Minggu, 25 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Ekonomi » Pahat Batu Muntilan: Sentra Andesit dari Jalur Borobudur…
Ekonomi

Pahat Batu Muntilan: Sentra Andesit dari Jalur Borobudur hingga Pasar Dunia

Dari titik transit batu restorasi Borobudur, lima dusun di Tamanagung tumbuh menjadi sentra dengan 35 sanggar dan 650 pemahat, dan kini bertahan di tengah serbuan cetakan semen.

Oleh Intan Larasati Sabtu, 24 Oktober 2026 · 22.45 WIB
Ilustrasi pemahat batu mengerjakan patung andesit di bengkel pinggir jalan
Ilustrasi pemahat batu di Muntilan. (Ilustrasi: KabarTidar)

Di sepanjang Jalan Raya Magelang-Yogyakarta, terutama pada ruas Muntilan-Salam dan dari perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta menuju Muntilan, pemandangan deretan patung, relief, dan arca batu menjadi penanda yang tidak bisa dilewatkan. Inilah wajah Pahat Batu Muntilan, sentra kerajinan batu andesit di Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, yang telah berdiri sejak 1953 dan hingga kini memasok kerajinan batu ke kawasan Candi Borobudur, ke pasar domestik, hingga ke mancanegara. Dari kepala Buddha dan arca Dewi Tara hingga cobek dapur, dari miniatur candi hingga ornamen dinding, hasil pahatan para pemahat Tamanagung lahir dari batu yang sama dengan batu pembangun Borobudur, yakni batu andesit dari lereng dan sungai-sungai Merapi.

Pahat Batu Muntilan bukan sekadar deretan kios di tepi jalan. Ia adalah sebuah ekosistem: sekitar 35 sanggar dengan sekitar 650 pemahat muda dan tua, lima dusun sentra di satu desa, pendatang dari luar daerah yang diterima sebagai sesama pengrajin, serta warisan teknik yang diturunkan dari generasi pemahat yang pernah membantu restorasi Borobudur. Perjalanan sentra ini dimulai dari sebuah titik transit material Borobudur, berlanjut lewat pesanan miniatur candi dari Gubernur Jawa Tengah pada 1974, dan mencapai puncaknya pada 2002-2003 ketika pesanan datang setidaknya satu kontainer setiap minggu. Kini, di tengah serbuan kios semen cetak dan pesanan yang menyusut, para pemahat Muntilan masih bertahan dengan satu modal utama: batu asli Merapi dan pahatan tangan yang mengikuti pakem.

Pahat Batu Muntilan: Dari Titik Transit Borobudur Menjadi Sentra

Sejarah pahat batu Muntilan bermula dari Borobudur. Batu-batu untuk restorasi Candi Borobudur diambil dari lereng Merapi di sekitar Tamanagung, dan Dusun Prumpung menjadi titik transit bahan baku sebelum diangkut ke Borobudur, karena letaknya yang strategis di tengah-tengah antara Merapi dan Borobudur. Jalur itu menjadi kunci: batu dari lereng Merapi berhenti sejenak di Prumpung, dan di tempat persinggahan itulah keahlian memahat batu mulai tumbuh. Para pemahat Prumpung belajar dari batu yang sama, dengan karakter yang sama, yang kemudian mereka jadikan bahan karya mereka sendiri.

Pada tahun 1930, tiga pemahat Prumpung ikut bekerja bersama Theodoor Van Erp dalam restorasi Borobudur, salah satunya Salim Djajapawiro. Keikutsertaan itu menjadi jembatan antara pekerjaan restorasi candi dan kerajinan rakyat: pengetahuan tentang batu, tentang bentuk arca, dan tentang teknik pahat berpindah dari proyek restorasi ke tangan-tangan pemahat desa. Putra Salim Djajapawiro, Doelkamid Djajaprana yang disebut pula Djayaprana, dianggap sebagai perintis seni pahat batu Prumpung pada tahun 1953. Pada 1953 itu, Djajaprana mengajak dua saudaranya, Ali Rahmad dan Karin, untuk mencoba membuat kepala Buddha dengan meniru patung-patung di Borobudur. Awalnya mereka ragu, karena khawatir perbuatan itu melanggar ajaran agama Buddha atau berdosa, namun akhirnya mereka memberanikan diri, dan dari keberanian itulah seni pahat batu Prumpung lahir.

Titik balik berikutnya datang pada tahun 1974. Gubernur Jawa Tengah saat itu memesan pembuatan miniatur candi, dan Dulkamit Joyoprono mencoba membuat miniatur Borobudur, Prambanan, dan candi-candi lain di Jawa Tengah, dan berhasil. Dari kegiatan di Tejowarno yang dimulai pada 1974 itu, pada tahun 1990 Dulkamit Joyoprono menerima penghargaan dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat, termasuk Uprapradana dan Upakarti yang diserahkan di Istana Negara. Penghargaan itu mengangkat nama Prumpung dan Tejowarno, dan dari sanalah Prumpung, Tejowarno, dan sekitarnya berkembang menjadi sentra pahat batu. Dukungan pun datang dari berbagai dinas: arkeologi, pariwisata, serta perindustrian dan perdagangan, yang bersama-sama menopang tumbuhnya sentra ini.

Hubungan antara sentra pahat batu dan Borobudur bukan hanya soal bahan baku, melainkan juga soal warisan teknik. Menurut Yoga Budhi Wantoro, pemahat generasi muda, pahat batu Prumpung Tamanagung adalah warisan budaya takbenda, dan garis imajiner Merapi-Prumpung-Borobudur adalah produk kelanjutan dari pembangunan Borobudur. Di kawasan Borobudur sendiri tidak ditemukan sisa pengerjaan batu, sehingga pengerjaan kemungkinan besar dilakukan di tempat lain, dan Prumpung sebagai titik transit adalah tempat yang paling masuk akal. Penjelasan ini menegaskan posisi Muntilan dalam rantai sejarah Borobudur: bukan sekadar tetangga candi, melainkan bagian dari proses pembuatannya.

Lima Dusun, 35 Sanggar, 650 Pemahat

Pusat kerajinan pahat batu Muntilan berada di Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan. Dari 16 dusun di Tamanagung, lima dusun menjadi sentra pahat batu: Dukuh, Ngawisan, Ngadiretno, Tejowarno, dan Prumpung yang kini bernama Dusun Sidoarjo. Di antara kelimanya, Prumpung dan Tejowarno adalah yang terbesar, dan keduanya telah mendapat julukan Prumpung Adiluhung, nama yang terdengar sampai ke mancanegara. Julukan itu bukan sekadar kebanggaan lokal: ia menandai bahwa karya dari dua dusun ini telah dikenal di luar negeri, dibawa pulang oleh wisatawan, dan dipesan oleh pembeli dari berbagai negara.

Skala sentra ini terbilang besar untuk sebuah kerajinan desa. Sekitar 35 sanggar, dari yang kecil hingga yang besar, beroperasi di Prumpung, Tejowarno, dan sekitarnya, dengan sekitar 650 pemahat muda dan tua. Angka itu menggambarkan sebuah industri rakyat yang padat karya: setiap sanggar mempekerjakan beberapa pemahat, ditambah pekerja finishing, pengemasan, dan pengiriman, serta pemahat rumahan yang bekerja dari rumah masing-masing. Bagi Tamanagung, pahat batu bukan pekerjaan sampingan, melainkan mata pencaharian utama yang menopang ratusan keluarga.

Yang menarik, sentra ini tumbuh tanpa menutup pintu bagi pendatang. Para pendatang dari luar daerah, termasuk dari Bali, diterima dan tidak diperlakukan sebagai pesaing. Sikap terbuka ini memperkuat sentra, bukan melemahkannya: teknik baru masuk, pasar baru terbuka, dan nama Prumpung semakin dikenal. Sikap yang sama juga tercermin dalam pernyataan Kudi Rahayu, pemahat dari Dusun Prumpung Sidoharjo, Desa Tamanagung, yang diwawancarai pada Senin 16 Desember 2024. Menurut Kudi, hampir sebagian besar warga Muntilan membuat kerajinan pahat batu, sebuah pernyataan yang tentu perlu dibaca sebagai gambaran dari sudut pandang seorang pemahat di jantung sentra, bukan sebagai data sensus, tetapi yang menggambarkan betapa dominannya kerajinan ini dalam kehidupan sehari-hari Tamanagung.

Kudi sendiri adalah contoh pemahat yang belajar secara otodidak. Ia mengaku mungkin mewarisi keahlian itu dari nenek moyang yang dulu membuat bangunan candi, sebuah keyakinan yang menghubungkan langsung pekerjaan masa kini dengan para pembangun candi masa lalu. Kudi telah 30 tahun memahat batu andesit dan menghasilkan ribuan karya, antara lain Dewi Tara, Dewi Sri, kepala Buddha, dan dinding relief yang disusun dari potongan-potongan batu pahat. Sebuah patung besar dikerjakan selama satu hingga tiga bulan, dan bisa lebih cepat bila dikerjakan dua hingga tiga orang. Patung kerbau sepanjang 300 sentimeter dan tinggi 150 sentimeter, misalnya, dikerjakan selama tiga bulan dan dihargai Rp110 juta, sementara patung Dewi Sri setinggi 260 sentimeter dihargai Rp60 juta. Angka-angka itu menunjukkan bahwa pahat batu Muntilan bukan kerajinan murah: ia adalah karya seni bernilai tinggi yang harganya sebanding dengan waktu, ukuran, dan keahlian yang dicurahkan.

Batu Merapi: Tiga Warna, Satu Tantangan

Bahan utama pahat batu Muntilan adalah batu andesit dari Merapi. Batu itu berasal dari sungai-sungai di kepala Merapi, endapan letusan yang terbawa arus dan mengendap, dan kualitasnya telah teruji selama berabad-abad karena Borobudur sendiri dibangun dari batu sejenis. Wiyono, pemilik Kios Seni Pahat Batu Setia Budi di Jalan Muntilan-Salam, menjelaskan bahwa ada tiga jenis batu Merapi yang dipakai: batu berwarna kemerahan, batu hitam, dan batu putih. Di antara ketiganya, batu hitam kini sulit didapat dan harganya semakin mahal, dan sebongkah batu setinggi dua meter bisa berharga hingga Rp20 juta sebelum dipahat menjadi patung. Kelangkaan batu hitam ini menjadi salah satu tantangan nyata bagi para pemahat, karena warna hitam adalah warna yang paling dicari untuk arca dan patung.

Agus Tama, pemilik Galeri Bagus Art Stone yang mewarisi usaha dari keluarganya, menekankan kualitas batu Merapi dengan cara yang sederhana: batu Borobudur telah teruji selama berabad-abad, dan cobek dari batu Merapi paling dicari karena batunya batu asli yang tidak luntur. Pernyataan ini penting karena menyentuh pembeda utama antara pahat batu asli dan produk cetak semen yang kini membanjiri pasar: batu asli memiliki tekstur, bobot, dan ketahanan yang tidak bisa ditiru cetakan. Seorang pembeli yang paham akan memilih batu asli meski harganya lebih tinggi, dan para pemahat Muntilan menggantungkan reputasi mereka pada pembeda itu.

Proses pembuatannya sendiri masih sangat mengandalkan tangan. Dimas Hari Agung, pemuda berusia 19 tahun yang sedang belajar memahat di sebuah perguruan tinggi di Bantul, Yogyakarta, menjelaskan bahwa sebelum dipahat, relief atau patung digambar atau dilukis terlebih dahulu agar hasilnya lebih baik. Tahap menggambar ini adalah tahap perancangan: bentuk, proporsi, dan detail ditentukan di atas permukaan batu sebelum pahat pertama menghantam. Mbah Kasrin Jlogro dari Tamanagung, yang dianggap sebagai pemahat pertama Muntilan sekaligus pengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, menambahkan bahwa sebagian pemahat kini memang memakai mesin modern, tetapi proses manual-lah yang menentukan kesempurnaan. Pesan Mbah Kasrin kepada generasi muda tegas: lestarikan sesuai pakem, jangan sembrono. Pakem, dalam konteks ini, adalah kaidah bentuk dan proporsi yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang membedakan arca yang benar dari sekadar batu yang dipahat.

