Jumat, 23 Oktober 2026  |  Magelang, Jawa Tengah
Berita Kota & Kabupaten Magelang
Beranda » Ekonomi » Green House Almash Melon: Melon Premium Hidroponik Mertoyudan…
Ekonomi

Green House Almash Melon: Melon Premium Hidroponik Mertoyudan yang Berpotensi Jadi Wisata Edukasi

Akhmad Sulistyo sukses membudidayakan melon premium hidroponik di Green House Almash Melon, Jogonegoro, Mertoyudan. Bupati Magelang dan Komisi II DPRD meninjau panen raya dan mendorongnya menjadi wisata edukasi.

Oleh Intan Larasati Jumat, 23 Oktober 2026 · 18.55 WIB
Ilustrasi budidaya melon hidroponik di dalam green house
Ilustrasi: Petani memanen melon di dalam green house hidroponik dengan tanaman melon merambat pada tali penyangga. (Ilustrasi: KabarTidar)

MAGELANG — Berawal dari belajar secara mandiri saat pandemi Covid-19, Akhmad Sulistyo kini sukses mengembangkan budidaya melon premium berbasis hidroponik di Green House Almash Melon, Desa Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Setelah sekitar dua tahun berjalan, usaha tersebut tidak hanya menghasilkan buah berkualitas premium, tetapi juga mulai dikembangkan sebagai wisata edukasi pertanian modern.

Sulistyo mengaku mulai mempelajari dunia pertanian ketika aktivitasnya bekerja di proyek terhambat pandemi. Ia kemudian memanfaatkan ruang berukuran sekitar 2 x 3 meter di rumahnya untuk belajar dan melakukan riset mengenai budidaya tanaman.

“Saya dulu bekerja di proyek. Saat Covid-19, saya belajar di rumah. Sekitar dua tahun saya melakukan riset tentang pertanian. Saya ingin mengembangkan pertanian modern seperti di Jepang dan Thailand, sekaligus menarik minat anak muda untuk menjadi petani,” katanya.

Green House Almash Melon Gunakan Sistem Hidroponik NFT

Dari proses belajar tersebut, Sulistyo memilih budidaya melon sebagai usaha yang dikembangkan. Ia membangun greenhouse berukuran 14 x 50 meter dengan kapasitas sekitar 1.500 tanaman melon. Pada tahap awal, ia menggunakan konstruksi bambu sebelum mengembangkan fasilitas budidayanya secara bertahap.

Budidaya melon di Green House Almash Melon menggunakan sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique). Sistem ini memanfaatkan aliran tipis larutan nutrisi yang melewati akar tanaman sehingga kebutuhan air dan unsur hara dapat dipenuhi secara teratur. Melalui metode tersebut, proses budidaya dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi tanaman, perawatan, serta kualitas buah yang dihasilkan.

Saat ini, terdapat dua varietas melon yang dibudidayakan, yakni Sweet Lavender dan Hami. Keduanya dipilih karena memiliki karakteristik tekstur renyah, berair, dan rasa manis yang diminati konsumen. “Sebetulnya ada beberapa jenis melon yang bisa ditanam. Namun, sementara ini saya memilih dua varietas karena banyak permintaan untuk melon yang teksturnya crunchy,” jelasnya.

Pengembangan melon premium ini tidak hanya berorientasi pada jumlah hasil panen. Sulistyo juga memperhatikan kualitas buah, termasuk tingkat kemanisan dan ukuran, agar sesuai dengan kebutuhan pasar. Melon hasil budidaya tersebut saat ini dijual dengan harga Rp30.000 per kilogram, naik Rp2.000 dibandingkan sebelumnya seiring meningkatnya biaya pupuk, tenaga kerja, dan perawatan. Menurutnya, harga melon premium di sejumlah daerah bahkan dapat mencapai Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram.

Bupati Magelang Dukung Pertanian Modern dan Wisata Edukasi

Pengembangan budidaya melon hidroponik tersebut mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Magelang. Bupati Magelang Grengseng Pamuji bersama rombongan Komisi II DPRD Kabupaten Magelang mengunjungi Green House Almash Melon untuk melihat langsung proses budidaya dan hasil panen melon premium.

Grengseng mengapresiasi pengembangan pertanian modern berbasis hidroponik tersebut dan berharap model budidaya serupa dapat dikembangkan oleh lebih banyak anak muda, khususnya petani muda di Kabupaten Magelang. Menurutnya, pertanian perlu terus berkolaborasi dengan sektor lain, termasuk pariwisata, agar menghasilkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

“Sambil berwisata nantinya para wisatawan bisa melihat langsung proses pengembangan melon unggulan ini. Itu bisa jadi paket wisata yang sangat menarik,” ujarnya. Pemerintah Kabupaten Magelang juga mendorong pengembangan budidaya melon premium tersebut melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat, yang diharapkan dapat mendukung perluasan lahan sekaligus memperkuat potensi usaha desa.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Magelang, HM Hinsah Syahlany, yang akrab disapa Gus Lany, menilai konsep pertanian modern yang dipadukan dengan pariwisata layak dikembangkan di berbagai wilayah. “Kalau di kawasan Magelang bisa diperbanyak tempat-tempat seperti itu dan diintegrasikan dengan paket wisata, akan menjadi terobosan bagus bagi pertanian dan pendapatan masyarakat,” katanya.

Gus Lany menyatakan Komisi II akan mendorong penguatan anggaran sektor pertanian, termasuk kemungkinan dukungan pembangunan greenhouse bagi kelompok tani, serta berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah terkait untuk membahas peluang pendampingan dan pengembangan model pertanian modern di Kabupaten Magelang.

Pengembangan Green House Almash Melon menjadi contoh bagaimana pertanian modern dapat dipadukan dengan sektor pariwisata, sebagaimana salak Nglumut yang lebih dulu menjadi ikon buah Magelang dari lereng Merapi. Konsep wisata edukasi semacam ini juga sejalan dengan pengembangan kawasan Borobudur sebagai destinasi yang tidak hanya bertumpu pada candi. Kisah dan data budidaya ini dirangkum dari laporan BorobudurNews.

I
Intan Larasati

Jurnalis KabarTidar — portal berita Kota dan Kabupaten Magelang.

Berita Lainnya

2 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *