Jumat, 23 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Wisata » Jelajah Heritage, Pemkot Magelang Kenalkan Bangunan Bersejarah ke…
Wisata

Jelajah Heritage, Pemkot Magelang Kenalkan Bangunan Bersejarah ke Generasi Muda

Bangunan tua di Kota Magelang bukan sekadar latar foto. Melalui Jelajah Heritage, Pemkot mengajak anak muda membaca kembali kisah kota dari Menara Air, Plengkung, dan kawasan cagar budayanya.

Oleh Intan Larasati Jumat, 23 Oktober 2026 · 21.36 WIB
Ilustrasi Menara Air dan bangunan bersejarah dalam kegiatan Jelajah Heritage Kota Magelang
Ilustrasi: Menara Air bersejarah Kota Magelang dan sekelompok pelajar muda yang menjelajah kawasan heritage. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG — Jelajah Heritage Kota Magelang menjadi cara Pemerintah Kota Magelang mengenalkan bangunan bersejarah kepada generasi muda, mengajak anak muda belajar mengenali bangunan-bangunan tua yang selama ini berdiri di tengah keseharian kota. Melalui kegiatan jelajah tersebut, peserta diajak melihat langsung warisan bangunan kota, bukan sekadar membacanya dari buku pelajaran.

Kota Magelang memang menyimpan lapisan sejarah yang panjang. Hari jadi kota ini ditetapkan pada 11 April 907 berdasarkan Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 6 Tahun 1989, berawal dari desa perdikan Mantyasih yang kini dikenal sebagai Kampung Meteseh. Dalam perjalanannya, Magelang pernah menjadi ibu kota Karesidenan Kedu, pusat ekonomi, serta kota militer, dan jejak masa-masa itu masih terbaca pada bangunan-bangunan yang berdiri hingga sekarang.

Jelajah Heritage Kota Magelang dan Peta Cagar Budaya Kota

Pemerintah Kota Magelang sebenarnya telah memiliki peta awal warisan bangunannya. Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Jendela Inovasi Daerah, jurnal resmi Pemerintah Kota Magelang, mengidentifikasi sepuluh bangunan dan kawasan yang berpotensi sebagai cagar budaya. Kesepuluhnya adalah Dapur Umum Tulung, Tugu Jam Alun-alun, Makam Mbah Dudo, Makam Van der Steur, Rumah dr. Setyati Pranantyo, Situs Lumpang Mantyasih, Kawasan Badaan, Kawasan Poncol, Kompleks Makam Gunung Tidar, dan Bunker Jepang.

Penelitian tersebut merekomendasikan upaya perlindungan yang mencakup aspek penyelamatan, pengamanan, pemeliharaan, dan pemugaran. Pengenalan kepada generasi muda menjadi bagian penting dari upaya itu, sebab bangunan bersejarah hanya akan terawat apabila warga yang tinggal bersamanya memahami nilai yang dikandungnya. Tanpa dikenalkan, bangunan tua mudah dipandang sebagai sekadar bangunan lama yang dilewati setiap hari.

Menara Air dan Plengkung, Ikon yang Masih Bekerja

Salah satu ikon yang paling dikenal warga adalah Menara Air atau water toren di kawasan Alun-alun Kota Magelang. Bangunan peninggalan masa Hindia Belanda ini dibangun sejak 1916 dan resmi melayani air bersih pada 1920. Menara yang ditopang 32 pilar itu mampu menampung 1.750.000 liter air dan sampai saat ini masih berfungsi mendistribusikan air minum bagi warga Kota Magelang di bawah pengelolaan perusahaan daerah air minum, sehingga kerap disebut sebagai landmark Kota Magelang.

Pegiat Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana menjelaskan, pembangunan menara air itu berawal dari terganggunya pasokan air bersih warga. Sekitar 1915, Kali Manggis di kawasan Poncol runtuh sehingga suplai air bersih terhambat dan memunculkan wabah penyakit. “Waktu itu ada pemerhati kesehatan dari Semarang yang memberi masukan kepada Pemerintah Kota Magelang supaya membuat sistem air bersih dengan mendirikan menara air minum,” kata Bagus. Air bersih kemudian dialirkan dari sumber di Bandongan, Kabupaten Magelang, sejauh sekitar delapan kilometer dengan memanfaatkan sistem gravitasi.

Warisan infrastruktur kolonial lainnya adalah Plengkung, bangunan menyerupai benteng yang menjadi penyangga saluran air kota atau Boog Kotta Leiding. Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Magelang, saluran air sepanjang sekitar 6,5 kilometer itu mengalirkan air dari Kali Manggis hingga Kampung Jagoan dengan memanfaatkan gravitasi bumi, dan disebut pula sebagai Fly River atau Aqua Duct. Di Kota Magelang terdapat tiga Plengkung, masing-masing di Jalan Piere Tendean yang dibangun pada 1883, Jalan Daha atau Tengkon pada 1893, dan Jalan Ade Irma Suryani pada 1920. Pada zaman perang kemerdekaan, Plengkung juga pernah digunakan para pejuang sebagai benteng perjuangan.

Kolaborasi Pemkot dan Komunitas Pecinta Bangunan Tua

Upaya mengenalkan kawasan heritage kepada publik selama ini juga dijalankan Pemerintah Kota Magelang melalui kolaborasi dengan komunitas. Pada Mei 2026, Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Magelang berkolaborasi dengan Komunitas Kota Toea Magelang menerima kunjungan pesepeda mancanegara peserta The Heritage Path of Central Java. Pada hari pertama, para peserta diajak walking tour menyusuri kawasan heritage Kota Magelang di area alun-alun sambil menikmati suasana kota dan bangunan bersejarah.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Magelang Imam Baihaqi mengatakan, kolaborasi semacam itu merupakan salah satu langkah untuk mengenalkan wisata di Kota Magelang. “Hal ini juga sejalan dengan visi misi Bapak Wali Kota Magelang untuk menggaungkan Kota Magelang melalui even sport tourism dan wisata heritage,” katanya dalam keterangan tertulis saat itu.

Jelajah Heritage bagi generasi muda berada dalam semangat yang sama: menjadikan ruang kota sebagai ruang belajar. Semangat merawat warisan budaya itu juga hidup di wilayah Magelang yang lebih luas, sebagaimana terlihat pada Muhibah Budaya 2026 di Borobudur yang merajut kembali budaya Mataraman. Kegiatan pengenalan wisata heritage Kota Magelang sebelumnya juga diberitakan BorobudurNews.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *