Muhibah Budaya 2026 di Borobudur: Jogja dan Magelang Merajut Kembali Budaya Mataraman
Muhibah Budaya 2026 di Taman Wisata Borobudur mempertemukan Magelang dan Yogyakarta dalam tema Merajut Budaya Mataraman dari Jogja untuk Indonesia. Bupati Grengseng Pamuji membuka acara dan Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan sambutan.

MAGELANG — Kabupaten Magelang dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merajut kembali ikatan budaya Mataraman melalui Muhibah Budaya 2026 yang digelar di Taman Wisata Borobudur, Rabu (22/10/2026) malam. Kegiatan bertema “Merajut Budaya Mataraman dari Jogja untuk Indonesia” itu merupakan puncak kolaborasi panjang yang dibuka lewat Pameran Museum Maha Bandhana ke-4 “Nyawiji Rasa, Wanuh Budaya Mataraman” pada 20–22 Agustus lalu.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji membuka acara dengan menegaskan bahwa warisan Mataram bukan sekadar pajangan museum. “Kabupaten Magelang dan DIJ tidak hanya bertetangga secara geografis, tetapi juga terikat sangat kuat secara historis dan kultural,” tegas Grengseng.
“Akar Peradaban Mataram yang diwariskan leluhur telah mengalir dalam nafas hidup, tradisi, tata krama, serta karya seni masyarakat kita sehari-hari,” imbuhnya.
Muhibah Budaya 2026 dan Nilai Hamemayu Hayuning Bawana
Menurut Grengseng, Muhibah Budaya bukan sekadar seremoni, melainkan modal sosial untuk melawan lupa di tengah gempuran globalisasi. Melestarikan budaya Mataraman berarti menjaga identitas bangsa, sekaligus merawat nilai hamemayu hayuning bawana, yakni pandangan bahwa manusia hadir bukan untuk merusak, melainkan untuk memperindah alam.
“Pemajuan kebudayaan tidak bisa dilakukan secara parsial. Kita perlu bersatu dan merajut kembali tali persaudaraan kebudayaan ini,” katanya.
Sultan HB X: Merapi dan Merbabu, Dua Penjaga Zaman
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang hadir dan menyampaikan sambutan mengangkat kesatuan lanskap budaya kedua daerah. “Merapi dan Merbabu berdiri dalam satu cakrawala, seolah menjadi dua penjaga yang menyaksikan pergantian zaman,” ujarnya.
Sultan juga menarik benang peradaban dari Borobudur dan Prambanan. Dua candi berbeda agama itu disebutnya sebagai satu percakapan peradaban yang telah berlangsung berabad-abad, yang kini diperkuat dengan segitiga pariwisata nasional Borobudur–Jogjakarta–Prambanan.
Lebih jauh, Sultan menyebut kekayaan tradisi yang hidup di masyarakat, di antaranya Ario Soreng di lereng Merbabu, kisah keprajuritan Jipang dan Pajang, serta Jayeng Loko di Keraton Jogjakarta yang berasal dari kisah wayang gedog. “Setiap tradisi memiliki ruang untuk hidup, berkembang, dan memperoleh penghormatan. Keluhuran kebudayaan tidak ditentukan oleh tempat kelahirannya, melainkan oleh nilai yang terus dihidupkan,” kata Sultan.
Budaya yang Hidup dalam Keseharian
Mengutip pandangan antropolog Koentjaraningrat, Sultan menyampaikan bahwa kebudayaan bukan hanya candi dan panggung, melainkan juga kebiasaan sehari-hari. Ia mencontohkan para pedagang sayur keliling dari Wulung Gunung di kaki Merbabu yang setiap hari merajut hubungan kedua daerah tanpa pernah menyebutnya diplomasi budaya.
“Ketika malam masih menyelimuti, mereka telah bersiap. Menjelang pagi, perjalanan menuju Jogjakarta dimulai. Ada yang menjajakan sayur hingga Sedayu, ada pula yang menuju Jalan Parangtritis,” tutur Sultan. “Betapa indahnya menyadari bahwa kebudayaan juga hidup dalam perjalanan yang demikian bersahaja,” ujarnya.
Puncak Rangkaian Kolaborasi Dua Daerah
Muhibah Budaya 2026 merupakan puncak dari kolaborasi panjang antara Magelang dan Yogyakarta di bidang kebudayaan. Rangkaian itu dibuka melalui Pameran Museum Maha Bandhana ke-4 bertajuk “Nyawiji Rasa, Wanuh Budaya Mataraman” yang digelar pada 20–22 Agustus lalu. Pameran bersama tersebut mempertemukan koleksi dan narasi museum dari kedua wilayah yang sama-sama mewarisi peradaban Mataram.
Kedekatan historis kedua daerah memang tidak dapat dipisahkan dari bentang alam dan situs yang mereka bagi bersama. Kawasan Borobudur di Kabupaten Magelang dan Prambanan di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah sama-sama merupakan warisan peradaban Mataram kuno, sementara Keraton Yogyakarta dan masyarakat di lereng Merapi–Merbabu mewarisi tradisi Mataram yang hidup hingga hari ini dalam bahasa, tata krama, kesenian, dan laku keseharian.
Bagi Magelang, rajutan budaya ini juga berkaitan langsung dengan wajah pariwisata daerah. Borobudur telah ditetapkan pemerintah pusat sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas, dan kedekatan kultural dengan Yogyakarta membuka peluang penyusunan paket perjalanan lintas daerah yang saling menguatkan, dari kunjungan candi hingga wisata desa dan kuliner di kawasan sekitarnya.
Gelaran di kawasan Candi Borobudur ini menambah rangkaian agenda budaya besar di kawasan tersebut, yang dalam waktu dekat juga menjadi perbincangan publik seiring rencana konser Andrea Bocelli. Rangkaian Muhibah Budaya 2026 di Borobudur diberitakan Radar Magelang.



1 Komentar