dapat berubah sesuai kebijakan pengelola.

Di samping Candi Mendut terdapat Vihara Mendut, sebuah wihara Buddha yang masih aktif dan terbuka bagi umat maupun pengunjung. Vihara ini berada tepat di samping candi dan menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Buddha di kawasan Mendut. Keberadaan wihara yang masih aktif di samping candi yang berusia lebih dari sebelas abad menunjukkan bahwa Candi Mendut bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari kehidupan keagamaan yang terus berjalan. Pengunjung yang datang ke kawasan Mendut dapat mengunjungi wihara ini dengan tetap menjaga ketenangan dan berpakaian sopan, sebagai bentuk penghormatan terhadap suasana spiritual di tempat itu.

Bagi wisatawan yang merencanakan perjalanan ke Magelang setelah Candi Mendut dibuka kembali, candi ini paling baik dikunjungi bersama Candi Pawon dan Candi Borobudur dalam satu rangkaian perjalanan. Ketiga candi itu berada pada satu garis lurus dan dapat dikunjungi dalam satu hari. Perjalanan dari Candi Mendut menuju Candi Pawon, lalu ke Candi Borobudur, mengikuti jalur suci yang sama dengan jalur kirab Waisak. Wisatawan juga dapat mengunjungi candi-candi lain di Magelang, seperti Candi Ngawen di Muntilan, yang juga merupakan peninggalan Buddha dari masa yang berdekatan. Daftar situs cagar budaya di Magelang, termasuk aturan perlindungannya, dibahas dalam artikel Cagar Budaya Magelang di KabarTidar.

Candi Mendut adalah candi yang kecil, tetapi ceritanya besar. Candi ini adalah bangunan tertua dari tiga candi yang membentuk Kompleks Candi Borobudur, dan candi ini menyimpan tiga arca yang termasuk karya pahat Buddha Jawa yang paling indah. Candi ini menjadi titik awal perayaan Waisak yang dihadiri ribuan umat dari seluruh dunia, dan candi ini sedang dipugar agar kembali mendekati bentuk aslinya, termasuk atap yang selama ini belum ada. Penutupan selama satu tahun adalah harga yang harus dibayar untuk memastikan candi ini tetap berdiri bagi generasi berikutnya. Ketika Candi Mendut dibuka kembali pada Agustus 2027, para pengunjung akan menemukan sebuah candi yang lebih utuh, dengan atap yang mengembalikan wujud aslinya, dan dengan kawasan yang dikembangkan sebagai ruang pertunjukan seni dan budaya. Hingga saat itu, Candi Mendut tetap menjadi pengingat bahwa warisan yang paling berharga adalah warisan yang dirawat, bukan warisan yang dibiarkan.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *