Minggu, 25 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Peristiwa » Kubah Lava Merapi Bertambah 9.400 Meter Kubik, Status…
Peristiwa

Kubah Lava Merapi Bertambah 9.400 Meter Kubik, Status Tetap Siaga

Pertumbuhan kubah menandakan pasokan magma masih berjalan. Warga lereng diminta tetap menjauhi zona bahaya dan mengikuti arahan resmi BPPTKG.

Oleh Intan Larasati Minggu, 25 Oktober 2026 · 07.33 WIB
Ilustrasi Gunung Merapi malam hari dengan kubah lava berpijar dan aliran lava
Ilustrasi kubah lava Merapi yang terus tumbuh. (Ilustrasi: KabarTidar)

Kubah Lava Merapi di sisi barat daya kembali bertambah. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat kubah lava tersebut tumbuh 9.400 meter kubik selama periode pengamatan 16–22 Oktober 2026, sehingga volumenya menjadi 4.187.400 meter kubik. Status Gunung Merapi tetap Level III (Siaga).

Pertumbuhan kubah lava berarti material lava baru terus keluar ke permukaan dan menumpuk di sekitar puncak. Pada Merapi, kubah yang membesar inilah yang kemudian menjadi sumber guguran lava pijar dan, bila sebagian kubah runtuh, awan panas. Karena itu, penambahan volume kubah selalu dibaca sebagai tanda bahwa pasokan magma dari dalam gunung masih berjalan.

Merapi masih berada dalam fase erupsi efusif, yakni erupsi yang ditandai keluarnya lava secara perlahan dan bukan ledakan besar, yang berlangsung sejak akhir Desember 2020. Dalam fase seperti ini, guguran lava dari kubah barat daya terjadi hampir setiap hari dan menjadi pemandangan yang rutin tercatat dalam laporan pengamatan BPPTKG.

Sebagai pembanding, survei foto udara BPPTKG pada 19 September 2026 mengukur kubah lava barat daya sebesar 4.182.700 meter kubik. Angka terbaru 4.187.400 meter kubik menunjukkan kubah tersebut terus tumbuh melewati jutaan meter kubik, sejalan dengan survei drone pada Oktober 2026 yang menaksir kubah barat daya berada di kisaran 4,18 juta meter kubik.

Kubah Lava Merapi dan Imbauan bagi Warga Lereng

Meski statusnya tidak naik, Level III (Siaga) berarti aktivitas Merapi masih tinggi dan berbahaya bagi siapa pun yang berada di zona bahaya. BPPTKG secara konsisten meminta warga dan pendaki untuk tidak memasuki zona bahaya yang telah ditetapkan, mengantisipasi guguran lava dan awan panas, serta mengikuti arahan resmi dari BPPTKG dan pemerintah daerah setempat.

Bagi warga di lereng Merapi, termasuk di wilayah Kabupaten Magelang yang berbatasan langsung dengan gunung ini, imbauan tersebut berlaku setiap saat selama status Siaga masih berlaku. Merapi telah menyandang status Level III (Siaga) sejak 5 November 2020, dan status itu ditegaskan kembali oleh BPPTKG pada 12 dan 17 Oktober 2026.

Perkembangan terbaru ini merupakan pembaruan dari laporan sebelumnya mengenai guguran lava Gunung Merapi. Artikel terdahulu itu mencatat aktivitas guguran lava yang terjadi sebelumnya, sedangkan laporan kali ini berfokus pada data pertumbuhan kubah lava terbaru dan penegasan status Siaga yang masih berlaku.

Perlu dicatat bahwa volume kubah lava adalah angka hasil pengukuran survei udara dan drone yang dilakukan berkala oleh BPPTKG, sehingga nilainya berubah dari satu periode pengamatan ke periode berikutnya. Kenaikan 9.400 meter kubik pada periode 16–22 Oktober 2026 adalah selisih terhadap hasil pengukuran pada periode sebelumnya, bukan terhadap survei 19 September 2026.

Secara umum, kubah lava terbentuk ketika lava yang kental keluar perlahan dari kawah dan menumpuk di sekitar lubang kepundan, bukan mengalir jauh seperti lava encer. Karena lava Merapi bersifat kental, kubah dapat tumbuh hingga jutaan meter kubik dan menjadi tidak stabil. Bila sebagian kubah runtuh, runtuhan itu meluncur menuruni lereng sebagai guguran lava pijar dan dapat berkembang menjadi awan panas yang bergerak cepat. Inilah alasan mengapa setiap pertambahan volume kubah selalu dicermati, meskipun status gunung tidak berubah.

Kewaspadaan itu berakar pada sejarah Merapi sendiri. Letusan besar Merapi pada 2010 menewaskan 386 orang menurut hitungan akhir BNPB, dan sejak itu pemantauan gunung ini tidak pernah dilonggarkan. Status Siaga yang berlaku sejak 5 November 2020 mencerminkan aktivitas yang belum juga mereda: magma terus memasok kubah, guguran lava terus terjadi, dan zona bahaya tetap diberlakukan tanpa jeda.

Untuk mengikuti perkembangan itu, BPPTKG memantau Merapi melalui jaringan seismik yang merekam gempa guguran, gempa vulkanik, dan tremor, ditambah survei foto udara dan drone untuk mengukur perubahan bentuk dan volume kubah. Kombinasi data kegempaan dan morfologi inilah yang menjadi dasar laporan mingguan BPPTKG, termasuk angka pertumbuhan kubah pada periode 16–22 Oktober 2026.

Bagi warga lereng, kesiapsiagaan selama status Siaga berarti mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul di desanya masing-masing, menyiapkan tas siaga berisi dokumen dan kebutuhan dasar, serta tidak menunggu bunyi sirene untuk bergerak bila aparat desa dan petugas kebencanaan sudah mengarahkan evakuasi. Informasi yang dijadikan pegangan harus berasal dari kanal resmi BPPTKG dan pemerintah daerah, bukan dari pesan berantai yang belum jelas sumbernya.

Warga yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar Merapi diimbau memantau informasi resmi BPPTKG dan tidak terpancing kabar yang tidak bersumber dari kanal resmi. Setiap perubahan status maupun rekomendasi zona bahaya diumumkan melalui kanal resmi BPPTKG dan pemerintah daerah. Sumber utama angka dalam artikel ini adalah laporan MetroTVNews pada 24 Oktober 2026 yang mengutip data BPPTKG.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *