BPOB Dorong Pelaku Usaha Desa Penyangga Borobudur Perkuat Branding dan Pemasaran Digital
BPOB mendampingi pelaku usaha kuliner, kriya, fashion, dan eduwisata di desa penyangga Zona Otorita Borobudur. Peserta dilatih membangun identitas produk, menyusun storytelling, dan mengoptimalkan pemasaran digital agar produk lokal berdaya saing.

BOROBUDUR — Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) kembali memperkuat kapasitas pelaku usaha di desa penyangga Borobudur melalui kegiatan Pendampingan Usaha Pariwisata Bidang Kuliner, Kriya, Fashion, dan Eduwisata. Mengusung tema “Penguatan Kapasitas Usaha melalui Identitas Produk, Storytelling, dan Digital Marketing”, kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari fasilitasi dan pendampingan usaha pariwisata yang telah dilaksanakan pada 8–9 Oktober 2026.
Memasuki tahap pendampingan, peserta didorong untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam memperkuat identitas produk, menyusun cerita yang menarik, serta mengoptimalkan pemasaran digital sesuai dengan karakteristik usaha masing-masing. Pendampingan ini menjadi penting karena materi pelatihan hanya berdampak bila benar-benar diterapkan dalam pengembangan usaha sehari-hari.
Branding bagi Desa Penyangga Borobudur: Identitas, Cerita, dan Pasar
Pelaksana Tugas Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BPOB, Novita Dwihapsari, menyampaikan bahwa pendampingan menjadi tahap penting untuk memastikan materi yang diberikan dapat diterapkan secara nyata dalam pengembangan usaha. “Pendampingan ini menjadi tahap penting agar pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya dapat diterapkan secara nyata dalam pengembangan usaha masing-masing. Peserta tidak hanya memahami materi, tetapi juga didorong untuk memperkuat identitas produk, menyusun storytelling, dan mengoptimalkan pemasaran digital sesuai dengan kondisi usahanya,” ujar Novita.
Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan materi mengenai identitas produk, branding, dan keunggulan produk, dilanjutkan dengan penyusunan storytelling serta pemanfaatan digital marketing. Urutan ini disengaja: pelaku usaha diminta mengenali dulu karakter dan keunggulan produknya, baru kemudian mengemasnya menjadi cerita dan menjangkau pasar lewat kanal digital.
Kata Narasumber: Citra, Brand, dan Story Selalu Menyertai Produk
Narasumber dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) AMPTA Yogyakarta, Dr. I Putu Hardani Hesti Duari, S.St., M.MPar., menekankan pentingnya membangun identitas produk yang kuat agar lebih mudah dikenali konsumen. “Citra, brand, dan story akan selalu menyertai sebuah produk. Branding membantu pelaku usaha mengenali karakter produknya sendiri sekaligus memahami pesaing dan segmen pasar yang dituju. Karena itu, branding tidak berhenti pada logo, merek, atau desain kemasan, tetapi juga bagaimana membangun identitas produk yang kuat dan menciptakan alasan bagi konsumen untuk melakukan pembelian ulang,” ungkap Putu.
Pesan ini menjadi inti pendampingan: branding bukan sekadar membuat logo atau kemasan yang bagus. Branding adalah proses mengenali karakter produk, memahami pesaing, menentukan segmen pasar, lalu membangun alasan yang membuat konsumen kembali membeli. Bagi pelaku usaha kecil di desa penyangga, pemahaman ini menentukan apakah produk mereka sekadar laku sekali atau mampu bertahan dan berkembang.
Kombinasi Materi, Diskusi, dan Praktik
Melalui kombinasi materi, diskusi, dan praktik, peserta diharapkan mampu mengembangkan produk secara lebih konsisten serta memperluas jangkauan pemasaran melalui kanal digital. Pendampingan ini sekaligus menjadi ruang bagi BPOB untuk mengidentifikasi kebutuhan dan tantangan pelaku usaha sebagai dasar pengembangan program pendampingan berikutnya. Dengan kata lain, kegiatan ini berjalan dua arah: peserta belajar menerapkan ilmu, sementara BPOB memetakan kendala nyata di lapangan untuk program selanjutnya.
Pendekatan semacam ini relevan bagi desa-desa di sekitar Borobudur yang hidup dari pariwisata. Produk kuliner, kriya, fashion, dan eduwisata dari desa penyangga bersaing memperebutkan perhatian wisatawan yang datang ke Candi Borobudur. Tanpa identitas produk yang jelas dan pemasaran digital yang terkelola, produk lokal mudah tenggelam di antara banyaknya pilihan. Sebaliknya, produk yang punya cerita dan ciri khas lebih mudah diingat, direkomendasikan, dan dibeli ulang.
Rangkaian Panjang Pendampingan Desa Penyangga
Kegiatan pendampingan pada Oktober 2026 ini bukan yang pertama. BPOB telah melaksanakan sejumlah kegiatan pelatihan dan pendampingan di 11 desa penyangga yang dimulai dari tahun 2018 hingga 2023. Pada tahun 2024, terdapat lima desa yang mendapatkan Fasilitasi Pengembangan Usaha pada pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif, yaitu Desa Jati, Desa Medono, Desa Cacaban Lor, Desa Pekacangan, dan Desa Kalitapas di Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo.
Di Kabupaten Magelang sendiri, desa wisata juga menjadi penopang pariwisata kawasan, seperti Nepal van Java di Dusun Butuh, lereng Sumbing, yang menarik wisatawan dengan panorama permukiman bertingkatnya. Contoh ini menunjukkan pola yang sama dengan yang didorong BPOB: potensi lokal yang dikemas dengan identitas jelas akan lebih mudah dikenal wisatawan dan memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
Melalui kegiatan pendampingan ini, BPOB berupaya mendorong pelaku usaha di desa penyangga Zona Otorita Borobudur agar semakin siap mengembangkan potensi lokal menjadi produk dan layanan pariwisata yang memiliki identitas kuat serta daya saing. Upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen BPOB dalam memperkuat keterlibatan masyarakat dalam ekosistem pariwisata kawasan, sehingga pengembangan potensi usaha lokal dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Siaran pers resmi BPOB mengenai kegiatan ini dapat dibaca dalam rilis Badan Otorita Borobudur tentang pendampingan pelaku usaha desa penyangga.


