Minggu, 25 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Kuliner » Wisata Kuliner di Rindam Magelang, Jajanan Pasar Murah…
Kuliner

Wisata Kuliner di Rindam Magelang, Jajanan Pasar Murah hingga Street Food

Di lapangan yang dikenal sebagai tempat olahraga warga ini, jajanan pasar tradisional berdampingan dengan street food modern, dengan harga yang ramah di kantong.

Oleh Intan Larasati Minggu, 25 Oktober 2026 · 07.33 WIB
Ilustrasi lapak kuliner malam dengan lampu gantung dan jajanan warna-warni
Ilustrasi suasana kuliner malam di Rindam Magelang. (Ilustrasi: KabarTidar)

Kuliner Rindam Magelang menawarkan pengalaman yang sederhana tapi lengkap: satu kawasan, dua dunia rasa. Di Kawasan Rindam IV Diponegoro, Kota Magelang, Jawa Tengah, tepatnya di area Jalan dr. Koesan Hirohoesodo Raya, jajanan pasar tradisional berdampingan dengan street food modern. Kawasan ini dikenal sebagai tempat warga berolahraga, dan pada sore hingga malam hari berubah menjadi tujuan kuliner yang santai dan terjangkau.

Tribun Travel yang menurunkan laporan ini pada Sabtu, 24 Oktober 2026, menggambarkan Rindam sebagai destinasi kuliner sore hingga malam yang santai. Tidak ada jam buka dan tutup resmi yang dinyatakan dalam artikel tersebut. Berdasarkan informasi referensi yang dikutipnya, kawasan kuliner ini umumnya mulai ramai sekitar pukul 15.30 WIB hingga 22.00 WIB. Suasananya digambarkan sebagai sore hingga malam hari: cocok untuk bersantai setelah beraktivitas, bukan untuk makan siang yang terburu-buru.

Video yang tertanam dalam artikel itu pun menegaskan karakter tersebut. Judulnya, “DIARY TRAVEL: Serunya Menikmati Sore Sembari Berburu Jajanan di Lapangan Rindam Kota Magelang”, menggambarkan aktivitas utama di sana: menikmati sore sambil berburu jajanan di lapangan. Rindam memang bukan restoran atau pujasera beratap, melainkan lapangan terbuka yang pedagangnya menggelar dagangan pada sore hari.

Kuliner Rindam Magelang: Jajanan Pasar Tradisional

Deretan jajanan pasar menjadi andalan pertama kawasan ini. Cenil, lupis, klepon, dan getuk hadir berdampingan, dijual sebagai jajanan ringan tradisional yang murah dan mudah dibagi. Cenil mendapat penjelasan paling rinci dalam artikel sumber: terbuat dari pati ketela pohon, kenyal, berukuran kecil, dan berwarna-warni. Cenil biasanya disajikan dengan kelapa parut segar dan juruh, yakni saus gula merah cair, sehingga menghasilkan perpaduan rasa manis dan gurih. Cenil juga kerap dijual bersama lupis, klepon, dan getuk dalam satu pincuk.

Kombinasi itu penting untuk dipahami pengunjung yang baru pertama kali datang. Satu pincuk campuran cenil, menurut referensi yang dikutip artikel, dibanderol sekitar Rp5.000 hingga Rp8.000. Sementara itu, jajanan ringan tradisional secara umum disebutkan mulai dari Rp500 per buah. Angka-angka ini perlu dibaca dengan catatan yang ditegaskan artikel sumber itu sendiri: harga-harga tersebut merupakan gambaran berdasarkan referensi yang tersedia, bukan harga pasti yang dikonfirmasi, dan ketersediaan pedagang serta harga sebenarnya sebaiknya dikonfirmasi langsung di lokasi.

Catatan itu justru membuat panduan ini jujur. Harga jajanan kaki lima memang berubah mengikuti pedagang yang datang dan bahan yang tersedia. Yang tidak berubah adalah karakternya: jajanan pasar di Rindam dijual sebagai camilan ringan yang bisa dicicipi sedikit demi sedikit, bukan sebagai makanan berat.

Di sisi lain, kawasan ini juga diramaikan street food modern. Artikel sumber menyebut takoyaki, corndog, dimsum, aneka sate bakaran, tteokbokki, dan crepes, dengan es buah sebagai pilihan minuman segar pendamping. Pilihan-pilihan ini, menurut artikel tersebut, cocok bagi pengunjung yang datang bersama teman atau keluarga dan ingin mencicipi beberapa jenis makanan sekaligus. Satu orang memesan takoyaki, yang lain dimsum, lalu bertukar rasa di meja yang sama: itulah cara menikmati Rindam yang paling masuk akal.

Untuk makanan modern siap santap, artikel sumber menyebut kisaran umum Rp5.000 hingga Rp15.000 per porsi, lagi-lagi sebagai gambaran dari referensi, bukan harga yang dikonfirmasi. Dengan kisaran itu, Rindam tetap berada pada kategori kuliner yang ramah di kantong, terutama bila dibandingkan dengan makan di restoran. Es buah disebut sebagai pendamping yang menyegarkan untuk bersantai, melengkapi camilan asin dan manis yang dijajakan di sana.

Satu hal yang perlu dinyatakan secara eksplisit: artikel sumber tidak menyebut nama warung atau pedagang spesifik mana pun. Tidak ada nama lapak yang direkomendasikan dalam laporan tersebut, sehingga artikel ini pun tidak mengarang nama warung. Pengunjung yang datang sebaiknya menjelajahi sendiri lapak-lapak yang ada, dan justru di situlah letak keseruannya: menemukan penjual favorit dengan cara mencoba.

Bagi warga Magelang, Rindam menawarkan rutinitas sore yang mudah: berolahraga di lapangan, lalu menutup sore dengan jajanan. Bagi wisatawan, kawasan ini memberi gambaran kuliner Kota Magelang yang membumi, jauh dari kesan restoran mahal. Kota Magelang sendiri memiliki kekayaan kuliner lain, seperti bakmi Magelang, dan Rindam melengkapi daftar itu dari sisi jajanan kaki lima.

Tips yang bisa dipetik dari laporan ini sederhana saja. Datanglah sore menjelang malam, ketika kawasan mulai ramai, sekitar pukul 15.30 WIB ke atas. Siapkan uang tunai pecahan kecil, karena sebagian besar jajanan dibanderol per buah dengan harga yang sangat terjangkau. Datang bersama teman atau keluarga membuat pengalaman mencicipi lebih menyenangkan, karena banyak jenis makanan bisa dicoba sekaligus. Dan yang terpenting, konfirmasikan ketersediaan pedagang dan harga di lokasi, sesuai peringatan artikel sumber, karena lapak kaki lima tidak selalu hadir dengan susunan yang sama setiap hari.

Rindam IV Diponegoro membuktikan bahwa wisata kuliner tidak selalu harus mahal atau formal. Lapangan olahraga, pedagang jajanan, dan suasana sore yang santai sudah cukup untuk menjadi destinasi. Selama pengunjung datang dengan ekspektasi yang tepat, yakni jajanan kaki lima yang murah dan beragam, kawasan ini sulit mengecewakan. Sumber utama artikel ini adalah laporan Tribun Travel pada 24 Oktober 2026.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *