Siswi SD Tarakanita Kota Magelang Juara Duta Budaya Nasional
Keyza yang baru berusia 11 tahun menyisihkan perwakilan berbagai daerah di malam penobatan di Solo, dengan membawakan filosofi kain Truntum tentang cinta yang terus bertambah.

Duta Budaya Indonesia Cilik 2026 melahirkan juara dari Kota Magelang. Graceilla Adhele Keyza Putri, siswi SD Tarakanita Kota Magelang yang baru berusia 11 tahun, meraih Juara 1 Kategori Anak sekaligus gelar Winner Duta Budaya Indonesia Cilik 2026. Ia akrab disapa Keyza.
Malam final dan penobatan ajang tersebut digelar di Bale Pangenggar, Taman Balekambang, Solo, Jawa Tengah, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Keyza menyisihkan perwakilan dari berbagai daerah yang sebelumnya telah melewati seleksi tingkat provinsi. Sebelum malam penobatan, para peserta menjalani masa seleksi dan karantina pada 19 hingga 22 Oktober 2026.
Satu hal yang perlu dicatat secara jujur dari pemberitaan Magelang Ekspres: meski Keyza bersekolah di SD Tarakanita Kota Magelang, artikel tersebut secara eksplisit menyebut ia mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada ajang nasional itu. Keterangan foto dalam artikel yang sama juga menggambarkannya sebagai siswi SD Tarakanita Kota Magelang yang mewakili DIY. Artikel itu tidak menjelaskan mengapa Keyza mewakili DIY dan bukan Magelang atau Jawa Tengah, sehingga alasan di baliknya tidak ditulis di sini.
Pada malam penobatan, Keyza membawakan kain Truntum. Di hadapan dewan juri, ia menjelaskan filosofi motif kain tradisional tersebut. Motif Truntum digambarkan menyerupai bintang, dengan makna cinta dan rasa sayang yang terus bertambah seiring waktu.
“Kain Truntum itu seperti bintang ajaib, bermakna cinta dan rasa sayang yang terus bertambah dan bersinar terang selamanya,” ujar Keyza.
Penjelasan itu menjadi bagian penting dari penampilannya. Dalam ajang duta budaya, peserta tidak hanya dinilai dari penampilan di atas panggung, tetapi juga dari pemahaman mereka atas kain dan budaya yang mereka bawakan. Keyza menunjukkan pemahaman itu dengan mengaitkan motif bintang pada Truntum dengan makna cinta yang tidak berhenti bertambah dan terus bersinar.
Selain kain tradisional, Keyza juga menyampaikan kecintaannya pada tari. Baginya, tari bukan sekadar menghafal gerakan fisik, melainkan latihan kedisiplinan dan ketekunan. Menari, dalam pandangannya, melatih seseorang untuk menghargai proses belajar dan berlatih itu sendiri.
“Budaya yang saya sukai adalah tari. Karena dengan menari, saya merasa lebih bisa menghargai sebuah proses belajar dan berlatih,” kata Keyza.
Duta Budaya Indonesia Cilik dan Masa Karantina Peserta
Menurut penuturan ibunda Keyza, Caecilia Susanti, ajang Duta Budaya Indonesia 2026 mengharuskan peserta melewati tahapan seleksi dan karantina. Selama masa karantina, peserta mengikuti sejumlah kegiatan, antara lain kunjungan ke keraton, wawancara, gala dinner, peragaan busana daerah, serta perkenalan kain tradisional dari daerah masing-masing peserta.
Rangkaian kegiatan itu menunjukkan bahwa ajang ini tidak berhenti pada malam penobatan. Peserta dipertemukan dengan budaya dari berbagai daerah, dikenalkan pada tata krama dan wawasan kebudayaan, serta dilatih tampil dan berbicara di depan publik. Bagi peserta seusia Keyza, pengalaman semacam itu menjadi bekal yang melampaui piala dan gelar.
Caecilia Susanti juga menyampaikan harapan agar prestasi nasional ini memotivasi Keyza untuk terus belajar, tidak cepat merasa puas, serta terus mengembangkan diri, memperbaiki diri, dan memperluas pengetahuannya. Harapan itu sejalan dengan pesan yang kerap menyertai prestasi anak: gelar juara adalah awal, bukan garis akhir.
Prestasi Keyza juga menjadi kabar baik bagi dunia pendidikan di Kota Magelang. Seorang siswi sekolah dasar yang tampil di panggung nasional dan pulang dengan gelar Winner menunjukkan bahwa pembinaan budaya sejak usia dini dapat berbuah nyata. KabarTidar sebelumnya juga menulis tentang siswa SLB Kota Magelang yang mengikuti praktik kerja lapangan di perusahaan lokal. Sekolah, keluarga, dan lingkungan tempat anak tumbuh sama-sama berperan dalam capaian semacam ini, meski artikel sumber tidak menyebut nama guru atau pembina yang mendampingi Keyza.
Perlu dicatat pula bahwa artikel sumber tidak menyebut nama pejabat pemerintah maupun panitia penyelenggara. Karena itu, artikel ini hanya menulis nama-nama yang memang disebutkan sumber: Keyza, ibundanya Caecilia Susanti, serta reporter dan editor artikel asal. Tidak ada nama tambahan yang dikarang untuk melengkapi cerita.
Bagi pembaca di Magelang, kisah Keyza menyimpan dua sisi yang sama-sama penting. Di satu sisi, ada kebanggaan atas siswi Kota Magelang yang menjuarai ajang nasional. Di sisi lain, ada pertanyaan terbuka yang belum terjawab sumber: mengapa ia mewakili DIY. Pertanyaan itu dibiarkan terbuka di sini, sesuai dengan apa yang tertulis di sumber, sampai ada penjelasan resmi yang dapat diverifikasi. Yang sudah pasti adalah prestasinya: Juara 1 Kategori Anak dan gelar Winner Duta Budaya Indonesia Cilik 2026 atas nama kerja keras seorang anak berusia 11 tahun. Sumber utama artikel ini adalah laporan Magelang Ekspres pada 24 Oktober 2026.