Warna batu Merapi yang dipakai Mbah Kasrin dan para pemahat Jlogro digambarkan sebagai hitam keabu-abuan kebiruan, sebuah karakter warna yang khas dan menjadi ciri tersendiri. Warna ini, bersama tekstur andesit yang padat, membuat karya Tamanagung mudah dikenali oleh pembeli yang sudah berpengalaman. Di sisi lain, ketergantungan pada batu alam juga berarti ketergantungan pada alam: ketersediaan batu dipengaruhi oleh kondisi sungai dan lereng Merapi, dan harga bahan baku bisa naik ketika batu berkualitas baik semakin sulit ditemukan.

Dari Kepala Buddha hingga Cobek

Ragam produk pahat batu Muntilan sangat luas, mencapai ratusan jenis. Karya-karya itu dipajang di sepanjang jalan dari perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta menuju Muntilan dan di sepanjang Jalan Raya Magelang-Yogyakarta pada ruas Muntilan-Salam, sehingga siapa pun yang melintas akan melihat galeri terbuka yang membentang berkilometer-kilometer. Di antara produk yang ditawarkan: patung-patung, ornamen dinding, relief dalam berbagai bentuk dan ukuran, serta peralatan dapur seperti cobek dan munthu. Selain itu ada pula lampu hias berbentuk pagoda, meja hias, guci air, miniatur arca, dan miniatur stupa Borobudur.

Ragam ini mencerminkan dua pasar yang dilayani sekaligus: pasar seni dan pasar fungsional. Di satu sisi ada arca Dewi Tara, Dewi Sri, kepala Buddha, dan relief dinding yang dibeli sebagai karya seni dan dekorasi. Di sisi lain ada cobek dan munthu yang dibeli untuk dipakai sehari-hari di dapur, dan justru cobek inilah yang paling dicari menurut Agus Tama. Keberhasilan cobek sebagai produk terlaris menunjukkan kecerdasan para pemahat dalam membaca pasar: mereka tidak hanya membuat karya seni untuk kolektor, tetapi juga produk fungsional untuk rumah tangga, yang perputarannya lebih cepat dan pembelinya lebih luas.

Miniatur candi adalah produk yang memiliki sejarah tersendiri, karena dari pesanan miniatur itulah sentra ini mendapat pengakuan nasional pada 1974 dan 1990. Hingga kini, miniatur stupa dan relief Borobudur tetap menjadi produk andalan Galeri Bagus Art Stone, bersama ornamen dinding dan cobek. Miniatur ini dibeli wisatawan sebagai suvenir yang lebih bermakna daripada suvenir cetakan: ia dibuat dari batu yang sama dengan candi aslinya, oleh tangan-tangan yang tinggal di jalur yang sama dengan jalur material candi itu.

Kualitas karya Muntilan, menurut berbagai sumber lokal, baik dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan produk sejenis dari daerah lain, dan banyak dicari wisatawan domestik maupun mancanegara. Kombinasi kualitas dan harga ini adalah daya saing utama sentra: pembeli mendapatkan batu asli Merapi, pahatan tangan mengikuti pakem, dan harga yang masih terjangkau karena produksi dilakukan langsung di desa, tanpa rantai distribusi yang panjang.

Pasar Dunia dari Pinggir Jalan

Pasar pahat batu Muntilan menjangkau jauh melampaui Muntilan. Wiyono, yang menekuni usaha ini sejak tahun 1980-an, mengekspor produknya ke Malaysia, Amerika, Jerman, dan Belgia. Ia memulai dengan satu kios di depan rumahnya, dan kini memiliki dua kios di seberang rumah ditambah tempat produksi di belakang rumah, dengan pertumbuhan yang terutama terjadi pada tahun 2000-an. Ia mempekerjakan 12 orang, empat di antaranya pemahat dan sisanya mengerjakan finishing, pengemasan, dan pengiriman, ditambah pemahat rumahan. Menariknya, Wiyono mengaku tidak memakai pemasaran media sosial sama sekali: pelanggannya datang dari wisatawan asing yang berkunjung ke Borobudur dan mampir ke kiosnya, sering memesan 20 buah sekaligus, jarang membawa desain sendiri, dan menjadi pelanggan tetap yang kembali memesan.

Agus Tama dari Galeri Bagus Art Stone memiliki jangkauan ekspor yang lebih luas lagi: Amerika, Belgia, Vietnam, Thailand, dan Afrika. Usahanya sempat lesu pada masa pandemi, lalu pulih kembali seiring kembalinya wisatawan. Dua kisah ini menunjukkan pola yang sama: pasar ekspor pahat batu Muntilan dibangun bukan lewat iklan, melainkan lewat kunjungan wisatawan ke Borobudur yang kemudian mampir, melihat, dan memesan. Borobudur adalah etalase, dan Muntilan adalah bengkelnya. Tanpa Borobudur, sulit membayangkan sentra ini dikenal seluas sekarang, dan tanpa Muntilan, wisatawan Borobudur akan kehilangan tempat untuk membawa pulang sepotong batu yang sama dengan batu candi.

Pengiriman produk batu bukan perkara sepele. Wiyono menjelaskan bahwa pengemasan dilakukan dengan membungkus produk memakai kardus, lalu memasukkannya ke dalam peti kayu yang dibuat khusus agar tidak pecah selama pengiriman. Peti kayu khusus ini penting karena produk batu berat dan rapuh pada bagian detailnya, dan satu retak saja bisa merusak nilai sebuah arca. Keahlian mengemas, dengan demikian, adalah bagian dari keahlian sentra yang jarang disorot: bukan hanya memahat, tetapi juga memastikan pahatan sampai utuh di tangan pembeli di benua lain.

Wiyono juga mencatat perubahan pola kerja: hari Jumat adalah hari kerja setengah hari, sebuah penanda bahwa sentra ini masih menjaga ritme kehidupan keagamaan di tengah kesibukan produksi. Di sisi lain, pesanan dua patung bergaya Tionghoa setinggi sekitar dua meter dari seorang pelanggan Jerman dikerjakan selama satu bulan, menunjukkan bahwa pemahat Muntilan tidak hanya mengerjakan motif Jawa dan Buddha, tetapi juga motif sesuai pesanan pembeli dari berbagai latar budaya.

Tantangan: Semen Cetak dan Pesanan yang Menyusut

Di balik jangkauan pasarnya, sentra pahat batu Muntilan menghadapi dua tantangan yang saling berkaitan: menjamurnya kios semen cetak dan menyusutnya pesanan. Wiyono menyebut menjamurnya kios semen cetak sebagai tantangan utama, karena produk cetak semen yang menyerupai batu dijual lebih murah dan membingungkan pembeli yang tidak bisa membedakan batu asli dari cetakan. Bagi pemahat yang menghabiskan satu hingga tiga bulan untuk satu patung besar, persaingan dengan produk cetak yang bisa diproduksi massal dalam hitungan hari adalah persaingan yang tidak seimbang, dan satu-satunya pembeda yang tersisa adalah edukasi pembeli tentang batu asli.

Tantangan kedua adalah penurunan volume pesanan. Wiyono membandingkan masa puncak pada 2002-2003, ketika pengiriman mencapai setidaknya satu kontainer setiap minggu, dengan kondisi sekarang yang hanya sekitar satu pengiriman setiap tiga bulan. Penurunan ini sangat besar, dan meski angka itu berasal dari satu pelaku usaha dan tidak bisa digeneralisasi ke seluruh sentra, ia menggambarkan tekanan yang dirasakan para pemahat. Penyebabnya beragam: persaingan produk cetak, perubahan selera pasar, dan mungkin juga berkurangnya kunjungan wisatawan asing yang menjadi pelanggan utama. Namun Wiyono tetap optimistis, dan optimisme itu beralasan: selama Borobudur masih dikunjungi jutaan wisatawan, jalur Muntilan-Salam akan tetap dilalui pembeli potensial.

Dinamika usaha patung batu andesit sendiri juga menjadi objek kajian akademik: jurnal sosiologi Universitas Sebelas Maret mengkaji keberlangsungan usaha patung batu andesit di Dusun Jatisumber, Mojokerto, yang menghadapi tekanan serupa antara tradisi dan pasar. Kajian semacam itu menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi Muntilan, dari bahan baku hingga regenerasi, adalah persoalan struktural kerajinan batu di Jawa, bukan sekadar persoalan satu desa.

Regenerasi adalah jawaban jangka panjang atas kedua tantangan itu. Kehadiran pemahat muda seperti Dimas Hari Agung yang belajar memahat di perguruan tinggi di Bantul menunjukkan bahwa kerajinan ini masih menarik generasi muda, dan pesan Mbah Kasrin untuk melestarikan pakem adalah pesan yang ditujukan tepat kepada mereka. Selama ada pemahat muda yang mau belajar menggambar di atas batu sebelum memahat, dan selama ada pembeli yang mau membayar harga batu asli, sentra ini memiliki masa depan. Yang dibutuhkan adalah pembeli yang teredukasi dan pasar yang menghargai perbedaan antara pahatan tangan dan cetakan.

Bagi pembeli, para pelaku usaha di Muntilan sebenarnya sudah memberi petunjuk sederhana untuk membedakan batu asli dari cetakan semen. Agus Tama menekankan bahwa cobek batu Merapi paling dicari karena batunya batu asli yang tidak luntur, sebuah ciri yang hanya dimiliki batu alam: warna dan teksturnya menyatu dengan material, bukan lapisan di permukaan. Wiyono menambahkan pembeda lain yang bisa dicek langsung di kios: sekitar 90 persen produknya adalah batu murni, dan sisanya adalah cetakan semen, sehingga pembeli yang bertanya akan mendapat jawaban jujur tentang bahan setiap produk. Di sentra yang menjual batu asli, penjual tidak segan menyebut mana yang batu dan mana yang cetakan, dan keterbukaan itulah yang seharusnya dicari pembeli. Selain itu, bobot menjadi petunjuk yang sulit dipalsukan: patung batu andesit setinggi dua meter jauh lebih berat daripada cetakan semen dengan ukuran yang sama, dan permukaan pahatan tangan masih memperlihatkan jejak pahat yang tidak seragam, berbeda dengan permukaan cetakan yang terlalu halus dan berulang.

Peran galeri terbuka di tepi jalan juga tidak boleh diremehkan. Karya-karya yang dipajang di sepanjang jalan dari perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta menuju Muntilan dan pada ruas Muntilan-Salam berfungsi sebagai etalase permanen yang bisa dilihat tanpa harus masuk ke sanggar. Wisatawan yang baru pulang dari Borobudur dapat berhenti, membandingkan puluhan karya dari berbagai sanggar dalam satu perjalanan, dan berbicara langsung dengan penjual tentang bahan, ukuran, dan harga. Model pajang di tepi jalan ini adalah bentuk pemasaran tertua sentra, dan hingga kini masih menjadi jalur utama bertemunya pemahat dengan pembeli, bahkan di era ketika Wiyono mengaku sama sekali tidak memakai media sosial. Selama jalan Muntilan-Salam tetap menjadi jalur utama menuju Borobudur dari arah Yogyakarta, etalase itu akan tetap bekerja.

Keterkaitan sentra pahat batu dengan ekonomi kawasan Borobudur juga terlihat dari model Balkondes, Balai Ekonomi Desa, yang menjadi salah satu motor ekonomi desa-desa penyangga Borobudur. Ruang pajang usaha mikro kecil dan menengah di Balkondes menjual kerajinan warga, termasuk ukir batu, dan model ini menunjukkan arah yang sama dengan yang dibutuhkan Muntilan: kerajinan desa yang dipajang, diceritakan, dan dijual langsung kepada wisatawan, tanpa perantara yang menggerus margin pengrajin. Untuk kisah Balkondes, pembaca dapat melihat artikel Balkondes, Balai Ekonomi Desa di Kawasan Borobudur di KabarTidar.

Pada akhirnya, Pahat Batu Muntilan adalah cerita tentang sebuah desa yang mengubah posisi geografisnya menjadi keahlian. Prumpung yang dulu hanya titik transit batu Borobudur berubah menjadi sentra yang memasok kerajinan ke seluruh dunia, dan batu Merapi yang dulu hanya lewat berubah menjadi arca, relief, miniatur, dan cobek yang menghidupi ratusan keluarga. Selama batu Merapi masih mengalir dari lereng dan sungai, dan selama tangan-tangan pemahat Tamanagung masih setia pada pakem, sentra ini akan tetap menjadi salah satu penanda paling khas di jalan menuju Borobudur: deretan batu yang dipahat, dipajang di tepi jalan, dan menunggu pembeli yang tahu bedanya antara batu asli dan cetakan.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *