Kebakaran Gunung Sumbing Meluas, Luas Terdampak Capai 779,4 Hektare
Kebakaran Gunung Sumbing belum padam hingga hari kelima. Luas kawasan terdampak meluas menjadi 779,4 hektare, pemadaman terkendala angin kencang, dan seluruh jalur pendakian gunung di Jawa Tengah ditutup sementara.

MAGELANG — Kebakaran hutan di Gunung Sumbing yang terjadi sejak Senin (19/10/2026) belum padam hingga Jumat (23/10/2026). Luas kawasan yang terdampak kebakaran Gunung Sumbing kini mencapai 779,4 hektare, jauh meluas dibandingkan catatan awal sekitar 200 hektare pada Kamis pagi.
Kepala Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kedu Utara, Dimyati, di Temanggung, Jumat (23/10/2026), menyebutkan api yang masih belum padam berada di petak 20-1 wilayah Kabupaten Temanggung dan petak 23 di wilayah Kabupaten Wonosobo. Menurutnya, luas area terdampak tersebut masih dapat berubah seiring perkembangan kondisi di lapangan.
Dimyati menjelaskan, cuaca kering disertai angin kencang menjadi kendala utama dalam upaya pemadaman. Kondisi angin yang bertiup kencang membuat pergerakan api berlangsung cepat, sehingga upaya pemadaman yang dilakukan petugas belum mampu mengimbangi penyebaran kebakaran.
Vegetasi yang Terbakar di Kawasan Hutan Lindung
Dari sisi vegetasi, area yang paling banyak terbakar meliputi sabana dan hutan kemlandingan, yakni kawasan yang ditumbuhi pohon kemlandingan gunung. Selain itu, api mulai menjangkau sebagian kawasan hutan rimba campuran yang terdiri atas sejumlah jenis pohon, seperti bintamin, puspa, dan akasia.
Seluruh kawasan yang terdampak kebakaran tersebut berstatus sebagai hutan lindung. Sebagian titik kebakaran bahkan ada yang memasuki area tegakan rimba campuran yang memiliki pepohonan berukuran besar, sehingga penanganannya membutuhkan kehati-hatian dan waktu yang lebih panjang.
Perkembangan kebakaran ini merupakan kelanjutan dari peristiwa yang dilaporkan sejak awal pekan. Kronologi awal kebakaran dan penutupan jalur pendakian dapat dibaca dalam laporan sebelumnya, kebakaran Gunung Sumbing belum padam.
Terkait opsi pemadaman melalui udara atau water bombing yang sebelumnya didorong oleh Kapolda Jawa Tengah, hingga Jumat hal itu belum ada pelaksanaan. Keputusan mengenai penggunaan metode tersebut masih menunggu ketentuan dan persetujuan dari pihak yang berwenang.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebelumnya mengusulkan agar satu unit helikopter water bombing yang beroperasi di Gunung Lawu digeser untuk membantu penanganan di Gunung Sumbing, dan surat pengajuan telah dikirim ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut dua helikopter dari TNI disiapkan untuk mendukung operasi pemadaman melalui udara oleh BNPB, dan penanganan kebakaran di Lawu dan Sumbing telah ditingkatkan menyusul penetapan status tanggap darurat.
Seluruh Jalur Pendakian Gunung di Jawa Tengah Ditutup Sementara
Menyikapi meluasnya kebakaran hutan dan lahan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meminta pengelola menutup sementara seluruh jalur pendakian gunung di wilayahnya. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Heru Djatmika, membenarkan pihaknya telah menerbitkan surat imbauan Nomor S/500.4/891/2026 tertanggal Rabu (21/10/2026) perihal penutupan sementara jalur pendakian gunung dan penyiapan lahan tanpa bakar.
Imbauan itu mencakup Gunung Lawu, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Slamet, dan gunung-gunung lainnya di Jawa Tengah. Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan dugaan awal kebakaran di Gunung Lawu dan Gunung Sumbing dipicu kelalaian manusia atau human error. Karena itu, aktivitas masyarakat di kawasan gunung, baik petani maupun pendaki, diminta diminimalkan, terutama penggunaan api di atas.
Bagi warga Magelang yang beraktivitas di lereng Sumbing, penutupan ini sejalan dengan penutupan jalur pendakian di sisi Magelang yang telah berlaku sejak Selasa. Destinasi wisata lereng seperti Nepal van Java di Dusun Butuh, Kaliangkrik, berada di kaki Sumbing dan tidak berada di kawasan hutan yang terbakar, namun warga dan pengunjung tetap diminta mengikuti arahan petugas selama masa tanggap darurat.
Petugas gabungan hingga Jumat terus memantau perkembangan kebakaran dan melakukan pemadaman di titik-titik api yang masih aktif. Masyarakat yang tinggal di desa-desa lereng Sumbing di wilayah Kaliangkrik dan Windusari diminta tetap tenang, tidak mendekati kawasan hutan yang terbakar, serta segera melapor kepada perangkat desa atau posko terdekat apabila melihat titik api baru di sekitar permukiman. Laporan lengkap perkembangan awal peristiwa ini juga dimuat Validnews mengutip Antara. KabarTidar akan memperbarui laporan ini mengikuti keterangan resmi petugas di lapangan.



1 Komentar