Sabtu, 24 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Tabebuya Magelang: Sakura Tropis yang Mengubah Jalanan Jadi…
Wisata

Tabebuya Magelang: Sakura Tropis yang Mengubah Jalanan Jadi Musim Semi

Tidak perlu ke Jepang untuk merasakan musim sakura. Di Magelang, ribuan pohon tabebuya bermekaran serentak, menumpahkan kelopak merah muda, putih, dan kuning ke jalanan kota hingga pedesaan Payaman, dan momennya hanya berlangsung sebentar.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 24 Oktober 2026 · 01.58 WIB
Ilustrasi jalanan di Magelang yang dipenuhi pohon tabebuya berbunga merah muda, kuning, dan putih dengan latar gunung
Ilustrasi: Deretan pohon tabebuya bermekaran di sebuah ruas jalan di Magelang dengan latar pegunungan. (Ilustrasi: KabarTidar)

Bunga tabebuya Magelang kembali bermekaran dan mengubah sejumlah ruas jalan menjadi lorong berwarna merah muda, putih, dan kuning. Pemandangan itu membuat banyak orang menyamakan Magelang dengan kota-kota di Jepang saat musim sakura, lengkap dengan kelopak bunga yang berguguran menutupi permukaan jalan.

Fenomena tahunan ini muncul mengikuti pergantian musim. Di Kota Magelang, mekarnya tabebuya secara serentak mulai terlihat sejak Agustus dan puncaknya terjadi pada akhir September, dengan durasi sekitar dua pekan. Memasuki Oktober, giliran kawasan perdesaan di Kabupaten Magelang yang mencuri perhatian, terutama kawasan Ngletoh, Payaman, Kecamatan Secang, yang ramai didatangi warga, wisatawan, hingga konten kreator lokal.

Peta Titik Tabebuya Magelang: Dari Jalan Protokol sampai Payaman

Di Kota Magelang, deretan tabebuya dapat dijumpai di sejumlah titik strategis. Menurut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang, pohon-pohon itu bermekaran antara lain di Jalan Sarwo Edhi Wibowo, Jalan A. Yani, Jalan Mayjend. Sutoyo, Jalan Sunan Giri, dan Jalan Yos Sudarso. Deretan pohon berbunga di ruas-ruas protokol itu menjadi latar swafoto favorit warga setiap musim mekar tiba.

Di wilayah kabupaten, titik yang dikenal antara lain Jalan Soekarno-Hatta di Kota Mungkid dan ruas jalan utama Magelang-Yogyakarta. Namun musim ini, sorotan terbesar tertuju ke kawasan Desa Ngletoh, Payaman, di Kecamatan Secang, yang tabebuyanya mekar kembali pada pertengahan Oktober dan mulai dilirik para pembuat konten, seperti diberitakan BorobudurNews.

Ngletoh Payaman, Spot yang Sedang Ramai

Mekarnya tabebuya di Ngletoh tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga membawa angin segar bagi pelaku usaha kuliner setempat. Di kawasan itu terdapat Soto Batok (Sobat) Titik Nol Payaman, yang memadukan sajian kuliner dengan suasana pedesaan berlatar bunga tabebuya. “Pengunjung tidak hanya bisa menikmati soto, tetapi juga bersantai sembari menikmati suasana khas pedesaan Payaman dengan tanaman Tabebuya,” ujar pengelola Soto Batok, Awan Wiratno, yang akrab disapa Nano, dikutip dari portal resmi Pemkab Magelang.

Menurut Nano, lanskap alam Kabupaten Magelang yang dikelilingi lima gunung semakin menawan berkat hiasan bunga tabebuya yang bermekaran. Kendati demikian, pengunjung sebaiknya tidak menunda kunjungan. Tanaman hias ini memiliki siklus mekar yang cukup singkat, biasanya hanya bertahan antara tiga hingga empat hari sebelum akhirnya rontok.

Kenapa Dijuluki Sakura Tropis?

Tabebuya (Handroanthus chrysotrichus) adalah pohon besar yang berasal dari Brasil, Amerika Selatan. Bunganya berbentuk terompet dengan panjang sekitar 3 sampai 11 sentimeter dan tumbuh bergerombol memenuhi tajuk pohon. Warnanya beragam, mulai dari putih, merah muda, kuning, hingga magenta. Saat berbunga lebat, tampilannya sangat mirip bunga sakura, padahal kedua tanaman ini sebenarnya tidak berkerabat sama sekali.

Pohon ini digemari sebagai peneduh jalan karena memiliki beberapa kelebihan. Daunnya tidak mudah rontok, bunganya terlihat sangat indah dan lebat saat musim berbunga, dan akarnya tidak merusak rumah atau tembok walau berbatang keras. Pada musim berbunga, tabebuya mampu menghasilkan bunga dalam jumlah sangat banyak, sejak awal musim kemarau hingga menjelang musim hujan.

Ribuan Pohon dan Dua Jadwal Mekar

Pesona tabebuya di Magelang bukan kejadian kebetulan. DLH Kota Magelang mencatat ada sekitar 2.865 pohon tabebuya yang dikembangkan sejak 2010, yang sengaja ditanam untuk penghijauan sekaligus peneduh jalan, dan menjadi bagian dari Program Magelang Kota Sejuta Bunga. Kepala DLH Kota Magelang MS Kurniawan menyebut mekarnya tabebuya sebagai fenomena alami yang dimanfaatkan sebagai nilai tambah estetika kota, tanpa mengesampingkan fungsi utama peneduh jalan. “Kewajiban kami terus menjaga penghijauan kota. Jenis tanamannya apa, lokasinya di mana, termasuk pemeliharaannya, harus dikaji,” ujar Kurniawan.

Kepala Bidang Pengelolaan Pertamanan dan Pemakaman DLH Kota Magelang Teguh Ariyanto menjelaskan, terdapat dua jenis tabebuya di Magelang. Jenis berdaun kecil umumnya berbunga kuning dan dapat berbunga lebih sering. Sementara jenis berdaun besar memiliki bunga berwarna merah muda dan putih yang berbunga saat peralihan musim kemarau ke hujan, yang menjelaskan mengapa sebagian pohon justru tampil memesona memasuki Oktober. Untuk menjaga keberlanjutan penghijauan, DLH Kota Magelang kini juga mengembangkan pembibitan tabebuya mandiri dengan memanfaatkan biji-biji kering yang gugur dan jatuh dari pohon.

Di tingkat kabupaten, penanaman tabebuya dilakukan sejak 2015 dan kini jumlahnya mencapai hampir 2.000 pohon di seluruh wilayah Kabupaten Magelang. Persebarannya antara lain di Kecamatan Tegalrejo sebanyak 150 pohon, Pakis 150 pohon, dan Grabag 200 pohon, selain deretan di Kota Mungkid. Bibitnya pada awal penanaman didatangkan dari daerah Kediri dan Malang, Jawa Timur.

Dengan ribuan pohon yang mekar bergantian mengikuti musim, julukan Kota Seribu Bunga untuk Magelang terasa semakin beralasan. Bagi warga yang ingin menikmati momen sakura tropis ini, sekarang adalah waktunya, sebelum kelopak-kelopak itu habis berguguran dan jalanan kembali seperti biasa.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *