PLN Dampingi Petani Desa Sumberejo Olah Sampah Sayuran, Pendapatan Naik 36,3 Persen
PLN Pusmanpro mendampingi petani Desa Sumberejo, Kabupaten Magelang, mengolah sampah sayuran menjadi kompos dan memasarkan merek Sayur Segar Merbabu ke dapur MBG. Pendapatan petani naik hingga 36,3 persen.

MAGELANG — PT PLN (Persero) Pusat Manajemen Proyek (Pusmanpro) mendampingi para petani Desa Sumberejo, Kabupaten Magelang, melakukan pengolahan sampah sayuran dan pengembangan produktivitas pertanian. Pendampingan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk Desa Berdaya itu mengantar pendapatan petani setempat naik hingga 36,3 persen.
General Manager PLN Pusmanpro, Aan Ridhoana Fitriaji, dalam pernyataan di Semarang, Kamis (22/10/2026), menegaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari komitmen PLN dalam mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat. “Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), kawasan pertanian ini berhasil melakukan lompatan besar, baik dari sisi produktivitas pertanian maupun memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Petani Desa Sumberejo Olah Sampah Sayuran Jadi Kompos
Menggandeng Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rezki dan Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat, program itu menyentuh permasalahan yang selama ini dihadapi petani, mulai dari pengelolaan sampah sayuran dari hasil panen hingga rantai distribusi pascapanen. “Bantuan pengolahan limbah sayuran serta pengolahan pascapanen ini menjadi salah satu langkah konkret dalam menciptakan pertanian yang lebih produktif dan ramah lingkungan,” kata Aan.
PLN Pusmanpro tidak hanya menyalurkan bantuan fisik berupa sarana drop box sampah, pembangunan greenhouse, dan armada mobil logistik, tetapi juga membekali warga dengan pelatihan pengelolaan sampah serta teknik pascapanen.
Ketua Gapoktan Rezki, Slamet Riyanto, menyampaikan terima kasih kepada PLN atas bantuan dan pendampingan tersebut sehingga kelompoknya bisa memproduksi pupuk kompos secara mandiri. “Kami berterima kasih kepada PLN berkat bantuannya sekarang kami bisa memproduksi pupuk kompos secara mandiri sehingga kami mengurangi biaya pembelian pupuk,” katanya.
Merek “Sayur Segar Merbabu” Masuk Dapur MBG
Fasilitas greenhouse dan ilmu pascapanen tersebut melahirkan merek lokal baru bernama “Sayur Segar Merbabu”, produk hortikultura berstandar tinggi dengan kemasan rapi dan kualitas yang terjaga. Kehadiran mobil logistik bantuan PLN mempercepat daya jelajah produk lokal tersebut.
Tidak butuh waktu lama, “Sayur Segar Merbabu” berhasil menembus pasar strategis dan kini dipercaya menjadi penyuplai utama bahan pangan komoditas sayuran untuk beberapa dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah sekitar. Masuknya produk ke rantai pasok dapur MBG dan efisiensi distribusi berbanding lurus dengan kantong para petani. Kesejahteraan dan pendapatan anggota Gapoktan Rezki serta KWT Sumberejo tercatat melonjak signifikan hingga 36,3 persen.
Sementara itu, Kepala Desa Sumberejo, Subandi, mengungkapkan tingkat pengolahan sampah di Desa Sumberejo pun naik tajam hingga mencapai 43,3 persen. “Prinsip ekonomi sirkular benar-benar hidup di desa ini, mengubah limbah yang tak bernilai menjadi berkah bagi kesuburan lahan pertanian mereka,” katanya.
Mengapa Pengolahan Sampah Sayuran Penting bagi Petani
Bagi petani sayuran, hasil panen yang tidak terserap pasar kerap berakhir menjadi sampah yang membusuk di lahan atau dibuang begitu saja. Sisa sayuran dari sortasi dan pengemasan juga menumpuk setiap musim panen. Tanpa pengelolaan, sampah tersebut menimbulkan bau, mengundang hama, dan menjadi biaya tambahan, padahal kandungan bahan organiknya justru dibutuhkan untuk menyuburkan kembali lahan yang terus ditanami.
Melalui pendampingan ini, alur tersebut dibalik: sisa sayuran diolah menjadi pupuk kompos yang kembali ke lahan, sementara produk terbaik dikemas dan dipasarkan dengan merek yang jelas. Petani tidak lagi hanya menjual hasil panen mentah dalam keadaan tergesa-gesa sebelum layu, melainkan mengelola pascapanen secara lebih terencana dengan dukungan greenhouse dan armada distribusi.
Kehadiran dapur Makan Bergizi Gratis sebagai pembeli tetap juga mengubah posisi petani. Permintaan sayuran yang rutin dan terjadwal memberi kepastian pasar yang selama ini sulit diperoleh petani kecil, sekaligus memendekkan rantai distribusi karena produk dikirim langsung dari desa ke dapur program. Model seperti inilah yang membuat pendapatan anggota kelompok tani dapat terdongkrak secara nyata.
Pengalaman Sumberejo memperlihatkan pola yang sama dengan inovasi pertanian lain di Magelang, seperti budidaya melon premium hidroponik di Mertoyudan dan komoditas salak Nglumut dari lereng Merapi: teknologi dan pendampingan pascapanen menjadi kunci kenaikan nilai produk petani. Berita ini dirangkum dari laporan ANTARA News Jateng.


